Disclaimer: Rina tidak memiliki Vocaloid
Rina: Hehe, TA-DA-I-MA! ada yang kangen nggak ma Rina disini?
Rui: *gulp* (di-dia datang…)
Rina: Maaf ya Rui, aku membuatmu mengerjakan navigasi selama aku tidak ada~ tapi, untuk chapter ini saja, Rina bakalan nongol sedikit~
Rui: A-ahaha… ga-gak pa-pa kok… *mundur beberapa langkah*
Rina: *gak sadar* Baiklah, kalau begitu, Rina pamit dulu dan jangan lupa untuk dukung Rina di IVFA dan terus ikuti cerita2 Rina yang laen ya~ Rina sih sebener na udah lupa ma nasib mereka saking semangatnya. Hehe, tapi ya udah deh~ tunggu ja entry OS na Rina ok~
Rui: So-sore ja… sa-saya pergi… dulu… *kabur*
Rina: Hei, Rui, kau mau ke mana!
Len POV
Aku pergi menuju rumah Nyonya Neil dan tanpa mengetuk pintu, langsung membuka pintunya, yang anehnya tidak terkunci. Apakah aku terlambat?
Aku memasuki ruangan apartemen yang sepi dan gelap itu dengan pelan-pelan. Kulihat segala sisi apartemen ini yang agak tertutupi kegelapan yang lumayan pekat, padahal ini masih sore.
"Nyonya Neil, apa anda disini?" ujarku dengan keras-keras.
Hening, tidak ada suara yang menyambutku atau apapun yang bisa kugunakan sebagai pertanda bahwa ada seseorang disini. Di ruang depan, memang masih terdapat sepasang sepatu yang dipakai Nyonya Neil pada saat bertemu kami tadi.
Sayup-sayup, aku mendengar suara musik yang terdengar menyakitkan dan mengetahui lagu apa itu, beberapa detik setelahnya. Pundakku yang tegang mengendor sementara tinjuku yang terkepal kuarahkan ke arah tembok. Aku tahu, bahwa Neil tidak mungkin ada di dunia ini lagi. Semuanya sudah berakhir, sementara aku tidak bisa mencegah Rin.
"Rin… setelah ini selesai… kemana kau pergi?" ujarku dengan menyandarkan kepalaku pada tembok yang mengelilingiku.
Suasana hening yang menyelimuti udara di sekitarku sudah tak bisa kuindahkan lagi. Aku hanya ingin tahu dimana dia sekarang. Tanpa petunjuk seperti ini, bagaimana bisa aku menemukannya? Dia bahkan bisa saja sudah keluar dari kota ini sekarang.
"Rin… Rin…" panggilku dengan nada putus asa. Apakah memang benar aku tidak bisa bertemu dengannya lagi? Apakah ini memang akhir dari semua ini?
'Len…'
Entah mengapa, aku mendengar suara yang ingin sekali kudengar sekarang ini. Spontan aku melihat ke sumber suara, yang berada di wilayah yang lebih dalam. Suara itu terdengar seperti rekaman, tapi suara itu adalah suaranya…
"Rin…" panggilku kembali dengan berlari mencari-cari sumber suara tersebut.
Benar saja, ketika aku masuk ke dalam ruang baca, terdapat seseorang dengan wajah yang tak asing lagi bagiku, dengan pisau tertancap di dadanya, sementara alunan suara Rin masih terus berlanjut. Aku menyadari mayat itu sebagai Nyonya Neil, dia sudah terbunuh seperti perkataan Rin tadi. Dan dengan ini, selesailah dendam yang hendak dibalaskan oleh Rin. Rin, apakah dengan ini kau puas?
'Datanglah…' tiba-tiba saja, suara rekaman suara Rin yang memanggil namaku berubah kata. Aku segera melihat ke arah CD Player dan mendekatinya. Di CD-CD lain, tidak ada rekaman ini sebelumnya. Apakah Rin menambahkan ini sendiri hanya untuk saat ini?
Aku merasakan kasarnya permukaan CD Player yang masih terus memainkan suara Rin yang memohonku untuk datang. Rin… andai saja aku bisa mendengar suaramu menyanyi lagi untuk sekarang ini. Aku rela melepaskan apapun agar aku bisa mendengarkanmu menyanyi lagi, seperti pada saat kau bercahaya di panggung Shibuya.
"Tower…" dan tak lama kemudian, Rin menggantikan perkataannya menjadi Tower. Aku menyadari apa arti dari rekaman ini sekarang, Rin memberitahukan lokasinya kepadaku dengan baik-baik. Dia ingin aku menemukannya…
Tanpa mempedulikan mayat Neil, aku segera berlari keluar dengan satu harapan bahwa aku akan menemukan Rin di tempat yang ia tuju. Aku tak peduli apakah nafasku sudah habis ataukah masih ada di tempatnya. Yang kupikirkan saat ini hanyalah menuju ke tempat itu… dan menghentikan Rin.
Normal POV
"Eien no hikari ga watashi no te de aru you ni. Watashi no chiisana hikari sekai wo terasuyouni… anata ga aishiteru…" seorang gadis yang sedang berdiri di ujung Tower melihat ke sekelilingnya dengan tatapan nostalgik.
Dia akan merindukan tempat itu… tempat dimana dia bisa bertemu dengan orang itu.
"Shinjite, Uso ja nai yo, Anata wa watashi no ichiban no hito, Watashi no kokoro no naka… anata ga aishiteru…" lanjutnya dengan nada lembut, seakan membisikkan perkataannya kepada seseorang.
Dia menutup mulutnya, sementara setitik demi setitik air mata mulai mengalir kembali di pipinya, dan dia harus segera dia bersihkan.
Dengan menggunakan kerah lengannya, dia menghapus setiap titik-titik air mata yang mengalir melalui ujung matanya, meski hanya disambut dengan aliran air mata yang terus mengalir tanpa bisa dia hentikan. Do'a yang sudah tidak mungkin tercapai lagi… dan dia akan hancur di neraka nanti tanpa seorang pun orang yang dikasihinya bisa menemuinya.
Gadis itu mulai mendekati ujung dari Tower yang tidak dilindungi oleh palang pengaman. Kedua tangannya di bentangkan, dan dia mulai menarik nafas dalam-dalam. Lalu, dia mengambil selangkah ke depan, dan selangkah lagi, dan selangkah lagi mendekati ujung dari Tower.
Tapi, saat dia yakin bahwa langkah selanjutnya ini akan membawanya turun, dia mendengar suara yang sangat tidak bisa dia lupakannya, memanggilnya.
"Rin, hentikan!"
Dia merasa terkejut dan dalam sekejap dia menghentikan langkahnya. Dia, Rin, segera berbalik dan melihat sesosok orang yang selalu dinantinya, berada di samping tangga menuju ke tempatnya dengan dada naik turun dan nafas yang memburu.
Rin membuka mulutnya dan ingin mengatakan sesuatu, tapi, diurungkannya sementara dia membuang muka. Tangannya digunakan untuk mencengkram palang pembatas di sampingnya, secara reflek. Apakah ini akan berakhir disini saja?
Sementara Rin hanya diam di tempat, orang yang dinanti Rin berkata, "Rin, aku datang memenuhi permintaanmu…" ujarnya dengan sedikit tersengal-sengal.
Rin melihat ke arah orang itu dan menatapnya dengan tatapan tajam sementara dia berkata, "Sepertinya juga begitu… tapi kau sudah terlambat…" ujar Rin dengan nada yang berusaha didinginkan sedingin mungkin olehnya.
Orang itu hanya menghela nafas panjang, sebelum berkata, "Aku hanya tak ingin kehilanganmu… Rin…" ujarnya lagi dengan nada lirih.
Rin tersentak mendengarnya, entah mengapa dia merasa senang mendengar perkataan itu. Tapi dia segera menghapus pikirannya itu dengan menggelengkan kepala. Rin baru menyadari bahwa dia mulai mendekatinya selangkah demi selangkah.
Mendengar suara langkah kaki itu, membuat Rin teringat hal-hal buruk, dan dia segera berteriak, "Jangan mendekat, Len!" teriak Rin spontan.
Orang yang dimaksud, Len, menghentikan langkahnya saat Rin memintanya. Len melihat ke arah Rin yang mulai menangis tanpa suara. Dia ingin segera berlari dan menghapus air mata itu, suatu hal yang selama ini tidak bisa dia lakukan.
Tapi, ditelannya semua keinginan itu dan dia hanya bertanya, "Rin?" tanya Len dengan sedih.
Rin merasa dadanya sakit, tapi dia tidak mau mundur lagi, karena dia sudah tidak mungkin mundur lagi. Rin mendongakkan wajahnya sehingga dia bisa melihat Len, meski tertutupi oleh air matanya yang menumpuk di pelupuk matanya.
"Len… aku ingin… kau mendengarkanku… sekali ini saja…" ujar Rin dengan sedikit sesenggukan.
Len tak tahu harus berkata apa dan hanya bisa mengangguk. Rin segera mengucapkan rasa terimakasihnya, dan segera mengucapkan kata-kata yang diubahnya menjadi sebuah lagu tanpa musik.
"Sejak dulu, kita selalu bersama. Kulihat dirimu di depan mataku. Entah kenapa, kau jadi begitu penting bagiku. Karena itulah… aku… ingin kau membenciku…" Rin menyanyi dengan lirih sambil menundukkan kepala.
"Andai kau membenciku… semua akan jauh lebih mudah… untukku… karena aku tak pantas bagimu…" lanjut Rin dengan nada suara sedih. Kakinya yang hendak menjatuhkan tubuhnya mulai merasakan pijakan yang ada di belakangnya.
Len menyadari gerakan Rin dan dengan segera dia mengejar Rin yang mulai berjalan mundur perlahan-lahan. Rin hanya tersenyum melihatnya sebelum melanjutkan nyanyiannya.
"Hontou wa… watashi wa… anata no koto ga…"
Len berusaha menggapai Rin yang kini sudah ada di depan matanya, namun tubuhnya sudah mengarah ke belakang dengan kedua tangannya yang mengarah ke arahnya.
"Aishiteru…"
Dan tepat dengan berakhirnya perkataan Rin, tubuhnya sudah berada di udara dan kakinya sudah tak berpijak dengan bumi. Len melihat dan menggapai tangannya… tangan yang ingin dia ambil sejak dulu.
Tapi, itu sudah tidak mungkin lagi, karena ketika Len melihat ke bawah, Rin sudah jatuh ke bawah dengan tatapan mata yang masih berada pada Len.
'Rin… Rin… RIN!'
Pikiran Len menjadi kosong secara tiba-tiba, dan ketika dia menyadarinya, dia sudah menyusul Rin terjun ke bawah, sesuatu yang tidak diperkirakan oleh Rin ketika dia merasakan sepasang tangan hangat berada pada tubuhnya.
"Len… kenapa kau…" Rin berusaha untuk melepaskan Len, meski sudah tidak mungkin lagi.
Len hanya merengkuh Rin erat-erat, dia tidak ingin melepaskannya lagi. Dia tak akan melepaskan tangan yang telah berhasil digapainya ini, meski dia harus mengikutinya pergi ke Neraka. Aah, akhirnya dia mengerti perasaan yang selama ini dia rasakan. Perasaan takut dikarenakan dia tak ingin dibenci oleh Rin. Perasaan tenang ketika mereka berada dalam diam. Semua itu…
"Aishiteru Rin… dibandingkan siapapun di dunia ini… karena itulah… dosamu akan kubawa di pundakku juga…" bisik Len pada Rin.
Rin merasa terkejut dan yang bisa dia lakukan hanyalah menangis dan memeluk Len erat-erat. Andai saja dia mengatakannya lebih cepat. Andai saja… tangan mereka bisa terkait lebih cepat… pasti…
"Aku akan… mencintaimu selamanya…"
~The End~
Rina: Hehe, dan cerita ini pun berakhir menggantung sesuai dengan pikiran para Readers semuanya. Yang namanya kematian, itu tidak bisa ditentukan hanya dengan bunuh diri ya, karena bisa saja jadi percobaan bunuh diri yang gagal~
Rui: Tapi, bukannya… tulisan na BakAuthor Rina udah jelas banget?
Rina: Kita tak tahu kapan orang meninggal… jadi bisa saja masih hidup dan hanya luka ringan kan? Lihat saja orang yang tertabrak mobil~
Rui: Tubuh manusia itu hebat… ato BakAuthor yg baka...?
Rina: *gak dengar* Oke, jika kalian ingin Rin Len masih hidup (kalau mereka mati) silahkan bilang saja, tapi gak tahu bakalan beneran kagak. Hal terakhir yang Rina tentuin itu adalah ending na sebenar na. Eeeh, tapi itu gak penting. Yang penting, jangan lupa untuk REVIEW dan DUKUNG TERUS RINA DI IVFA YA!
