LuMin/XiuHan

Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Mohon tulis review sebagai masukan. Kritik dan saran sangat di butuhkan. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia. Khusus untuk Zitao, ceritannya dia ngomong pake bahasa Mandarin. Ceritanya dia gak(Belum) bisa bahasa Korea. Dan sebenernya cast nya tetep kok, cuma di setiap chapter akan muncul cast baru, itu bukan pemain(?) tetap. Yeah istilahnya cameo gitu. Hehe.

Kematian Jung Sooyeon, Kim Jongdae dan seorang trainee bernama Minseok, adalah keterkaitan tentang yang terjadi tujuh belas tahun yang lalu.

Ahn Jaehyo bertemu dengan seorang laki-laki lebih tua darinya di sebuah rumah makan di perbatasan kota, lelaki bermarga Ahn tersebut mengenakan pakaian serba hitam, habis menghadiri sebuah acara peringatan kematian. Menyesap minuman hangatnya sesekali.

"Tapi aku tidak mengerti, bagaimana bisa kematian Sooyeon dan Jongdae bisa berhubungan dengan Minseok? Apa dia terlibat?" tanya yang lebih tua, dengan ekspresi yang bingungnya terlihat sangat jelas.

Jaehyo menggerakan bola matanya, memberikan lirikan sejenak pada lelaki di hadapannya lalu meletakan cangkir di meja. "Tidak mungkin, anak empat belas tahun terlibat dalam hal mengerikan seperti itu. Aku tahu betul bagaimana Minseok."

Yang lebih tua mengangguk paham, mengiyakan spekulasi Jaehyo yang masuk akal menurutnya. Hanya saja, hati kecilnya belum mengiyakan seperti anggukan kepalanya, seakan masih ada yang mengganjal. Masalah tujuh belas tahun yang lalu adalah kejadian yang tidak bisa di lupakan, selain itu memberikan tekanan pada dirinya, karena namanya ikut terseret dan terbawa.

Di sisi lain, Jaehyo mengalihkan pandangan, memandang rerumputan yang tumbuh di sekitar area danau di luar tempatnya duduk. Pikirannya bercabang-cabang. Sebenarnya itu juga yang di bingungkan oleh Jaehyo, kematian Sooyeon dan Jongdae kenapa menyebabkan menyeret Minseok, anak kecil yang sedang membangun mimpinya, menempatkan dia di antara orang-orang yang haus kekuasaan.

"Kalau begitu ada hal lain yang membuat ketiganya berkaitan, sesuatu yang lain yang secara langsung ada di antara mereka. Jika bukan Luhan maka Baekhyun adalah dalangnya, tapi-

Inheritors

NurL99

LuMin/XiuHan

Choi Taemin. Sehun mengeja lagi nama yang tertera di kertas putih pada lembar pertama yang di berikan ayahnya. Namanya terdengar asing, tapi wajahnya begitu familiar, seperti pernah melihat tapi dimana?.

Mengabaikan sejenak wajah yang tidak asing itu, Sehun mengambil lembar kedua yang sudah di tebar memenuhi meja. Tidak ada yang menarik, karena lembar-lebar berikutnya hanya terisi biodata keluarga dan pengalaman pekerjaan, tapi begitu lembar terakhir terambil, kening Sehun mengerut.

Ada satu nama, Kim Jongdae – lagi, nama itu tidak terdengar asing baginya. Sampai ingatannya menemukan, Sehun terlonjak, hampir terjungkang kebelakang saking kagetnya. Kim Jongdae, lahir di Siheung, Gyeonggi-do, Korea Selatan 21 September XXXX. Ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika Jongdae berusia enam tahun, satu tahun kemudian ibunya – Kim Kibum menikah lagi dengan pria bernama Lee Jinki dan di karuniai seorang puteri yang di beri nama Lee Taemin.

Tidak selesai membaca isi lembar terakhir, Sehun malah beralih mengambil lembar yang beruliskan nama Choi Taemin. Choi Taemin ini mirip dengan seseorang, Park Jongin dan seorang bernama Kim Jongdae itu mengingatkan Sehun pada ibu Jongin yang juga bernama Kim Jongdae. Sepintas pikiran aneh menyergap benak Sehun. Namun segera di tepis, tapi ketika akan meletakan dua lembar sesuatu menarik minatnya lagi.

Kim Jongdae lahir 21 September xxxx meninggal xx-xx-xxxx. Seketika matanya melebar.

Nama Kim Jongdae tertera dalam daftar pertemanan Ahn Jaehyo, membuat suhu seketika naik beberapa derajat di ruang kerja Baekhyun. Siapa yang menyangka, karena inikah Daehyun memberikan data lengkap Ahn Jaehyo kepadanya.

Dengan tergesa wanita itu mencari ponselnya, ada seseorang yang harus ia hubungi jika menyangkut Kim Jongdae, siapa lagi kalau bukan-

"Yeol-ah, aku dapatkan orang yang di maksud Wu Yifan."

Laci meja kerja Chanyeol terbuka sedikit. Disaat Jongin datang untuk mencari ayahnya yang tadi memintanya menemui di ruangan kerja untuk mengambil CD rekaman, sekarang lelaki itu malah tidak ada, sekilas Jongin melihat isi laci ayahnya, dan dia menemukan apa yang di carinya. CD rekaman, ia datang memang untuk itu, pasalnya kemarin ayahnya meminta bantuannya untuk membuat koreo album baru dari boy groupnya. Dan di sana hanya itu satu-satunya CD yang ada.

Dengan sekali hentak, Jongin menarik pegangan laci dan terbuka, mengambil CD yang bertumpuk dengan sebuah pigura, Jongin menautkan alisnya. Dalam pigura itu, terdapat foto tiga orang, mengenakan seragam sekolah menengah atas dan sedang tertawa. Dua di antaranya di kenali dengan jelas olehnya, Chanyeol dan Baekhyun, tapi, siapa lelaki yang duduk di antara Chanyeol dan Baekhyun itu?.

Ketika sedang memperhatikan dengan seksama, dering yang terdengar tidak asing mengagetkannya, mengalihkan sejenak dari pigura di tangan kanannya, tangan kirinya mencari, dari mana sumber suara tersebut. Dan saat sudah di temukan, pandangannya di alihkan lagi pada pigura di tangan kanan, mengusap sekilas lalu menempelkannya di telinga.

"Yeol-ah, aku dapatkan orang yang di maksud Wu Yifan."

Mengenali suara di ujung sana, Jongin menjauhkan benda kotak milik ayahnya dan memandang layar, memastikan dugannya dan ternyata benar. Baekhyunee, tertera di layar.

Jongin mendecih. Apa Luhan belum cukup, sampai mengganggu duda keren malam-malam? Batinnya sarkas.

"Yeol-ah, aku akan segera membuat tidur Jongdae tenang, setelah sekian lama." Jika saja nama ibunya tidak di sebut, mungkin Jongin sudah mematikan hubungan sesuai niatnya. "Yeol-ah, hubungi Yifan dan Soojung, dan juga bawa stempel untuk Jongin. Aku ingin semua selesai besok dan kita akan selesaikan semuanya besok pula."

Tidak mengerti dengan maksud ucapan di sebrang sana, secara sepihak Jongin mematikan sambungan, tatapannya menjadi linglung. "Apa maksud segalanya?" tanyanya.

Pagi berikutnya, Minseok sepertinya sudah membaik, dia bangun lebih dahulu dari Luhan dan sedang memandanginya. Hal biasa yang dilakukannya jika Luhan bermalam di pavilion, pagi ini pun sama, hal pertama yang Luhan lihat ketika ia membuka mata adalah tatapan Minseok padanya, yang secara otomatis membuatnya tersenyum dan dengan cepat menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya.

Mengecup kilas bibir itu kemudian tersenyum lebar. "Good morning." Setelah itu Luhan menyapa, meski matanya masih setengah terbuka karena memang masih mengantuk, namun tidak meluluhkan keinginannya untuk memeluk Minseok.

"Lu sajang, wae- Minseok menggantungkan kalimatnya, menatap Luhan ragu dan kemudian yang akan di tanyakannya hilang, seakan Luhan yang menatapnya adalah penghapus. "Wae? Mwoya?" Luhan yang bingung tidak bisa tidak bertanya.

"Apa ini malam akhir pekan? Kenapa sajang-nim ada di sini?" tanya Minseok, setelah mengingat kembali apa yang akan di tanyakannya tadi.

"Ani, tapi aku merindukanmu."

"Lalu, bagaimana dengan nyonya Lu?"

Luhan berdecak, mendengar pertanyaan Minseok dan mengeratkan pelukannya, mengecup sebentar puncak kepala si mungil dengan sedikit mengusakan hidungnya. "Kau tahu, Baekhyun sedang punya banyak pekerjaan." Senyum licik sekilas terbit di wajah Luhan. "Tidak ada yang mengurusi aku di rumah utama, dan apalagi aku sedang libur bekerja, kau tega membiarkan aku melakukan apapun sendiri?"

"Kalau begitu, bangun dan mandilah. Aku akan siapkan pakaian dan menyiapkan sarapan." Sedikit menjauhkan tubuhnya dengan Minseok, Luhan memandang wajah itu lekat-lekat, raut pucatnya sudah tidak sepekat kemarin, dan bibirnya sudah berubah merah. Minseok terlihat lebih segar.

Tiba-tiba saja, sesuatu dalam diri Luhan terasa berdenyut nyeri. "Bagaimana kalau kita mandi bersama saja, kau relakan menyiapkan sarapan untuku dan di lakukan pelayan, dan kau menjadi sarapan pembukaku aku- Bodoh, umpat Luhan dalam hati. Apa yang baru saja dia katakan, Minseok baru saja membik dari ingatan tentang traumanya, dan kenapa dia malah berkata seperti itu apa dia sedang mencoba membuat Minseok mengingat kembali kejadian itu.

"Kalau begitu aku akan menyiapkan air hangatnya dulu."

Eh.

Sejak semalam, dipikirkan seribu kalipun hasilnya tetap sama. Kim Jongdae ibu Jongin dan Kim Jongdae kakak laki-laki dari wanita yang akan menjadi gurunya, tanggal lahir dan tanggal kematian sama, itu bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.

Meninggal dalam sebuah tragedi. Penembakan misterius yang menewaskan tiga korban.

Mungkin banyak orang yang lahir dan meninggal di waktu yang sama, banyak, tapi nama dan tanggal lahir? Apa sekebetulan itu? Dan lagi, jika mereka berkelamin sama, mungkin tidaklah terlalu membuatnya harus berfikir keras, tapi masalahnya, ibu Jongin, ibu jelaslah perempuan dan kakak Taemin ini adalah laki-laki.

Seharusnya, ini memang bukan hal yang perlu Sehun pikirkan tapi entah mengapa rasanya begitu mengganggu, terlebih fakta bahwa, ia bahkan Jongin tidak pernah melihat rupa ibunya menimbulkan satu spekulasi.

"Mungkinkah, Jongin punya ibu yang sebenarnya laki-laki, karena itu Chanyeol samchon menyembunyikan bagaimana rupa ibu anak itu? Tidak mungkin."

"Atau?"

"Berfikir keraslah jeoha, aku tinggal dulu, berhubung kau tidak sekolah maka aku tidak perlu mengantarmu."

Luhan tidak salah dengar kan? Saking kagetnya dengan jawaban Minseok, Luhan sampai tidak sadar kalau Minseok sudah meninggalkan tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi, melepas selang infus yang kini menggantung tak bermuara.

Menyibak selimut, Luhan ikut turun, berlari kecil menuju kamar mandi dan di sana Minseok sedang berkutat dengan air dan alat mandi lainnya. Wangi semerbak menyeruak memasuki hidung Luhan, karena Minseok menuangkan wewangian aroma terapi di air mandi, membuat otak Luhan secara perlahan menjadi rileks, dengan pelan Luhan berjalan mendekat.

Melingkarkan lengan kekarnya di area perut Minseok dan menopangkan dagunya di pundak. Sepertinya sisi liar Luhan kini menguasai diri lelaki satu anak tersebut. Dan melupakan kalau Minseok baru saja melupakan traumanya.

Kebul air hangat memberikan kesan intim, dan baju Minseok yang setengah basah memberikan kesan menggoda, karena lekuk tubuh Minseok terlihat begitu jelas. Meski Minseok bertubuh mungil dan terkesan seperti anak SD tapi sebenarnya Minseok memiliki tubuh yang sempurna, bokongnya montok dengan pinggang yang ramping, pahanya kecil, kakinya yang seimbang meski pendek membuatnya terlihat jenjang, dan buah dadanya, tidak bisa di bilang kecil walaupun tidak besar, keseluruhan Minseok memiliki tubuh yang sempurna dan idaman wanita.

"Minseok-ah, aku-" Luhan bersuara rendah, tiba-tiba serak dan nafasnya terasa berat, serta tangannya yang di perut Minseok mengerat sebentar, karena setelah Luhan bersuara demikian, dengan gerakan pelan Minseok membalikan badannya. Menatap langsung netra Luhan yang kentara sekali sedang menahan sesuatu.

Tanpa di duga, itu mengundang satu senyuman, yeah Minseok tersenyum, mengusap wajah Luhan dengan tangannya yang basah. Setelah mengusap wajah Luhan, tangannya turun, melepasi satu-satu kancing piama lelaki itu yang otomatis membuat Luhan membuka matanya, terbelalak tidak percaya.

"Minseok"

"Lakukan saja, bukankah aku isterimu."

Sejak beberapa hari lalu, Jongin dan Chanyeol memiliki hubungan yang baik, maksudnya sudah tidak suka bertengkar lagi, karena sejak beberapa hari ini, Chanyeol lebih sering menghabiskan waktunya di Dae atau di rumah, begitupun dengan Jongin, bahkan anak keras kepala itu sudah mau menuruti perkataannya yang memintanya mengikuti kegiatan sekolah yang bertema keluarga. Karena Chanyeol menjanjikan akan mengajak salah satu keluarga ibunya.

Tapi, pagi ini. Jongin seperti kembali menjadi Jongin yang biasanya, angkuh dan memandangnya penuh permusuhan, apa lagi salah Chanyeol kali ini?.

"Jongin-ah, kau tidak habiskan sarapanmu?"

"Tidak berselera lagi."

Bahkan dia kembali berkata dingin, setelah itu mengambil tasnya yang tersampir di sandaran kursi, pergi meninggalkan ruang makan. Chanyeol mengerutkan keningnya. "Apa lagi salahku nak. Jika ada sesuatu yang membuatmu sangat marah, kenapa kau tidak katakan, kenapa kau sangat mirip dengan Jongdae. Apa aku ini terlalu asing bagimu, aku memang-" tidak bisa Chanyeol melanjutkan kalimatnya, karena terpotong bunyi ponselnya.

Baekhyun. Nama yang tertera, tanpa menunggu lama langsung saja di angkat. Tanpa Chanyeol sadari, Jongin mendengarkan tiap kata yang keluar dengan tangan mengepal. Namun sebelah tangannya terangkat, memperlihatkan sesuatu yang semalam di ambilnya dari ruang kerja ayahnya.

Seperti adegan dalam film atau drama dewasa, pakaian yang di kenakan Luhan dan Minseok turun begitu apik setelah di lepas oleh tangan-tangan dua orang yang sedang saling memagut. Jatuh tepat di bawah kaki masing-masing pemilik. Membuat keduanya sudah tak berbalut.

Suasananya begitu panas, padahal hari masih pagi dan sekarang memasuki musim dingin. Tapi baik Minseok maupun Luhan sama-sama kepanasan, terlebih mereka sedang melakukan kegiatan panas, berciuman punuh gairah yang belum terlepas tautannya.

Baru ketika Minseok menepuk dada Luhan, si lelaki melepaskannya, Minseok menghirup udara sebanyak-banyaknya, setelah dirasa cukup, dengan sedikit keterkagetan, Luhan mendorong kecil tubuh Minseok sehingga jatuh masuk ke dalam bak air.

Byur. Minseok memekik kaget, tidak mau membuat Minseoknya takut, Luhan ikut memasuki bak mandi yang kini airnya meluber, mengangkat kepala Minseok agar tidak ikut tenggelam seperti tubuhnya, Luhan menyatukan dahi, hidung, kemudian bibir, tanpa banyak kata keduanya kembali memagut.

Minseok mencengkram kuat, lengan Luhan ketika sesuatu yang besar menyapa alat kewanitaannya. Itu bukan karena Luhan ingin segera menyatu dengan Minseok, namun karena Luhan mengangkat pinggangnya segingga dia alat kelamin tersebut saling menempel.

Baru ketika Minseok rileks, menyesuaikan diri dengan air karena dia di posisi bawah, Luhan meletakan bokong Minseok di dasar lantai bak mandi, mengusap dan sedikit menekan inti dirinya. Minseok mengerang dalam ciuman, meremas keras lengan Luhan, dan si lelaki tersenyum, Minseok sudah ingin di masukinya.

Tentu saja, Luhan tidak menyia-nyiakan waktu, perlahan, ia memasukan miliknya ke pusat diri Minseok. "Enguhhh." Minseok melenguh, mengeliat dan sedikit bergerak. Setelah seutuhnya masuk, Luhan dan Minseok saling berpandangan, dengan Luhan yang terlihat sedang mengatur nafas. Mulutnya sedikit terbuka, rambut basahnya yang brantakan membuat lelaki itu terlihat begitu seksi.

"Sajhh-

"Panggil aku ge, Lu-ge."

Potong Luhan ketika Minseok ingin berucap. "Emehhh, Lu-gehh."

Dan Minseok menurut, sambil mengeliat, mengisyaratkan pada Luhan untuk segeralah bergerak. Maka Luhan bergerak, sepertinya hidup dengan Luhan bertahun-tahun membuat si mungil Minseok sedikit nakal, terbukti dari tubuhnya yang mengikuti permainan dan mencoba mendominasi, ketika Luhan bergerak Minseok ikut bergerak dengan melawan arah.

Percintaan dalam air, dalam kamar mandi dan dalam pikiran Luhan tidak pernah akan ia lakukan, tapi nyatanya di pagi hari tanpa ada niat awalnya malah berujung dengan morning sex yang luarbiasa memabukan.

Penis Luhan di dalam Minseok berkedut, mengembung besar membuat Minseok merasa penuh, maka Luhan menambah tempo permainan karena akhirnya akan segera datang dan Luhan menumpahkan saripatinya di dalam Minseok, membuat desiran hangat menjalar sampai ke perut.

"Saranghae."

Sehun terpana dengan ruangan yang selama ini tidak pernah di masukinya. Ruangan yang berada di lorong di samping taman, ruangan itu semacam perpustakaan, di sebelah kiri adalah rak yang berisi berbagai macam buku bacaan, ada satu ruang kosong dimana terdapat papan tulis besar, satu meja guru dan satu meja murid, di sampingnya ada meja lain yang terdapat satu set komputer.

Dulu ketika Sehun kecil, ruangan ini sering di masukinya, karena di gunakan untuk menyimpan alat bermain bola sepak, bola basket, bola voli dan masih banyak lagi, tapi entah sejak kapan menjadi perpustakaan sekaligus kelas pribadi, ini sebenarnya untuk seminggu atau Sehun benar-benar akan homeschooling sih, Sehun jadi kesal.

Dan kemana pula gurunya ini, kenapa belum datang, jadi tambah kesal saja. Jika gurunya belum datang kenapa pelayan menyuruhnya datang, kenapa Sehun yang harus menunggu "Ahjummanie ambilkan aku makanan, gurunya lama sekali. Menyebalkan."

"Maaf tuan, Choi saem akan datang sebentar lagi. Pak Kim mengatakan mereka baru selesai registrasi kartu pegawai. Dan tidak di izinkan untuk membawakan makanan ke Segangwon(Tempat belajar Sehun) kecuali saat istirahat."

"Mworago?"

"Sesuai jadwal yang telah di tentukan, dari jam delapan sampai jam satu siang tuan muda di larang keluar dari Segangwon, tapi jam sepuluh nanti, pelayan akan datang dan membawakan makanan, cemilan dan minuman. Jam sebelas tuan muda akan belajar lagi, sampai jam satu siang baru setelah itu tuan muda boleh keluar."

"Sebenarnya aku ini di suruh belajar atau berlatih hidup di penjara, kenapa aku hanya di beri waktu satu jam untuk istirahat dan bahkan tidak boleh keluar."

"Itu semua atas perintah tuan Lu, kami hanya menjalankan tugas."

"Arghh LUHANNNN!" Teriak Sehun yang merasa tidak terima dengan aturan gila ayahnya. Ini bukan belajar namanya, tapi pelatihan sebagai tahanan. Mengesalkan.

Luhan memiring-miringkan kepalanya ketika merasa seperti mendengar seseorang memanggilnya. "Sajang-nim, wae geurae? Tanya Minseok yang merasa aneh, ketika dia sedang mengeringkan rambut Luhan dengan handuk, lelaki itu malah memiring-miringkan kepalanya.

"Sepertinya aku mendengar suara Sehun." Katanya terkekah kecil. Mengingat peraturan yang ia buat selama satu minggu untuk anak nakal manjanya. Anak sok dingin yang masih suka meminta tidur dengan ibunya.

Minseok hanya diam, tidak mengerti maksud Luhan yang menurutnya aneh, lalu melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambut Luhan dengan handuk, setelah mereka selesai, keduanya keluar kamar.

Luhan menggunkan baju santai dan Minseok mengenakan pakaian seperti biasa, balutan putih dengan rambut di urai. Berjalan bergandengan tangan menuju ruang makan yang sudah di sediai berbagai masakan. Minseok mengedarkan pandangan, mencari Sehun.

"Sehun sedang sekolah. Jja, kita makan berdua saja." Kata Luhan, seakan mengerti isi kepala cantik Minseok. Menarik kursi untuknya duduk lalu dia duduk di samping Minseok. Keduanya berkutat dengan makanan masing-masing. Luhan sedikit heran, Minseok begitu fokus pada makanannya, tidak peduli pada Luhan, tidak seperti biasanya.

Bahkan tidak mengambilkan nasi untuknya. Ingin bertanya tapi wajah serius Minseok terlihat begitu lucu. "Kenapa disisihkan?" tapi akhirnya Luhan bertanya, Minseok fokus pada makanannya itu bukan fokus melahab tapi memilihi makanan dan menyisihkan di sebuah piring kecil.

"Itu labu," sahut Minseok singkat, kembali memilihi labu dan memisahkannya. "Lalu?" tanya Luhan lagi, merasa aneh lagi.

"Tidak suka, baunya menyengat."

"Tidak suka? Bukankah itu makanan kesukanmu?"

Minseok kembali menoleh pada Luhan, mengerutkan kening menatap mangkuk sayurnya. Benar juga, itukan labu, Minseok kan paling suka labu, kenapa ketika pelayan menyiapkan menu labu ia malah menyisihkan. "Tapi baunya tidak enak. Rasanya membuat pusing." Ujar Minseok.

Luhan semakin mengerutkan kening, dan tangannya mengambil potongan labu yang disisihkan Minseok, mencium aromanya, tapi tidak ada bau apapun, harum bau masakannya terasa menggugah selera tapi kenapa Minseok mengatakan baunya tidak enak?.

Jongin versi wanita. Pikir Sehun pertama kali ketika Taemin memasuki Segangwon. Benar-benar sangat mirip, oh tidak, ada yang membedakan, Jongin kan berkulit gelap, dia seperti malaikat maut yang selalu di kelilingi kabut hitam, berlebihan. Beda sekali dengan Taemin yang terlihat cerah, kulit putihnya bersinar, bersih mencerminkan wanita yang bisa merawat diri dengan baik.

"Annyeonghaseyo, Choi Taemin imnida. Aku adalah guru untuk Sehun Lu selama satu minggu. Sebelumnya aku mengajar di HanLu Internasional Kinder Garden aku-

"Hah, mworago?" itu reflek, ketika Sehun seperti mendengar sesuatu yang salah dari apa yang di katakana Taemin. "Ye?"

"Tadi apa yang kau katakan? Dimana kau mengajar sebelumnya?"

"HanLu Internasional Kinder Garden aku" ulang Taemin sedikit ragu, sebab tatapan Sehun itu mirip dengan Luhan, penuh intimidasi.

"Kin-kinder Garden? Kau tidak salah? Baiklah, bahasa Inggrisku mungkin tidak sebagus itu tapi bukankah Kinder Garden berarti TK? Kau mantan guru TK?" ini kalimat terpanjang yang Sehun lontarkan pada orang lain bahkan baru saja bertemu.

Sejujurnya Temin terkekah, Sehun lumayan blak-blakan, mengakui kalau bahasa Inggrisnya tidak sebagus itu yang berarti buruk. Kinder Garden memang berarti TK, tapi dia bukan mantan, dia masih salah satu pengajar disana. "Ne, Kinder Garden berarti TK, tapi aku bukan mantan guru TK aku masih seorang guru TK."

Okay. Ini keterlaluan, apa Luhan sedang menghinanya, apa dia berfikir kalau Sehun sangat bodoh sampai harus memilih guru TK untuk menjadi gurunya, dan ini penipuan. Yang tertulis dalam riwayat pekerjaan Choi Taemin adalah guru salah satu sekolah swasta yang yayasannya masih di bawah tangan HanLu, bukan bekerja secara langsung di HanLu Education.

"Bu-bukankah kau guru sekolah Han Seok, aku membaca riwayat pekerjaanmu."

"Eh, oh. Itu suamiku, Choi Minho. Dia adalah guru Han Seok High School."

"Mwo?" Wajah Sehun sudah memerah, darah berkumpul sepenuhnya di kepala, dia merasa terhina, tertipu dan apalah itu yang menggambarkan rasa marahnya karena di bohongi. Dia siap. "LUHANNNNNNNN." Berteriak lagi memanggil nama ayahnya dengan hidung kembang kempis.

Di tempat lain, Luhan yang sedang menjepit potongan labu di supitnya kembali memiringkan kepalanya, telinganya seperti tergelitik, lengkingan suara Sehun seperti mengiang lagi di telinganya.

"Sajang-nim." Dan kelakuan itu lagi-lagi dilihat Minseok. "Ne?"

"Ada apa? Karena labu kan. Itu sangat bau, ayo jauhkan. Nanti sajang-nim bisa pusing juga."

Ha…

Memasuki kantor utama HanLu siapa yang salah melihat, karyawan yang silau dengan senyuman Baekhyun atau mata mereka yang bermasalah. Byun Baekhyun, nyonya Lu yang terkenal angkuh tersenyum bahkan sesekali ikut mengangguk ketika beberapa orang menyapa.

"Itu nyonya Lu kan? Aku tidak salah lihat?" seorang pegawai resepsionis berbisik pada temannya yang juga sedang menatap Baekhyun "Molla, kurasa hari ini akan tercatat sebagai hari bersejarah, tuan Lu memulai istirahat sementaranya dan nyonya, tampak begitu bahagia berkunjung kemari, seolma?"

Kedua wanita itu bertatapan yang berbaju biru menunjuk si baju merah, dengan mata melebar, "Aigh, jangan menggosip, mana mungkin, yeah meskipun tuan Ahn itu sangat keren di usianya tapi tuan Lu punya pesona tersendiri." Pendapat si baju merah, seraya mengibaskan sebelah tangannya. rupanya pemikiran mereka sama. Sama-sama berfikir Baekhyun tertarik pada Jaehyo.

"Tuan Lu memang punya pesona yang kuat, sampai-sampai menurun pada tuan muda, oh, Sehun bukankah namanya begitu keren. Geunde." Mereka bertatapan lagi, kini objek pembicaraan mereka adalah sang pewaris. "Tuan muda tidak seperti nyonya Lu, maksudku, dia sangat mirip dengan tuan Lu tapi, wajahnya itu seperti perpaduan dua orang kan, tapi bukan perpaduan dengan nyonya Lu."

"Oh majja. Tuan muda memiliki alis yang tebal, dagunya sangat lancip hidungnya juga mancung. Keningnya, begitu lebar membuatnya terlihat cerdas."

Si baju merah berdecak, apa tadi katanya, terlihat cerdas. "Katakan itu jika kau pernah melihat hasil ujian tuan muda, nilainya itu color full. Dari yang kudengar bahkan tuan muda tidak memiliki buku sekolah."

Si baju biru melirik sinis balas mendecak. "Kau yakin kalau tuan muda itu benar-benar bodoh, maksudku kau tahu tuan Hangeng Tan, yang memenangkan tender pembangunan jalan di Indonesia, merancang istana Tan terindah di Tiongkok dengan interior yang terindah nomor tujuh di dunia, lalu nyonya Kim Heechul, yang menjadi salah satu pembicara yang di adakan oleh isteri mantan orang terkaya sejagat. Tuan Lu, siapa yang berani meremehkan otak lelaki yang baru menginjak tiga puluh tahun ketika itu menguasai hampir seperempat dunia. Aku yakin kalau tuan muda pasti memiliki kecerdasan yang tidak di bayangkan."

"Lalu bagaimana bisa nilai bahasa Korea nya bahkan tidak mencapai lima."

"Itu yang menjadi pertanyaan, mungkinkah sesungguhnya-

"Apa kalian di bayar untuk menjadi penggosip. Atau kalian sedang membawakan acara gosip." Jung Soojung memotong ucapan si baju biru. Wanita berwajah sedingin es itu menatap tajam, sangat tidak suka pada pembicaraan yang di lakukan pekerja resepsionis tersebut. "Dasar penggosip." Katanya sinis lalu meninggalkan dua pekerja itu. Pasalnya dua pegawai itu pasti hanya akan menunduk saja karena takut padanya.

Taemin menatap lembar jawaban yang baru saja dia ambil dari Sehun. Rasanya begitu aneh, anak seperti ini kah yang membutuhkan bimbingan khusus. Apa yang di maksud Luhan ketika mengatakan anaknya sangat payah dalam hal menulis, benarkah nilai bahasa Korea Sehun tidak pernah mencapai lima.

Menghitung lima kali delapan sama dengan tiga puluh enam. Sungguh? Atau hanya lelucon?. Sesekali melirik Sehun, yang sedang menyelesaikan soal terakhir sebelum penutup pelajaran. Terlihat fustasi, sesekali membolak-balik kertas soal yang semalam di buatnya bersama sang suami.

Ini adalah pertama kali Sehun terlihat kesulitan mengerjakan soal, mungkin karena ini soal, Bahasa Inggris. Sudah di akui kan kalau bahasa Inggrisnya tidak sebagus itu, mungkin benar, sedikit terkekah, remaja tujuh belas tahun itu lumayan imut juka ketika sedang serius.

"Sudah jam satu Sehun, kemarikan. Waktu mengerjakanmu sudah selesai."

"Mwo? Tapi aku belum selesai." Kata Sehun, merasa kaget.

"Kau begitu sombong mengerjakan tiga soal lainnya. Ketika tersisa satu kau harus membutuhkan waktu tiga jam, seharusnya kau bisa menyamakan waktu pengerjaanmu. Itu adalah poin pentig dalam belajar."

"Poin penting dalam belajar? Poin penting dalam belajar ada dua, paham dan singkat. Pembagian waktu yang sama belum tentu menghasilkan jawaban yang benar. Kau terlihat muda tapi pola pikirmu kuno. Baiklah sekarang aku sudah boleh pergi kan, annyeong saem." Sehun melenggang pergi, di saat punggungnya mulai menjauh di saat itulah senyum Taemin mengembang.

"Semua orang akan terkejut ketika tahu si tuan muda menyembunyikan otak berliannya."

Sehun dan Luhan berpapasan. Dari kejauhan terlihat wajah sumringah lelaki tua tersebut ketika melihat Sehun memasuki pavilion. Sehun sudah ingin mencakar lelaki itu jika saja ibunya tidak muncul di belakang. Membawa mantel hitam milik ayahnya. Tiba-tiba hatinya menghangat, Sehun seperti pulang sekolah dan ibunya menyambut sambil mengantarkan ayahnya untuk kembal ke kantor setelah makan siang bersama.

Keluarga Bahagia, jika saja. "Tuan muda." Ibunya tidak memanggil demikian. "Oh anakku sudah pulang, bagaimana belajarmu nak?" di tepis, tangan Luhan yang ingin mengusap kepalanya. Lalu menatap lelaki itu sambil memicing. "Aku benar-benar membencimu." Bukannya kaget dengan ucapan Sehun, Luhan malah terkekah, tertawa lepas nyaris terbahak.

Ini pasti karena tipuannya, tipuan yang mengatakan kalau guru Sehun adalah guru sekolah menengah atas yang paling terbaik yang dimiliki yayasan HanLu, nyatanya malah guru TK, guru bayi-bayi yang biasanya mengajarkan berhitung, bernyanyi dan mewarnai, hey bukan tanpa alasan Luhan melakukannya. Ingin tahu kenapa?

Karena sesungguhnya Luhan tahu, Sehun tidak bodoh, kau ingat saat Luhan mengatakan sangat mudah menembus sistem keamanan perusahaan Baekhyun? (Di chapter sebelumnya, ya yang itu) jika kau pandai matematika dan komputer kau akan mudah menembusnya. Itu Sehun yang membuka, Luhan melihat di ruang rahasia di tempat bermain anaknya.

Sejujurnya sebelum itu pun Luhan tahu, Sehun hanya menyembunyikan kecerdasannya. Entah alasannya apa, tapi satu yang ia yakini, itu untuk menarik perhatian. Sehun ingin di perhatikan, dia anak yang kesepian, ibu dan ayahnya memiliki hubungan yang tidak bisa di ungkapkan pada dunia, yang membuatnya harus mengakui wanita lain sebagai ibunya.

Mengatakan pada dunia kalau dia adalah anak Byun Baekhyun, yang jelas-jelas wanita itu mengibarkan bendera permusuhan. "Aku juga menyayangimu Sehun." Tanpa peduli anak itu menolak Luhan meraih kepala Sehun untuk di cium, setelah itu beralih pada Minseok. "Aku pergi dulu. Kau bermainlah dulu dengan Sehun." Luhan menggumam sebentar sebelum menyambar bibir Minseok yang langsung diprotes Ya panjang oleh anaknya.

"Dasar laki-laki tua tidak tahu tempat ada anak kecil di sini, ya, menjauh kau dari ibuku." Sehun menarik Minseok, yang tampak biasa saja ke belakangnya sementara Sehun mengumpati Luhan, tanpa di pedulikan, lelaki yang di ejek itu malah tertawa. Sampai.

"Sajang-nim." Panggilan Minseok menghentikan tawa sekaligus langkah Luhan yang sudah akan menuju pintu. Ia menoleh. "Aku ingin jeruk Mandarin."

Huh?

Chanyeol mendapat panggilan yang mengatakan kalau Jongin tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Ia sudah menghubungi anak itu berulang kali tapi ponselnya di matikan. Jongin pasti sedang menyembunyikan sesuatu, kalau sudah seperti ini tujuannya pasti satu.

Rumah pemakaman dimana abu Jongdae di simpan.

Dengan nafas berat, Chanyeol memasuki tempat itu. Memasuki lorong-lorong sampai akhirnya kaki panjang lelaki bermarga Park itu sampai. Di sebuah ruangan penuh kotak kaca yang sekarang seorang pemuda tengah berdiri, memandangi kotak kaca di ujung kanan teratas dengan seikat bunga kecil menempel disana.

Punggung anak itu bergetar, Jongin menangis, Chanyeol teriris. Dari sekian banyak hal di dunia ini kenapa melihat anak itu menangis adalah sesuatu yang paling menyakitinya. Tidak pernah secara terang-terangan air mata itu di tunjukan, tapi justru itulah yang menyakitinya. Kenapa tidak katakana saja kalau dia terluka, sehingga Chanyeol bisa tahu, apakah luka itu di sebabkan olehnya atau bagaimana.

Kenapa Jongin begitu mirip dengan Jongdae, menyembuyikan lukanya, mengorbankan hatinya agar orang lain tidak mengetahui rasa sakitnya.

"Jongin-ah." Panggil Chanyeol, ingin menyentuh anaknya tapi takut di tepis. "Kenapa kau menangis? Ada masalah nak?" satu dua langkah, Chanyeol mendekat.

"Baekhyun. Siapa dia?" saat semakin dekat dan hampir berdiri berjejer dengan Jongin, anak itu bertanya, membuka suara dengan pertanyaan yang entah arahnya kemana. Siapa Baekhyun? Apa maksudnya, apakah Jongin?.

Luhan dan Sehun kompak berpandangan, sepertinya mereka satu pemikiran. Dan mereka sama-sama kaget. Pasalnya selama hidup dengan Luhan, sekalipun Minseok tidak pernah meminta sesuatu. Dia hanya selalu menerima, entah dia suka atau tidak dan kali ini. Dia meminta, meskipun permintaannya terdengar aneh, jeruk Mandarin? Bukankah di kulkas ada.

"Bukankah di kulkas ada? Tadi bahkan aku menawarkan padamu." Kata Luhan, memang benar, tadi dia menawarkan jeruk tersebut untuk makanan pencuci mulut namun wanita itu menolak.

"Ya sudah kalau tidak mau aku tidak memaksa"

Eh. Minseok pergi begitu saja. Meninggalkan Luhan dan Sehun yang masih kebingungan. Benarkah itu Minseok apa dia sedang merajuk, hey Minseok seperti-

"Sedang hamil?" Luhan menoleh pada sumber suara. Sehun yang mengatakan. "Apa eomma sedang hamil? Dia seperti mengidam." Tambahnya. Okay, sekarang otak Luhan serasa kosong. Seperti seluruh isinya di ambil begitu saja.

Kemudian di masukan lagi dengan cara di jatuhkan. Minseok menjadi manja, memilih-milih makanan, dan menginginkan sesuatu yang tadi di tolak, merajuk dan menunjukan ekspresinya. Benar, seperti orang mengidam tapi tidak juga, saat hamil Sehun, Minseok bahkan menghindari Luhan, menolaknya sampai ketika melihatnya dia pernah menjerit-jerit. Intinya ketika hamil Sehun, Minseok sangat membenci Luhan.

Obat ini memiliki efek yang tidak terduga, Victoria mengatakan kalau ini dulunya di buat untuk anaknya yang juga mengalami kejadian yang sama dengan Minseok.

Mungkinkah ini efek tidak terduga yang di katakan Changmin waktu itu?.

"Benarkah" saat sedang memikirkan berbagai kemungkinan, Sehun lagi-lagi bersuara, kini menatap Luhan nanar. Wajahnya menyiaratkan berbagai rasa, sedih, bahagia, takut dan sedikit tidak terima, apa maksud dari ekspresi itu. Luhan yang bingung dengan jawaban apa yang akan di berikan untuk Sehun terselamatkan, oleh dering ponsel dari saku.

"Katakan pada ibumu aku akan bawakan pesanannya. Katakan agar jangan marah." Akhirnya yang keluar dari mulut Luhan hanya itu. Entah Sehun mendengarnya atau tidak. "Aku akan segera datang. Tunggulah." Kata Luhan di ponsel, entah siapa yang menghubungi. Ia hanya mengikuti apa yang mulutnya keluarkan karena dia ingin menghubungi seseorang secepatnya.

Shim Changmin.

"Siapa dia di matamu?" ketika Jongin melengkapi kalimatnya, rasa lega kemudian mendera. Bukan sesuatu yang Chanyeol pikirkan.

"Dia orang asing."

Jongin mendecih. "Orang asing? Orang asing apa yang menghubungimu larut malam."

Baekhyun menghubunginya? Oh jadi ini yang tadi pagi di katakan Baekhyun. Yang katanya semalam Chanyeol mematikan sambungan begitu saja. Jadi Jongin yang mengangkat panggilan itu.

"Kau tidak percaya padaku, itulah yang menjadi masalah di antara kita. Kenapa kau begitu membenci Baekhyun? Karena kau berfikir aku menghianati ibumu dan berpaling padanya?"

Tidak ada jawaban, Chanyeol menghela nafas. Sepertinya kemarahan itu sudah di ujung tanduk, haruskah kebenaran itu di ungkap sekarang?.

"Jika aku katakan ini, maukah kau percaya padaku?"

Entah tembok seperti apa yang di bangun Jongin untuk melindungi pertahanan dirinya, sangat keras sampai Chanyeol yang sudah merawatnya dari bayi, dari pertama kali anak itu menangis saja tidak bisa merobohkannya.

"Dia orang asing bagiku, tapi. Dia adalah"

Semuanya bertele-tele, tidak langsung to the point. Kenapa ceritanya tarik ulur. Itu Sehun, memprotes pada tayangan di televisi yang sedang di tontonya dengan Minseok. Drama yang baru berakhir ketika tokoh utama ingin mengatakan sesuatu namun tulisan bersambung keburu datang, membuat sang tuan muda kesal setengah mati dan Minseok hanya bisa mengernyit.

Sehun, kenapa anak itu kesal sekali, tidak biasanya dia suka tayangan di tivi. Apalagi drama, biasanya anak itu sangat suka acara variety show atau acara musik. Tapi kali ini dia begitu menikmati serial drmana, atau karena pemainnya adalah salah satu personel boy group favoritnya. Drama yang diminkan oleh salah satu member EXO, Xiumin yang judulnya Falling for Challenge.

Sehun sangat menyukai EXO dan tadi sewaktu Minseok ingin menonton drama favoritnya yang di ikuti sejak awal, Sehun langsung mengganti channelnya ketika iklan. "Aku ingin menonton juga. Ada orang imut di tivi eomma pasti suka." Begitu katanya.

"Tuan muda sedang promosi ya?"

"Ani aku hanya yah, bukankah dramanya bagus?" uh, apa Sehun terdengar sedang promosi? Bukan seperti itu, itu hanya bentuk kekaguman saja. Okay, ini sesuatu yang sangat tidak nyambung dengan cerita dan lebih baik di abaikan.

Minseok tidak menjawab Sehun, dan Sehun juga bingung akan mengatakan apalagi, jadi ia lebih memilih mengikuti ibunya yang kini fokus pada layar datar di hadapan mereka, menampilkan tayangan yang sama namun di gelombang tivi yang berbeda.

Mata Minseok sama sekali tidak berkedip saat menonton drama bergenre action yang sedang tayang. Dari samping Sehun memperhatikan ibunya yang sedang asik menikmati sampai ketika ibunya menyebutkan sebuah nama. "Yoona eonnie." Dan saat itulah Sehun menolehkan pada layar.

Im Yoona, si pemain wanita. Dari cara Minseok menyebutkan nama itu, sepertinya ibunya mengenal aktris Im Yoona.

"Eomma mengenalnya?" tanya Sehun, Minseok menoleh, wanita itu mengangguk. Hah? Ibunya mengenal Yoona?. "Diamana? Bagaimana bisa eomma mengenalnya?" saat akan menjawap pertanyaan Sehun, konsentrasi mereka terpecah oleh suara telepon rumah yang berbunyi begitu nyaring.

Sebuah mobil mewah berhenti di parkiran luas kediaman Lu. seseorang datang berkunjung. Kim Heechul, datang bersama sahabatnya Park Jungsoo.

"Heenim-ah kenapa kau membawaku kemari?" Jungsoo merasa tidak nyaman. Ketika sahabatnya mengatakan ingin mengajaknya pergi ke suatu tempat untuk menghilangkan kesedihan, sejujurnya ia merasa pasti Heechul akan membawanya ketempat yang menurutnya tidak sesuai untuk mereka datangi.

Kau tahu, maksudnya Heechul adalah orang yang sangat menyukai kesenang, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan kesenangan tu. Jadi teringat ketika Youngwoon dulu akan berangkat wajib militer dan Jungsoo di rundung kegalauan, Heechul memaksanya untuk datang ke salon dan melakan perawatan. Buatlah Youngwoon menyesal telah meninggalkanmu, kau harus terlihat cantik saat mengantarnya besok agar dia tidak jadi pergi kata Heechul waktu itu.

Dan bukannya menyesal Youngwoon malah berterima kasih, karena saat akan menjalankan tugas negaranya sang kekasih terlihat begitu cantik membuat teman-temannya saat itu merasa iri.

Dan sekarang, ketika ia sedang sedih, lagi-lagi Heechul malah membawanya ketempat aneh, membawanya ke kediaman super mewah anak Heechul itu juga salah satu ke anehan. Untuk apa ia di ajak kemari.

"Aku ingin menjenguk menantuku. Kau ingat kemarin Luhan sangat terburu ketika mendengar isterinya jatuh pingsan, makanya dia lupa membawakan isterinya masakanmu." Jelas Heechul. Oh iya, waktu itu Luhan datang ke peringatan kematian Minseok. Anak lelaki temannya itu juga sempat memuji masakannya dan mengatakan bolehkah dia membawakan untuk isterinya karena masakannya sangat enak.

Ibunya tidak bisa memasak dan tidak mungkin meminta padanya. Rasa sedih tiba-tiba datang lagi. Masakan itu adalah makanan kesukaan Minseok. Anak gembulnya yang lucu itu bahkan akan memarahi ayahnya jika sedikit saja mengambil makanan itu.

"Kim yeosa-nim." Seorang pelayan datang, kepala pelayan rumah utama datang menyambut setelah memberikan salam hormat. "Kim ahjumma. Kenapa sepi sekali apa Si tampan ku belum pulang?"

"Tuan muda sedang ber- maksud saya. Tuan muda sudah pulang. Ingin saya penggilkan?"

"Ah tidak usah, biar aku saja yang menemuinya, sebelum itu perkenalkan, ini temanku. Namanya Park Jungsoo. Oh ini, dia membawa ini untuk Baekhyun, apa dia sudah sembuh?" Kata Heechul, sambil meraih kotak makanan super besar yang sedari tadi di pegang oleh Jungsoo.

Sedangkan si pelayan sedikit mengernyit. Baekhyun? Wanita itu tidak sakit.

"Aku ingin menjenguknya. Kemarin Luhan mengatakan kalau Baekhyun sakit. Kalau dia sedang istirahat ya sudah. Kau siapkan saja ini. Nanti berikan padanya. Aku ingin mengajak sahabatku ini berkeliling." Tidak mendapati respon dari kepala pelayan, Heechul memilih mengabaikan, lalu membawa temannya berkeliling sebelum Heechul mengenalkannya pada cucu tampannya.

Jungsoo, dia memperhatikan interior rumah Luhan yang begitu menakjubkan. Semuanya nuansa klasik tapi terasa modern, berunsur China namun menyatu dengan budaya Korea. Dingding marmernya terlihat berkilauan foto-foto besar terpampang dengan bingkai-bingkai berwarna emas.

Foto-foto yang terpasang di dingding seperti di sebuah galeri lukisan terkenal. Ada satu foto yang paling besar di dekat sebuah tangga. Foto seorang remaja, itu pasti yang namanya Sehun, foto itu Sehun berkacamata, sedang tersenyum dengan tangan terlipat di dada, memakai baju kuning. Foto yang sederhana tapi sangat artistik.

Sejenak Jungsoo terpaku pada foto tersebut. Teringat Minseok sehari sebelum pergi meningglkannya untuk selama-lamanya. Setelah mengatakan kalau dia akan debut dia berfoto. Foto yang dia ambil dengan ponselnya.

Foto yang sekarang tersimpan di kamarnya foto dengan gaya dan tampilan yang begitu mirip hanya objeknya saja yang berbeda. Tidak kuat mengingat lebih dalam lagi, Jungsoo mengalihkan pandangan, beralih pada foto keluarga. Kini ada Luhan, isterinya dan bayi Sehun. Baekhyun duduk di kursi mengenakan hanbok krem dan bawahan warna merah Luhan mengenakan stelan jas yang sangat pas di tubuhnya. Kemudian lagi-lagi foto Sehun seperti mengingatkannya pada Minseok. Sehun duduk di pangku Baekhyun mengenakan pakaian raja Korea, di ujung bawah terdapat tulisan 1st Sehun Birthday.

Dulu Minseoknya juga. Saat ulang tahun pertama dia mengenakan hanbok merah yang membalut tubuh gembulnya. Sambil menari-nari seperti jamur. Kenapa Sehun seakan mengingatkannya pada Minseok. Kepalanya pusing tiba-tiba.

Ingin menangis juga tiba-tiba. Dan untungnya Heechul cepat datang menangkap tubuhnya yang siap limbung. "Soo-ya gwaenchana?"

"Eoh, gwanchana."

"Astaga kau pucat sekali. Ahjumma bawakan minum kemari. Eoseo."

"Na gwaenchana Heenim-ah. Jangan berlebihan."

"Berlebihan apanya sih, kau terlihat pucat seperti itu. Apa sebaiknya kita kembali saja. Aku akan membatalkan kunjunganku pada Baekkie, kajja." Heechul ini benar-benar sangat berlebihan. Membatalkan apanya, wong mereka sudah sampai kok membatalkan. Bicara seperti itu ketika dia menolak tadi nyonya Kim. Gerutu Jungsoo dalam hati sambil memutar bola matanya malas.

"Ah, Chankanman." Pelayan datang, membawa minuman dingin untuk nyonya besar dan temannya yang berkunjung, bersama dengan itu ponsel Heecul berbunyi, Jungsoo menoleh pada Heechul. "Oh Hangeng Tan, kurasa dia sangat merindukan aku." sedikit berbisik pada Jungsoo, mengatakan kalau suaminya menghubungi. "Tunggu sebentar dear, kau nikmati saja jamuannya anggap rumah sendiri, arra?"

Heechul itu kenapa masih saja seperti remaja yang sedang kasmaran, benar-benar tidak ingat umur orang itu, cucunya bahkan sudah tujuh belas tahun, seumuran dengan anak keduanya. Anak kedua? Yeah, Jungsoo punya anak lain selain Minseok. Anaknya yang kedua berusia delapan belas tahun. Bertahun-tahun setelah Minseok pergi ia dan Youngwoon di anugrahi lagi seorang puteri. Mirip sekali dengan Minseoknya, hanya saja, tidak gembul dan tidak lucu, anaknya yang kedua memiliki kepribadian yang begitu berbeda, dia memiliki tatapan setajam elang dan kepribadiannya setajam es.

"Jaehyo." Saat-saat sedang melamun memikirkan keluarganya karena Heechul meninggalkannya sendirian, sesosok pria bertubuh tinggi melewati salah satu lorong di depan tempat dimana dia duduk, terlihat seperti Jaehyo, mantan kekasih keponakannya.

Tanpa aba-aba dan seakan pusingnya hilang, Jungsoo bangkit dari duduk, mengejar laki-laki yang di kiranya Jaehyo, memasuki ruang makan lalu keluar, sampai di sebuah taman yang sangat cantik, ada air mancur jalan setapak yang bercabang, satu lurus dan yang satunya menuju arah kanan yang terdapat gazebo.

Sosok itu menghilang dan mata Jungsoo tertuju pada jalan setapak yang lurus, dimana di sana terdapat sebuah pintu. Mungkin sosok itu masuk kesana. Pintu itu menghubungkan pada suatu tempat? Pagar beton itu lebih tinggi dari rumah Luhan sehingga sulit melihat meski dari lantai dua sekalipun. Tidak di jaga seperti gerbang utama, mungkin benar orang yang dikira Jaehyo itu masuk kesana.

Jaehyo memarkir mobilnya di tempat biasa. Ketika matanya melihat mobil lain yang belum pernah dilihat, bukan salah satu koleksi mobil Luhan, mobil itu terlihat mewah tapi bukan sejenis yang di sukai Luhan, maksudnya tidak semewah dan terlihat begitu mahal. Mobil yang dimiliki pengusaha biasa.

Ia sempat berfikir mungkin mobil pegawai Luhan, tapi. Pegawai dilarang memasukan mobil mereka, kecuali mereka memiliki kedudukan khusus, contonya Jaehyo dan Soojung. Lalu milik siapa? Ketika sedang berfikir cukup keras, seorang wanita muncul dan berdiri di dekat kolam renang, sontak Jaehyo langsung bersembuny di balik pilar.

Oh, rupanya Heechul. Tapi mobil ini terlihat murah jika yang memakai adalah Heechul mengingat wanita itu sangat pemilih dan menyukai kemewahan. Jadi ini alasan kenapa ia merasa harus cepat sampai di rumah Luhan, ada ibu Luhan.

Mengambil arah kanan, ia berjalan cepat menuju lorong. Luhan harus di hubungi, ingin menghubungi Luhan, dirinya merasa di ikuti. Ketika sudah akan berbelok, dari kaca memantul bayangan seseorang. "Jungsoo ahjumma." bibirnya bergerak tanpa suara. Oh, Jaehyo merasa seperti sedang main film. Mempercepat langkah, Jaehyo harus bersembunyi.

Setelah berbelok sedikit ia menemukan ruangan kecil antara pilar dan dinding yang menyatu tidak lebar, namun cukup.

Ia harus menghubungi luhan.

Sambil menempelkan benda kotak itu di telinga, Jaehyo juga sambil memperhatikan, Jungsoo sepertinya melihatnya tadi dan sekarang ia pasti mencarinya. Oh tidak wanita itu berjalan menuju taman, perlahan kini Jaehyo memutar keadaan menjadi dia yang mengikuti.

Luhan belum menjawab panggilannya. Shit, kemana Luhan. Dia sedang libur dari pekerjaannya, jadi tidak mungkin ia ke kantor. Tapi mobil yang biasa di gunakannya tidak ada, mengatakan kalau lelaki itu tidak di rumah.

Mata Jaehyo semakin membola, oh semoga finger access yang di pintu gerbang menuju pavilion berfungsi. Semoga seseorang belum masuk atau keluar dari sana. Jaehyo merapalkan itu seperti mantra, karena saat ini Jungsoo berjalan menuju kesana.

"Luhan, angkat ponselmu bodoh." Rasanya ingin memukul dingding, karena terdengar tut tut tut. Yang berarti sambungan di putuskan. Luhan mematikan panggilannya. Apa ini bagian dari rencana gilanya. Pasti bukan. Dengan terburu, Jaehyo mencari nomor kontak Sehun, semoga anak itu bisa diharapkan.

Tapi sama saja. Sehun tidak mengangkat panggilannya. Oh, Jaehyo semakin frustasi ketika, pintu gerbang pavilion terbuka. Inikah akhirnya. Ya tuhan.

Kaki Jaehyo lemas, lunglai dan jatuh ke lantai. Hari ini Jaehyo seperti di ajak naik roller coaster sesaat setelah Jungsoo masuk pintu pavilion Heechul kemudian datang menyusul.

TBC/END?

Thanks to*

Sebelumnya terima kasih banget sama semuanya yang udah mau nungguin FF ini. Meskipun pada bilang kalau semakin kesini semakin membingungkan dan bahasanya berbelit-belit tapi kalian tetep mau nungguin. Terima kasih banget lho. Aku sendiri juga mikir ini kok ceritanya kayak gini. Ini murni aku ngikuti ide yang tertuang dari otak aku kayak nggak perlu mikir ini harus gimana dan gimana mengalir aja.

Masalah alur yang kayaknya brantakan banget, itu kayaknya efek hobi nonton drama deh. Yang kadang lompat-lompat dan aku ngikutin sok-sokan lompat-lompatin alurnya. Jadi maklumin aja yah.

Di atas ada NC nya. Aneh yah? Di bagian itu aku bingung banget ini gimana bikin part ini maksudnya mau nulis gimana aku sama sekali nggak tau, di otak aku Cuma bilang di bagian ini ada adegan itu. Mau di cut tapi malah berasa jadi aneh. Jadi ya udah aku tulis gitu, aku sampe harus baca FF yang ada NC nya buat nulis ini. Jadi sekali lagi maklumin aja kalo aneh.

Oh iya. Aku kasih nama tempat belajar Sehun itu Segangwon. Tau drama The Moon That Embraces The Sun kan. Tempat belajarnya putra mahkota Lee Hwon itu namanya Sigangwon dan aku ganti Si nya jadi Se dari nama Se(gangwon)Hun gitu.

See ya.