You

Disclaimer :

Masashi Kishimoto with Naruto

You by Rinyaow

Pairs :

SasuxNaru

Rated : T

Genre : Romance

Warning :

Gaje, Alur Kecepatan, Banyak typo, Shounen-ai, BL, OOC, ga nyambung dan banyak lagi .

Setting : AU / Alternative Universal

mohon maaf author-author yang sudah lebih berpengalaman. Saya penulis *belum bisa dibilang author* saya baru yang belum terlalu mengerti.


Key Word for Everyone :

-Do not like? I beg you to do not read this-


Setelah beberapa lama hubungan mereka mendingin, sekarang mereka berdua tampak seperti biasa.

Saling melempar ejekan satu sama lain. Entah seperti apa, hanya mereka yang mengerti, ejekan itu adalah ungkapan sayang secara tak langsung milik mereka.

Sungguh, jika mereka saling diam, atau salah satunya diam, rasanya –aneh.

Karena mereka itu 'unik'.

Mereka itu tak akan wajar jika berjauhan seperti beberapa waktu lalu.

Saling berpapasan tanpa ada ejekan, dan tanpa berbagai hal usil lainnya, membuat mereka terlihat kosong.

Itulah anggapan para anggota keluarga besar Gakuen Ai –sekolah tempat mereka mengenyam berbagai ilmu.

Mereka berdua memang terlalu berlawanan. Sungguh, hampir tak ada kesamaan.

Yang satu, bermata hitam kelam, yang lain bermata biru jernih.

Yang satu berambut gelap, yang lain berambut terang.

Yang satu dingin dan cuek, yang lain hangat dan selalu peduli pada orang lain.

Uchiha dan Uzumaki.

Sasuke dan Naruto.

Siapa bilang perbedaan di antara mereka menghalangi?

Justru ketidaksamaan yang mencolok di antara mereka berdua itu yang membuat mereka lengkap.

Lengkap karena mereka saling mengisi.

Dan itulah yang membuat hubungan di antara keduanya berarti.

.

.

"Kumpulkan PR kalian, sekarang," tegas guru Bahasa Inggris mereka, Kurenai-sensei.

Seluruh penghuni kelas itu pun segera mengeluarkan buku PR mereka. Koreksi, hampir seluruh penghuni kelas saja yang mengeluarkan buku PR.

Ada satu sosok yang terlihat gelisah mencari buku di dalam tasnya.

"Akh, dimana buku itu?" sungut sosok itu pelan. Pagi yang indah ini bertambah cerah dengan kilau dari rambut sosok itu.

Dia kembali mengobrak-abrik isi tasnya yang tak bisa dibilang banyak itu. Dengan dada yang berdegup kencang, pemuda itu terus berusaha karena tak ingin mendapatkan hukuman dari sensei-nya yang cantik dan tak pernah main-main dalam memberikan sanksi pada siapapun yang tak mengerjakan tugas darinya.

'Keributan' kecil yang terjadi di mejanya membuat semua mata memandangnya –tanpa kecuali.

"Naruto," kata suara itu. Tegas dan –tajam.

Sosok yang dipanggil itu mengalihkan pandangannya dari tas sekolah yang isinya –bahkan– sudah dihamburkan semua ke atas meja.

"I-iya, sensei ?" kata Naruto pelan.

Wanita dewasa itu berjalan pelan menuju meja Naruto yang berantakan itu.

"Apa yang kau cari, hm?"

"P-PR,"

"Oh, lalu? Sudah ketemu?"

"Be-belum. Sepertinya ketinggalan di rumah, sensei,"

Kurenai-sensei semakin tersenyum manis melihat tingkah pemuda pirang ini. Saking manisnya, Naruto sampai meneguk ludahnya pelan. Dia tahu dia tak akan selamat dari hukuman yang dilakukan guru di hadapannya ini.

.

.

"Aku tidak akan mengulanginya lagi sensei,"

"Ya. Aku pegang kata-katamu. Sekarang kembali ke kelas, besok bawa PR-mu dan serahkan padaku,"

"Baik,"

Naruto pun berlalu dari ruangan guru. Dengan lesu dia berjalan. Sampai-sampai dia tak sadar kalau pintu di depan sama sekali belum terbuka. Dan, terantuklah dahinya dengan cukup keras.

"Auwh," kata Naruto pelan sambil meringis.

Kurenai menahan sedikit senyum gelinya yang keluar gara-gara tingkah lucu muridnya ini. Hanya karena dia memberikan tugas untuk membuat suatu karangan –yang tentu saja harus menggunakan bahasa Inggris– dengan tema bebas, Naruto sudah tidak fokus lagi.

Tugas itu diberikan Kurenai sebagai hukuman 'ringan' –yang tentu saja berat bagi pemuda pirang itu.

Naruto berjalan menuju kelasnya dengan langkah gontai.

Dia baru sadar, ternyata sekarang sudah waktu istirahat. Waktu yang dia habiskan di ruangan sensei-nya itu cukup lama juga.

Saat berjalan, tiba-tiba ada suara tak asing yang berasal dari perutnya.

"Aku laparrr,"

Dengan setengah berlari, Naruto segera menuju kantin sekolah yang –tidak diragukan lagi– sudah penuh sekarang.

'Tinggal belok dan Hupla! Kantin ada di depan mataku!' batin Naruto senang.

Tiba-tiba, dia menubruk tubuh seseorang.

"Gomen, aku buru-buru sekali," kata Naruto.

"Hn, dobe," kata sosok itu.

Merasa tak asing dengan vokal itu, dia segera mencubit lengan milik orang itu.

"Akh!"

"Kau jangan coba-coba mengataiku dobe lagi, temee! Baka Sasuke!"

Sasuke mengusap lengannya yang dicubit Naruto tadi. Sedikit memerah karenanya.

"Hn," jawab Sasuke dengan gaya khas-nya.

"Aku mau ke kantin dulu, teme. Perutku benar-benar akan mengadakan aksi konser jika aku tak segera mengisinya," tutur Naruto seadanya.

Padahal Sasuke tak bertanya, hanya saja dia suka berbicara banyak hal di depan Sasuke. Walau terkadang, itu membuat Sasuke merasa terganggu ketenangannya.

"Hn," kata Sasuke pelan. Dia suka melihat kejujuran Naruto. Sungguh.

"Dah, teme!"

Naruto pun berjalan menjauh dari Sasuke. Seketika, dia sampai di depan kantin dan dilihatnya banyak siswa berdesak-desakan mengantri untuk memesan makanan.

Akhirnya, dia ikut mengantri untuk memesan ramen –yang entah kenapa juga disediakan sebagai menu makan siang– karena rasa laparnya benar-benar menyiksa.

Begitu dia ikut mengantri, dia ikut mengerti mengapa semua siswa harus berteriak untuk memesan makanannya.

"Bibi, paket A dua dan paket C tiga!"

"Nasi kare bi!"

"Menu seperti biasa bi!"

Dan semakin berlanjutlah acara teriakan itu, hingga Naruto sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk memesan makanan kecintaannya itu.

Setelah berteriak sekencang dia bisa, bibi penjaga kantin itu merasa iba dengan pemuda pirang ini. dan akhirnya, satu mangkuk ramen pun dihidangkan untuknya.

Mata Naruto berbinar-binar cerah melihat semangkuk makanan itu. Segera dia ingin duduk dan melahapnya. Tapi sayangnya, antrian di belakang sungguh penuh.

Dan buruknya, dia sama sekali tidak bisa keluar dari antrian siswa yang benar-benar rapat itu.

"Ukkh, aku tak mau mati hanya gara-gara ini!" kata Naruto sambil meronta mencoba keluar dari rentetan barisan antrian itu. Dengan berhati-hati, dijaganya mangkuk itu agar tidak tumpah.

Akhirnya dengan sungguh bersusah payah, pemuda berkulit tan itu berhasil keluar dari kerumunan siswa kelaparan itu.

Setelah itu, dengan hati yang sungguh riang dan puas, dilahapnya dengan cepat ramen spesial yang ada di dalam mangkuk itu. Tak sampai 10 menit, isi dalam mangkuk itu telah ludes dan tandas.

Naruto masih ingin memesan lagi, namun melihat 'keadaan' yang terlihat lebih parah daripada tadi, niat itu langsung terkungkung dalam hati Naruto.

"Uuh, aku lapar sekali," katanya sambil menuju keluar kantin. Ternyata, satu mangkuk tidak bisa membuat rasa laparnya berhenti.

Dia berjalan dan bertemu dengan beberapa adik kelas perempuan yang sedang tersenyum dan mencuri pandang padanya. Dan Naruto membalas senyuman mereka dengan satu cengiran lebar khas-nya. Walau dia sama sekali tidak paham mengapa mereka melakukan itu.

Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dan bergumam pelan.

"Masih 15 menit sebelum bel masuk, mungkin masih sempat untukku untuk pergi kesana,"

Naruto pun bergegas menuju 'kesana'. Tempat dimana suasana nyaman selalu menghampirinya.

.

.

Tak sampai 5 menit, Naruto pun sampai ke tempat itu.

Taman belakang yang teduh dan sejuk. Dan tak jauh di depan, ada taman bunga yang menambah kesan indah dan sejuk.

Taman ini merupakan tempat rahasia bagi Naruto. Pagar rumput pembatas yang tinggi membuat tempat indah itu tertutup dan hanya diketahui olehnya seorang.

Dia menemukan taman ini saat tak sengaja jatuh saat festival kemarin.

Tak mau membuang waktu, Naruto pun mencari pohon yang besar untuk menutupi tubuhnya dari sinar matahari yang cukup membuatnya berkeringat.

Setelah dapat, dia membaringkan tubuhnya di rerumputan hijau yang selalu dipangkas dan dirawat oleh pengurus taman mereka, Gai-sensei. Beliau memang sangat suka sesuatu yang terdapat unsur hijau di dalamnya.

Perlahan, dipejamkannya matanya. Aroma khas kesejukan menerpa hidungnya. Sungguh, segar dan nyaman.

"Ah, nyaman sekali,"

"… sik,"

Naruto terkejut. Sekejap, didengarnya suatu suara. Padahal dia yakin, disini adalah tempat rahasia yang hanya dia yang tahu.

'Ja-jangan-jangan, penunggu pohon ini?' batin Naruto.

"Ma-maafkan aku penunggu pohon. Saya sama sekali tidak berniat untuk mengganggu anda," kata Naruto dalam posisi membungkuk di hadapan pohon itu.

"Baka,"

'Loh, suara ini kan..'

"Masih mau membungkuk tak jelas seperti itu, Dobe?"

Dengan kesal, ditatapnya mata hitam Sasuke.

"Kau benar-benar membuatku kaget, Teme!"

"Siapa suruh kau kesini?"

"Ini tempat milikku! Wajar aku kesini!"

"Sejak kapan, hm?"

"Sejak… umm, sejak festival kemarin!"

"Aku tak percaya,"

"Aaakh! Apa maksudmu sih, teme?"

Sasuke terkikik pelan melihat wajah Naruto yang menggembung karena kesal itu.

"Sa-sasuke? Kenapa kau tertawa tertahan seperti itu?" kata Naruto bingung.

Seakan baru dipanggil kembali dari dunianya sendiri, Sasuke langsung menghilangkan tawa terkikik itu dengan suara dingin seperti biasa.

"Siapa yang tertawa? Benar-benar dobe, kau," kata Sasuke sambil mengacak rambut Naruto pelan.

"Kau yang baka, dasar teme," kata Naruto sambil menikmati usapan tangan Sasuke di kepalanya.

Dan, mereka berdua hanya diam. Suara semilir angin benar-benar terdengar di tempat mereka sekarang.

"Ne, Teme,"

"Hn?"

"Aku.."

"Apa?"

"Aku hanya rindu suasana seperti ini," kata Naruto sambil menunduk. Mencoba menahan rasa panas yang mulai menyebar di wajahnya.

Sasuke tertegun. Dan dia kemudian tersenyum kecil menatap sosok berkulit tan di hadapannya ini. Melepas satu atribut 'Uchiha' yang selalu dia pakai dimanapun dia berada.

Namun, entah kenapa, hanya dengan bersama Naruto, atribut 'Uchiha' itu sama sekali tidak diperlukan lagi.

Sasuke mengubah posisi mereka. Dimana dia bersandar di pohon di belakangnya. Perlahan, direngkuhnya tubuh Naruto ke pelukannya.

Naruto menyamankan posisinya. Disandarkannya kepalanya di dada Sasuke.

Sasuke selalu bisa menghirup aroma segar dari rambut pirang pemuda ini. Dikecupnya pelan puncak kepala Naruto. Disurukkannya wajahnya ke rambut pirang itu.

Hanya ada kesunyian. Namun entah kenapa.. sungguh..

Nyaman..

"Maaf," kata Sasuke memulai setelah mereka terhanyut dalam kebersamaan mereka.

"Untuk?"

"Pernah membuatmu sakit," kata Sasuke. Naruto merasakan lengan Sasuke yang melingkari perutnya menegang.

Disentuhnya pelan lengan itu. Mencoba merileks-kan kembali ketegangannya.

"Itu masa lalu, Sasuke,"

"Dan aku tak bisa melupakannya. Melupakan betapa jahatnya aku padamu. Betapa egoisnya aku, betapa parahnya aku membuatmu sakit. Aku menyesal,sungguh," papar Sasuke yang membuat Naruto tertegun.

Tak disangkanya Sasuke bisa berbicara panjang lebar seperti ini. Naruto tersenyum kecil, melihat bagaimana perasaan Sasuke padanya.

Dilepaskannya lengan Sasuke dari tubuhnya. Membuat desah kecewa keluar dari bibir Sasuke.

Naruto menghadap pada Sasuke. Dia memandang mata hitam yang membuatnya terpesona itu.

Dulu, mata itu selalu tak pernah menampakkan emosi. Sekarang, rasanya hangat saat memandang mata hitam Sasuke.

"Teme, aku tahu kau juga merasa sakit," kata Naruto sambil mengarahkan tatapan lurus kepada Sasuke.

Sasuke terdiam. Naruto selalu bisa membaca perasaan yang dia sembunyikan dari siapapun. Selalu bisa membuatnya merasa tenang.

"Ya. Aku sakit saat melihatmu sakit," bisik Sasuke pelan.

"Eh? Apa katamu, teme?"

Sasuke berdecak kesal. Dia sudah sedemikian jauhnya membuka hati untuk Naruto, dan ternyata orang-nya sendiri tidak sadar. Dia pun beranjak dari duduknya.

"Kemana, teme?"

"Ke kelas. Sudah bel masuk kan?"

Naruto melirik jam tangannya.

"Hah? Sudah lewat tiga menit dari waktu bel!"

"Memangnya kenapa?"

"Terlambat lima menit, maka Orochimaru-sensei akan menghukumku!" seru Naruto panik.

Sasuke Nampak berpikir. Guru biologi mereka itu memang sedikit aneh dan membuat takut. Gosipnya, dia adalah seorang seme yang mengerikan. Yang akan dijadikan uke-nya adalah muridnya sendiri. Murid yang melakukan kesalahan padanya, saat pelajaran maupun di luar jam belajar. Walau gossip itu belum tentu benar, Sasuke tetap merasa cemas.

Mana mau dia menyerahkan Naruto pada guru mesum itu?

"Aku temani kau,"

"Hah?"

"Bilang saja kalau kau ada urusan ke perpustakaan denganku,"

"Oke! Tapi, kalau kita ketahuan berbohong.."

"Makanya, biar aku yang mengurusnya," kata Sasuke tegas.

Dan mereka berdua keluar dari taman dan berlari menuju ke kelas yang sepertinya sudah dimulai itu.

.

.

"Terima kasih, teme. Kalau tidak ada kau, aku tak yakin aku akan selamat dari Orochi-sensei,"

"Hn,"

Mereka berdua sedang berjalan pulang. Biasanya, sahabat-sahabat mereka pulang bersama. Namun, mereka sedang ada urusan sendiri, jadilah hanya Naruto dan Sasuke yang pulang bersama.

Sungguh hanya berdua dan menggunakan kedua kaki mereka. Bukan mobil jemputan milik Sasuke.

"Teme?"

"Hn?"

"Aku lewat belokan di depan, jadi kita berpisah disini," kata Naruto sambil menampakkan gigi putihnya.

"Ya,"

"Dah teme!" kata Naruto.

Sebelum dia sempat melangkah, Sasuke menarik tangannya. Menarik Naruto ke dalam pelukannya.

"Te-teme,"

"Hn,"

Setelah beberapa menit, Sasuke melepaskan kehangatan itu. Dia mengecup dahi Naruto pelan.

Menikmati semburat pink yang perlahan muncul dari wajah Naruto.

"Dah, dobe," kata Sasuke sambil membalikkan badan.

Meninggalkan Naruto yang masih berdebar atas tindakan 'tak bertanggung jawab' dari Sasuke.

.

.

Sasuke masuk ke dalam rumah mewahnya. Dia sedikit terkejut melihat mobil ayah dan ibunya serta kakaknya terparkir dengan rapi di garasi.

"Aku pulang," kata Sasuke malas. Dia sudah biasa menyadari tak akan ada yang menjawab salamnya.

Tiba-tiba matanya menatap ketiga sosok yang sedang duduk di ruang keluarga.

Dengan cepat, sesosok wanita cantik menghampiri Sasuke.

"Sasuke, Kaa-san kangen padamu," kata Mikoto.

"Kaa-san," Sasuke hanya bisa terdiam. Tidak tahu apa yang harus dilakukan pada Ibunya yang hampir selama satu tahun tidak pulang.

"Hn,"

"Kau bertambah dingin saja," kata Mikoto sambil membelai lembut pipi Sasuke.

"Ada apa kalian semua sampai pulang?"

Raut wajah bahagia Mikoto berubah menjadi pucat setelah mendengar kata-kata Sasuke. Insting anaknya ini memang sungguh tajam.

Mikoto lalu melirik Fugaku yang duduk di samping.

"Duduklah," kata Fugaku. Pendek dan tegas. Dingin..

Sasuke mengambil tempat di samping Itachi yang sedang mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang kacau.

"Ada apa?"

Fugaku lalu merogoh kantong kemejanya. Diambilnya sesuatu.

"Siapa dia?" kata Fugaku sambil menyodorkan selembar foto pada Sasuke.

Sasuke mengambil foto itu dan terkesiap melihat siapa sosok di sana.

Dia menatap ke arah kakaknya yang sungguh terlihat sedih. Dan kacau.

Kemudian Sasuke menatap ke arah ibu-nya yang terlihat gelisah.

Dan terakhir menatap mata hitam ayah-nya. Mata yang dingin dan tegas. Mata itu menatap tajam ke arahnya.

Seketika, Sasuke tersadar. Mereka tahu tentang hubungannya dan Naruto.

Dan, mereka –terutama ayahnya– sungguh butuh penjelasan dari Sasuke tentang siapa sosok di foto itu dan kenapa mereka berdua bisa berpelukan seperti yang tercetak jelas di satu lembar foto itu.

To be Continued


R/N

jujur deh, Rin lama updet karena Rin rada bingung mau bkin chap ini bagaimana.. ada rencana, tpi agak bingung menulisnya gimana.. Rin rada konslet *plak

klo Sickness, alhamdulillah uda tau mau nulis apa, jadinya lbih cpet updet.. maaf ya, yang lama nunggu updet YOU *siapa yang nunggu? PEDE *plakplak

semoga masih ada yang mau baca dan ngikutin fic Rin *pundung* maaf kalo ada typo dan ke-GAJE-an.. TwT

buat : Vii-san.. cepet sembuh dan keluar dari rumah sakit yah :)

nih Rin kasih updetan *Vii-san : ga perlu* Huks


SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA BAGI YANG MENJALANKAN :D

SEMOGA IBADAH KITA DITERIMA OLEH-NYA ^^ Amiin

with Hugs and Smile,

Rin