.
.
- Quarter 12: "Bendera Putih" -
.
.
Semua pasang mata mengarah pada Taku yang kini menunduk. Ryuuki menatap Taku dengan tatapan dingin, lebih dingin dari pada kompres es yang di pakai Kanata waktu itu, sekaligus lebih tajam dari gunting kesayangan Reiichi.
"Lalu, karena ayahmu sudah ketemu, kamu mau mengalah padanya begitu saja? Itu maksudmu, Kuroko Takuya?" tanya Ryuuki sengit. Taku terdiam dan mengangguk singkat, membuat darah Ryuuki naik. Tanpa basa-basi, ia segera menarik kerah kaus Taku, membuat Taku terpaksa berdiri.
"Ryuuki, tenangkan dirimu." Suara tenang Reiichi menengahi pertengkaran dua anak yang tingginya jauh berbeda itu. Ryuuki terpaksa melepaskan tarikan tangannya pada kerah kaus Taku, membuat Taku menghela nafas sedikit lega.
Konomi memutar pensil mekaniknya dengan cepat. Ia menatap Taku, yang entah mengapa tampak janggal di matanya. Taku, yang merasa di perhatikan, balas menatap Konomi dengan senyuman terlebar yang di milikinya. Seketika juga Konomi tahu apa yang Taku lakukan dari tadi…
"Aku tidak menyangka kamu melakukannya dengan baik, Taku." Ucap Konomi menuliskan sesuatu pada catatannya.
Suasana tempat itu secara tiba tiba menjadi sunyi, sesunyi kuburan di tengah malam.
"Hentikan aktingmu itu, nii-san. Aktingmu benar benar murahan." Sahut Aoki sambil menguap lebar. Taku meringis lebar dan di ganti dengan tawa yang super kencang, membuat teman teman setimnya itu tercengang selama beberapa detik.
"EEEEEEEEEH?!"
.
.
"Pertama tama, aku minta maaf karena tidak bilang bilang kalau aku merencanakan ini…" ucap Taku dengan cengiran khasnya. Semua anggota tim HERO secara serempak menghela nafas lega. Taku kembali melanjutkannya dengan senyum sumringah.
"Lalu, aku coba mengetesnya pada kalian… dan ternyata berhasil." Lanjut Taku lagi dan melirik pada Ryuuki yang mendengus sebal. Konomi mengangguk setuju.
"Untuk selanjutnya, kita pakai formasi baru." Ucap Konomi mengambil alih perhatian semuanya. Konomi menatap sekelilingnya sejenak dan menyambung kalimatnya. "Kita akan pakai formasi bendera putih sampai quarter pertama berakhir." Sambung Konomi tegas. Reiichi, Taku, Ryuuki, dan Hotarou mengangguk mengerti. Sisa anggota lainnya cuma melongo lebar, masih belum ngeh maksud dari Konomi.
"Tunggu… apa maksudnya bendera putih, ~ssu?" tanya Shouta merasakan aura buruk. Saika terkekeh geli.
"Yap. Sama seperti yang Taku praktekkan tadi, kalian kehilangan harapan akan menang. Biarkan mereka offensive dan kita lebih fokus ke defense. Gampang, kok." Ucap Saika riang. Shouta segera memasang tampang scream.
"NGOMONG SIH GAMPANG~SSU!"
.
.
Taku berjalan masuk ke dalam lapangan. Ia yang paling duluan keluar dari bench, sama sekali tidak memperhatikan belakangnya, dimana keenam pemain lainnya bisik bisik heboh.
"Takucchi udah keluar tuh… ayo cepet~ssu!" ucap Shouta berisik. Hotarou mendengus sebal, "Sejujurnya aku tidak mau ikutan. Tapi apa boleh buat, aku merasa terhina juga, nanodayo." Ucapnya menaikkan kacamatanya.
"Che, dia nggak nyadar lagi. Dia emang baka." Kata Kanata terkekeh senang, di sampingnya ada Ryuuki yang menguap lebar, tampak tidak berminat tapi mau ikutan aliansi yang tampak mengerikan itu.
"Kasihan… Takuchin. Mungkin kalau time-out lagi aku ngasih satu maibou rasa gyoza ini…" ucap Satoshi malas sambil memutar mutar sebungkus maibou di jari telunjuknya. "Hitungan ketiga, ya. Satu… dua… tiga!" Seru Reiichi mengangkat satu persatu jarinya.
Tepat di hitungan ketiga, keenam pemain itu berlari menuju target mereka, Kuroko Takuya.
"Oi… Kalian lam-"
DUAAAAAK
"ITTAI!"
Enam buah tinjuan bersarang di kepala Taku. Si empunya segera memegangi enam buah benjol yang mendadak muncul di kepalanya itu. Reiichi menaikkan dua jarinya, membuat simbol peace.
"Pembalasan sudah terlaksana. Bersiaplah menerima lagi kalau kau menipu kami lagi."
.
.
Quarter pertama kembali berlanjut. Seperti perintah Konomi tadi, Ryuuki di ganti Shouta. Bola kini di dribble dengan santai oleh Light, yang di defense Shouta. Shouta mencoba untuk mengikuti formasi baru yang mendadak muncul itu, setengah tidak yakin. 'Kalau mereka kepancing seperti yang Takucchi harapkan sih untung~ssu... tapi kalau kita yang di lindas habis, gimana dong ~ssu?' Pikir Shouta setengah ragu. Iris kuning miliknya menatap ke depannya yang terdapat Taku yang kini mendefense Phantom. Taku balas menatap Shouta dan mengangguk, menandakan sudah saatnya dia melakukan formasi itu.
Light melompat, melakukan dunk. Ia kemudian terhenyak menyadari player yang seharusnya memblocknya terdiam di tempat. Light sempat melihat mata Shouta yang kosong, seakan tidak peduli kalau kalah sekalipun. Iris merah milik Light melebar, tidak menyangka kalau Shouta membiarkannya saja dengan mudah mencetak angka.
"Apa apaan ini?! Bukankah seharusnya kau memblockku?!" omel Light sewot. Shouta menatap Light dengan tatapan putus asa sekaligus seakan menyerah. "Kan Pamancchi jauh lebih kuat dariku~ssu. Aku memutuskan untuk kalah saja~ssu..." ucap Shouta dengan nada pasrah.
Sesuai yang Taku prediksi, wajah Light memerah karena emosi. Light segera balik ke kubunya sendiri, tidak memperhatikan Shouta lebih lanjut yang kini mengacungkan jempol tangannya pada anggota tim HERO yang duduk di bench, tanda ia sudah melakukan tugasnya dengan baik.
.
.
Point saat ini 34-57, diungguli oleh tim MIRACLE. 3 Points milik Verdant mengakhiri quarter pertama, menambah angka pada tim MIRACLE. Sesuai yang Taku prediksi, sebagian besar pemain tim MIRACLE kelelahan akibat terlalu sering melakukan offensive secara terus menerus. Kanata yang duduk di Bench sedikit berwajah horror ketika bola yang dapat dengan mudah di blocknya di biarkan lolos memasuki ring sementara Saika tersenyum sumringah dengan aura blink blink.
"Sumpah... kenapa kalian bisa tahan nggak nyentuh bolanya? Dari bench sini ngeliatnya bikin geregetan." ucap Kanata setengah sebal. Taku memutar bola matanya dan mengangkat bahu. "Tahan tahan aja, sih... kalau aku nekat pakai movement atau sejenisnya, aku bisa terkapar di quarter keempat..." ucap Taku santai. Kanata kemudian melemparkan kompres es yang ia pakai untuk membekukan kakinya itu ke kursi di sampingnya dan menggerak gerakkan kakinya sedikit demi sedikit.
"Ngomong ngomong... dari mana kamu tau kalau paman Phantom itu ayahmu?" tanya Reiichi heran. Taku kembali berpikir dan terkekeh iseng.
"Untuk mendalami peran. Kan semakin misterius, semakin bagus aktingnya. Kubuat saja permisalan seperti itu"
Dan 6 buah jitakan bersarang kembali ke kepala Taku.
.
.
Light duduk di bench dengan sedikit asap keluar dari kepalanya. Dari awal ia terus terusan berdecih kesal, di ikuti rutukan rutukan Navy yang juga sepertinya terkena dampak formasi bendera putih milik tim HERO itu. "Sialan... bocah bocah itu... aku kecewa dengan mereka." ucap Light kesal. Navy berwajah tidak peduli sambil membolak-balik lembaran demi lembaran majalah tidak senonoh miliknya itu sambil sesekali mengangguk.
"Itu bukan kekuatan mereka. Mereka cuma sedang memanas manasi kita dengan tindakan menyerah" ucap Phantom tepat di belakang Navy, membuat dua Ace itu bergidik kaget.
"KUROKO/TETSU! JANGAN MUNCUL TIBA TIBA SEPERTI ITU!" teriak dua ace itu bersamaan. Phantom masih memasang wajah flat, tampak tidak terlalu ambil pusing dari teriakan dua orang baka dan aho seperti mereka itu.
"Namaku sekarang Phantom. Jangan panggil aku dengan nama asli ku." ucap Phantom menghela nafas pendek dan menyambungnya. "Bisa gawat kalau ada yang tau nama asliku."
.
.
Seorang wanita berambut biru kehitaman berjalan tak jauh dari bench tim MIRACLE di temani temannya yang bernama Kagami Hinako. Hinako terdiam mendadak, membuat wanita berambut biru kehitaman itu terpaksa berhenti. "Ada apa, Hinako-nee-san?" Tanya Shin setengah heran atas perhentian mendadak Hinako. Hinako menggelengkan kepalanya, tanda tidak ada apa apa.
"Hanya saja aku sepertinya mendengar suara Taiga. Tapi... mungkin hanya bayanganku saja." ucap Hinako kecut. Shin menatap ke tanah yang dipijaknya dengan pandangan nanar. "Ya... mungkin saj-"
"Bisa gawat kalau ada yang tau nama asliku."
Suara khas milik Kuroko Tetsuya terdengar di indera pendengaran wanita bernama Shin itu. Iris hazelnut wanita yang kini bermarga 'Kuroko' itu menatap ke arah punggung seorang pria yang bersurai babyblue, yang tengah menceramahi dua kawannya yang berambut merah kehitaman dan biru tua, yang berada tepat di sampingnya.
"Tetsuya?"
Phantom lantas membalik tubuhnya, berhadapan langsung dengan wanita yang telah menjadi istrinya dan juga memberinya dua anak itu.
"Shin?"
.
.
TBC
.
.
Nyahoo! Halo! Selamat berpuasa semuanya!
Gomenasai atas keterlambatan update yang sangat sangat sangat lama ini. Arrigatou juga yang sudah menantikannya, baik yang silent reader ataupun yang aktif ngirim review.
Yak! sekali lagi, bagian akhir chapter ini kembali seperti tayangan sinetron.
Uh, well, lagi lagi saya bawel. padahal pada dasarnya cuma mau minta review saja. ^U^
senyum 5 jari,
.
-PriscallDaiya-
