Chapter 11 : Almost
a/n aku sengaja bikin jongin's pov.. next chapter baru sehun's pov.. dan tbh aku masih bingung sama ending fanfic ini.. antara sad or happy
wajib denger lagu Christina Perri's Human waktu baca chapter ini
.
Port of Busan.
Pelabuhan ini bisa dibilang adalah salah satu sumber penghasilan Korea Selatan. Lalu lintas pelabuhan yang sangat padat, bahkan sampai hari ini. Membuat banyak perusahaan mendirikan pabrik, pangkalan kapal atau gudang di sekitar pelabuhan. Salah satu dari perusahaan itu adalah perusahaan milik ayahnya.
Jongin tidak tahu apa yang membuatnya begitu yakin kalau Chanyeol menyekap Joonmyun di sana. Ketika, rombongan agent berpencar mencari Joonmyun serta komplotan Chanyeol di sekitar pelabuhan. Jongin langsung membisikkan firasatnya itu ditelinga Sehun. Diluar dugaannya, tanpa bertanya atau membantah, Sehun mengikuti firasatnya yang mungkin salah itu.
Gudang milik perusahaan ayahnya ini sudah lama terbengkalai. Dua tahun yang lalu, ayahnya memilih untuk memperluas area pangkalan kapal mereka daripada membangun gudang baru. Jongin melompat turun dari atas motor. Gudang tersebut letaknya berada di pinggiran dermaga. Tidak ada kapal yang terparkir di sekitar area gudang. Hanya ada beberapa box kayu yang ditumpuk ke atas tidak jauh dari gudang. Jongin menerawang jauh ke arah lautan di seberang sana. Ia dapat melihat cahaya matahari yang memantul di permukaan air. Ini bukan pemandangan yang dapat dilihatnya setiap hari.
"Aku tidak pernah ke sini sebelumnya," celetuk Sehun dari sampingnya.
Jongin tersenyum. Ini bukan pertama kalinya dia mengunjungi Port of Busan. Dahulu, Joonmyun sering mengajaknya ke sini hanya untuk duduk berjam-jam menemani pria itu memancing. Mereka juga sering duduk di tepi dermaga. Mengamati permukaan air yang tampak dangkal serta menunggu mentari terbenam bersama. Setiap mengingat hal itu, Jongin merasa apa yang telah Joonmyun lakukan padanya hanyalah sebuah mimpi buruk. Dan saat ia terbangun nanti, dia tidak akan pernah menghadapi fakta bahwa Joonmyun benar-benar telah mengkhianatinya.
Sehun tentunya tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Namun, pria itu cukup tahu untuk merasa dia harus menggenggam tangannya. Telapak tangan Sehun terasa basah, mungkin oleh keringat. Apa pria itu merasa gugup? Apa mungkin.. pria itu merasakan ketakutan yang sama seperti dirinya?
Jongin berbalik menghadap Sehun. Dia tahu kalau ini bukan saat yang tepat untuk menyelami mata hitam pekat Sehun atau mengamati garis wajahnya yang tegas. Dia juga tahu kalau ini bukan saat yang tepat untuk mendekatkan wajahnya pada Sehun, lantas mengecup bibir pria itu dengan lembut. Namun, meski begitu dia tetap melakukannya. Tidak ada yang bisa menghentikan dirinya untuk melakukan semua ini pada Sehun.
Ketika, Jongin memundurkan wajahnya dari pria itu. Mata mereka bertemu dan terpaku, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat memutuskan kontak mata ini. "Aku mencintaimu," kata Sehun tiba-tiba. Dan untuk pertama kalinya, Jongin merasa benci ketika Sehun mengucapkan dua kata itu.
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Seolah, itu adalah salam perpisahan darimu," balas Jongin. Pemuda itu menggigit bibir. Menahan seluruh perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya serta firasat buruk yang mulai mengacaukan pikirannya.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Sehun. Pria itu hanya menatap dirinya lalu mencium bibirnya. Kali ini, lebih bersungguh-sungguh. Seolah, saat ini adalah saat terakhir mereka. Dan Jongin semakin membencinya. Sehun harus berhenti melakukan semua ini padanya. Karena Jongin percaya, kalau setelah ini, apapun yang terjadi, mereka akan kembali bersama.
Jongin akan kembali pulang ke rumahnya – ke dalam dekapan pria itu.
Jongin memperhatikan Sehun yang sedang mengamati sekeliling mereka. Ada empat mobil pickup berwarna hitam yang terlihat mencurigakan. Mata pria itu lalu beralih pada pintu gudang yang tidak tergembok seperti gudang lainnya. Jongin dapat melihat perubahan wajah pria itu dan menyimpulkan kalau firasatnya.. ternyata benar. Inilah tempatnya.
Sehun segera menghubungi agent lainnya lewat chip komunikasi yang menyumpal telinganya. Dia menekan chip tersebut di dalam telinganya lalu mulai menerangkan keadaan di sekitar gudang. Begitu pria itu selesai memberikan informasi pada seluruh agent, dia berbalik kembali pada Jongin. Mata hitam pekatnya terlihat lebih gelap dari biasanya. "Aku mau kau mendengarkanku dengan saksama," katanya, yang kemudian dianggap pertanda buruk oleh Jongin. "Ini rencanaku; aku akan mencari Chanyeol beserta beberapa agent lainnya, kau dan LE mencari Joonmyun, dan sisa agent lainnya akan menangani anak buah Chanyeol," terang Sehun.
"Kenapa harus kau yang mencari Chanyeol? Kenapa bukan aku?" tanya Jongin. Pemuda itu berpikir kalau rencana Sehun sangat konyol. Kenapa mesti Sehun yang menghadapi Chanyeol? Kenapa bukan dirinya? Sehun bukanlah orang yang hidupnya dibuat kacau oleh pemuda itu.
"Karena.." Sehun menjeda perkataannya cukup lama. Memainkan bola matanya tampak menghindari sorot tajam dari mata Jongin. "aku benar-benar tidak ingin berdebat denganmu sekarang," katanya kemudian.
Jongin juga tidak ingin berdebat dengannya. Dia hanya ingin Sehun berhenti menjadi sosok pahlawan yang beranggapan kalau dia menyelamatkan semua orang di sini. Karena pada kenyataannya, Oh Sehun bukan seorang pahlawana atau superhero dan ini bukan Mission Impossible seperti yang pria itu bilang. Selalu ada kemungkinan kalau misi ini akan berakhir gagal. Jongin tidak mau kalau Sehun berperan menjadi pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi misi ini. Karena sekali lagi, Sehun bukan seorang pahlawan. Dia hanya seorang manusia biasa yang selama ini melindunginya, menjaganya dan berhasil membuat dirinya jatuh cinta pada pria itu.
Ketika, rombongan para agent datang. Jongin memilih untuk mengasingkan dirinya. Ia tidak ingin mendengarkan strategi penyerangan yang katanya hebat itu dari Sehun. Ia hanya ingin mendengarkan suara ombak, burung yang melintasi langit dan kapal yang siap berlayar. Untuk sesaat saja, ia ingin menikmati semua ini.
"Kau baik-baik saja?" tanya LE yang daritadi memperhatikannya.
"Menurutmu?" Jongin mencoba untuk bercanda. Namun, suaranya terdengar parau dan senyumannya terlihat getir.
"Aku sudah mendengar rencana Sehun. Dan aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran pria idiot itu. Ada baiknya, kalau kita menyerbu Chanyeol bersama-sama," wanita itu tampak gusar, berbeda dari sosok pemberani yang Jongin lihat di markas tadi. Jongin yakin ada sesuatu yang mengganggu wanita itu. "Aku mempunyai firasat buruk akan misi ini," kata LE setengah berbisik.
Jongin melempar pandangannya ke ujung laut. Sesungguhnya, dia juga merasakan hal yang sama. Sebut dirinya paranoid, namun firasat kalau misi ini akan berakhir gagal selalu ada mengusik dirinya. "Mari berharap kalau itu hanya sekedar firasat yang tidak berarti apa-apa," balas Jongin. Suaranya bergertar dan senyuman dibibirnya semakin kaku. Ia sendiri pun tidak memercayai apa yang baru saja dikatakannya, begitupun dengan LE.
Namun, LE menganggukkan kepalanya. Mereka sama-sama berpura-pura kalau misi ini akan berakhir sukses. Dan mungkin memang itulah yang harus mereka lakukan sejak tadi. Berpura-pura kalau semuanya akan baik-baik saja. Berpura-pura kalau rencana Sehun adalah rencana terbaik. Berpura-pura kalau ini bukanlah hari terakhir mereka.
.
.
Sehun sebagai pemimpin dalam misi ini, mengatur formasi para agent yang terbagi menjadi tiga. Formasi baris pertama adalah enam agent yang mengikutinya. Formasi baris kedua adalah sepuluh agent yang nantinya akan menahahan anak buah Chanyeol. Formasih baris terakhir adalah empat agent yang akan mencari Joonmyun bersama dengan LE dan Jongin. Begitu mereka memasuki area gudang, ketiga formasi itu akan berpencar sesuai dengan tugas yang telah diberikan. LE dan Jongin hanya terdiam memperhatikan ketika Sehun sedang memberikan instruksi. Tidak ada satu pun dari mereka yang fokus mendengarkan Sehun. Terutama Jongin.
Pemuda itu berdiri di barisan paling belakang bersama dengan LE. Satu tangannya sudah merogoh masuk menggenggam pistolnya erat. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan misi ini; menyelamatkan Joonmyun, menghabisi Chanyeol dan memastikan kalau Sehun dapat keluar dari sini bersamanya. Dia tidak peduli dengan rencana pria itu atau penjelasannya tentang formasi. Yang ingin dilakukannya sekarang hanyalah mencium bibir pria itu dan membuatnya berjanji kalau mereka akan bersama-sama keluar dari gudang ini. Dalam keadaan hidup.
Sehun memberi waktu sebentar bagi para agent untuk mempersiapkan senjata dan amunisi mereka. Jongin masih berdiri di tempatnya. Menatap lurus kepada Sehun yang melangkah mendekati dirinya. Tanpa bicara atau berbasa-basi, Sehun langsung menangkup wajah Jongin dan menciumnya dengan lembut. Ciuman Sehun berbeda dari ciuman pria itu yang biasanya. Ciuman Sehun kali ini sangat lambat seolah pria itu tidak ingin melewatkan setiap detiknya bersama Jongin. Dan jujur saja, itu membuat Jongin takut.
Sehun menciumnya seolah ini adalah ciuman terakhir mereka.
Ketika, Sehun melepaskan ciumannya dari bibir Jongin. Pemuda itu langsung mengatur nafasnya yang terengah. Matanya masih menatap lurus pada Sehun seperti menantang pria itu untuk mengatakan kata-kata bullshit padanya. Sehun menghela nafas. Kedua tangannya perlahan menjauh dari pipi Jongin. "Aku mencintaimu," bisik Sehun sambil menempelkan keningnya pada Jongin.
Jongin memejamkan matanya. Dia tidak ingin melihat mata Sehun yang berkaca-kaca. Dia tidak ingin melihat air mata yang berkumpul dipelupuk mata pria itu. Dia yakin kalau Sehun bisa menyelesaikan misi ini. Sekarang, dia memercayainya. "Kau harus memercayai dirimu sendiri," kata Jongin masih memejamkan matanya.
"Kalau begitu, kau juga harus percaya padaku jika aku bisa membawa kalian semua keluar dari sini dengan selamat," lalu, Sehun mengecup keningnya.
Kali ini, pria itu benar-benar melepaskannya. Jongin tidak dapat merasakan sentuhannya lagi. Suatu ketakutan kembali hadir memenuhi dirinya. Dia ingin menggapai Sehun dan berkata kalau mereka harus melewati semua ini bersama. Namun, Sehun sudah pergi menjauh darinya menuju barisan paling depan.
Seluruh agent sudah bersiap diposisi mereka masing-masing. LE berdiri di samping Jongin yang masih termenung memperhatikan punggung Sehun di depan sana. Barisan mulai bergerak maju menuju ke arah gudang. Dua orang agent yang berada di barisan depan mendorong pintu gudang itu. Barisan pertama perlahan masuk ke dalam gudang. Disusul oleh barisan kedua lalu ketiga. Begitu seluruh agent berada di dalam gudang yang dipenuhi oleh tumpukan peti kayu itu, Sehun segera memberikan aba-aba untuk berpencar. Tepat setelah selesai memberikan aba-aba, beberapa anak buah Chanyeol yang sudah menunggu di balik tumpukan peti memulai serangan mereka. Baku tembak pun terjadi. Barisan kedua segera bergerak maju melindungi barisan pertama, menjadi tameng bagi mereka.
"Cepat pergi! Joonmyun, mungkin ada di lantai dua," teriak Sehun pada LE. Wanita itu langsung menurut. Dia memberikan instruksi pada keempat agent barisan ketiga untuk mengikuti dirinya.
Jongin terdiam sejenak mengamati Sehun yang sedang mengarahkan senapan laras panjangnya. Pria itu menekan pelatuk lalu mengarahkan senapan ke arahnya. Ketika, pandangan mereka bertemu. Sehun segera menurunkan senapannya. Pria itu tersenyum padanya seolah berkata semua akan baik-baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan olehnya.
Sebelum, Jongin sempat membalas senyuman Sehun. LE sudah menariknya mengikuti rombongan yang sudah menaiki tangga menuju lantai dua. Sejenak, mata Jongin terpaku pada Sehun. Pria itu masih mengulum senyum dibibirnya. Dan Jongin mulai merasa sedikit lebih tenang setiap mengingat sudut bibir Sehun yang tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman hangat. Ketika, kontak matanya terputus dengan Sehun. Seluruh fokus Jongin langsung tertuju pada rombongan di depannya. Dia mengangkat pistol dari balik jaketnya, menggenggam pegangan pistol itu dengan erat. Dia siap menekan pelatuk jika ada seseorang yang berani menghalangi jalannya.
Ia harus menemukan Joonmyun. Lalu, bergegas pergi dari gudang ini bersama dengan para agent lainnya, LE dan terutama dengan Sehun.
Dua agent berjaga di belakangnya dan dua agent berada di depannya. LE dan Jongin berada di tengah keempat agent yang ditugaskan untuk menjaga mereka berdua oleh Sehun. Berbeda dengan situasi di bawah sana, situasi di lantai dua benar-benar sunyi. Tidak ada suara pergerakan dari dalam ruangan yang pintunya dibiarkan terbuka. Tidak ada suara tembakan, geraman ataupun teriakan. Situasi yang terasa ganjil ini membuat mereka semua menjadi semakin waspada.
Dua orang agent yang memimpin di depan memeriksa setiap ruangan di lantai tersebut. Hingga, mereka berhenti di ambang pintu ruangan terpojok di lantai dua. Salah seorang agent beralih pada LE dan Jongin yang mempercepat langkah mereka. Kedua agent itu mempersilahkan Jongin masuk terlebih dahulu. Dengan ragu, Jongin mengambil langkah masuk ke dalam ruangan yang tidak memiliki ventilasi udara serta terdapat empat pilar yang menopang lantai di atasnya. Pada salah satu pilar tersebut, kedua tangan Joonmyun diikat sementara kakinya dibiarkan terkulai lemas.
Jongin segera berlari menghampiri Joonmyun. Dia berlutut di hadapannya mengamati wajah Joonmyun yang babak belur. Keringat bercampur darah membasahi wajahnya. Jongin yakin kalau dibalik kaos putih yang bukan milik Joonmyun ini. Tersembunyi banyak luka akibat siksaan yang selamanya akan membekas ditubuh Joonmyun.
LE segera membantu Jongin melepaskan ikatan pria itu. Sedangkan, keempat agent lainnya berjaga-jaga di sekitar ruangan. Dengan bantuan LE, Jongin membopong Joonmyun yang tidak sadarkan diri keluar dari ruangan.
Misi penyelamatan ini terlalu mudah. Chanyeol seolah sengaja mengembalikan Joonmyun padanya. Dari caranya yang mengosongkan lantai dua dan menempatkan Joonmyun di dalam satu ruangan tanpa ada penjagaan. Jongin yakin kalau di balik semua ini ada suatu rencana utama yang pemuda itu telah susun. Bagaimana kalau ternyata misi penyelamatan Joonmyun adalah bagian dari rencana utama Chanyeol?
Salah seorang agent yang masih berada di dalam ruangan berteriak, memberitahukan sesuatu. "Ada jalan pintas menuju keluar gudang di dalam ruangan ini!"
Jongin tertegun sejenak. Apa ini juga adalah bagian dari rencana Chanyeol? Apa pemuda itu benar-benar melepaskan tahanannya semudah ini? Atau jangan-jangan memang ada rencana lain? Banyak pertanyaan serta dugaan berputar di dalam otak Jongin. Namun, pemuda itu tidak berani untuk mengungkapkannya. Mungkin, Chanyeol memang tidak secerdas yang dirinya kira. Mungkin, dirinya saja yang terlalu parno. Ya, cobalah berpikir positif!
Jalan pintas itu berupa tangga besi yang berada di bawah lantai. Jongin ingat kalau dirinya pernah mengerjai Joonmyun dengan mengurung diri di dalam ruangan ini lalu keluar dari tangga rahasia itu. Jongin dan LE menyerahkan Joonmyun pada dua agent yang bertubuh lebih kekar daripada mereka.
Tangga itu curam dan tidak terbilang aman. Jika saja, Jongin memiliki phobia dengan ketinggian. Mungkin, ia tidak akan bisa menuruni setiap anak tangga itu. Begitu mereka semua sampai di bawah, salah seorang agent yang ternyata telah dipilih oleh Sehun sebagai pemimpin berkata, "Sepertin perintah Sehun, setelah kita berhasil keluar dari sini. Kita harus segera menuju markas."
Jongin dapat mendengar suara baku tembak dari dalam gudang. Ia dapat mendengar suara teriakan. Ia juga dapat merasakan jantungnya yang berdetak semakin cepat. Ada sesuatu yang tidak beres di sini. Chanyeol tidak mungkin melepaskan dirinya semudah ini. Pemuda itu pasti telah menyiapkan suatu rencana untuk menghancurkannya.
Jika selama ini Chanyeol beranggapan, kalau dirinya telah merenggut orang yang paling dicintai pemuda itu. Maka, satu-satunya cara untuk membuat dirinya merasakan hal yang sama seperti Chanyeol adalah.. merenggut orang yang dicintainya sekarang. Merenggut Oh Sehun dari hidupnya.
Ya, itulah rencana utama Chanyeol. Menculik Joonmyun dan menyiksa pria itu hanyalah sebuah pengalihan dari rencana utama.
Mereka sudah berada di kawasan aman. LE sudah menyalakan mesin motornya, begitupun dengan para agent lainnya yang baru saja membaringkan Joonmyun di dalam mobil. Jongin yang baru menyadari semuanya segera berlari menuju ke arah gudang. Dia mengabaikan teriakan LE yang terus-menerus memanggilkan namanya. Dia mengabaikan suara deburan ombak yang menghantam badan kapal. Dia mengabaikan bayangan bayangan wajah Sehun yang tersenyum manis padanya. Dia mengabaikan rasa takut serta perih yang menyayat hatinya.
Ketika, dirinya sampai di pertengahan. Suara ledakan dari arah gudang terdengar. Jongin menahan nafas. Dia memejamkan matanya saat tubuhnya terhempas ke belakang akibat ledakan tersebut. Rasa nyeri diseluruh tubuhnya terlupakan begitu dia membuka matanya.
Api. Hanya nyala api yang membakar gudang tersebut yang dapat dilihatnya.
Jongin kembali menahan nafas. Kali ini, lebih lama daripada sebelumnya. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali menolak apa yang dilihatnya. Air mata yang mendesak dipelupuk matanya mengalir jatuh. Pandangan matanya kosong menatap lurus ke arah api itu. Dia tidak mampu menggerakkan seluruh organ tubuhnya. Seketika, Jongin mati rasa. Ia tidak dapat merasakan apapun.
Ia terisak. Di dalam hatinya, berkali-kali meneriakkan nama Sehun berharap pria itu dapat mendengar dan kembali padanya. LE yang sudah berlutut di belakangnya tak mampu berkata-kata dan hanya memeluknya. Jongin memejamkan matanya untuk sedetik saja. Membayangkan kalau Sehun lah yang sedang memeluknya sekarang.
Membayangkan kalau pria itu sedang mengecup puncak kepalanya.
Membayangkan kalau pria itu sedang berbisik 'aku mencintaimu' padanya.
Membayangkan kalau akhirnya dia dapat pulang ke rumahnya.
Namun, pada kenyataannya.. Sehun tidak ada di sini. He's gone.
.
.
Rin's note :
Asdfghjkl aku mau cerita sedikit soal apa yang terjadi hari ini.. jadi sekitar pukul 7 malam, aku dapat notifikasi email dari ffn.. ternyata ling-ling PM aku.. (ling-ling itu salah satu panitia atau creator project Hunkai in Luv bareng Lulu)
Dan pas baca PM-nya yang berisi 'Selamat kamu mendapat : JUARA..'
Aku langsung cengo! Langsung brain-freeze bingung mau bereaksi kayak apa.. terus akhirnya aku loncat-loncat kesenengan terus kalau bisa salto.. mungkin aku salto.. but, intinya aku seneng banget! Dan nggak nyangka aja karena banyak karya dari para author lainnya yang lebih keren daripada ffku.. so, thanks God and thanks for the jurys who gave me this oppurtunity to win the project.. #bahasainggriskacau
Dan ofc thanks buat kalian para readersku yang selalu setia baca ffku, kasih feedback, dan pokoknya bikin aku tetap semangat untuk berkarya di ffn..
Ini benar-benar early birthday gift banget! Once again, thank you sooo much..
p.s ultahku tanggal 1 september #kode #mintadikasihkado #kadonyakjiatooshaja
p.s.s if u want to ask or just talk to me.. go to my askfm or you can PM me
