Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimoto
.
.
-Lie With You-
(Berbohong Dengan Mu)
.
.
12
Sasuke POV
-Selasa-
Hari ini entah angin apa, aku tiba-tiba datang menjemput Sakura. Aku bahkan langsung menarik tangannya, saat melihat lagi pria berambut merah itu, berjalan mencoba mendekati Sakura.
Ia tampak kaget, tapi tak mengatakan apapun saat aku menariknya, membawanya masuk ke dalam mobil.
Canggung yang pada awalnya mulai mencair. Tawa Sakura bahkan meledak saat aku mencoba untuk sedikit menggodanya. Namun waktu seakan terhenti saat Sakura mulai membahas hal yang tak pernah ku bayangkan.
"Bagaimana hubunganmu dan Karin?"
Jangan bilang bahwa dia sudah ...
"Apa maksudmu?"
Sakura mengatup mulutnya rapat-rapat. Menahan agar kata-kata yang keluar tak terlalu mengejutkanku. Tapi aku bahkan sudah cukup terkejut saat ia menyebutkan nama Karin. Keterkejutan ku tak bisa di ganggu gugat.
"Kau bilang, kau akan belajar untuk mencintaiku bukan?" Aku tertegun. Aku mulai mengerti alurnya. Sakura sudah tahu. Tapi sejak kapan?
"Apa kau masih mencintai Karin?" Aku menepi mobilku, aku tak bisa berkosentrasi jika sudah membahas hal ini.
Aku menghembuskan nafas berat, "seberapa banyak kau tahu?"
Aku tak bisa menatapnya, aku tak sanggup.
"Sebanyak yang kau bayangkan." Jawabnya pelan.
Aku meringis, "Sejak kapan?"
"Sejak awal." Aku menyandarkan kepalaku, menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku malu. Aku sangat malu. Karena Sakura mengetahuinya. Aku merasa jijik pada diriku sendiri.
"Saat kau mengatakan, kau akan mencintaiku? Apa kau bersungguh-sungguh?"
Aku harus. Aku harus menatapnya. Agar ia tahu, betapa seriusnya aku saat aku mengatakan hal itu.
Aku menoleh kearahnya. Memberanikan diri untuk menatap langsung ke matanya. Tatapannya bahkan terlihat kosong. "Sakura. Aku bersungguh-sungguh, aku takkan menarik kata-kataku kembali."
Sudut bibirnya mulai tertarik keatas. "Dan mengenai aku dan Karin. Kami benar-benar telah berakhir."
Sakura langsung menerjang tubuhku, memelukku erat. Wangi tubuhnya mulai menguar, mrasuki indra penciumanku. "Aku akan berusaha agar kau melihatku. Aku mencintaimu Sasuke. Sangat mencintaimu."
Aku bahkan tak bisa menahan senyumku. Aku senang mendengarnya. Aku membalas pelukkannya lebih erat. "Terimakasih Sakura."
Jika aku memiliki keinginan untuk bersamanya, apakah itu berarti aku mencintainya?
Sakura POV
Aku melakukannya lagi.
Menggunakan kaos kaki yang berbeda.
Aku tak mengerti. Mengapa Sasuke sangat terganggu, saat melihatku menggunakannya.
Matanya bahkan melototi kakiku terus menerus. Sejak aku keluar dari kamar mandi.
Ia meletakkan koran yang belum sempat ia baca tadi pagi di meja, karena ia mendapatkan panggilan darurat.
"Aku tak tahu, kau sangat suka menggunakan kaos kaki dengan cara seperti itu." Sindirnya.
Aku mengangkat bahu, "kau hanya tak tahu, ini sudah menjadi tren saat aku SMA."
Ia menaikkan sebelah alisnya, "apakah temanmu rata-rata normal?" Ledeknya.
Aku mengacak pinggang, "kau pikir, aku mau berteman dengan orang gila?"
Ia memposisikan tubuhnya untuk tidur, "setahuku orang waras takkan melakukan itu."
Aku menaiki tempat tidur. "Ini tren Sasuke. Apa masalahmu tentang kaos kaki?"
"Merusak pemandangan. Dan kai seharusnya ingat, berapa usiamu sekarang." Ia membalikkan tubuhnya, membelakangiku.
Aku merengut lalu terkekeh pelan, aku mengintip dibalik bahunya. "Kenapa kau cepat sekali tidur hari ini?"
"Matikan lampunya Sakura." Perintahnya.
Aku memutar mata, bosan. Lalu mematikan lampu.
Sasuke POV
-Rabu-
Makanan yang tersedia dihadapan ku benar-benar mengunggah selera. Aku langsung menyantapnya tanpa mengatakan apapun.
Suapanku terhenti sesaat aku menyadari Sakura hanya berpangku tangan diam sambil menatapku. Ia tak ikut sarapan.
Aku mendongak heran, "kau tak makan?" ia hanya menggeleng pelan.
"Kenapa?" Aku yakin kerutan dikeningku semakin jelas sekarang.
Ia menyelipkan helain rambutnya yang berjatuhan kebelakang telinga. "Selama tiga hari dari sekarang aku akan pergi keluar kota?"
Aku terdiam, tak bisa mengatakan apapun. Apa sekarang Sakura sedang meminta ijin padaku?
Ia mengambil kesempatan untuk melanjutkan bicara saat melihatku hanya bungkam, "aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan disana. Dan perusahaan merekomendasikan aku untuk pergi. Dan lagi, aku menerima tawaran itu." Aku sangat ingin menahannya untuk tak meninggalkanku, tapi aku tak punya alasan untuk melakukan itu.
Aku menipiskan bibirku lalu mengangguk, "tak apa, aku bisa memasak untuk diriku sendiri. Kau tak perlu khawatir."
Entah kenapa aku melihat sekilas kilatan kekecewaan dimata Sakura namun dengan segera ia tersenyum. "Ku harap tak ada noda di dapur. Terakhir kali, aku melihat ada noda hitam dinding." Candanya.
Aku terkekeh, "kau bisa bersiap-siap sekarang." Ungkapku. Lalu melanjutkan makan.
"Kau benar, aku bisa saja ketinggalan pesawat." Sakura berdiri lalu segera berlari kecil menaiki tangga. Tak beberapa lama Sakura turun membawa koper berukuran sedang.
Ia melambaikan tangan, "aku berangkat Sasuke."
Aku segera berdiri dari dudukku. Kupikir ia akan memintaku mengantarnya ke bandara. Tapi ia hanya melambaikan tangan. "Keberatan jika aku saja yang mengantarmu?" Sakura menoleh cepat lalu tersenyum tipis.
"Tentu saja, tidak." Jawabnya cepat.
Aku balas tersenyum, "tunggu sebentar, aku takkan lama." Ia mengangguk cepat.
Aku segera menaiki tangga, tak menghabiskan waktu yang lama. Hanya mengganti baju.
"Kau tak mandi?" Tanya Sakura, ia memandang heran kearahku saat aku memasuki mobil.
"Hn."
"Kau tak berkerja hari ini?" Aku menggeleng.
"Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri." Mulut Sakura membentuk O. Lalu mengangguk paham.
"Kupikir kau akan mengulur-ulur waktu."
"Jika ayah sudah mengatakannya. Itu berarti segera tanpa mengulur waktu."
"Kau sangat penurut Sasuke." Komentarnya.
Aku bahkan tak merasa tersanjung saat ia memberikan komentar baik padaku. Apanya yang penurut, aku hampir saja merusak kebahagiaannya.
"Itu tak terdengar menyenangkan di telingaku Sakura. Aku merasa, aku adalah anak terburuk. Dia adalah keluargaku satu-satunya. Dan aku hampir saja perlahan-lahan ingin merusak kebahagiaannya tanpa sepengetahuaannya. Aku yakin, ia akam membenciku jika mengetahui apa yang pernah aku lakukan padanya." Sakura bungkam ia tak lagi berkomentar apapun.
Seharusnya aku tak perlu membahas ini dan menyebabkan kecanggungan untuk Sakura. Aku tahu Sakura sebenarnya tak memiliki maksud tersembunyi dari komentarnya. Namun entah mengapa kurasa aku harus menampiknya.
Aku hanya mengantar Sakura sampai luar bandara. Pada awalnya aku ingin mengantarnya sampai dalam. Namun saat melihat seseorang berlari memanggilnya tergesa-gesa dari kejauhan. Membuatku memutuskan untuk tak perlu mengantarnya sampai dalam. Sepertinya mereka tak mempunyai banyak waktu.
Entah setan apa, sebelum Sakura melangkahkan kakinya, aku langsung menarik tangannya dengan cepat. Lalu mengecup lembut dahinya.
Mata Sakura sukses membulat. Aku tersenyum tipis lalu mengusap pipinya. "Kembalilah dengan selamat."
Aku dapat melihat diriku dipantulan matanya yang berkaca-kaca membuat hatiku membuncah ingin memeluknya erat. Namun ku tahan kuat-kuat.
Sakura mengenggam telapak tanganku yang berada dipipinya. Lalu mengangguk, "apa kau akan merindukan ku?"
"Akan kulakukan jika itu membuatmu pulang lebih cepat. Aku khawatir jika dapurmu tak berbentuk lagi jika kau terlalu lama."
Sakura tertawa, "aku hanya tiga hari saja Sasuke."
Ini baru beberapa hari setelah kami berteman baik, tapi serasa kami telah mencintai untuk waktu yang lama. Bahkan sangat berat untuk melepaskan Sakura pergi sekarang.
Ia berbalik lalu melambaikan tangan perpisahan. Memikirkan Sakura tak kembali lagi setelah ini, membuat hatiku terasa terbakar.
Q : Lu bisa nulis orang ketiga nggak?
A : Bisa kok. Tapi ini cerita memang khusus untuk orang pertama. Dan juga aku kurang suka menulis untuk orang ketiga.
Q : Kak, tolong buat chapter seanjutnya lebih panjang
A : Sebelumnya aku minta maaf. Aku udah sering mendengar, 'kak word nya kurang atau segala macam'. Aku udah berusaha untuk membuat lebih dari 1k tapi entah kenapa aku selalu terkena writers block. Tapi sebagai gantinya aku akan lebih berusaha up lebih cepat.
Salam hangat, Lolipop Cherry.
