15/16
An EXO Fanfiction
HunKai, Oh Sehun and Kim Jongin
Park Chanyeol X Byun Baekhyun (Slight)
Oh Sehun X Luhan (Slight)
Kris Wu X Kim Jongin (Slight)
And Other characters
Halo ini chapter dua belas selamat membaca maaf atas segala kesalahan happy reading all
Previous
"Ah!" Jongin memekik pelan ia kembali mendudukkan dirinya di kursi penumpang dan mencium pipi kanan Sehun. Sehun terperanjat.
"Apa yang kau lakukan?"
"Mencium pipimu." Jongin membalas polos.
"Seharusnya kau bisa mencium bibirku atau mengundangku masuk." Sehun menatap Jongin menggoda.
Jongin tertawa pelan. "Itu terlalu cepat tuan Oh, selamat malam semoga mimpi indah." Ucap Jongin iapun turun dari mobil Sehun, dan melangkah pergi.
"Kau bahkan lupa menutup pintu mobilku," gerutu Sehun. "Kau juga tidak menungguku sampai aku benar-benar pergi." Sehun menyalakan mesin mobil dan pergi, ia sedikit mengerti rasanya diacuhkan mungkin ini yang dulu Luhan rasakan. "Apa ini karma?" Sehun bertanya pada dirinya sendiri, tapi ia sama sekali tak merasa kecewa atau sedih, rasa cintanya untuk Jongin terlalu besar dibanding dua perasaan negatif itu.
BAB DUA BELAS
Sehun mengamati lekat-lekat potret harabojinya, ia sangat merindukan wajah dan senyum itu. Dulu, Sehun memang dekat dengan harabojinya namun setelah harabojinya menjadi tak berdaya Sehun menjauh karena dia terlalu takut menerima kenyataan. Harabojinya yang hebat telah berubah tak berdaya. Seandainya ia bisa mengulang waktu, Sehun berjanji tak akan menjauh lagi ia akan menerima apapun keadaan harabojinya, sesuatu yang buruk harus dihadapi bukannya dihindari itu tak akan menyelesaikan masalah.
"Sehun."
"Jongdae hyung."
"Kau masih berduka?" Jongade bertanya sembari mengamati Sehun yang berdiri di tengah ruang kerjanya, mengamati potret harabojinya yang baru dipajang tiga hari lalu.
"Apa hal ini bisa disembuhkan."
"Waktu akan membuatnya lebih baik."
Sehun tersenyum. "Kau terdengar seperti seseorang yang aku kenal."
"Kekasih barumu?"
"Apa?!"
Jongdae melempar senyuman menggoda, kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dan menyilangkan kakinya. "Kau sungguh tidak tahu betapa gemparnya beritamu dan Jongin?"
"Aku tidak mau tahu, aku bukan selebritis meski aku juga bekerja di industri hiburan."
Jongdae menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan entah untuk keberapa kali sambil menggerakkan telunjuk kanannya. "Kau selebritis, salahkan wajahmu yang terlalu sempurna, itu yang mereka katakan."
"Sempurna? Terlalu berlebihan, kenapa semua orang suka sekali melebih-lebihkan sesuatu."
"Kau tak menyukainya?"
"Aku ingin mereka memperhatikan hasil kerjaku, bukan siapa aku."
"Wah, itu sulit untuk dilakukan." Jongdae tersenyum lebar, ia luruskan kedua kakinya. "Kudengar Taemin sudah kembali, aku pikir dia akan menemuimu?"
"Kenapa berpikir seperti itu?"
"Kalian pernah menjalin hubungan spesial, dan setahuku belum ada kata berakhir dari Taemin untukmu."
"Tak memberi kabar selama dua setengah tahun, bagiku itu sama saja dengan kata berakhir."
"Kau pikir Taemin akan setuju denganmu?"
"Aku akan membuatnya setuju."
"Yah, terserahlah. Pekerjaanmu tinggal sedikit kan? Pulanglah lebih awal kau tidak mau hubunganmu yang ini kandas seperti yang lama bukan? Jadi atur jadwal kerjamu sebaik mungkin."
"Hmmm." Sehun menanggapi dengan gumaman. "Hyung datang untuk menasehatiku?"
"Aku datang untuk memeriksa keadaanmu sekaligus memberikan kabar kedatangan Taemin." Jongdae memutar tubuhnya namun tak lama kemudian ia kembali menatap Jongin. "Apa kau menyukai Jongin karena wajahnya mirip dengan Taemin?"
"Tidak." Tegas Sehun.
"Kau yakin?"
"Hyung sudahlah, aku menyukai Jongin dan Taemin dengan cara berbeda, aku tidak pernah membanding-bandingkan."
Jongdae mengangguk mengerti, kali ini ia benar-benar pergi, keluar dari ruang kerja Sehun. Sehun menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Ia melangkah menuju meja kerjanya, duduk, menyalakan komputer dan mulai membereskan pekerjaan yang terkadang sedikit membosankan meski ia melakukan hal yang dicintainya.
Ya, terkadang cinta saja tak cukup dan Sehun cukup percaya dengan hal itu. Butuh sekedar cinta untuk bertahan, pada pekerjaan maupun pada hal lainnya. Dan sampai hari ini teori lebih mudah daripada praktik. Sehun meraih ponselnya, ia mengirim pesan yang berisi ajakan makan siang kepada Jongin. Jongin, nama itu sedikit membawa angin segar untuk Sehun di tengah penatnya pekerjaan.
.
.
.
Jongin tersenyum mengamati puluhan batang mawar merah yang ia letakkan di dalam vas di atas meja kopi, aromanya masih tercium kuat. Saat mawar-mawar itu mulai layu Jongin berencana untuk menyimpannya. Mungkin, dirinya sekarang terdengar seperti seorang remaja kasmaran tapi ia tak peduli.
Ponselnya berbunyi cukup nyaring, menandakan adanya pesan yang masuk. Senyum lebar merekah pada wajah Jongin kala menatap layar ponselnya. "Sehun," Jongin menggumam pelan. "Aku ingin mengajakmu makan siang nanti apa kau bersedia?" Jongin membaca pesan Sehun keras-keras. "Tentu saja aku bersedia, bodoh." Ucap Jongin sambil mengetikkan pesan balasannya.
Beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering. Kali ini bukan pesan masuk melainkan nomor Sehun menghubunginya. "Halo."
"Hai, aku ingin mengajakmu makan siang."
"Bukankah aku sudah menjawabnya dengan iya, kau tak membaca pesanku?"
"Aku membacanya tapi aku tidak bisa menjemputmu bagaimana?"
"Tak masalah, jarak tempat tinggalku dan tempat kerjamu cukup dekat aku bisa pergi ke sana sendirian."
"Kalau begitu pergilah ke ruanganku dulu, kita pergi ke kafe di depan kantorku bersama-sama bagaimana?"
"Ide bagus."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyelesaikan pekerjaanku di sini dulu."
"Ya sampai nanti Sehun."
Sambungan berakhir, Jongin meletakkan ponselnya ke atas meja kopi kembali. Ia bisa merasakan degup jantungnya yang cepat. Jongin tak pernah menyangka akan mendapat pengganti Kris dengan cepat, mengingat dirinya bukan termasuk orang yang mudah jatuh cinta dan mudah tertarik. "Haaaahhh…, sudahlah." Putus Jongin. Ia meraih remote control untuk menyalakan televisi.
Musik pagi dan berita seputar dunia hiburan menyambut mata dan telinga Jongin, ia bermaksud untuk mengganti saluran dengan sesuatu yang lebih menarik seperti berita pagi, atau kabar dunia.
Lee Taemin penyanyi muda terkenal yang memutuskan vakum dari dunia hiburan selama dua tahun untuk mengejar study di Amerika kini telah kembali, berita kedatangan Taemin disambut bahagia dan meriah oleh para penggemar setianya, seperti yang kita ketahui Lee Taemin memiliki hubungan istimewa dengan sutradara muda Oh Sehun….,
Jongin langsung menekan tombol untuk mengganti saluran, ia tak ingin mendengarkan berita tentang Taemin lebih banyak lagi. Alasan pertama, karena dia tak mengenal Taemin dan alasan kedua karena dirinya merasa cemburu. Tentu saja cemburu, siapa yang tidak akan merasa cemburu jika orang yang kau cintai dikabarkan dengan orang lain.
Jongin menyentuh perut datarnya, ia cukup lapar sekarang tapi jika dirinya makan tidak akan ada ruang tersisa di dalam perutnya untuk makan siang bersama Sehun nanti. "Kurasa aku memiliki makanan ringan." Ucapnya sembari berdiri dari sofa dan membiarkan televisi tetap menyala.
Pintu lemari pendingin dibuka, Jongin memutuskan untuk mengambil buah apel dan sebungkus biskuit kemudian dia kembali ke ruang keluarga. Berita yang disiarkan sekarang hanya berita ringan dan Jongin tak terlalu tertarik, dia hanya mendengarkan sepintas lalu. Penyanyi pendatang baru yang mendapatkan popularitas besar dalam waktu singkat di Korea Selatan, penemuan baru di Jepang, jadwal film baru.
"Aku ingin menonton film, tapi tidak dengan Sehun aku ingin menonton film sendirian. Pergi dengan Sehun akan mengundang keributan dan aku tidak suka hal itu." Jongin berbicara sendiri, ia mengambil sebuah biskuit dari dalam pembungkus, memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya perlahan.
Menunggu siang pada akhirnya seorang Kim Jongin, duduk di atas sofa menonton tayangan televisi membosankan, dengan camilan apel dan biskuit. Ah dia memiliki teman, batang-batang mawar di dalam vas, mawar merah dengan mahkota bunga yang besar, karena kini telah mekar sempurna.
Pukul sebelas siang Jongin bersiap-siap, suasana hatinya sedang baik sekarang jadi dia memilih untuk mandi lebih awal. Dia sering menghabiskan waktu lama di kamar mandi, hanya sekedar berdiri di bawah pancuran air dingin, menikmati suara gemericik air, mungkin bagi sebagian orang, itu terdengar aneh tapi baginya hal aneh seperti itu adalah hal yang membuatnya bahagia.
Udara semakin hangat, musim semi hampir mencapai akhir. Jongin mengenakan celana jins selutut, dan kaos putih lengan panjang bergaris abu-abu pada lengan kanannya. Jongin membawa ransel yang ia isi dengan dua barang, ponsel dan dompet. Ia tak mungkin membawa kedua benda itu hanya dengan tangan, ia tipe orang yang ceroboh dan sering menghilangkan barang.
Ponselnya berdering saat dirinya berdiri di depan cermin memeriksa penampilannya. Jongin langsung mengangkat panggilan dari Sehun, kebetulan dia belum memasukkan benda itu ke dalam ransel. "Halo."
"Kau sedang apa?"
"Aku sedang siap-siap, aku akan segera berangkat."
"Kau ke sini dengan apa?"
"Taksi."
"Baiklah hati-hati di jalan."
"Ya." Jongin membalas singkat kemudian memutus sambungan teleponnya dengan Sehun, tanpa menunggu jika Sehun mungkin ingin mengatakan hal lain.
.
.
.
Sehun sedang bermain dengan ponselnya saat seseorang mendorong pintu ruangannya. Sehun mendongak, mendapati Kyungsoo melangkah masuk dengan wajah bahagia.
"Sehun."
"Kyungsoo hyung, ada apa?"
"Aku mampir untuk mengucapkan terimakasih video musikku sukses, aku tahu kau bisa diandalkan." Ucap Kyungsoo. Sehun hanya tertawa pelan, apa Kyungsoo tidak ingat dulu ia sempat ragu. Kyungsoo mendudukkan tubuhnya di atas kursi di hadapan Sehun. "Maaf, aku sempat meragukanmu waktu itu."
"Aku juga sempat meragukan diriku sendiri Hyung." Sehun membalas diiringi sebuah senyuman simpul. "Hyung menyempatkan diri untuk mampir? Aku tahu jadwalmu sangat padat akhir-akhir ini, terimakasih sudah mampir."
"Aku ingin mentraktirmu makan siang, bagaimana?"
"Maaf Hyung aku sudah ada janji."
"Ah sayang sekali aku harap lain kali kita bisa pergi bersama."
"Terdengar menyenangkan."
Suara pintu berdecit kembali terdengar, keduanya menoleh kali ini Jongdae melangkah masuk. "Sehun ayo makan siang!" Jongdae memekik lantang.
"Dia sudah ada janji." Kyungsoo yang membalas.
"Ah dengan siapa? Jongin?" Jongdae bertanya, kedua mata bulat Kyungsoo nampak terkejut ia menoleh cepat kepada Sehun.
"Jongin? Kau berkencan dengan Jongin sekarang?"
"Ya." Sehun membalas singkat.
Kyungsoo menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Ah aku iri padamu, kau mudah sekali mencari pengganti." Sehun tertawa pelan mendengar kalimat Kyungsoo. "Aku serius!" dengus Kyungsoo.
Sehun masih tersenyum namun dia mengangguk dan berhenti tertawa. "Jadi—kapan kalian resmi?"
"Hari pemakaman harabojiku." Kali ini giliran Jongdae dan Kyungsoo yang terbahak mendengar jawaban Sehun. Sehun melempar tatapan tajam.
Kyungsoo menjadi orang pertama yang berhenti tertawa meski dia masih tersenyum lebar. "Baiklah, aku rasa itu cara menyatakan cinta yang unik. Aku yakin Jongin tak akan melupakan hal itu seumur hidupnya."
Sehun ingin membalas namun dering ponselnya mengalihkan perhatiannya. "Jongin, langsung ke ruanganku saja kau masih ingat letaknya kan? Baiklah aku tunggu." Sehun mengakhiri panggilan Jongin. "Hyung." Keluh Sehun saat Jongdae dan Kyungsoo menatapnya tanpa berkedip. "Kalian suka sekali menggodaku."
"Masalahnya Sehun, kau yang paling muda tapi deretan nama mantanmu yang paling banyak." Ucap Jongdae tanpa ada niatan untuk duduk, dia masih berdiri di tengah ruangan.
"Apa itu sesuatu yang bisa dibanggakan." Sehun menggerutu pelan.
Pintu ruangan terbuka, Jongin muncul dengan raut wajah polos dan bingungnya melihat ada orang lain di dalam ruangan Sehun. "Aku rasa ini tanda untukku pergi." Ucap Kyungsoo dengan nada bercanda, ia berdiri dari kursinya kemudian berjalan menghampiri Jongdae.
"Aku juga harus pergi." Jongdae melirik Jongin dan terlihat jelas jika dia menahan tawa.
Jongin menoleh ke belakang mengikuti gerakan Jongdae dan Kyungsoo, setelah pintu benar-benar tertutup barulah perhatian Jongin kembali kepada Sehun. "Ada apa dengan mereka?"
"Mereka hanya bercanda tak usah dipikirkan." Jawab Sehun. Ia berdiri dari kursinya melangkah mendekati Jongin. "Kau sudah lapar?" Jongin mengangguk pelan, Sehun tersenyum ia genggam tangan kanan Jongin dan menuntunnya pergi. Jongin sedikit terkejut dengan tindakan itu.
Jongin sebenarnya tak terlalu suka berpegangan tangan, tangannya akan terasa panas kemudian lembab. Sehun membuat semuanya terasa berbeda sekarang. Seluruh perhatian para karyawan tertuju pada kedunya, Jongin terpaksa menundukkan wajahnya karena terlalu malu namun Sehun terlihat tak terpengaruh sama sekali. Keduanya berjalan menuju tempat parkir.
"Aku ingin mengajakmu ke kafe baru, bukan kafe yang biasa kita kunjungi."
"Apa letaknya jauh?"
"Sepuluh menit dari sini."
"Ya, tidak ada salahnya mencoba hal baru."
"Lagipula sekarang giliranku mentraktir." Jongin tertawa pelan mendengar kalimat Sehun.
"Sehun!"
Langkah keduanya terhenti, seorang laki-laki yang memiliki tinggi tubuh beberapa senti di bawah keduanya berlari dengan antusias. "Taemin," Jongin mendengar suara Sehun.
"Sehun!" Laki-laki yang bernama Taemin itu menghambur ke dalam pelukan Sehun atau bisa dikatakan menubruk tubuh Sehun. Sehun sedikit terhuyung ke belakang namun ia mendapatkan keseimbangannya dengan cepat. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku merindukanmu Sehun, sangat merindukanmu!"
Jongin mengeraskan rahangnya, ia merasa ada sesuatu yang sakit di dalam dadanya. Pelukan itu akhirnya selesai, Taemin berdiri di hadapan Sehun dengan senyum lebar. Jongin memalingkan wajahnya tak ingin melihat hal ini. "Siapa dia?"
"Kim Jongin."
Taemin menelengkan kepalanya mengamati wajah Jongin. "Dia sedikit mirip denganku." Ucapnya dengan nada ceria. "Apa kalian berteman baik?"
"Dia kekasihku Taemin." Jawaban Sehun seketika menghapus senyuman lebar yang sejak tadi menghiasi wajah Taemin.
"Ah benarkah? Apa karena dia sedikit mirip denganku?"
"Bukan, bukan karena itu."
"Lalu karena apa?"
"Karena aku mencintainya." Jongin menatap sisi kanan wajah Sehun kemudian beralih pada Taemin, keduanya terlihat sangat serius, sementara itu Jongin merasakan genggaman tangan Sehun pada tangan kanannya semakin erat.
"Bagaimana dengan aku?"
"Hubungan kita sudah berakhir sejak dua setengah tahun yang lalu Taemin."
"Aku tidak pernah memutuskanmu Sehun."
"Kau tidak pernah mencoba untuk menghubungiku."
"Aku pikir kau bisa kupercaya."
"Mempercayai pasanganmu bukan berarti mengabaikannya selama dua setengah tahun, aku mengirim pesan untukmu dan kau tidak pernah membalasnya."
Taemin tersenyum perih. "Kupikir setelah Luhan hyung hubungan kita masih memiliki kesempatan."
"Maaf." Sehun menjawab singkat.
"Tidak, tidak." Taemin berucap cepat dengan kedua mata yang nampak sembab. "Akulah yang harus minta maaf, aku sudah bersikap egois padamu. Kau benar, seharusnya aku memberi kabar."
"Jangan menyesali apapun, pilihanmu untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik terlalu berharga untuk disesali. Aku yakin kau bisa mendapatkan laki-laki lain yang lebih baik dariku."
"Bagaimana jika aku menginginkanmu?"
"Itu yang kau pikirkan saat ini, percayalah saat kau menemukan orang yang tepat dengan mudah kau akan melupakan aku."
"Sehun…," bisik Taemin sebab ia sudah menangis terlebih dahulu sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Sehun melepas genggaman tangannya pada Jongin kemudian memeluk tubuh Taemin, mengusap punggungnya, agar dia merasa tenang. Mungkin, Sehun bermaksud baik, dan dia tidak memiliki perasaan lagi terhadap Taemin.
Bagi Jongin pemandangan itu terasa menyakitkan. Tanpa sadar Jongin mengambil beberapa langkah mundur, mengambil jarak dari Sehun dan Taemin. Jongin melihat Sehun menghapus air mata Taemin, Taemin tersenyum, Sehun mengusak rambut Taemin, Sehun juga mengantarkan Taemin ke mobilnya.
Sehun menoleh ke belakang ia melihat Jongin yang kini berdiri cukup jauh darinya. Sehun berjalan mendekat. "Jongin." Panggilnya.
"Kalian terlihat bahagia, kenapa berakhir?"
Sehun tersenyum tipis. "Kau cemburu?"
"Tidak."
"Benarkah?"
Jongin tak langsung menjawab. "Kalian terlihat bahagia."
"Kami sudah berakhir."
"Apa tidak ada kesempatan lagi?" Sungguh Jongin tak mengerti kenapa mulutnya bertanya hal itu.
"Kesempatanku denganmu sekarang."
"Bagaimana jika Taemin menginginkanmu kembali?"
"Aku memilihmu, apapun yang terjadi."
Jongin tertawa pelan, baiklah ini sedikit memuakkan. "Sebaiknya kita pergi makan siang sekarang."
"Kenapa? Aku mencoba bersikap romantis."
"Memberiku buket bunga sudah cukup jangan menambahi dengan kata-kata manis." Ucap Jongin, Sehun mengerutkan dahi. "Aku bisa overdosis."
Sehun tertawa terbahak selama beberapa saat, kemudian ia kembali menggenggam tangan kanan Jongin dengan lembut dan mengajaknya pergi.
.
.
.
Jongin benar-benar kesal sekarang, ini bukan kafe. Oh Sehun adalah seorang pembohong besar. "Kau pesan apa?" Sehun bertanya karena Jongin tak juga menyentuh buku menunya. "Dan kenapa dengan wajahmu itu?"
"Ini bukan kafe." Balas Jongin.
"Bagiku ini kafe."
"Aku tampak seperti pengemis sekarang."
Sehun tertawa pelan. "Kurasa hanya orang-orang di luar Perancis yang beranggapan datang ke restoran Perancis harus memakai gaun dan jas, jika kau berkunjung ke sana mereka lebih santai." Jongin mendengus sebal.
"Tenanglah kau pantas memakai apapun, ini bukan acara resmi, tidak ada plakat yang mengatakan jika pengunjung harus berpakaian resmi. Selain itu sekarang adalah siang di musim panas." Sehun mencondongkan tubuhnya pada Jongin, mereka duduk berhadapan. "Kurasa orang yang memakai jas dan gaun di siang musim panas, mereka sedikit—bodoh."
Tawa Jongin hampir meledak, beruntung hal itu tak terjadi. "Jadi kau sudah memutuskan akan makan apa?"
"Aku belum pernah mencoba masakan Perancis, aku juga belum pernah pergi ke restoran Perancis sebelumnya."
"Bagaimana jika kita makan siang seperti orang Perancis saja?" Jongin mengerutkan keningnya, kali ini kalimat Sehun sulit untuk dimengerti. "Biar aku yang memesan." Jongin mengangguk pelan.
Meski Sehun telah menyanggupi untuk memesankan makan siang mereka namun Jongin penasaran juga dengan buku menu yang terlihat indah dan elegan, berwarna merah tua, berlapis beludru. Ia ambil buku menu dihadapannya dan Jongin merasa kepalanya pening membaca huruf-huruf yang entah bagaimana cara pelafalannya.
"Bukankah dalam tari balet mereka menggunakan istilah dalam bahasa Perancis?"
Jongin mengangguk pelan. "Hanya istilah sederhana menurutku, sedangkan nama makanan di sini terlalu rumit." Sehun tertawa pelan. "Kau mengerti bahasa Perancis?"
"Tidak." Sehun menjawab singkat.
Seorang pelayan pria menghampiri meja, menggunakan stelan rapi dan membawa nampan bulat berwarna perak, mencatat semua hal yang Sehun sebutkan dan Jongin tak ingin memperhatikan nama-nama rumit yang mereka bicarakan. Ia memilih mengamati keadaan restoran. Hanya satu kata, mewah.
Hidangan datang dengan cepat. Jongin hanya diam memperhatikan piring-piring berisi makanan yang tertata indah. Artistik. "Makanan pembuka kita potongan daging asap, buah zaitun, dan jamur segar, yang direndam dalam minyak rahasia kurasa." Sehun menerangkan kepada Jongin. Jongin hanya mengangguk pelan.
"Seledri segar dengan mayones kau harus mengoleskannya pada roti kering ini." Sehun menunjuk keranjang kecil berisi aneka roti kering berbentuk oval, bulat, dan panjang.
Jongin tak menanggapi, ia makan dengan tenang, Sehun berpikir jika Jongin tidak menyukai makanan yang ia pesankan. Sehun bermaksud untuk bertanya namun pelayan kembali datang dengan sebotol anggur.
"Apa tidak terlalu panas minum anggur sekarang?"
"Sedikit saja, ini sangat nikmat."
"Kau selalu mentraktirku makanan yang mahal, setelah ini apa aku harus membawamu ke suatu tempat yang jauh agar sepadan?"
"Bagaimana jika kita mengakhiri kesepakatan traktir mentraktir itu."
"Kenapa?"
"Kesannya seperti kita teman saja."
Jongin menyisihkan buah zaitun ke pinggir piring saji. "Aku—tidak ingin menjadi bebanmu."
"Jika seseorang membelikanmu sesuatu itu berarti mereka peduli."
Jongin mengangkat wajahnya menatap Sehun lekat-lekat. "Apa kau yakin tidak akan canggung nantinya?"
"Jongin." Sehun hampir memekik. "Kau kekasihku bukan orang lain."
"Ya, ya, terserah kau saja." Jongin membalas seadanya.
Mereka bersulang, dan Jongin pikir acara makan telah selesai saat pelayan datang kembali dengan makanan baru. Piring-piring saji lama dibereskan. Kue pie, buah-buahan, dan potongan keju disajikan ke atas meja.
"Makanan pembuka, seledri segar dengan mayones dan roti kering, makanan utama potongan daging asap, buah zaitun, dan jamur segar, sekarang makanan penutup."
"Perutku sudah penuh."
"Cobalah ini sangat nikmat." Sementara Sehun menikmati kue pienya, Jongin hanya menjumputi kismis. Jongin menunggu hingga Sehun menyelesaikan hidangan penutupnya.
"Mari bersulang." Jongin menatap ragu-ragu gelas cantik berisi wine yang Sehun sodorkan.
"Aku buruk dalam alkohol." Ucapnya.
"Kau tidak akan mabuk hanya dengan segelas wine, aku janji."
Melempar tatapan ragu-ragu pada akhirnya Jongin mengambil gelas cantik itu dari atas meja. Rasa khas anggur masih terasa, manis, dan kuat. Kedua mata Jongin memicing itu membuat Sehun tersenyum. "Kau benar-benar tidak bisa minum alkohol rupanya." Jongin tak menjawab. "Baiklah, dalam perjalanan pulang nanti kita bisa mampir ke toko dan membeli jus anggur untukmu."
"Tidak, aku punya cukup persediaan jus di rumah." Jongin membalas Sehun dengan nada malas, ia letakkan gelas anggur di atas meja kembali. Ia hanya menyesapnya sekali, dan memutuskan alkohol bukanlah teman akrabnya.
"Kau marah?" Jongin menggeleng pelan, namun Sehun bisa melihat jelas raut tidak nyaman di wajah kekasihnya itu. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk meledekmu." Jongin menyunging senyum terpaksa.
Gemas, Sehun mengulurkan tangan kanannya untuk mencubit pipi kiri Jongin. Kedua mata bulat Jongin, membola lucu kala terkejut. "Sehun!" Jongin memekik tertahan sambil menyingkirkan tangan Sehun dari pipinya. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya ingin membuatmu tersenyum."
"Bodoh." Jongin mencibir namun ia tersenyum tulus pada akhirnya.
Dua jam adalah durasi makan siang yang paling lama menurut Jongin. Dia tidak terbiasa makan seperti tadi, pengalaman baru yang menarik namun Jongin akan berpikir ulang jika Sehun berniat untuk pergi ke restoran Perancis bernama Grande itu di lain hari.
.
.
.
Sehun menghentikan mobilnya di luar batas pagar semak rumah Jongin. "Jadi apa kau terkesan dengan makan siang tadi?"
"Lumayan."
"Masakannya lezat?"
"Itu hidangan yang berkelas."
"Mungkin kita bisa pergi ke sana lagi."
Jongin menggeleng cepat. "Semuanya menyenangkan, suasananya nyaman, interiornya indah, masakan berkelas. Tapi, aku lebih suka dengan suasana yang santai. Tempat dimana kita bisa mengobrol banyak dan tertawa tanpa cemas diperhatikan dan dinilai."
"Baiklah kita akan pergi ke tempat lain, untuk pertemuan selanjutnya."
Jongin membuka pintu penumpang dan berniat turun saat Sehun memanggil namanya. Jongin mendengus sebal, namun ia tetap mencondongkan tubuhnya ke kiri berniat mencium pipi kanan Sehun. Sehun menoleh cepat dan mendaratkan ciuman ringan pada permukaan bibir penuh Jongin.
Jongin terkejut, Sehun tertawa pelan. "Kau tidak mengundangku masuk?"
"Tidak."
"Jika aku memaksa."
"Artinya kau pencuri." Balas Jongin acuh tak acuh. Sehun mendengus dan kali ini giliran Jongin yang tertawa. "Aku bercanda, masuklah." Ucap Jongin. Sehun mengangguk antusias.
TBC
Terimakasih untuk para pembaca sekalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita aneh saya, terimakasih review kalian rofi mvpshawol, HK, shima, VampireDPS, Baegy0408, My Love Double B, NishiMala, ariska, Kimkaaaaaa394, kaila, JieJieGege, Enchris 727, ucinaze, nonny13, JP, cute, mad vii chan, SparkyuELF137, saya sayya, diannurmayasari15, jjong86, novisaputri09, chanhzr, nha shawol, utsukushii02, tobanga garry, ade park, kanzujackson jk, Jongina88, Athiyyah417, OhKimRae94, geash, ulfah cuittybeams, Putri836. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
