Dan, kita comeback epic lagi dan aku sekarang sudah melewati chapter 10 lebih dari Fic ini meski sepi pengunjung yah namanya juga Fic minoritas mau tak mau memang harus seperti ini resiko yang dihadapi tapi, aku sudah terbiasa dengan kesepian yang kampang ini ahhh lupakan saja tapi btw hadehh terkadang nasib penikmat anime batch yang gini deh kena Spoiler terus dari Orang lain meski penasaran tapi, nunggu tamat dulu biar puas pas download daripada harus satu-satu yah, memang begitu tapi bersabar saja karena ini adalah sebuah Cobaan ohh, satu lagi banyak Orang yang mental lemah nonton Anime yang ada tikung-tikungan hahhh padahal belum tamat itu yah, biarkan saja.
P.s : sudah kuduga banyak Anime yang lama akhirnya keluar kembali dari hibernasi mereka dan ngomong-ngomong Madhouse lagi baik buat S3 Overlord dipercepat ahh mungkin sudah insyaf arghhh tapi nunggu S2 No Game No Life -_-
.
...
.
- Bagian Utama
Green dan Akame berada di situasi yang tak bisa dijelaskan atau secara tiba-tiba saja muncul di depan mereka bagaimana tidak? Disaat mereka ingin beristirahat sebentar akibat kelelahan tadi lawan salah satu penghuni kuil ini dan mereka kali ini harus berhadapan dengan mereka lagi tapi, kali ini Sang Boss muncul di hadapan mereka.
'Tch, payah kita tak bisa kabur dan meminta bantuan seperti ini' Green menatap sekitar dia tau tak ada jalan keluar untuk menghindari Kakek Tua ini dan terlalu beresiko jika memaksakan diri 'bagaimana, dengan Akame? Apa dia akan tetap melawan?' dia menatap Gadis Bermata merah ini.
"Ya, ampun aku terkejut kalian masih dalam keadaan utuh" Ucap Kakek Tua itu yang terkesan merendahkan "berhubung aku ada disini kenapa kita tak lanjutkan saja Pertarungan yang tadi tertunda karena ada yang kabur?"
"Baiklah, kau yang harus aku bunuh" Ucap Akame biasa saja dan mengacungkan Pedang.
'Sudah, kuduga dia bakal begitu' Green mendengus dia tau Gadis ini tak bisa diajak negosiasi untuk kabur dan melawan dilain waktu tapi dia tau Kakek Tua ini kuat dilihat dari jumlah kalung tengkorak yang dia gunakan 'kemarin Nenek tua, sekarang Kakek? Besok apalagi? Orang Pincang mungkin' dia masih ingat Pertarungannya di Kaki Gunung waktu itu.
Green yang melamun dan tak sadar, Akame sudah melesat maju lebih dulu dia menatap serius targetnya dan setelah mendekat, Kakek tua itu menghembuskan Angin kencang tapi Akame langsung loncat ke belakangnya dan menusukan Pedang ke arahnya tapi Kakek Tua itu menangkisnya dia ingin menarik Akame tapi, Gadis itu keburu menjauh.
Green menggunakan [SideWinder] dan menali semua tubuh Kakek tua itu agar tak bergerak Green mencoba menyeretnya tapi tenaganya masih kalah hingga akhirnya dia terseret ke arah Kakek Tua itu buru-buru dia melepaskan Tali itu dan berlari menjauh.
"Phew! Cukup dekat juga" Green menghela nafas lega dia melihat Akame masih baik-baik saja.
"Baiklah, karena tak baik jika sebelum mati tak tau lawan sendiri jadi namaku Makuro aku adalah Ketua dari Kelompok yang kalian serang Tentara Kerajaan" Kakek tua itu memperkenalkan diri dengan sopan "ohh, yang meski aku sudah tua tapi, Gaya bertarungku masih sama waktu muda"
"Aku Akame" Gadis Bermata Merah ini malah membalasnya dengan biasa seolah sedang berkenalan.
'Dia benar-benar...' Green hanya Sweatdrop dia tau Gadis ini memang sifatnya seperti itu "dan, aku Green" dia berbicara simple saja.
"Nama, yang bagus anak muda tapi aku takkan Memberimu ruang" Makuro langsung berteriak kencang dan menghembuskan angin yang begitu kencang memenuhi ruangan ini.
*Wushhhh!
Green menutup wajahnya berusaha agar matanya tak kemasukan sesuatu 'Geezz! Orang Tua ini benar-benar merepotkan juga' dia masih bisa melihat sedikit dan memeriksa orang tua itu tak bergerak dari tempatnya berdiri dan begitu memeriksa ke arah Gadis Satu timnya betapa terkejutnya dia.
Akame tengah bergerak di hembusan angin kencang ini dia menggerakan Pedangnya ke atas tengah seperti menangkis sesuatu di atasnya, Green berfikir tapi tak lama akhirnya dia tersadar dengan yang Akame lakukan tapi meski sudah sadar dia terlambat untuk bergerak.
*srarrrttt *Cratttt!
*Sratttt! *Cratttt!
"Oh, itu bukan sesuatu yang bisa kau tahan begitu saja dengan kedua tangan" Ucap Makuro terdengar mengejek.
'Dasar, orang tua yang menyebalkan' Green hanya menggerutu kesal beberapa di daerah Pakaiannya sobek dan membuatnya terluka seperti terkena goresan Pedang tapi, dia tak begitu kesakitan menanggapi luka ini.
Akame langsung maju ke depan dia mengayunkan Pedangnya ke samping tapi, Makuro langsung memutar tongkatnya tampak sesuatu seperti benda tajam keluar dari sana dan menahan serangan Akame
*trangg!
Akame hanya mendecak ia bergerak ke samping kanan dan mengayunkan Pedang lagi tapi tetap saja masih di tahan dan dia mengarahkan Pedangnya ke atas Makuro langsung mundur Akame melihat kesempatan ini langsung menusukan Pedangnya ke area Wajah tapi Kakek tua itu menggerakan kepalanya sedikit ke samping.
"Serangan kau sudah terbaca Gadis kecil!" Teriak Makuro langsung meninju Wajah Akame dan membuatnya terhempas
*Duagghhh!
"Kau baik-baik saja Akame?" Tanya Green khawatir.
"Yah, hanya masalah kecil saja tak usah khawatir" Balas Akame kembali bangun
Kedua Remaja ini langsung maju secara bersamaan, Green ke depan, Akame lewat samping Lelaki berkacamata ini langsung memanjangkan Shingunya hingga membentuk seperti Cambuk yang memutar, sementara Akame lalu diam di Tempat sepertinya dia menunggu moment yang pas untuk sekali bunuh.
"Ohh, aku menunggu apa yang akan kalian lakukan" Makuro menyeringai dia malah terlihat tak takut sama sekali "Gunakan semua yang kalian Punya"
Green memutar Shingunya dan langsung mengarahkan ke bawah sama seperti Cambuk yang langsung bergerak sesuai pengguna, Makuro meloncat ke samping, Green kembali mengarahkan ke kanan Makuro meloncat lagi ke atas niat Green hanya ingin mengikat Orang ini tapi apa daya Kakek Tua ini terlalu lincah dan sama seperti berhadapan dengan Barbara Oreburg.
"Ayolah, Anak muda hanya itu sajakah kemampuanmu?" Ucap Makuro yang mengejek dia langsung melemparkan beberapa Pisau kecil dari Saku Pakaiannya.
"Tch orang ini.." Green mencoba tak terprovokasi dia melihat Orang itu melemparkan sesuatu kepadanya dan langsung mundur 'ohhh, racun rupanya' dia menyadari itu senjata tajam yang sudah dialiri racun.
!
Makuro menyadari Akame berlari ke arahnya disaat dirinya masih di udara "ohhh, usaha yang cukup cerdik juga untuk mengalihkan perhatianku"
Akame langsung mengarahkan ke depan dan terdengar suara cipratan darah lalu Akame terkejut bukan karena serangan dia berhasil melainkan ditahan dengan satu tangan dan Parahnya Kakek tua itu terlihat biasa saja seharusnya dia langsung jatuh karena efek Shing Akame adalah Luka Permanen yang tak bisa disembuhkan.
"Kau, Pikir itu akan membunuhku bocah?" Ucap Makuro menahan Pedang itu dengan tangannya tanpa kesakitan.
"Ghhh..." Akame mendecak dia berusaha melepaskan itu tapi tak bisa dan juga dia tak bisa meninggalkan Shingu miliknya begitu saja.
"Baiklah jika kau ingin tau apa arti rasa sakit" Makuro menutup mata dia melebarkan tangannya dan muncul kobaran Api kecil "tapi, tahan yah karena ini akan panas" dia mengarahkan ke Akame dan berniat menyemburkannya.
"Sial Akame..." Green langsung bertindak dan menggerakan Tali Panjang itu dan menyabet tangan Makuro dan membuat Lelaki itu kehilangan fokus dan melepaskan Pegangannya "bagus, sekarang saatnya"
Green memanfaatkan kesempatan ini dan langsung mengikat Akame dan langsung menariknya jauh dari Kakek tua itu tapi, Makuro berbalik dia terlihat takkan membiarkan Gadis itu lolos dengan mudah.
"Baiklah, jika ini yang kau minta!" Teriak Makuro langsung menyemburkan Api yang menjadi besar ke arah mereka.
Green memang berhasil menarik Akame keluar dari sana tapi tak sadar ada sesuatu yang besar mendekat begitu sadar itu sudah terlambat karena kobaran Api Besar sudah sangat dekat dengan mereka nau atau tak mau mereka harus menerima serangan ini dengan berusaha bertahan
*Wushhhhhh
"Gahhhhhhhh!"
"Ahhhhhhhh!"
"Hehehe aku suka dengan teriakan itu" Makuro hanya tertawa melihat kepedihan mereka "seharusnya aku tambah lagi biar ada rasa yang bagus"
Mereka memang masih utuh tapi, tetap saja serangan tadi cukup menyakitkan bagi mereka itu terlihat beberapa tubuh yang hangus, dan asap timbul sehabis terbakar dan itu bukan sesuatu yang bisa ditahan oleh orang seumuran mereka meski sudah berlatih ketahanan tubuh.
'Sialan aku harus bagaimana!' Green agak Panik karena melihat Akame yang sangat lelah.
.
.
.
.
.
Tampak Seorang Pria paruh baya berjalan dengan pincang, terlihat tubuh dia penuh sekali dengan luka dan Ekspresi wajahnya benar-benar terlihat sangat lelah sehabis bertarung dan menandakan Pria ini tak memiliki tenaga satupun jika ada Pihak musuh yang akan menyerangnya yah, bisa dibilang menjadi Peti kematian untuknya.
'Ini benar-benar menyebalkan aku bisa kalah begitu saja' Batin Jamo yang masih tak terima dia kalah meski jika dia tak kabur tak menutup kemungkinan dirinya bakal tewas di Tempat 'selain itu teman-teman disini sudah tewas meski ada Boss yang kuat tapi kita bakal mati kalah Jumlah "
Daripada dia harus ikut bertarung dan membantu boss lebih baik dia kabur sendiri karena menurutnya kelompok ini sudah hancur bahkan dipertahankan pun tak ada Guna sama sekali dan ditambah dia tak Punya tenaga sama sekali karena habis bertarung dengan Para Bocah itu.
'Yah, sudahlah lebih baik Hidup normal saja di sebuah Pedesaan dan kurasa itu tak buruk'
Setelah dia kabur dari Tempat ini secara utuh mungkin tujuannya berubah dari membunuh beberapa kelompok menjadi Petani karena itu cukup ditambah dia bisa membela diri tak mungkin ada seseorang yang berani macam-macam dengannya.
Meski berjalan Pelan dan lunglai dia tak sadar sudah diikuti sedari tadi, baginya saat ini memilih keluar dari sini daripada harus mementingkan hal yang tak berguna dan begitu Orang itu mendekat dia baru sadar tapi, itu sudah terlambat sama sekali.
*dagghhhh!
*Duagghhhhh!
Dengan cepat Figure itu menendang kencang di kemaluan dan membuat Jamo berteriak sakit tapi belum sampai disitu kepalanya langsung dihantam oleh sebuah Palu yang keras dan Darah langsung muncrat seketika dan tak lama Pria itu tewas seketika di tanah dengan kepala banyak keluar darah.
"Aku rasa itu belum cukup untuk apa yang telah kau lakukan padaku" Ucap Gin ternyata dia masih menyimpan Dendam pada Orang ini yang tak senonoh dan memberi Pelecehan seksual kepadanya "dan aku ingin memotong bagian yang semua yang kau Punya!"
Dia ingin sekali menghancurkan tubuh Orang ini tapi terlihat Pria itu sudah tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengucur keluar dan setelah benar-benar memastikan Orang ini memang sudah mati dan tak mungkin hidup lagi.
"Baiklah, aku rasa hal seperti ini tak boleh berlarut terus"
Gin memilih Pergi dari sana ke tempat teman-temannya yang sudah berkumpul karena tadi dia Izin untuk Pergi dan menyelesaikan masalah dengan Pria Bejat tadi.
"Ahhh bagus"
Dan dia benar-benar Pergi.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Tempat Najasho
Sementara itu Lelaki berambut Kuning ini tengah berlari keluar dari Tempat ini tapi dia tak sendiri karena saat ini dia berlari sambil menggendong Seorang Gadis Rambut Kuncir caramel dan terlihat Ekspresi Gadis itu menikmati seolah seperti Seorang Pangerang yang menggendong Putri.
"Hei, Najasho!" Panggil Poney yang tetap merangkul erat Leher lelaki itu.
"Hmmmmm!" Balas Najasho yang tak menghentikan laju larinya dan Pandangannya tetap ke depan.
"Apa ini tak apa...?" Ucap Poney terlihat bingung untuk berbicara yang sesuai.
"Apa maksudmu?" Tanya Najasho ingin berhenti tapi dia tak ada waktu karena bangunan ini terlihat akan segera runtuh dan dia harus keluar dari sini.
"Apa ini tak apa jika kau menggendong aku?" Tanya Poney dengan blush Ekspresi wajahnya yang malu terlihat sangat lucu sekali "maksudku, apakah ini merepotkan kau?"
"Hah, seperti ini sudah biasa dan sering terjadi" Balas Najasho menghela nafas dia Pikir Gadis ini ingin berbicara sesuatu yang Penting tapi, berbeda "lagipula sudah seharusnya sebagai kapten dari sebuah Tim membiarkan anak buah mereka selamat"
"Ohh begitu rupanya.." Poney mengangguk faham tapi, tampak Ekspresi kekecewaan jelas di wajahnya mendengar jawaban ini "kau Pikir bagaimana dengan yang lain?" dia berbicara untuk mengalihkan topik saja.
"Aku yakin yang lain sudah selesai dan semuanya Pergi dari tempat ini" Jawab Najasho dia tau mereka Punya otak dan tau apa yang harus dilakukan "karena Perintah kita sudah selesai maka tak ada lagi yang harus dilakukan"
"Apa kau yakin mereka akan baik-baik saja?" Ucap Poney terdengar ragu karena meski mereka kuat terkadang memiliki kelemahan contoh sahabatnya yang hampir terbunuh jika tak ada Tatsumi maka Harapan Hidup Gadis sudah sangat mustahil.
"Aku yakin mereka sudah berkembang dan berfikir Dewasa" Balas Najasho sangat yakin terlebih ada Tatsumi dia yakin karena lelaki itu kuat bukan hanya kekuatan saja tapi, daya Pikir dia juga berbeda dari yang lain.
Najasho terus berlari diantara bangunan yang akan runtuh tapi langkahnya terhenti oleh sebuah tanaman Liar, Poney menutup mata dan merangkul Najasho dengan erat, Lelaki Berambut Kuning ini dengan mudah menghancurkan Tanaman itu dengan sekali tebas dan kembali berlari lagi.
"Fiuhh! Tadi itu cukup lumayan juga" Najasho menghela nafas.
"Terima kasih" Ucap Poney dengan blush kecil tapi tak disadari oleh Lelaki itu.
Najasho menoleh ke belakang "tak masalah tetap di belakangku dan jangan terlalu banyak Gerak karena akan sulit bagiku buat bergerak bebas"
"Takkan Pernah" Balas Poney membenamkan kepalanya entah kenapa hatinya terasa sedikit berdetak tak karuan dengan wajah yang memanas 'apa ini yang disebut Cinta, yang selalu Cora rasakan? Huh, kurasa rasa seperti ini tak begitu buruk'
Najasho menyadari ekspresi Gadis itu terlihat aneh tapi dia memilih mengabaikan saja 'jadi, ke kiri atau terus lurus saja ke depan yah' dia ingat memang ada dua jalan yang satu ke kiri yang sudah dilewati tapi yang depan dia kurang tau karena belum melewati tempat itu.
"Ada apa?" Tanya Poney menyadari Gerakannya berhenti.
"Aku bingung harus milih jalan antara kiri dan lurus saja?" Ucap Najasho tengah berfikir.
"Kiri saja karena kita sudah melewati jalan itu" Jawab Poney langsung "daripada yang depan karena kita tak tau apapun dan lebih baik cari aman saja"
"Baiklah" Najasho menurut dan berlari ke arah Kiri
Dan dia beruntung karena jika dia memilih lurus sudah banyak jebakan yang menanti dan lebih parah jalan buntu yang terpotong dan hanya bisa di lompati itupun jika dia ada tenaga banyak intinya Najasho dan Poney selamat.
.
.
.
.
.
- Tempat Akame
'Tch, ini benar-benar tak guna sama sekali'
Green menggerutu kesal dia sekarang berada dalam situasi yang kurang menguntungkan sama sekali bahkan bisa dibilang sangat berbahaya karena dia dan salah satu temannya harus melawan Kakek Tua yang hebat itu dan bukan mereka berdua tak bisa mengatasi hal ini hanya saja Tenaga mereka terkuras banyak ketik melawan Pria Berambut Kribo itu.
'Aku memang bisa melawannya tapi belum tentu aku bisa membunuhnya' Batin Green dia melihat keadaan Akame yang masih tetap bagus tapi terlihat kelelahan dan agak sulit berdiri 'Akame belum Pulih seutuhnya, dan aku juga agak sakit tapi jika diam begini terus kita yang akan mati'
"Ka-kau kenapa Green?" Tanya Akame yang agak kesulitan berbicara.
Green langsung tersadar dari lamunannya "ahh, maaf tak ada masalah disini"
"Maaf jika aku merepotkan engkau" Ucap Akame merasa bersalah dia juga sama sekali sulit untuk bergerak cepat seperti tadi.
"Hah, tidak ada yang direpotkan sama sekali" Jawab Green berbohong agar tak membuat Gadis ini sedih.
"Ohhh, begitu" Akame hanya mengangguk.
"Hah, benar-benar membosankan aku fikir kalian akan memberikanku hal yang lebih menarik lagi" Komentar Makuro mendengus dia sebenarnya sudah serius tapi lawan yang dia hadapi tak Punya semangat sama sekali "tapi, ternyata hanya segini yang kalian Punya huh? Mengecewakan"
"Tch..." Green mendecak kesal dengan penghinaan tadi.
"Baiklah, aku rasa harus mengakhiri kalian disini" Makuro mengeluarkan Pisau yang sudah di lapisi racun dan Pandangannya ke dua Remaja ini "baiklah, aku rasa lebih baik kau dulu saja nona" dia mengarahkan ke Akame.
*Clingg
Makuro langsung melemparkan Pisau ke arah Akame, Green dengan sigap memeluknya dan menjadi tameng tapi sebelum itu terjadi Pisau itu terpental ke arah lain dan muncul bayangan cepat di depan Makuro, sebelum Kakek Tua itu menghindar wajahnya sudah terkena Pukulan dan menghempaskannya ke tembok.
*Duarrr!
"Astaga, aku Fikir sudah selesai tapi, apa yang terjadi disini"
"Hadehh! Kau menyebalkan selalu saja telat" Green menghela nafas karena mendengar suara tak asing lagi baginya "beruntung sekali nasib aku sekarang"
"Tatsumi..." Akame tersenyum menyadari suara itu.
"Ya, ampun kalian lumayan terluka rupanya" Komentar Tatsumi menyadari kondisi kedua temannya "tapi, ngomong-ngomong dimana yang lain?"
"Mereka sudah Pergi dulu" Jawab Green membetulkan letak kacamatanya "sebenarnya niat kita ingin menyusul setelah beristirahat sebentar tapi, hal tak terduga benar-benar muncul di luar Perkiraan"
"Sungguh kurang beruntung" Tatsumi tertawa lepas dia sadar Musuh yang tadi dia Pukul langsung bangun.
"Ohhh, orang baru yang kuat huh?"
"Kalian Pergilah, biar aku yang atasi ini" Tatsumi siap dalam mode tarung "aku akan segera menyusul jika ini sudah selesai dengan cepat"
"Tidak, kita Pergi bersama-sama aku dan Green akan membantumu" Jawab Akame tegas, Green mengangguk setuju "dan kita masih ada sedikit tenaga untuk membantu"
"Baiklah, jika itu yang kau mau" Balas Tatsumi mengalah karena Sikap Keras Kepala Akame jika menolak maka akan jadi debat yang Panjang "tapi, jangan maju kalian boleh maju jika ada kesempatan dan langsung bunuh"
"Oke!"
"Astaga kau rupanya.." Makuro merasa tak asing dengan wajah Tatsumi "kalau tak salah kau yang mengangguku sewaktu di Penjara"
"Oh, si Kakek Bejat yang tak tau malu" Ucap Tatsumi juga merasa familiar dia memang Pernah bertemu di Penjara sewaktu ingin menyelamatkan Kurome "bagaimana kalau kita selesaikan ini yang sempat tertunda?"
"Kalau begitu kemarilah" Makuro menantang.
Tatsumi langsung maju tepat di depan Orang itu dengan langsung meninjunya tapi Makuro masih bisa menahannya dengan tongkat tapi tak lama terdengar suara retakan dan tentu saja bagi Tatsumi itu mudah menghancurkan sesuatu seperti itu dengan tangannya.
"Sial..." Makuro Panik terhadap tenaga Tatsumi yang besar dan sanggup menghancurkan tongkatnya.
"Ohhh, kau Pikir aku sama dengan mereka?" Tatsumi menyeringai melihat Reaksi lawannya dan dia memutar badan dan menendang Wajah Orang itu tapi, Makuro masih bisa ditahan tapi terhempas.
Tatsumi langsung mengeluarkan Pistol dari Sakunya dan langsung menembakan beberapa Peluru, Makuro memutar kepalanya dan Rambutnya cepat memanjang dan melindungi dirinya tapi Kakek Tua itu langsung membalas dengan menembakan Duri tajam yang berasal dari Rambut.
*Trang! *Trang!
"Astaga kau Kakek tua yang benar-benar menyebalkan" Ucap Tatsumi mementalkan serangan itu dengan Pedang.
Makuro langsung maju dia menggerakan Rambutnya dan menyerang Tatsumi, Lelaki Bermata Emerald ini hanya mundur terus tak ada niat menghindar dia tau itu bukan Rambut Tajam biasa karena sudah dilapisi oleh racun.
"Kau yakin ini tak masalah?" Tanya Green melihat Pertarungan kedua Orang itu
"Tak apa, karena Tatsumi belum serius" Balas Akame tersenyum dia tau Tatsumi Orang yang kuat "kita memang boleh membantu tapi kita juga tak ingin menganggu dia saja dan kita akan bantu setelah ada kesempatan"
"Kau benar" Green mengangguk setuju.
'Dia, tak sekuat yang aku kira' Komentar Tatsumi yang hanya menahan serangan itu dengan Pedang 'baiklah aku akhiri dengan cepat' dia langsung menangkis serangan itu dan menendang Perut Makuro membuatnya terhempas jauh.
"Astaga kau memang kuat yang seperti kuduga" Ucap Makuro dengan nafas tersenggal karena kelelahan.
Makuro langsung menembakan Tumpukan Jarum dari Rambutnya dan juga dengan serangan Gabungan menyemburkan Api besar dari mulutnya, Tatsumi bersikap biasa saja dia hanya menggerakan kedua tangannya dan langsung membuat Tembok Api yang terlihat besar membuat Kakek tua itu terlihat Gemetar takut.
"Ohhh, segini saja kekuatan kau huh?" Tatsumi menyeringai melihat ekspresi ketakutannya meski hanya sebentar "hah, kalau ketuanya seperti ini maka tak heran jika kelompok kalian mudah dihancurkan"
"Diam kau!" Teriak Makuro emosi dan terpancing ucapan Tatsumi
"Baiklah, sekarang giliranku!" Tatsumi menggerakan tangannya ke atas dan ke bawah dan muncul seperti Cahaya.
"CHAIN YANKER!"
Tampak Tangan Tatsumi berputar dan menarik Makuro dekat dengannya tampak Kakek tua itu ingin berontak tapi tehknik tarikan Tatsumi lebih kuat hingga akhirnya dia menyerah dan Tatsumi memberi Pukulan kecil dan membuat Makuro Pusing tak karuan.
'Baiklah langsung saja' Tatsumi langsung loncat di udara dengan gaya memiringkan badan 'akan aku tendang kau sampai habis'
"DISCONBULLATOR!"
Tatsumi langsung memberikan tendangan bertubi-tubi tanpa jeda ke Kakek tua itu terdengar suara tendangan yang keras dan setelah selesai Tatsumi meloncat lagi dan memberi tendangan terakhir di wajah dan menghempaskan Makuro Jauh ke tembok.
*Jduarrr!
"Guahhhh! Kau bangsat kecil!" Makuro mengeluarkan darah segar dari mulut tubuhnya langsung terluka parah akibat tendangan tanpa henti ini "kau akan membayar atas semua yang kau lakukan"
Tatsumi mengeluarkan tehknik yang sama dan kembali menarik Kakek Tua itu yang hal mustahil untuk ditahan lagi dia mengeluarkan Pistol dari sakunya dan berniat menembakan langsung tepat di otak tapi, yang terjadi.
*Slashhh!
*Cratttt!
"Ohhh, kau cepat tanggap juga yah Akame" Ucap Tatsumi dia melihat Gadis itu langsung bergerak cepat dan membelah Kepala Makuro hingga membuat Kakek tua itu tak bisa berteriak seketika dan langsung tewas di Tempat.
"Kau bilang aku boleh membantu jika ada kesempatan" Balas Akame langsung mencabut Pedangnya dan setelah memeriksa Kakek Tua itu benar-benar tewas dia langsung terjatuh karena kelelahan "hah, aku benar-benar lapar sekali" dia berguman
Tatsumi hanya tersenyum dan memeluknya "baiklah, setelah misi ini aku akan memasak sesuatu untukmu yang enak"
"Baiklah kita akan kemana?" Tanya Green menghela nafas dan dia lega karena misi mereka selesai dan berakhir tanpa ada masalah apapun
"Kita akan segera keluar dari sini karena misi sudah selesai" Jawab Tatsumi langsung menggendong Akame yang tertidur kelelahan.
"Tapi, bagaimana dengan yang lain?" Green bertanya tentang keadaan teman-tenannya
"Mereka sudah keluar dari sini aku yakin itu" Jawab Tatsumi melihat ruangan ini ingin runtuh "dan juga kita tak bisa berdiam lebih lama disini karena kita akan tertimpa bangunan ini"
"Kurasa kau benar" Green mengangguk setuju
Dan mereka bertiga berlari keluar dari sini.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Luar Kuil
Sementara itu Gozuki dan yang lain berkumpul di luar sambil menunggu beberapa Anggota mereka yang masih diluar dan semuanya sudah ada disini mulai dari Kelompok Pembunuh kerajaan dan Elite 9 hanya saja kelompok mereka masih kurang lima Orang yang belum kembali yaitu Najasho, Poney, Akame, Tatsumi, dan Green.
'Jadi, mereka sudah selesai dengan tugas itu huh?' Batin Gozuki menyeringai dia tau anak buah kesayangannya dapat mengatasi misi ini tanpa ada satupun orang yang tewas 'aku rasa aku terlalu meragukan mereka'
"Ada apa denganmu Gin?" Tanya Natala menyadari Ekspresi yang berubah dari Gadis itu.
"Ohh, bukan apa-apa" Balas Gin tersenyum karena dia berhasil membalas Dendam terhadap Orang cabul.
"Mungkin hal yang gak Penting semacam makanan" Remus mencoba bercanda untuk meramaikan suasana.
"Jadi, Najasho dan yang lain belum kembali huh?" Tanya Guy yang sadar Anggota mereka masih kurang
"Mereka mungkin masih diperjalanan keluar dari Kuil itu" Jawab Tsukushi
"Kalau mereka tak cepat yang ada mereka tertimbun reruntuhan itu" Guy terlihat Paling cemas disini.
"Tatsu-Niichan bilang dia akan kembali dengan selamat bersama Nee-chan dan yang lain jadi kita tunggu saja" Ucap Kurome yang terlihat biasa saja dan tak menunjukan Ekspresi apapun sedang mengunyah buah manis.
'Tatsumi...' Cornelia menatap Kuil itu dengan khawatir dan cemas yang berlebihan meski begitu dia tak tunjukan pada semua Orang terutama Gozuki karena ini permintaan Tatsumi sendiri yang merahasiakan apapun dari mereka 'cepatlah keluar dengan selamat'
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Dan cuttt akhirnya aku selesai juga meski terkadang gila dan tak karuan tapi itu tak masalah aku akan terus berjuang dalam menulis fic lagi see ya!
Pm
RnR
