"Jungkook, kita harus bicara."

Betapa Jungkook merindukan suara itu, suara pujaan hatinya yang rendah dan dalam, masuk ke telinganya dan merasuki pikirannya, menghantamnya dengan kerinduan, rindu ingin memeluk tubuh sempurna pujaannya, namun yang ia lakukan adalah diam. Egois selalu ada pada dirinya.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan."

Berusaha tegas, padahal tangannya gemetar- ingin menyentuh prianya lagi, tangannya gemetar ingin digenggam prianya- Kim Taehyung yang sekarang berubah, sempurna? Taehyung selalu sempurna di matanya.

"JEON!"

Tubuhnya gemetar mendengar bentakan itu.

"Hey- man! What the fuck are you doing huh?-"

Lelaki bule- Miles- mendorong bahu kasar prianya.

"You- shut up! Jeon dengar aku! Pakai baju yang pantas- dan ikut aku karena kita harus bicara-"

"Hey men-"

"Shut up!-" Potong Taehyung lagi.

"Jeon Jungkook, kita harus bicara ya? Kumohon?"

Badan Jungkook melemas, Taehyung yang tampak lemah adalah kelemahannya, Taehyung yang memohon padanya adalah ekstasi- manis pada fakta bahwa Taehyung bergantung padanya- dan Jungkook mengangguk.

.

.

.

Dan mereka disini, di sebuah kedai kopi, mencari kehangatan agar emosi teredam, bicara dengan baik-baik dan pulang dengan bahagia.

"Jadi, siapa Miles?"

"Dia- temanku."

Taehyung diam, Jungkook tahu bahwa Taehyung menunggu kelanjutannya, Jungkook tahu bahwa bukan itu yang Taehyung mau.

"- Kami teman satu kampus- dan yah dia sering main ke tempatku- menginap kadang dan itu sudah biasa disini- maksudku-"

"Lalu kissmark?" Potong Taehyung cepat.

"Ini?-" Jawab Jungkook dengan mengadahkan kepalanya- menunjukan ruam merah di lehernya. Taehyung membuang muka- dan Jungkook terkekeh.

"Ini punya Lisa semalam- hah dia terlalu ganas kkk-"

"Lisa? Wanita?"

"Tentu- jika kau pikir aku bermain dengan Miles, tidak-kadang kami hanya bertukar blow job-"

"Kenapa Jungkook?" Potong Taehyung sedih- tidak tahan dengan segala peningkatan kedewasaan Jungkook yang vulgar.

"Apa?" Tanya Jungkook balik.

"Kenapa kau jadi begini?"

"Kenapa aku bertukar blowjob begitu?-"

"Bukan-"

"Karena 2 tahun ini aku selalu bermain dengan wanita, aku dan Miles saling menghormati- dia tidak menusukku atau sebaliknya, jadi yah hanya blowjob sebagai teman itu oke-"

"Bagian mana yang kau bilang menghormati?"

"Setidaknya dia tidak memperkosaku bahkan dalam keadaan mabuk sekalipun."

Taehyung menunduk dalam atas jawaban cepat nan tepat dari bibir si manis yang menusuknya.

"Untuk ribuan kalinya- Jeon Jungkook aku menyesal dan minta maaf."

Taehyung mencoba mengangkat kepalanya kembali dan terkekeh ketika melihat bola mata Jungkook yang melebar karena matanya berkaca-kaca.

"Sudah aku katakan- aku tidak bisa tanpamu. Aku berjuang untuk membuatku pantas untukmu, membahagiakanmu suatu saat nanti, menjadi pendamping yang sekedar pantas untuk ada-berdiri di sebelahmu, menggenggam tanganmu, meminta maaf atas segalanya dan bersama untuk memperbaiki segalanya."

"Mainset baru dalam hidupku adalah untuk membuatku pantas- untuk Jungkookku yang manis, sempurna dan tanpa celah untuk aku- Kim Taehyung yang hanya seorang bajingan sialan yang bahkan memperkosamu dalam keadaan mabuk- aku benar-benar berengsek, ya aku bajingan dan tidak akan berubah di matamu yang indah dan sempurna setiap nafasmu."

"Aku memutuskan untuk bangkit dan sadar bahwa aku harus mengejar masa depan- dan aku disini untuk masa depanku- itu kau."

Taehyung tersenyum manis, Jungkook membuang muka, jelas sekali menyakiti Taehyung yang mengambil kesimpulan- Jungkook membencinya sedalam ia merusaknya.

"Aku malu-"

Taehyung merogoh kantung celananya dengan tangan gemetar.

"Aku- aku dengan segala kebangsatan yang aku punya bahkan sudah berani membawa ini-"

Mengeluarkan sebuah kotak merah yang tampak indah dari luar, membuat Jungkook yang melihat itu kembali menggigit bibirnya kasar.

"Percaya diri bahwa Kookie-ku yang manis akan menerimaku lagi kkk~"

Jungkook mencoba menatap Taehyung di mata, tapi Taehyung terlalu takut untuk Jungkook tahu bahwa dia terluka.

"Tidak tahu diri- berlagak kesal dengan tingkahmu sekarang padahal aku biang keroknya-"

Taehyung menengadahkan kepalanya- tidak ingin air yang menggenang dimatanya jatuh tapi tidak sanggup untuk melihat Jungkook.

"Berlagak mengaturmu padahal aku yang merusakmu-"

"Berlagak seolah kau malaikat yang akan terus memaafkan padahal aku telah merusakmu keterlaluan-"

"Berlagak seolah aku sudah berubah padahal aku tetap begini- berengsek bajingan bangsat-"

Taehyung tersenyum miris, berani menatap Jungkooknya- Jungkook terlihat tegar dan itu membuat Taehyung terluka dan ingin menyerah.

"Dan aku- aku tidak pantas- nol persen pun untukmu-"

Taehyung membuka kotak merah itu- dan sebuah cincin yang sederhana namun indah muncul sebagai pusatnya. Membuat pria manis didepannya menahan napas.

"Ini- aku hanya ingin kau tahu- ini tidak mahal tapi aku mengumpulkannya dari gajiku- bekerja dengan giat untuk membeli cincin ini- cincin untuk masa depanku-"

"Tapi aku tidak sadar bahwa aku telah kehilangan masa depanku saat aku melukaimu- merusakmu-"

Dan Taehyung menutup kembali kotak merah itu memasukannya kembali ke kantongnya- menyisakan Jungkook yang terdiam dengan mata yang berkaca-kaca- merasa terluka dengan segala ucapan Taehyung tapi di lain sisi ia senang Taehyung terluka karenanya.

"Sekali dan untuk terakhir- aku minta maaf Jungkook- aku mencintaimu."

Taehyung berdiri menghampiri bangku Jungkook dan mengelus lembut rambut Jungkook, lalu mencium rambut itu lama-

"Aku sayang padamu." Gumam Taehyung dalam kecupan ringan di kening Jungkook dengan nada yang lemah, penuh luka dan rapuh.

Taehyung ingin menarik jarinya dari rambut halus Jungkook- namun jari lentik itu menahannya- malah menarik jari-jarinya untuk digenggam lalu diberikan kecupan-kecupan manis yang membuat Taehyung membeku- mencerna apa yang terjadi sambil menikmati suasana saat ini.

"Kook-ah.."

"Aku juga mencintaimu- Taetae."

Jungkook tersenyum manis untuknya, lagi.

...

Tbc