Last chapter preview
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu."Ucap Chanyeol sambil mengacak – acak surai hitam lelaki yang tingginya hanya sebatas dagunya.
"Akh! Rambutku jadi berantakan!" sebelum kembali mendapat semprotan dari Baekhyun, Chanyeol sudah melenggang meninggalkan ruang kesehatan.
"Terimakasih" Ucap Baekhyun lirih dengan senyum manis di wajahnya sambil merapihkan tatanan rambutnya yang barusaja diacak - acak oleh lelaki jangkung penerus kerajaan korea selatan itu. Detik berikutnya, Baekhyun segera menyusul lelaki itu keluar dari ruang kesehatan.
.
.
Fate XI
.
.
05.15 p.m.
Hembusan angin sore menerbangkan helaian hitam seorang lelaki berparas sayu. Ia tengah berjalan di antara mahasiswa lain yang memang tengah meninggalkan gedung kampus. Tak banyak yang sedang Ia pikirkan, hanya berfokus pada tujuanya untuk segera sampai di gerbang utama kampusnya. Namun sebuah suara menginterupsi kesunyianya,
"Baekhyun!"
Mendengar namanya dipanggil, refleks Ia palingkan kepalanya menuju sumber suara. Dan dilihatnya seorang lelaki bermata doe yang sudah sangat Ia kenal itu sedang berlari kecil mengahampirinya.
"Hey Kyungsoo!" Jawabnya dengan senyuman khasnya.
" Kau tidak ada sift kerja?" Tanyanya sambil merangkul pundak lebar Baekhyun.
"Tidak, hari ini aku libur." mereka berdua kini bejalan berdampingan menuju gerbang kampus.
"Hei Kyungsoo, kau sudah tahu belum tim paduan suara kampus kita akan mengikuti International Choir Competition XII di Hongkon akhir tahun ini?" ucap Baekhyun memulai topik pembicaraan mereka.
"Hum, aku sudah tahu. Itu perlombaan yang sangat dinantikan.. Menurutmu apakah mereka akan mengadakan seleksi ulang untuk tim yang akan diberangkatkan?"
"Aku berharap tidak, karena ini akan menjadi pengalaman pertamaku ke luar negeri."
"Kau benar.. Aku juga sama. Semoga saja kita bisa berangkat bersama"
"Semoga."
Karena sibuk dengan perbincangan, tanpa sadar langkah mereka telah sampai di depan gerbang kampus. Keduanya masih asyik berbica, hingga sebuah suara klakson mobil mengambil atensi mereka. Suara itu berasal dari sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari keduanya.
"Siapa Baek?" Tanya Kyungsoo bingung saat mendapati teman di sampinya itu tengah membalas sapaan dari seorang lelaki beropi hitam yang berada di dalam mobil.
"huh?" Baekhyun mengembalikan atensinya kepada Kyungsoo " itu Chanyeol." Jawabnya santai.
"maksudmu Chanyeol, Park Chanyeol?!" Kyungsoo membolakan matanya kaget setelah mendengar penuturan temanya itu. Baekhyun hanya mengangguk polos menanggapi pertanyaan itu.
"Bagaimana kau bisa? Itu- sejak kapan?" tanya Kyungsoo terbata.
"Apa maksudnya? Pertanyaanmu tidak jelas." Baekhyun mengernyitkan keningnya karena bingung menangkap maksud pertanyaan temanya itu.
"sejak kapan kau berteman denganya?" tukas Kyungsoo yang akhirnya berhasil menyusun pertanyaanya dengan benar. Wajah Baekhyun kini terlihat lebih rileks setelah mengerti maksud pertanyaan temanya itu.
"kurang lebih 4 bulan ini." Jawabnya santai
"Bagaimana ceri-" belum selesai Kyungsoo melontarkan pertanyaan lain suara klakson dari sumber yang sama kembali mencuri atensi keduanya.
Baekhyun terlihat membolakan matanya dan bergumam tanpa suara ke arah pengemudi yang sepertinya sudah tidak sabar menunggu lagi.
"aaiishh.. tidak sabaran sekali sih" gerutuan Baekhyun yang masih mampu di dengar oleh Kyungsoo.
"Kyungsoo maaf sepertinya aku harus segera pergi." Ucapnya cepat sambil menyalami tangan lelaki yang masih memasang wajah bingung. "Maaf ya.. nanti ku ceritakan di lain waktu." Ucapnya sambil berjalan menyaping meninggalkan Kyungsoo.
Baekhyun terlihat berlari kecil menuju mobil hitam yang terparkir sekitar 200 meter dari posisi Kyungsoo yang masih berdiri mematung. Sebelum sosok itu menghilang di balik mobil, ia sempat melambaikan tanganya pada Kyungsoo sebentar.
"Ya. Hati-hati" ucap Kyungsoo yang nyatanya sudah tidak dapat didengar oleh Baekhyun karena mobil itu telah melaju meninggalkanya.
"Anak itu benar – benar penuh dengan kejutan." Gumam Kyungsoo beranjak dari posisinya.
-The Cursed Destiny-
Dua lelaki dengan perbedaan postur tubuh yang mencolok itu tengah memandang lurus ke jalanan yang sedang mereka lalui. Tak ada pembicaraan apaun sejak mobil yang mereka kendarai meninggalkan kampus. Karena merasa tidak nyaman dengan suasana yang canggung, lelaki yang tengah duduk di bangku kemudi memulai pembicaraan.
" Tadi siapa?"
"huh?" Baekhyun mengalihkan atensinya pada lelaki yang tengah mengajaknya bicara. "aahh.. itu Kyungsoo."
"Kalian terlihat sangat dekat." Celetuk Chanyeol yang masih memandang lurus pada jalan.
"hum. Dia teman pertamaku di kampus. Dia juga satu club denganku." Jelas Baekhyun yang tidak mendapat respon apapun dari Chanyeol.
"Kau menyetir sendiri?" tanya Baekhyun berusaha menyambung percakapan mereka.
"Hanya sesekali. Biasanya Paman Kim yang mengantarku. Tapi tadi pagi aku meminta mengemudi sendiri."
"Kenapa?" tanya Baekhyun polos.
Chanyeol kini memalingkan wajahnya pada Baekhyun "Kenapa kau penasaran sekali?"
"iisshh.. memangnya tidak boleh?" pertanyaan itu hanya dibalas dengan seringaian kecil dari Chanyeol.
Mendengar nama Paman Kim disebut, Baekhyun menjadi penasaran dengan orang yang akan ditemuinya nanti. "Ngomong – ngomong orang seperti apa Paman Kim?"
"Paman Kim itu pelayan utama di keluarga Park. Keluarganya sudah turun – temurun mengabdi pada keluargaku. Walaupun seorang pelayan, Dia sudah kuanggap seperti Pamanku sendiri karena sejak aku lahir dialah yang selalu bertanggung jawab atas semua kebutuhanku. Kau tahu sendiri 'kan bagaiamana sibuknya tugas seorang pemimpin negara" jelas Chanyeol yang ditanggapi dengan antusias oleh lawan bicaranya.
"Kalau begitu pasti Dia mengetahui sejarah keluarga kerajaan dengan sangat baik."
"yaa bisa dibilang Dialah sumber utamanya." Baekhyun terlihat mengangguk anggukan kepalanya paham.
Setelah 20 menit berkendara, tidak terasa mobil hitam itu telah sampai di depan sebuah gerbang yang cukup besar. Tidak sampai menunggu lama, gerbang itu secara otomatis terbuka mempersilahkan masuk mobil yang tengah dikendarai oleh sang pemilik rumah. Detik berikutnya setelah memasuki gerbang, netra Baekhyun disambut dengan pemandangan sebuah rumah bergaya eropa dengan dinding dipenuhi tanaman merambat sebagai ciri khasnya. Rumah itu terbilang cukup megah jika hanya dihuni oleh dua orang saja.
"Rumahmu besar sekali?" tanya Baekhyun setelah mobil itu berhenti di halaman depan rumah.
"Tentu saja, aku tidak tinggal sendirian di sini." Jawab Chanyeol sambil melepas sabuk pengamanya.
Kedua lelaki berbeda tinggi itu keluar dari dalam mobil dan berjalan meuju pintu utama rumah dengan Baekhyun yang berjalan tepat di belakang Chanyeol. Baekhyun kembali dikagetkan dengan pintu rumah yang terbuka dengan sendirinya walaupun Chanyeol belum menyentuhnya sama sekali.
"Selamat datang Tuan Muda" sapa tiga orang maid yang berjajar rapih sambil membungkuk sopan pada sang pemilik rumah.
Benar saja rumah ini besar, penghuninya bukan hanya Sang pemilik rumah tetapi juga beserta sederetan pelayan dan penjaga keamanan.
"Di mana Paman?" Tanya Chanyeol segera setelah memasuki kediamanya.
"Tuan Kim sudah menunggu Anda di ruang tengah Tuan Muda." Jawab salah satu maid yang berdiri paling dekat dengan Chanyeol.
"Baiklah.. Ayo Baek." Baekhyun segera menyusul Chanyeol setelah membalas sapaan dari maid yang tengah memberikan hormat padanya.
Tak terlalu jauh dari pintu utama, hanya membutuhkan beberapa langkah dan sedikit belokan akhirnya keduanya sampai di ruang tengah rumah itu. Ruangan itu cukup luas dengan satu set sofa berwarna krem yang terdapat di tengah ruangan beserta satu meja kayu besar berbentuk persegi panjang yang diatasnya terdapat rangkaian bunga yang didominasi oleh warna putih. Di bagian tengah dinding berwarna putih pastel menempel TV LED berukuran jumbo. Tak jauh dari sana masih di sisi dinding yang sama terdapat perapian yang menambah kesan hangat ruangan itu. Di sisi dinding lain yang menghadap ke halaman rumah terdapat jendela yang tingginya mencapai dua mater dengan aksen kayu tua dan tanaman merambat dari luar rumah khas rumah bergaya eropa. Dan jangan lupakan cadlelier antik yang menggantung tepat di tengah langit – langit ruangan. Itu sangat indah.
"Selamat datang Tuan Muda, Tuan Byun." Sapa seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapih yang tengah membungkuk memberikan hormat pada Chanyeol dan Baekhyun yang baru saja tiba.
Tanpa babibu, Chanyeol melangkah menuju sofa dan mendudukan dirinya di sana. Baekhyun mengikuti tindakanya setelah membalas sapaan dari pria paruh baya yang tengah membungkuk 45 derajat itu. Ia dudukan tubuhnya tepat di samping Chanyeol, bahkan lengan mereka sampai bersentuhan. Baekhyun masih merasa asing dengan semua hal yang barusaja Ia temui, sehingga berada dekat dengan satu – satunya orang yang Ia kenal membuatnya cukup merasa tenang. Dan beruntungnya Chanyeol tidak mempermasalahkan hal itu, bahkan Ia merasa sedikit 'senang'.
"Jadi Paman kapan kau akan mulai menceritakan sejarah kutukanya?" Tanya Chanyeol to the point.
Paman Kim melangkah menuju sebuah sofa tak jauh dari posisi Chanyeol dan Baekhyun. Kemudian Ia duduk di sana dengan penuh rasa hormat.
"Sebelumnya, Saya izin memperkenalkan diri saya.." pinta Tuan Kim pada Chanyeol " Nama Saya Kim Junmyeon, pelayan utama keluarga Park. Suatu kehormatan untuk Saya dapat bertemu dengan Anda, Tuan Byun Baekhyun."
"Terima kasih Paman, senang juga dapat betemu dengan Anda." Jawab Baekhyun sambil tersenyum manis.
"Jadi kedatangan Anda kesini menandakan bahwa Anda telah menerima takdir yang ditetapkan pada Anda, benar Tuan Byun?" Tanpa ada pembukaan apapun, Tuan Kim langsung menembakan pertanyaan utama.
Baekhyun terlihat diam sejenak mencerna pertanyaan yang diajukan oleh pria paruh baya yang akan menjadi narasumbernya beberapa menit kedepan. Pikiranya tiba – tiba melayang pada semua kejadian yang Ia lalui beberapa bulan terakhir, dan hal itulah yang membuatnya yakin untuk memberikan jawaban
"Iya Paman." Jawab Baekhyun mantap.
"Baiklah kalau begitu, Saya akan mulai menceritakan sejarah awal dimulainya kutukan ini." Chanyeol dan Baekhyun terlihat menegakan punggung mereka berusaha memfokuskan pikiran mereka pada setiap kalimat yang diucapkan oleh pria yang tengah duduk dengan santun itu.
"Pada zaman itu, Leluhur Tuan Baekhyun yang berasal dari garis keturunan Ibunya yang bernama Byun merupakan seorang pendeta laki - laki yang ditugaskan untuk menjaga sebuah kotak yang mengurung sebuah roh terkutuk. Karena yang harus dijaga itu merupakan roh yang sudah berumur ribuan tahun, Leluhur Byun harus diasingkan di dalam kuil di tengah hutan dan dilarang berinteraksi dengan manusia lain. Tetapi suatu hari Ia bertemu dengan seorang pemuda dari leluhur keluarga Tuan Chanyeol dari garis keturunan ayahnya yang bernama Park. Keduanya bertemu secara kebetulan saat Leluhur Byun tengah membersihkan tubuhnya di sebuah mata air di tengah hutan. Dari sana keduanya mulai berinteraksi dan saling tertarik satu sama lain. Leluhur Byun mulai melanggar peraturan yang sudah ditetapkan, dengan terus bertemu dengan pemuda desa itu.
Awalnya semuanya masih dalam kendali, hingga pada suatu saat Leluhur Park berusaha menemui Leluhur Byun di kuilnya. Bukanya menemukan pujaan hatinya, Ia malah menjadi penyebab kutukan turun temurun itu terjadi. Karena Leluhur Park merupakan manusia biasa tanpa ilmu spriritual apapun, Ia dengan mudah terpengaruh oleh bisikan dari Roh jahat yang tengah dijaga oleh Leluhur Byun, sehingga kotak yang sudah ribuan tahun tersegel itu terbuka oleh tangan Leluhur Park. Roh jahat yang dipenuhi dengan kutukan itu hendak merasuki tubuh leluhur Park untuk dijadikan inangnya, tetapi Leluhur Byun menghalanginya dan akhirnya semua kutukan yang dibawa oleh roh itu terserap ke dalam tubuhnya. Sejak saat itu Leluhur Byun dan Leluhur Park dilarang untuk saling bertemu karena dikhawatirkan kutukanya akan menyebar ke penduduk desa. Tetapi karena rasa kasih yang dimiliki oleh Leluhur Park terhadap Leluhur Byun sangat besar, Ia terus mengunjungi kuil setiap malam. Mereka saling berbagi kisah dan menguatkan satu sama lain walaupun terpisah oleh dinding kuil yang terbuat dari batu.
Namun seiring berjalanya waktu, rupanya kekuatan spiritual Leluhur Byun semakin melemah menyebabkan kondisi tubuh Leluhur Byun semakin memburuk karena roh jahat yang menggerogoti jiwa dan tubuhnya. Leluhur Park yang mengetahui hal ini membujuk Leluhur Byun untuk membagi penderitaanya. Awalnya Leluhur Byun bersikeras menolaknya karena Ia terlalu menyayangi Leluhur Park dan tidak ingin Ia merasakan rasa sakit yang ditanggungnya. Tetapi tekad kuat Leluhur Park yang selalu menemani dan membujuknya setiap hari tanpa lelah, akhirnya membuahkan hasil. Ketika keduanya tepat berumur 20 tahun, Leluhur Park dan Leluhur Byun melakukan kontrak untuk saling berbagi takdir. Artinya sebagian dari kutukan yang ditanggung oleh Leluhur Byun akan di bagikan kepada Leluhur Park. Kontrak itu dilakukan dengan melakukan pertukan sebagian anggota tubuh. Keduanya memberikan potongan rambut dan meminum setetes darah dari masing – masing tubuh. Sejak saat itu semua luka fisik yang diakibatkan oleh kesialan yang selalu menimpa leluhur Byun akan ditransfer ke tubuh Leluhur Park, dengan begitu leluhur Byun tidak akan terlalu lama merasakan sakit. Bagi mereka, rasa sakit yang harus mereka tanggung tidak sebanding dengan rasa sakit ketika keduanya saling terpisah.
Namun tanpa sepengetahuan keduanya, kontrak yang mereka lakukan memberikan dampak kepada penerus mereka. Kutukan itu ternyata tidak menghilang saat keduanya telah meninggal . Tepat pada keturunan ke- 100, dua jiwa manusia terlahir pada waktu yang sama dengan waktu kelahiran keduanya. Ikatan jiwa antara Leluhur Park dan Leluhur Byun membawa kedua manusia itu untuk saling bertemu dan berbagi takdir yang sama.
Kedua jiwa yang terpilih itu memiliki beberapa ciri tubuh yang identik seperti warna emerald green pada iris mata mereka dan tanda kutukan dengan enam kelopak es yang akan muncul setelah mereka tepat berumur 20 tahun. Masing – masing kelopak pada tanda kutukan itu mewakilkan satu kesialan yang akan terjadi, dan apabila mereka mampu melaluinya maka satu kelopak akan hilang. Periode terjadinya kesialan itu masih belum diketahui tepatnya, tetapi berdasarkan cerita dari kakek buyut Saya, puncak dari kesialan itu terjadi sekitar tanggal 13 di setiap bulan.
Leluhur Anda pada keturunan yang sudah – sudah telah berjuang keras untuk melawan kutukan ini, namun rupanya kekuatan roh itu terlalu kuat sehingga mereka semua gagal menyelesaikanya. Rintangan terjauh yang mampu mereka hadapi adalah pada kesialan ke sembilan. Leluhur Anda pada keturunan ke 600-lah yang mampu mencapai tahap itu. Dan sekarang pada generasi ke 700 tanggung jawab itu jatuh pada Anda berdua, Tuan Chanyeol dan Tuan Baekhyun." Tuan Kim menyelesaikan ceritanya.
Wajah dua orang lelaki yang tengah duduk bersebelahan itu tampak sedih setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh Tuan Kim. Entah mengapa mereka seolah dapat merasakan perasaan yang dimiliki oleh kedua leluhur mereka pada zaman itu. Perasaan saling mengasihi dan saling membutuhkan satu sama lain. Serta perasaan Iba ketika mengetahui begaimana leluhur - leluhur mereka telah berjuang di setiap generasinya melawan kutukan yang belum terpatahkan ini.
"Paman kenapa kutukan ini hanya terulang pada keturunan ke-100 dan kelipantanya? Kenapa tidak dengan keturunan ke 50 atau ke 80?" tanya Chanyeol kritis.
"Begini Tuan Muda, kekuatan roh jahat itu membutuhkan waktu yang cukup lama kurang lebih seratus tahun untuk dapat kembali terkumpul. Sehingga secara kebetulan kutukan itu selalu berulang di generasi keseratus dan keliapatanya." Jelas Tuan Kim.
"Paman apakah yang kami alami selama ini belum ada apa - apanya dibanding kesialan yang dihadapi oleh leluhur – leluhur kami?" Pertanyaan itu dilontarkan oleh Baekhyun yang merasa bahwa mereka berdua sudah cukup kesulitan menghadapi kesialan yang sudah mereka lalui.
"Benar Tuan. Semakin sedikit kelopak es yang tersisa maka kesialan yang terjadi akan semakin besar risiko dan dampaknya. Penyebabnya bisa berasal dari banyak hal, bukan hanya dari kejadian alam tetapi juga bisa berasal dari tangan-tangan manusia."
Mendengar penuturan Tuan Kim, Chanyeol berdeham berusaha menghentikan arah pembicaraan Pamanya itu. Chanyeol tidak mau Baekhyun mengetahui kenyataan bahwa keluarga kerajaanlah yang telah membunuh leluhur Baekhyun pada masa itu.
Tuan Kim menganguk menanggapi kode yang diberikan oleh Tuannya.
"Baekhyun, bisakah kau menuggu di kamarku? Ada yang harus kubicarakan empat mata dengan Paman. Salah satu maid akan mengantarmu ke sana." Pinta Chanyeol pada lelaki yang masih anteng duduk di sebelahnya.
"Hum.. Baiklah." Baekhyun bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti seorang maid yang telah diminta Chanyeol untuk mengantarkanya ke kamar.
Setelah sosok Bekhyun menghilang dari pandangan Chanyeol dan Tuan Kim, pembicaraan yang memang dirahasiakan dari Baekhyun itu dimulai.
"Paman, tolong rahasiakan pada Baekhyun tentang kenyataan bahwa pihak kerajaanlah yang berusaha menyingkirkan leluhurnya. Aku takut dia tidak akan mempercaiku lagi setelah mengetahui hal itu."
"Saya mengerti Tuan."
"Aku sudah pernah berjanji padamu dan pada diriku sendiri bahwa aku akan menyelesaikan kutukan ini. Apapun rintanganya yang akan kuhadapi nanti, persetan itu berasal dari keluargaku sendiri atau bukan, aku akan melawanya. Kau mau berjanji akan membantuku tentang itu 'kan Paman?"
"Dengan nyawa saya Tuan Muda." Jawab Tuan Kim mantap.
"Aku ingin kau memberitahuku segala informasi yang direncanakan oleh keluarga kerajaan jika itu berkaitan dengan Baekhyun."
"Itu mudah bagi Saya Tuan Muda, Anda bisa mengandalkan Saya."
"Baguslah... Aku berharap rencana kita berjalan lancar, Paman. Aku rasa sekaranglah saatnya kutukan ini dihentikan agar tidak ada lagi orang – orang yang menderita di kemudian hari." Chanyeol berbicara sambil memijit telapak tanganya sendiri.
"Silahkan masuk Tuan" seorang maid mempersilahkan Baekhyun masuk ke dalam sebuah ruangan yang diketahui sebagai kamar Park Chanyeol.
"Terimakasih Nona."
Baekhyun melangkah memasuki ruangan itu dan semerbak aroma kopilah yang menyambutnya pertama kali. Bukan aroma yang menyengat, tetapi aroma yang lembut dan menenangkan. Sekarang Baekhyun tahu dari mana asal aroma yang sering diciumnya ketika Ia sedang bersama dengan Chanyeol. Ketika netranya berkeliling mengamati setiap sudut kamar, terblesit dalam pikiranya bahwa kamar itu memiliki kesan yang hangat dan menenangkan sangat berbeda dengan kepribadian Chanyeol yang menurutnya terlihat Angkuh dan monoton.
Baekhyun berjalan menuju satu – satunya sofa single berwarna merah mencolok yang berada di dalam ruangan itu. Ia dudukan tubuhnya di sana sambil mengamati beberapa buku yang tertumpuk rapih di atas sebuah meja kaca tepat di samping sofa. Ia mengambil satu buku teratas, karena cukup tebal dan berat ia letakkan buku itu di atas pangkuanya. Ia buka lembar demi lembar buku yang berisi barisan kalimat yang menurut Baekhyun sangat sulit dipahami. Tetapi entah mengapa jemarinya tidak mau berhenti berinteraksi dengan buku itu. Hingga atensinya beralih dari barisan huruf yang tertata rapih ke sebuah bercak kecokelatan di tepi halaman. Itu terlihat seperti noda darah yang mengering. Ketika Ia tengah fokus pada noda itu, sebuah suara yang barasal dari pintu kamar mengagetkanya.
"Hey.." sapa Chanyeol yang baru saja menutup kembali pintu kayu dengan tinggi kurang lebih 3 meter.
"Apa yang sedang kau lakukan dengan buku bacaanku?" Ia berjalan menghampiri Baekhyun yang masih duduk dengan manis di sofa merahnya.
"aahh.. tidak, aku hanya penasaran dengan jenis buku apa yang dibaca oleh seorang Putera Mahkota." Jawabnya sambil menutup buku yang berada di pangkuanya.
Chanyeol tertawa kecil "yang jelas bukan komik atau novel fantasi."
Baekhyun ikut tertawa kecil mendengar penuturan Chanyeol. Tentu saja, tidak ada waktu luang yang bisa digunakan untuk bermain atau membaca buku semacam itu oleh lelaki bertitel calon pemimpin negara itu.
"Bagaimana perasaanmu setelah medengar cerita dari paman?" tanya Chanyeol yang sekarang tengah duduk di lengan sofa yang sedang Baekhyun duduki.
"Entahlah... aku merasakan sedih dan iba di waktu yang sama." Baekhyun menggeserkan tubuhnya agar dapat melihat wajah lawan bicaranya dengan jelas. "Aku sedih karena leluhur - leluhur kita meninggal karena kesalahan yang dilakukan oleh leluhurnya sendiri. Dan di waktu yang sama aku juga merasa iba dengan kenyataan bahwa untuk saling bersama dan memiliki menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan." Baekhyun mengucapkan kalimat terakhirnya sambil mengusap cover buku yang dipegangnya, seakan sedang membersihkan debu imajinatif yang menempel di sana.
Ketika hening dirasakan, Baekhyun mengembalikan atensinya pada lawan bicaranya. Kedua emerald itu saling bertatapan, gerakan halus manik mata mereka menandakan bahwa keduanya tengah membaca pikiran masing – masing. Hingga puluhan detik berlalu, belum ada jawaban atas pernyataan yang disampaikan oleh lelaki yang lebih kecil. Sosok yang sedang dinanti responya itu tengah menyusun kata demi kata agar kalimat yang diucapkanya tidak menyinggung atau menyakiti hati lawan bicaranya. Tiba – tiba atensi lelaki yang duduk lebih rendah itu berpindah pada telapak tanganya yang kini tengah digenggam oleh dua telapak tangan lain yang ukuranya jauh lebih bersar darinya.
"Baekhyun, kau percaya padaku kan?" atensi Baekhyun kemabali pada manik emerald Chanyeol.
"maksudmu apa Chanyeol?"
Baekhyun merasakan genggaman di telapak tanganya mengencang "Aku berjanji padamu dan pada diriku sendiri, aku akan menyelesaikan kutukan ini. Sudah cukup kutukan ini memakan banyak korban Baek, kita harus menyelesaikanya."
"iya, aku juga sepemikiran denganmu." Baekhyun membalas genggaman lelaki di hadapanya. "Aku tidak tega membiarkan penerus kita kelak mengalami hal yang kita alami sekarang. Aku ingin mereka hidup dengan tenang tanpa harus merasakan sakit dan menderita."
"Baiklah.. kalau begitu sejak detik ini kuanggap kita telah resmi melakukan kontrak untuk bersama – sama menyelesaikan kutukan ini." Tukas Chanyeol dengan kilatan mata penuh dengan keyakinan.
"Baiklah." Baekhyun meletakan telapak tanganya yang lain di atas punggung tangan Chanyeol. Mereka berdua saling menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Terimakasih sudah melindungiku." Celetuk Chanyeol masih dengan senyum manisnya. Bersama dengan itu pula Ia melepaskan genggamannya pada tangan Baekhyun.
Baekhyun yang mengerti maksud ucapan Chanyeol ikut tersenyum "Terimakasih juga karena sudah menjagaku."
Melihat senyum manis di wajah mungil Baekhyun membuat debaran jantung Chanyeol kembali menunjukan aktivitas diluar normal. Ia berdeham untuk mengembalikan kesadaranya.
"eeerr.. aku akan mandi terlabih dahulu. Kau tunggulah sebentar. Jika ada yang kau butuhkan minta saja pada maid yang ada di luar kamar." Chanyeol beranjak dari posisinya dan berjalan menuju pintu kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya.
Setelah sosok jangkung itu berada di dalam kamar mandi, Ia sandarkan punggungnya pada daun pintu yang berada tepat di belakangnya. Ia hembuskan nafas panjang sambil mengusap dadanya sendiri.
"tenanglah jantung... ada apa denganmu?" Chanyeol berbicara pada dirinya sendiri seakan dengan itu jantungnya dapat kembali berkerja dengan normal.
"Sepertinya aku telah salah menilainya." Gumam Baekhyun melihat punggung bidang Chanyeol yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Sambil menunggu Chanyeol, Baekhyun mengeluarkan handphonya untuk mengecek beberapa pesan dari teman – temanya. Paling banyak adalah pesan dari Kyungsoo. Semua pesan itu tidak jauh dari topik meminta penjelasan atas hubunganya dengan Chanyeol. Tetapi belum selesai Baekhyun membaca semua pesan di handphonya, sebuah suara ketukan di pintu mangambil atensi Baekhyun dari layar handphonya "Iya.. masuklah." sahutnya ke arah pintu.
"Permisi Tuan, Tuan Muda meminta saya membawakan beberapa snack untuk Anda" Seorang maid terlihat membawa satu nampan besar yang dipenuhi dengan makanan dan minuman.
"Ah, tidak usah repot – repot." Baekhyun segera bangkit dari duduknya dan menghampiri maid yang terlihat kewalahan.
"Jangan Tuan, biar saya saja yang membawanya" pinta maid itu saat Baekhyun hendak mengambil alih nampan yang dipegangnya.
"sudahlah tidak papa, toh aku bukan majikanmu. Sini berikan padaku." Baekhyun berhasil mengambil nampan yang cukup berat itu. Ia berjalan menuju meja kaca dan meletakanya di sana. "Terima kasih sudah membawakan makanan." Ucap Baekhyun dengan senyuman manisnya.
"ti-tidak Tuan.. Maafkan Saya" Maid itu menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. "Kalau begitu saya permisi."
Setelah pintu ditutup, Baekhyun mengambil segelas susu dingin dan sebuah biskuit dari atas nampan. Memang benar perutnya sudah sangat lapar karena belum diisi sejak tadi siang, ditambah dengan pembicaraan yang cukup panjang hingga tak terasa sekarang waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Ketika Baekhyun tengah asyik dengan makananya, Chanyeol melangkah keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe hitamnya.
"Kau lapar?" tanya Chanyeol sambil mengelap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
"uhm..akhu sanghat lapphhaarl" jawab Baekhyun dengan mulutnya yang masih terisi dengan makanan.
"iiishh.. joroknya.. telanlah dulu makananmu baru berbicara." Ledek Chanyeol yang sedang berjalan menuju lemari pakaianya. Ia terlihat mengambil beberapa setel pakaian untuknya dan untuk Baekhyun. Kemudian Ia meletakanya di atas tempat tidur.
"selesai makan mandilah.. ini pakaian dengan ukuran terkecil yang aku miliki, pakailah untuk baju gantimu."
"Siaaapp." Jawab Baekhyun main-main.
"Selesai mandi aku pulang ya" celetuk Baekhyun sambil berjalan menghampiri Chanyeol
Chanyeol terlihat melirik jam dinding di kamarnya " ini sudah malam.. tidurlah saja di sini, besok pagi baru kuantarkan pulang." Jelas Chanyeol pada Baekhyun yang sudah mendekap pakaian yang sudah dipilihkanya.
"Ya sudah aku pulang sendiri" celetuk Baekhyun santai.
Mendengar pernyataan Baekhyun membuat gerakan Chanyeol terhenti, Ia membayangkan jarak halte terdekat dari rumahnya yang cukup jauh ditambah dengan malam yang semkain larut. Imajinasinya langsung bekerja, membayangkan Baekhyun yang tengah berjalan seorang diri tiba – tiba diserang oleh sekelompok preman mabuk atau semacamnya. Otaknya langsung berputar memikirkan cara lain agar Baekhyun mau menginap di rumahnya. Bukanya Chanyeol tidak mau mengantarnya pulang, hanya saja Ia harus mengerjakan beberapa proposal yang sudah menunggu untuk direview.
"Baiklah.. selesai kau mandi aku akan mengantarmu pulang." Bohongnya, karena Chanyeol telah merencanakan sesuatu.
"ahh.. such a good boy" Baekhyun mengusakkan jemari lentiknya yang penuh dengan remahan biskuit di surai Chanyeol yang masih lembab.
"YAK! AKU BARU SAJA MENCUCI RAMBUTKU!" Chanyeol berteriak pada Bakehyun yang sudah berlari menuju kamar mandinya.
"iiisshhh.. menyebalkan." Gerutunya sambil mengibaskan rambutnya, berusaha menyingkirkan remahan biskuit yang menyangkut di sana.
Chanyeol segera mengganti pakaianya dengan sebuah T-shirt berwarna hitam dan celana training panjang berwarna abu. Ia berjalan menuju sofanya dan segera mengambil gagang telephon yang terletak di atas meja.
"Paman tolong bawakan semua proposal yang belum aku review ke kamar sekarang." Pinta Chanyeol pada pelayan utama rumah itu. "Ah, dan secangkir kopi panas." Tambahnya.
Tak menunggu lama Tuan Kim sudah tiba di kamar Chanyeol beserta dengan dua pelayan yang membawa setumpuk proposal, secangkir kopi, dan sebuah kotak obat. Pelayan itu meletakan tumpukan proposal dan secangkir kopi di atas meja kerja Chanyeol setelah mendapatkan perintah demikian dari Tuanya.
"Tuan Muda, luka di wajah Anda perlu diberi obat lagi." Ucap Tuan Kim sambil menyuruh seorang maid yang membawa kotak obat mendekat pada Chanyeol.
"Baik Paman, terimakasih." Ucapnya pada Tuan Kim, karena jujur saja dirinya sendiri hampir lupa dengan luka – luka yang terdapat di wajahnya.
"Kalau begitu saya permisi Tuan." Tuan Kim membungkuk dan pergi meninggalkan Chanyeol bersama dengan dua orang maid yang akan merawat luka di wajahnya.
"Biar aku saja!" Sebuah suara terdengar menginterupsi. Itu Baekhyun. Ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan sekarang tengah berjalan menuju Chanyeol dan dua maid tadi.
"Aku yang membuatmu seperti ini, jadi biarkan rasa bersalahku berkurang dengan merawat lukamu." Pinta Baekhyun sambil mengambil kotak obat yang dibawa oleh salah satu maid.
"kalian boleh pergi." Ucap Chanyeol pada dua maid yang terlihat kebingungan. Mereka mematuhi perintah tuanya dan segera pergi meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun.
"Kau terlihat tenggelam dengan baju itu" Celetuk Chanyeol setelah melihat penampilan Baekhyun dengan baju pilihanya.
"Tentu saja! Tubuhmu itu yang kelewat jumbo." Baekhyun balas mengejek sambil membuka kotak obat dan mengambil peralatan yang dibutuhkanya.
Chanyeol hanya tertawa kecil mendengar ucapan Baekhyun sambil menjulurkan lenganya meraih secangkir kopi panas dari atas mejanya.
"kau penggemar kopi?"
"Hum." Jawab Chanyeol disertai dengan anggukan setelah menenggak cairan hitam beraroma itu.
"Pantas saja.." ucap Baekhyun sambil mempop-outkan bibirnya lucu.
"Apa?" tanya Chanyeol tidak mengerti dengan ucapan Baekhyun.
"Tidak.." jawab Baekhyun sambil mengeluarkan sedikit salep ke ujung kelingkingnya karena tidak ada cottonbud yang bisa ia gunakan.
"Menghadaplah kemari." Pinta Baekyun pada Chanyeol yang sedang duduk di atas sofa merahnya.
Chanyeol mematuhi perintah Baekhyun yang tengah berdiri tepat di samping lengan sofanya. Ia harus membungkukan tubuhnya karena posisinya yang terlalu tinggi. Melihat hal itu, Chanyeol menarik pinggang Baekhyun, dan menuntunya untuk duduk di atas pangkuanya.
"Kau bisa sakit pinggang jika berdiri dengan posisi seperti itu, dan leherku bisa patah jika menengok terlalau lama."
Baekhyun tidak sungkan untuk mematuhi ucapan Chanyeol dan duduk di atas pangkuanya dengan santai. Dan tanpa Baekhyun duga, ternyata duduk di pangkuan Chanyeol terasa cukup nyaman.
"Lukanya sudah hampir mengering." Ucap Baekhyun setelah mengamati luka - luka di wajah Chanyeol.
"Kau tidak menggosok gigimu ya?"
"huh?! Apa katamu?!"
"Nafasmu bau"
Mendengar penuturan Chanyeol, Baekhyun memukul kepala Chanyeol ringan dan segera bangkit dari posisinya, tapi gerakanya tertahan oleh lengan Chanyeol yang berada di pinggangnya.
" tidak... aku bercanda. Cepat oleskan itu, aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku."
"Kalau begitu diamlah!" gerutu Baekhyun sambil mulai mengoleskan salep diujung kelingkingnya ke luka - luka di wajah Chanyeol.
Manik mata Chanyeol mengamati manik emerald lain yang tengah berfokus pada luka – luka di wajahnya. Entah mengapa wajahnya terlihat cantik jika sedang serius seperti itu. hingga perlahan netranya bergerak turun memandang setiap lekuk pada wajah mungil yang hanya berjarak satu jengkal darinya, dan pandanganya berhenti pada sebuah titik hitam di sudut benda lembab berwarna pink yang diketahui sebagai bibir Baekhyun.
"Aku baru sadar kalau kau memiliki tahi lalat di sudut bibirmu." Celetuk Chanyeol dengan suara basnya memecah keheningan. "dan di pipi dan pelipismu." Tambahnya.
Baekhyun tidak begitu terganggu dengan ucapan Chanyeol Ia masih fokus dengan pekerjaanya mengoleskan salep di luka – luka Chanyeol. " Aku memang memiliki banyak tahi lalat. Bahkan yang kau sebutkan baru satu persenya saja."
"Wooow.. benarkah?" ucap Chanyeol lirih berusaha menjaga posisi wajahnya agar tetap diam. Ia tidak mau membuat Baekhyun kesulitan saat mengoleskan salep itu.
"hum.. neneku bilang Ibuku juga memiliki banyak tahi lalat."
"aah.. pasti kau menuruninya dari ibumu." Baekhyun hanya menanggapinya dengan anggukan kecil.
"Kau juga memilikinya..di hidung. Ini. "Baekhyun menyentuh tahi lalat kecil di hidung Chanyeol dengan ujung jarinya.
Tiba – tiba Canyeol terbahak sendiri " ahahaha... Kenapa kita malah membahas tahi lalat?"
"kau yang memulainya" Jawab Baekhyun sambil menutup salep yang dipegangnya. Ia edarkan kembali netranya pada luka – luka yang baru saja Ia tangani, memastikan tidak ada bagian yang tertinggal. "Sudah selesai." Ucapnya mantap. Baekhyun segera bangkit dari posisinya yang semula duduk di atas pangkuan Chanyeol.
"Aakkhh.. aku kesemutan." Celetuk Chanyeol merasakan kebas di kedua kakinya. Ia memukul – mukul pahanya untuk melancarkan aliran darahnya.
"Kau yang menyuruhku duduk disitu." Ucap Baekhyun santai sambil mengembalikan peralatan yang diambilnya dari dalam kotak obat. Tanpa sepengetahuan Baekhyun, Chanyeol tengah menunggingkan seringaian di wajahnya. Ia tidak tahu bahwa kebas hanya menjadi alasanya untuk menggoda Baekhyun.
"Baek duduklah dulu di tempat tidurku, aku harus menyelesaikan proposal – proposal ini segera. Nanti jika sudah selesai aku akan mengantarmu pulang." Pinta Chanyeol pada Baekhyun.
Inilah yang direncanakan Chanyeol, membuat Baekhyun menunggunya menyelesaikan semua proposalnya yang pastinya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Ia berharap Baekhyun akan kelelahan menunggu hingga membutanya menyerah dan akhirnya mau menginap di rumahnya.
Baekhyun mematuhi permintaan Chanyeol, Ia berjalan menuju tempat tidur berukuran King-size dengan bed cover berwarna dark grey dan cream itu. Sebelum Ia mendudukan tubuhnya, Baekhyun mengambil sebuah figura foto berbentuk persegi panjang kecil yang terpajang di atas nigh-stand.
"Apakah ini foto keluargamu?"
Chanyeol yang baru saja membuka sebuah proposal, mengalihkan atensinya pada benda yang sedang ditunjukan Baekhyun padanya. "Hum.. itu diambil seminggu sebelum aku mulai tinggal sendiri. Waktu itu aku masih berusia 12 tahun."
"Siapa gadis cantik ini?" tanya Baekhyun mengamati dengan detail figura yang sedang dipegangnya.
"Itu kakaku, namanya Yoora." Jawab Chanyeol sebelum mengembalikan atensinya pada proposal yang sedang dipegangnya.
"Aaah.." Baekhyun mengangguk - anggukan kepalanya sambil meletakan kembali figura itu pada tempat asalnya.
Baekhyun dengan tidak tahu malunya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dan mengambil sebuah bantal untuk dipeluknya.
"Bahkan kasurmu juga beraroma kopi." Gumam Baekhyun yang dapat didegar oleh Chanyeol
"Padahal aku tidak menggunakan pengharum apapun yang beraroma kopi." Ucap Chanyeol masih berfokus pada proposal di tanganya.
Baekhyun menghadapkan tubuhnya ke arah Chanyeol dengan posisi meringkuk sambil memeluk sebuah bantal.
"Kau minus?" Tanya Baekhyun saat menyadari Chanyeol tengah menggunakan sebuah kacamata berlensa logam.
"tidak terlalu parah.. kaca matanya hanya kugunakan saat membaca saja." Chanyeol melirik ke arah Baekhyun sekilas dan kembali fokus pada tumpukan kertas di tanganya.
Keduanya terus melakukan hal serupa untuk satu jam kedepan, membicarakan beberapa hal yang tak terlalu penting hingga hal yang penting. Seperti perlombaan paduan suara yang sangat ingin Baekhyun ikuti, dan perlombaan basket yang tak lama lagi akan digelar di kampusnya. Chanyeol sempat meminta Baekhyun untuk selalu berada didekatnya selama Ia latihan hingga perlombaan dimulai nantinya. Karena Ia tidak mau mengalami cidera yang dapat menghambatnya bermain basket. Dan Baekhyun tentu saja tidak mau menjadi sumber kegagalan tim basket kampusnya, sehingga dengan suka rela Ia mengiyakan permintaan Chanyeol.
"Nanti kau akan kukenalkan pada semua teman basketku. Pasti kau belum mengenal semua anggota tim basket kampus kan?"
Hening.. tidak ada suara apapun yang terdengar untuk beberapa detik.
"Baek?" Panggil Chanyeol karena ucapanya tidak kunjung mendapatkan respon. Saat Ia alihkan pandanganya pada posisi Baekhyun berada, rupanya lelaki itu tengah tertidur di atas tempat tidurnya dalam posisi yang eerr.. tidak etis. Melihat hal itu Chanyeol hanya tertawa kecil.
"Pasti dia kelelahan."
Chanyeol bangkit dari sofanya dan melangkah menuju tempat tidurnya. Setelah sampai di ujung tempat tidurnya, netranya dapat dengan jelas melihat posisi tidur Baekhyun yang unik. Tubuh mungil itu tengah tertidur dengan posisi terlentang dengan kedua kaki dan tanganya terbentang seakan Ia sedang dalam posisi terjun bebas. Tubuhnya tepat berada di bagian tengah kasur sehingga membuat seluruh permukaan kasur itu tertutup oleh anggota badan Baekhyun. Dan jangan lupakan wajah tidur yang mirip anak anjing itu.
Chanyeol menumpukan salah satu lututnya ke atas kasur, Ia tengah berusaha mengangkat tubuh itu dan memindahkanya pada posisi yang seharusnya, setidaknya masih menyisakan cukup ruang untuknya tidur nanti.
"eeungghh.." lenguhan itu berasal dari Baekhyun. Ia merasa terganggu ketika tubuhnya merasakan guncangan.
"sshh..sshh..sshh.." desis Chanyeol berusahan menenangkan Baekhyun agar tidak terbangun dari tidurnya. Ia letakan tubuh itu perlahan, dengan hati – hati memposisikan kepala bersurai hitam itu tepat di atas bantal. Setelah Baekhyun dirasa nyaman dengan posisi barunya, Chanyeol menarik selimut dan menutup tubuh yang tengah meringkuk itu hingga batas sikunya.
"aakhh! pinggangku sakit." Celetuk Chanyeol sambil mengelus pingganya yang baru saja menahan bobot tubuh seorang lelaki dewasa.
Ia kembali ke sofanya dan melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda. Chanyeol memalingkan wajahnya sekilas ke arah jam dinding dan mendapati waktu yang sudah menunjukan pukul satu dini hari. Melihat tumpukan bundel kertas yang sudah menipis, menandakan bahwa sebentar lagi Ia akan segera menyelesaikan tugasnya. Ia regangkan otot - otot lehernya sebentar lalu melanjutkan kegiatanya lagi.
05.30 a.m.
Ia merasakan sesak pada saluran nafasnya, rasanya seperti ada sebuah benda yang menekan dadanya sehingga menyebabkan jalur pernafasanya terganggu. Perlahan Ia buka kelopak matanya untuk memastikan apa yang tengah terjadi pada tubuhnya itu. Ternyata selain pernafasan yang sesak, tubuhnya juga terasa sulit untuk digerakan. Ia merasa seperti sedang dikekang sekarang. Saat kesadaranya mulai terkumpul dan kabut di matanya mulai menghilang, Ia dapati tubuhnya tengah direngkuh oleh sebuah lengan berotot dan sebuah kaki yang berat dan panjang.
Ia tahu siapa pemilik kedua anggota tubuh itu "dia pikir aku guling apa?" gerutunya.
Lelaki yang baru saja terbangun dari tidurnya itu perlahan memindahkan lengan itu dari atas dadanya kemudian berlanjut pada kaki jenjang yang menindih kedua kakinya. Ia tidak mau membangunkan lelaki yang sepertinya baru tidur beberapa jam saja. Setelah terbebas dari kekangan itu, Ia hadapkan tubuhnya ke arah lelaki jangkung yang masih tertidur pulas di hadapanya. Manik matanya berkedip lucu mengamati luka – luka di wajah tenang itu.
"syukurlah.." gumamnya tanpa suara saat mendapati luka – luka itu sudah mengering seutuhnya.
Lelaki yang memiliki postur lebih kecil itu masih bertahan di posisinya, Ia masih belum mau baranjak dari atas kasur berukuran king-size yang sekarang terlihat sempit karena dihuni oleh dua orang lelaki dewasa. Sepasang manik emerald itu masih telaten memandangi lawanya dengan pandangan yang tidak dapat dibaca. Ia tengah memikirkan kembali cerita yang disampaikan oleh Paman Kim kemarin sore. Hingga sebuah pertanyaan muncul di benaknya, mengapa leluhurnya dengan sukarela megorbankan nyawanya sendiri hanya untuk melindungi seorang pemuda desa yang ceroboh, yah walaupun di akhir cerita pemuda itu tetap melakukan perbuatan yang benar. Tetapi karena kecerobohanya itu kutukan ini mulai terjadi.
Baekhyun tidak tahu jika perbuatan yang ia bilang sembrono itu merupakan hasil dari sebuah perasaan yang mengakar kuat di masing – masing hati leluhurnya dan leluhur Chanyeol. Perbuatan yang jika difikir dengan akal sehat sangat tidak masuk akal, tetapi kenyataanya itulah yang terjadi. Itulah bentuk paripurna dari sebuah perasaan yang disebut dengan cinta, yaitu pengorbanan. Bahkan saking kuatnya perasaan di antara dua jiwa itu mampu merayu takdir untuk kembali mempertemukan kedua jiwa itu dalam bentuk dan waktu yang berbeda. Baekhyun rupanya telah lupa bagaimana jantung dan tubuhnya memberikan respon diluar kesadaran saat manik emeraldnya bertemu dengan manik emerald Chanyeol di kali pertama. Mungkin bukan kata lupa yang tepat, tetapi kata belum menyadarinya-lah yang seharusnya dipilih.
"aku ada sift kerja siang ini" gumamnya ketika menyadari jadwal kerjanya di hari minggu.
Ia bangkit dari posisi tidurnya dengan sangat hati – hati, lagi - lagi karena alasan yang sama. Ia bangkit dan melangkah menuju posisi ranselnya berada. Ia kemasi semua barang – barangnya dan melangkah menuju pintu keluar. Ia sengaja tidak menggunakan kamar mandi terlebih dahulu, takut – takut membangunkan lelaki yang sama sekali tidak bergerak dalam tidurnya itu. Ketika Ia sudah berada di luar kamar sebuah suara yang dikenalinya tiba – tiba terdengar.
"Selamat pagi Tuan Baekhyun" sapa Pelayan utama rumah itu ramah.
"Aaah.. Paman, kau mengagetkanku" ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maafkan aku, semalam aku tidak sengaja ketiduran di kamar Chanyeol" pintanya pada Pria paruh baya itu karena merasa tidak enak telah menginap di rumah orang tanpa izin.
"Tidak apa- apa Tuan, Jika Tuan Muda mengizinkanya tentu saja seluruh penghuni rumah ini pun juga demikian." Jawabnya sopan.
"ehehehe... terima kasih Paman. Ohya, jangan beritahu Chanyeol jika aku pulang tanpa sepengetahuanya. Aku tidak enak membangunkanya karena sepertinya dia baru saja tidur sebentar." Ucap Baekhyun sambil memegangi ranselnya.
"Baik Tuan. Apakah Anda akan pergi sekarang? Jika iya, akan saya suruh supir mengantarkan Anda."
"tidak usah Paman, aku berjalan kaki saja. lagipula ini masih pagi, jadi udaranya sangat bagus untuk berjalan kaki." Ucap Baekhyun sambil mengibas - kibaskan tanganya.
"Jangan Tuan, nanti Tuan Muda bisa marah. Apalagi jarak halte terdekat cukup jauh dari rumah ini." Ucap Tuan Kim dengan nada yang terdengar khawatir.
"Tentu saja jangan beritahu dia kalau aku berjalan kaki. Bilang saja aku diantar oleh salah satu pelayanya. Pleaseee Paman.. aku ingin berolahraga pagi" Baekhyun merapatkan kedua telapak tanganya memohon.
Melihat Baekhyun memohon dengan wajah manisnya, Tuan Kim tidak bisa mengatakan kata tidak. "Baiklah Tuan. Tolong hati – hati di perjalanan Anda" Ucap Tuan Kim sambil membungkuk pada Baekhyun.
"Siaaap Paman" ucapya dengan senyum yang menunjukkan deretan gigi rapihnya.
Baekhyun pergi meninggalkan rumah Chanyeol setelah berpamitan pada semua pelayan yang berpapasan denganya. Paru - parunya disambut oleh udara yang sejuk saat tubuhnya telah tiba di halaman rumah yang dipenuhi dengan berbagai jenis tanaman hias. Ia langkahkan kakinya menuju gerbang dan berlanjut menuju halte bus dengan senyuman yang terplester di wajahnya.
Ketika sepasang kaki itu berjalan di jalanan yang sepi, tiba – tiba dalam pikirnya muncul sebuah pertanyaan yang belum sempat Ia sampaikan kepada Tuan Kim.
Bagaimana jika Ia sekarat, siapa yang akan mati terlebih dahulu, dirinya atau Chanyeol? Atau jika Ia mati terlebih dahulu, apakah lukanya juga masih akan ditransfer ke tubuh Chanyeol?
Pertanyaan itu tidak akan terjawab sampai tiba waktunya nanti.
.
.
-TBC-
Next chapter preview
Ketika kedua lelaki berbeda tinggi itu tengah asyik mengobrol di pinggir lapangan tiba – tiba sebuah jaket mendarat tepat di wajah lelaki yang memiliki postur lebih kecil.
"YAK! APA YANG KAULAKUKAN!"
"Itu! Kukembalikan jaketmu yang tertinggal di kamarku saat kau menginap beberapa hari yang lalu."
Semua orang yang berada di lapangan itu tengah ternganga setelah mendengar pernyataan yang disampaikan oleh lelaki yang barusaja melempar sebuah jaket. Bukanya mengelak atau mencari alasan, pelakunya kini malah tengah menyunggingkan sebuah seringaian yang menandakan bahwa rencananya berbuah manis.
main yuk..
Ada satu quiz ni untuk chapter Fate XI..
Ada yang bisa nebak ngga, noda darah yang ada di buku Chanyeol itu asalnya dari mana?
kalo ada yang tahu jawabanya, boleh tulis di kolom review
*hint :
Jawabanya ada di chap : Fate VIII
