Baekhyun menghela nafas untuk kesekian kalinya hari ini. Matahari bersinar terik dan bodohnya Baekhyun malah menggunakan bus lalu berjalan kaki memasuki komplek perumahan orangtuanya. Peluh tersebar dimana-mana, poninya ikut lepek seolah Baekhyun baru saja menyelesaikan lari marathon.
"Oh, hyung kau pulang!" Sehun yang baru saja keluar rumah menyambut Baekhyun dengan antusias. Lelaki mungil itu hanya memberikan anggukan singkat dan hendak melanjutkan langkah ketika Sehun menyeletuk lagi.
"Mengapa tubuhnya seperti babi, hyung?"
Baekhyun mendelik sedang satu alis berjengit pada kening. "Byun Sehun aku sedang tidak bernafsu untuk makan orang sekarang, pergi sana atau kumakan habis hidungmu!" ia mengertak. Sehun tidak takut, alih-alih tertawa.
"Aih, sensitive sekali." Anak SMA itu tergelak. "Omong-omong hyung, kau tak berniat memberiku uang jajan?" satu tangan mengadah pada Baekhyun diikuti dengan kerjapan mata berkelip bintang menanti harap dari saudara tertuanya itu.
"Tidak!" Baekhyun menjawab ketus.
Sehun mendengus. "Mengapa kadar pelitmu semakin parah, ya ampun~" anak itu menggelengkan kepalanya dramatis. "Ya sudah kalau kau tak mau memberinya, akan kuminta pada Chanyeol hyung saja!"
"Ya minta padanya sekalian harta warisannya kalau ada, kalau bisa sampai sampai dia bangkrut!" Baekhyun menyambut, pintu ia banting keras mengejutkan Sehun yang nyaris saja terhantam kayu keras itu.
Baekhyun tidak peduli. Sepatunya ia lepaskan asal dan berseru memanggil Jihyun.
"Bu aku pulang~" suaranya mendayu seperti bocah, berbeda sekali saat menyahut Sehun.
Jihyun dari arah kamar keluar dan menyambut Baekhyun disana. "Oh, tumben kau pulang."
"Aku lapar, Chanyeol pulang telat jadi tak ada yang masak." Baekhyun menjawab. "Apakah Ibu memasakkan sesuatu?" langkahnya ia lanjutkan menuju dapur yang diikuti Jihyun di belakangnya.
"Eh jadi selama ini Chanyeol yang memasak?" Jihyun mengerjab kaget. Dari dalam kulkas yang tengah Baekhyun acak isinya ia memberikan anggukan.
"Hm, itu memang tugasnya."
"Yak!" Jihyun memekik gemas. Ia memukul pantat Baekhyun kuat, dua kali sampai anak itu terantuk pintu kulkas. "Seharusnya kau yang memasak Baekhyun, mengapa malah Chanyeol?!"
"Aku yang mencuci dan menyetrika bajunya."
"Itu memang sudah tugasmu juga—Yak! Mengapa kau malah makan kimchi seperti itu!" Jihyun terpekik lagi melihat bagaimana santainya Baekhyun melahap kimchi di kulkas.
"Aku lapar sekali, Bu." Baekhyun mengeluh dengan mulut penuh. Beberapa sisa kimchi mengotori sekitaran mulutnya dan Jihyun mulai mempertanyakan berapa umur Baekhyun sebenarnya. Ia berakhir dengan helaan nafas pelan dan beringsut pada kulkas—mulai memasakkan Baekhyun sesuatu.
Baekhyun menempatkan dirinya duduk di kursi tinggi pantry dengan sewadah kimchi dingin—menunggu Jihyun selesai memasakkan dirinya makanan.
"Omong-omong apa kalian baik?" disela Jihyun bertanya. "Kalian tidak sering bertengkar, 'kan?"
"Kami baik," jawab Baekhyun. "Ibu tidak usah khawatir, kalau Chanyeol nakal aku akan mengikatnya di kamar mandi."
"Yak! Jangan perlakukan suamimu seperti itu." Jihyun mulai merasakan pelipisnya berdenyut pusing. "Lagipula tidak mungkin Chanyeol nakal, kecuali dirimu—"
"Ibu apa kau mertuaku?"
"Apa?"
"Mengapa malah membela Chanyeol padahal jelas-jelas aku anak Ibu!" Baekhyun merengut. Jihyun mencibir sedang mata memperhatikan Baekhyun di depannya. Yeah, setidaknya Baekhyun benar terlihat baik-baik saja. Bahkan terlihat sangat baik dan mengetahui jika Chanyeol-lah yang mengatur pola makan mereka, membuat kekhawatirkan Jihyun meredup hilang seketika.
Tentu saja Chanyeol dengan semua hal yang bisa diandalkan pada lelaki itu.
"Bagaimanapun Ibu senang jika kau dan Chanyeol baik-baik saja, Baek. Kau juga terlihat bahagia dengannya." Jihyun mengulum senyum tipis. "Chanyeol pasti memasakkan semua makanan yang kau inginkan, lihat pipi beratmu itu."
"Bu tolong jangan bahas pipiku, aku sudah cukup stress memikirkan lemak yang tertimbun disini, lalu disini," Baekhyun menunjuk lengannya. "Apalagi disini!" lalu berpindah pada pinggangnya yang terlipat.
Jihyun tertawa dan menggoda Baekhyun dengan gelitikkan. Namun hanya sedetik berselang ketika ari tangannya tak sengaja menekan perut Baekhyun dan merasakan dengan jelas betapa kerasnya bagian itu. Jihyun terkesiap, bola matanya melebar dan menatap Baekhyun dengan takjub.
"Baekhyun… apa kau hamil?"
Kimchi yang tengah Baekhyun kunyah muncrat dimana-mana namun Jihyun terlalu terkejut dengan fakta baru yang ia ketahui dan tak sempat memarahi hal itu.
"Ibu bercanda!" Baekhyun melotot tak ikut menekan perutnya.
"Kapan terakhir kali kalian berhubungan intim?" Jihyun bertanya lagi.
"Tadi pagi," Baekhyun menjawab jujur. Jihyun nyaris terjungkal namun masih bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Teriakan telah berkumpul pada tenggorokan dan Jihyun mati-matian mempertahankan hal itu.
"Sebentar—" Jihyun berlari menuju kamar tanpa mempedulikan bagaimana tatapan nyeri Baekhyun. Anak itu malah semakin kuat mencubit lemaknya dan taunya baru menyadari betapa keras perutnya selama ini.
Tak sampai dua menit kemudian, Jihyun kembali. Dengan bibirnya nyaris koyak, ia menyodori alat tes prodia kepada Baekhyun dan mendorong anak sulungnya itu ke dalam kamar mandi.
"Ibu serius menganggapku hamil?" Baekhyun menatap horror kepada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Makanya cepat periksa, cepat-cepat!" Jihyun menutup pintu kamar mandi dengan perasaan meledak-ledak senang. Ya ampun, ya ampun… Jihyun harus memberikan Chanyeol hadiah jika benar Baekhyun hamil.
Di dalam kamar mandi Baekhyun menatap tak paham benda panjang itu. Ia mengikuti instruksi yang tertulis pada kemasan dan menunggu selama beberapa menit namun tak ada perubahan yang terjadi. Baekhyun berdecak seorang diri, berpikir betapa dramatisnya Jihyun karena perut berkulit badaknya dan berpikir jika ia tengah mengandung.
Lelaki yang baru genap berusia 20 tahun itu keluar dari kamar mandi dengan wajah masam dan mengabaikan pertanyaan Jihyun tentang hasil tes itu. Baekhyun tak menjawab, benda panjang nan ramping itu ia berikan kepada Jihyun sedang ia menempatkan dirinya duduk kembali dengan kimchi memenuhi mulutnya.
"KYAAA~" Jihyun berteriak histeris. Baekhyun tersentak kaget dan nyaris muncrat lagi melihat bagaimana Jihyun melompat-lompat di lantai. Wanita paruh baya itu juga memeluk Baekhyun terlalu kuat dengan ucapan-ucapan aneh yang tak sepenuhnya Baekhyun pahami.
"Ya ampun, Ya Tuhan, Dewa dan Dewi! Akhirnya aku punya cucu!" Jihyun berteriak. Pundak Baekhyun ia goyangkan kesana-kemari sampai anak itu berubah pusing pada tempatnya.
"Bu aku sedang makan kimchi dan tak berniat untuk makan orang sekarang, jangan melompat seperti itu nanti encok!" Baekhyun menggerutu.
"Baekhyun kau hamil!" Jihyun tak mengindahi gerutuan itu dan lagi berseru dalam bahagia. "Sebentar-sebentar, aku harus menghubungi Sooyoung!" jihyun tak menyisakan detik, segera melesat pergi meninggalkan Baekhyun begitu saja.
"Sebenarnya apa yang Ibu bicarakan? Siapa yang hamil?" Ia bertanya kepada dirinya sendiri. "Aih, kimchinya habis." Anak itu berdecak sebal dan menuju kulkas kembali. "Ini pasti cokelat Sehun, meuhehehe. Akan kuhabiskan semua!"
…
Kelas terakhir Chanyeol berakhir tepat di jam 6 sore itu. Langit telah bersemburat jingga ketika ia meninggalkan kelas dengan ponsel berdering akan panggilan masuk. Dari Ibunya.
"Hal—"
"KYAAA CHANYEOL!" Chanyeol reflek menjauhkan benda pipih itu dari telinganya ketika serangan teriakan Sooyoung nyaris merobek selaput telinga. "Chanyeol mengapa kau tak memberitau Ibu jika Baekhyun hamil!?"
"HAH?!" kali ini berganti Chanyeol yang berteriak.
"IYA BAEKHYUN HAMIL! IBU AKAN PUNYA CUCU SEBENTAR LAGI!"
"APA!? IBU SERIUS!?"
Beberapa mahasiswa yang berada di dekat Chanyeol sampai tersentak kaget namun apa pedulinya. Kaki panjangnya melangkah besar-besar menuju parkiran dan mencari mobilnya disana.
"ENAM PULUH SEMBILAN RIUS! BAEKHYUN SUDAH MEMERIKSANYA DAN POSITIF!" Teriak Sooyoung lagi. "Eh tapi sebentar, Baekhyun belum memberitaumu?" di seberang sana Sooyoung berkerut kening.
Chanyeol mengangguk ribut. "Baekhyun tidak memberitauku, mungkin tadi dia menelepon—" Chanyeol menjauhkan ponselnya dari telinga lagi guna memeriksa bar notifikasi panggilan Baekhyun yang tak ia jawab namun taunya kosong—tanpa satupun panggilan dari si mungil itu.
"Baekhyun tidak…" Chanyeol berguman.
"Omong-omong Baekhyun berada di rumah Jihyun, kau sudah pulang kuliah? Sebaiknya kau menjemputnya disini."
Chanyeol menyetujui cepat dan masuk ke dalam mobil. Hatinya terlampau senang dengan bunga-bunga bermekaran dalam rongga mengemudikan mobilnya. Ia sampai ke kediaman orangtua Baekhyun ketika langit telah beranjak gelap berbanding terbalik dengan kerlipan matanya yang secerah matahari tadi.
"Baekhyun!" tanpa sapaan yang seharusnya ia lakukan, Chanyeol malah berteriak di depan pintu rumah mertuanya. Langkahnya kacau mencari sosok mungil itu dan mendapati Baekhyun di depan tv dengan seporsi jajjangmyeon di tangan.
"Baekhyun!" Chanyeol memanggilnya dengan suka cita. Ia tak terlihat peduli jika orangtua Baekhyun berada disana dan melihat bagaimana antusiasnya ia memeluk sulung Byun itu.
Baekhyun tersentak kaget dan wajahnya nyaris menabrak isi jajjangmyeon akibat dorongan tiba-tiba Chanyeol yang memeluknya.
"Yak Park Abnormal Chanyeol! Kau nyaris menumpahkan jajjangmyeonku!" Baekhyun berteriak kesal. "Jantungku juga mau copot!"
Bukannya takut, Chanyeol malah memberikan cengiran dan tanpa sungkan menciumi bibir Baekhyun yang berlepotan saus hitam jajjangmyeon.
"Baekhyun mengapa kau tidak memberitauku?" binar mata bulat itu berkaca-kaca terlalu bahagia.
"Memberitau apa?" Baekhyun malah berkerut kening.
"Ish kau!" Chanyeol menjepit hidung mancung Baekhyun dengan gemas. "Memberitauku jika kau hamil, bagaimana bisa berita sepenting dan sebahagia itu kau sembunyikan dariku!"
Chanyeol menatapnya dengan dramatis.
"Oh itu…" Baekhyun berguman paham akhirnya. "Aku lupa."
"Huh?"
"Aku lupa memberitaumu," Baekhyun mengulang. "Sudah-sudah, aku mau makan lagi. Kita bahasnya nanti saja."
"…"
Cocot:
Krik!
