A/N: Ah, ketemu lagi dengan saya dan fanfic-yang-paling-pertama-tapi-belom-kelar-kelar. XD Oke, gak usah kebanyakan bacrit, maaf kalo pendek. =~=
Thanks yang udah review chapter lalu; Lynhart Lanscard, Loonaqua, Maknae Kazuma, Chadeschan, Cim-jee, sisi2789, XenNa Scarlet, Diarza, beby-chan, Aira Yuzuhira, Yukimura Anko, D-N-D Mozaik and Aika Ray Kuroba. Love y'all. ^3^
Kilas balik chappie 10
'Aku menyukaimu!' kata-kata yang keluar dari bibir Kurosaki Ichigo membuat Kuchiki Rukia pusing kepala.
Chappie 11
Hari semakin siang. Tapi kedua kakiku tak berhenti berjalan di samping si mesum Kurosaki yang terus saja berusaha untuk menggandeng tanganku. Reflek, aku menampik tangannya yang hendak menyentuh tangan kiriku, "hentikan. Aku bisa jalan sendiri."
"Galak sekali. Aku ingin menggandengmu karena khawatir kalau saja kau tiba-tiba menghilang di tengah kerumunan." Dia berkata santai sambil menunjuk orang-orang yang juga tengah berjalan. Mata kiriku berkedut menyadari kalau kerumunan yang ia maksudkan itu tak lebih dari beberapa orang yang berjalan dengan jarak cukup lebar antara satu dan yang lainnya.
"Tak ada kerumunan, bodoh! Ini keramaian yang sudah biasa di pinggir taman!" ia mundur satu langkah sambil mengangkat kedua tangannya ketika aku berteriak ke arahnya.
"Tetap saja itu membuatku khawatir." Aku berhenti sambil memperhatikan dirinya berjalan pelan sambil mengusap belakang kepalanya.
"Apa maksudmu?" setelah mendengar pertanyaanku, ia berhenti sambil membalikkan badannya ke arahku. Ia sama sekali tak menjawab, hanya berdiri dan menatapku. Ketika aku menaikkan sebelah alisku, dia mendesah pelan dan berjalan ke arahku dengan kedua tangan di saku celana. Setelah berada dua langkah dari hadapanku, ia mengeluarkan tangan kanannya dan sedikit merunduk untuk menyamakan posisi wajahnya dengan wajahku. Tangan kanan yang tak mengenakan sarung itu terulur dan menyentuh pipiku, membuatku terkaget karena rasanya yang dingin ketika menyentuh kulitku.
"Tentu kau tahu apa maksudku. Jangan berpura-pura tak tahu hanya untuk menghindari pertanyaanku yang belum kau jawab tadi." Dengan senyum kecil yang serasa mengejekku, ia melepaskan pipiku dan kembali berjalan. Dengan tatapan tajam dan wajah memerah, aku berusaha membuat lubang di punggungnya yang semakin menjauh. "Hei, ayo cepat! Aku tak ingin berlama-lama di luar. Dingin!"
Alisku berkerut mendengar suaranya yang menggema dan menyuruhku untuk cepat-cepat menyusulnya. Kalau begini jadinya, apa tujuannya berkata khawatir jika aku hilang?
Sementara itu…
"Apa ini sungguh perlu, Momo-chan?" Kira berbisik di samping Momo yang tengah mengarahkan teropongnya ke arah Ichigo dan Rukia.
"Tentu saja, Kira-kun! Kapan lagi kau melihat wajah Rukia yang malu-malu seperti itu? Apalagi Kurosaki-senpai yang membuatnya seperti itu. Kau tahu kan kalau Kurosaki-senpai itu banyak yang mengejar."
Tak jauh dari tempat dua orang itu bersembunyi, "ibu, apa yang mereka lakukan di sana?"
"Jangan pedulikan orang aneh, ayo pergi." Si ibu menggandeng si anak yang masih saja menatap heran pada Momo dan Kira.
'Momo! Jika aku bertemu denganmu, habislah kau!'
Punggungku serasa terbakar ketika pandangan-pandangan itu terarah padaku. Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Tidak sopan rasanya ketika kau melempar tatapan tajam ke arah orang yang tak kau kenal. Tapi coba lihat gadis-gadis yang aku temui sepanjang jalan. Sepertinya sekarang ini sudah tak ada lagi yang disebut sopan santun. Lebih baik perhatikan dengan siapa tanganmu tergenggam daripada membuat orang sepertiku merasa teraniaya karena tak ingin terlibat situasi seperti ini.
'Dari awal, aku sudah tahu pasti akan begini jadinya!' aku menatap tangan kiriku yang tergenggam oleh Kurosaki. Ia sepertinya tak peduli dengan keadaan di sekitarnya, atau mungkin ia hanya tak peka. Aku terpaksa membiarkan ia menggandeng tanganku karena tadi aku sempat hilang hanya karena aku terlalu lama melihat etalase toko mainan yang memajang chappy. Terang saja aku terkaget ketika tiba-tiba saja ia menggenggam tanganku sambil marah-marah tak jelas dan menyeretku menjauh dari tempat itu.
Karena sikapku yang tak mau kalah, tentu aku juga menyalahkan tinggi badannya yang tak bisa melihatku dengan jelas. Sudah tentu pertengkaran itu berbuntut panjang dan berakhir dengan tulang keringnya yang terasa sakit. Mungkin.
Aku yang tak tahan lagi dengan pandangan menusuk di balik punggungku, menarik Kurosaki tiba-tiba ke dalam sebuah toko. Aku sama sekali tak tahu toko apa yang kumasuki sampai akhirnya mataku tertumbuk pada barang-barang aneh dan ruangan mungil bernuansa gothic. Dari balik tirai manik-manik, muncul seorang wanita dengan dandanan nyentrik sambil membawa bola kristal mungil. "Selamat datang, apa kalian ingin diramal?"
"Rukia! Kenapa kau menyeretku kemari?" aku mendengar Kurosaki yang berbisik ke arahku.
"Berisik. Aku benci gadis-gadis di luar!" aku bisa merasakan tatapan heran yang dilayangkan Kurosaki terhadapku. Tapi aku mengacuhkannya dan tetap menatap wanita yang melihat kami berdua dengan mata melebar.
"Oooooh…" sontak aku dan Kurosaki mundur beberapa langkah ketika wanita itu mendekat ke arah kami dengan mata berbinar. Tak sadar, aku menguatkan genggaman tanganku yang masih digandeng oleh Kurosaki. "Tak kusangka. Aku menemukan sesuatu yang menarik! Sudah lebih dari sepuluh tahun ketika aku melihat pemandangan seperti ini."
"M-maksud anda apa?" aku menyembulkan kepalaku dari balik punggung Kurosaki, tak sadar sejak kapan aku bersembunyi di balik punggungnya.
"Khukhukhu…" Mataku terbelalak ketika wanitu itu menyentil hidung Kurosaki sambil menutup mulutnya dengan tangan yang lain.
Bulu romaku berdiri ketika kulihat wanita itu berbalik dan mencari-cari sesuatu dengan bersenandung. Merasa ini kesempatan bagus, aku berbisik pada Kurosaki. "Hey Kurosaki, ayo keluar."
"Ini salahmu karena menyeretku ke tempat tak jelas."
"Sudahlah, ayo—"
"AHA!" langkah kami yang baru terangkat dua langkah langsung terhenti ketika wanita itu kembali pada kami sambil membawa sesuatu di tangannya. "Ini bagus. Bagus sekali…"
"Huh?" aku menatap heran ke arah kalung besi putih yang terlingkar di leherku. Dengan tanganku yang tak digenggam oleh Kurosaki, aku mengangkat liontin yang berbentuk bulan sabit putih dan mengamatinya. Kubolak-balik liontin itu di tanganku dan menyadari kalau tak ada yang aneh. Ketika aku menatap ke arah Kurosaki, ia tengah memainkan liontinnya yang berbentuk matahari hitam.
"Ano… apa kau memaksaku untuk membeli ini?" Kurosaki menatap wanita yang tengah menyeringai ke arah kami.
"Tak perlu. Anggap saja itu hadiah dariku." Aku terkaget ketika wanita itu mendorong kami berdua keluar dari tokonya.
"Eeeh… arigato." Wanita itu hanya menyeringai ketika ucapan itu keluar dari bibir Kurosaki. Aku hanya membungkuk sedikit ketika Kurosaki mulai menarik tanganku untuk menjauh dari tempat itu.
Rasa heran memenuhi pikiranku. Sejak kapan ada seorang wanita separuh baya memberikan sesuatu secara gratis kepada orang yang tak dikenalnya? Anggap saja sebagai keberuntungan, tapi tetap saja, di balik pikiranku, ada hal-hal yang membuatku berpikir kalau orang tadi ada maksud lain. Ah, sudahlah. Buat apa peduli terhadap wanita sedikit waras dan mesum?
"Hei." Aku tersentak dan menatap si mesum Kurosaki yang tengah menatapku dengan sebelah alis terangkat. Secara reflek aku menjauhkan kepalaku dari wajahnya yang terlalu dekat, menginvasi jarak personal yang sama sekali tak dipedulikan olehnya.
"Apa?" aku mengernyitkan alis dan berbicara melalui gigi yang kugeritkan.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Sejak keluar dari toko aneh tadi, kau terus-terusan mengusap liontin anehmu." Kedua alisku terangkat cepat ketika menyadari jika satu tanganku yang lain tengah melakukan apa yang tadi Kurosaki katakan.
"Oh… aku tidak sadar." Kutundukkan kepalaku untuk kembali melihat liontin bulan sabit putih yang menarik perhatianku tanpa sadar. "Hei, mesum. Apa menurutmu ini kebetulan?"
"Jangan mengataiku mesum, pendek. Mungkin wanita tadi hanya sedikit… yaah… kau tahu kan?" aku memandang Kurosaki yang menggerakkan tangannya dengan gestur yang kutahu jelas apa artinya.
"Tidak waras?" aku mengucapkan dua kata itu dengan menggumam pelan dan nada tak yakin.
"Seperti itulah…" Kurosaki hanya mengendikkan bahu dan kembali menarik tanganku untuk mengikutinya.
"Yeah… mungkin gara-gara aku jalan denganmu, makanya aku bisa bertemu dengan orang-orang tak waras." Aku berbicara dengan suara rendah, lebih pada diriku sendiri walau aku ingin Kurosaki juga mendengarnya.
"Kau bilang apa?"
"Tidak. Tidak apa-apa…" aku hanya tersenyum sinis pada dirinya yang menatapku keheranan. Ini masih siang, dan aku tak tahu sampai kapan aku harus terus jalan bergandengan dengannya.
Ini sungguh menyebalkan. Apalagi ada sesuatu yang mengganggu pikiranku saat ini. Jika kembali beberapa saat lalu saat sedang di café, ingin rasanya aku pingsan saja. Jangan sampai ia bertanya hal itu lagi padaku. Maksudku, aku tak tahu harus berkata apa. Memikirkan kalau ia suka padaku saja sudah membuatku merasa aneh, apalagi kalau aku sampai berpikir jika aku dan dirinya diikat satu hubungan. Aku tak bisa membayangkan hal itu.
Ini sudah di luar kendali, dan aku tidak suka hal itu.
