Remake dari Abbi Glines "Fallen Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Aku harap alur cerita akan cukup masuk akal ^^

Sekuel dari FF "The Virgin And The Playboy"

This sekuel is for you all!

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Rate M!

Romance, Drama, Hurt/Comfort

Yaoi, boyXboy

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 12

Yoongi POV

Aku mungkin tidak punya baju untuk ke pesta-pesta Jimin tapi aku memiliki segalanya untuk pergi ke Club Fix. Sudah lama sekali semenjak terakhir kali aku memakai jeans ketat biruku. Jeans nya lebih sempit dari yang kuingat tapi itu masih sesuai. Terutama dengan sepatu bootsku.

Jimin sudah pergi pagi tadi ketika aku sedang mandi dan dia belum kembali hingga saat ini. Aku bertanya-tanya apakah kamarku terlarang untuk temannya jika dia mengadakan pesta disini. Aku tidak suka pemikiran tentang orang asing yang berhubungan seks di ranjangku. Aku tidak suka pemikiran tentang orang selain aku berhubungan seks di ranjang tempat dimana aku tidur.

Aku ingin bertanya tapi aku tidak yakin bagaimana menanyakan hal seperti ini. Pergi sebelum Jimin kembali artinya aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Haruskah aku berencana mencuci spreiku saat aku pulang?

Ide itu membuatku ngeri. Ketika kakiku menyentuh anak tangga terbawah, pintu depan mengayun terbuka dan Jimin berjalan masuk ke dalam. Ketika tatapannya menemukanku dia membeku dan perlahan menelusuri penampilanku.

Aku tidak berpakaian untuk membuat teman-temannya terkesan tetapi ada sebuah kelompok lain di luar sana yang dimana mungkin aku bisa mendapatkan perhatian.

"Wow," dia bergumam dan menutup pintu di belakangnya.

Aku tidak bergerak. Aku mencoba untuk mencari tahu bagaimana cara menanyakan apakah ada orang asing berhubungan seks di ranjangku.

"Kau, uh, mengenakan baju itu untuk clubbing?" Tanyanya.

"Ini disebut country style. Aku sangat yakin itu adalah hal yang sangat berbeda," aku mengkoreksinya.

Jimin menjalarkan tangannya ke rambut pendeknya dan mengeluarkan desahan yang terdengar seperti diantara agak frustasi dan agak geli. Jika dia hendak mencemooh penampilanku aku mungkin akan melempar sepatu bootku padanya.

"Bisakah aku ikut dengan kalian malam ini? Aku tidak pernah ke Club Fix sebelumnya."

Apa? Apa aku baru saja mendengarnya dengan benar?

"Kau ingin pergi bersama kami?" aku bertanya dalam kebingungan.

Jimin mengangguk dan matanya mengamati tubuhku sekali lagi.

"Yeah, aku ingin ikut."

Kupikir dia bisa ikut juga. Jika kami berteman maka kami seharusnya bisa bergaul bersama.

"Oke. Jika kau ingin ikut. Kita harus berangkat dalam sepuluh menit. Jin ingin aku menjemputnya."

"Aku akan siap dalam lima menit," katanya dan melompati dua anak tangga secara bersamaan.

Ini bukan sesuatu yang aku sangka. Terasa aneh.

.

.

.

Tujuh menit kemudian, Jimin turun dari tangga dan memakai jeans yang nyaman dan kaus hitam ketat. Cincin perak di ibu jarinya juga dikenakan di tangannya lagi dan untuk pertama kali nya sejak aku bertemu dengannya dia punya beberapa jenis anting bulat kecil di telinganya.

Dia makin terlihat lebih seperti anak pemain drum dari sebelumnya. Bulu mata hitamnya membuat seolah dia memakai eyeliner secara permanen dan itu hanya semakin menambahkan efek yang ada.

Ketika mataku kembali ke wajahnya dia menjulurkan lidahnya untuk memperlihatkan sekilas barbel peraknya padaku dan kemudian berkedip.

"Kupikir jika aku akan datang ke Club Fix dengan pria yang memakai boots ala koboi, aku tidak boleh kalah dengan penampilanku."

Aku tertawa saat dia menyeringai padaku.

"Kau akan terlihat tidak pada tempatnya malam ini sama seperti saat aku berada di pesta-pestamu. Ini akan menyenangkan," aku menggoda dan menuju ke pintu.

Jimin membukakan pintu dan mundur sehingga aku bisa keluar. Pria ini bisa menjadi aneh ketika dia menginginkannya.

"Karena temanmu ingin berangkat bersama kita, kenapa kita tidak memakai salah satu mobilku saja? Kita semua akan lebih nyaman disana daripada dengan mobilmu."

Aku berhenti dan menatapnya.

"Tapi kita semua akan muat jika memakai mobilku."

Jimin menarik remote kecil dan salah satu pintu dari garasi untuk empat mobilnya terbuka. Sebuah Range Rover hitam dengan pelek metalik dan cat sempurna yang mengkilap ada di tempatnya. Aku tidak bisa tidak setuju dengannya. Kami akan lebih nyaman dengan mobil ini.

"Ini luar biasa," ujarku.

"Apakah itu berarti kita bisa memakai mobilku? Aku agak keberatan berbagi tempat duduk dengan Jin jika menggunakan mobilmu yang hanya memiliki tiga tempat duduk di depan dan bak bagasi belakang. Pria itu suka menyentuh sesuatu tanpa ijin." kata Jimin.

Aku tersenyum,

"Ya, dia memang seperti itu. Dia agak sedikit penggoda bukan?"

Jimin mengangkat salah satu alisnya.

"Menggoda adalah ciri khasnya."

"Oke. Baiklah .Kita akan memakai mobil keren 'Jimin' yang garang jika dia memaksa."

Dia memberiku sebuah seringai congkak dan berjalan menuju garasi. Aku mengikutinya dari belakang. Dia membukakan pintu untukku. Perlakuan yang manis sehingga hal ini terasa seperti kencan.

Aku tidak ingin dia mengacaukan pikiranku. Aku telah ditekankan olehnya bahwa kami hanya sebatas teman. Dia harus memainkan permainannya dengan benar.

"Apakah kau selalu membukakan pintu mobil untuk semua temanmu?" tanyaku, berdiri disana menatapnya.

Aku ingin dia melihat kekeliruan dari sikap sangat sopannya. Senyum santainya hilang dan ekspresi serius mengambil alih wajahnya,

"Tidak," jawabnya, melangkah kembali menuju pintu pengemudi.

Aku merasa benar-benar seperti seorang yang brengsek. Seharusnya aku cukup mengatakan terima kasih saja dan mengabaikannya. Kenapa harus aku yang mengingatkannya pada aturannya sendiri?

Ketika kami berada di dalam Range Rover, Jimin menyalakan mesin dan mengemudi tanpa berkata apapun. Aku benci kesunyiannya.

"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud bersikap kasar"

Jimin menghembuskan nafas dan bahunya turun. Kemudian menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Kau benar. Aku hanya tidak punya teman pria jadi aku tidak begitu pandai memilah apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak harus kulakukan."

"Jadi, kau membukakan pintu hanya untuk teman kencanmu? Itu hal yang sangat sopan yang kau lakukan. Ibumu telah membesarkanmu dengan baik."

Aku merasakan sengatan cemburu. Ada beberapa pria di luar sana yang pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari Jimin. Pria yang diinginkannya untuk diajak berkencan dan menjadi lebih dari sekedar teman.

"Sebenarnya, tidak aku tidak pernah melakukannya. Aku… kau… kau terlihat seperti pria yang layak untuk dibukakan pintunya. Itu yang ada dalam pikiranku saat itu. Tapi aku mengerti apa maksudmu. Jika kita akan berteman aku harus membuat garis pembatas dan tetap berada di belakangnya."

Hatiku luluh lagi.

"Terima kasih sudah membukakan pintunya untukku. Itu manis sekali."

Jimin mengendikkan bahunya dan tidak berkata apa apa lagi.

"Kita harus menjemput Jin di club golf. Dia akan berada di kantor belakang club house di tempat kursus golf. Dia harus bekerja hari ini. Dia akan mandi dan berpakaian disana."

Jimin berbelok menuju ke club golf.

"Bagaimana kau dan Jin bisa berteman?"

"Kami bekerja bersama suatu hari. Kupikir kami berdua sedang butuh teman. Dia ceria dan berjiwa bebas. Segala sesuatu yang tidak aku miliki."

Jimin tertawa.

"Kau mengatakannya seolah itu adalah hal yang besar. Kau tidak akan mau menjadi seperti Jin. Percayalah padaku."

Dia benar. Aku tidak ingin menjadi seperti Jin tapi dia begitu menyenangkan untuk diajak bergaul. Aku duduk diam sementara Jimin menyibukkan diri dengan sounds system yang terlihat mahal dan rumit. Kami melalui perjalanan singkat dari rumahnya ke club golf.

Ketika Range Rover berhenti di samping kantor aku membuka pintu dan melangkah keluar. Jin tidak akan mencari mobil ini. Dia mencari mobilku. Pintu kantor terbuka dan Jin berjalan keluar mengenakan celana kulit, kaos cut off warna putih, dan boots kulit selutut berwarna putih.

"Apa yang kau lakukan dengan salah satu mobil Jimin?" Tanyanya, tersenyum lebar.

"Dia akan pergi bersama kita. Jimin ingin pergi ke Club Fix juga. Jadi…"

Aku berhenti dan melihat ke Range Rover.

"Hal ini benar benar akan menghambat dirimu untuk mendapatkan seorang pria. Aku cuma mengingatkan," pungkas Jin saat dia menuruni tangga dan melihat cepat pada penampilanku. "Atau tidak. Kau terlihat seksi. Maksudku, aku tahu kau mengagumkan tapi kau terlihat sangat seksi dengan pakaian ini. Aku ingin punya boots asli seorang koboi. Dimana kau membeli nya?"

Pujian nya manis. Aku sudah begitu lama tidak punya teman pria. Ketika Suga meninggal, teman-teman berangsur-angsur hilang dari hidupku. Seolah mereka tidak bisa berada didekatku tanpa mengenangnya. Zhoumi menjadi satu-satunya temanku.

"Terimakasih, dan boots ini, aku mendapatkannya saat Natal dua tahun lalu dari ibuku. Aku menyukainya sejak dia membelinya dan setelah dia jatuh, setelah… dia jatuh sakit… ini mengingatkanku padaku."

Jin mengerutkan dahi,

"Ibumu sakit?"

Aku sedang tidak ingin menyulut kesedihan malam ini. Aku mengangguk dan memaksakan tersenyum cerah.

"Yeah. Tapi itu kisah yang lain. Sekarang, mari kita temukan para koboi kita."

Jin balas tersenyum dan membuka pintu belakang Range Rover disisiku.

"Aku akan membiarkanmu berada di depan karena aku punya firasat kalau pengemudinya menginginkan seperti itu."

Aku tidak punya waktu untuk menimpalinya sebelum Jin melompat naik ke Range Rover dan kemudian langsung menutup pintu. Aku naik ke dalam mobil dan tersenyum pada Jimin yang sedang menatapku.

"Waktunya pergi untuk mendapatkan music country." kataku padanya.


-TBC-

[Hahaha.. Jimin ikutan ke club fix]

[Ada apa yang bakal terjadi ya?]

[Keep read & wait for next chapter :D]

[Sekarang yuk review dulu hehe]