Diffindo


"Chanyeol?!" teriak Baekhyun dengan serak.

Tak ada jawaban.

"Kyungsoo?!"

"Kai?!"

"Baazi?!"

Masih belum ada jawaban yang terdengar.

Panik, Baekhyun langsung saja berlari keluar rumah dengan sisa-sisa tenaga. Saat pintu depan dibuka, ia dapati Baazi tengah merentangkan kedua tangannya sambil menghadap ke hutan yang gelap. Bisikan mantra yang nenek tua itu baca berulang kali terdengar desisannya terbawa angin.

Omega itu kebingungan sendiri di tempatnya. Ada apa ini? Kenapa Baazi harus melakukan ritual? Dan dimana Chanyeol juga Kai dan Kyungsoo?

Baekhyun yang sudah hilang kesabaran itu lalu menghampiri Baazi. "Chanyeol dan yang lainnya ada dimana?"

Wanita tua itu taunya berlalu tanpa menjawab apa pun sedang Baekhyun masih terpaku di halaman. Lelaki itu sadar bahwa Baazi telah melakukan sesuatu padanya. Dia tak sadarkan diri sejak tadi diang dan sekarang, Chanyeol, Kai dan Kyungsoo menghilang.

Pasti ini semua rencana alpha-nya.

Baekhyun berjalan cepat dan meraih bahu Baazi sampai wanita itu berbalik menatapnya, "pergi kemana alpha menyebalkan itu?" tanya Baekhyun yang sudah sepenuhnya kesal.

Wanita tua di hadapannya menunduk sejenak dan lalu menggeleng tanpa sebab yang jelas. Baekhyun sudah hampir membentaknya karena dorongan emosi, namun tiba-tiba, Baazi tersenyum padanya dengan mata berkaca.

"Alphamu ingin kau tetap tinggal selagi mereka menerobos masuk ke Odrewood. Aku tidak bisa melarangnya. Sudah takdir dia harus pergi."

Baekhyun tertegun di tempat.

Baazi mengusap air mata di pipinya sendiri dengan tangan gemetar, "Alphamu ingin kau tetap tinggal selagi mereka menerobos masuk ke Odrewood. Aku tidak bisa melarangnya. Sudah takdir dia harus pergi."

Mendengar jawaban wanita tua itu, Baekhyun langsung dilanda cemas. Bagaimanapun itu pasti tidak akan mudah melihat dari cara Kyungsoo menceritakan desa itu dengan pembawaan waspada. Chanyeol seharusnya tak meninggalkannya begini.

Baekhyun meraih kedua bahu Baazi dan mengguncangnya, "mereka ke Odrewood untuk menyelamatkan Sehun tanpa mengajakku, dan kau membiarkannya?!" bentaknya dengan raut kesal.

Baazi menatap tajam mata Baekhyun dengan sisa linangan air mata sampai cengkeraman di bahunya melemas. "Chanyeol harus pergi karena itu memang sudah takdir!" Baazi menepis kedua tangan Baekhyun sampai lelaki itu tersentak.

Wanita tua itu dengan susah payah berjalan menuju jendela guna memeriksa pagar sihir yang tadi ia pasang. Keriput di wajahnya tentu tak mampu menyembunyikan sendu yang sedari tadi terlukis disana. Baazi benar-benar bingung dan sedih tentang keputusannya ini.

Apakah...menahan Baekhyun disini adalah perbuatan benar?

"Cepat atau lambat Odrewood akan dipimpin oleh Chanyeol. Penglihatan itu sudah kulihat sejak pertama kali kami bertemu," ucap Baazi entah ditujukan untuk Baekhyun atau dirinya sendiri.

Karena jujur saja, menahan Baekhyun disini adalah hal yang salah. Baazi tahu bahwa tindakannya ini bisa merubah takdir banyak orang dan itu tentu saja berisiko. Baazi tahu bahwa apa yang lakukan telah salah, namun ia tak bisa memungkiri bahwa kehilangan Baekhyun adalah hal yang berat baginya.

Dia terlanjur menyayangi omega ini layaknya ia menyayangi putranya sendiri. Selayaknya ia mengasihi Chanyeol, Baekhyun kini sudah menjadi pemilik sebagian kecil dari potongan hatinya. Sebab itulah, ia sampai rela melanggar takdir yang sudah Dewa tetapkan.

"Tapi Kris sedang memimpin! Kau sama saja mendorong Chanyeol untuk melakukan pertarungan saudara! Lagi pula Chanyeol sama sekali tidak menginginkan posisi itu!" Baekhyun kembali menumpahkan kekesalannya.

Ia terlalu fokus untuk kecewa dengan semua orang yang telah meninggalkannya sampai ia tak menyadari apa yang kini sedang Baazi rasakan. Wanita itu berbalik dengan raut penuh sesal namun juga marah. Baazi berjalan mendekati Baekhyun sambil tak henti memukuli dadanya sendiri.

"Pada akhirnya semua rencana Chanyeol tidak berhasil! Mereka akan diadili dan akan ada pertumpahan darah di tanah leluhur mereka-"

"Kalau begitu aku harus membantunya!"

"AKU MELIHATMU MATI DI TENGAH ARENA PERTARUNGAN DAN AKU TIDAK INGIN ITU TERJADI!" bentak Baazi sampai senyapnya malam terusik sejenak dengan lengkingan suaranya.

Baekhyun terenyak di tempatnya berpijak. "A-Aku mati?"

Seperti baru saja tersadar bahwa ia telah meloloskan sesuatu yang tak seharusnya dikatakan, Baazi berbalik menjauh untuk menghindar.

Namun tentu saja Baekhyun langsung meraih bahunya. "Tapi kau bilang Chanyeol akan membawaku pulang ke Achilleus?"

"Bisikkannya tidak memberitahuku apakah kau akan pulang dalam keadaan hidup atau mati..."

"Jadi...kau melihatku mati disana dan setelah itu Chanyeol menjadi pemimpin Odrewood?" tanya Baekhyun kembali memastikan.

Wanita tua di hadapannya kembali hancur dalam tangis. Sosok yang Baekhyun kenal tangguh dan disiplin itu nyatanya bisa menangis dengan sekeras ini hanya demi dirinya, yang baru dikenal selang beberapa hari saja. Betapa lembutnya hati seorang Baazi yang diluarnya terlihat begitu kuat.

Baekhyun meraih kedua tangan nenek itu sambil mengusap keriput di punggung tangannya. "Dan, apa desa itu beserta orang-orangnya punya hidup yang lebih baik setelah Chanyeol memimpin?"

Baazi mengangguk kali ini dengan tangisnya yang sudah menjadi isakan tersedu.

Senyuman tipis yang bukan main berat untuk dikembangkan itu terpatri di bibir Baekhyun. "Itu berarti aku memang harus pergi," ucapnya dengan suara bergetar.

Baazi menatapnya dengan terkejut bercampur tak rela. Tapi Baekhyun malah tersenyum dengan begitu ringan sambil mengangguk tak apa.

"Takdir banyak orang dipertaruhkan disini. Aku tidak boleh mengubahnya demi kepentinganku sendiri."

.

e)(o

.

Semua orang bisa menontonnya.

Semua mata bisa dengan jelas melihatnya.

Namun tak semua orang bisa merasakan betapa sakitnya memandangi kepergian orang yang kita cinta, tepat di depan mata dengan cara sekeji itu.

Untuk yang satu ini, hanya Chanyeol yang bisa merasakannya.

Pria itu terpaku menatap tubuh belahan jiwanya yang sudah tak bergerak. Chanyeol mematung disana, dengan air mata yang terus mengalir dan ngilu di dadanya yang tak kunjung usai. Bibirnya gemetaran, tak mampu mengucapkan apa-apa.

Omeganya pergi...dia telah pergi dan Chanyeol tak akan bisa melihatnya lagi.

"Baekhyun..." bisiknya masih tersungkur di tanah. "Jangan pergi..."

Chanyeol menyeret tubuhnya sendiri yang kedua tangan dan kakinya diikat kencang dengan susah payah.

"'Jangan tinggalkan aku..." pintanya sambil terus berusaha mendekati tubuh Baekhyun di tengah sana.

Sehun yang sedari tadi menangis meraung itu pula mengikuti jejak Chanyeol. Pemuda itu terus memanggil nama kakaknya dengan teriakan yang memilukan hati dan memekakkan telinga.

"Tetap di tempatmu!" seorang penjaga tiba-tiba menarik lengan Sehun, bermaksud membawanya kembali ke tempat semula.

Salah seorang selir Kris yang berdiri disana tersentak dari duduknya. Serasa ingin menghampiri pemuda itu namun dia sadar dia tidak bisa.

"Kau juga!" Chanyeol pula mendapatkan perlakuan yang sama.

Namun dengan cepat dia tepis tangan yang hendak menyentuhnya itu dan terus menyeret diri menuju jasad Baekhyun. Chanyeol bahkan tak merasakan sakit saat tubuhnya terus ditendangi oleh para penjaga.

"TETAP DITEMPATMU, BODOH!" teriak salah seorang diantara tiga penjaga yang sedang menendanginya.

"Aku harus...mengatakan...sesuatu..." ucapan Chanyeol terus terjeda setiap kali tendangan keras mampir ke tubuh, "sebelum dia pergi..." kukuhnya tanpa merasakan sakit ditendangi dan kini bahkan dipukuli.

"Aku hanya ingin Baekhyun tahu kalau aku sangat mencintainya..." gumam Chanyeol setelah para penjaga menyeretnya kembali.

Kai dan Kyungsoo yang melihat langsung tragedi ini hanya bisa menangis tersedu. Bagi Kai yang sudah sejak lama berteman dengan Chanyeol, sedikit banyak dia bisa mengerti betapa beratnya jadi pria itu. Dia harus berkali-kali menjadi saksi dari kepergian orang-orang yang disayang.

Tepat di depan matanya sendiri, Ibu, Ayah dan sekarang, Baekhyun juga harus pergi dengan cara sekeji ini. Kai menangis terisak, ikut merasakan pilunya.

Mungkin jika dia jadi Chanyeol, sudah sejak lama dia akan bunuh diri saja.

"Hentikan..." bisik Kyungsoo sambil mencoba menahan emosinya yang bergejolak. "Hentikan semuanya..."

Semua rasa sakit ini sudah terlalu lama mengekangnya. Dia sudah terlalu lama hidup di bawah kekuasaan Kris yang penuh derita. Dan sekarang ditambah dengan kepergian teman barunya dengan cara seperti ini.

Kyungsoo sudah tidak tahan lagi.

"HENTIKAN, KALIAN SEMUA!" teriaknya menggelegar sampai para penduduk di tribun yang awalnya bersorak demi kematian Baekhyun langsung diam.

"KALIAN SADAR ATAU TIDAK KALAU KRIS TIDAK PERNAH LAYAK UNTUK MEMIMPIN KITA!"

Sontak saja ucapan Kyungsoo yang bukan main provokatif itu ditanggapi Kris dengan murka, "JAGA UCAPANMU, PENGKHIANAT!"

Kyungsoo berdiri dengan susah payah dan menatap satu persatu wajah para penduduk yang hampir seluruhnya dia kenal. "DIA HANYA MENGGUNAKAN DARAH DAN TENAGA KITA UNTUK MEMENUHI SEMUA KEINGINANNYA! MEMBUATNYA BERSENANG-SENANG DIATAS LELAH KALIAN! LALU APA YANG KALIAN DAPATKAN!?"

Seluruh orang yang ada di arena, baik yang sedari tadi hanya menonton maupun yang ikut turun tangan mengatasi para tahanan mulai terdiam dalam pikirannya sendiri.

"YANG KALIAN DAPATKAN HANYA PENDERITAAN! KESUSAHAN YANG TIADA HABISNYA!"

Perlahan, satu persatu wajah orang-orang yang duduk di tribun arena berubah sendu. Terlihat seperti sedang merenungkan ucapan Kyungsoo yang dirasa benar adanya.

"DIA BUKAN PEMIMPIN! DIA SEORANG PENINDAS! ANAK-ANAK KALIAN KELAK HANYA AKAN MENJADI BUDAK BAJINGAN KEPARAT ITU!" Kyungsoo mengakhiri kalimatnya dengan memberikan lirikan tajam kepada sang ketua pack dan lalu meludah ke tanah.

Kris berdiri dari singgasananya dan dengan kesetanan menunjuk-nunjuk wajah Kyungsoo sambil terus mengutuknya. "TANGKAP DIA! TANGKAP PENGKHIANAT KOTOR ITU! BERI DIA HUKUMAN MATI DETIK INI JUGA!"

Beberapa anak buahnya yang berdiri di dekat Kris tetap diam di tempat seolah tidak ada perintah yang baru saja diucapkan. Mereka menatap satu sama lain dengan ragu. Dari rautnya, jelas tersirat kebingungan lewat kerutan di dahi mereka.

Para bawahan Kris diam-diam merasa setuju dengan apa yang Kyungsoo ucapkan dan sepertinya, mereka juga sudah muak. Namun tak pernah memiliki kesempatan dan cukup kekuatan untuk melawan.

Kris yang tak kunjung melihat respon dari anak buahnya berjalan dengan kesal ke arah salah seorang anak buahnya dan langsung mendorong lelaki muda itu dengan kasar. "AKU BILANG TANGKAP PENGKHIANAT BUSUK ITU!"

"Kau bilang kau akan segera membebaskan Pamanku dari pengasingan jika aku mau mengabdi?" bentak anak buah Kris yang tadi sempat dia dorong sampai hampir tersungkur.

Sebelum pemimpin pack itu bisa menendang anak buahnya yang dianggap kurang ajar itu, tiba-tiba sahutan demi sahutan yang menyudutkan mulai terdengar bersahutan.

"Kau juga berjanji padaku tidak akan memperkerjakan orang tuaku di tambang. Tapi kau tak kunjung menepatinya!"

"Kau membuat adikku bekerja sampai pagi buta!"

"Saudariku hampir tenggelam di sungai karena perintah bodohmu untuk terus mendulang!"

Kicauan-kicauan berisi protes itu kini tak hanya terdengar dari bibir para anak buah yang sedari tadi berdiri membelanya. Sorakan penduduk di tribun yang awalnya diteriakkan kepada para tahanan kini sudah berubah mulai menghakimi janji-janji palsu Kris juga.

"Kau mengurung orang tuaku di penjara hanya karena mereka mengeluh lelah bekerja!"

"KAU PEMIMPIN BUSUK! PENDUSTA!"

"Turun dari jabatanmu!"

"Kami tidak membutuhkan pemimpin licik sepertimu!"

"KAMI INGIN PEMIMPIN BARU!"

Dalam hitungan menit saja, para penduduk yang tadinya ada disisi pemimpin mereka, Kris, kini berbalik hendak menyerang pria itu.

Siapa sangka kalau roda kehidupan berputar dengan begitu instannya.

Kris berdiri tegang sambil mendengar cemooh demi cemooh yang makin kasar dilontarkan. Jauh di dalam sana dia bingung. Dia takut. Kenapa semua orang berubah dengan begitu cepat? Kenapa semua yang tadinya ada di dalam genggaman tangan bisa lepas dengan begitu pesat?

Kenapa ia tak pernah bisa memiliki satu sampai selamanya?

Kenapa semua memilih untuk meninggalkannya?

"Kau lihat? Pemimpin yang kau puja-puja itu sebentar lagi akan dilengserkan!" teriak Kyungsoo kepada seorang penjaga yang tadi menendangnya.

Pemuda itu menatap Kyungsoo dengan wajah cemas.

"Tunggu apalagi? Cepat lepaskan kami!" sahut Kai yang langsung dituruti oleh si penjaga.

Kyungsoo membantu Kai untuk berdiri dan menatap semua wajah penduduk yang kini geram, setengah mati mengutuk Kris. Suho masih terlihat diantara kerumunan. Pria itu yang tadinya menjadi wajah tersedih disana kini sudah bisa tersenyum dengan bangga.

Kai ikut tersenyum sambil meloloskan setetes air mata. "Semuanya sudah selesai, Hyung..." bisiknya tanpa suara.

Di seberang sana, Suho mengangguk penuh haru dengan linangan air mata di pelupuk.

Berbeda jauh dari Suho dan Kai, Kris kini sedang setengah mati panik dan kalut. Pria itu perlahan mundur kembali ke kursinya sambil terus mencari cara untuk menghentikan keributan ini.

"Quans!" teriaknya mencoba meminta bantuan dari penyihir tua itu.

Namun gelengan kepala yang Kris dapatkan. "Aku tidak bisa melakukan apa pun, ketua. Mereka tidak bersalah."

"Tapi mereka memberontak pada pemimpinnya!" bantah Kris semakin dibuat panik.

Quans kembali menggeleng kali ini dengan senyuman prihatin. "Sejak awal kau memang tidak seharusnya memimpin Odrewood."

Sorakan kian terdengar makin ricuh. Kris melihat ke seluruh tribun dan kini beberapa penduduk mulai turun ke arena dengan berbekal amarah dan tekad untuk melengserkannya. Para bawahan yang tadinya tunduk padanya saja kini sudah menatapnya dengan pandangan tak percaya.

Mereka sudah membelot dan itu berarti keselamatannya terancam, pikir Kris.

Dan itu benar adanya karena anak buahnya kini sudah ikut berjalan ke arahnya sambil mengeratkan genggaman tangan pada tongkat pemukul di tangan.

Kris memutar otak di detik-detik terakhir penentuan hidup.

"AKU AKAN MEMBAGIKAN SEKANTUNG EMAS BAGI SIAPAPUN YANG MASIH MAU MENGABDI PADAKU."

Setelah sepatah janji lain terucap, bisa dilihat beberapa penjaga yang tadinya belum tahu mau berpihak ke siapa langsung berdiri di depan Kris, bermaksud menjadi pelindungnya.

Si ketua pack yang hendak dilengserkan itu tersenyum di sela kepanikan. "Bunuh siapa pun yang membelot!" ujarnya memberi perintah.

Keributan langsung terjadi dengan begitu cepat.

Para seliri berlari berhamburan ke sana-kemari mencoba menyelamatkan diri. Para penduduk yang tadinya duduk di tribun kini sudah turun ke arena untuk melawan penjaga yang masih setia kepada Kris. Kyungsoo, Kai dan Sehun terlihat giat melawan para penjaga yang masih setia.

Sedang Kris, dia pergi melarikan diri menuju markasnya dengan perasaan kalut.

Kenapa jadi begini...

Kenapa harus jadi seperti ini?

Kris, kehilangan apa yang sempat dia miliki untuk kedua kalinya...

Sebenarnya kenapa?

Kenapa di dunia ini tidak ada satu-pun yang mau bertahan untuknya?

SRAK!

Tiba-tiba saja, sebuah mata pisau melesat hampir mengenai kepala Kris. Beruntung dia bisa menghindar tepat di detik sebelum ujung pisaunya mengenainya. Alhasil, mata pisau itu mendarat ke tembok dan pelipis kirinya sedikit terluka karena tersayat.

Kris berbalik dan mendapati Chanyeol, sedang berlari menuju ke arahnya dengan kilat merah di matanya. "Mau lari kemana kau, keparat busuk?"

Sebuah tinju langsung mendarat di perut Kris tepat setelah Chanyeol bisa menghabisi jarak diantara mereka. Yang lebih tua tersungkur ke belakang dan hampir jatuh, namun dengan cepat ia bangkit untuk menangkis pukulan Chanyeol yang lain.

Tangan adik tirinya dipelintir dan lalu dijatuhkannya badan itu ke lantai.

Kris menyeringai. "DASAR ANAK HARAM! PUTRA DARI SEORANG PELACUR! KAU PIKIR BISA MENGALAHKANKU?!"

"JAGA UCAPANMU, BRENGSEK!" balas Chanyeol lalu menubrukkan kepalanya ke wajah Kris.

Saat kakak tirinya itu kehilangan keseimbangan, Chanyeol buru-buru mendorongnya sampai jatuh dan lalu menghujani wajah yang setengah mati dia benci itu dengan tinju.

"Aku tidak pernah mengambil apa pun darimu!"

Pukulan ke sekian mendarat di pipi kiri, menyobek kulit di bibir Kris sampai darahnya mengucur deras.

"Bahkan kedudukanmu sekarang aku tak pernah menginginkannya!"

Pukulan ke sekian menyusul di pipi kanan Kris. Kulit yang membungkus tulang pipinya robek dan tentu saja darah juga mulai mengucur dari sana.

"Aku tidak pernah mencuri Ayah darimu!"

Chanyeol terus memukuli wajah kakak tirinya itu tanpa ampun sampai kesadaran Kris perlahan mulai menghilang.

"Aku tidak pernah mencuri apa pun darimu!" kedua tangan Chanyeol mulai turun dan melingkar ke leher Kris dengan kuat.

Putra bungsu keluarga Wolfhard ini menangis sambil terus mencekik leher Kris tanpa kenal ampun. Tangan Kris terus memukuli bahunya dengan lemah tak Chanyeol hiraukan.

"ITU KARENA SEJAK AWAL KAU MEMANG TIDAK PERNAH MEMILIKINYA!" bentak Chanyeol saat Kris mencoba mengucapkan sesuatu disela-sela waktu sekaratnya.

Chanyeol menggeleng dengan linangan air mata yang bercampur darah dari luka sobek di dahinya. Pria itu menangisi semua rasa sakit yang telah terjadi hari ini, yang telah Kris ciptakan hanya dalam hitungan menit saja, yang telah berhasil membuatnya kehilangan harta paling berharga miliknya.

Baekhyun. Omeganya.

"SEJAK AWAL KAU MEMANG TIDAK PERNAH MEMILIKI AYAH!"

Tangan Chanyeol mencekik makin kuat. Wajah Kris yang awalnya masih terlihat keras membencinya itu perlahan melunak karena sudah tak punya lagi tenaga. Chanyeol terus menatap detik demi detik kematian hendak menjemput Kris, namun-

"TOLONG JANGAN BUNUH DIA!"

-teriakan serak terdengar dari ujung lorong ketika sebuah pukulan penuntas sudah dia angkat ke udara.

Chanyeol menoleh ke belakang untuk menemukan seorang omega lelaki dengan rantai yang sudah diputus paksa, masih terkunci di kaki. Omega kurus itu berjalan lemas sambil memegangi perutnya sendiri. Pandangannya sedih tertuju kepada Kris yang kini terbujur di lantai dengan wajah yang sudah penuh dengan darah.

Tinju yang sudah tinggi-tinggi Chanyeol angkat itu perlahan ia turunkan. Dia pasti adalah mate Kris.

"Aku mengandung anaknya. Jika dia mati, kami juga mati..." ucapnya setelah jarak dengan Chanyeol tersisa dua langkah. "Aku mohon ampuni dia...aku mohon."

Chanyeol menatap wajah babak belur Kris. Kakak tirinya itu berulang kali terbatuk darah saat dia sedang menimbang apakah dia perlu menuntas habis kakaknya ini atau memberinya kesempatan.

"Anak-anakku butuh sosok seorang Ayah," mohonnya lagi kini sambil berlutut di kaki Chanyeol, masih terisak dengan hebat.

Tapi Baekhyun telah dibunuhnya? Untuk apa Kris diberi kesempatan sedangkan Baekhyun saja tidak?

Pria ini pantas mati demi membayarkan semua rasa sakit yang telah dia ciptakan untuk semua orang.

Baekhyun pantas mendapatkan pembalasan dan tinggal satu langkah lagi untuk mewujudkannya.

"AAARRRGGHH!" tiba-tiba Chanyeol berteriak dan memukul lantai tepat di samping wajah Kris dengan keras sampai buku jarinya berdarah. "JIKA AKU MELIHAT WAJAHMU LAGI MAKA AKU TAK AKAN SEGAN MENGGOROK LEHERMU SAMPAI PUTUS!" kutuknya kemudian bangkit dan pergi meninggalkan Kris dan si omega.

Chanyeol memutuskan untuk tidak membunuh Kris karena jika dia melakukannya, itu berarti dia dan kakak tirinya itu sama saja. Sama busuknya. Dan itu pasti juga bukan yang Baekhyun inginkan.

Ditambah lagi, omega asing itu mengaku sedang mengandung anak Kris dan nanti yang akan menderita ada pup mereka jika Chanyeol membunuhnya.

Dia telah merasakannya.

Merasakan tumbuh sendiri tanpa sosok kedua orang tua dan itu sangatlah sulit.

Dia sangat menderita.

"Baekhyun..."

Pelan langkah kembali dibawa menuju arena. Chanyeol melangkah lunglai di antara pertikaian yang kini bahkan masih berlangsung antara penduduk yang membelot dan anak buah Kris yang masih setia.

Puluhan tubuh penuh darah jatuh bergelimpangan di sana-sini. Teriakan memilukan terdengar dari mana-mana. Tapi semua itu terasa seperti bukan apa-apa.

Chanyeol berjalan diantara mereka dengan fokusnya tak lepas dari tubuh mungil di tengah sana.

Baekhyun, yang bisa Chanyeol lihat hanya dia. Hanya jasadnya saja yang masih setia menunggu untuk dia jemput.

"Kita harus segera pulang..." bisik Chanyeol segera setelah dia bisa menyongsong wajah kebiruan Baekhyun. Chanyeol mencium pipi lelaki mungil itu dan hanya dingin yang bisa dirasakan.

Tangisnya pecah lagi selagi tubuh kaku itu Chanyeol peluk erat-erat. "Jangan pergi dulu," mohonnya dengan sia-sia. "Ayo bangun...ku mohon bangun..."

Dibelainya wajah kebiruan Baekhyun dengan tangan-tangannya yang penuh darah. Chanyeol tersenyum meskipun air matanya terus mengalir dan membasahi wajahnya yang sudah putus asa.

Baekhyun...dia bahkan masih terlihat begitu manis. Begitu memikat hati. Betapa bangga Chanyeol bisa memiliki mate se-menawan ini. Pria itu mengecup bibir Baekhyun yang sudah membiru.

Lalu, bagaimana bisa Chanyeol menjalani hidup jika sebagian dari dirinya saja sudah pergi?

"Aku akan menemukanmu..."

Setelah kalimat itu terucap, Chanyeol mencabut sebuah anak panah yang menancap di tanah. Pria itu menghunuskan mata panahnya ke dada dengan kedua tangan.

Dan saat ia memejamkan mata, dia bisa melihat senyuman Baekhyun yang dihiasi dengan kemilau di matanya.

Dan sejurus dengan itu, anak panah ditancapkan ke dadanya sendiri.

"CHANYEOL!"

.

.

.

TBC


Bacods:

Semoga kalean masih mau baca ff ini yak! Maapin kata2 yang gak sinkron atau typo. Sampe ketemu di next chapter! Yang kayaknya adalah chapter end! KAYAKNYA!