Disclaimer :
VY1 Mizki © Crypton Media Future
VY2 Yuuma © Crypton Media Future
Other Vocaloid(s) © Crypton Media Future
They aren't mineeee *le galau*
Warning : OOC, OOT, typo and mis typo, gajelas, alur cerita kecepetan, pergantian POV yang (mungkin) kecepetan, de es be~
Genre : Romance
Rated : Teen
Yo minna! Selamat datang di chapter terakhir Kimi no Egao~! Maafkan atas update yang benar-benar sangat benar dan sangat lagi dan benar-benar(?) lama! *gakefektifamat
Well, please enjoy reading~
Mizki POV
Aku melirik lagi arloji warna biru muda yang melingkar di tangan kiriku. Masih pukul setengah dua belas. Setidaknya masih ada setengah jam sebelum janjianku dengan dad.
Aku memandang syal warna biru tua yang mengantung di bagian syal-syal.
'Hmm ... Motifnya bagus sih, tapi ... Sepertinya warnanya tidak cocok dengan Yuuma-kun ...'
Yah, sebenarnya aku sedang berada di sebuah department store, mencari kado Natal untuk Yuuma-kun, Ollie, Yuki-chan, para maid di rumah, dan tak lupa untuk Yoko oba-san juga. Sebelumnya, aku berbelanja ke supermarket, membeli bahan-bahan yang akan kumasak untuk pesta malam Natal nanti.
Aku memberikan sebuah topi rajut putih untuk Ollie; dan aku memberikan hadiah yang serupa untuk Yuki-chan, hanya saja perbedaannya terletak pada warna. Aku memilih warna merah tua yang terkesan lembut untuknya.
Untuk para maid, aku membelikan masing-masing sebuah sweater warna merah jambu yang lembut. Dan untuk Yoko oba-san, aku memutuskan memberikan sebuah dompet warna hitam yang tampak elegan dan cocok untuknya.
Untung saja aku baru menerima gaji dari pemotretan musim dingin, sehingga aku dapat membeli dan membungkus kado Natal untuk mereka. Hanya saja, aku masih belum dapat memilih kado Natal yang tepat untuk Yuuma-kun.
Aku sudah meminta saran Gumi-chan dan Yukari-chan. Gumi-chan menyarankanku untuk memberikan cake buatanku sendiri. Sementara Yukari-chan, ia menyarankan untuk memberikan suatu benda yang merupakan hasil dari rajutanku sendiri.
Yah, aku memutuskan untuk tidak menerima kedua saran itu. Kenapa?
Karena aku akan memasak cake, dan hidangan-hidangan lain pada saat malam Natal nanti. Jadi sepertinya aku tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk membuatkan cake khusus untuknya. Dan sekarang, jadwal pekerjaanku lebih padat daripada biasanya, jadi saran dari Yukari-chan juga tidak dapat kulakukan.
'Haah ... Hadiah apa ya, yang cocok untuk Yuuma-kun?' pikirku.
"Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu?"
Aku kaget mendengar suara yang familiar ini, dan langsung menoleh. Ternyata Ling!
"Halo Mizki-chan~ kenapa kau melamun?" sapanya sambil tersenyum lebar.
"Konnichiwa, Ling-chan. Ohisashiburi ne. Kau tampak agak kurusan ya ..." kataku sambil tertawa kecil.
"Hontou ka? Sepertinya karena aku terlalu semangat bekerja sambilan ..."
"Eh? Ling-chan sekarang kerja sambilan ...?"
Ling mengangguk dengan penuh semangat, "Hmm, sekarang aku bekerja sebagai maid di sebuah restoran di dekat rumahku! Gajinya lumayan juga~"
"Hee ... Souka ... Senang mendengar kau sudah mendapat pekerjaan, Ling-chan!"
Ling mengangguk lagi.
"Ah ngomong-ngomong, kenapa Mizki-chan tampak bingung tadi?"
Aku pun menceritakannya kepada Ling, dan dia mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Hmm ... Untuk Yuuma-kun ya ... Kenapa tidak memberinya sebuah syal?"
"Aku tadi juga berpikir seperti itu, tapi aku bingung warna apa yang cocok untuknya ..."
"Sepertinya, warna abu-abu cocok untuknya. Dan ... Bagaimana jika Mizki-chan juga memberikannya sepasang sarung tangan dengan warna senada?"
Aku menjentikkan jariku sekali, "Ide yang bagus, Ling-chan! Arigato, kau banyak membantuku!" kataku, lalu refleks memeluknya.
Dia tersenyum lebar, "Bukankah itu gunanya teman, Mizki-chan?"
.
.
Aku menenteng plastik-plastik belanjaanku dengan semangat.
'Semua sudah beres, dan aku dapat menikmati malam Natal dengan gembira!' pikirku.
Aku memasuki cafe yang mempunyai kesan nyaman dan hangat itu. Aku memang sengaja memilih tempat ini untuk bertemu dengan dad, karena tempat ini dekat dengan department store tadi.
Aku menoleh ke sana kemari, dan akhirnya aku melihat seorang lelaki berkacamata, yang sedang membaca sebuah koran. Meskipun ia memakai pakaian santai, ia tetap terlihat tegas. Aku pun menghela nafas, kemudian menghampirinya.
"Hai dad. Sudah menunggu lama?"
Ia berhenti membalikkan halaman koran yang sedang dibacanya, dan menoleh ke arahku. Ia tersenyum tipis, dan kemudian menaruh koran itu di meja.
"Tidak, tidak terlalu lama juga. Duduklah."
Aku pun mengangguk dan duduk di seberangnya.
"Aku sudah memesan secangkir capuccino dan hot chocolate. Pelayannya bilang akan datang sebentar lagi."
Aku mengangguk lagi, kemudian membetulkan syal dari Yuuma-kun yang sedang kupakai.
" ... Jadi ... Kenapa dad ke Jepang dan tidak mengabariku dan Ollie?"
Pelayan datang dan menaruh pesanan dad, dan dad berterima kasih padanya.
"Karena ini menyangkut sesuatu yang penting, Mizki."
"Sepenting apa?"
Dad pun menarik nafas yang panjang, dan kemudian mulai membeberkan hal-hal yang membuat kedua mataku membulat mendengarnya.
Yuuma POV
Aku melihat TV dengan malas, karena isi acaranya hanya tentang kota yang ramai karena hari ini adalah malam Natal. Bukannya aku membencinya, hanya saja aku agak bosan melihatnya. Di jalan, di tempat pemotretan, dan di rumah ... Semuanya penuh dengan nuansa Natal.
Tiba-tiba, Yuki dan Oliver mendatangiku, lalu mereka berdua duduk di sebelah kananku.
"Onii-chan~!" panggil Yuki dengan bersemangat.
"Nani?" jawabku sambil memindah channel dengan malas.
"Onii-chan ingin kado Natal apa?"
"Aku? Hmm ... Tidak ada yang spesial, sih." jawabku santai.
Yuki mencibir, "Kalau aku, aku ingin mendapatkan sebuah boneka teddy bear yang besaaar!"
Aku tersenyum menggoda, "Memangnya kau akan mendapatkannya? Yuki kan bukan anak baik."
Yuki hanya cemberut saja mendengar perkataanku barusan.
Oliver pun tertawa geli, lalu menepuk kepala Yuki sekali, "Tenang saja, Yuki-chan pasti akan mendapatkannya. Kau gadis yang baik kok."
Muka Yuki memerah, dan Oliver masih tertawa. Aku hanya melihat mereka berdua sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Dasar pasangan yang tidak jujur. Terlihat jelas kalau mereka saling menyukai, tetapi entah kenapa ... sampai sekarang mereka belum jadian juga.
"Tadaima ..."
Aku mengenal suara itu. Suara Mizki-chan!
Aku langsung bangkit dari sofa dan menghampirinya. Terlihat ia sedang membawa belanjaan yang banyak, dan entah kenapa mukanya terlihat ... Kusut?
"Okaerinasai, Micchan! Wow, kau berbelanja apa saja?"
Ia tampak berusaha tersenyum, "Macam-macam!"
... Entah kenapa, senyumnya yang barusan ... Terlihat seperti senyum yang dipaksakan.
" ... Kau baik-baik saja? Apa ada masalah? Apa kau kelelahan?" tanyaku berturut-turut sambil mengambil plastik belanjaan yang berisi bahan-bahan makanan.
Ia menggeleng, "Um, tidak ... Aku baik-baik saja kok!"
"Hontou ni?"
"Hontou! Ah, ngomong-ngomong ... Apa Yoko oba-san sudah datang?"
Aku menggelengkan kepalaku, "Belum. Sepertinya dia masih membeli cake Natal."
Dia tersenyum tipis, "Baiklah kalau begitu, aku akan menaruh belanjaan-belanjaan ini ke dalam kamar. Yuu-kun, bisakah kau menyerahkan plastik yang kau pegang itu ke Hana? Aku akan membantunya memasak setelah ini."
Aku tersenyum lebar dan kemudian mencium keningnya.
"Dengan senang hati."
Kami semua menikmati hidangan Natal yang dibuat Mizki-chan dan Hana dengan lahap. Setelah itu, kami berebutan untuk mendapatkan potongan cake yang telah dipotong rapi oleh kaa-san.
"Ah, kenyangnya~" ucap Yuki gembira.
"Baiklah semua, ayo berkumpul di sini!" ajak kaa-san sambil berjalan ke ruang tengah. Aku, Mizki-chan, Yuki, Oliver, dan para maid pun mengikutinya. Kemudian, kami duduk melingkar di karpet yang terletak di depan perapian.
Kami berdoa, setelah itu kami saling menyampaikan harapan untuk tahun depan. Setelah itu, kami sibuk bernyanyi. Tak lama, kaa-san membagikan hadiah Natal untuk kami. Hana membagikan gelang bermotif bunga, dan Hima membagikan cheese muffin buatannya. Dan kemudian, giliran Mizki-chan untuk membagikan hadiahnya. Semuanya tampak senang saat mendapatkan hadiah darinya. Begitu pula denganku.
Kami menikmati malam ini dengan penuh kebahagiaan.
Dan aku tak menyadari, ada sesuatu yang besar, yang disembunyikan oleh Mizki-chan, dan aku tidak mengetahuinya.
Akhirnya, tanggal satu Januari. Setelah selesai menjalani pemotretan bersama Mizki-chan di kuil, kami pun berganti baju dan berjalan-jalan di sini.
Entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa Mizki-chan tampak lesu dan sedih. Begitu pula dengan Oliver dan Yuki. Sepertinya para maid dan kaa-san mengetahui alasannya, tapi mereka tidak menjawab apa-apa ketika aku bertanya kepada mereka. Hal itu membuatku sangat penasaran.
"Haah ... Meskipun tahun baru, tapi tetap saja dingin ya!"
Mizki-chan mengangguk kecil, "Hmm. Tetapi sebentar lagi musim semi datang ... Ya?"
"Yap. Dan saat itu, kita akan menjalani upacara kelulusan ... Waktu terasa cepat, ya."
Mizki-chan tidak menjawab. Tampaknya, ia tidak suka dengan topik pembicaraan barusan?
Aku hanya menghela nafas, kemudian menggandengnya ke sebuah bangku. Aku mengeluarkan sebuah bungkusan, kemudian menyerahkannya ke Mizki-chan.
" ... Untukku?"
Aku mengangguk. Mizki-chan tersenyum simpul, kemudian membukanya.
"Ini ... K-Kalung?"
Aku tersenyum kecil, "Iya, kupikir itu cocok untukmu. Err—maaf ya, Natal sudah seminggu yang lalu, tapi aku baru bisa menyerahkannya sekarang. Habisnya ... Aku baru dapat gaji dua hari yang lalu sih."
Ia tertawa kecil, "Daijobu! Aku sangat menyukainya! Arigato ne, Yuu-kun!"
"Douitashimashu. Senang kau menyukainya."
Dan kemudian hening menyelimuti kami.
"Ano ne, Mizki-chan."
"Nani ka?"
"Sepertinya ... Kalian menyembunyikan sesuatu dariku ya?"
Raut mukanya langsung berubah murung.
" ... Sebenarnya ada apa? Kenapa kalian tidak bercerita apa-apa kepadaku?"
Mizki-chan menghela nafas panjang, " ... Aku sebetulnya ingin menyembunyikan hal ini dari Yuu-kun, karena aku tidak ingin kau tahu dan aku juga tidak tahu harus bagaimana mengucapkannya."
Dia melanjutkan kata-katanya lagi, " ... Kuharap, kau tidak kecewa ketika aku mengatakan semua ini."
Aku tertawa, "Memangnya tentang hal apa sih? Kenapa kau sampai serius seperti itu?"
Mizki-chan tersenyum kecil, " ... Ini tentang ... Kepindahanku dan Ollie saat musim semi nanti."
Aku langsung berhenti tertawa, dan kedua mataku membulat.
" ... Jika kau bercanda, ini tidak lu—"
"Aku juga berharap ini bukan sungguhan!"
Aku langsung terdiam mendengar seruan Mizki barusan.
" ... Kau ... Akan pindah ke mana?" tanyaku lirih.
"Aku akan kembali ke Amerika lagi, tinggal bersama dad serta orang tua dari mom. Dan Oliver akan ke Osaka, tempat di mana ayah dan ibunya dad tinggal. Ini karena kakek dan nenek kami merasa sepertinya kami akan lebih aman jika tinggal bersama keluarga."
" ... Dan kau ... Tidak menolak?"
"Aku ingin sekali menolak, tapi —aku tidak bisa. Mereka benar-benar ingin kami tinggal bersama mereka."
" ... Berapa lama ... Kalian akan tinggal di sana?" tanyaku dengan suara serak.
" ... Mungkin ... Sekitar empat tahun ... Sampai kami berdua cukup dewasa untuk tinggal berdua sendirian."
Keheningan kembali menyapa kami. Dan kemudian, Mizki-chan memelukku.
" ... Micchan ...?"
Dia sesenggukkan, "M-Maafkan aku Yuu-kun ... S-Sebetulnya ... A-Aku ti-tidak m-mau se-seperti i-ini ..."
Aku balas memeluknya erat, dan menepuk-nepuk pundaknya, "Hei, tidak apa-apa. Bukan salahmu. Tenang saja. Meskipun kau akan pergi jauh ... Aku akan tetap ada untukmu."
Salju yang menumpuk di kota Tokyo, semuanya sudah mencair karena cahaya matahari yang hangat. Kuncup bunga sakura pun mulai bermunculan. Ya, benar. Musim semi sudah datang.
Aku menjalani hari demi hari bersama Mizki-chan dengan menyenangkan seperti biasa.
Kalau bisa, aku ingin menghentikan waktu, berharap hari kelulusan tidak akan pernah datang.
Naasnya, akhirnya hari ini adalah pelaksanaan hari itu.
Semua anak di kelasku sudah mengetahui tentang kepindahan Mizki-chan. Banyak yang sedih, bahkan Gumi-chan sampai menangis. Mereka tidak ingin dia pergi meninggalkan negara ini.
Akhirnya, kami pun berfoto-foto, untuk kenang-kenangan. Setelah selesai berfoto, para anak perempuan memeluk Mizki-chan bergantian. Sepertinya, mereka benar-benar merasa kehilangan. Meskipun dia hanya satu setengah tahun bersekolah di sini, tetapi semuanya menyayanginya.
Dan akhirnya, tibalah waktuku untuk mengantarkan Mizki-chan ke bandara. Gumi-chan, Aoki-chan, Rion-chan, Ling-chan, dan Gumiya juga ikut mengantar kepergiannya.
Aoki-chan dan Rion-chan memeluk Mizki. Mata Gumi-chan masih sembab, dan Gumiya hanya menghela nafas sambil menenangkannya. Ling-chan mendatangiku.
" ... Kau tidak akan mengatakan apa-apa kepadanya, Yuuma-kun? Kulihat kalian belum berbincang-bincang hari ini."
Aku mengangguk pelan, kemudian menghampiri Mizki.
" ... Kau sudah mau pergi, ya."
Dia mengangguk kecil. Aku menggigit bibirku, kemudian langsung memeluknya, erat.
" ... Meskipun kau pergi jauh ... Aku pasti akan selalu mengingatmu. Terutama, senyummu. Karena senyumanmu lebih berharga dari siapapun."
Dia hanya diam saja.
Aku pun melepaskan pelukanku, "Jaga dirimu baik-baik di sana, Micchan. Aku ... Setiap hari aku akan mengirim mail untukmu. Kupastikan kau tidak akan kesepian."
Dia tersenyum kecil, dan kemudian menyodorkan jari kelingkingnya. Aku tersenyum lembut, kemudian mengaitkan jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya.
Empat tahun kemudian ...
Aku sibuk mendengarkan penata rambutku yang bercerita tentang betapa menyebalkannya model-model baru sekarang. Aku hanya tertawa kecil mendengarkannya.
Yah, aku tetap menjadi model hingga sekarang, meskipun tanpa Mizki. Aku masih sering berhubungan dengannya, dan kami masih pacaran. Aku masuk ke jurusan kedokteran sekarang, karena aku ingin menjadi seorang dokter. Gumi-chan dan Gumiya masuk ke jurusan sastra. Aoki-chan dan Rion-chan ... Mereka ke jurusan fashion, kudengar Aoki-chan ingin menjadi designer dan Rion-chan ingin menjadi stylish. Ling? Dia masuk ke jurusan boga, dia bilang ingin menjadi seorang chef.
Banyak yang berubah. Semua sudah menjadi lebih dewasa. Yuki juga sudah mau masuk SMU. Aku pun menjadi model terkenal sekarang, bahkan aku ditawari untuk menjadi seorang aktor juga.
Sekarang, aku akan menjalani sebuah pemotretan dengan seorang model perempuan yang terkenal dari luar negeri. Aku tidak tahu siapa, karena tidak ada yang memberitahuku. Sepertinya, ia baru saja pindah ke Jepang.
Niji-san mengetuk pintu ruangan rias, dan kemudian mendatangiku.
"Kau sudah siap, Yuuma?"
Aku mengangguk, "Apa model itu sudah datang?"
Niji-san menggeleng sambil tersenyum simpul, "Dia sedang dalam perjalanan."
"Haah, lama sekali sih? Aku ada kuliah siang ini." ucapku sambil membetulkan kacamata yang sedang kupakai.
Niji-san tertawa, "Dasar sok sibuk."
Aku hanya mencibir.
"Ah ya, ngomong-ngomong, siapa sih modelnya?"
"Kau akan tahu sendiri nanti. Kujamin, kau mengenalnya dengan baik."
Aku mendengus pelan. Tiba-tiba, pintu kamar rias terbuka lagi.
Kedua bola mataku membulat menatap siapa yang ada di situ.
Seorang gadis tinggi berambut hitam panjang, yang bagian bawah rambutnya bergulung-gulung. Ia tampak manis dan dewasa.
Meskipun potongan rambutnya berbeda, aku dapat mengenalinya.
... Gadis itu adalah Mizki-chan.
"Ah, sorry I'm late! Mohon kerja samanya! Mulai hari ini, aku kembali dari Amerika!" ucapnya sambil membungkuk tersenyum manis.
Aku langsung berlari dan memeluknya.
" ... Kau tidak tahu betapa aku merindukanmu, baka? Sudah berapa lama kita tidak bertemu?"
Ia hanya tersenyum geli dan menepuk-nepuk punggungku, "Sorry, I didn't tell you because I want to surprise you, Yuu-kun."
Aku menghela nafas, "Itu bukan masalah yang besar. Okaerinasai, Micchan."
Yo! Ah~ akhirnya selesai juga fict ini ... Gimana? Abal? Ngegantung? Ending kurang memuaskan? Mohon semuanya ditumpahkan di kotak ripiu 8'D
Mohon maaf apabila banyak kekurangan dalam fict ini! Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk para readers yang setia mengikuti fict ini!
