Hello everyone! *wave my hand furiously*

Late update again? Yes. Um.. Sorry. I'm too busy recently. *bow*

So... Hahh.. A little sad to tell this. I'll end this story soon, maybe about 2 or 3 chapter later. But we'll meet again at my another story, right? *wink*

But! Guys, I add a little conflict again for the final drama. Don't worry, it won't be too heavy.

Title : Christmas Love

Rate : T

Cast : Jung Yunho x Kim Jaejoong -Yunjae- and many others

Disclaimer : Bukan milik author, hanya milik Tuhan, Orangtua mereka, Entertainment mereka dan diri mereka sendiri.

Warning : BoyxBoy, Yaoi, Boys Love, Typo(s), tidak sesuai EYD, alur berantakan, dan lainnya.

Chap 12 - Final Storm

.

.

.

Jung Corp, 09.14 KST

"Pagi, Tuan Jung." Sapa beberapa pegawai wanita yang kebetulan berpapasan dengan Yunho dan sekretarisnya yang baru memasuki gedung perusahaan.

"Pagi." Sahut Yunho dengan senyum menawannya yang jarang terlihat itu, membuat hampir separuh pegawai yang berada di lokasi nyaris pingsan kehabisan nafas melihatnya.

Oh... Sepertinya Direktur tampan kita sedang dalam mood yang baik. Hm... Ada apa sebenarnya?

Nah pertanyaan yang sama juga ingin ditanyakan oleh Changmin yang baru saja keluar dari ruangan, yang langsung disambut dengan pemandangan Yunho yang membalas balik sapaan para pegawai yang menyapanya dengan senyum merekah pada wajah tampannya.

'Uh... Ada apa dengan hyung? Kenapa ia jadi begini? Aneh. Ahhh... Apa ini ada hubungannya dengan pacarnya itu?' Pikir Changmin bingung.

"Pagi Tuan Jung..." Panggil Changmin ragu-ragu saat Yunho dan sekretarisnya lewat di hadapannya.

"Oh! Pagi Changmin-ah." Sahut Yunho (terlalu) bersemangat dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

'Hahh... Sepertinya benar. Ia pasti benar-benar frustasi...' Changmin mengerutkan keningnya dan memandang hyung-nya miris.

Sedangkan Yunho? Ia terus saja melangkah dengan senyum yang tak kunjung luntur juga menuju ruangan kantornya.

Tanpa ia sadari, Changmin mengikutinya dari belakang secara diam-diam dan baru memunculkan sosoknya secara sempurna saat Yunho dan sekretarisnya telah berpisah di depan pintu ruangan Yunho.

"Eoh? Changmin! Ada apa? Masuklah." Tawar Yunho sambil memasuki ruangan kantornya diikuti Changmin, masih dengan wajah berserinya.

"Hyung..." Panggil Changmin lagi saat melihat Yunho yang tengah sibuk berkutik dengan berkas-berkas yang tersusun rapi di atas meja kerjanya.

"Hmm?" Sahut Yunho tanpa mengalihkan pandangannya dari setumpuk berkas di hadapannya.

"Apa kau patah hati lagi, hyung?" Tanya Changmin ragu-ragu.

"Hah?" Sontak Yunho menegakkan kepalanya dan menatap Changmin penuh tanda tanya.

"Uh... Ehm... Maksudnya... Kenapa hyung aneh sekali hari ini?"

"Apa yang aneh?" Tanya Yunho sambil tersenyum pada Changmin yang dibalas tatapan horor.

"Itu! Itu!" Tunjuk Changmin pada Yunho. "Kenapa hyung senyum terus sedari tadi? Hyung mengerikan sekali seperti itu. Grr..." Changmin pura-pura merinding sambil memeluk tubuhnya sendiri.

"Huh?" Awalnya Yunho masih tak mengerti tapi sedetik kemudian ia malah tertawa-tawa karenanya, membuat Changmin kembali memandangnya ngeri.

"Yack! Ada apa memangnya dengan senyumku? Bukannya mempesona, huh?" Tanya Yunho balik setelah tawanya reda.

"Mwo? Woah! Woah! Sepertinya depresimu tak tertolong lagi ya." Changmin mencibir, membuat Yunho kembali tertawa kecil.

"Tsk. Aku serius bertanya padamu, hyung!" Kesal Changmin, namun Yunho hanya melanjutkan pekerjaannya sambil tersenyum.

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Yah... Itu... Sikap anehmu... Kemarin-kemarin saja kau seperti mayat hidup, hari ini tiba-tiba kau seperti orang gila yang senyam-senyum terus. Sebenarnya ada apa denganmu? Apa kau sebegitu depresinya karena pacarmu?" Tanya Changmin khawatir.

Yunho menghentikan pekerjaannya sekali lagi dan menatap Changmin bingung.

Tapi kemudian Yunho malah tersenyum sumringah karenanya.

"Seperti benar ya?" Changmin menatap Yunho perihatin. "Sabar ya hyung..." Changmin menepuk-nepuk bahu Yunho pelan.

Changmin kembali menatap horor pada hyung-nya saat melihat Yunho yang tertawa terbahak-bahak di sisinya.

"Yack!" Panggil Changmin kesal.

"Changmin-ah! Kau belum tahu ya? Aku sudah balikan dengannya." Yunho kembali tersenyum sumringah.

"Jinjja?!"

Yunho hanya mengangguk antusias.

"Chukhaeyoo! Aku turut bahagia untukmu, hyung!" Ucap Changmin, Yunho tersenyum. "Jadi..." Changmin melanjutkan, Yunho mengangkat sebelah alisnya bingung. "Tidak ada acara perayaan kah?" Goda Changmin.

"Perayaan? Untuk?" Tanya Yunho bingung.

"Untuk merayakan hari kembalinya kalian!" Jawab Changmin antusias, membuat Yunho terkikik saat menyadari maksud Changmin.

"Baiklah. Baiklah. Aku akan menaktirmu makan siang nanti." Janji Yunho, membuat mata Changmin membulat sempurna.

"Jeongmal?!" Pekik Changmin.

"Ne! Sekarang keluarlah! Kembali berkerja! Aku sibuk!" Usir Yunho sambil tertawa.

"Arraseo. Annyeong!" Ujar Changmin senang sambil melangkah dengan riangnya keluar dari kantor Yunho.

.

.

.

SM High School, 12.07 KST

"Joongie!" Panggil Junsu saat melihat Jaejoong yang berjalan pelan menyusuri koridor kelas.

"Suie!" Sahut Jaejoong.

"Yack! Kita shopping yuk! Sudah lama kita ngak jalan bareng." Usul Junsu.

"Um... Mianhae, suie. Aku tidak bisa." Sesal Jaejoong.

"Wae? Apa kau ada janji lain?"

"Ne. Aku..." Jaejoong malu-malu mengatakan, membuat Junsu memandangnya heran. "Aku ada kencan hari ini..." Jaejoong menggigit bibirnya gugup.

"MWOYA?!" Kaget Junsu, membuat semua siswa yang berada di sekitar mereka menoleh pada kedua namja ini.

"Yack-" Ucapan Jaejoong terpotong oleh pekikan Junsu.

"Kencan?!" Teriak Junsu dengan lengkingan beroktaf tinggi yang bahkan mampu meruntuhkan bangunan sekolah yang sekarang dipijakinya.

"Shhhtt! Suie!" Bisik Jaejoong malu-malu saat semua pasang mata menatap mereka berdua dengan heran. "Kecilkan suaramu! Kau mau satu sekolah tahu, hah?" Kesal Jaejoong.

Namun sosok berpantat bebek yang masih belum pulih dari shock-nya hanya menatap Jaejoong horor.

"Apa?! Kencan katamu?" Pekik Junsu lagi, namun kali ini dengan volume yang lebih kecil.

"Apa kau bercanda, hah? Dengan siapa? Apa dia namja atau yeoja? Ani! Kau kan tidak straight. Jadi apa dia tampan? Apa dia kaya? Apa dia-? Ah! Ani! Yang penting adalah... Siapa dia? Apa aku kenal? Sejak kapan kalian berkencan? Apa kau serius berkencan dengannya? Apa kau-" Pertanyaan berentet Junsu terpotong oleh Jaejoong yang tiba-tiba membekap mulut Junsu dengan tangannya.

"Hmpphhh!" Junsu meronta dari bekapan Jaejoong, namun Jaejoong masih kekeuh mempertahankan tangannya pada mulut Junsu.

"Akkkkhh!" Pekik Jaejoong saat Junsu menggigit jari tangannya.

"Yack! Kenapa kau menggigit jariku?" Tanya Jaejoong kesal.

"Salahmu! Siapa suruh kau menutup mulutku?" Elak Junsu kesal.

"Karena kau cerewet sekali, suie." Kesal Jaejoong.

"Yack! Aku cerewet juga untukmu!" Bentak Junsu. "Aku tak mau teman baikku ini diperdayai orang jahat. Aku mau kau bertemu dengan jodohmu. Jadi jelas aku harus bersikap protektif padamu." Junsu beralasan.

Jaejoong hanya mempoutkan bibirnya kesal.

"Pokoknya ia orang yang baik kok." Jawab Jaejoong.

"Apa buktinya? Aku kan tidak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."

"Hahh... Kau tidak perlu melihatnya. Aku menjelaskannya untukmu." Jawab Jaejoong ketus, namun secepat kilat raut muka berubah menjadi berseri saat menceritakan tentang Yunho. "Ia tinggi, kira-kira 184 cm. Ia tampan, dengan mata musang tajamnya, hidung bangirnya, bibir hatinya, rahang tegasnya. Ia gagah, dengan perut sixpacknya, kulit tannya. Ia kaya, um... Ia seorang direktur jadi jelas ia kaya raya. Dan jelas ia sangat baik padaku, ia romantis, perhatian, dan setia lagi." Jelas Jaejoong bersemangat namun hanya dihadiahi tatapan datar Junsu.

"Hah? Kau kira aku percaya." Cibir Junsu.

"Aih... Teserah." Jawab Jaejoong cuek sambil melenggang pergi meninggalkan Junsu yang berteriak-teriak sendiri seperti orang kesurupan.

"Yack! Kau mau ke mana Jongie?! Yack!" Teriakan Junsu tak diacuhkan Jaejoong sama sekali.

xxxxxxxxxx

Myeondong District, 19.53 KST

"Kita mau ke mana, boo?" Tanya Yunho saat dirinya dan Jaejoong tengah berada diantara kerumunan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.

"Um... Bagaimana kalau kita makan dulu? Aku lapar, Yunnie." Manja Jaejoong sambil mengayun-ngayunkan lengannya yang berada dalam genggaman Yunho, membuat Yunho terkekeh melihat aegyo kekasihnya.

"Arraseo.. Arraseo..." Jawab Yunho sambil tertawa.

"Aku ingin makan tteokboki!" Pekik Jaejoong sambil menunjuk-nunjuk sebuah stan makanan yang menjual kue beras yang berjejer beriringan dengan beberapa stan makanan lainnya.

"Kajja!" Ucap Yunho semangat.

"Kajja!" Ucap Jaejoong tak kalah semangat sambil berlarian menyeret Yunho bersamanya.

"Eomonim, yang ini satu ya." Pesan Jaejoong sebelum berbalik pada Yunho. "Yunnie, kau mau?" Tanya Jaejoong imut.

"Err... Aku pesan yang sama denganmu saja." Ugh, sulit menolak jika kekasihmu yang seimut ini kan? Yah, itulah pemikiran Yunho.

"Arra." Angguk Jaejoong sebelum kembali memesan. "Eomonim, yang ini satu lagi." Tunjuk Jaejoong pada pesanannya.

.

.

.

Jung's Boutique, 21.04 KST

"Mian, Nyonya Jung, aku membawa kabar buruk untukmu." Ucap seorang namja berpakaian serba hitam yang diketahui sebagai mata-mata rahasia Heechul.

"Huh?" Heechul segera mengalihkan pandangannya dari kain-kain rancangannya yang bertebaran di atas meja kerjanya.

"Ini, Nyonya Jung." Namja muda itu sedikit membungkuk sambil menyerahkan amplop cokelat kecil pada Heechul.

Heechul langsung mengambil amplop cokelatnya itu dengan pandangan mata tajam menusuknya saat memeriksa isi amplopnya.

Srekkk

Srakkk

Heechul mengoyak paksa segel amplop itu sebelum menumpahkan seluruh isinya di atas meja kerjanya.

Foto.

Ya, isinya hanyalah foto-foto.

Tapi cuma foto biasa kah?

Tidak mungkin.

Jelas itu bukan hanya sekedar foto biasa.

Melainkan foto Yunho dengan Jaejoong yang sedang bersama, dengan tanggal dan waktu yang berbeda-beda yang tertera di sudut kanan bawah foto.

Foto Yunho dan Jaejoong yang berpelukan di tepi trotoar di tengah hujan, tertulis tanggal kemarin, sore hari.

Foto Yunho dan Jaejoong yang duduk berduaan di sudut belakang café, tertera tanggal kemarin, malam hari.

Foto Yunho dan Jaejoong yang berlarian di tengah trotoar jalan, tertera tanggal kemarin, malam hari.

Foto Yunho dan Jaejoong di dalam mobil, tertera tanggal kemarin, tengah malam.

Terakhir...

Foto Yunho dan Jaejoong yang tengah bergandengan tangan yang sedng makan bersama di sebuah stan kecil di tepi jalan.

Dimana di bawah foto itu tertera tanggal hari ini, malam hari.

Yang berarti...

Foto itu baru diambil beberapa saat yang lalu.

Sreakkk

Heechul meremas kuat foto di tangannya hingga menyebabkan kepalan tangannya bergetar kuat akibat berbagai emosi yang menjalarinya.

"Sialan!" Rutuknya marah, saat menyadari Yunho telah bersatu kembali dengan Jaejoong sejak kemarin.

"Dasar bocah tengik. Kenapa ia masih terus menggoda anakku? Benar-benar tak tahu diri!" Kutuk Heechul.

"Akan kubalas kau, brengsek!" Ledak Heechul dengan kobaran api invisible di matanya.

"Kau pasti hancur olehku." Heechul tersenyum sinis sebelum tertawa-tawa mengerikan.

xxxxxxxxxx

A Week Later...

Luxury Apartment, 19.12 KST

Klek!

"Omo!" Kaget Yunho saat mendapati sosok eomma-nya yang duduk dengan manis-atau garang tepatnya-di atas sofa apartemennya begitu ia memasuki apartemen mewahnya.

"Eoh! Eomma." Sapa Yunho seperti biasa. "Kapan kau datang? Kenapa tidak menelponku?" Tanya Yunho berbasa-basi sambil melepas sepatunya dan menyampirkan jasnya di atas gantungan.

Heechul hanya diam tak menjawab.

Merasa tak mendapat respon, Yunho segera sadar kedatangan Heechul kali ini pasti bukan hanya sekedar kunjungan rutin biasanya, melainkan sesuatu hal lain yang penting.

"Uh... Ada masalah apa eomma mencariku?" Tanya Yunho hati-hati sambil mengambil tempat di sisi Heechul.

"Yunho-ah..." Panggil Heechul lembut, yang justru membuat bulu kuduk Yunho merinding.

"N-ne, eomma?" Jawab Yunho gugup. Jelas saja ia gugup. Bertahun-tahun hidup bersama eomma-nya, ia tahu betul apa yang tersimpan di balik nada lembut itu, dan ia yakin ini bukan sesuatu yang baik untuknya.

"Bagaimana hubunganmu dengan Yoona?" Tanya Heechul lembut, dengan senyum manis yang bertengger pada bibirnya.

"Um... Baik." Jawab Yunho seadanya.

"Kau masih sering mengunjunginya, kan?"

"Ne. Sehabis pulang kerja, aku selalu datang menemuinya."

"Baguslah." Heechul diam sejenak. "Lalu bagaimana dengan keadaannya sekarang ini, setelah operasi itu?"

"Ia baik-baik saja, walau tubuhnya masih lemah sehabis operasi. Namun akan semakin membaik ke depannya menurut dokter yang menanganinya."

"Hm... Begitu." Heechul mengangguk-angguk pelan.

Yunho hanya diam, menanti kalimat Heechul berikutnya, yang mungkin akan menjadi bom waktu untuknya.

"Jadi..." Heechul menjeda kalimatnya, sebelum menatap Yunho intens, sarat dengan makna tersembunyi. "Mungkin kan kalau kalian melaksanakan pernikahan kalian dalam sebulan ke depan?"

Tik

Tok

Tik

BOOM!

Benar saja dugaan Yunho.

Bom waktu yang dikiranya akan keluar dari bibir tipis Heechul akhirnya tiba juga.

"Mwo?" Protes Yunho. "Eomma..." Mohon Yunho, yang kemudian terpotong oleh Heechul lagi.

"Ahh... Aku sudah membicarakan hal ini dengan orang tua Yoona dan mereka setuju. Begitu juga dengan Yoona." Mata Yunho membulat mendengar nama Yoona yang terucap oleh Heechul.

"Dan... Untuk segala persiapannya kau tidak perlu repot-repot mengurusnya. Aku yang akan mengurusnya. Kau dan Yoona hanya perlu melakukan fitting pakaian pernikahan kalian dua minggu lagi." Heechul kembali berucap tanpa membiarkan Yunho menyela.

"Eomma-" Ucapan Yunho lagi-lagi terpotong.

"Aku tidak menerima penolakan Yunho!" Tegas Heechul.

"Tapi-" Yunho kembali mencoba.

"Aku tahu!" Heechul mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan kalimat Yunho. "Aku tahu mengenai kabar kembalinya kau dan bocah sialan-" Ucapan Heechul yang kali ini terpotong oleh protes Yunho.

"Eomma! Dia bukan bocah sialan. Dia-"

"Diam! Arrayo. Dia Jaejoong, kan?" Heechul berucap sinis.

"Sekarang... Dengarkan aku. Dan jangan memotong." Perintah Heechul tegas.

"Apapun alasanmu, aku tetap tak akan menyetujui hubunganmu dengan Jaejoong. Maka dari itu, aku sudah mempersiapkan pernikahanmu dengan Yoona." Mendengar ucapan Heechul, Yunho hanya menghela nafas pasrah.

"Jangan termakan cinta Yunho. Kau tak dapat hidup dengan cinta. Kau hidup dengan uang-"

"Ya, aku hidup dengan uang, tapi aku juga butuh cinta, eomma!" Potong Yunho emosi. "Aku bukan eomma! Aku bukan orang yang hanya menikahi seseorang demi uang!"

Plakk!

Sebuah tamparan keras mengenai pipi mulus Yunho.

"Jaga mulutmu, Jung Yunho!" Bentak Heechul emosi. "Aku memang menikahi appa-mu demi uang. Tapi appa-mu tahu itu dan ia tidak mempermasalahkannya. Jadi salahkan cinta bodohnya itu, bukan aku!" Tegas Heechul kejam.

Yunho hanya menatap eomma-nya tajam, tanpa mengutarakan sepatah kata pun.

"Ambilah pelajaran dari pernikahanku dan appa-mu." Heechul kembali berucap tenang. "Semua orang hidup dengan uang, mereka tak dapat hidup dengan cinta." Tekan Heechul.

"Hal yang sama juga berlaku untukmu dan bocah sialan itu." Heechul berkata kasar. "Intinya, ia juga sama denganku. Ia bersamamu, karena uangmu. Ia tidak mencintaimu. Kau saja yang bodoh. Kau tak ada bedanya dengan appa-mu. Mudah tertipu oleh cinta." Ledek Heechul.

Yunho diam tak bergeming. Karena ia tahu apa yang dikatakan eomma-nya salah besar. Ia tahu Jaejoong sangat mencintainya. Begitu juga dengannya.

"Apa kau mengerti ucapanku, Jung Yunho?" Heechul mendesis tajam, dengan jari telunjuk lentiknya yang mengangkat dagu Yunho, untuk mengarahkan sepasang bola mata cokelat yang kemerahan itu menatapnya.

"Dasar anak keras kepala." Heechul menggeram.

"Kenapa kau masih tak mengerti maksud baikku, hah?" Tanya Heechul kesal.

"Maksud baik?" Yunho tertawa meremehkan.

"Ya, maksud baikku adalah agar kau tak hidup menderita, bodoh." Jawab Heechul sarkastik.

"Justru hidupku akan menderita tanpa Jaejoong." Lawan Yunho.

Heechul hanya menggeram frustasi, sebelum sebuah pemikiran licik terlintas dalam benaknya.

"Oh, benar! Kau pasti menderita tanpanya." Heechul tersenyum meremehkan.

"Tapi... Coba pikirkan... Mana lebih menderita, huh?" Senyum Heechul berubah sinis sebelum ia melanjutkan. "Saat kau bersamanya, namun denganku sebagai bayang-bayang yang siap menghancurkan hidup malaikatmu..." Yunho membulatkan matanya saat mendengar kalimat Heechul. "Atau... Saat kau tak bersamanya, dan ia aman tanpaku mengganggu hidupnya." Heechul tersenyum penuh kemenangan saat mendapati ekspresi kaget Yunho.

"Eomma..." Panggil Yunho panik.

"K-kau tidak serius kan?" Tanya Yunho. Uh-Oh, pertanyaan yang salah sebenarnya. Tanpa perlu ditanyakan lagi, Yunho jelas sudah tahu jawabannya. Eomma-nya bukanlah tipe seseorang yang hanya sekedar melemparkan ancaman kosong. Jadi jelas ini ancaman nyata yang hanya sanggup dilakukan oleh seorang Jung Heechul.

"Huh?" Heechul mendengus meremehkan. "Menurutmu?" Tanya Heechul sarkastis sambil melangkah menjauh dari sofa yang diduduki dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.

"Aku tidak mungkin bermain-main dengan ancamanku, putraku." Ucap Heechul sinis, sambil menekan beberapa nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala.

"Sam?" Panggil Heechul tegas dan jelas begitu panggilannya tersambung, sehingga mampu didengar oleh seluruh penghuni di apartemen itu, termasuk Yunho yang kini menatap eomma-nya horor.

"Sam?" Bisik Yunho horor.

Oh! Seperti Yunho sudah sangat mengenal nama itu. Ya, nama yang sudah dikenalnya sejak lama sebagai asisten pribadi eomma-nya, yang merangkap sebagai mata-mata dan pembunuh bayarannya. Nama yang paling ingin dihindarinya semasa hidupnya itu. Orang itu sangat berbahaya. Sangat Amat Berbahaya.

"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." Heechul berucap sambil mengarahkan pandangannya ke arah Yunho yang masih menatapnya horor itu.

'Oh shit!' Rutuk Yunho dalam hati.

"Eomma!" Panik Yunho sambil bangkit dari sofanya untuk meraih ponsel dalam genggaman eomma-nya, yang sayangnya gagal, karena Heechul jauh lebih cepat darinya.

"Kim-Jae-Joong." Heechul menekankan nama itu, sambil berucap. "Hancurkan di-"

PRANGGG!

Yunho berhasil merebut ponsel Heechul dan membantingnya dengan kasar tepat waktu, sebelum Heechul menyelesaikan kalimatnya.

Melihat kejadian itu, Heechul tak nampak kaget. Ia malah tertawa sadis saat melihat ekspresi marah putra sulungnya.

"Jadi... Putraku, Aku percaya kau tak ingin 'IA' terluka kan?" Heechul tersenyum sadistik.

"Pilihan ada ditanganmu sekarang." Heechul kembali menekankan.

"Kau setuju denganku? Atau tidak?" Heechul kembali tersenyum mengerikan. "Tapi aku tidak menyarankan jawaban 'Tidak', karena aku tak menjamin apa yang akan aku lakukan padanya adalah sesuatu aman." Kali senyum Heechul berubah menjadi tawa yang terdengar menyeramkan.

Yunho menatap sosok yeoja mengerikan di hadapannya itu dengan perasaan bercampur aduk. Ugh... Walau ia sangat ingin membenci yeoja ini, dan menghancurkannya dengan kedua tangannya sendiri, nyatanya ia tak mampu. Karena bagaimanapun, yeoja licik itulah yang mengandungnya selama 9 bulan dan melahirkannya ke dunia ini. Yeoja itu tetaplah eomma-nya apapun yang terjadi, dan ia tak ingin menjadi anak durhaka.

Heechul masih setia menanti jawaban Yunho dengan senyum mengerikan yang terpatri pada wajah cantiknya, sedangkan Yunho yang frustasi hanya berjalan linglung menuju sofanya dan menghempaskan tubuhnya di atas sofanya kembali.

"Hahhh..." Yunho menghela nafas berat, mata musangnya terpejam erat, dengan jari-jari tangannya yang memijat pelipisnya pelan.

"Aku setuju." Jawab Yunho pasrah.

"Setuju?" Tanya Heechul memastikan dengan seringai liciknya.

"Nehh..." Yunho menjawab lemah. "Aku setuju dengan pernikahan terkutuk itu." Jawab Yunho final.

"Bagus! Pilihan yang tepat, putraku." Heechul kembali melancarkan tawa mengerikannya sambil menepuk-nepuk pundak Yunho, yang langsung ditepis pemiliknya, namun Heechul tak peduli.

Blam!

Dengan itu, Heechul telah pergi meninggalkan Yunho sendirian mengerang frustasi di dalam apartemennya.

xxxxxxxxxx

Sudah beberapa hari belakangan ini, Jaejoong mendadak galau. Alasannya? Jelas... Kalau ada hal yang membuatnya secemas ini, pasti hanya ada satu hal... Jung Yunho.

Sebenarnya beberapa hari yang dimaksud Jaejoong barulah tiga hari.

Tiga hari tanpa adanya kabar dari Yunho.

Tak ada pesan singkat darinya.

Tak ada telepon darinya.

Tak ada komunikasi.

Nah, kalau Yunho tak menghubunginya, kenapa tidak Jaejoong saja yang mencoba menghubunginya.

Oh jelas Jaejoong sudah mencobanya.

Ia mengirimkan pesan singkat, namun tak ada balasan yang datang.

Ia menelpon, namun tak ada yang mengangkat.

Jelas tiga hari tanpa Yunho, sama saja dengan neraka bagi Jaejoong.

Awalnya ia berpikir ini dikarenakan kesibukan Yunho sebagai seorang direktur perusahaan ternama di Seoul.

Tapi hari demi hari berlalu, Jaejoong mulai tak yakin akan alasan kesibukan Yunho sebagai penyebab hilangnya komunikasi di antara mereka.

Sepertinya kejadian yang lalu kembali terulang.

Kalau dulu Yunho yang ditinggal kebingungan tanpa kabar.

Kali ini Jaejoong lah yang ditinggal kebingungan tanpa kabar.

Di saat seperti ini... Jaejoong menyadari, pasti ada sesuatu yang tak beres yang sedang terjadi.

Hal ini terbukti dengan pesan singkat yang diterimanya hari ini.

Pesan singkat dari Yunho.

Pesan singkat yang sangat amat dinantinya.

Namun...

Pesan singkat yang seharusnya menjadi sesuatu yang membahagiakan untuknya, malah menjadi sebaliknya.

Flashback :

Cling~

Jaejoong terbangun dari tidurnya saat merasakan ponselnya berbunyi.

Kenapa ia terbangun hanya karena bunyi kecil seperti itu?

Jawabannya karena akhir-akhir ini ia memang kesulitan tidur akibat terlalu sering memikirkan Yunho.

Jaejoong menjulurkan tangannya hingga menyentuh nakas di samping tempat tidurnya, sambil mencari-cari ponselnya.

Grab

Ia meraih ponselnya ke arahnya.

Klik. Klik.

Jaejoong membuka kunci ponselnya untuk menemukan sebuah pesan masuk untuknya.

You got a message.

Jaejoong mengucek-ngucek matanya pelan untuk memperjelas pandangannya.

From : Yunnie 3

Jaejoong langsung membuka matanya sempurna saat membaca ID yang tertera dalam ponselnya.

Setelah menduduknya dirinya dalam posisi nyaman, Jaejoong mulai membuka pesan Yunho dan membacanya perlahan.

Boo...

Maaf meninggalkanmu tanpa kabar.

Aku sungguh minta maaf.

Kau pasti cemas tanpa kabar dariku.

Maka dari itu, aku kembali untuk memberi kabar padamu.

Jaejoong tersenyum membaca pesan Yunho.

"Ne, Yunnie. Aku sangat cemas tanpa kabar darimu." Jaejoong mempoutkan bibirnya kesal. "Tapi sekarang sudah lebih baik, karena kau sudah mengabariku." Jaejoong tersenyum manis.

Jaejoong kembali membaca.

Tapi...

"Tapi?" Jaejoong mengerutkan keningnya saat membaca sepatah kata itu.

Entahlah. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.

Ini akan menjadi kabar terakhir dariku untukmu.

Senyum Jaejoong mulai pudar saat membaca kalimat itu.

Dan kuharap kau juga jangan pernah mengabariku lagi.

Kini senyum manis itu pudar total, menyisakan raut cemas pada wajah Jaejoong.

"Wae?" Tanyanya pada udara kosong di hadapannya.

Jika kau ingin menanyakan 'kenapa'.

Sebaiknya kau jangan pernah menanyakannya.

Karena jawabanku bukanlah jawaban yang ingin kau dengar pastinya.

Jaejoong menghelas nafas tanpa sadar.

Ia tahu pasti terjadi sesuatu yang buruk saat ini tanpa sepengetahuannya.

Aku ingin kita menghentikan hubungan ini.

Ekspresi Jaejoong berubah menjadi suram.

Aku tahu ini terlalu tiba-tiba.

Tapi aku memiliki alasanku sendiri.

Jaejoong tetap diam mematung.

Alasanku memang terdengar egois.

Tapi memang inilah satu-satunya alasanku.

Aku hanya tak ingin kau terluka.

Tak terasa, mata Jaejoong mulai memanas sendiri.

"Ya. Kau memang egois." Ucap Jaejoong dengan nada yang bergetar.

"Kau tak ingin aku terluka?" Jaejoong tertawa tak percaya, dengan air mata yang mulai membendung di sudut matanya.

"Tapi kau sudah melukaiku!" Teriak Jaejoong enath pada siapa, dengan pandangan mata yang mulai mengabur akibat air mata yang memenuhi indera penglihatannnya itu.

"Dengan meninggalkanku seperti ini, kau melukaiku, pabbo!" Air mata Jaejoong mulai berjatuhan, namun Jaejoong segera menghapusnya.

Jika aku membiarkanmu tersentuh lagi olehnya,

Aku tak akan memaafkan diriku seumur hidup.

Membaca kalimat ini, Jaejoong langsung sadar siapa yang dimaksud Yunho.

Ini pasti ada hubungannya dengan eomma Yunho.

Maaf...

Aku hanya membawa kabar buruk untukmu.

Buliran kristal bening itu terus mengalir tanpa henti.

Tak peduli berapa kali pun Jaejoong menghapusnya, tetap saja muncul buliran baru lainnya.

Tapi inilah yang terbaik untuk kita.

Jaejoong tertawa hambar saat membaca kalimat ini.

'Apa yang terbaik untuk kita?' Jaejoong bertanya dalam hati.

'Ini sama saja dengan membiarkan kita berdua sama-sama mati perlahan, huh?' Batin Jaejoong.

Aku tahu, kau pasti marah padaku saat ini.

"Ya! Tentu saja aku marah padamu, pabbo!" Bentak Jaejoong marah.

Di saat seperti ini, aku seharusnya ada disisimu untuk menghapus air matamu, memelukmu dengan erat, menenangkanmu, dan meyakinkanmu bahwa segala akan baik-baik saja.

Tapi nyatanya, aku tak bisa.

Aku minta maaf.

Tak butuh waktu lama, tangis Jaejoong akhirnya pecah.

Terdengar begitu pilu di telinga siapapun yang mendengarnya.

Tangisan yang mengalir begitu indah sekaligus menyayat hati.

Kuharap kita bisa menempuh hidup kita masing-masing dengan baik.

'Ani.. Ani.. Aku tak dapat hidup baik tanpamu.' Tolak Jaejoong dalam hatinya.

Aku yakin kau pasti dapat menemukan sosok lain yang lebih baik dariku.

Aku yakin kau pasti akan baik-baik saja tanpaku.

Aku yakin kau pasti akan lebih bahagia bersama orang lain.

'Ani! Tak mungkin aku dapat hidup dengan baik dan bahagia tanpamu. Tak ada orang lain yang dapat menggantikanmu.' Jaejoong menolak mati-matian dalam hati kecilnya.

Kumohon...

Yakinkanku bahwa kau benar-benar akan hidup bahagia tanpaku.

'Tidak! Aku tidak akan meyakinkanmu!' Tangis Jaejoong terdengar semakin pilu. 'Karena aku sendiri tak yakin aku dapat melewati hari-hariku tanpamu.' Lirihnya dalam hati.

Aku harap ini keputusan yang tepat.

'Andwae!' Tolak Jaejoong keras.

Kelak kita pasti akan bertemu lagi,

Dengan keluarga kita masing-masing,

Dengan kehidupan yang lebih bahagia.

Bukankah begitu?

'Tidak! Tidak begitu!' Jaejoong terus mengelak.

Terakhir...

Aku hanya ingin berterimakasih.

Karena kau sudah hadir dalam kehidupanku.

Karena kau sudah menjadi malaikatku.

Karena kau sudah mengenalkanku akan rasanya mencintai dan dicintai.

Karena kau sudah membawa kebahagiaan dalam kehidupanku.

Gomawo.

"Hiks... An- hiks... -dwae hiks..." Tangis Jaejoong terdengar semakin tidak beraturan seiring dengan pernafasannya yang juga semakin tidak stabil.

Geurigo,

Mianhae.

Maaf karena aku sudah menyakitimu.

'Bodoh!' Kutuk Jaejoong dalam hati.

Saranghae, boo.

Itulah kalimat terakhir Yunho...

Kalimat terakhir yang membuat Jaejoong menangis histeris karenanya.

.

.

.

On another side

Seusai mengirim pesan singkat untuk Jaejoong, Yunho mencoba untuk kembali tidur-mengingat hari ini ia tak memiliki jadwal kerja-demi melupakan segala beban pikirannya.

Namun,

Nada dering khas panggilan masuk ponselnya datang mengusik tidurnya, menyebabkan Yunho terbangun karenanya.

"Yeoboseyo?" Jawab Yunho tak bersemangat, namun segera mengerutkan keningnya begitu mendengar suara yang sangat tak ingin didengarnya akhir-akhir ini. Jung Heechul, Eomma-nya.

"Mwo? Menjenguk Yoona?" Tanya Yunho memastikan.

"Ya, aku memang sudah tak menjenguknya lagi belakangan ini. Karena aku yakin keadaannya sudah membaik, jadi ia pasti tak memerlukanku lagi. Dan lagi, aku juga malas mengunjunginya." Jawab Yunho malas.

"Eomma, kau kan bisa memberitahukannya sendiri!" Protes Yunho.

"Tsk." Yunho berdecak sebal. "Arra, aku akan kesana dan memberitahukan tanggal fitting pakaian pernikahan kami padanya." Jawab Yunho seadanya.

PIPP

Begitu panggilan teleponnya terputus, Yunho langsung mengacak-ngacak rambutnya sebal.

Ugh. Kenapa cobaan terus datang padanya?

Jelas-jelas ia sedang tak mood untuk menemui Yoona saat ini.

Apalagi setelah pengkhianatan Yoona padanya.

Namun sepertinya nasib baik memang tak berpihak padanya.

Eomma-nya yang kejam itu selalu datang mengusik kehidupannya.

Hahh... Hidup memang tak adil untuknya.

.

.

.

Seoul International Hospital, 09.13 KST

Klek

Begitu mendengar suara pintu kamar inapnya terbuka, yeoja berambut cokelat panjang itu segera menoleh ke arah pintu.

"Yun-Yunho..." Panggil Yoona kaget saat melihat kedatangan namja yang dicintainya itu.

Namun Yunho tak menyahut, ia hanya melangkah maju mendekat ke arah Yoona yang masih memandangnya kaget.

"Oppa..." Panggil Yoona ragu-ragu, saat melihat Yunho yang tengah meletakkan keranjang buah-buahannya di atas meja nakas di sisinya.

"Hn." Sahut Yunho singkat sambil mengambil tempat duduk di sisi Yoona.

Selanjutnya tak ada lagi kata yang terucap diantara keduanya. Dan memang sepertinya tak ada satupun diantara mereka yang berniat memecah keheningan yang tercipta.

"Fitting pakaian pernikahan akan diadakan hari minggu ini, jam 1 siang. Aku akan menjemputmu nanti." Yunho mengumumkan informasi ini pada Yoona tanpa menatapnya sama sekali.

"Uh... Arraseo." Jawab Yoona kikuk.

Hening kembali melanda, saat mereka berdua kembali diam tanpa membuka perbincangan sama sekali.

Yunho sibuk dengan ponsel di tangannya, dan Yoona terdiam kaku di atas kasurnya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Yunho.

"Hahh..." Yoona menghela nafas, sebelum mulai membuka pembicaraan. "Bagaimana kabarmu?" Tanyanya.

"Baik. Kau?" Jawab Yunho singkat.

"Aku sudah jauh lebih baik sejak operasi itu. Dan mungkin dua hari ke depan aku sudah diperbolehkan pulang."

Lagi-lagi hening tanpa suara.

"Yunho..." Yoona akhirnya memutuskan untuk membuka topik sensitif itu juga.

"Hn?"

"Aku minta maaf." Yoona akhirnya berucap.

Yunho terdiam.

"Aku tahu aku salah." Yoona menunduk dalam, sambil menggigit bibir bawahnya gugup.

"Aku sudah berjanji untuk membantumu dan Jaejoong, jadi tak seharusnya aku menyetujui pernikahan ini, kan?" Tanya Yoona entah pada siapa.

"Tapi..." Yoona menjeda kalimatnya, "Aku terpaksa Yunho." Yoona memelas.

"Aku memiliki alasanku." Yoona mencoba menjelaskan pada Yunho, namun Yunho masih diam tak bergeming.

"Aku-" Ucapan Yoona terpotong oleh suster perawat yang datang untuk melakukan check up rutin padanya.

"Im Yoona-ssi?" Panggil salah seorang suster muda padanya. "Check up rutin." Suster itu memberitahu Yoona, yang hanya dibalas oleh anggukan oleh Yoona.

"Aku akan menjelaskannya padamu nanti." Janji Yoona pada Yunho saat dirinya dibawa keluar oleh suster perawat di sisinya itu.

Namun, penjelasan yang dimaksud Yoona tak kunjung siap.

Sebab, saat Yoona kembali ke kamar inapnya saat itu, Yunho telah menghilang entah ke mana.

.

.

Yoona betrayed him?

And

Yunjae be seperated again?

What will happen next?

Soon to be revealed.

Wait for the next chapter.

.

.

.

TBC

(To Be Continued)

Kesal? Marah? Kecewa? Okay, maafkan Soori everyone! XD

Tenang! Dalam beberapa chapter ke depan, semuanya akan jauh lebih baik kok. I promise you~ *pinky promise*

Here are my replies for all my reviewers at the previous chapter:

snow. drop. 1272 : Oke, sesuai permintaan, dua chap lagi ending kok.

lee minji elf : Thankyou. Ini sudah dilanjut kok. Nah, maunya? Keke~ Dia hidup kok sampe akhir.

Guest : I am sweet? Aw thankyou *plak*. Thanks for reviewing!

lee sunri hyun : Masih lovey dovey di awal chapter ini, tapi Heechul kembali muncul di akhir chapter XD

MaxMin : Maunya end di situ yah? Tapi karena Soori jahat, jadi endingnya ga gitu cepat *evil*.

Boo Bear Love Chwang : Oke. Oke. Sip! Hihii.

Youleebitha : Ini diperpanjang beberapa chapter kok. Yunjae momentnya ga bisa muncul banyak di chapter ini, karena lagi masuk konflik akhir, tapi akan full di chapter endingnya kok. Waduh, mianhae karena update yang super lama ini, tapi akan diusahakan update cepet selanjutnya.

miu. sara : Yunjae uda bersatu kok, tapi bentar doang. Soalnya Heechul memutuskan untuk kembali beraksi. Oke, Yoona akan diberi couple di akhir cerita kok. Iya nih, hehe. Married dan mpreg akan diusahakan di chapter akhir.

Dennis Park : Yep, Yunjae uda bersatu kok, tapi pisah lagi di chapter ini XD. Nah, mau Soori juga gitu, bagi dua aja ya Yunppa-nya. Ohoho. Tante kejamnya uda beraksi lagi kok di chapter ini.

akiramia44 : Yeah, Yoona jadi malaikat buat Yunjae. Oke, diusahakan ya. Eh iya, maaf kelupaan hari itu. Tapi uda muncul lagi kok di chapter kali ini. Yoosu memang gitu, selalu. Ngak kok, Yoona juga bakal happy di akhir cerita. Duh, sayangnya dia masih belum sadar tuh. Hahaa. Authornya ngerti kok ;)

yoon HyunWoon : Ini next chapnya hihi. Thanks for reviewing!

yuran : Ya, Yunjae kembali, tapi cuma sementara. Oh jelas Heechul kembali bertindak buat misahin Yunjae. Um.. Maunya Yoona digimanain? Hihi.

Lonelydarksoul77 : Yep, she is an angel here. Yeah, Yunjae balik. Keke~ Okay!

BlackXX : Yes, she is. Unfortunately, ur hope didn't come true. Yeah! But.. Just temporarily XD. Sorry, but it will get a lot later. Ofc she will.

twinstarz : Hahaa. Bener juga ya XD. Iya nih, kasian Yoona juga kalo dipikir-pikir hihii.

Yeolna24 : Yep! Hihii. Tenang, Yoona akan happy jg di akhir cerita kok. Oke!

noworry : Yeah, sayangnya Yunjae cuma balikan sekilas XD. Yep, Yoona akan punya jodoh kok di akhir cerita.

So, Thanks for your reviews everyone!

And... Ada yang mau buat request buat endingnya? Atau mau request buat next fic(tapi sertakan plotnya ya)? Hehe.

Last! Please let me know what do you think about this chapter. Review, okay? *winkeu*

I'll be pleased to receive your comments about my story!

RnR?

Review Juseyo~

See You Next Chap!

Thanks for reading!