BoBoiBoy (c) Monsta
I'm a Boy 2 (c) Vinie-chan
Warning : This story contains a bit shounen-ai. Don't like, don't read!
Chapter 10
-Ochobot's POV-
"Woi!" Seketika Fang dan BoBoiBoy berbalik ke samping, melihatku berjalan dengan menghentakkan kaki. Ku tarik lengan BoBoiBoy menjauh dari Fang yang mulai waspada. "What did you do to him?!" bentakku.
"What do you mean? Did I make you angry?" balas Fang dengan nada dingin.
"Of course you did! Kau telah mencium sepupuku! Apa-apaan kau?!"
"Ochobot, sudah. Jangan marah." Aku mendelik ke BoBoiBoy. Bocah itu hanya menatap pasrah dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Wajahku kembali ke wajah Fang. "Dengar. Aku tidak ingin kau menyentuhnya setitik pun! You're such a gross boy! Sadar diri kenapa?!" bentakku lagi. Fang menatapku nanar dan mengepalkan kedua tangannya. "If you do something gross to him again, I'll make sure that you won't see him again! Ayo, BoBoiBoy! Kita pulang!" Sekali lagi, ku tarik tangan BoBoiBoy yang mulai lemas, membuatnya kesakitan dan berjalan bertatih-tatih.
Persetan dengan si Fang itu! Dia hanyalah bocah brengsek yang berhasil memancing amarahku! Tanpa kembali menghadap ke belakang, aku mengajak BoBoiBoy pulang dengan memaksanya berjalan bersamaku.
-Fang's POV-
Argh! Apa-apaan bocah bule itu?! Berani-beraninya dia merusak momenku dengan BoBoiBoy! Sekarang masalahku malah bertambah! Seharusnya tadi aku tidak tergoda dengan tatapan dari kekasihku itu!
Pertama, Kaizo. Kedua, Ochobot. Ketiga apa lagi, nih?! Aku memijit-mijit jidatku yang mulai pusing tidak kepalang. Apa daya diriku ini. Hanya seorang bocah laki-laki yang lemah menghadapi asmara. Aku butuh hiburan secepatnya, tapi bagiku hanya senyuman dari BoBoiBoy-lah hiburan yang memudahkanku melupakan banyak hal.
Hari ini juga aku dipenuhi oleh kesialan berturut-turut. Apakah kembali ke Amerika dan melupakan segalanya adalah hal yang cukup benar? Siapa tahu, hanya Tuhan yang tahu. Tapi bagaimana dengan hubunganku dan BoBoiBoy? Kami dipisahkan oleh dua gelombang yang berbeda, yaitu Kaizo dan Ochobot. Mereka bagaikan ombak pemisah dan Tē Ka antara dua dewa ; Dewa Angin dan Dewa Laut. Eh, itu Moana, deh.
Intinya aku benar-benar tidak ingin ada penghalang di antara kami. Seandainya Ochobot tidak berubah pikiran, aku dan BoBoiBoy masih tetap adem ayem hubungan kami berdua. Apalah aku ini. Bukanlah seorang calon suami yang baik. Haha.
Singkirkan keluhanmu itu, Fang! Kau mau tidak bertemu dengan BoBoiBoy selama berhari-hari?! gerutuku dalam hati.
Sekarang juga aku harus berperang melawan amarahku pada kesialanku di hari ini. Apalagi tinggal 4 hari Kaizo akan pulang.
Eh?
"Aku pulang." Kaizo menoleh ke belakang begitu dia selesai memakan potato chips favoritnya.
"Dari mana saja kau? Tadi aku mencarimu di sekitar rumah," gerutunya kesal.
"Just shut up." Aku berjalan melewatinya tanpa melirik ke arahnya sama sekali. Aku yakin dia sedang menatapku heran, namun dia tidak begitu peduli.
Begitu aku beru memijakkan kakiku ke anak tangga pertama, suara Kaizo mengagetkanku. "Bagaimana keputusanmu? Sudah bulatkah?" Aku mendelik. Kaizo hanya menatap TV yang menayangkan berita cuaca pada hari ini dan besok. Tidak ada tanda-tanda Kaizo berusaha memaksaku menjawab pertanyaannya, namun dari tatapannya aku tahu dia tengah menungguku. Jawaban tidak kunjung datang padaku.
Lama sekali dia menatapku, akhirnya dia menyerah dan memiringkan tubuhnya ke samping. "Jika tidak ingin bicara, tidak apa-apa. Besok tetap akan aku tunggu jawabanmu sebelum aku pulang ke Amerika hari Senin," ujar Kaizo sambil melahap sepiring kue kering. Please, deh. Rakusnya keterlaluan.
Aku mengangkat kedua bahuku tanda tidak begitu peduli apa katanya. Ku langkahkan kakiku kembali menuju lantai dua, tempat kamarku berada. Begitu masuk ke dalam kamar, ku kunci pintu kamar dan aku duduk di atas tempat tidur. Sekarang sudah malam. Seharusnya aku tidur karena besok aku masuk sekolah, apalagi adanya kedatangan Ochobot dan kemarahannya tadi itu membuatku stress full. Argh! Wajah aku usap-usapkan berkali-kali sampai terasa panas. Rasanya ingin mencincang tubuh bule geblek tersebut! Tapi nanti kasihan BoBoiBoy. 'Kan dia sahabatnya.
Benar-benar tidak ada pilihan lain selain berusaha melupakan segalanya. Meski tubuh ini menolak untuk berbaring pun aku tetap harus melupakan apa yang dikatakan oleh Ochobot. Namanya terlalu aneh untuk bocah sepertinya, malah terkesan "robot". Apakah orangtuanya ilmuwan? Atau ahli teknologi?
Untuk sementara aku berusaha memejamkan mataku sampai semuanya terasa kosong. Pikiranku mulai jernih, namun masalahku akan keputusanku pada Papa masih mengisi otakku, membuatku pening seketika.
Apakah aku benar-benar harus pulang?
Sampai saat ini pertanyaan itu masih menggerogoti jantung dan otakku.
Kukuruyuuukk ...
Suara ayam jantan berkokok. Hari ini sudah pagi, matahari mulai nongol dari tempatnya bersembunyi. Ketika penduduk Pulau Rintis tengah sibuk-sibuknya beraktivitas, aku berjalan menuju sebuah tempat yang menjadi malapetakaku hari ini. Apalagi kalau bukan kedai Tok Aba? Ada calon istriku di sana dan ... si cebol pirang. Ugh, aku tidak suka berbicara dengannya!
Dengan buru-buru, aku duduk di samping BoBoiBoy dan segera memesan satu hot chocolate ke Tok Aba. Beliau mengangguk-angguk pelan dan berseru pada Ochobot, "Hot chocolate satu, Ocho!" Setelah teriakan itu mereda, aku melirik BoBoiBoy yang tampak sedikit ... pucat.
Ah, hari ini memang hari yang sedikit menyebalkan. Setelah insiden semalam, aku menjadi lebih banyak berpikir, alhasil aku tidur lebih cepat dari biasanya. Memang sangat menyebalkan ketika harus berurusan dengan si pirang yang kini membuat hot chocolate untukku. Kata-katanya terlalu tajam. Coba jika kalian bertengkar dengannya mengenai masalah BoBoiBoy, dia akan dengan mudahnya bawel seperti Ying. Anggap saja anak bawel kedua setelah si sipit yang barusan aku sebut tadi.
Ochobot membawakan hot chocolate yang dia buat tadi. Wajahnya tidak lain adalah wajah tanda benci–atau sangat benci. Dia melihatku dengan tatapan setajam elang, padahal baru kemarin kami bertemu lagi.
"Well ... well ... Look what I see now ...," katanya sinis.
Aku memalingkan wajahku karena kesal.
BoBoiBoy menoleh ke arahku. Bisa ku lihat, matanya tampak berkaca-kaca seperti ingin … menangis.
"Urgh!" Aku mendengus. "Apa yang telah kau lakukan padanya?" tanyaku kemudian.
Ochobot tersenyum kecil. "Heh, hanya memberi sedikit peringatan," jawabnya, membuat BoBoiBoy tersentak dan bergetar-getar. Bocah pirang itu pun berjalan menuju area pelanggan.
Kini tinggal kami berdua. Aku menatap BoBoiBoy yang bergetar-getar tanpa alasan yang ku ketahui. Perlahan, ku tepuk pundaknya pelan, sampai dia merasa tenang dan tidak ketakutan lagi. Aku curiga dengan kata-kata Ochobot barusan. Dasar anak sinting!
Mata BoBoiBoy melirikku. Wajahnya benar-benar pucat seperti sehabis melihat hantu. Aku prihatin padanya. Tanganku menggelayuti pipinya yang mulai basah karena air matanya yang mengalir.
"Kenapa menangis?" tanyaku pelan, berusaha tidak menakutinya. "Tadi tubuhmu juga bergetar-getar. Apa kamu baik-baik saja?"
BoBoiBoy menggeleng-geleng. Dia kembali menangis sampai tangannya menyentuh tanganku. "Tidak ... Jangan sentuh aku ... Hiks ..." Dia meletakkan tanganku ke pahaku. Aku semakin bingung dibuatnya.
"Kenapa tidak boleh? Aku ini kekasihmu ...," protesku.
"Hiks ... O-Ochobot, Fang. Hiks ..."
Aku semakin panik. "Ochobot? Kenapa dia?" BoBoiBoy menggelengkan kepalanya pelan.
Aku benar-benar bingung. Ada apa dengan BoBoiBoy? Apa maksudnya dia menyebut nama Ochobot barusan? Apakah Ochobot telah melakukan sesuatu padanya tanpa sepengetahuanku semalaman? Atau–
Tanpa ku sadari, mataku beralih ke bocah yang berdiri di dekat kedai, tersenyum manis dengan jari tengah yang dia tunjuk padaku. Wajahku pucat seketika. Pasti bocah ini sudah melakukan hal yang keterlaluan pada BoBoiBoy! Tanpa pikir panjang, ku tarik lengan BoBoiBoy menjauh dari kedai. Saat ini juga aku tidak ingin melihat wajah Ochobot yang cukup mengerikan untuk dipandang.
Sumpah ... Apa yang telah Ochobot lakukan padanya?
.
.
.
Sesampainya kami di sekolah, kelas masih cukup sepi, tapi ini adalah peluang yang bagus untukku bertanya pada BoBoiBoy. Bocah bertopi itu masih menangis, namun tidak separah tadi. Oke, aku benar-benar khawatir, karena BoBoiBoy tidak pernah menangis selain karena aku. Baru kali ini dia menangis karena orang lain selain aku.
BoBoiBoy masih sesegukan sampai aku mencium keningnya dan memeluknya berkali-kali. "Sssh ... Sssh ... Tenang, tenang ... Coba cerita, tadi kenapa?" tanyaku. Tanganku mengapit tubuh kami berdua di dalam kelas yang sepi ini.
Belum ada tanda-tanda dia ingin berbicara. Pelan-pelan, aku mencium keningnya kembali berkali-kali, sehingga tubuhnya mulai kembali rileks. Tapi wajahnya masih pucat. Bahkan suaranya masih terdengar parau.
"BoBoiBoy ..." Dia menengadahkan kepalanya. "Tidak apa-apakah kamu?"
BoBoiBoy menggeleng pelan.
"Haish ... Bicara saja. Luapkan semuanya. Aku tidak akan marah, kok ...," kataku akhirnya.
"Hiks ..." Mata BoBoiBoy kembali berkaca-kaca. Kali ini aku yakin dia akan menangis sekencang-kencangnya. "HUWEEEEEE ...! Aku bukan calon istri yang baik untukmuuuu ...!"
Tuh 'kan?
"Eh, eh, eh ... Maksudnya apa?!" tanyaku. Sumpah demi Tuhan, melihatnya memandangiku seperti ini membuatku ingin segera melahapnya sekarang juga. Tapi dengan keadaan seperti ini? Mikir apa kau, Fang?!
"A-aku ... aku ... Hiks ... Ochobot ... dia ... mengancamku ... semalaman ... K-karena ..."
"Karena apa?" Ku tangkupkan kedua tanganku di punggung dan kepala BoBoiBoy, memberinya sedikit kehangatan di dalam pelukanku. "Kalau kamu takut untuk bicara, aku tidak akan memaksamu. Tapi ingatlah, aku di sini. Aku tidak akan jauh-jauh, kok."
Aku tidak mengerti mengapa aku mengatakannya. Ini demi kebaikan BoBoiBoy. Jika dia menangis, aku mungkin saja tidak rela memarahinya karena takut akan salah paham dengan kondisinya. Status kami memang sudah bukan rival seperti dulu lagi. Aku mulai mengerti kalau BoBoiBoy ternyata memang cengeng dan butuh teman curhat. Sayangnya setiap aku menawarkan sesuatu untuk membantunya, dia malah menolak.
Tipe mandiri ... Begitulah caraku berpikir mengenainya.
Lupakan masalah kepribadian. Ini gimana, nih?! Hei, yang di sini, yang di sana, yang di atas, yang di bawah, yang lagi nongkrong di pohon! Bantuin gue buat nenangin nih bocah!
Tidak ada jawaban yang kunjung datang. Posisi kami kini berada di dekat bangkuku, posisi yang cukup bagus untukku duduk dan memangkunya di atas pahaku. Aku pun melakukan hal yang sempat ku pikirkan sebelumnya. BoBoiBoy duduk di atas pahaku, menghadap ke arahku, namun sepertinya dia tidak begitu nyaman dengan posisinya. Akhirnya dengan terpaksa, ku dudukkan dia di atas mejaku. Berat badannya lumayan ringan.
Mulut BoBoiBoy bungkam seperti tengah diresleting dengan zipper, tidak ingin terbuka jika aku tidak meminta. Ku sentuh pipinya yang chubby, semburat merah muncul di wajahnya yang putih mulus. Matanya yang bulat memandangiku dengan tatapan innocent seperti yang biasa dia lakukan dulu.
Di saat kau sedih, kau membuatku panik. Di saat kau tenang, kau justru membuatku bernafsu.
Aku tersenyum kecil. "Sudah benar-benar tenang?" tanyaku, dibalas dengan anggukan kepala BoBoiBoy. "Lain kali jangan terlalu terpengaruh dengan kata-kata Ochobot. Si cebol itu memang sangat menyebalkan. Bayangkan saja kau berupaya untuk melawan beo, ketika dia mengulangi kalimat yang sama, pasti kau akan kesal. Dia seperti beo, mengulang-ulang masa lalu sampai membuatmu muak. Jadi ..."
BoBoiBoy memiringkan kepalanya. "Jadi, apa?" Aku menyeringai tipis.
"Masa' tidak tahu? Ya ... abaikan, dong ... Dasar," ujarku, seraya mencium pipinya hingga membuatnya tertawa kecil.
"Hehehe ... Masa' Ochobot dibilang beo? Dia itu lebih mirip tupai yang rajin nyari upah. Saking rajinnya, dia sampai harus sering nyimpan emosi," simpul BoBoiBoy.
"Tupai? Salah! Dia itu kalau udah marah 'kan serem, jadinya dia itu King Kong!" Ku cubiti pipi BoBoiBoy. Dia tertawa terbahak-bahak.
"Badan sekecil itu dibilang King Kong? Itu mah Gopal ... Dia 'kan gede ..."
"Mentang-mentang aku gede malah dibilang King Kong!" Sebuah suara cempreng mengagetkanku dan BoBoiBoy. Kami menoleh ke samping dan mendapati Gopal berdiri di depan pintu dengan hamburger di tangannya.
"GOPAL?!" seru kami berdua.
Gopal berjalan menuju bangkunya sambil memakan hamburgernya. Wajahnya tampak judes setelah mendengar pembicaraan kami. Eh, tunggu dulu! Dia mendengar seluruhnya?!
"Se-sejak kapan kamu di sini?!" Aku mulai kikuk.
Wajah Gopal tetap judes seperti Yaya ketika mulai serius. "Sejak lihat kalian pacaran."
.
.
WHAAAATTTTT ...?!
"Hei, hei ... Aku bercanda, kok. Lagipula bagaimana mungkin kalian adalah homo sejati? Hahaha ... Wajahmu pucat sekali, Fang," canda Gopal sambil menahan perutnya karena tertawa. "Yang jelas sejak kalian menyebutku seperti itu."
Aku menggeram. "Dasar gembul!" umpatku, sedangkan Gopal hanya tertawa terbahak-bahak.
Telingaku menangkap suara kecil. BoBoiBoy tertawa, namun suaranya terlalu kecil untuk didengarkan. Tangannya berusaha menahan tawanya yang hampir meledak itu. Dengan begini, aku akhirnya lega. BoBoiBoy sudah mau tertawa kembali ...
"Ah! Fang, BoBoiBoy! Aku ada satu pertanyaan!" seru Gopal.
Raut wajah BoBoiBoy berubah heran. "Tanya apa?"
"Kalian benar-benar calon pasutri atau apa? Kenapa duduknya begitu?"
Aku mendelik. Ah, ya ... Gopal memang melihatnya! Tanganku sempat mencubiti pipi BoBoiBoy sejak dia datang, itu berarti dia melihat gerakan kami berdua?! MAMPUS KON!
Tanpa pikir panjang, BoBoiBoy berusaha turun dari atas meja. Sayangnya tangannya yang lunglai tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya sehingga dia harus menabrakku dan duduk di atas pangkuanku. "M-maaf, Fang! Aku ... aku tidak sengaja!" serunya.
Ucapan BoBoiboy tidak ku pedulikan. Mataku melirik Gopal yang menyiapkan kamera SLR miliknya dan berucap, "Wah! Bagus ini kalau fotonya aku jual!" Dengan sekali bidik, dia berhasil mendapatkan foto kami berdua. "Mahal, nih!"
"Gopal! Apa-apaan kau?!"
"Bwek! Ini aku jual sekarang aja, deh! Biar tidak ketahuan Yaya dan Ying!" Gopal berlari keluar kelas meninggalkanku dan BoBoiBoy yang terkejut setengah mati.
"Kamu gak bakal bisa jual tanpa persetujuanku!" seruku ikut berlari meninggalkan BoBoiBoy yang terjatuh dari pangkuanku.
Hari mulai semakin siang. Justru semakin siang semakin baik. Tumben aku tidak ada ekskul basket. Biasanya si Kaptennya basket suka masuk ke kelasku dan berteriak "FANG! AYO LATIHAN!" dengan nada yang cukup kencang. Aneh.
Lebih anehnya lagi, kenapa para guru memandangiku dengan pandangan sedih? Apakah ada yang salah? Aku baik-baik saja, kok. Tidak peduli seberapa sakitnya aku. Beruntung besok libur dua hari, mungkin hari Senin berjalan seperti biasanya.
Oh, ya. BoBoiBoy ... Dia belum cerita padaku pasal si Ochobot "brengsek" itu. Tangisannya kini berganti tawa riang setelah lupa dengan Ochobot. Berterima kasihlah padaku, Gopal, Yaya, dan Ying yang sedari tadi membuatnya tertawa dengan aksi si bocah gembul yang ingin menjual foto kami berdua. Yaya dan Ying ingin melihatnya, namun ku larang mentah-mentah sebelum mereka meraih foto tersebut. Sedangkan BoBoiBoy hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Yaya dan Ying yang berusaha membunuhku. Dasar duo "Y"!
Setelah aku mengantar BoBoiBoy ke rumahnya, aku berjalan lunglai menuju rumahku yang berjarak sedikit jauh dari rumah Tok Aba. Aku merasa ... punya firasat buruk. Sejak tadi aku merasakannya, tetapi perasaan ini jauh lebih kuat dari yang ku rasakan sebelumnya.
Pandangan guru ... Hilangnya jadwal ekskul basket ... Aneh. Apakah telah terjadi sesuatu?
Dengan tangkas, ku percepat langkahku menuju rumah yang kini tampak seperti ... kosong? Mataku menangkap bayangan Kaizo dari balik jendela. Dia tampak sedang menelepon seseorang. Beberapa bayangan tas koper juga ikut terlihat.
Aku mulai gusar. Akhirnya dengan cepat, ku buka pintu rumahku yang mulai berderit. Aku tidak dapat memercayai kedua mataku. Pemandangan ini ...?
"K-Kaizo?" Tanpa sadar, aku bergumam.
Kaizo menoleh dengan tatapan setajam elang. "Sudah berapa kali ku bilang, panggil aku Abang," tegurnya sambil menutup telepon.
"M-maaf. A-Abang mau pulang hari ini?! Kenapa cepat sekali?!" tanyaku tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Rasanya seperti baru kemarin Kaizo datang.
"Hmm? Oh, ini bukan hanya koperku, kok."
"Ha?"
"Hitunglah."
Aku tidak mengerti maksud Kaizo barusan. Ku hitung satu persatu koper yang telah disiapkan Kaizo. Eh? Tunggu! Setahuku dia hanya membawa satu koper. Kenapa sekarang ada tiga koper?! Jangan-jangan ...
"Pang ...," panggil Kaizo. "Aku tahu ini berat."
"He?" Aku menoleh. Mataku kini berkaca-kaca dan aku tahu itu. "Kenapa, Bang?"
"Papa memaksamu. Abang tidak bisa menolak lagi. Ini sudah kelima kalinya." Kaizo menundukkan kepalanya tanda menyesal. "Maafkan aku, Pang."
"TIDAK!" Kaizo mengangkat kepalanya. Iris merahnya menatapku yang balas menatapnya. Aku benar-benar emosi! Untuk apa dia meminta maaf jika ini bukan salahnya?! Tidak hanya itu. Meninggalkan Malaysia juga berarti meninggalkan BoBoiBoy sendiri dengan Ochobot!
Tangan Kaizo berusaha menyentuh pundakku sebelum aku menangkis tangannya. Dia terkejut, sama terkejutnya seperti aku ketika melihat tiga koper besar sekaligus.
"Pang?"
"Tidak! Aku tidak mau!" Aku memberontak.
"Bukan, maksud Abang–"
"Aku sudah bersusah payah pergi ke sini untuk bertemu dengan orang yang ku sayangi! Kami baru bertemu dua bulan ini, lalu kenapa aku harus kembali ke Amerika?! Pokoknya tidak!" bentakku.
Air mata mulai menutupi kelopak mataku. Aku menangis ... karena aku payah. Ya, aku payah sekali bertemu dengan BoBoiBoy hanya selama dua bulan saja. Sekarang bumi dan langit berkata lain. Inikah takdirku untuk meninggalkannya kembali?
Kaizo hanya diam menatapku. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Perlahan namun pasti, tangannya menyentuh pipiku yang basah, menatapku nanar dengan mata sipitnya.
"Ini perintah Papa. Kita tidak bisa melawannya atau Papa akan datang dengan sendirinya."
Aku menundukkan kepalaku. Nafasku mulai membaik, namun dadaku terasa sesak menerima kenyataan yang ada.
"Besok kita berangkat jam 10 pagi. Siapkan barang-barangmu yang tersisa dan berikan ucapan selamat tinggal pada BoBoiBoy." Aku mengangguk.
Kalian tahu? Ini terasa mendadak. Tapi aku tidak bisa melawannya sekaligus ...
... karena ini perintah Papa.
JAWABAN REVIEW CHAPTER 9
Floral Lavender - "Rupanya ketebak juga ... Fic ini bergenre drama/romance yang berarti menjurus ke drama romantis. Makanya lebih banyak adegan sedihnya karena juga menghubungkan antara fic dengan kenyataan. Berhubung tadi bertanya tentang Ochobot, silahkan baca kembali dan kau akan menemukan jawabannya. ^^ Btw, yang namanya cerita itu tidak harus tergantung seberapa target banyaknya chapter. Yang penting bagaimana cerita ini terus berlanjut, chapter akan semakin panjang atau mungkin berhenti tepat di satu titik itu saja. Sekian terima kasih. ^^"
Guest - "Belum tentu juga bakal happy ending atau tidak. Tunggu saja nanti. :D"
HikariFuruya - "Hati-hati ... Nanti mimisan lagi, lhooo ... xD Hah? Difoto?! (Ochobot : "Gue bukan fujo!") Anak kelas 5 jaman sekarang, nih ... Bahaya ... Untung di jamannya author masih pada straight (walau beberapa memang ada yang h*m* :V). Hehehe ... Semangat, lho! Nasib kita sama soalnya. Author juga murid International Class Program of Cambridge yang tugasnya jauh lebih ketat dan menulis fic ini adalah salah satu kegiatan yang bisa menjadi hobi di waktu luang. ^^"
Febiola558 - "Iya, sih ... Pembaca setia ... Janjimu mana? :v Author tidak begitu suka nagih orang karena tahu kesibukan masing-masing orang pasti banyak (#Eeaaa ...). Apakah adegan ciumannya berhasil membuat para readers pingsan? Author ikut baper karena lagu galau Indonesia. TT-TT"
Hai lagi, para readers seri "I'm a Boy"! Sebentar lagi season 2 akan selesai! Tapi nanti kita belum tahu apakah bakal happy ending atau sad ending, karena keputusan sang "Papa" tidak bisa diganggu gugat. (gayanya ... kayak pejabat sukses saja xD)
Sebelumnya, maafkan author yang tidak aktif selama hampir 1 minggu atau lebih (lupa hari TT-TT). Author harus berkali-kali ikut acara ini-itu-ini-itu yang berhubungan dengan kegiatan sekolah dan International Class Program. Sebentar lagi author akan pergi ke luar negeri pula untuk kegiatan overseas atau OAV. Kira-kira 3 bulan lagi (yah, itu mah masih lama!). Semoga saja bisa selesai secepatnya! Amiiin ...!
Oh, ya. Untuk chapter kemarin ralat. Sebenarnya Ochobot bukan sepupu BoBoiboy, tapi sahabat BoBoiBoy. Author baru saja baca season 1 dari "I'm a Boy" dan bersusah payah menutup mulut karena tahu kalau kemarin salah ngomong. Njiiirrr ... Akhirnya author ingin minta maaf karena kesalahan total dari chapter yang lalu. *bungkuk badan*
Ah! Kuis hari ini adalah ... "Apakah Fang benar-benar ke Amerika?" dan "Apa yang telah Ochobot katakan sampai BoBoiBoy menangis?" Silahkan dijawab! ^^
Siapa yang baper di adegan mesranya BoBoiBoy dengan Fang? Angkat tangan! Kalau author sudah sejak menulis chapter ini pastilah baper. Mau nangis, nyesek ... Kasihan BoBoiBoy. *kumat*
Untuk season 3, author sudah membuat plot ceritanya dan kalian bisa menebak-nebak siapakah rival Fang dalam mengejar BoBoiBoy. Walaupun sudah bikin plot ceritanya, author tidak akan memberi bocorannya. Sori buanget, ya!
Okelah! Don't forget to review, fav, and follow! I'll see ya later! Ciao! ^^
