Hola Minna…
Semoga gak ada bosennya ya dengan fic saya yang gaje, ancur, berantakan, gak beres dan sebagainya ini. Sekali lagi maaf malah bikin fic baru, saya lagi kena WB dadakan. Gak ada imajinasi sama sekali buat nerusin fic yang ada. Kayaknya butuh Spongebob nih!
.
DISCLAIMER : TITE KUBO
.
RATE : M
.
WARNING : OOCness(parah, banget, kelewatan, gak ketolongan), AU, Misstypo(eksis mulu, gak mau absen!), Gaje, Ide pasaran, Mudah ketebak, Membosankan!
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka, apalagi terdapat kesamaan di dalam fic ini di fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun, itu sama sekali tidak disengaja. Mohon maaf kalau terjadi kekeliruan dalam pembuatan fic ini. Semua yang ada di sini cuma fiksi yang iseng.
.
.
.
Entah apa yang terjadi… semuanya berlalu begitu saja tanpa bisa dicegah.
Di atas kasur itu, Rukia sepenuhnya bersandar di dada Ichigo. Sedangkan Ichigo, mengeratkan pelukannya di perut Rukia seraya terus mencium erat sudut leher Rukia dengan penuh kemesraan.
Mereka tak peduli, ya… mungkin awalnya Rukia yang tak peduli akan hal ini. Rukia tak pernah berpikir dia akan berakhir seperti ini. Tapi kekalutan yang dialaminya membuat pikirannya kosong dan hampa. Rasanya ingin berada di dekat kekasih yang dicintainya ini adalah prioritas utamanya saat ini.
Oh, apa ada yang menyangka sekarang seperti apa penampilan mereka?
Tanpa busana. Ya, tidak ada satu kain pun yang menutupi tubuh mereka. Satu per satu mereka saling melepaskan pakaian yang melekat di badan mereka. Seharusnya ini tak terjadi, tak tak ada kata seharusnya sekarang. Semuanya sudah terlanjur…
Rukia berbalik dan memeluk pinggang Ichigo dengan kedua kakinya. Tangannya bergerak melingkar erat di leher Ichigo dan kemudian beralih mencium bibir Ichigo dengan penuh nafsu. Jika dikatakan cinta tak mengenal logika, mungkin sekaranglah buktinya cinta itu tak butuh logika. Asalkan kau bersama orang yang kau cintai, sudah pasti kau akan bersedia melakukan segalanya.
Ichigo mendorong pelan tubuhnya yang langsung merapat erat memeluk Rukia. Kini mereka sudah saling menindih dan berguling di atas kasur itu.
Mereka masih saling berciuman, tak tahu lagi bagaimana meredam keinginan menggila yang mulai meledak-ledak di dalam pikiran ini. Hawa panas yang menggelora, menguap begitu saja seakan-akan tak tahan lagi kapan luapan penuh emosi ini tersalurkan.
"Rukia…" bisik Ichigo ketika dirinyalah yang menyudahi ciuman maut tanpa henti itu.
Rukia terlihat terengah memburu napas. Wajahnya terlihat memerah, semerah buah strawberry yang baru saja masak. Semburat merah yang berasal dari pembuluh darah yang mengalir di seluruh wajahnya itu membuat wajah Rukia memiliki perona alami yang semakin mempertegas kecantikannya. Ya, Ichigo seumur hidup tak pernah bertemu dengan wanita secantik Rukia. Cantik yang tak pernah bosan untuk dipandanginya bahkan untuk selama-lamanya. Cantik yang mampu menghipnotis siapa saja untuk berani mencintainya sekali pun hal itu adalah perbuatan paling berbahaya.
Jauh lebih berbahaya dari sekadar memandangi bunga edelweiss yang selalu bermekaran di puncak gunung tertinggi bersama lembah dan jurang yang mengitarinya.
"Ya…?" balas Rukia dengan suara terlembut yang pernah didengar oleh Ichigo selama mengenal wanita seperti Rukia ini.
Ya, untuk Rukia, apa yang tak dimilikinya di dunia ini? Dia adalah segala hal yang seluruh wanita di dunia ini inginkan. Kecantikan, kekayaan, intelektualitas, kepintaran… apa yang tak dimiliki oleh Kuchiki Rukia?
Memiliki wanita seperti Kuchiki Rukia pun adalah impian dari seluruh pria di dunia ini.
Termasuk Ichigo.
Ya, pria miskin yang bahkan tak memiliki apapun yang berharga selain harga diri dan martabatnya. Pria miskin yang sudah berani mencintai seorang wanita layaknya Kuchiki Rukia.
"Aku menunggumu…" lirih Rukia yang akhirnya menyadari kebimbangan yang dipancarkan oleh Ichigo.
Ya, kebimbangan yang begitu terbersit di dalam benaknya. Haruskah sejauh ini?
"Kau akan menyesal jika kita melangkah terlalu jauh…" kata Ichigo dengan suara yang terdengar amat rendah.
"Kalau begitu… kau menyesal melangkah sejauh ini bersamaku?"
"Aku tidak ingin… kau hancur karena aku…"
"Aku juga tidak akan membiarkanmu hancur karena aku…"
Rukia kemudian beranjak memeluk Ichigo yang masih menahan dirinya di atas Rukia.
"Aku adalah milikmu… selamanya milikmu… karena itu… jadikan aku milikmu seutuhnya…" bisik Rukia.
Tersihir dengan kata-kata itu, Ichigo kembali bergerak pelan.
Rukia memang merasakan pergerakan di antara pangkal pahanya itu. Sedikit terkejut ketika sesuatu yang asing itu mulai menggedor masuk pintu dunianya. Sedikit dan demi sedikit rasa sakit itu akhirnya datang juga. Tadinya Rukia sudah mempersiapkan dirinya. Tapi kegugupan yang dialaminya tak bisa membohongi dirinya sendiri. Karena ini pertama kalinya untuk Rukia… dan Rukia berharap… ini pun…
"Maafkan aku… ini pertama kalinya…" bisik Ichigo yang terus bergerak perlahan. Berusaha untuk tidak menyakiti Rukia terlalu dalam karena gerakannya saat ini. Rukia pun bisa merasakan sedikit kecanggungan yang dirasakan oleh Ichigo.
"Hm… tidak apa-apa… lakukanlah…"
Rukia meredam suara yang tadinya ingin diteriakinya. Tapi kemudian, perlahan semuanya terasa lebih baik tepat ketika akhirnya perlahan Ichigo mulai menyesuaikan pergerakannya.
Ya, kini Ichigo telah memasuki dirinya dengan sempurna.
Dan akhirnya… semuanya pun larut dalam malam tanpa bintang hari ini…
.
.
*KIN*
.
.
Tanpa sehelai benang pun yang memisahkan mereka, Ichigo masih setia memeluk erat tubuh kekasihnya itu. Ya, apa yang mereka lalui malam ini memang sudah di luar batas kewarasan yang mampu mereka miliki. Tak satu pun dari mereka yang bisa mencegah hal ini terjadi. Tidak juga dengan Ichigo yang selama ini menjaga akal sehatnya setiap kali di momen intim bersama Rukia.
Hari ini, semuanya melebur dalam gelapnya malam. Mereka sadar apa yang sudah mereka lakukan atas nama cinta yang dikendalikan oleh nafsu ini adalah kesalahan. Tapi Ichigo tak akan menampiknya begitu saja. Ya, dia tidak menyesal dengan apa yang dilakukannya pada kekasih yang dia cintai itu. Rukia pun sama, sekali pun darah bangsawan mengalir di dalam tubuhnya dan membuatnya menjadi hina karena perbuatan seperti ini, Rukia tak menyesal melakukannya. Dirinya sepenuhnya sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah salah.
Tapi walau langit dan bumi mengutuknya, Rukia tak akan pernah mundur dari pilihannya.
Ya, Rukia sudah membuat pilihan, sekali pun pilihannya adalah neraka, Rukia tak akan mundur begitu saja. Seperti Ichigo yang tak pernah mundur dengan memperjuangkannya. Ichigo selalu melangkah maju bersama Rukia sekali pun dirinya mungkin hancur karena Rukia. Ya, sedikit saja Rukia mengeratkan genggamannya pada Ichigo, maka kekasihnya itu mungkin akan sedikit demi sedikit mendekati ambang kehancuran.
Tapi sebelum Rukia mencoba untuk berusaha, dia tak akan mundur.
Rukia akan tetap berdiri di sisi Ichigo meski pun mereka berdua akan hancur.
"Apa yang kau pikirkan?" bisik Ichigo yang menyadari bahwa kekasihnya masih terbangun meskipun Ichigo sudah memeluknya seperti ini. Ya Ichigo berharap Rukia segera tertidur karena kekasihnya ini masih mengalami insomnianya.
"Hmm," lirih Rukia.
"Aku tahu, jika kau sulit tidur, pasti ada yang kau pikirkan. Mau cerita padaku?"
"Hmm…"
"Hei, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan kalau kau tidak menjawabku…" ujar Ichigo lagi.
"Desain-ku… diplagiat…" lirih Rukia.
"Apa?" Ichigo sedikit terkejut. Karena jujur dia memang baru pertama kali ini mendengarnya. Karena sepertinya Rukia memang belum mengatakannya pada siapapun, sepertinya.
"Dan show-ku harus ditunda dua minggu dari sekarang. Jika aku ingin tetap memulai show-ku, aku harus memikirkan cara mengatasi plagiat ini…" jelas Rukia.
"Kau sudah lihat seperti apa plagiatnya?"
"Desainnya memang sama. Hanya saja, bahan dan beberapa detilnya agak berbeda. Perusahaan tidak mau mengeluarkan desain yang sudah tersebar luas seperti itu. Dan katanya desain itu cukup banyak dipesan oleh orang…"
"Kau sudah memikirkan siapa pelakunya?"
"Belum, karena sekarang itu bukan hal penting. Aku harus menyelamatkan show-ku lebih dulu…"
"Jangan khawatir, kau pasti bisa."
"Bagaimana aku bisa… sampai sekarang saja aku tidak tahu jalan keluarnya seperti apa…"
"Hei, kau adalah originalnya. Kau memiliki apa yang tidak dimiliki oleh si plagiat itu kan?"
"Apa… yang kumiliki?"
"Ini…" Ichigo mencium mesra dahi Rukia dengan begitu hangat.
"Dahi?" tanya Rukia bingung.
"Bukan… kau memiliki ide brilliant yang tidak bisa dimiliki oleh siapapun di dunia ini. Aku yakin kau bisa melakukannya secepat mungkin. Karena aku percaya kau adalah wanita yang sangat tangguh…"
"Karena itukah kau mencintaiku?"
"Hm, kalau kau bertanya mengenai alasan ku mencintaimu, kurasa tidak akan cukup semalam jika harus kujabarkan…"
"Benarkah?"
"Sekarang kau harus tidur… bukankah kau punya tugas penting besok? Aku akan menemanimu…"
Begitu… indah.
Ya, Rukia tak pernah merasa setenang ini sebelum Ichigo masuk ke dalam hidupnya. Setelah Ichigo datang, entah mengapa semua masalahnya berlalu begitu saja dan menenangkan dirinya yang memang gampang panik ini. Sejak ada Ichigo, Rukia merasa bisa bergantung padanya kapanpun. Ichigo bisa memberikan kekuatan yang selama ini dibutuhkan oleh Rukia. Ichigo… selalu Ichigo…
Jadi, jika Rukia harus kehilangan Ichigo karena kakeknya, Rukia tak akan berpikir dua kali untuk mengakhiri hidupnya.
Karena Rukia, tidak ingin lagi kembali menjadi dirinya yang lama. Yang begitu hampa dan kesepian…
.
.
*KIN*
.
.
Sekali lagi, pagi indah yang dilalui oleh Rukia.
Begitu membuka matanya, Ichigo kembali menghujaninya dengan ciuman-ciuman mesra yang begitu romantis. Rukia tak menyangka jika Ichigo bisa memperlakukannya begini romantis. Meski awalnya Rukia tak begitu menyukai perlakuan seperti ini, tapi ketika Ichigo yang melakukannya, semuanya malah terasa indah. Dan senang rasanya jika Rukia bisa selamanya seperti ini.
Rukia memang tidak pulang ke rumah kemarin, tapi dia sudah mengabari kakaknya kalau Rukia tengah melakukan tugas lemburnya demi desain dan shownya.
Ya, pagi ini Rukia kembali ke kantor dan memulai perjuangannya.
Sebanyak 50 desain yang akan dipamerkan di show-nya nanti diminta Rukia untuk dibawa ke sebuah ruangan besar yang berada di lantai teratas kantornya. Ya, ruangan ini biasanya memang diperuntukkan untuk menaruh semua desain Rukia yang sudah jadi. Sekarang Rukia sudah menaruhnya berjajar di seluruh ruangan. Busana yang tadinya akan dipamerkan beberapa waktu lalu ini tak bisa dibuang begitu saja. Rukia harus melakukan sesuatu untuk membuatnya jadi terlihat lebih baik daripada plagiat sialan itu.
Kau memiliki ide brilliant yang tidak bisa dimiliki oleh siapapun di dunia ini.
Ya, Rukia adalah desainer original-nya. Rukia-lah yang memiliki kuasa penuh tentang desain ini. Tak seorang pun yang mampu menyamainya. Mengingat kata-kata Ichigo membuat Rukia kembali bersemangat. Ya, dia bisa.
Akhirnya Rukia mencoba me-remake satu busana. Tadinya busana itu adalah sebuah gaun, tapi Rukia merombak beberapa bagian hingga gaun itu berubah menjadi busana dengan potongan atasan dan bawahan. Detilnya ditambah sedikit lalu beberapa bagian ditambah dan dikurangi sehingga menjadi sebuah desain yang baru. Sekali dilihat, tak akan ada yang tahu jika baju ini ternyata adalah sebuah busana yang didaur ulang. Rukia hanya merubah beberapa motif saja. Kadang juga ada beberapa busana yang memang harus dirombak total. Dibantu beberapa pegawai yang dipercayai oleh Rukia, beberapa pakaian sudah jadi. Mungkin karena tangan Rukia yang masih terkilir ini tak bisa terlalu digunakannya jadi Rukia tidak bisa melakukannya sendiri. Rukia juga sudah meminta beberapa pegawai lainnya membawakan kain-kain dengan kualitas mahal, dimulai dari lace yang diimpor langsung dari Perancis dan lainnya. Ada beberapa pakaiannya yang dijahit ulang untuk menghilangkan kesan dari plagiat sialan itu. Butuh waktu yang tak sedikit memang untuk merombaknya, tapi ini jauh lebih baik daripada men-desain ulang.
Dan hari ini, hingga malam hari menjelang sudah lima busana yang dirombak. Rukia merasa senang karena akhirnya dia bisa melakukan ini tepat waktu. Ya, jika lima pakaian dalam sehari bisa dirombaknya tanpa henti, Rukia punya cukup waktu untuk kembali mengatur ulang show-nya seperti yang dijanjikan yang memang hanya dua minggu.
Sudah tiga hari ini Rukia terus melakukan lembur di kantor. Tapi kebanyakan Rukia sendiri yang melakukannya. Pegawainya hanya diminta untuk melakukan hal-hal sederhana saja seperti menjahit motif atau menambah detilnya. Tangannya sudah lebih baik digerakkan. Kadang Ichigo datang di siang hari untuk memastikan Rukia makan cukup baik, lalu kembali lagi di sore hari untuk memastikan Rukia kembali makan. Ichigo cukup perhatian dengan melihat pola makan Rukia. Terkadang, Ichigo sampai membawakannya makanan ke tempat Rukia melakukan pekerjaannya.
Melihat Rukia yang begini bersemangat tentu saja Rukia sangat yakin dia mampu menyelesaikannya dengan baik. Ya, Rukia tentu saja bisa melakukannya bukan?
Diam-diam Senna memperhatikan Rukia yang tengah begitu serius menyelesaikan tugasnya. Ya, kemungkinan waktu dua minggu yang diberikan padanya akan selesai begitu saja. Sudah Senna duga, memberikan tekanan begitu saja pada Rukia tak akan membuatnya goyah sedikit pun. Pekerjaan seperti ini, tentu saja bukan kelemahan dari Kuchiki Rukia.
"Senna?"
Begitu melewati koridor, Senna bertemu dengan Ulquiorra. Ah ya, penanggungjawab desain Rukia. Beberapa hari ini dia tidak terlihat. Mungkin urusannya sedikit banyak mengingat Ulquiorra harus mengurus show Rukia yang terpaksa ditunda itu.
"Apa kabarmu?" sapa Senna.
"Baik, bagaimana denganmu?"
"Tentu saja baik. Ah~ kau mau bertemu Rukia? Sepertinya dia cukup sibuk dengan urusannya di sana," ujar Senna.
"Ya, dia sudah berhasil menemukan jalan keluar dari masalahnya. Sudah kuduga dia memang wanita yang hebat."
"Oh ya? Kalau begitu, kuberitahu kau satu hal. Menekan Rukia dalam pekerjaan seperti ini, bukan kelemahannya. Tidak ada gunanya menyuduti Rukia dalam hal pekerjaan. Karena itu jelas sia-sia saja."
Ulquiorra diam. Kata-kata Senna jelas bukan isapan jempol semata.
"Apa maksudmu?"
"Seranglah kelemahannya. Selama ini Rukia tak punya kelemahan. Tapi setelah dirinya berubah, Rukia jadi memiliki kelemahan. Mau kuberitahu apa itu?"
Ulquiorra kembali diam seraya begitu serius memandangi Senna yang tersenyum licik padanya. Wajahnya memang tersenyum, tapi menusuk di saat bersamaan.
"Kau tidak ingin tahu?" goda Senna.
"Apa yang kau maksud adalah… model itu?"
"Ara… kau tahu. Apa kau tahu hubungan mereka apa?"
"Aku tidak ingin tahu."
"Sayang sekali kalau kau tidak ingin tahu. Ya baiklah, kalau kau nanti sakit hati, aku tidak mau bertanggungjawab yaa…"
Senna masih tersenyum ceria dan berjalan melewati Ulquiorra. Tapi kemudian, ketika Senna tepat berpapasan dengan Ulquiorra…
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Ulquiorra.
"Melakukan apa?" tanya Senna seraya menoleh ke arah Ulquiorra.
"Kenapa kau justru ingin menjatuhkan Rukia, bukannya menolongnya? Bukankah kalian adalah saudara sepupu?"
"Mungkin karena kami sepupu, aku melakukannya…"
Senna kali ini terlihat serius sekali.
"Terserah kau ingin percaya padaku atau tidak, tapi aku tidak pernah tertarik dengan harta Kuchiki. Ibukulah yang berambisi ingin mendapatkannya. Kupikir, aku dan Rukia tidak akan pernah memperebutkan sesuatu seperti yang kami lakukan selama 25 tahun ini. Jika aku tak memilikinya dan Rukia memilikinya, aku hanya perlu meminjamnya dan Rukia dengan senang hati meminjamkannya. Jika kami ingin sesuatu, kami pasti mendapatkannya meski akhirnya kami mendapatkan barang yang sama.
"Kupikir, menyukai sesuatu yang sama dengan seseorang yang sudah kau anggap seperti saudara kandung sendiri adalah hal yang menyenangkan. Kami tumbuh layaknya saudara kembar meski berbeda umur. Tapi apa kau tahu, apa yang akhirnya membuatku merasa muak menyukai hal yang sama dengan Rukia?"
Ulquiorra kembali diam. Ini hal pertama yang diceritakan oleh Senna padanya mengenai mereka berdua. Semula Ulquiorra tak ingin memikirkannya, atau lebih tepatnya memang benar-benar tidak ingin mengetahuinya. Ya, dengan tidak mengetahui itu, Ulquiorra tak perlu berpikir picik demi mengambil hati Rukia.
"Ya, kupikir kau sudah mengetahuinya. Pada akhirnya kami menyukai seorang laki-laki yang sama. Dan kau tahu apa yang lebih memuakkan daripada itu? Karena ternyata laki-laki itu juga jatuh cinta pada Rukia. Aku mulai membencinya karena pada awalnya Rukia tidak menaruh perasaan apapun pada laki-laki itu! Tapi akhirnya… dia terlalu munafik dan naif… sekarang, kau tahu kenapa aku ingin menjatuhkan Rukia bukan?"
"Apa kau ingin… mendapatkan laki-laki itu dengan menjatuhkan Rukia?"
"Tentu saja. Menghancurkan Kuchiki Rukia, adalah satu-satunya jalan untuk memisahkan mereka. Setidaknya, sebelum hubungan mereka terbongkar di hadapan Kakek, aku masih bisa menyelamatkan laki-laki itu sebelum hancur di tangan Kakek Ginrei…"
Setelah mengatakan hal itu, Senna berlalu begitu saja.
Apa benar seperti itu?
Ulquiorra mengerti apa yang dikatakan oleh Senna. Tapi perasaan itu pun sebenarnya tidak salah. Hanya saja…
Jika benar begitu… haruskah Ulquiorra berada di perahu yang sama dengan Senna untuk memisahkan kedua orang itu?
Karena Ulquiorra sudah mengetahui kekejam yang pernah dilakukan Kuchiki Ginrei demi mendapatkan kekuasaannya. Bahkan dia terkenal sangat kejam di dunia bisnis ini.
.
.
*KIN*
.
.
Sudah seminggu berlalu, hampir sebagian besar desainnya sudah selesai dikerjakannya.
Tapi berkat itu pula sekarang Rukia sampai pada puncaknya. Kurang tidur selama seminggu terakhir ini membuatnya sedikit kurang fokus. Tapi dia harus mengejar waktunya sebelum batas berakhir.
Baru saja Rukia akan berdiri untuk mengukur ulang pakaian yang hendak dirombaknya, kepalanya langsung merasa pusing. Astaga… bagaimana ini…
Ulquiorra memang sudah beberapa kali mengecek pekerjaan Rukia. Tak jarang beberapa malam Ulquiorra kadang menemani Rukia yang tengah mengejar waktu menyelesaikan tugasnya ini. Dalam rentang waktu itulah Rukia tak bisa menemui Ichigo. Terlalu beresiko dan Rukia juga tidak ingin Ulquiorra mengetahui hubungan mereka. Ya, Ulquiorra yang dekat dengan kakeknya tentu saja tidak ingin Rukia libatkan.
Rukia tak sadar dirinya sempat tak fokus hingga gunting yang digunakannya itu sudah mengenai jarinya sendiri. Rukia segera mengecup jarinya yang terluka itu. Gawat… fokusnya sudah nyaris hilang…
"Rukia? Hei, kenapa? Kau tidak apa-apa?"
Ichigo sudah muncul di sebelahnya. Seperti biasanya Ichigo memang kadang membawakannya makan siang karena Rukia tidak pernah keluar dari kantor pada jam makan siang untuk menyelesaikan masalahnya ini.
"Tidak apa-apa, jariku terluka…" ujar Rukia.
"Coba kulihat," kata Ichigo seraya menarik tangan Rukia dan melihat jarinya yang terluka itu. Benar, ada luka yang cukup parah karena sebuah gunting.
"Kau sudah terlalu lelah."
"Tidak, aku hanya tidak fokus—"
"Tidak fokus juga akibat dari kelelahan. Untuk apa kau berusaha begitu keras kalau pada harinya kau malah ambruk huh? Istirahat sebentar saja. Kau juga sudah menyelesaikan banyak. Lihat, matamu sudah menghitam seperti panda dan wajahmu juga pucat. Dengarkan kata-kataku kali ini."
"Tapi Ichigo…"
"Yayaya, kau bisa melanjutkannya nanti setelah beristirahat. Ok?"
Akhirnya Rukia mendesah putus asa.
"Baiklah, kau menang. Aku memang butuh istirahat…"
"Anak baik, sekarang makan dulu sebelum istirahat…"
Setelah menghabiskan makanan yang dibawa oleh Ichigo itu, Rukia sebelumnya sudah meminta pegawainya untuk keluar semua makan siang. Sekarang Rukia sudah terlelap di pangkuan Ichigo. Dirinya sekarang berbaring di sebuah sofa yang memang sengaja ditaruh di sana. Ichigo tak henti-hentinya mengelus kepala Rukia dengan satu tangannya, karena tangan lainnya tengah digenggam oleh Rukia yang kini tertidur lelap.
Ingin rasanya melakukan sesuatu untuk Rukia, Ichigo cukup kasihan melihatnya bekerja begini membabi buta demi menyelamatkan desainnya. Kerja keras yang dilakukan Rukia membuktikannya bahwa dia adalah wanita yang tangguh. Dia bisa melakukann apa saja yang bahkan mustahil dilakukan oleh orang lain.
"Aku mencintaimu…" bisik ichigo seraya mengecup puncak kepala Rukia.
.
.
*KIN*
.
.
Ulquiorra baru saja membeli makan siang untuk Rukia hari ini.
Namun, Ulquiorra baru menyadari beberapa pegawainya terlihat keluar dari lift. Sepertinya mereka juga tengah ingin makan siang. Mungkinkah Rukia sekarang ini tengah sendirian?
Bergegas, Ulquiorra segera menghampiri tempat Rukia bekerja.
Begitu membuka pintu ruangannya, Ulquiorra terkejut dan segera mundur perlahan.
Sejak kapan pria itu masuk ke ruangan Rukia?
Dan yang lebih mengagetkan lagi, Rukia tampak tertidur di pangkuan laki-laki berambut terang itu. Tak berapa lama, laki-laki itu malah mencium puncak kepala Rukia.
Tadinya Ulquiorra sama sekali tidak ingin mengetahui hubungan mereka karena dengan begitu, Ulquiorra tak akan merasa khawatir dengan dirinya yang ingin mendapatkan Rukia. Ya, seharusnya seperti itu. Tapi kemudian…
Tiba-tiba ponsel Ulquiorra bergetar, menandakan panggilan masuk. Melihat nama pemanggilnya, segera mungkn Ulquiorra mengangkatnya dan kemudian dirinya diminta langsung menemui penelpon itu.
Dalam pikiran tak menentu ini, Ulquiorra tak mengerti lagi dengan dirinya yang merasa sedikit marah dan kesal. Ulquiorra tak menyangka dirinya akan seperti ini.
Apakah ini perasaan yang dirasakan oleh Senna?
Ulquiorra mencoba bersikap seperti pria baik pada umumnya, tapi ternyata pria baik tak pernah berhasil di kehidupan nyata. Menjadi pria baik, terkadang tak memiliki kesempatan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan karena perasaan baik itu.
"Kau sudah datang, duduklah…"
Kini Ulquiorra sudah tiba di ruang pribadi Kuchiki Ginrei di dalam mansionnya. Kakek berusia lanjut itu menyilakan duduk di sofa ruangannya. Dia tampak kembali sehat meski dokter pribadinya masih melarangnya datang ke kantor.
"Perjalananmu pasti jauh kemari, apa kau ingin minum sesuatu?" tawar Ginrei.
"Tidak apa-apa, terima kasih Presdir."
"Begitu, tapi aku akan tetap menghidangkan sesuatu untukmu."
Ulquiorra diam, ya, dia sebenarnya tak punya pikiran apapun kenapa tiba-tiba Presdir Kuchiki Enterprice ini memanggilnya secara pribadi seperti ini.
"Sepertinya Rukia cukup serius dengan pekerjaannya. Beberapa hari ini dia sering pulang larut," buka Ginrei.
"Ya, desain-nya sudah dia selesaikan sebagian besar. Mungkin dalam beberapa hari lagi, dia bisa menyelesaikannya dan melanjutkan show-nya. Dua minggu waktu yang cukup untuknya ternyata…"
"Hm, dua minggu ternyata terlalu lama ya. Sedikit menyesal memberikannya waktu selama itu."
"Presdir… apa yang Anda katakan?"
"Besok adalah hari ulang tahunku. Aku akan memberikan kejutan kecil untukmu."
"Apa? Tapi bukankah seharusnya Presdir yang mendapatkan kejutan mengingat Anda yang berulang tahun?"
"Tidak, kau salah. Justru itu adalah kado yang sangat kuinginkan. Pastikan kau datang. Ah ya, beritahu ayahmu untuk hadir juga. Karena pesta itu kuadakan di tempat yang cukup mewah…"
"Baik, Presdir…"
Ulquiorra tak mengerti kenapa tiba-tiba Kuchiki Ginrei membicarakan ulang tahunnya pada Ulquiorra secara mendadak begini. Bahkan Ulquiorra tak menyangka jika Presdir Kuchiki Enterprice ini mau merayakan ulang tahun di sebuah tempat yang mewah.
.
.
*KIN*
.
.
Tidur yang cukup sudah membuat Rukia dapat berkonsentrasi kembali. Ichigo sudah lama meninggalkan ruangannya semenjak Rukia bangun dari tidur siangnya yang nyaman itu. Katanya Ichigo ada urusan di rumahnya sebentar, tapi Rukia juga memintanya untuk tidak datang lagi. karena tinggal sedikit, Rukia bisa menyelesaikan segera mungkin. Dan ya, tidak akan pulang larut lagi karena sudah tinggal sedikit.
"Rukia."
Ketika tengah merombak satu busana, Rukia terkejut melihat kakak sulungnya sudah berada di dekatnya. Kenapa tiba-tiba seperti ini?
Akhirnya mereka berbincang di ruangan Rukia, bukan di tempatnya mendaur ulang semua busananya. Minuman ringan juga sudah dihidangkan di sana.
"Ada apa, Nii-sama?" tanya Rukia kemudian.
"Sepertinya kau bisa tepat waktu menyelesaikan pekerjaanmu," ujar Byakuya.
"Ya, aku sudah katakan kalau aku bisa melakukannya kan?"
"Kalau begitu, besok kau harus menunda pekerjaanmu."
"Menunda? Kenapa?" tanya Rukia.
"Besok, Kakek akan mengadakan pesta ulang tahun. Kau harus datang. Ini perintah langsung dari Kakek."
"Pesta ulang tahun?" ulang Rukia.
"Dan banyak rekan penting yang datang. Jadi pastikan kau datang ke sana dan jangan mempermalukan Kakek."
Apa maksud kata-kata kakaknya itu?
Setelah mengatakan itu, Byakuya segera pergi dari ruangan Rukia. Mendapati pesan seperti itu jelas tak bisa membuat Rukia tenang sedikit pun hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk pulang ke rumah setelah sore menjelang malam.
Suasana di rumahnya seperti biasa, sepi. Tak ada yang terlihat aneh ataupun istimewa meski besok adalah ulang tahun sang kakek.
Rukia memang senang kesehatan kakeknya sudah menjadi lebih baik semenjak dirawat di rumah seperti ini. Karena pekerjaan langsung dilimpahkan kepada Byakuya. Kakeknya hanya mengawasi saja dari laporan sekretaris pribadinya yang selama beberapa puluh tahun terakhir ini mengabdi padanya. Tapi kenapa…
"Kau sudah pulang, Rukia?"
Begitu tiba di ruang tamu, rupanya Ginrei sudah duduk di ruang tamu itu ditemani oleh pelayan pribadinya. Segera Rukia memberikan salam pada sang kakek dengan sopan.
"Selamat malam, Kakek…"
"Sepertinya pekerjaanmu berjalan dengan lancar. Kau memang pekerja keras," puji Ginrei.
"Terima kasih banyak, Kakek. Aku sudah berjanji akan menyelesaikannya," ujar Rukia.
"Kalau begitu, pekerjaanmu seharusnya sudah tidak terlalu banyak kan? Aku yakin Byakuya sudah memberitahumu soal besok. Kau pasti akan datang bukan?"
"Tentu saja, Kakek."
"Aku sudah menyiapkan sebuah kado di kamarmu. Lihatlah, mungkin tidak sebaik rancanganmu, tapi aku ingin kau memakainya besok."
Setelah mengatakan hal itu, Ginrei segera meninggalkan Rukia dibantu dengan pelayannya.
Hadiah? Bukankah seharusnya Ginrei yang mendapat hadiah, kenapa justru Rukia yang diberi hadiah?
Rukia bergegas masuk ke kamarnya.
Ya, benar. Di sana memang ada sebuah kotak pakaian yang dibungkus begitu rapi. Begitu membukanya, ternyata itu adalah sebuah gaun berwarna putih. Kenapa kakeknya menghadiahkan ini pada Rukia? Biasanya Rukia selalu memakai pakaian yang biasa yang dia pilih sendiri.
Mungkinkah ingin dicocokkan dengan pakaian Byakuya juga?
Terlalu lelah berpikir, Rukia akhirnya jatuh tertidur juga. Besok… mungkin setelah acara Rukia bisa bertemu Ichigo di luar…
Hm…
.
.
*KIN*
.
.
Rukia sudah bersiap untuk pergi ke acara ulang tahun sang kakek.
Byakuya juga sudah mengingatkannya untuk segera pergi ke tempat acara karena beberapa tamu sudah mulai memenuhi tempat dimana pesta itu diselenggarakan. Ya, Rukia dengar pesta itu tertutup untuk umum dan hanya tamu undangan yang bisa masuk ke sana. Sepertinya kali ini kakek mengundang banyak orang penting. Dan lebih lagi tempatnya adalah sebuah hall hotel bintang tujuh yang sangat mewah di Tokyo.
Byakuya akan datang bersama kakeknya sedikit lebih lama, makanya Rukia diminta datang lebih dulu. Tapi alangkah terkejutnya Rukia ketika melihat Senna sudah berdiri di depan pintu depan mansion Kuchiki.
Hari ini Senna mengenakan gaun berwarna merah marun dari bahan sutra yang begitu halus membalut tubuh indahnya. Gaun dengan model tank top itu membungkus indah penampilan Senna. Apalagi dengan rambutnya yang digerai sedikit berantakan tapi terkesan begitu anggun.
"Hai, boleh beri aku tumpangan? Ibuku sudah meninggalkanku karena aku terlalu lama berdandan. Dan aku tidak suka pergi sendirian ke pesta seperti itu," jelas Senna.
Rukia hanya diam saja.
"Boleh kan aku ikut?" ujar Senna lagi.
"Masuk saja seperti biasa. Aku tidak masalah," balas Rukia.
Senna tersenyum lebar dan ikut masuk ke arah berlawanan dari Rukia. Mereka berdua duduk berdampingan di bangku penumpang. Kali ini Rukia menggunakan mobil sedan hitam milik Kuchiki, bukan mobil pribadinya.
"Gaun-mu cukup bagus. Apa kau yang membelinya?" tanya Senna.
"Tidak, aku tidak sempat membeli gaun apapun. Ini dari Kakek."
"Kakek Ginrei?" ulang Senna.
"Apa ada yang aneh?"
"Tentu saja. Kakek yang tidak suka pesta mewah merayakan ulang tahunnya di hotel paling mewah di Tokyo. Memberikanmu sebuah gaun yang tidak pernah dia lakukan. Tidakkah menurutmu itu aneh?" ujar Senna.
Rukia diam. Ya, inilah yang sebenarnya dipikirkan oleh Rukia. Ada yang aneh dengan pesta ini. Dan tentu ini terlalu mendadak. Rukia bahkan tidak tahu kakeknya sudah merencanakan pesta besar seperti ini. Paling tidak butuh waktu beberapa minggu untuk membuat pesta seperti ini. Benarkah…
Senna mencuri pandang ke arah Rukia yang sepertinya tampak berpikir mengenai apa yang dikatakannya tadi.
"Kau sudah tahu siapa yang membocorkan desain-mu ke internet itu?" ujar Senna lagi.
"Aku sedang tidak memikirkan hal itu, aku hanya perlu menyelamatkan show-ku."
"Wah, kau akan menyesal kalau tidak menyelidikinya… siapa tahu dia bukan orang lain…"
Rukia menoleh dengan tatapan terkejut yang sangat serius. Jantungnya berdetak kencang.
"Apa maksudmu?" tanya Rukia penasaran.
"Kau harus mencari jawabannya sendiri. Dengar, aku belum menyerah soal Ichigo. Jadi… ini peringatan dariku, yang terakhir. Lepaskan saja Ichigo, sebelum semuanya terlambat. Kau tidak akan pernah bisa menyelamatkan Ichigo, hanya aku… yang bisa menyelamatkannya."
"Apa kau mengatakan ini bermaksud ingin menyudutiku?"
"Aku tidak menyudutimu, aku membuka matamu. Kau pikir, Kakek Ginrei hanya akan menghancurkan Ichigo? Kau salah, semua yang terlibat dengan Ichigo. Keluarganya… itukah yang kau inginkan? Apa kau sudah lupa dengan yang Kakek Ginrei lakukan pada gadis yang dicintai oleh kakakmu?"
Rukia mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya.
Apa yang…
.
.
*KIN*
.
.
Suara musik klasik mulai menggema di ball room super besar di hotel paling mewah yang ada di Tokyo ini. Beberapa musisian membentuk kelompok di sudut ruangan. Mereka mulai memperdengarkan beberapa masterpiece dari komposer terkenal di zaman dulu. Beberapa tamu yang hadir memang dari kalangan hebat. Mulai dari politisi penting, konglomerat, bangsawan ternama, pengusaha kaya selevel Kuchiki dan sedikit artis yang pernah membantu Kuchiki Enterprice dalam hal pemasaran.
Dua orang penjaga pintu ball room itu membuka pintunya serentak untuk Senna dan Rukia yang baru tiba di ball room. Banyak tamu yang mulai menikmati acara yang sebenarnya hanya mempertemukan pada orang kaya dengan kekayaan di atas rata-rata itu. Sambil menikmati musik, mereka berjalan ke sana sini dengan gelas champagne, wine dan anggur mewah yang sudah sengaja disiapkan untuk pesta ini.
Di sebuah tempat lain, beberapa tamu mulai berdansa waltz diiringi oleh musik klasik ini.
Sudah Rukia duga pesta ini akan membosankan.
Senna sudah berbincang dengan pria-pria muda dari kalangan aristokrat dan konglomerat itu. Rukia juga sudah menyapa beberapa tamu penting dari Kuchiki Enterprice. Tampaknya kakeknya benar-benar sengaja mengundang orang-orang hebat hari ini. Sekali lihat pun Rukia tahu jika pesta ini penuh dengan orang kaya.
Astaga, Rukia tidak terlalu suka berada di sini. Dia sendirian. Biasanya Senna akan menemaninya di semua pesta seperti ini. Tapi melihat gelagatnya tadi seperti tidak begitu. Apalagi beberapa waktu ini mereka sering saja bertengkar.
"Rukia, kau sudah datang ternyata."
Ulquiorra datang menghampirinya. Oh, ternyata Rukia bisa bertemu dengan orang yang dikenalnya. Ulquiorra mengenai tuksedo putih.
Putih…
"Ya, kau sudah lama di sini?"
"Cukup lama. Hei, kau sangat cantik hari ini," puji Ulquiorra.
"Terima kasih."
"Oh ya, aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang. Kau mau?"
"Seseorang?" ulang Rukia.
"Ayo," ujar Ulquiorra seraya menawarkan tangannya untuk digandeng Rukia.
Daripada sendirian di tempat seperti ini memang lebih baik bersama dengan orang yang dikenal. Ya, mau tak mau Rukia akhirnya menerima ajakan Ulquiorra dan menggandeng lengan Ulquiorra juga. Tak sopan rasanya berjalan bersama seorang pasangan di pesta seperti ini tanpa menggandengnya. Lagipula, karena gaun panjang ini Rukia sudah cukup kesulitan berjalan.
Tak lama mereka berputar, Ulquiorra memanggil seseorang yang berambut cokelat dan berumur sekitar awal 50an.
"Rukia, kenalkan. Dia ayahku. Aizen…"
Apa?
"Oh, salam kenal, apa kabar? Aku Kuchiki Rukia," sapa Rukia seraya menundukkan kepalanya memberikan salam. Ayahnya? Bukankah ayah Ulquiorra tidak di sini?
"Kau memang cantik seperti yang putraku katakan. Salam kenal, Rukia-san. Senang mengenal wanita secantik dirimu."
"Oh, terima kasih banyak."
"Sudah kukatakan Ayah tak akan menyesal bertemu dengan Rukia," sela Ulquiorra.
"Kau memang tidak pernah salah memilih."
Apa maksudnya tidak pernah salah memilih?
Sebuah musik kembali diputar. Kali ini terdengar musik klasik yang begitu romantis. Sangat cocok untuk berdansa waltz. Beberapa tamu bahkan sudah memulai gerakan dansa mereka di sebuah lantai yang sudah disiapkan.
"Hei, apa boleh aku tidak sopan untuk hari ini?" tanya Ulquiorra.
"Apa maksudmu?" kata Rukia sedikit kaget.
"Maksudku…"
Ulquiorra mundur selangkah lalu membungkukkan punggungnya cukup rendah dengan satu tangannya diletakkan di perutnya. Setelah membungkuk, dalam posisi demikian, Ulquiorra mengangkat kepalanya lalu mengulurkan tangannya yang tadi diletakkannya di perutnya.
"Maukah kau berdansa denganku?"
Tentu saja Rukia terkejut bukan main. Di hadapan ayahnya dia malah bersikap begini?
"Kau tidak ingin mempermalukanku dengan menolaknya kan?" ujar Ulquiorra lagi.
Rukia bingung setengah mati. Astaga… dia pemaksa sekali…
Agak ragu, akhirnya Rukia menerima uluran tangan itu dan Ulquiorra langsung mengajaknya ke lantai dansa untuk memulai waltz perdana mereka. Gerakan mereka begitu lembut dan terlatih. Padahal mereka sebelumnya tidak pernah berdansa bersama. Ya, Rukia memang sempat mempelajari beberapa gerakan dansa karena sering diajak kakeknya dulu ikut pesta seperti ini.
"Waw, kau sangat hebat berdansa rupanya," puji Ulquiorra di sela dansa mereka.
"Aku pernah mempelajarinya," jawab Rukia.
"Kalau begitu aku tidak sia-sia mengajakmu berdansa kan?"
Rukia baru sadar ternyata mereka sudah menjadi pusat perhatian. Dan untungnya beberapa menit lagu dimainkan, para musisi itu menyelesaikan lagunya. Segera saja dansa mereka yang menjadi tontonan tamu undangan itu berhenti. Begitu selesai berdansa, para tamu banyak yang bertepuk tangan dengan aksi mereka. Ini pertama kalinya Rukia berdansa diperhatikan banyak orang.
"Terima kasih atas dansa yang kalian lakukan. Sangat indah."
Rukia terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Ya, kakeknya sudah muncul di panggung pesta ini. Anehnya sang kakek malah menggunakan kursi roda yang didorong oleh Byakuya. Kenapa Ginrei menggunakan kursi roda?
Sebuah mic diatur tingginya untuk disesuaikan dengan Ginrei yang duduk di kursi roda.
"Terima kasih para tamu undangan yang sudah hadir di pesta-ku hari ini. Tidak mudah mengadakan pesta ulang tahun di usia yang sudah renta seperti ini. Tapi, setidaknya sebelum aku tidak bisa lagi merayakannya, mungkin ini terakhir kalinya aku bisa merayakan ulang tahun seperti ini," buka Ginrei.
Rukia menoleh ke seisi ball room untuk mencari dimana Senna berada. Tapi Rukia tak menemukannya dimana pun. Bukannya Senna tadi ada di sini?
"Dan aku akan mengumumkan tujuan diadakannya pesta ulang tahunku hari ini. Rukia, Ulquiorra kemarilah."
Rukia terbelalak lebar ketika pandangan semua tamu tertuju padanya dan Ulquiorra yang berdiri di sebelahnya. Rukia akhirnya bisa membaca situasi terburuk di sini. Kakeknya…
Ulquiorra mengajak Rukia untuk segera naik ke panggung bersama sang kakek.
Begitu mereka berdiri berdampingan mengapit Ginrei yang duduk di kursi roda itu, jantung Rukia sudah mulai merasa was-was bukan main. Jangan bilang kalau ini…
"Kuperkenalkan pada kalian, cucuku yang akan mewarisi Kuchiki Enterprice, Kuchiki Rukia." Tepuk tangan riuh menyambut Rukia seiring nama yang digemakan oleh sang kakek. Sepertinya ini adalah scenario terburuk yang tidak terbayangkan oleh Rukia.
"Mulai sekarang, Rukia akan memimpin Kuchiki Enterprice langsung. Semoga kalian bisa bekerja sama dengan baik bersama cucu yang sangat kupercayai ini."
Kenapa… kakeknya…
"Dan Rukia, akan didampingi oleh rekan bisnis-ku sejak dimulainya Kuchiki Enterprice berdiri, Ulquiorra Schiffer…"
Mengenalkan Ulquiorra di hadapan semua tamu?
"Sudah kukatakan sebelumnya bahwa ini bukan hanya ulangtahun-ku saja. Untuk merayakan ahli waris Kuchiki Enterprice yang baru, hari ini cucuku akan bertunangan dengan Ulquiorra."
Rukia langsung menoleh kepada kakeknya dan menatap penuh emosi. Bibirnya nyaris gemetar karena berusaha menahan amarah yang dilakukan oleh kakeknya ini. Bagaimana bisa?
"Kakek!" panggil Rukia dengan nada tinggi yang sontak jadi perhatian tamu undangan yang hadir.
Byakuya segera bertindak dengan menggenggam tangan Rukia dan berbisik.
"Jaga sikapmu, Rukia!"
Ginrei masih bersikap tenang dan tersenyum menghadap tamu undangan tanpa menghiraukan pandangan Rukia yang begitu marah. Rukia menyentakkan tangannya dengan kasar, tapi Byakuya tetap menahannya sekuat mungkin.
"Di hadapanmu ini adalah tamu penting dari Kuchiki Enterprice! Apa kau mau mempermalukan Kakek dengan sikap kekanakanmu?! Dimana martabatmu sebagai seseorang yang sudah ditunjuk Kakek untuk menggantikan beliau?" bisik Byakuya dengan nada tajam.
Mau tak mau Rukia menahan amarahnya sendiri. Ternyata seperti ini…
Seorang pelayan membawa sebuah meja kecil yang didorongnya untuk diletakkan di hadapan Ginrei. Ternyata itu adalah sepasang kotak cincin.
Rukia, terpaksa harus memenuhi keinginan sang Kakek demi harga dirinya.
Rukia terpaksa mengenakan cincin yang tak pernah ingin dipakainya!
.
.
*KIN*
.
.
Setelah acara tukar cincin yang terkutuk itu, Ginrei segera turun dari panggungnya tanpa sempat menyapa beberapa tamunya. Dia sudah memerintahkan Byakuya untuk menggantikannya menyapa tamu. Ginrei harus beristirahat di salah satu suite room yang sudah dipesan selama acara berlangsung.
Ya, Rukia memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui kakeknya langsung.
Begitu tiba di kamar yang dimaksud, Ginrei baru saja akan beristirahat di kasurnya. Pelayannya sempat meminta Rukia untuk tidak mengganggu Ginrei dulu, tapi Ginrei membiarkan Rukia masuk dan menyuruh pelayannya menunggu di luar.
"Kenapa Kakek melakukan ini?" geram Rukia.
"Apa maksudmu? Kau tidak suka posisi calon penerus Kuchiki Enterprice?"
"Aku tidak membicarakan mengenai perusahaan! Kenapa… kenapa Kakek melakukan pertunangan ini tanpa memberitahuku?"
"Tidak perlu memberitahumu, kau harus menyetujuinya."
"Bukankah Kakek sendiri yang melakukan perjanjian denganku, jika aku bisa menyelesaikan show-ku sebelum batas waktu berakhir… aku sudah menyelesaikannya… kenapa Kakek…"
"Jadi maksudmu kau tidak menginginkan pertunangan ini?"
"Aku tidak pernah menginginkannya! Aku tidak mencintainya!"
"Apa sekarang kau sedang mengatakan soal cinta?"
"Apa Kakek berharap aku bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai? Aku punya perasaan Kakek, aku ingin bersama dengan orang yang kucintai. Tidak peduli seperti apa dia, jika aku mencintainya, aku akan melakukan apapun untuk bersama dengannya."
"Apa kau bermaksud mengatakan hal konyol padaku?"
"Kakek…"
"Jadi… kau sudah memiliki orang yang kau cintai?"
Rukia menunduk diam. Bagaimana dia mengatakannya pada kakeknya?
"Apakah dia berasal dari derajat yang sama dengan kita?"
Rukia mengepalkan tangannya berusaha menahan gemetar yang sejak tadi merajai dirinya.
"Kakek, aku—"
PLAK!
Rukia terdiam. Rasa panas menjalar di sebagian wajahnya. Kini kakeknya telah berdiri tepat di hadapannya. Memaksa air mata yang ditahannya sedari tadi keluar begitu saja.
"Sudah berapa kali kukatakan padamu jangan seperti kakakmu! Apa kalian tidak bisa berpikir waras hah?! Bagaimana kalian bisa mencintai seseorang yang bukan dari derajat kita?! Apa kau mau mempermalukan kakekmu ini dengan mencintai orang yang seharusnya menjadi pelayan di rumah kita hah?!" bentak sang kakek.
Ya, ini pertama kalinya Rukia merasa begitu direndahkan oleh kakeknya sendiri. Pertama kali sang kakek menamparnya begitu keras hingga Rukia merasa dia telah melakukan perbuatan besar yang tak termaafkan.
"Apa benar kau sudah mencintai orang lain, Rukia?!"
Rukia terkejut mendengar bentakan sang kakek. Dadanya langsung merasa sesak bukan main. Sekarang bernapas saja adalah suatu hal yang sulit dilakukannya.
"Jawab, Rukia?!"
"T-tidak… tidak ada… Kakek…" jawab Rukia terbata-bata. Saat ini napasnya benar-benar tidak beraturan.
"Kau tidak sedang berbohong kan?"
"S-sungguh… tidak… ada…" lirih Rukia.
"Sekarang aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi dari mulutmu soal pertunangan ini. Jadilah anak penurut dan jangan membantah. Aku akan menentukan tanggal yang bagus bersama ayahnya Ulquiorra nanti. Sekarang, pergilah. Aku ingin istirahat."
Setengah mati Rukia memaksakan kakinya untuk melangkah pergi dari tempat sang kakek.
Begitu berhasil keluar dari kamar itu, Rukia terduduk di depan pintu kamar Ginrei dan memegangi dadanya yang terasa sakit. Seperti jantungnya dicengkeram begitu erat hingga membuatnya kesulitan bernapas.
"Rukia? Kau tidak apa-apa?"
Begitu menyadari seseorang yang menghampirinya, Rukia segera menepis dengan kasar tangan yang berusaha memapahnya. Dengan kekuatannya sendiri, Rukia berdiri dari tempatnya terduduk lalu mengabaikan seseorang yang terus menerus terlihat khawatir padanya. Rukia tetap berjalan lurus menguatkan dirinya sendiri hingga sampai di ujung koridor dari deretan kamar suite room di hotel ini.
Hingga akhirnya, tak sabaran juga, ketika Rukia hampir sampai di lift, tangannya di tahan dengan cepat membuat Rukia mau tak mau berhenti mendadak.
"Lepaskan! Apa maumu!" bentak Rukia.
"Apa kau marah padaku?" tanyanya langsung.
Rukia diam sejenak. Menatap Ulquiorra Schiffer dihadapannya ini. Mungkin Rukia tak akan memiliki perasaan sebenci ini pada pria berkulit pucat ini seandainya dia bukanlah sumber dari semua kekacauan yang dialaminya sekarang. Ya, semenjak kedatangannya, seakan semua masalah menimpa Rukia secara serentak.
"Marah? Jika hanya marah, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Aku lebih dari itu. Aku membencimu," geram Rukia.
"Kenapa kau membenciku? Apa karena pertunangan kita?"
"Tidak, ini bukan pertunangan kita. Ini persetujuan antara kau dan Kakekku! Aku sama sekali tidak pernah menginginkan pertunangan ini terjadi!
Ulquiorra diam mendengarkan kata-kata tajam dari desainer cantik ini. Ulquiorra pun tak menyangka Rukia akan langsung berkata demikian padanya tepat hari ini. Mungkinkah sudah ada yang terjadi pada Rukia mengingat dimana Ulquiorra menemukannya tadi?
Ulquiorra pun langsung melepas pegangan tangannya pada Rukia dan menatap datar pada wanita mungil di hadapannya ini.
"Aku tidak akan berkomentar banyak mengenai ketidakinginanmu tentang pertunangan ini. Tapi yang jelas, takdirmu adalah aku. Apapun yang akan kau lakukan, takdirmu sudah berhenti padaku. Jadi, jika kau ingin memudahkan segalanya, turuti saja keinginan Kakekmu itu."
"Apa? Lancang sekali bicaramu itu? Apa kau Dewa yang bisa menentukan takdir seseorang? Tidak, sekali pun kau Dewa, aku tidak akan membiarkan takdirku berakhir padamu!"
"Mau aku Dewa atau bukan, kau tidak akan bisa menolaknya. Lebih baik kau mendengarkan kata-kataku ini kalau kau masih memiliki perasaan sayang."
"Apa?"
"Apa kau pikir aku tidak tahu hubunganmu dengan model itu? Kalian saling mencintai. Tapi kau tidak ditakdirkan bersamanya. Dan menghancurkan seseorang seperti model itu, bukan hal yang sulit. Bahkan tanpa Kakekmu bertindak pun, dia akan hancur dengan sendirinya karena sudah berani mencintai mawar berduri sepertimu, Kuchiki Rukia."
"Kau…" lirih Rukia.
"Aku akan tutup mulut soal hubungan terlarangmu dengan model itu. Dan aku berjanji tidak akan mengatakan apapun pada Presdir Kuchiki mengenai hal ini. Kau tidak perlu melakukan apapun untuk jasaku kali ini, tapi kau harus menerima pertunangan ini walaupun kau tidak menginginkannya. Kita tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak perlu kan, Kuchiki Rukia?"
Setelah mengatakan hal itu, Ulquiorra tersenyum seperti senyumnya yang biasa dia tebarkan setiap kali bertemu dengan Rukia. Tapi kali ini senyum itu terlihat begitu sinis dan… jahat…
Pria berambut hitam itu kemudian meninggalkan Rukia yang masih terdiam di sana.
Rukia sudah tahu hubungannya dengan Ichigo bukan hal yang mudah, bahkan sangat sulit untuk dilalui. Tapi Ichigo sudah berjanji tidak akan menyerah mengenai hubungan mereka. Mana mungkin Rukia berpikir untuk melepaskan hubungan mereka karena ingin menyelamatkan Ichigo dari kehancuran ketika Ichigo sendiri sudah siap untuk hancur demi Rukia?
Keegoisan apalagi kali ini yang harus dipilih oleh Rukia?
.
.
*KIN*
.
.
Yoruichi tak sempat memberikan ucapan selamat ulang tahun secara langsung pada Ginrei ketika di ball room tadi. Makanya Yoruichi bermaksud untuk menemuinya secara langsung di kamar inapnya di hotel ini sekaligus juga ucapan selamat atas pertunangan Rukia dan Ulquiorra. Meski pada akhirnya Yoruichi mengaku kalah, tapi Yoruichi masih memikirkan ribuan akal untuk bisa mendapatkan posisi Presdir.
Ya, untuk apa memberikan posisi pada wanita seperti Kuchiki Rukia yang bahkan tidak menginginkan warisan ini sama sekali?
Begitu pintu lift terbuka, Yoruichi keluar dari ruangan sempit itu dan menuju suite room. Tapi begitu akan menuju koridornya, Yoruichi terkejut melihat Rukia dan Ulquiorra yang berada di koridor kamar hotel itu. Mereka tampaknya tak melihat Yoruichi langsung, karena itu, Yoruichi bersembunyi di belokan koridor sebelum pintu lift itu ada.
Tak lama mereka ternyata bertengkar akan sesuatu.
Ya, bahkan Yoruichi mendengar semua isi pertengkaran dengan jelas.
Astaga…
Jadi itukah alasannya kenapa Rukia menolak mengenai warisan ini dan tidak begitu menginginkan pertunangan dengan Ulquiorra?
Segera saja Yoruichi pun memesan satu kamar suite room yang jaraknya agak jauh dari kamar Ginrei berada.
Ya, sedikit lama menanti, akhirnya Yoruichi bertemu juga dengan putrinya.
"Ada apa tiba-tiba Ibu memesan kamar di hotel ini? Bukannya Ibu mengatakan akan langsung pulang setelah acara ini selesai?" tanya Senna yang langsung masuk ke kamar Yoruichi setelah ibunya memanggil dirinya untuk segera datang kemari.
"Tadinya begitu, sampai aku mendengar suatu pembicaraan penting."
"Pembicaraan penting? Ibu menguping?" tuduh Senna.
"Bisa juga kau katakan begitu. Yang jelas, pembicaraan ini sama sekali tidak merugikanku. Bahkan menguntungkan kita berdua Senna!"
"Huh? Menguntungkan kita? Apa maksud Ibu sebenarnya? Bicaralah yang lebih mudah kumengerti. Ibu tahu sendiri aku tidak suka berpikir berat," keluh Senna.
"Kau tahu, siapa laki-laki yang dicintai oleh Rukia?"
Tadinya Senna akan menuju bar kecil yang ada di kamar hotel ini yang berisi botol champagne. Baru saja akan memilih champagne mana yang kira-kira menarik, dirinya terkejut bukan main mendengar kata-kata ibunya itu.
"Apa… yang Ibu katakan?"
"Alasan kenapa Rukia menolak pertunangan ini, ternyata karena seorang laki-laki. Tidak kusangka dia akan berpikir demikian. Kupikir alasan dia tidak menginginkan pertunangan ini karena dia tidak ingin berhenti menjadi desainer setelah resmi menjadi pewaris Kuchiki Enterprice."
"Lalu ada apa dengan itu semua?"
"Jika kudengar dari kata-kata mereka, sepertinya laki-laki yang dicintai oleh Rukia itu bukanlah dari kalangan yang sama dengan kita. Itu artinya, kisah cinta mereka kemungkinan besar akan ditentang oleh si tua Ginrei itu makanya Rukia tidak mengatakan apapun soal percintaannya. Karena tidak ingin Ginrei melakukan sesuatu pada Byakuya yang terlanjur melakukan hal serupa dulu…"
"Ke arah mana pembicaraan ini, Ibu?"
"Kenapa kita tidak membantu Rukia mendapatkan cintanya saja? Dengan mendekatkan kedua orang itu, kita kemudian akan memasang bom waktu yang akan ditekan oleh Ginrei sendiri. Sekali pukul, dua mangsa akan lenyap. Bukankah ini ide yang bagus?"
"Maksud, Ibu… Ibu ingin… membantu Rukia menghancurkan mereka berdua sekaligus?"
"Tentu saja. Memangnya apa pentingnya laki-laki yang dicintainya? Kita tak butuh mereka, yang kita butuhkan adalah kekayaan Kuchiki Enterprice! Memangnya kau pikir apa yang kulakukan sejauh ini tidak ada alasannya hah?"
Senna kemudian mendekat kepada Ibunya dengan wajah memelas. Kini mereka saling berhadapan.
"Ada apa denganmu?" tanya Yoruichi yang mendadak aneh dengan sikap putrinya ini.
"Maafkan aku, Ibu… kali ini… aku terpaksa tidak menyetujui keinginan Ibu…" lirih Senna.
"Apa maksudmu? Kau tidak ingin membantu Ibu menghancurkan Rukia?!"
"Ya, aku bersedia membantu Ibu menghancurkan Rukia, bahkan jika Ibu ingin melenyapkannya pun aku sangat bersedia membantu. Tapi jika Ibu ingin menghancurkan laki-laki yang dia cintai, aku tidak bersedia."
"Apa yang kau katakan, Shihouin Senna?" geram Yoruichi.
"Aku… mencintai laki-laki yang dicintai oleh Rukia…" ujar Senna akhirnya.
Yoruichi nyaris limbung dan langsung berpegangan pada sofa terdekat yang mampu diraihnya saat seperti ini. Kepalanya tiba-tiba pusing mendadak mendengar kata-kata bodoh sang putri.
"Apa? Tadi… kau mengatakan apa?" ulang Yoruichi.
"Aku mencintainya, Ibu… aku mencintai—"
PLAK!
Senna diam setelah satu tamparan mendarat di sebelah pipinya. Rasa panas masih mendidih di kulit mulusnya. Senna bahkan merasa sebelah pipinya seperti terbakar karena rasa panas itu. Tapi Senna tidak menolak tamparan itu. Senna menyadari jika tamparan itu memang layak dia dapatkan.
"Katakan sekali lagi, dan aku akan menghajarmu, Senna!" geram Yoruichi.
"Aku akan mengatakannya sebanyak apapun yang Ibu inginkan. Aku tidak peduli Ibu akan menghajarku atau bahkan membunuhku. Itu sama sekali tidak berpengaruh padaku. Aku sudah mengatakannya pada Ibu, aku mencintai laki-laki itu."
"Ginrei saja tidak mungkin menyetujui laki-laki itu?! Apa yang membuatmu berpikir aku akan menyetujui hubunganmu dengannya hah?! Di samping itu, dia itu laki-laki yang dicintai oleh saudara sepupumu sendiri!" pekik Yoruichi dengan penuh emosi.
"Aku memang tidak pernah berpikir Ibu akan mau menerimanya. Tapi aku tidak pernah sekali pun menolak keinginan Ibu. Tidak satu pun aku menolaknya Bu. Aku melakukan apapun yang Ibu inginkan walaupun aku tidak menyukainya. Aku masuk ke perusahaan Kuchiki demi Ibu meski aku tidak mau masuk ke sana. Aku melepaskan cita-citaku karena Ibu ingin aku bekerja di sana.
"Dan asal Ibu tahu, akulah orang pertama yang mencintai laki-laki itu. Rukia merebutnya dariku! Rukialah yang harusnya hancur! Bukan dia… dia tidak bersalah Bu… aku ingin menyelamatkannya… dia tidak seharusnya menderita seperti itu karena Rukia…"
Akhirnya Yoruichi memilih duduk di sofa dan bersandar sepenuhnya di sana. Satu tangannya memegangi kepalanya. Yoruichi tak menyangka ide briliantnya kini berubah menjadi bumerangnya sendiri.
"Aku tidak menyangka… kalian begitu mirip. Kupikir… karena sejak kecil kalian selalu diperlakukan sama, suatu hari nanti kalian tidak akan memperebutkan sesuatu seperti ini. Tapi ternyata… aku salah," gumam Yoruichi.
Senna mendadak menangis dan bersimpuh di pangkuan Yoruichi. Senna duduk di lantai sementara kedua tangannya memegangi satu tangan Yoruichi yang bebas.
"Maafkan aku Bu… kumohon maafkan aku…" isak Senna.
"Aku tak pernah berpikir… ingin menghancurkanmu… kau adalah satu-satunya harta milikku. Aku lebih baik kehilangan Kuchiki Enterprice daripada dirimu."
Dalam pikiran Yoruichi, dirinya belum siap kehilangan Senna seperti ini. Dia hanya tak menyangka jika ternyata hubungan baik yang susah payah dibuatkannya untuk Senna dan Rukia justru menghancurkan kedua sepupu ini karena satu laki-laki. Ya, nantinya mereka akan saling menghancurkan.
"Ibu… jika Ibu sungguh ingin Kuchiki Enterprice, aku bisa mendapatkannya untuk Ibu. Bahkan… aku juga bisa menyingkirkan Rukia sekaligus, bersama Kakek Ginrei."
Yoruichi terbelalak mendengar penuturan putrinya. Senna tampak begitu serius dan yakin dengan kata-katanya.
"Bagaimana bisa… kau melakukannya?"
"Jika Ibu percaya padaku, aku akan melakukannya. Kali ini, tolong serahkan semuanya padaku. Aku berjanji pada Ibu. Tapi, apakah Ibu mau merestui hubunganku dengan laki-laki yang aku cintai?"
"Laki-laki itu tidak mencintaimu Senna, dia mencintai orang lain. Bagaimana kau bisa membuatnya berpaling padamu?"
"Tidak, aku tidak akan membuatnya berpaling padaku. Aku akan membuatnya harus mau memilihku mau tidak mau. Jika dia… tidak ingin Rukia hancur… dengan begitu… aku bisa mendapatkannya tanpa perlu merebutnya dari Rukia langsung…"
Yoruichi tak menyangka jika putrinya akan mengatakan hal seperti ini padanya.
"Jika itu memang bisa mengambil alih Kuchiki Enterprice… Ibu akan memikirkannya."
Jika dengan begitu melenyapkan semua pengganggu akan membuat Yoruichi mendapatkan keinginannya, tidak masalah siapa yang hancur asal bukan dirinya dan putrinya.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Holaa minna?
Heheh, setelah sekian lama gak pernah lagi nulis lemon, inilah hasilnya. Saya beneran canggung banget dan ngerasa aneh dengan tulisan di atas. Akhirnya saya berpikir… ternyata saya gak cocok lagi bikin lemon… maaf mengecewakan pembaca yang udah menunggunya ya… jujur saya memang udah kehilangan mood untuk lemon. Mungkin beberapa saat kemudian jika kembali mood, saya akan nulis lemon lagi…
Oke, saya bales review dulu yaa…
Azura Kuchiki : makasih udah review senpai… ahahah, iya tanpa sadar malah nulis plot yang begitu. Awalnya juga saya gak sadar jika ternyata plot akhirnya jadi mirip cerita itu hehehe
Gilang363 : makasih udah review senpai… hahaha iya ini tadinya udah rencana gitu, maaf ya kalo gak dapet feelnya sama sekali…
Ella Mabby-Chan : makasih udah review senpai… ahahah sayangnya ini udah mendekati klimaks sih, jadi mungkin puncak masalahnya udah mau nongol deh hehehe…
Loly jun : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut heheh, wah bahaya dong kalo ikutan ngamuk hehehe
Naruzhea AiChi : makasih udah review senpai… heheh iya klimaks masalahnya juga udah mau muncul kok ini hehhe
Kaname : makasih udah review senpai… maaf gak cepet yaa tapi ini udah update heheh
Guest : makasih udah review senpai… hehehe
Angkerss a lauch : makasih udah review senpai… makasih banyak yaa heheh iya ini udah update lagi kok hehhe
Wakamiya hikaru : makasih udah review senpai… ahahah iya dapet casting yang cocok soalnya dua orang itu sih. Saya soalnya kalo milih chara yang kira-kira cocok sama peran yang mau saya kasih hehehe
Tiwie Okaza : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut kok heheh jangan senpai dong, Kin aja gak papa kok hehe. Iya tapi kayaknya feelnya gak dapet sama sekali yaa
Re-Panda68 : makasih udah review senpai… makasih banyak udah mau nungguin yaa heheh
Darries : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe ditunggu perjuangan mereka lagi yaa hehe
Clara Rue : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi heheh makasih semangatnya yaa
Guest : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut kok…
Makasih yang udah ngeluangin waktu untuk fic saya.
Jaa Nee!
