Sakura sedang mengecek laporan pembelanjaan perusahaan yang baru saja dilakukan dua hari yang lalu ketika tiba-tiba saja sebuah notifikasi pop up muncul di layar komputernya. Perusahaan Sakura menggunakan sistem chat yang terintegrasi di setiap computer karyawan sehingga pemberitahuan penting akan langsung muncul begitu saja di layar computer.
Sebuah pesan muncul di layar komputer Sakura, berasal dari sekretaris CEO perusahaannya. Entah kenapa Sakura meraa gugup setiap kali sang atasan memanggil dirinya. Ia membayangkan jika ada sesuatu yang buruk sehingga sang atasan memanggilnya.
Shizune Kato ( kshizune)
Datanglah ke ruangan Tsunade-sama. Beliau memanggilmu, Haruno-san.
Jantung Sakura berdebar keras. Ia segera mengetikkan balasan di layar komputernya.
Haruno Sakura ( Haru_sakura)
Ok.
Sakura segera bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangannya. Sebetulnya ruangan Sakura berupa sebuah ruangan dimana terdapat banyak meja dan computer untuk setiap staff divisi akuntansi. Sebagai manajer, meja Sakura berada di ruangan yang sama, hanya saja terdapat ruangan kecil di dalamnya dengan kaca satu arah sehingga Sakura bisa memantau para staf.
Terdapat dua buah pintu di ruangan kerja Sakura. Satu pintu untuk menuju ruangan besar tempat para staf akuntansi berada, sedangkan pintu lainnya menghubungkan dengan lorong dimana terdapat ruangan kerja divisi lain yang berada di lantai yang sama.
Sakura berjalan keluar dari ruangannya dan segera menuju elevator. Ia segera menekan tombol delapan, ruangan tempat Tsunade berada.
Pintu elevator segera terbuka dan Sakura segera masuk ke dalam dan menekan tombol delapan. Ketika pintu tertutup, ia melirik ponselnya sejenak seraya menunggu elevator bergerak naik.
Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh, dan hari ini seharusnya merupakan hari Sasuke pulang dari rumah sakit. Ia menawarkan untuk menjemput lelaki itu di rumah sakit, namun lelaki itu menolaknya dengan alasan tak ingin menganggu pekerjaannya. Dan Sakura merasa agak khawatir karena Sasuke akan pulang dari rumah sakit sendirian.
Sakura baru tahu kalau rapat umum pemegang saham akan diadakan hari ini di gedung kantornya sendiri. Sebetulnya rapat sudah diumumkan pada seluruh karyawan sejak dua minggu yang lalu, namun karena ia sedang cuti, ia tidak mengetahuinya. Ia juga tak berpikir untuk bertanya karena sedang sibuk menyelesaikan sebagian pekerjaan yang tertunda karena cuti.
Karena rapat kali ini diadakan di gedung kantornya, semua karyawan diminta berpakaian lebih rapih dibandingkan biasanya. Setiap karyawan juga diminta untuk menjaga sikap demi menjaga citra professional perusahaan dihadapan para pemegang saham.
Pintu elevator terbuka di lantai delapan dan Sakura segera keluar. Ia berjalan menuju ruangan Tsunade dan mengetuk pintu tiga kali serta memperlihatkan wajahnya di intercom yang terpasang di depan ruangan Tsunade.
Pintu segera terbuka dan Sakura segera menundukkan kepala pada Shizune yang membukakan pintu. Ia mendapati sang CEO sudah menunggunya sambil melipat kedua telapak tangannya dan menopang dagunya diatas telapak tangan.
Sakura segera menghampiri Tsunade dan menundukkan kepala pada wanita berusia empat puluhan akhir itu.
"Ohayou gozaimasu, Tsunade-sama."
"Duduklah."
Sakura segera duduk di kursi empuk yang berhadapan dengan Tsunade dan jantungnya berdebar tak karuan. Sang CEO terkenal sebagai orang yang tegas dan cenderung perfeksionis dikalangan para karyawan. Sakura bahkan pernah mendapati salah seorang bawahannya yang mendapat panggilan dari sang CEO dan menangis ketika kembali ke ruangan kerjanya. Keesokan harinya wanita muda itu mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja.
"Hari ini Yamato-san tidak bisa menghadiri rapat karena sedang sakit. Tolong gantikan dia untuk memberikan presentasi dalam rapat umum pemegang saham. File yang diperlukan akan dikirimkan ke emailmu. Pelajari presentasi itu dan lakukanlah presentasi dengan baik. Aku berharap banyak padamu."
Sakura terkejut mendengar ucapan Tsunade. Mulutnya terbuka untuk sesaat tanpa satupun kata yang keluar. Ia tak pernah menghadiri rapat itu sebelumnya, apalagi memberikan presentasi. Ia juga tak pernah memberikan presentasi apapun di perusahaan sebelum ia diangkat menjadi accounting manager delapan bulan yang lalu. Sebagai accounting manager, ia hanya pernah memberikan presentasi dalam rapat bersama staf di divisi akuntasi.
"Apakah baik-baik saja kalau saya menggantikan Yamato-san? Beliau jauh lebih berpengalaman dalam memberikan presentasi ketimbang saya. Saya khawatir kalau saya tidak bisa melakukan yang terbaik."
"Tenang saja. Aku yang akan menemanimu memberikan presentasi. Kau hanya perlu memberikan presentasi di bidang keuangan, khususnya menjelaskan laporan keuangan yang telah kau buat pada seluruh pemegang saham yang hadir di dalam rapat," jawab Tsunade sambil menatap Sakura lekat-lekat.
Seolah mengetahui rasa penasaran Sakura, Tsunade segera berkata, "Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku tidak menyuruh Umino-san –wakil Chief Financial Officer- atau Kurenai-san –sekretaris Chief Financial Officer-, bukan? Aku menyuruhmu karena kaulah yang membuat laporan keuangan itu. Aku yakin kaulah yang paling mengerti pekerjaan yang telah kau kerjakan sendiri."
Sakura menganggukan kepala dan tersenyum tipis, "Saya akan berusaha agar tidak mengecewakan anda. Mohon bantuannya."
Tsunade tersenyum tipis, "Jangan sungkan menanyakan apapun yang tidak kau mengerti mengenai presentasi itu. Pastikan kau melakukan yang terbaik."
Sakura kembali menganggukan kepala sebagai jawaban pada sang CEO. Jantungnya berdebar keras dan ia merasa agak khawatir jika ia tak bisa memberikan presentasi dengan lancar.
.
.
Rapat dimulai pukul satu siang setelah terlebih dahulu diadakan jamuan makan siang yang dimulai pada pukul dua belas siang pada para pemegang saham yang menghadiri rapat hari ini.
Sakura tak mengikuti jamuan makan siang dan memilih makan onigiri di dalam ruangannya sambil membaca seluruh materi presentasi dan berlatih presentasi. Ini merupakan pengalaman pertamanya memberikan presentasi formal dihadapan orang-orang penting dan ia merasa gugup. Presentasi ini begitu penting karena menunjukkan citra perusahaan, dan kesalahan ucap dalam presentasi bisa mengarah pada persepsi yang salah dan bisa memengaruhi tindakan para pemegang saham dan berpengaruh pada masa depan perusahaan.
Sakura berani bertaruh kalau Sasuke tidak akan menghadiri rapat kali ini. Lelaki itu baru saja pulang dari rumah sakit dan mustahil akan menghadiri rapat.
Padahal sebetulnya Sakura agak berharap kalau lelaki itu akan datang. Setidaknya melihat seseorang yang dikenal, meski bukan seseorang yang disukai, akan jauh lebih baik di saat seperti ini ketimbang tidak ada yang dikenal sama sekali.
Sakura bahkan berkali-kali pergi ke toilet dalam tiga puluh menit menjelang rapat dimulai karena merasa gugup. Ketika jam menunjukkan pukul satu kurang sepuluh menit, Sakura menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan memutuskan untuk pergi ke ruang rapat yang terletak di lantai sepuluh.
Sakura menundukkan kepala ketika ia akan memasuki ruangan dan ia segera membuka pintu tanpa melihat kekiri atau ke kanan setelah mengetuknya tiga kali. Ia mendapati Tsunade yang sudah menunggu di dalam ruangan serta beberapa pemegang saham yng sudah duduk di kursinya masing-masing.
Semua kursi di dalam ruangan itu disusun dengan bentuk 'U' dengan layar proyektor di bagian tengah sehingga setiap peserta rapat dapat melihat ke layar dengan mudah dan menatap satu sama lain. Terdapat kertas dengan nama-nama pemegang saham di setiap meja, ada juga yang ditulis nama dan jabatannya di dalam perusahaan.
Sakura bahkan baru tahu jika perusahaannya memiliki dewan komisaris yang bertugas mengawasi perusahaan. Sakura bahkan tak pernah melihat siapa komisaris di perusahaannya karena jabatannya tak cukup tinggi untuk berhubungan dengan mereka. Kali ini Sakura cukup beruntung –atau malah tidak beruntung- bisa berkesempatan bertemu orang-orang penting di perusahaan dan memberi presentasi di hadapan mereka.
Sakura melihat sebuah kursi yang terletak di tengah-tengah ruangan dengan nama Sasuke. Ia merasa heran karena nama lelaki itu tidak memakai nama Uchiha sebagai nama keluarga, melainkan menggunakan marga gadis ibunya.
Sakura tersenyum tipis dan menundukkan kepala pada beberapa peserta rapat yang menatap kearahnya. Tak lama kemudian dua orang lelaki berusia tiga puluhan akhir masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi dewan komisaris, membuat jantung Sakura seolah akan copot.
"Biar kuperkenalkan kau pada dewan komisaris di perusahaan ini," bisik Tsunade di telinga Sakura tiba-tiba.
Tsunade segera tersenyum dan berjalan menghampiri kedua dewan komisaris itu seraya menoleh kearah Sakura, memberi pertanda agar wanita itu mengikutinya.
"Perkenalkan. Ini Haruno Sakura, wanita yang akan memberikan presentasi menggantikan Yamato-san hari ini."
Sakura segera menundukkan kepala, "Salam kenal. Senang bertemu dengan anda."
"Takashi Ryunnosuke, senang bertemu denganmu," ucap salah seorang lelaki yang bertubuh tinggi dan kurus sambil mengulurkan tangan dan tersenyum tipis.
Sakur segera membalas uluran tangan lelaki. Itu dan mereka berjabat tangan. Salah seorang lelaki lainnya memperkenalkan diri sebagai Yamada Hiroki dan berjabat tangan dengan Sakura.
"Omong-omong, selamat atas pernikahanmu, Haruno-san," ucap Takashi sambil tersenyum.
Sakura agak terkejut untuk sesaat. Pesta pernikahan itu dihadiri sekitar seribu tamu yang lebih dari lima puluh persen tidak dikenal Sakura. Sakura bahkan tidak ingat siapa saja orang yang bersalaman dengannya. Namun ia segera berkata, "Terima kasih."
Takashi baru saja akan mengatakan sesuatu, namun ia melirik jam dan menyadari kalau dua menit lagi rapat akan dimulai dan sudah semakin banyak peserta rapat yang memasuki ruangan sehingga ia segera kembali ke tempat duduknya bersama dengan lelaki lainnya yang juga merupakan dewan komisaris.
Sakura membuka ponselnya dan membaca file presentasi yang telah ia pelajari beberapa jam sebelumnya. Setidaknya menggunakan dua menit yang tersisa untuk mempelajari presentasi jauh lebih bermanfaat ketimbang tidak melakukan apapun.
Terdengar suara pintu yang terbuka dan Sakura segera menoleh. Ia membelalakan mata saat melihat lelaki yang baru saja memasuki ruangan. Ia terkejut mendapati Sasuke memasuki ruangan, begitupun dengan Sasuke yang terdiam untuk sesaat dan menatap Sakura lekat-lekat sebelum berjalan menuju kursinya.
Penampilan Sasuke tak terlihat seperti orang yang baru saja mengalami kecelakaan dan pulang dari rumah sakit pagi ini. Rambut lelaki itu tertata rapi dengan wajah yang terlihat segar dan tercukur bersih, padahal dua hari yang lalu wajah lelaki itu masih agak pucat dan kumis yang mulai tumbuh dan belum sempat dicukur.
Sasuke terlihat elegant dengan setelan jas dan dasi berwarna hitam yang membuat tubuhnya terlihat ramping serta kemeja berwarna abu-abu. Lelaki itu memakai jam tangan pemberian Sakura dengan cincin emas dengan batu blue sapphire di tengahnya serta berlian disekelilingnya yang tampak berkilaun terkena cahaya lampu.
Takashi menoleh kearah Sasuke dan Sakura secara bergantian sebelum tersenyum tipis, sementara Sakura mengepalkan tangan dengan jengkel dan menatap tajam kearah Sasuke. Lelaki itu benar-benar sudah gila!
Perasaan Sakura benar-benar kacau saat ini. Ia berharap tak ada seorangpun yang tahu kalau ia adalah istri Sasuke, namun ia bertemu dengan Takashi dan ia merasa tidak nyaman dengan orang yang mengetahui bahwa ia bersuamikan lelaki cacat. Atau mungkin ia malah harus bangga karena suaminya adalah pemilik saham dengan persentase yang cukup besar.
Beberapa peserta rapat lainnya menoleh kearah Sakura dengan tatapan yang seolah baru menyadari sesuatu dan Sakura merasa seolah ingin menghilang saja saat ini. Ia tak begitu ingat sebelumnya, namun rasanya ia sempat melihat beberapa dari peserta rapat itu di pesta pernikahan sebelumnya.
Sakura merasa agak lega ketika peserta terakhir memasuki ruangan rapat tepat pukul satu siang dan Tsunade segera memulai presentasi.
Tsunade segera memberikan sambutan singkat dengan menyebutkan nama dan jabatannya serta menoleh kearah Sakura, memberi kode padanya untuk memperkenalkan diri.
Jantung Sakura berdebar begitu keras dan ia merasa sangat gugup. Tatapan semua peserta rapat tertuju padanya dan ia segera membuka mulutnya, "Saya Haruno Sakura, accounting manager yang akan menggantikan Yamato-sama untuk memberikan presentasi mengenai kondisi keuangan di perusahaan dalam satu tahun terakhir. Senang bertemu dengan anda sekalian."
Sakura menyelesaikan ucapannya dengan tersenyum sebagai bentuk keramahan. Ia tanpa sengaja menatap kearah Sasuke yang sedang memegang laporan yang diberikan dalam bentuk cetak pada setiap peserta rapat. Lelaki itu segera mengangkat kepalanya dan menatap Sakura ketika merasa bahwa ia sedang ditatap.
Sakura cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman dengan tatapan lelaki itu. Lelaki itu terlihat lebih berkharisma dibandingkan biasanya, meski bukan berarti lelaki itu selama ini tidak berkharisma.
Tsunade segera memulai presentasinya dan ia segera memperhatikan Tsunade, berusaha mengamati cara wanita itu memberikan presentasi dan berniat mempraktekannya nanti.
.
.
Kaki Sakura gemetar dan ia merasa gugup ketika harus memberikan penjelasan. Ia segera menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan serta menutup mulutnya dengan tangan dan mengangkat sudut bibirnya agar ia merasa lebih rileks.
Presentase Tsunade seolah berjalan dengan lambat meski faktanya sudah satu jam berlalu dan kini merupakan giliran Sakura memberikan pejelasan.
Sakura segera memberikan penjelasan mengenai kondisi keuangan perusahan selama satu tahun terakhir berikut dengan kemungkinan pertumbuhan pendapatan di tahun berikutnya.
Perusahaan tempat Sakura bekerja menjual bermacam-macam produk makanan, mulai dari mi instan, makanan ringan, es krim, coklat hingga produk berupa hotdog dan sandwich instan yang dijual dengan vending machine.
Sejauh ini, penjualan produk secara garis besar baik. Hanya saja ada produk yang mengalami kerugian karena kurang populer dan tampaknya tidak begitu diminati di masyarakat, yakni permen, es krim dan keripik kentang rasa nasi putih.
Selain itu pengeluaran perusahaan cukup besar untuk gaji dan fasilitas bagi karyawan. Meskipun demikian, tetap saja net income perusahaan mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Presentasi bagian Sakura berakhir dengan lancar dan Sakura menarik nafas lega. Ia bersyukur karena ia tak sampai melupakan apa yang seharusnya ia katakan. Semula ia berpikir kalau suaranya akan terdengar seperti tercekik karena merasa gugup, dan untungnya tidak ada kendala apapun.
Tsunade kembali mengambil alih presentasi dan kembali memberikan penjelasan mengenai kondisi perusahaan serta target perusahaan dalam jangka pendek maupun panjang.
Salah seorang lelaki paruh baya segera mengangkat tangan tepat ketika Tsunade selesai bicara. Takahashi segera memberikan formulir pada lelaki itu, berisi nama, jumlah lembar saham yang dimiliki dan pendapatnya.
Kemudian lelaki paruh baya itu mendapatkan kesempatan mengajukan pendapat dengan mikrofon serta segera berkata, "Saya tidak setuju dengan rencana peningkatan gaji karyawan. Saat ini saja pengeluaran untuk gaji karyawan sudah sangat tinggi. Saya lebih setuju kalau dana untuk natura (tunjangan) dan kenikmatan (hiburan) bagi karyawan dikurangi. Kalau perlu dilakukan perampingan di beberapa divisi, khususnya divisi kreatif. Sebagai pemegang saham, tentu saja saya mengharapkan profit semaksimal mungkin. Asal tahu saja, dalam dua tahun terakhir kami hanya menerima dividen sebesar sepuluh persen dari net income berdasar pesentase saham yang dimiliki. Dengan peningkatan pengeluaran, dividen tentu akan semakin kecil."
Salah seorang pemegang saham lainnya mengangkat tangan. Setelah mengisi formulir dan mendapat kesempatan mengajukan pendapat, ia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat lelaki paruh baya itu dan sebaliknya ia malah menyetujui rencana perusahaan.
Lelaki paruh baya itu menatap dengan tidak suka dan sinis pada pemegang saham lainnya yang sedang berbicara itu.
Sakura agak terkejut dengan reaksi orang itu. Ia sudah membaca pedoman secara garis besar mengenai rapat umum pemegang saham serta prosedurnya. Ketika ia membaca prosedur, ia menganggap rapat itu sebagai kegiatan prestitius yang dihadiri oleh orang-orang berpengaruh dengan attitude yang baik. Namun ia tak mengira malah menemukan orang dengan attitude buruk.
Dalam setiap rencana perusahaan memang akan diberikan kesempatan bagi peserta rapat untuk mengajukan pendapat atau pertanyaan sebelum voting. Karena hari ini akan diadikan pengambilan beberapa keputusan, maka rapat ini bisa berlangsung cukup lama.
Kini Sakura mengerti mengapa sebagian orang tidak berniat menghadiri rapat, khususnya orang dengan persentase saham kecil. Ketimbang meluangkan waktu yang bisa digunakan untuk hal lain dengan menguras emosi karena peserta menyebalkan ketika rapat, lebih baik melakukan hal lain yang lebih berguna. Toh belum tentu pendapatny akan direalisasikan karena penentuan keputusan berdasarkan suara terbanyak dan besarnya pengaruh suara ditentukan dari persentase kepemilikan saham.
Sakura mulai merasa agak pusing karena proses pengajuan pendapat berubah menjadi 'perang terbuka' antar pemegang saham untuk menyerang argument pemegang saham lainnya. Dari dua puluh orang yang hadir, sudah ada lebih dari lima orang yang mengajukan pendapat.
Sakura melirik kearah Sasuke. Lelaki itu hanya diam dan menyimak perkataan setiap pemegang saham yang mengajukan pendapat. Tampaknya lelaki itu tak berniat mengajukan pendapat atau pertanyaan sama sekali.
Namun pada akhirnya Sasuke tak bisa menahan diri untuk tetap diam ketika salah seorang pemegang saham mengutarakan pendapatnya yang terang-terangan menyerang pemegang saham yang bertentangan dengannya.
Yamada baru saja akan menghentikan sesi pengajuan pendapat untuk mencegah pertengkaran. Namun Sasuke segera mengangkat tangannya dan membuat peserta lainnya menoleh kearahnya, terkejut karena orang yang biasanya tak pernah mengajukan pertanyaan atau pendapat mendadak mengangkat tangan.
"Baiklah. Sesi pengajuan pendapat akan ditutup setelah Sasuke-san. Hanya pertanyaan yang akan dipersilahkan sebelum dilakukan pemungutan suara," ujar Yamada dengan tegas.
Takahashi memberikan formulir pada Sasuke dan lelaki itu segera mengisinya. Takahashi segera mengambil formulir itu dan memberikan mikrofon pada Sasuke.
"Saya setuju dengan peningkatan gaji karyawan. Secara jangka pendek mungkin akan terlihat sebagai penambahan beban bagi perusahaan. Namun menurut teori hirarki Maslow, terdapat lima tingkat pemenuhan kebutuhan manusia. Jika diterapkan dalam perusahaan, peningkatan gaji termasuk pemenuhan tingkat keempat, yakni apresiasi terhadap kinerja karyawan. Karyawan yang mendapat apresiasi otomatis akan meningkatkan kinerja, dan dalam jangka panjang malah akan menambah pendapatan bagi perusahaan. Pengurangan natura hanya akan memperburuk kinerja karyawan dan perusahaan dalam jangka panjang. Saya yakin sebagai investor yang cerdas anda tidak berniat mendapat keuntungan untuk sementara dan merugi untuk selanjutnya."
Suasana yang semula dipenuhi tensi kini berubah ketika Sasuke selesai bicara. Lelaki paruh baya yang semula selalu menatap sinis ketika pemegang saham yang berbeda pendapat dengannya selesai bicara kini hanya diam saja.
Sasuke tak biasanya berbicara panjang lebar seperti ini. Sebelumnya ia hanya diam dan memikirkan kata-kata harus ia ucapkan agar maksud ucapannya tepat mengenai sasaran. Sebetulnya ia berniat menyindir lelaki paruh baya yang pertama kali mengajukan pendapat dan lelaki yang mengajukan pendapat sebelum dirinya yang mengatakan bahwa orang tolol lah yang menyetujui kebijakan yang malah mengurangi pendapatan bersih perusahaan yang bisa digunakan untuk dividen.
Sakura terkejut dengan ucapan Sasuke yang terkesan dipilih dengan sangat hati-hati. Lelaki itu jelas bermaksud menyindir, namun baik raut wajah maupun intonasi suara Sasuke sama sekali tak memperlihatkan emosi yang menggebu-gebu. Sebaliknya lelaki itu malah tampak sangat tenang dan mungkin saja orang yang sedang ia sindir tak menyadari jika ia sedang disindir.
"Apakah masih ada yang akan mengajukan pertanyaan?" ucap Yamada sambil menatap sekeliling.
Tak ada seorangpun yang mengangkat tangan dan ia segera memberikan lembar untuk pemungutan suara pada setiap pemegang saham yang hadir.
Sakura tak tahu persentase kepemilikan setiap pemegang saham yang hadir. Ia hanya tahu kalau Sasuke memiliki tiga puluh lima persen saham, sehingga seharusnya posisinya lumayan menguntungkan dalam pengambilan keputusan seperti ini dibanding orang yang hanya memiliki lima atau sepuluh persen saham.
Yamada membaca satu persatu lembar yang telah dikembalikan. Ia segera membacakan hasilnya.
"Sebelas koma empat persen memilih tidak setuju. Satu koma dua persen memilih abstain. Sisanya memilih setuju. Berdasarkan pemungutan suara, ditetapkan akan ada kenaikan gaji sebesar tiga persen bagi setiap karyawan."
Sakura sedikit terkejut dengan hasil keputusan rapat. Ia tak tahu jika ucapan Sasuke berhasil mempersuasi orang atau banyak orang yang dari awal setuju dengannya, namun sepertinya lelaki itu bisa membuat membuat pendapatnya terealisasikan.
.
.
Rapat selesai pukul setengah enam sore dan Sakura merasa lelah meski ia hanya memberikan presentasi selama tiga puluh menit dan sesekali menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan bidang finansial.
Tsunade menepuk bahu Sakura dan tersenyum, "Selamat. Kau berhasil memberikan presentasi dengan baik. Terima kasih atas kerja kerasmu."
Sakura tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada sang CEO yang tak biasanya memberikan pujian.
"Kau boleh pulang sekarang. Lagipula suamimu mungkin sudah menunggu."
Mana mungkin Sasuke menunggunya? Mereka berdua bersikap seperti dua orang yang tidak saling mengenal dan Sakura merasa lebih nyaman seperti ini. Lagipula ia tidak nyaman dilihat bersama Sasuke oleh banyak orang.
"Kurasa dia sudah pulang. Jadi aku juga akan pulang terlebih dulu. Terima kasih atas bimbingannya hari ini. Dan sampai jumpa."
Sakura segera berjalan menuju pintu keluar dan ia terkejut ketika mendapati Sasuke sedang menunggunya tak jauh dari pintu.
"Kau menungguku?" tanya Sakura tepat ketika ia menghampiri Sasuke.
"Hn."
"Siapa yang tadi menjemputmu di rumah sakit?"
"Tidak ada."
"Lalu kau mengemudi sendiri untuk menghadiri rapat?"
"Hn."
Sakura berdecak kesal. Sasuke benar-benar gila. Bagaimana kalau lelaki itu kembali kecelakaan karena mengemudi dalam kondisi tubuh yang tidak prima? Bisa-bisa ia yang semakin direpotkan.
Seperti biasa Sakura membawa mobil ke kantor. Namun ia tak bisa membiarkan Sasuke mengemudi sendirian. Maka mau tak mau ia meninggalkan mobilnya di kantor. Toh gedung kantor ini seluruhnya merupakan milik perusahaannya. Lagipula ia sudah mengasuransikan mobilnya, maka jika mobilnya dicuri ia akan mendapat kompensasi.
"Kalau begitu berikan kunci mobilnya padaku. Biarkan aku yang mengemudi," ucap Sakura sambil mengulurkan tangan, meminta kunci pada Sasuke.
Kali ini Sasuke membawa mobil sport yang biasa ia gunakan untuk pergi ke kantor sehari-hari, sementara Sakura biasanya membawa mobil berukuran kecil. Ia khawatir kalau Sakura kesulitan mengemudi mobil itu dan malah membahayakan dirinya sendiri.
"Tidak."
"Cepat berikan saja. Kau benar-benar gila, ya? Padahal kau baru saja pulang dari rumah sakit dan langsung menghadiri rapat Bagaimana kalau kondisimu memburuk? Bisa-bisa aku semakin repot. Menyusahkan sekali."
Sasuke tak berniat memberikan kuncinya sama sekali pada Sakura. Ia segera berjalan menuju elevator tanpa mempedulikan Sakura yang masih diam di tempat. Wanita itu akhirnya berjalan mengikuti Sasuke dengan raut wajah jengkel.
"Memangnya kenapa kau nekat menghadiri rapat, sih? Memang sih sebisa mungkin kau harus membuat keputusan final sesuai dengan keinginanmu, tapi harusnya kau pikirkan kondisimu sendiri. Kalau terjadi sesuatu padamu, kau menyusahkan orang lain, khususnya aku."
Sasuke menghentikan langkahnya. Sebetulnya ia sebisa mungkin tak ingin merepotkan orang lain. Ia merasa tidak nyaman karena menjadi beban baik secara langsung maupun emosional bagi orang lain. Karena itulah ia lebih memilih sendirian ketika ia sedang sakit, ia tak ingin membebani orang lain dan lebih menyukai sendirian. Ia tak berniat mengutarakan pemikirannya dan segera berkata, "Bagaimana kalau aku tidak datang dan pendapat orang itu menjadi keputusan final?"
"Ah-" Sakura terdiam sejenak. Setidaknya ia harus sedikit berterima kasih pada Sasuke. Secara tidak langsung gajinya naik tiga persen berkat lelaki itu. Ia merasa penasaran dan berniat mencari tahu mengenai persentase kepemilikan saham di perusahaan tempatnya bekerja. Ia penasaran seberapa besar pengaruh Sasuke dalam pengambilan keputusan saat rapat pemegang saham.
"Terima kasih. Berkat kau, gajiku naik tiga persen," ucap Sakura sambil tersenyum.
Sasuke agak terkejut, tak biasanya wanita itu tersenyum padanya. Namun ia tak ingin membiarkan kesalahpahaman dalam pemikiran wanita itu.
"Kau mendengar ucapanku, kan? Tujuanku adalah keuntungan jangka panjang."
Sakura sudah menduganya. Kenapa ia harus berpikir lelaki itu berusaha bersikap baik padanya. Ia merasa malu dan berpikir jika ia benar-benar tolol.
"Aku tahu. Abaikan ucapanku yang tadi. Aku sedang senang karena kenaikan gaji."
Pintu elevator terbuka dan Sakura segera masuk ke dalam bersama Sasuke. Mereka hanya berdua saja kali ini. Para pemegang saham yang menghadiri rapat langsung pulang setelah rapat selesai.
"Kau terlihat gugup tadi."
Sakura merasa benar-benar malu. Ia memang gugup, namun ia berusaha keras menutupinya. Ia tak ingin terlihat memalukan, khususnya dihadapan orang yang tidak ia sukai.
"Masa, sih? Mungkin saja hanya perasaanmu." Sakura menyangkal.
"Kau mau makan dimana? Pilih restoran yang kau mau, anggap sebagai perayaan keberhasilan presentasimu."
Sasuke terkejut dengan kalimat yang ia ucapkan tanpa berpikir. Ia yakin wanita itu akan menolak dan ia merasa menyesal mengucapkannya. Sakura memang terlihat agak pucat saat presentasi tadi dan ia khawatir wanita itu pingsan. Dalam hati ia bertanya-tanya jika wanita itu sudah makan dengan cukup atau tidak karena ia sama sekali tidak melihat wanita itu saat jamuan makan siang.
Sakura terkejut. Ia tak menyangka jika Sasuke seolah bisa membaca pikirannya. Ia sudah kelaparan setengah mati dan tadi pagi ia hanya sempat memakan sepotong roti tawar dan meminum segelas air untuk sarapan karena ia terlambat bangun. Tadi siang ia meminta tolong pada office boy untuk membelikan onigiri di vending machine dekat kantor.
Sebetulnya Sakura merasa tidak suka terlihat di tempat umum bersama Sasuke. Namun rasa lapar mengalahkan segalanya dan ia segera berkata.
"Terserah kau saja. Yang penting makanan."
-TBC-
Reply to review :
- Nita Shuhei :
Berhubung aku ga bisa bales guest via PM, jadi aku bakal bales disini.
Maaf buat kamu & para pembaca Revenge To Her lainnya yang udah nungguin & tiba-tiba ceritanya dihapus.
Aku mulai kehabisan ide buat konflik di fanfict itu & mulai ngerasa alurnya monoton. Bahkan ada yg bilang ceritanya terlalu bertele-tele, dll.
Kalau aku paksa lanjut, kemungkinan aku ga bisa nulis cerita dengan kualitas terbaik yang aku bisa. Aku ga mau ngecewain readers & diri sendiri dgn buat cerita yang asal jadi. Jadinya aku memutuskan buat delete story.
Kemungkinan kedepannya bakal ada fanfict lain pengganti fanfict Revenge To Her.
