Piece of Mine
Lee Taeyong - Ten Chittaphon Leechaiyapornkul
12
Taeyong memilih yang terbaik. Tidak butuh waktu lama sampai ia yakin untuk bertahan dengan pilihannya. Apa yang ia rasakan kepada Yerim adalah hal yang berbeda dengan Ten. Kalau kata orang, kau bisa merasakan kupu kupu di dalam perutmu jika sedang jatuh cinta. Tapi terkadang, bukan kupu kupu yang membuatmu tau bahwa kau sedang jatuh cinta, melainkan rasa sakitnya. Taeyong merasakan itu semua dengan Ten, bukan dengan Yerim
Dan segala hal lain yang menunjukan bahwa hatinya memang sudah direbut oleh Chittaphon Leechaiyapornkul.
Sesuatu yang seharusnya salah malah terasa begitu benar. Diluar kendalinya memang, namun kenyataannya ia baik baik saja dengan semua kendali itu. Tidak keberatan sama sekali, malah menikmatinya.
Yang sekarang harus ia pikirkan adalah bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada Yerim. Ini bisa jadi sama buruknya seperti saat ia menindas orang dulu, hanya yang ini tidak bisa diperkarakan.
Tetapi kali ini masalah hati. Mungkin balasannya akan berupa karma. Apa yang dikatakan Ten saat itu memang benar, keputusannya hanya akan menyakiti perempuan itu.
Namun, kadang hidup juga butuh egois, kan?
Kalau saja manusia tidak diizinkan untuk egois, tidak ada yang namanya belajar bersama dengan teman sekelas atau membaik-baiki guru agar mendapat nilai sikap A. Tidak ada persaingan, hanya penuh orang yang saling mengalah tanpa ujung. Sama halnya dengan apa yang Taeyong hadapi saat ini. Kalau Taeyong membiarkan ketidaktegaan itu maka yang ia dapatkan adalah kehilangan Ten.
Sesuatu yang mungkin jauh lebih berharga dibanding segalanya, termasuk Yerim.
Meminta pendapat Ten bukanlah hal yang baik saat ini. Bisa-bisa malah memperburuk keadaan. Meminta pendapat teman sekelas? Yang ada mereka semua langsung mengahajarnya karena tidak tau diuntung. Sudah berhasil mencuri perhatian Kim Yerim, malah ingin dibuang.
Ya, mereka tidak tau saja kalau sebenarnya ia lebih sering menghabiskan waktu dengan laki laki kecil dari sekolah lain yang tingkat kelenturannya dalam menari jauh lebih baik darinya.
Daripada mengambil resiko akibat saran orang lain, Taeyong lebih memilih menanggung resiko akibat sarannya untuk diri sendiri, kalau ada kesalahan, tidak ada yang bisa disalahkan kecuali dirinya sendiri.
Akhirnya Taeyong kembali berjalan menuju kelasnya. Menemui Yerim yang masih duduk di kursi paling belakang.
"Kim Yerim"
Perempuan itu mengangkat kepalanya, tersenyum saat mengetahui orang yang memanggilnya.
"Hari ini sebelum pulang sekolah, aku ingin bicara" lanjutnya.
"Dimana?"
"Nanti aku tunjukan"
Yerim mengangguk semangat, masih dengan senyuman yang tersungging dengan manis di bibirnya. Mungkin temannya bisa dibuat kesal lagi karena keberuntungannya membuat Yerim tersenyum, tersenyum dengan tulus kepada seorang laki laki yang mungkin saja di anggap spesial. Tetapi semanis apapun senyuman itu, seorang Kim Yerim masih belum mampu mengubah keputusan Lee Taeyong. Sejak pertama kali dan hingga saat ini.
Dan beberapa menit sebelum waktu itu datang, Taeyong malah kembali mempertanyakan dirinya lagi.
Apakah aku terlalu jahat?
Tetapi mungkin kali ini Taeyong butuh menjadi jahat demi mengakhiri ini semua. Demi mengakhiri semua sebelum waktu membawa mereka semakin jauh dan semakin dalam.
"Taeyong, jadinya kita kemana?"
Sudah lengkap dengan tas ransel di punggungnya. Wajahnya semangat, dengan sedikit senyum disana.
"Belakang sekolah" ujar Taeyong singkat. Ia melangkah duluan, membiarkan perempuan itu mengekornya menuju tempat tujuan. Mungkin posisi mereka saat ini sedikit ambigu, bisa membuat orang yang melihatnya berpikir bahwa mereka adalah pasangan yang sedang bertengkar kecil.
Namun kenyataannya, mereka hanyalah teman dimana salah satunya berusaha menjaganya agar mekar dengan indah sedangkan yang lainnya malah ingin mempercepat layunya .
"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?" tanya Yeri saat mereka sampai di belakang sekolah. Tidak banyak orang di sana, mungkin hanya ada dua atau tiga orang.
Taeyong menatap Yerim sebentar lalu mengakhirinya lagi. Setelah itu ia berdeham.
"Apa kau punya sesuatu yang ingin kau tanyakan?"
Ya, ternyata rencanannya cukup buruk saat di praktikan. Tetapi kalimat itu sudah terlanjur keluar dari mulutnya, tidak bisa ditarik kembali.
Yerim terlihat berpikir sebentar. Kepalanya miring ke kanan sementara pandangannya fokus kearah bawah. Antara bingung ingin bertanya apa atau bingung menimang-nimang pertanyaan mana yang harus ia tanyakan.
Lalu akhirnya Yerim kembali mempersatukan tatapan mereka.
"Kita ini apa?"
Pertanyaan yang sama dengan Ten.
Memangnya semua orang yang digantung akan mempertanyakan itu, ya? Entah Taeyong yang tidak berpengalaman atau memang ia yang bodoh.
"Nah, itu dia"
Taeyong bersandar pada tembok di belakangnya. Mencari posisi senyaman mungkin sehingga ia bisa terlihat santai. Karena sejujurnya ia tidak bisa bersikap biasa saja.
"Mungkin ini akan terdengar jahat, tetapi.. aku tidak bisa. Setelah semua ini, daripada kau yang merasa tersakiti jadi kurasa kita harus mencegahnya lebih awal"
Ekspresi Yerim langsung berubah.
"Maksudmu? After all this time?"
Taeyong mengangguk pelan.
"Setelah semuanya yang pernah kita lakukan? Kencan, pelukan dan bahkan ciuman itu?"
Taeyong kembali mengangguk. Lebih lama dari yang sebelumnya.
"Tidak, kau pasti bercanda, Lee Taeyong. Jangan gunakan cara murahan ini untuk menyatakan cinta"
Kesimpulannya adalah, Kim Yerim memang sudah terlalu percaya diri dan itu berarti ia sudah telat. Mungkin kalau ia lebih lambat lagi, semuanya akan semakin buruk.
"Kau yang memulai segalanya, Kim Yerim"
"Tetapi kau menerimanya!"
"Memangnya apa yang kau harapkan dari seorang Lee Taeyong?"
Mata Yerim terlihat bergetar meski masih kuat menatap balik Taeyong dengan tatapan intimidasinya.
"Kau tentu tau siapa aku disini, kan? Bukannya menjagokan diri, tetapi sudah banyak perempuan sepertimu yang melakukan hal sama. Jadi, apa kau pikir hanya dirimu saja yang pernah melakukan semua hal itu denganku?"
Kenyataannya adalah tidak. Meski kalimatnya memang sedikit di buat buat, mungkin perempuan yang melakukan hal yang sama dengan Kim Yerim ada sekitar sepuluh lebih. Namun yang ia balas dapat dihitung dengan satu tangan, itupun sudah termasuk Yerim. Sedangkan yang ia jalani dengan serius hanya dua, termasuk Ten.
"Tetapi mengapa aku harus jadi salah satu dari mereka? Aku sudah melakukan segalanya yang aku bisa. Aku sudah memberikan waktuku untukmu dan bahkan harga diriku untuk menciummu! Tidak kah kau memikirkan itu?"
"Tidak ada yang memaksamu untuk melakukan itu kepadaku"
Dan Yerim menampar pipi Taeyong.
"Kurang ajar"
Taeyong tau bahwa ia pantas mendapatkan itu. Atau mungkin seharusnya ia mendapatkan dua, satu di kanan dan satu di kiri. Atau mungkin lebih.
Setelah itu Yerim berlalu dengan matanya yang berkaca kaca.
Jahat sekali, ya? Laki laki macam apa dia?
Menatap tas Yerim yang terus menjauh, Taeyong lebih tidak tega jika harus membiarkan perempuan seperti Kim Yerim terus mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Dan mungkin Ten akan lebih tidak tega lagi dan ceritanya berakhir dengan Ten yang membebaskannya demi kebahagiaan Kim Yerim.
No. Tidak sedrama itu dan tidak perlu seperti itu.
Hidupnya sekarang sudah cukup dramatis, tidak perlu ditambah lagi dengan penyedap lain.
Sekarang giliran Taeyong yang mempertanyakan dirinya sendiri.
Apakah ini semua sudah selesai?
Ten semakin merapatkan tautan kedua telapak tangannya saat Primmy berjalan di sampingnya lalu duduk di depannya. Rambutnya ia biarkan diikat kuda.
Sekitar empat jam yang lalu, perempuan ini datang ke kelasnya lalu membuat janji. Bertemu di salah satu café di dekat sekolah pada jam lima sore. Dan disinilah ia sekarang, duduk diselimuti dengan keheningan yang seakan akan melindungi mereka dari keonaran dunia luar.
"Chittaphon"
Ten memusatkan pandangannya kepada perempuan di depannya. Meski ia tidak begitu tau apa isi hati seorang Prim Patnasiri saat ini, namun yang dapat ia tebak adalah Primmy tidak sedang berada di mood yang buruk.
"Jadi, kita sama sama tau tentang perasaan masing masing, kan? Bagaimana aku yang sedikit berharap ataupun kau yang malah mengharapkan orang lain. I'd love you to the very end but what you want is just a friend" ujar Primmy.
Lalu ia melanjutkan, "So, I decided to give up and let you live peacefully. I don't want to break our friendship just because my dumb feelings towards you. Jadi daripada mengerjamu lagi, aku memilih untuk menyerah"
Primmy tersenyum setelah itu. Ten mengerti tentang semua yang perempuan ini katakan. Primmy melakukan apa yang ingin ia lakukan dulu dengan Taeyong, menyerah. Suatu hal yang dicap buruk karena dalam beberapa kasus, menyerah memiliki sebuah penyebab bernama putus asa yang langganan menghancurkan impian impian manusia. Mungkin impian Ten dulu untuk menjadi seorang penyanyi terkenal atau angan-angan Tern menyabet medali emas saat kejuaraan basket dua tahun yang lalu, termasuk keinginan Primmy untuk mengubah suatu hubungan pertemanan menjadi lebih intens.
Tidak ada yang salah dengan menyukai sahabat sendiri. Namun, ketika perasaan itu tidak terbalas, persahabatan itu tetap menjadi sebuah taruhan yang harus dijunjung. Dan daripada membiarkan persahabatan mereka yang sudah susah payah ia bawa dari Thailand ini hancur sia sia, Primmy memilih mundur.
Toh menyerah bukan berarti kalah, kan?
"Aku minta maaf, Prim"
"Tidak masalah. Aku yang salah disini. Kalaupun kau membalasku, tetap saja kita memiliki resiko berpisah yang bisa menghancurkan pertemanan kita, kan?"
Ten terdiam sebentar lalu mengangguk. Masih tidak enak dengan sahabat kecilnya itu, mengorbankan perasaannya demi persahabatan ini.
She's too precious to get hurt.
"Tidak perlu merasa bersalah begitu, ini kan demi kita berdua. Lagipula sudah banyak laki laki yang mengantre untukku" ujarnya, lalu mereka berdua tertawa.
"Aku penasaran siapa yang bisa memikat seorang Primmy Patnasiri"
"Yang tampan dan pintar seperti Kim Mingyu kelas 3C"
Chittaphon langsung meletakan telapak tangannya di depan mulut dengan matanya yang melebar sementara Primmy malah tertawa geli di depannya.
"Sshhh sudah sudah. Jangan bahas aku lagi. Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Taeyong?"
Pengalihannya bagus sekali, langsung to the point.
"Sudah tidak pernah berbicara sejak minggu lalu"
"Loh? Ada masalah?"
Oh, Ten baru ingat bahwa ia memang belum menceritakan apapun kepada Primmy. Ketika laki laki itu menjelaskan segalanya, Primmy seakan akan tidak bisa berhenti memekik dan berkata "aku bilang juga apa". Yes, she was right. Perempuan tidak pernah salah.
"Tidak ada rencana baikan?" Tanya Primmy setelah menyeruput mocha espresso yang sudah ia pesan tadi. Ten menggeleng.
"Kalau dibilang baikan, aku dan dia tidak bertengkar, oke? Tetapi tidak bisa dibilang bahwa kami baik baik saja juga"
"Duh, perjuangan sejak dia berlatih lagu cinema itu harus diperjuangkan. Memangnya kau mau menengok ke belakang dan menyadari bahwa selama ini kau sudah melakukan hal sia sia?"
Bicaranya memang mudah, tetapi keberanian yang dikumpulkan harus lebih besar dari matahari, atau RW Cephei kalau mau berlebihan.
"Aku.. Aku akan mencobanya" Penuh keraguan.
"Ah, aku akan menunggunya! Chittaphon, su su!" Primmy tersenyum lebar dengan dua kepalan tangan di kedua sisi wajahnya.
Bahkan setelah support Primmy yang menurutnya begitu besar, apakah ia pantas untuk menyerah di tengah jalan?
Perasaanya masih janggal. Ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri, apakah ini rasa cinta yang sering orang gembor gemborkan atau tidak.
Ten takut bahwa selama ini ia hanya membohongi dirinya sendiri dengan segala keegoisan yg menguasai pikirannya, bukan hatinya.
Tetapi, setelah semua ini? Setelah mati-matian bersandiwara bahwa ia baik baik saja? Apa keegoisan begitu setianya hingga tidak mampu memberikan pikirannya ke sesuatu yang lebih baik? Tidak.
Baru saja ia sampai di halte, getaran ponselnya menyambar.
Lee Taeyong.
Memencet tombol berwarna hijau di layarnya, Ten merindukan bagaimana laki laki di sebrang sana memanggil namanya dengan santai, seperti saat ini. Setelah membangun tembok dengan ratusan batu bata yang akhirnya lenyap dalam seminggu, Ten mengiyakan ajakan Taeyong untuk bertemu.
Menjadi pertemuan pertama mereka setelah kejadian itu.
Hari ini berbeda. Dibanding mengajaknya ke atap seperti biasa, Taeyong mengajak Ten untuk pergi ke daerah Cheongdam. Tidak mengerti juga kenapa Taeyong malah repot repot memboyongnya ke tempat yang berbeda sekaligus jauh lebih mahal dari biasanya
Tetapi kadang ada hal yang lebih baik untuk tidak kita mengerti, jadi ia mengiyakan saja.
Apa yang mereka rasakan setengah jam yang lalu adalah canggung. Hanya mengukur jalan tanpa ada obrolan sampuai akhirnya Taeyong berdehem dan mengatakan sebuah kalimat.
"Aku ingin kita yang dulu"
Ten mengerjap. Oh ayolah, memangnya hanya Taeyong yang berpikir begitu?
"Tidak, tidak. Aku ingin kita lebih dari yang sebelumnya"
Sebuah perkataan tanpa aksi nilainya adalah nol, itu yang Ten patenkan. Tidak ada yang bilang bahwa ia tidak berdebar saat Taeyong mengatakan kalimat pengakuannya itu. Tetapi ia sudah kenyang dengan semua kalimat manis Lee Taeyong yang ujung ujungnya adalah menggantungkan perasaan.
Bahkan pakaian yang dijemur saja akan diambil lagi oleh pemiliknya.
"Es krim?" usul Ten.
Ten mengalihkan semuanya. Tidak siap kalau tiba tiba Taeyong kembali menyerangnya dengan pertanyaan pertanyaan yang ia sendiri tidak tau jawabannya. Atau mungkin ia tau, namun berpura pura tidak tau.
Menghabiskan dua setengah jam berkeliling Cheongdam sampai akhirnya mereka masuk ke dalam bus menuju rumah Ten. Masih dengan atmosfer yang sama. Atmosfer yang Taeyong benci setengah mati kalau itu berarti menciptakan sekat di antara dirinya dan laki laki Thailand itu.
Sudah cukup satu minggu sandiwara saling tidak mengenalnya. Taeyong tidak sesabar itu.
Etika Ten masih baik saat mengajak Taeyong untuk masuk ke dalam rumahnya yang langsung diiyakan oleh Taeyong. Kedua orangtuanya sedang menemani Tern di turnamen basketnya, mungkin akan kembali sekitar satu jam lagi.
"Ada yang kau butuhkan? Mungkin teh atau—"
"Kamu"
Tenggorokannya langsung tercekat. Reaksinya masih seperti ini, tidak pernah berubah dan entah sampai kapan. Membenci sekaligus senang atas dirinya sendiri sebab masih tidak mampu menyerah, bahkan sampai detik ini.
"Maaf pernah mengabaikanmu berkali kali. Maaf karena telah mengecewakanmu"
Taeyong memegang kedua tangan Ten, menyandarkan kepalanya ke bahu laki laki yang lebih pendek. Ini mungkin hanya perasaannya saja namun semuanya terasa begitu benar. Taeyong tidak pernah mau meninggalkan moment ini.
"Seharusnya aku mengatakan ini lebih cepat, aku benar benar mencintaimu dan berharap kau menjadi milikku. Aku tau akan sulit bagimu untuk kembali percaya, aku benar benar menyesal"
Jari jarinya menelusup masuk ke dalam sela sela jari Ten. Ten tidak mempedulikan bagaimana bahunya yang terasa berat atau bagaimana dirinya sendiri yang susah payah menahan emosi yang bergejolak. Apa yang ingin Ten lakukan adalah memeluk Taeyong, mengatakan bahwa ia juga mencintainya dan berusaha untuk kembali percaya. Tetapi setelah semua yang sudah laki laki itu lakukan, Ten terpaksa berpikir ulang.
"Sampai sekarang aku masih percaya kalau kau adalah orang baik yang tidak pantas untuk mendapat catatan kriminal" Ten menghela nafas, "Namun ini adalah masalah yang berbeda"
Tak ada yang bisa dikukan Taeyong. Ten benar sedangkan Taeyong seratus persen salah. Atau mungkin sembilan puluh, ia sudah meminta maaf.
Taeyong melepas pegangannya, lalu menatap Ten. "Oke, aku mengerti dan aku akan menunggunya"
"Kau tidak perlu menungguku, kau punya Yerim"
Taeyong kembali mendesah kasar, raut wajahnya berubah kesal, "Aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengannya"
"Tidak pernah, tetapi akan. Kau sudah sangat dekat dengannya"
"Lalu apa masalahnya dengan dekat?"
Ten sempat melepaskan wajahnya dari kerutan saat mendengar pertanyaan dari mulut Taeyong. Sesaat kemudian, ia kembali mengerutkan dahinya. "Kau menggantungkannya!"
"TAPI ITU SUDAH BERAKHIR!"
Emosinya pecah. Taeyong tidak mengerti bagaimana bisa ia kehilangan kontrol yang satu itu di depan Ten. Wajah Ten berubah kaget.
"Aku minta maaf, tidak seharusnya aku berteriak seperti itu kepadamu" ujar Taeyong menyesal. Saat ia ingin mengambil kembali kedua tangan Ten, laki laki itu menjauhkannya. Enggan melakukan kontak fisik.
"Intinya aku hanya ingin kau tau bahwa aku benar benar mencintaimu, you're the one and only, Ten" tambahnya sebelum mundur beberapa langkah, menuju pintu masuk sekaligus pintu keluarnya.
Ketika Taeyong meninggalkan apartmentnya, yang bisa Ten lakukan hanya menghempaskan tubuh di sofa. Menahan cairan bodoh itu lagi.
"Izinkan aku berpikir" ujarnya dengan suara lirih.
Puluhan jam, tekanan tugas dan belasan plastik roti favorit Jaehyun yang dia berikan tidak mengubah pikiran Ten sama sekali. Merampas kebebasannya untuk memilih dan berubah.
Pilihannya untuk bertahan dengan laki laki di sebelah ruangannya.
Terkadang perubahan membimbing seseorang untuk menjadi lebih baik. Lantas, apa pilihannya ini adalah yang terbaik?
Sebenarnya ini semua terasa aneh. Bagaimana Taeyong yang sudah menemaninya selama hampir setahun itu semakin jauh dan jauh. Begitu jauh dari jangkauannya.
Ya, Ten butuh waktu berpikir untuk mempercayai laki laki itu lagi, namun kenyataannya ia tidak bisa. Semua bayangan Taeyong sudah terlanjur terekam jelas di sel sel otaknya.
Ketika ia mendorong pintu putih itu, ia langsung menangkap punggung seseorang yang tetutup dengan jaket berwarna hitam dengan motif army di beberapa bagian, sedang berdiri menatap gedung gedung tinggi di depannya.
Atap akademi sudah seperti surga kecil milik Ten dan Taeyong meski sebenarnya mereka tidak memiliki sedikitpun hak bangunan ini. Tidak ada tanaman, makanan dan minuman atau speaker. Hanya beton yang mereka injak, pemandangan di berbagai arah dan langit yang berwarna warni. Dan kini, Ten sedang berjalan di surganya dengan ragu.
Ketika ia mensejajarkan tubuhnya dengan Taeyong, Taeyong hanya tersenyum lalu menggigit bibir bawahnya. Memikirkan ulang semua kalimat yang ingin ia ungkapkan.
"Ten"
Ten menoleh, Taeyong masih menatapnya dengan tatapan yang sama.
"Apa kau masih belum bisa menerimaku?"
Mungkin Ten mampu mampu saja untuk menerima Taeyong sekarang, sejak kemarin kemarin malah. Tetapi setiap ingatan itu menghampirinya, tidak ada yang bisa Ten lakukan selain membiarkan hatinya terasa sesak.
"Tidak tau"
"Kalau begitu aku harus menunggu lebih lama lagi" ujar Taeyong.
Tiba tiba Taeyong menarik Ten ke dalam pelukan, menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Ten.
"Lee Taeyong, kumohon berhenti" Ten menaikan suaranya sambil meronta melepaskan diri dari pelukan Taeyong, mampu membuat Taeyong harus menarik kepalanya lagi.
"What's wrong?"
Ten mengehela nafas lalu melanjutkan, "Kita tidak bisa begini terus. Semua hal yang kau lakukan itu membunuhku perlahan! Apa kau pernah merasakan bagaimana sulitnya mencintai dan kecewa kepada satu orang disaat yang sama? Kenapa kita harus seperti ini?"
Ten mengepalkan tangannya dengan kuat juga mengatur nafasnya yang berantakan. Matanya mengabur. Ia menatap wajah laki laki yang lebih tinggi, masuk ke dalam matanya.
"Lee Taeyong, aku benar benar mencintaimu dan itu membunuhku setiap kali kau bersama dengan Kim Yerim. Puas?"
Dibandingkan dengan mengatakan ribuan maaf, Taeyong tersenyum lembut. Tanganya beralih ke punggung Ten.
"Kau bisa menyalahkanku sebanyak apapun. Namun kau sendiri juga tau kalau aku sudah tidak pernah bersama dengannya lagi" jelas Taeyong. Tidak munafik, Ten juga memperhatikan kalau Yerim sudah berada jauh sekali dengan Taeyong. Malah untuk sekedar bertatap muka saja Ten tidak pernah lihat.
"Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku" Taeyong kembali tersenyum halus.
Lalu kembali menambahkan, "Dan aku menginginkanmu untuk menjadi milikku"
Suara Taeyong pelan –nyaris berbisik tetapi pendengaran Ten masih mampu menangkap kalimat itu. Ketika Taeyong melepas pelukannya untuk kesekian kalinya, jantungnya langsung memompa lebih cepat.
Sesuatu yang ingin ia lakukan akhirnya terwujud.
"Aku berjanji akan membuatmu percaya lagi" Taeyong tersenyum lembut ketika yang bisa Ten lakukan tidak lain hanyalah mematung disana.
Lee Taeyong kembali memegang kedua tangan Ten.
"Aku tidak membawa bunga, coklat atau apapun, tetapi Chittaphon Leechaiyapornkul, maukah kau menjadi kekasihku?"
Jantung Ten langsung berdebar dengan cepat, khawatir Taeyong bisa mendengarnya. Well, apakah berkomitmen dengan seseorang yang pernah membuatmu kecewa adalah hal yang buruk?
"Kau serius? Tidak sedang bercanda, kan?"
Senyuman penuh keyakinan itu terbentuk di bibir laki laki yang lebih tinggi, "Tidak pernah seserius ini sebelumnya"
Butuh waktu mencintai seseorang dan meyakini diri sendiri bahwa yang ia rasakan adalah cinta dan setelah kita mengungkapkannya, maka perasaan itu bukanlah suatu hal individual yang dapat dijaga seorang diri melainkan hal yang harus ditanggung bersama, entah dijaga atau malah dihancurkan.
Namun Ten terlanjur mempercayai seorang Lee Taeyong untuk menjaganya. Bahkan sejak awal dan hingga saat ini, tidak pernah berubah, malah semakin menggebu gebu.
"Tentu saja" Ten mengangguk dengan semburat pink di pipinya. "I'm yours"
Senyuman yang terbentuk di bibirnya langsung dihantam dengan sebuah ciuman. Tangan Ten yang tiba tiba menangkup kedua sisi wajah Taeyong sementara tangannya melingkar dengan pasti di pinggang Ten.
Dengan sebuah langit merah muda ungu dan gedung gedung sebagai saksi mereka, menikmati setiap sentuhan kecil yang masing masing berikan. Bahkan ketika ciuman itu lepas dengan benang saliva yang masih menyambungkan mereka, Ten bisa melihat sorot kebahagiaan dari mata seorang Lee Taeyong. Mata yang awalnya begitu menghakimi dirinya saat mengusirnya setahun yang lalu.
Begitu pula dengan dirinya sendiri. Ten bisa merasakan bagaimana emosi yang memaksanya untuk berteriak senang kian meletup letup seperti sebuah popcorn di dalam hatinya meski awalnya hati itu berseru bahwa dia tidak akan pernah menyukai seorang Lee Taeyong.
Namun kenyataannya dia melakukannya. Menghadiahkan hatinya yang sudah ia jaga dengan baik kepada Taeyong.
And Ten knows its no one but him. Its always been him.
.
.
.
a.n: ini dia final chapternya! 12 chapters buat piece of mine *sobbing* Tinggal epilogue di minggu depan (atau lebih kalau aku ternyata ada ulangan :/)
Terima kasih banyak buat kalian semua yang sudah setia menunggu cerita ini setiap Selasanya!
Don't forget to follow, fav & review!
Jangan lupa epilogue, ya minggu depan HAHAHA. See ya~
