Yunho masih ternganga akan kata-kata vulgar Ten, sementara Seulgi melemparkan pandangan jijik kepada Ten. Ten sendiri tidak peduli, dua orang di depannya itu sudah menganggapnya sebagai kelas rendahan hanya karena dia bukan bangsawan dan tidak jelas asal usulnya, jadi biar sama mereka berpikiran semakin buruk kepadanya.
"Kau membuatku tak sabar untuk masuk kamar." Taeyong berbisik mesra, tangannya semakin memeluk pinggang Ten dengan posesif, sengaja memberikan isyarat di sana agar tamu mereka malu.
Tetapi rupanya Seulgi bukanlah perempuan yang mudah menyerah. Tentu saja, dia tidak akan diangkat menjadi CEO perusahaan multinasional yang sekarang kalau dia menyerah dengan begitu mudahnya.
"Aku ingin kau memberiku kesempatan." Gumamnya tegar, membuat Taeyong mengerutkan keningnya sambil menatap Seulgi.
"Kesempatan untuk apa?"
Seulgi tersenyum manis, "Kesempatan untuk mengenalku. Rasanya tidak adil bagiku kalau aku datang jauh-jauh kemari hanya untuk diusir dengan kasar, tanpa kau memberi kita kesempatan untuk saling mengenal." Seulgi lalu melemparkan tantangan kepada Taeyong, tahu bahwa ego seorang lelaki akan tertantang jika dipancing seperti itu, "Aku ingin kau mencoba mengenalku dengan intens selama seminggu penuh... dan kalau setelah itu tidak ada ketertarikan yang tumbuh darimu untukku, aku akan pergi dengan kepala tegak, puas karena sudah mencoba."
Taeyong terdiam, menatap perempuan di depannya. Oh ya. Taeyong tahu persis Seulgi bukan perempuan biasa, dia bukanlah perempuan bangsawan yang lemah dan lembek, bisa diusir dengan mudahnya.
Satu-satunya jalan adalah dengan cara menerima tantangan Seulgi. Setelah itu perempuan itu pasti akan pergi dengan terhormat dan tidak mengganggu mereka lagi. Itu juga merupakan salah satu cara untuk membuat ayahnya kalah karena tidak punya senjata lagi untuk mencoba menguasainya.
"Oke. Satu minggu." Taeyong tersenyum, "Dan setelah itu, kau bisa mengemasi barang-barangmu, Seulgi-ssi."
Seulgi mengulurkan tangannya dan Taeyong menjabatnya, lalu perempuan itu terkekeh,
"Jangan yakin dulu Taeyong, jangan-jangan kau yang akan berkemas nanti dan mengikutiku pulang ke London." Mata Seulgi beralih ke Ten, "Kau dengar sendiri Ten-ssi? Kekasihmu setuju untuk menjadi milikku selama seminggu penuh." Gumamnya dalam bahasa inggris yang sekali lagi dilambat-lambatkan seolah mengejek kemampuan bahasa inggris Ten.
Sepeninggal kedua orang itu, Taeyong menutup pintu dan kemudian tersenyum kepada Ten.
"Kalimat yang sangat hebat, aku tidak menyangka kau bisa menggunakan kosakata 'mencemari' dengan begitu baiknya." Mata Taeyong tampak menggoda, "Membuatku bertanya-tanya darimana kau belajar tentang hal itu."
Pipi Ten merah padam. Mengingat ulang kata-katanya dan menyadari bahwa kata-katanya begitu vulgar,
"Aku mempelajarinya di drama yang aku tonton." Jawab Ten seadanya, dan langsung membuat Taeyong mengerutkan keningnya,
"Sudah kubilang Ten, jangan terlalu suka melihat drama, itu akan menenggelamkanmu dari dunia nyata." Lelaki itu lalu terkekeh, "Lagipula apa gunanya aku memasang TV kabel di kamarmu kalau kau hanya memakainya untuk menonton drama?"
Taeyong berhasil membuat Ten merasa malu, tetapi pemuda itu memilih tidak menanggapinya, dia malahan teringat akan tantangan Seulgi yang diterima oleh Taeyong tadi dan seketika merasa cemas,
"Apakah menurutmu bijaksana memberi kesempatan kepada Seulgi selama seminggu? Siapa yang tahu apa yang akan dilakukannya?"
"Dia memintanya dengan begitu baik, dengan tantangan yang membuatku mau tak mau harus menerimanya, Ten. Kalau tidak aku akan tampak seperti pengecut." Jawab Taeyong cepat, "Jangan khawatir, aku tidak akan dikalahkan olehnya."
Tetapi walaupun Taeyong bicara begitu, tetap saja Ten merasa luar biasa cemas. Ada perasan takut dibenaknya, takut kalau perempuan itu akan mengambil Taeyong...
Ah, Ten menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran itu dari benaknya. Dia tidak boleh berpikiran seperti itu, mungkin dia hanya terlalu terbawa peran yang dimainkannya...
"Seharusnya kau tidak menerima tantangannya." Johnny bersandar santai di sofa, dia tentu saja mendengar semua adegan itu dari kamarnya dan mengintip sekilas penampilan Seulgi, "Perempuan itu seperti perempuan penggilas, dia terbiasa membuat laki-laki berlutut di bawah kakinya, dan dia sangat licik. Dia akan menggunakan segala cara Taeyong, dan alih-alih mengusirnya, kau malahan memberi kesempatan kepadanya untuk menguasaimu."
Taeyong menyesap kopinya dan mengernyit karena rasa pahit yang kental di sana. Jenis kopi kesukaannya, tanpa gula, tanpa campuran apapun.
"Apakah kau tidak percaya pada kemampuanku, Johnny?" gumamnya setengah terhina.
Johnny tertawa, "Tentu saja aku percaya, kau telah menaklukkan berpuluh-puluh perempuan, tetapi mereka semua tipe yang sama Taeyong, kau harus ingat itu, semua perempuan yang kau pacari, mereka semua tergila-gila kepadamu, bersedia melakukan apa saja supaya bisa mencium kakimu." Johnny menatap Taeyong dengan serius, "Perempuan yang ini beda, dia memang tergila-gila padamu, tetapi dia akan melakukan apa saja, supaya kau mencium kakinya. Hati-hati Taeyong."
Ten menatap Taeyong yang sudah berpakaian rapi di ruang tengah, dia tidak mengeluarkan pertanyaan, tetapi matanya sudah cukup mewakilinya, hingga Taeyong tersenyum masam dan berkata,
"Aku akan pergi makan siang dengan Seulgi. Kau ingat kan kesepakatan kemarin?"
Ten menganggukkan kepalanya, tidak berkata apa-apa.
"Aku harus pergi dengannya." Taeyong bergumam lagi, mencoba menjelaskan, "Dia menantangku, Ten dan aku harus menunjukkan siapa yang akan kalah di antara kami."
Sekali lagi Ten menganggukkan kepalanya. Toh dia harus bilang apa? Hak Taeyong untuk pergi dengan perempuan manapun, dia kan hanya berakting menjadi kekasih Taeyong kalau ada Yunho dan Seulgi. Selain itu dia kembali ke pangkat aslinya, pelayan Taeyong.
"Kenapa kau hanya menganggukkan kepalamu?" Taeyong tampak gusar, "Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu?"
Ten mengerutkan kening, bingung dengan sikap Taeyong, kenapa lelaki itu mendadak merasa terganggu dengan sikapnya? Salah apakah dia?
"Kau ingin aku mengatakan apa?" tanya Ten akhirnya, menatap Taeyong dengan mata besarnya yang polos.
Seketika itu juga Taeyong tertegun, ekspresinya tampak marah, "Ah sudah, lupakanlah." Dengan langkah-langkah marah, dia meraih kunci mobilnya dan melangkah pergi.
Di jalan Taeyong masih saja berpikir keras, menahan bingungnya. Bahkan dia sendiri tidak bisa memahami sikapnya tadi. Kenapa dia merasa perlu menjelaskan segala sesuatunya kepada Ten, sebelum dia pergi berkencan dengan perempuan lain?
Ten bukan kekasihnya kan? Dia tidak wajib menjelaskan segalanya kepada pemuda itu. Taeyong mendesah, tetapi dia tetap saja menjelaskannya, entah kenapa. Dan kemudian, ketika reaksi Ten tidak seperti yang diharapkannya, Taeyong marah.
Ya. Dia marah, amat sangat marah ketika Ten hanya menganggukkan kepalanya tanpa ekspresi ketika Taeyong bilang bahwa dia akan pergi berkencan dengan lelaki lain.
Seharusnya pemuda itu... Taeyong langsung tertegun dengan pikirannya sendiri, astaga...apakah dia ingin Ten bersikap berbeda terhadapnya? Apakah dia ingin Ten merajuk, cemburu atau bahkan membujuknya supaya tidak pergi?
Entahlah, Taeyong bahkan tidak bisa menelaah perasaannya sendiri. Yang dia tahu, sikap apatis Ten membuatnya amat sangat kecewa.
Seulgi sudah menunggu di lobby hotel untuk acara makan siang mereka. Perempuan itu meminta waktunya di siang sampai malam hari, menghabiskan waktu bersama-sama untuk saling mengenal,dan Taeyong setuju.
Dan rupanya Seulgi memang ingin mempesonanya dengan kekuatan penuh. Perempuan itu berdandan lengkap dengan gaun warna sampanye yang elegan dan indah, dan juga rambut yang diikat tingi di atas kepalanya, membuatnya tampak segar dan luar biasa cantik.
Seulgi menghampiri Taeyong dan tersenyum mesra,
"Terimakasih untuk tidak terlambat menjemputku, Taeyong-ssi." Gumamnya lembut, "Kita akan makan siang di mana?"
"Di tempatku biasanya makan siang." Taeyong sengaja memilihkan sebuah restoran biasa, bukan restoran kelas atas untuk Seulgi, sambil berusaha melihat reaksi perempuan itu. Bangsawan wanita seperti Seulgi pasti terbiasa makan di restoran kelas atas, dan akan jijik ketika diajak makan ke tempat biasa.
Tetapi rupanya dugaan Taeyong salah, Seulgi sama sekali tidak protes ketika Taeyong mengajaknya masuk ke restoran yang sederhana itu, perempuan itu malah memesan makanan dengan bersemangat, dan ketika makanan datang, dia melahapnya sampai habis.
Taeyong tidak bisa mengalihkan pandangan dari Seulgi ketika makan, menyadari bahwa perempuan itu adalah perempuan tangguh yang tidak akan menyerah dengan perlakukan sengaja Taeyong.
Seulgi mengelap mulutnya dengan tissue dengan gaya yang elegan, lalu tersenyum manis menatap Taeyong,
"Enak sekali Taeyong-ssi, tak heran kau sering makan siang di sini, kalau aku tinggal di Korea aku juga pasti akan sering kemari untuk makan siang." Gumamnya puas.
Dan Taeyongpun tertegun, mengetahui bahwa rencanaya untuk mempermalukan dan membuat Seulgi tak nyaman gagal total.
Ten merenung sendirian di ruang tamu. Alunan biola terdengar dari kamar Johnny, kali ini bukanlah alunan penuh kemarahan, melainkan sebuah lagu romantis nan syahdu. Yah. Mungkin Johnny sedang melankolis. Batin Ten dalam hati, sambil mengaduk-aduk teh di tangannya.
Lalu dia membayangkan Taeyong. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan Taeyong belum pulang. Mungkinkah dia sedang bersenang-senang dengan perempuan itu? Mungkinkah Taeyong pada akhirnya menyadari pesona Seulgi selain kecantikannya yang luar biasa dan memutuskan bahwa ayahnya benar? Bahwa Taeyong harusnya menikahi perempuan sesempurna Seulgi?
Ten merasakan dadanya berdenyut sakit. Sekali lagi dia menghela napas, berusaha menenangkan pikirannya. Gawat. Sepertinya Ten benar-benar terbawa oleh perannya.
Pukul sebelas malam, Taeyong membuka pintu apartemen dengan hati-hati. Seulgi memintanya mengantarkannya ke sebuah club malam yang terkenal di Seoul. Dan Taeyong tidak menolaknya, dia butuh sedikit minum malam ini.
Tetapi kemudian Taeyong sadar bahwa ini sudah terlalu larut, pada akhirnya dia bisa memaksa Seulgi mengikutinya meninggalkan club dan mengantarkannya kembali ke hotel
Yah, diakuinya, perempuan itu memang tidak sedangkal yang dia duga. Seulgi ternyata adalah wanita karier dengan posisi tinggi di perusahaannya, meraih nilai sempurna di dua jenjang pendidikannya dan merupakan salah satu figur wanita sukses modern yang tidak terikat oleh tradisi. Percakapan mereka sangat cocok, mereka bisa membahas apa saja, seolah-olah kotak pengetahuan mereka tak pernah habis. Seulgi memang teman yang menyenangkan untuk menghabiskan hari.
Taeyong mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan diri dengan ruangan apartemen yang gelap. Matanya menelusuri seluruh penjuru ruangan yang sepi. Semuanya pasti sudah tidur.
Taeyong melangkah melewati ruang tengah, hendak masuk ke kamarnya, tetapi kemudian di tertegun mendapati sesosok tubuh di atas sofa, berbaring meringkuk dengan posisi seperti janin yang baru lahir...
Taeyong mendekat, dan menyadari bahwa Ten ada di sana, tertidur meringkuk di atas sofa. Segelas teh yang masih setengah nampak di meja. Membuat Taeyong menyadari bahwa Ten ketiduran di sini.
Apakah pemuda itu menunggunya? Apakah ketidak pedulian yang ditampilkannya tadi sebenarnya palsu? Apakah Ten mencemaskannya yang pergi seharian bersama Seulgi?
Perasaan itu tiba-tiba saja membuat dada Taeyong terasa hangat, dia lalu membungkukkan tubuhnya, melingkarkan tangannya di punggung dan belakang lutut Ten, lalu mengangkat tubuh mungil Ten ke dalam gendongannya.
Ten menggeliat, sedikit terganggu dari tidur pulasnya, membuat Taeyong tersenyum sedikit,
"Bangun tukang tidur." Bisiknya lembut. Tetapi kemudian yang dilakukan Ten adalah menenggelamkan kepalanya dengan nyaman di dadanya. Membuat jantung Taeyong tiba-tiba bergetar, dipenuhi oleh perasaan hangat.
Dengan langkah hati-hati dia menuju kamar Ten, dan membuka pintunya, kemudian dia melangkah menuju ranjang, dan membaringkan tubuh Ten dengan lembut di atas tempat tidur. Ten langsung bergelung dengan nyaman ke arah Taeyong.
Taeyong sendiri duduk di pinggir ranjang, mengamati wajah damai Ten yang tertidur pulas, jemarinya bergerak lembut, membelai dahi Ten yang tertutup rambutnya. Dan kemudian didorong oleh perasaan yang tidak dimengertinya, Taeyong menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Ten dengan lembut.
Setelah itu. Taeyong melangkah keluar, menutup pintu kamar Ten pelan-pelan.
To Be Continue~~
Double Up yuhuuuuuuuu...
