Fifty Shades of Darker
HAEHYUK
.
FIFTY SHADES OF DARKER
© E. L. James
REMAKE
senavensta
Genre: Romance/Drama
Cast:
Lee Hyukjae
Lee Donghae
Kim Jongkook Lee Sungmin
Cho Kyuhyun Kim Hyuna
Ahn Chilhyun(Kangta) Kwon Boa
Hangeng Kim Heechul
Kim Taeyeon Tiffany Hwang
Kim Youngwoon Kim Jungmo
Jang Hyunseung Kim Ryeowook
Jessica Jung Park Jungsoo
Shin Donghee Choi Siwon
Taylor Martini Gail Jones
Choi Minho Kim Jaekyung
yang lain nyusul
.
Warn: Remake, BL/Boys Love, OOC, Typo(s).
Perubahan nama keluarga (marga) dan tempat, lokasi gedung, langsung didalam cerita, sengaja gak aku tulis dicast satu-satu karena nanti kepenuhan hahaha
Yang tidak suka hal-hal berbau remake, gak perlu maksain diri buat baca(?).
Daftar istilah ada dibagian paling akhir –kalo ada(?).
.
Wanna RnR?
.
.
Fifty Shades of Darker
.
Hyukjae mengikuti Donghae masuk kedalam kabin. Sebuah sofa dengan bahan kulit krem berbentuk L tepat di depan mereka, dan di atasnya ada jendela lengkung yang sangat besar memperlihatkan pemandangan panorama Wangsan.
Di sebelah kiri adalah area dapur yang sangat nyaman, semua terbuat dari kayu berwarna pucat.
"Ini adalah bar utama. Di sampingnya dapur," kata Donghae, melambaikan tangannya ke arah dapur.
Ia mengambil tangan Hyukjae dan membawa Hyukjae melewati kabin utama.
Itu semua sangat luas. Lantainya dari kayu pale yang sama. Tampak modern dan rapi dan ada lampunya, bernuansa sejuk, tapi semuanya sangat fungsional, seolah-olah mereka tidak menghabiskan banyak waktu di sini.
"Kamar mandi di salah satu pintu ini," Donghae menunjuk dua pintu, kemudian membuka pintu kecil yang bentuknya aneh persis di depan mereka dan melangkah masuk.
Mereka berada dalam kamar tidur mewah. Kabinnya berisi tempat tidur king size dan spreinya berwarna biru pucat dan tempat tidur terbuat dari kayu pale seperti di Galleria Foret.
Tentu saja Donghae memilih tema dan mencocokkannya untuk itu.
"Ini adalah kabin nahkoda," Donghae menatap ke arah Hyukjae, mata coklat-gelapnya bersinar.
"Kau orang pertama yang berada disini, selain keluargaku," ujar Donghae nyengir, "Mereka tidak masuk hitungan."
Muka Hyukjae memerah di bawah tatapan panas Donghae, dan denyut nadinya bertambah cepat.
Dia orang pertama dari yang lain.
Donghae menarik Hyukjae ke dalam pelukannya, jari-jarinya mengacak-acak rambut Hyukjae, dan menciumnya, lama dan keras.
Mereka berdua terengah-engah ketika Donghae menarik diri.
"Mungkin kita harus meresmikan ranjang ini," bisik Donghae didepan mulut Hyukjae.
Oh, di laut.
"Tapi tidak sekarang. Ayo, Mac akan menarik jangkar."
Hyukjae berusaha mengabaikan kekecewaan yang menusuk saat Donghae meraih tangannya dan menuntunnya kembali melewati bar.
Donghae menunjukkan pintu lain, "Kantor di sana, dan di depan sini ada dua kabin lagi."
"Jadi berapa banyak yang bisa tidur di kapal?"
"Ada enam berth (tempat tidur tingkat di kapal/kereta api). Aku hanya pernah mengajak keluargaku sendiri di kapal ini. Meskipun aku ingin berlayar sendirian. Tapi tidak saat kau di sini. Aku perlu mengawasimu."
Donghae membuka lemari dan menarik keluar sebuah baju pelampung merah terang, "Sini."
Memasukkan pelampung dari atas kepala Hyukjae, Donghae mengencangkan semua tali, sebuah senyum samar-samar bermain di bibirnya.
"Kau menyukai aku mengikatanmu, bukan?"
"Dalam bentuk apapun," lanjut Donghae, seringai jahat bermain-main di bibirnya.
"Pikiranmu mesum."
"Aku tahu," Donghae mengangkat alisnya dan senyumnya melebar.
"Mesumku," bisik Hyukjae.
"Ya, milikmu."
Setelah pelampung benar-benar terikat, Donghae memegang sisi jaket dan mencium Hyukjae. "Selalu," Donghae menarik nafas, kemudian melepaskan Hyukjae sebelum Hyukjae punya kesempatan untuk merespon.
"Ayo," Donghae meraih tangan Hyukjae dan menuntunnya keluar, naik beberapa langkah, dan memasuki dek atas menuju kokpit yang sempit, di ruangan itu ada roda kemudi kapal yang besar dan kursi tinggi.
Di haluan kapal, Mac sedang melakukan sesuatu dengan tali.
"Ditempat inikah kau belajar semua trik talimu?" tanya Hyukjae pada Donghae dengan polos.
"Menyimpulkan tali dengan kencang sudah terbukti sangat berguna," kata Donghae, menatap Hyukjae menilai.
"Tuan Lee Hyukjae, kedengarannya kau sangat penasaran. Aku suka rasa ingin tahumu, sayang. Aku lebih dari senang untuk mendemonstrasikan apa yang bisa aku lakukan dengan tali itu," Donghae menyeringai ke arah Hyukjae, dan Hyukjae memandang Donghae kembali tanpa ekspresi seolah-olah Donghae tadi kesal padanya.
Raut wajah Donghae segera berubah.
"Kena kau," Hyukjae menyeringai.
Mulut Donghae berputar dan dia menyipitkan matanya, "Aku mungkin harus menghadapimu nanti, tapi sekarang, aku harus mengemudikan kapalku."
Kemudian Donghae duduk di tempat kontrol, menekan tombol, dan suara mesin menderu menyala.
Mac bergerak dengan berlari cepat kembali ke sisi kapal, menyeringai ke arah Hyukjae, dan melompat turun ke dek bawah dimana ia mulai melepas talinya. Mungkin Mac juga tahu beberapa trik tali.
Hyukjae merasa malu memikirkan itu.
Donghae mengangkat mic radio panggil untuk berkomunikasi dengan penjaga pantai saat Mac menyatakan mereka siap berangkat.
Sekali lagi, Hyukjae terpesona oleh keahlian Donghae. Donghae begitu kompeten. Hampir tak ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh Donghae.
Tapi Hyukjae langsung ingat upaya sungguh-sungguh Donghae untuk memotong dadu paprika di apartemennya pada hari Jumat. Pikiran itu membuat Hyukjae tersenyum.
Donghae mengerakkan perlahan-lahan The Kwonb keluar dari dermaga dan menjauhi pintu masuk Wangsan.
Di belakang mereka, ada sedikit orang-orang berkumpul di dermaga untuk menonton keberangkatan mereka.
Anak-anak kecil melambaikan tangan, dan Hyukjae balas melambai.
Donghae melirik dari atas bahunya, kemudian menarik Hyukjae untuk duduk diantara kakinya dan menerangkan dengan cepat berbagai gadget di kokpit.
"Pegang roda kemudinya," perintah Donghae, sifat bossy-nya seperti biasa, tapi Hyukjae melakukan apa yang dia katakan.
"Aye, aye, kapten!" Hyukjae tertawa.
Meletakkan tangannya tepat di atas tangan Hyukjae, Donghae terus mengarahkan tentu saja mereka keluar dari Wangsan, dan dalam beberapa menit, mereka berada di laut lepas, memukul-mukul kedalam laut biru yang dingin.
Menjauh dari dinding pelindung tempat penampungan Wangsan, angin bertambah kuat, hempasan dan gulungan laut di bawah kapal mereka. Hyukjae tidak bisa untuk tidak menyeringai, merasakan gairah Donghae, rasanya sangat menyenangkan.
Mereka membuat putaran besar sampai mereka mengarah ke barat, angin di belakang mereka.
"Waktunya berlayar," kata Donghae, bersemangat.
"Sini, kau pegang sendiri. Tentu saja terus pertahankan kapal ini," Donghae menyeringai, reaksi ngeri langsung muncul di wajah Hyukjae.
"Sayang, ini sangat mudah. Tahan kemudi itu dan pertahankan matamu pada cakrawala diatas haluan. Kamu bisa melakukannya dengan baik, kau selalu bisa melakukan apapun. Ketika layar naik, kau akan merasa ditarik. Cukup tahan supaya dia stabil. Aku akan memberi sinyal seperti ini–" Donghae membuat gerakan seperti memotong tenggorokannya, "dan kau dapat mematikan mesinnya. Tombolnya di sini," Donghae menunjuk tombol hitam yang besar. "Paham?"
"Ya," Hyukjae mengangguk panik, merasa panik.
Donghae mencium Hyukjae cepat, kemudian ia turun dari kursi kapten dan berjalan ke depan kapal untuk bergabung dengan Mac yang sedang mulai membentangkan layar, melepas tali, dan mengoperasikan kerekan dan katrol.
Mereka bekerja sama dengan baik sebagai tim, berteriak dengan berbagai istilah bahari satu sama lain, dan itu membuat Hyukjae panas karena melihat Donghae berinteraksi dengan orang lain sedemikian rupa hingga Donghae menjadi ceria.
Mungkin Mac adalah teman Donghae.
Donghae sepertinya tidak punya banyak teman, sejauh yang Hyukjae tahu, tapi kemudian, Hyukjae ingat kalau dirinya juga tidak memiliki teman banyak.
Yah, tidak punya di sini, di Seoul.
Satu-satunya teman yang Hyukjae miliki sekarang sedang liburan berjemur diri di St. James, pantai barat Barbados.
Tiba-tiba Hyukjae merasa seperti tersengat saat mengingat Sungmin. Ia merindukan teman sekamarnya lebih dari yang dipikirkan saat Sungmin pergi.
Hyukjae berharap Sungmin berubah pikiran dan pulang dengan kakaknya, Hyunseung, daripada memperpanjang liburannya dengan Kyuhyun –saudara Donghae.
Donghae dan Mac menaikkan layarnya. Layar terbentang penuh dan menggelembung keluar saat angin berusaha merebut itu dengan lapar, dan kapal tiba-tiba bergerak maju, melesat ke depan.
Hyukjae merasakan itu pada roda kemudinya.
Mereka bisa menaikkan headsail, dan Hyukjae menyaksikan dengan terpesona saat headsail berkibar diatas tiang. Angin menangkap itu, membentang kencang.
"Tahan supaya stabil, sayang, dan matikan mesinnya!" Donghae berteriak kepada Hyukjae diantara deru angin, memberinya isyarat untuk mematikan mesinnya.
Hyukjae hanya bisa mendengarkan suaranya saja, tapi Hyukjae mengangguk antusias, menatap pria yang ia cintai, seluruh tubuh Donghae tersapu angin, gembira, dan mempertahankan diri terhadap hempasan dan olengnya kapal.
Hyukjae menekan tombol, deru mesin langsung berhenti, dan The Kwonb melesat menuju barat, meluncur melintasi air seolah-olah dia terbang. Hyukjae ingin berteriak dan bersorak karena itu pasti menjadi salah satu pengalaman yang paling menggembirakan dalam hidupnya.
Hyukjae berdiri tegak, mencengkeram roda kemudi, berusaha menahannya dan Donghae berada di belakang Hyukjae sekali lagi, tangannya di atas tangan Hyukjae.
"Bagaimana menurutmu?" teriak Donghae di antara deru angin dan ombak.
"Donghae! Ini semua fantastis."
Donghae berseri-seri, tersenyum lebar, telinganya menempel di telinga Hyukjae.
"Coba kau tunggu sampai sampai spinneynya naik," Donghae menunjukkan dengan dagunya ke arah Mac, yang sedang membentangkan spinnaker, sebuah layar warna merah penuh, itu warna sebuah kegelapan. Yang mengingatkan Hyukjae pada dinding di ruang bermain Donghae.
"Warna yang menarik," teriak Hyukjae.
Donghae memberi Hyukjae senyum licik dan mengedipkan mata.
Oh, itu disengaja.
Balon-balon spinney mengelembung besar, bentuknya aneh seperti elips, membuat The Kwonb bertambah kecepatannya. Menemukan arahnya, dia berkecepatan diatas suara.
"Layar asimetris. Untuk mempercepat," Donghae menjawab pertanyaan Hyukjae yang tak terucap.
"Sungguh menakjubkan," Hyukjae memiliki senyum paling konyol di wajahnya saat mereka bergerak diatas air, menuju kemegahan pegunungan, entah pegunungan mana Hyukjae tak tau.
Melihat kebelakang, Hyukjae dapat melihat Seoul mengecil di belakang mereka, di kejauhan.
Hyukjae belum pernah benar-benar menghargai betapa indahnya hamparan pemandangan di sekeliling Seoul, hijau, subur, dan tenang, pepohonan yang tinggi dan tebing menjorok di sana-sini. Semua itu liar tapi keindahannya tenang diatas kemilaunya sore yang cerah.
Ketenangannya sangat menakjubkan dibandingkan dengan kecepatan mereka saat mereka bergerak melintasi air.
"Berapa kecepatannya bergerak?"
"Dia bergerak 15 knot."
"Aku tak tahu apa artinya."
"Ini sekitar 17 mil per jam."
"Apakah hanya segitu? Rasanya ini jauh lebih cepat."
Donghae meremas tangan Hyukjae sambil tersenyum, "Kau tampak manis, Hyukjae. Ada baiknya untuk melihat beberapa warna di pipimu, dan itu bukan dari warna merah karena malu. Kau terlihat seperti kau yang ada di foto Kangin."
Hyukjae berbalik dan mencium Donghae, "Kau tahu bagaimana menunjukkan pada seseorang sepertiku hal-hal yang menyenangkan, Mr. Lee."
"Kita memang bertujuan untuk saling menyenangkan, Tuan Lee Hyukjae."
Donghae mengusap rambut Hyukjae dan mencium belakang leher Hyukjae, mengirim kelezatan yang menggelitik dibawah tulang punggung Hyukjae.
"Aku suka melihatmu bahagia," bisik Donghae dan mengencangkan pelukannya di sekeliling Hyukjae.
Hyukjae menatap keluar diatas birunya lautan yang luas, bertanya-tanya apa yang mungkin Hyukjae lakukan di kehidupan sebelumnya untuk memiliki senyum keberuntungan dan mengirimkan Donghae kepadanya.
Hyukjae beruntung.
.
Fifty Shades of Darker
.
Satu jam kemudian, mereka berlabuh di teluk kecil, tempat terpencil seperti Pulau Bainbridge.
Mac telah pergi ke daratan dengan perahu karet, entah untuk apa, jadi Hyukjae merasa curiga karena begitu Mac menyalakan mesin tempel di perahu karetnya, Donghae meraih tangan Hyukjae dan dengan praktis menyeret Hyukjae masuk ke kabinnya.
Sekarang Donghae berdiri di depan Hyukjae, memancarkan sensualitasnya yang memabukkan saat jari terlatihnya membuka tali jaket pelampung Hyukjae dengan cepat. Ia melemparkannya ke salah satu tempat dan menatap Hyukjae penuh perhatian, matanya gelap, membesar.
Hyukjae sudah tersesat padahal Donghae sama sekali belum menyentuhnya.
Donghae mengangkat tangannya ke wajah Hyukjae, dan jari-jarinya bergerak turun ke dagu Hyukjae, sepanjang tenggorokan, tulang dada, membakar Hyukjae dengan sentuhannya, sampai kancing pertama blus biru yang Hyukjae pakai.
"Aku ingin melihatmu," Donghae menarik nafas, dengan terampil melepas kancing itu. Membungkuk, ia menanamkan ciuman lembut di bibir Hyukjae yang terbuka.
Hyukjae terengah-engah dan bergairah, terangsang oleh pengaruh dari kombinasi antara keindahan Donghae yang memikat, seksualitas tubuhnya di dalam kungkungan kabin ini, dan goyangan lembut kapal Donghae.
Donghae berdiri kembali. "Lepaskan pakaianmu untukku," bisiknya, matanya terbakar. Dan tentu saja Hyukjae begitu senang untuk mematuhinya.
Tanpa melepas tatapan, perlahan Hyukjae melepaskan kancing satu persatu, menikmati tatapan panas Donghae.
Oh, itu adalah hal yang memabukkan.
Hyukjae bisa melihat gairah Donghae karena itu terlihat jelas di wajahnya, dan di tempat lain. Hyukjae membiarkan bajunya jatuh ke lantai dan meraih kancing jeans.
"Stop," perintah Donghae, "Duduklah."
Hyukjae duduk di tepi tempat tidur, dan dalam satu gerakan Donghae berlutut di hadapan Hyukjae, menguraikan salah satu tali sepatu Hyukjae kemudian sepatu yang satunya lagi, menariknya satu persatu, diikuti dengan kaus kakinya.
Donghae mengambil kaki kiri Hyukjae dan menaikkannya, menamankan ciuman lembut dibelakang ibu jarinya, lalu mengigitnya.
"Ah!" Hyukjae mengerang saat ia merasakan efeknya di pangkal pahanya.
Donghae berdiri dengan satu gerakan tegas, tangannya memegang Hyukjae, dan menarik Hyukjae bangkit dari tempat tidur.
"Lanjutkan," kata Donghae dan berdiri, mundur kebelakang untuk menonton Hyukjae.
Perlahan-lahan Hyukjae menggeser ritsleting jeans yang ia kenakan kebawah dan mengaitkan ibu jarinya di bagian ikat pinggang celana itu kemudian mendorong jeans turun sampai kakinya.
Senyum lembut bermain di bibir Donghae, tapi matanya masih gelap.
Dan Hyukjae tak tahu apakah itu karena bercinta dengannya tadi pagi, dengan lembut, dengan manis, atau yang lain tapi yang jelas Hyukjae tidak merasa malu sama sekali. Ia malah ingin menjadi seksi untuk Donghae karena menurutnya Donghae layak melihat keseksian dirinya.
Oke, semua ini baru bagi Hyukjae, tapi ia belajar di bawah pengawasan pakarnya.
Dan sekali lagi, begitu banyak yang baru bagi Donghae juga. Itu seperti menyeimbangkan permainan jungkat-jungkit di antara mereka.
Hyukjae mengenakan beberapa pakaian dalam barunya, celana thong putih merek desainer terkenal dengan harga yang sangat mahal. Ia melangkah keluar dari celana jeansnya dan berdiri di sana untuk Donghae dalam balutan yang Donghae bayar, tapi Hyukjae tidak lagi merasa murahan.
Hyukjae merasakan Donghae.
Perlahan, Hyukjae menurunkan celana dalamnya, membiarkannya jatuh ke pergelangan kakinya, dan melangkah keluar darinya.
Donghae terkejut oleh keanggunan Hyukjae.
Berdiri di hadapan Donghae, Hyukjae telanjang dan tidak merasa malu, dan Hyukjae tahu itu karena Donghae mencintainya. Hyukjae tidak lagi harus bersembunyi.
Donghae tak mengatakan apapun, hanya menatap ke arah Hyukjae. Sehingga yang Hyukjae lihat adalah gairahnya, bahkan kekagumannya, dan sesuatu yang lain, kebutuhannya begitu dalam.
Tangan Donghae ke bawah, mengangkat ujung sweaternya yang berwarna biru gelap, dan menarik itu ke atas kepalanya, diikuti dengan T-shirtnya, menyingkapkan dadanya, mata coklat-gelapnya yang tegas tak pernah lepas menatap Hyukjae.
Sepatu dan kaus kakinya dilepas sebelum ia memegang kancing celana jinsnya.
Sebelum Donghae melepas kancingnya, Hyukjae berbisik, "Biarkan aku melepasnya."
Bibir Donghae mengatup sebentar lalu membentuk kata ooh, dan dia tersenyum, "Silahkan saja."
Hyukjae melangkah ke arah Donghae, menyelipkan jari tanpa rasa takut di ban pinggang celana jins Donghae, dan menariknya jadi Donghae terpaksa untuk mengambil langkah lebih dekat kepadanya. Donghae terengah-engah tanpa sadar atas keberanian Hyukjae yang tak terduga, kemudian tersenyum ke arahnya.
Hyukjae melepaskan kancing, tapi sebelum Hyukjae membuka ritsleting Donghae, Hyukjae membiarkan jari-jarinya mengembara, menelusuri bagian tubuh Donghae yang mengeras dibalik jeansnya yang lembut.
Donghae segera melenturkan pinggulnya, mengarahkan ke telapak tangan Hyukjae dan sekilas menutup matanya, menikmati sentuhan Hyukjae.
"Kau semakin berani, Hyukkie, sangat berani," bisik Donghae dan menjepit wajah Hyukjae dengan kedua tangannya, membungkuk dan mencium Hyukjae dalam-dalam.
Hyukjae meletakkan tangannya di pinggul Donghae, setengah pada kulit dinginnya dan setengah lagi di ikat pinggang celana jinsnya.
"Kau juga," bisik Hyukjae di bibir Donghae saat ibu jarinya menggosok pelan-pelan membuat lingkaran diatas kulit Donghae.
Donghae tersenyum, "Menuju kesana."
Hyukjae menggerakkan tangannya ke bagian depan celana jins Donghae dan menurunkan ritsletingnya.
Jari pemberani Hyukjae bergerak melewati rambut pubis menuju bagian tubuh Donghae yang mengeras, dan Hyukjae menggenggamnya erat-erat.
Donghae mengeluarkan suara rendah di tenggorokannya, napasnya wangi menghanyutkan Hyukjae, dan ia mencium Hyukjae lagi, dengan penuh cinta.
Saat tangan Hyukjae bergerak di atasnya, di sekelilingnya, membelainya, meremasnya erat-erat, Donghae menempatkan tangannya di sekeliling Hyukjae, tangan kanannya menempel rata ditengah-tengah punggung Hyukjae dan jari-jarinya menyebar. Tangan kirinya di rambut Hyukjae, menahan kepala Hyukjae dekat dengan mulutnya.
"Oh, aku sangat menginginkanmu, sayang," Donghae menarik nafas, dan tiba-tiba melangkah mundur untuk melepaskan celana jeans dan boxernya dalam satu gerakan cepat, lincah.
Donghae begitu indah, pemandangan yang sangat indah walaupun saat keluar dari pakaian, setiap inci dari dirinya.
Donghae adalah kesempurnan. Keindahannya hanya dinodai oleh bekas lukanya. Dan lukanya jauh lebih dalam dari sekedar kulitnya.
"Ada apa, Hyukkie?" bisik Donghae dan dengan lembut membelai pipi Hyukjae dengan buku jarinya.
"Tidak ada apa-apa. Cintailah aku, sekarang."
Donghae menarik Hyukjae ke dalam pelukannya, mencium, memutar tangannya diatas rambut Hyukjae.
Lidah mereka terjalin, Donghae berjalan mengarahkan Hyukjae mundur ke tempat tidur dan dengan lembut menurunkan Hyukjae diatasnya, mengikuti Hyukjae turun hingga ia berbaring di samping Hyukjae.
Donghae menjalankan hidungnya di sepanjang rahang Hyukjae saat tangan Hyukjae pindah ke rambutnya.
"Apakah kau tahu bagaimana istimewanya aromamu, Hyukkie? Ini tak tertahankan."
Darah Hyukjae serasa terbakar, mempercepat denyut nadinya, dan Donghae menjalankan hidungnya menuruni jakun Hyukjae, melintasi dada Hyukjae, menciumnya dengan penuh hormat saat melakukannya.
"Kau begitu manis," bisik Donghae, sambil mencium salah satu puting Hyukjae dan dengan lembut menghisapnya.
"Hhh–" Hyukjae mengerang gelisah saat tubuhnya melengkung menjauh dari tempat tidur.
"Biarkan aku mendengar suaramu, sayang," Tangan Donghae berjalan turun ke pinggang Hyukjae, mulutnya yang lapar di puting Hyukjae dan jari panjangnya yang sangat terlatih membelai dan mengusap Hyukjae, menyayanginya.
Kemudian berpindah menelusuri atas pinggul Hyukjae, diatas pantat, dan menuruni kaki menuju lutut, dan selama itu Donghae lakukannya sambil tetap mencium dan mengisap puting Hyukjae.
Merenggut lutut Hyukjae, tiba-tiba Donghae menyentak kaki Hyukjae keatas, melingkarkan kaki mulus Hyukjae diatas pinggulnya, membuat Hyukjae berhasrat, dan Hyukjae merasakan Donghae merespon sambil menyeringai dikulitnya.
Donghae berguling sehingga Hyukjae duduk diatasnya dan mengulurkan sebuah paket foil.
Hyukjae bergeser mundur, mengambilnya dengan tangan, dan Hyukjae tidak bisa menolak Donghae diatas segala keindahannya. Hyukjae membungkuk dan mencium Donghae, membawanya memasuki mulut, memutar-mutarkan lidah di sekeliling Donghae, kemudian mengisap dengan keras.
Donghae mengerang dan melenturkan pinggulnya hingga ia semakin dalam di mulut Hyukjae.
"Mmmh… Terasa nikmat," Hyukjae ingin Donghae didalam dirinya. Jadi Hyukjae duduk dan menatapnya; Donghae terengah-engah, mulutnya terbuka, mengawasi Hyukjae dengan penuh perhatian.
Dengan terburu-buru Hyukjae merobek, membuka kondom dan menggulungkan itu di atas penis Donghae.
Donghae mengulurkan tangannya pada Hyukjae. Jadi Hyukjae mengambil uluran tangan Donghae dengan tangannya yang lain, menempatkan diri di atas Donghae, lalu perlahan-lahan mengklaim Donghae sebagai miliknya.
Donghae mengerang pelan di tenggorokannya, menutup matanya. Merasakan dirinya berada didalam diri Hyukjae, mereggangkan, mengisi Hyukjae.
"Ohh–" Hyukjae mengerang dengan lirih, rasanya seperti di surga.
Donghae menempatkan tangannya di atas pinggul Hyukjae dan menggerakkan Hyukjae ke atas, kebawah, dan mendorong penisnya semakin ke dalam diri Hyukjae.
"Ohh Dongha– ungh– Donghae rasanya begitu nikmat."
"Ahh, Sayang," bisik Donghae, dan tiba-tiba dia duduk hingga hidung mereka saling menyentuh, dan sensasinya dalam diri Hyukjae luar biasa, begitu penuh.
Hyukjae terengah-engah, mencengkeram lengan atas Donghae saat dia meremas kepala Hyukjae dengan tangannya dan mata coklat-gelapnya menatap ke dalam mata Hyukjae dengan intens, membakar penuh gairah.
"Oh, Hyukkie. Apa yang kau perbuat hingga aku merasakan ini," Donghae berbisik dan mencium Hyukjae penuh gairah dengan semangat yang kuat. Hyukjae membalas ciumannya, pusing dengan perasaan nikmat dari diri Donghae yang terkubur di dalam dirinya.
"A-ahh, aku mencintaimu," bisik Hyukjae.
Donghae mengerang seolah-olah menyakitkan mendengar bisikkan kata-kata Hyukjae dan berguling, membawa Hyukjae bersamanya, tanpa melepaskan keintiman mereka yang nikmat itu, sampai Hyukjae berbaring dibawahnya.
Hyukjae membungkus kakinya di sekeliling pinggang Donghae.
Donghae menatap ke arah Hyukjae memuja dengan kagum, dan Hyukjae yakin Hyukjae juga meniru ekspresinya saat Hyukjae meraihnya untuk membelai wajah tampannya.
Sangat perlahan, Donghae mulai bergerak, menutup matanya saat ia melakukan itu dan mengerang dengan lembut.
Goyangan lembut perahu, kedamaian dan ketenangan yang sepi dikabin hanya dirusak oleh campuran tarikan napas mereka saat Donghae bergerak perlahan masuk dan keluar dari dalam diri Hyukjae, begitu terkontrol dan begitu nikmat, terasa seperti disurga.
Donghae menempatkan salah satu tangannya di atas kepala Hyukjae, tangannya di rambut Hyukjae, dan dia membelai wajah Hyukjae dengan tangan yang satunya saat ia membungkuk untuk mencium Hyukjae.
Donghae membungkus Hyukjae seperti kepompong, karena ia mencintai Hyukjae, sambil perlahan-lahan bergerak masuk dan keluar, Hyukjae menikmati itu.
Napas Hyukjae bertambah cepat saat irama Donghae terus menerus mendorong Hyukjae, lebih cepat dan semakin lebih cepat lagi.
Donghae mencium mulut, dagu, rahang, kemudian menggigit daun telinga Hyukjae.
Hyukjae bisa mendengar napas pendek Donghae dengan setiap dorongan lembut dari tubuhnya.
Tubuh Hyukjae mulai bergetar, ia sudah begitu dekat.
"Aahh!"
"Benar, sayang– Berikan padaku– Kumohonn, Hyukkie," gumam Donghae dan kata-katanya adalah kehancuran Hyukjae.
"Ahh– Donghae aku– aku kel– DONGHAEEEE!" Hyukjae berteriak dengan mata yang terpejam hampir menangis, dan Donghae mengerang saat mereka berdua datang bersama.
.
Fifty Shade of Darker
.
"Mac akan segera kembali," bisik Donghae.
"Hmm." Mata Hyukjae berkedip terbuka untuk bertemu dengan tatapan lembut mata coklat-tua Donghae.
Mata Donghae adalah warna yang menakjubkan, terutama di situ, diatas laut, mencerminkan sinar yang memantul diatas permukaan air melalui jendela kecil di dalam kabin.
"Sepertinya aku menyukai berbaring di sini bersamamu sepanjang sore, dia akan butuh bantuan dengan perahu itu," Membungkuk, Donghae mencium Hyukjae mesra.
"Hyukkie, kau terlihat begitu manis sekarang, semuanya acak-acakan dan seksi. Membuatku semakin menginginkanmu." Donghae tersenyum dan bangun dari tempat tidur.
Hyukjae berbaring miring menghadapnya sambil mengagumi pemandangan itu.
"Kau sendiri tidak begitu buruk, kapten," Hyukjae mengecap bibirnya terpesona dan Donghae menyeringai.
Hyukjae menonton Donghae bergerak dengan luwes di sekitar kabin sambil mengenakan pakaiannya. Dia benar-benar sangat tampan, dan terlebih lagi, dia baru saja bercinta dengan Hyukjae, penuh gairah.
Hyukjae hampir tak percaya dengan keberuntungan yang ia miliki.
Ia tidak bisa percaya bahwa Donghae miliknya.
Donghae duduk di samping Hyukjae untuk memakai sepatunya.
"Kapten, eh?" katanya datar. "Yah, aku adalah master kapal ini."
Hyukjae memiringkan kepala ke satu sisi, "Kau adalah master hatiku, Mr. Lee."
"–Dan tubuhku… dan jiwaku."
Donghae menggeleng tak percaya dan membungkuk untuk mencium Hyukjae.
"Aku akan berada di dek. Ada shower di kamar mandi jika kau ingin mandi. Apa kau perlu sesuatu? Minum?" tanya Donghae dengan sopan, dan semua yang bisa Hyukjae lakukan adalah tersenyum padanya.
Jelas Donghae yang sekarang sangat berbeda dengan Donghae yang lalu.
"Apa?" kata Donghae, bereaksi terhadap seringai konyol Hyukjae.
"Kau."
"Ada apa denganku?"
"Siapa kau dan apa yang telah kau lakukan dengan Donghae yang dulu?"
Bibir Donghae berkedut dengan senyum sedih.
"Dia tidak terlalu jauh, sayang," katanya lembut, dan ada sentuhan kesedihan dalam suaranya yang membuat Hyukjae langsung menyesal mengajukan pertanyaan itu. Tapi Donghae seperti berusaha menyingkirkannya.
"Kau akan melihat dia segera," Donghae menyeringai ke arah Hyukjae, "terutama jika kau tidak segera bangun."
Meraih keatas, Donghae memukul pantat Hyukjae dengan keras, dan Hyukjae menjerit dan tertawa pada saat yang sama.
"Kau terlalu mengkhawatirkanku."
"Apa iya, sekarang?" Alis Donghae mengkerut. "Kau mengeluarkan beberapa sinyal yang beragam, Hyukjae. Bagaimana seorang pria sepertiku harus mengimbanginya?"
Donghae membungkuk kebawah dan mencium Hyukjae lagi, "Sampai nanti, sayang," tambahnya, dengan senyum mempesona, dia bangun dan meninggalkan Hyukjae dengan yang sedang berserakan pikirannya.
.
Fifty Shade of Darker
.
Ketika Hyukjae muncul di atas dek, Mac sudah kembali ke kapal, tapi dia menghilang ke dek atas saat Hyukjae membuka pintu bar.
Donghae dengan Apple-nya. Entah berbicara dengan siapa. Hyukjae hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.
Donghae berjalan kearah Hyukjae dan menariknya untuk mendekat, mencium rambut Hyukjae.
"Berita bagus… Baik. Yeah… Benarkah? Tangga darurat untuk kebakaran?... Oh, begitu… Ya, malam ini."
Donghae menekan tombol end, dan suara mesin menyala mengejutkan Hyukjae.
Pasti Mac yang berada didalam kokpit di atas.
"Waktunya pulang," kata Donghae, mencium Hyukjae sekali lagi saat ia mengikat tali jaket pelampung Hyukjae.
Matahari rendah di atas langit di belakang mereka ketika perjalanan pulang menuju Wangsan, dan Hyukjae merenung, sungguh betapa luar biasanya sore ini.
Dibawah perhatian Donghae, menjelaskan dengan sabar, Hyukjae sekarang tahu mengenai Mainsail, headsail, dan spinnaker dan pengetahuan tentang macam-macam ikatan: reef knot (simpul mati/pengunci), Clove hitch (simpul pangkal), dan sheep shank(simpul hidup). Bibir Donghae berkedut saat menerangkan itu.
"Aku bisa mengikatmu suatu hari nanti," gumam Hyukjae sambil mengeluh.
Mulut Donghae berputar dengan humor, "Kau harus menangkapku dulu, Tuan Lee."
Kata-kata Donghae mengingatkan kembali saat dia mengejar Hyukjae berputar-putar di apartemen, bergairah, namun sesudahnya sangat mengerikan.
Hyukjae mengerutkan kening dan bergidik. Karena setelah itu, ia meninggalkan Donghae.
Hyukjae menatap ke dalam mata coklat-gelap Donghae yang bening.
Hyukjae bingung dengan dirinya sendiri, apa ia bisa benar-benar meninggalkan Donghae lagi. Tapi tidak, ia berpikir ia tidak akan bisa.
Donghae kemudian mengajak Hyukjae tur yang lebih menyeluruh pada bagian dari kapal yang indah itu, menjelaskan semua desain yang inovatif dan juga teknisnya, dan bahan-bahan berkualitas tinggi yang digunakan untuk membangunnya.
Hyukjae jadi ingat wawancara dimana itu pertama kali ia bertemu dengan Donghae.
Saat itu Hyukjae mendengar Donghae begitu semangat menjelaskan tentang kapal. Ia pikir cinta Donghae pada lautan hanya untuk membangun perusahaan kargonya, bukan untuk kapal catamarans yang begitu keren.
Dan, tentu saja, Donghae membuat semuanya menjadi manis, cintanya untuk Hyukjae juga tidak terburu-buru.
Hyukjae menggelengkan kepala, mengingat tubuhnya saat ini sedang membungkuk dan ingin berada di bawah tangan ahlinya.
Donghae jelas adalah seorang kekasih yang luar biasa, Hyukjae yakin itu, meskipun tentu saja, Hyukjae tidak punya perbandingan. Walau Sungmin akan mengoceh lebih banyak jika hal itu selalu seperti ini, karena dia tidak suka untuk ada kerahasiaan.
"Tapi berapa lama ini akan cukup baginya?" Hyukjae hanya tidak tahu, pikiran itu yang mengerikan.
Sekarang Donghae duduk, dan Hyukjae berdiri di lingkaran aman dari lengannya selama beberapa jam, sepertinya nyaman, keheningan yang akrab saat The Kwonb meluncur mendekati dan lebih mendekati Seoul.
Hyukjae memegang roda kemudi, seringkali Donghae memberikan arahan tentang cara Hyukjae mengemudikan kapal itu.
"Ada puisi tentang orang berlayar yang setua dunia ini," bisiknya di telinga Hyukjae.
"Kedengarannya seperti sebuah kutipan."
Hyukjae merasakan seringai Donghae.
"Antoine de Saint-Exupéry."
"Oh… Aku mengagumi The Little Prince."
"Aku juga."
Ini adalah sore pertama sebagai Donghae, tangannya masih di atas tangan Hyukjae, mengarahkan mereka ke Wangsan.
Lampu berkedip dari kapal, terpantul dari air yang gelap, tapi masih terang –sinar sore yang nyaman, benar-benar seperti lagu pembuka untuk melihat pemandangan matahari terbenam yang spektakuler.
Kerumunan orang-orang berkumpul di dermaga saat Donghae perlahan-lahan memutar kapalnya di sekitar area yang relatif kecil. Ia melakukannya dengan mudah dan sama persis sewaktu memutar kapal dengan lancar dari dermaga yang mereka tinggalkan sebelumnya.
Mac melompat ke dermaga dan mengikat The Kwonb dengan kencang ke sebuah tonggak.
"Sudah sampai," bisik Donghae.
"Terima kasih," gumam Hyukjae malu-malu. "Sore ini sangat sempurna."
Donghae menyeringai, "Aku pikir juga begitu. Mungkin kau bisa mendaftarkan diri di sekolah berlayar, jadi kita bisa berlayar selama beberapa hari, hanya kita berdua."
"Aku menyukai ide itu. Kita bisa meresmikan kamar tidurnya lagi dan lagi."
Donghae membungkuk dan mencium Hyukjae di bagian bawah telinga.
"Hmm… Aku akan menunggu untuk itu, Hyukjae," bisiknya, membuat satu persatu folikel rambut pada tubuh Hyukjae berdiri untuk memberi hormat. Hanya Donghae yang bisa melakukannya.
"Ayo, apartemen sudah bersih. Kita bisa kembali."
"Bagaimana dengan barang-barang kita di hotel?"
"Taylor sudah mengambilnya."
Hampir saja Hyukjae bertanya.
"Tadi, setelah ia memeriksa The Kwonb dengan tim-nya," Donghae menjawab pertanyaan Hyukjae yang belum terucap.
"Apa orang malang itu pernah tidur?"
"Dia tidur." Donghae seperti biasa menarik salah satu alisnya kearah Hyukjae, bingung. "Dia hanya melakukan pekerjaannya, Hyukjae, dia sangat kompeten. Beruntung aku bisa bertemu dengan Jason."
"Jason?"
"Jason Taylor."
Hyukjae teringat pernah berpikir bahwa Taylor adalah nama depannya. Jason. Cocok juga untuk Taylor, sangat solid, dapat diandalkan.
Untuk beberapa alasan, itu membuat Hyukjae tersenyum.
"Kau menyukai Taylor," kata Donghae, menatap Hyukjae dengan spekulasi. Pertanyaannya seperti mencurigai Hyukjae.
"Aku rasa ya."
Donghae mengerinyit.
"Aku tidak terpikat padanya, kalau itu sebabnya kau mengerutkan kening. Hentikan."
Donghae hampir merengut -merajuk. Kadang-kadang dia seperti anak kecil.
"Aku pikir Taylor begitu karena kau sangat baik padanya. Itulah mengapa aku menyukainya. Tampaknya dia sopan, dapat diandalkan dan sangat loyal. Aku pikir dia memiliki daya tarik seperti kebapakan."
"Seperti kebapakan?"
"Ya."
"Oke, seperti kebapakan," Donghae sedang memikirkan arti kata itu.
Hyukjae tertawa, "Oh, demi Tuhan, Donghae, dewasalah."
Mulut Donghae menganga, terkejut dengan semburan Hyukjae, tapi kemudian ia mengerutkan kening seakan mempertimbangkan pernyataan Hyukjae.
"Aku akan mencoba," katanya pada akhirnya.
"Kau harus begitu. Sangat," jawab Hyukjae pelan tapi kemudian memutar mata pada Donghae.
"Kenangan apa yang muncul saat kau memutar mata kepadaku, Hyukjae," Donghae menyeringai.
Hyukjae balas menyeringai padanya, "Yah, jika kau menjaga sikapmu, mungkin kita bisa menghidupkan kembali beberapa kenangan itu."
Mulut Donghae berputar dengan humor. "Menjaga sikapku?" Donghae menaikkan alisnya, "Sungguh, Tuan Lee, apa yang membuatmu berpikir aku ingin menghidupkan kembali kenangan itu?"
"Mungkin dengan melihat matamu yang menyala seperti pohon natal ketika aku mengatakan itu."
"Kau sudah mengenalku lebih baik," kata Donghae datar.
"Aku ingin mengenalmu lebih baik lagi."
Donghae tersenyum lembut karena itu.
"Dan aku juga ingin mengenalmu lebih baik, Hyukjae."
.
Fifty Shade of Darker
.
"Terima kasih, Mac," Donghae menjabat tangan McConnell di anak tangga dermaga.
"Selalu menyenangkan, Mr Lee, dan selamat tinggal. Hyukkie, senang bertemu denganmu."
Hyukjae menjabat tangannya dengan malu-malu. Dia pasti tahu kalau Hyukjae dan Donghae bercinta di atas kapal ketika ia turun ke darat.
"Selamat malam, Mac, terima kasih."
Mac nyengir dan mengedipkan mata, membuat Hyukjae memerah.
Donghae mengambil tangan Hyukjae, dan mereka berjalan di dermaga menuju Wangsan.
"Darimana Mac berasal?" tanya Hyukjae, ingin tahu tentang aksennya.
"Irlandia… Irlandia bagian Utara," Donghae mengoreksinya.
"Apa dia temanmu?"
"Mac? Dia bekerja untukku. Membantu membangun The Kwonb."
"Apa kau punya teman banyak?"
Donghae mengernyit mendengar pertanyaan Hyukjae
"Tidak terlalu. Melakukan apa yang ingin aku lakukan membuatku tidak menjalin persahabatan. Hanya ada satu," Donghae berhenti, kerutan di dahinya semakin dalam, dan Hyukjae tahu kalau dia akan menyebutkan Mrs. Tiffany.
"Lapar?" tanya Donghae, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Hyukjae mengangguk. Memang, Hyukjae benar-benar sangat lapar sekarang.
"Kita akan makan di tempat meninggalkan mobil. Ayo."
Bersebelahan dengan SP, ada sebuah rumah makan kecil masakan Italia namanya Bee.
Mengingatkan Hyukjae pada tempat di Mokpo, ada beberapa meja dan booth (bangku/sofa panjang dengan sandaran), dekorasinya sangat tajam dan modern dengan sebuah foto festival pergantian abad warna hitam putih yang besar, berfungsi sebagai lukisan dinding.
Hyukjae dan Donghae duduk di booth, membaca menu dan menyesap anggur Frascati yang rasanya nikmat.
Ketika Hyukjae membaca menu, ia telah menetapkan pilihan, tapi tiba-tiba Donghae memandang padanya secara spekulatif.
"Apa?" tanya Hyukjae.
"Kau tampak manis, Hyukjae. Jalan-jalan keluar cocok untukmu."
Hyukjae memerah, "Terus terang aku merasa kulitku agak terbakar. Tapi aku punya sore yang indah. Sore yang sempurna. Terima kasih."
Donghae tersenyum, matanya yang menghangat. "Sama-sama," bisiknya.
"Bisakah aku menanyakan sesuatu?" Hyukjae memutuskan untuk menemukan misi dari otaknya yang sebenarnya.
"Apa saja, Hyukjae. Kau tahu itu," Donghae memiringkan kepalanya ke satu sisi, terlihat sangat menggiurkan.
"Kau sepertinya tidak memiliki banyak teman. Mengapa begitu?"
Donghae mengangkat bahu dan mengerutkan kening.
"Aku sudah bilang padamu, aku benar-benar tidak punya waktu. Aku memiliki rekan bisnis, meskipun aku rasa itu sangat berbeda dengan persahabatan. Aku memiliki keluarga dan hanya itu. Selain Tiffany."
Hyukjae mengabaikan sebutan 'bitch troll' dari dalam hatinya ketika ia mendengar Donghae menyebut nama Tiffany.
"Tidak ada teman pria yang seumuran denganmu yang bisa kau ajak keluar dan melepaskan ketegangan?"
"Kau tahu bagaimana aku ingin melepaskan ketegangan, Hyukjae." Donghae memutar mulutnya, "Dan aku juga bekerja, membangun bisnis."
Donghae tampak bingung untuk berpikir sebentar, "Itu saja yang aku lakukan, kecuali berlayar dan terbang sesekali."
"Bahkan di perguruan tinggi?"
"Benar-benar tidak."
"Hanya Tiffany?"
Donghae mengangguk, ekspresinya waspada.
"Pasti kesepian," ucap Hyukjae menahan diri.
Bibir Donghae melengkung dengan senyum agak muram.
"Apa yang ingin kau makan?" tanyanya, mengubah topik pembicaraan lagi.
"Aku ingin risotto."
"Pilihan yang bagus." Kemudian Donghae memanggil pelayan, mengatakan itu untuk mengakhiri percakapan itu.
Setelah mereka memesan, Hyukjae bergeser tidak nyaman di kursinya, menatap jarinya sendiri yang tersimpul. Jika Donghae lagi senang berbicara, Hyukjae perlu untuk mengambil kesempatan itu.
Hyukjae harus bicara dengan Donghae tentang harapan Donghae, tentang dia, kebutuhannya.
"Hyukjae, apa ada yang salah? Katakan padaku."
Hyukjae segera melirik ke wajah peduli Donghae.
"Katakan padaku," kata Donghae lebih tegas, dan kepeduliannya berkembang menjadi –takut? kemarahan?
Hyukjae menghela napas dalam-dalam, "Aku hanya khawatir bahwa hubungan ini tidak akan cukup untukmu. Kau tahu, untuk melepaskan ketegangan."
Rahang Donghae meregang dan matanya mengeras, "Apa aku memberimu indikasi bahwa hubungan ini tidak cukup?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau berpikir begitu?"
"Aku tahu kau seperti apa. Apa yang kau… um… kebutuhanmu," Hyukjae tergagap.
Donghae menutup matanya dan menggosok dahi dengan jari-jari panjangnya.
"Apa yang harus kulakukan?" Suaranya menakutkan lembut seolah-olah dia marah, dan itu menenggelamkan hati Hyukjae.
"Tidak, Donghae jangan salah paham, kau sangat luar biasa, dan aku tahu itu baru beberapa hari saja, tapi aku harap aku tidak memaksamu menjadi seseorang yang bukan dirimu sendiri, menjadi orang lain."
"Aku masih aku, Hyukjae, dengan semua Fifty Shades-ku yang sangat kacau. Ya, memang aku harus melawan dorongan itu untuk bisa terkontrol, tapi itu sudah menjadi bawaanku, bagaimanapun aku harus menangani hidupku. Ya, aku berharap kau untuk berperilaku baik dengan cara tertentu, dan saat kau tidak menantang sekaligus bersenang-senang. Kita masih melakukan apa yang aku inginkan. Kau membiarkan aku memukul pantatmu setelah penawaranmu yang keterlaluan di acara lelang kemarin," Donghae tersenyum dengan sayang mengingat kenangan itu.
"Aku menikmati menghukummu. Bukannya aku tidak berpikir bahwa dorongan itu akan pergi, tapi aku mencoba, dan itu tidak sesulit yang aku pikirkan."
Hyukjae menggeliat dan malu, mengingat kencan terlarang mereka di kamar tidur masa kecil Donghae.
"Aku tidak keberatan," bisik Hyukjae sambil tersenyum malu-malu.
"Aku tahu." Bibir Donghae melengkung membentuk senyuman yang agak enggan, "Aku juga tidak. Tapi biarkan aku bicara, Hyukjae, semua ini baru bagiku dan beberapa hari terakhir ini sudah menjadi yang terbaik dalam hidupku. Aku tidak ingin mengubah apa pun."
"Hal itu juga sudah menjadi yang terbaik dalam hidupku, tanpa kecuali," bisik Hyukjae dan senyum Donghae melebar.
"Jadi, apa kau tidak ingin membawaku ke ruang bermainmu?" tanya Hyukjae, melanjutkan perkataannya.
Donghae tampak menelan ludah dan pucat, semua jejak humornya tiba-tiba hilang.
"Tidak, aku tidak ingin."
.
TBC
.
Makasih buat yang masih luangin waktu buat baca dan kasih ripiu ya.
jujur aja kemaren-kemaren aku mulai berniat ga lanjutin ini lol tapi ya masa di propil, ff yg ue apdet nda ada yg end kan nda enak juga wkwk yaudah lah ya sekian curcolan saya.
Kasih ripiu monggo, cuma baca ya monggo, sesuka kalian saja, mwah mwah *kecup Hyukjae/plak
