Saya bukan pemilik Naruto atau Fairy Tail!
Golden Wizard – Chapter 11
Di mana ini?
Gelap.
Itulah yang Naruto dapati sepanjang mata memandang. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi kini ia terkurung dalam kegelapan begitu melahap banyak Api Abadi di Desa Matahari.
Setelah berhasil berpindah menggunakan sihir perpindahan berkat bantuan Shirone sebelum semburan Acnologia mengenainya, Naruto terdampar 3 Km dari desa yang di huni manusia raksasa. Dia lantas meminta Shirone untuk membawanya ke desa itu, berharap bisa melahap Api Abadi milik Desa Matahari agar kekuatan sihirnya dapat pulih lebih cepat.
Namun rencana Naruto tidak berjalan dengan baik, sebab seusai memakan Api Abadi, organ dalamnya justru terasa dicabik-cabik. Setelah itu, semua menggelap, mengantarkan Naruto pada situasi yang saat ini sedang ia hadapi.
Situasi yang mengingatkan dengan kejadian ketika ia baru saja mengalahkan 'Sang Pencerah' pada pertempuran yang berlangsung di Penjara Hōzuki. Andai saat itu tidak ada Ryuzetsu, mungkin ia akan merasakan penderitaan yang sama dengan Miku. Terkurung seorang diri dalam gelap, tanpa keluarga, teman, bahkan tidak ada seorang pun yang dapat diajak berinteraksi.
Benar-benar terkurung dalam kegelapan!
Berdiri seorang diri, diselimuti kesunyian, hidup dalam gelap tanpa pencahayaan. Dia sudah berjalan, bahkan berlari untuk menyusuri semua area, tapi hasilnya nihil, kegelapan yang menemaninya seakan tiada ujung. Sihir yang ia miliki sama sekali tidak bisa digunakan, seakan-akan dirinya bukan lagi seorang penyihir.
Pikiran Naruto terus berusaha meminta untuk menyerah, sedangkan hatinya selalu menyarankan agar bertahan.
Ninja adalah orang [Shinobi] yang menanggung beban!
Kalimat itu seakan tertulis di hati Naruto, dan selalu terngiang ketika semangatnya mulai memudar.
Naruto tidak tahu sudah berapa lama ia terpenjara dalam gelap, tapi waktu yang ia lalui terasa begitu lama. Terlebih lagi tubuhnya berlahan menjadi dingin, tidak ada...
"..." Naruto terdiam sambil mengerjapkan mata berkali-kali, ia kini bisa melihat secerca cahaya tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tanpa sadar, dengan berlahan kakinya melangkah menuju sumber cahaya.
Tap!
Tap! Tap!
Tap! Tap! Tap!
Seiring waktu, kaki Naruto melangkah semakin cepat. Dia mengulas senyum tipis, seolah harapan telah terkabulkan. Dia berlari kencang, berharap dapat menggapai cahaya tadi secepat mungkin. Lambat laun ia bisa menyadari bahwa usaha kerasnya tidak berarti, sebab jaraknya dengan cahaya yang ingin digapai tidak pernah berubah, meskipun ia sudah berlari sekuat tenaga.
Begitu Naruto berusaha melangkahkan kaki kembali, ia dikejutkan dengan pergerakan cahaya tadi yang dengan cepat mendekatinya.
"Lemah!" Bisikan lirih memasuki telinga Naruto.
"Huh?"
"Kau lemah, Naruto Uzumaki!"
Naruto menaikkan alisnya. "Maksudmu?"
"..." Sesaat Naruto tidak lagi mendengar jawaban. "Tch... selain lemah, kau juga bodoh."
"Huh?"
"Kenapa kau tidak menggunakan semua kekuatanmu untuk melawan Acnologia? Kau bisa menciderainya lebih parah jika kau masuk dalam mode Dragon Force! Selain itu..."
"Memangnya kau siapa?"
"Hahaha~ tentu saja aku dirimu!"
"Itu tidak mungkin." Tepi bibir Naruto terlihat berkedut. "Aku memang tidak pintar, tapi tetap saja tidak sebodoh dirimu."
"KAU..."
"Apa untungnya menciderai Acnologia lebih parah kalau belum bisa mengalahkan dan membunuhnya?"
"Huh~ maksudmu?"
Naruto mendesah panjang. "Kau memang bodoh! Tidak mungkin kalau kau adalah diriku, seperti sisi gelapku."
"HEI!"
"Bayangkan, aku menggunakan Dragon Force, melukai Acnologia lebih parah, terus apa? Aku akan terluka lebih parah dari sekarang, menarik perhatian Naga Hitam itu sebab melukai harga dirinya. Setelah luka yang Acnologia derita sembuh, dia akan mengejarku, mungkin justru menghancurkan beberapa daerah yang dihuni manusia untuk memancingku keluar. Dia sudah terbiasa berurusan dengan manusia, karena dia sendiri merupakan mantan manusia. Apa itu maumu? Menimbulkan malapetaka sebab kesombongan, dan pada akhirnya mati di tangan naga yang sama karena saat ini belum memiliki kekuatan cukup untuk mengalahkan Acnologia. Jika itu terjadi, maka aku tidak akan pernah bisa kembali ke Negeri Elemen, bertemu dengan teman-teman lamaku."
"Tapi..."
"Lebih baik seperti ini! Kalah darinya, tapi tetap memberikan perlawanan wajar bagi seorang manusia. Dia sedikit menghormatiku, tapi tidak menganggapku sebagai ancaman sehingga terlepas dari perhatiannya. Terlebih lagi aku yakin dia akan menganggapku mati. Itu akan memberikan kebebasan dan waktu padaku untuk memperkuat diri. Meskipun aku masih berharap bisa kembali ke Negeri Elemen sebelum bertemu dengan Naga Hitam itu, sehingga terhindar dari pertarungan melawannya lagi." Jelas Naruto sambil menutup mata.
"Itu... masuk akal."
"Jadi kau bukan diriku?"
"Aku adalah dirimu!" Hening. Sesaat suara yang sedari tadi bebincang dengan Naruto terlihat tidak ada keinginan menjelaskan lebih lanjut. "Lebih tepatnya, aku adalah menifestasi dari kekuatan [sihir] naga yang kau tolak selama ini. Semenjak kau takut menggunakan Sihir Pembunuh Naga karena dampak yang ditimbulkan, berlahan aku tercipta untuk menjaga dan mengendalikan kekuatan itu."
Sekilas Naruto membelalakkan mata. "Begitu, ya? Jadi seperti kasus yang dialami Yakumo Kurama."
"Kau tidak sebodoh yang aku kira."
Twich!
"Kau mengatakan hal seperti itu justru memperkuat fakta bahwa dirimu bukanlah bagian dariku." Bentak Naruto penuh rasa sebal. "Tapi terkadang aku tetap menggunakan Sihir Pembunuh Naga. Saat aku bertarung dengan lawan yang kuat, dan aku sama sekali tidak menolak sihir itu."
"Kau tidak senang menggunakannya, jadi itu sama saja. Sihir mengikuti hati penyihir, semakin teguh keinginan dan kepercayaan hatinya terhadap sihir yang dimiliki, maka semakin kuat dan beguna pula sihir itu. Meskipun aspek lain juga mempengaruhi, tapi sekali hati seorang penyihir kehilangan kepercayaan terhadap sihirnya, ia bisa kehilangan sihir itu."
"Lantas kenapa kau bisa tercipta?"
"Kau memang menolak menggunakan Sihir Pembunuh Naga, tapi kau tidak membenci keberadaannya, dan masih meyakini bahwa sihir itu mampu memperkuat dirimu. Hanya saja kau tidak ingin selalu menggunakannya, berusaha mencari solusi dari dampak yang ditimbulkan, dan berharap bisa memperkuat dan mengendalikannya lebih baik. Hal itu membuatku tercipta, eksistensi untuk mengendalikan kekuatan besar dari Sihir Pembunuh Naga milikmu, tapi akan hilang begitu masalah tadi kau atasi."
"Jadi..."
BOMMM!
Gema lantang layaknya ledakan memotong perbincangan Naruto. Area sekeliling mantan ninja yang tadinya gelap menjadi terang-benerang, tempat itu dipenuhi oleh cahaya sebuah gumpalan api besar yang menjulang.
"...Apa lagi sekarang?" Gumam Naruto sambil terus memperhatikan gumpalan api besar tadi dengan seksama.
"Uwriyel. Kau adalah Pembunuh Naga didikan Uwriyel!" Suara berat terdengar keluar dari gumpalan api, secara berlahan api itu membentuk sebuah mahkluk yang cukup Naruto kenali.
Naga!
Naruto kembali membelalakan mata. Dia dikejutkan dengan kehadiran naga yang belum ia kenali. "Kau adalah Naga, itu sudah menjadi alasan yang cukup dari mana kau mengetahui informasi tadi. Tapi, kenapa kau bisa berada di sini? Aku sedang berbincang dengan... intinya aku sedang berada dalam alam pikiranku, jadi bagaimana bisa kau masuk ke sini? Dan apa maksud kedatanganmu?"
"Aku adalah Atlas Flame, Naga Api! Kau memakan cukup banyak apiku, sehingga begitu menyadari bahwa kau merupakan didikan Uwriyel, aku memutuskan menemuimu di sini, sebab ada hal yang ingin aku minta padamu." Tukas gumpalan api yang memperkenalkan diri sebagai Naga Api bernama Atlas Flame.
Naruto menaikkan alis pirangnya begitu mendengar penjelasan Atlas. "Kalau aku menolak permintaanmu?"
Naga yang seluruh tubuhnya terselimuti oleh kobaran api menatap tajam Naruto. "Kau telah memakan apiku. Aku menyelamatkanmu dari kematiaan, sehingga membuatmu berhutang nyawa padaku!"
"Dia seperti diriku! Tubuhnya terselimuti oleh kobaran api. Mungkin kita akan memiliki tubuh sepertinya jika menjadi Naga?" Bisik manifestasi Sihir Pembunuh Naga milik Naruto.
"Diam kau!" Bentak Naruto. Dia menatap tajam Atlas, merasa hari-hari indahnya menjadi kacau semenjak menolak jamuan teh Kakek Warrod, dan bertemu dengan Shirone. Dia tidak tahu siapa di antara Warrod dan Shirone yang membawa kesialan padanya. "Aku akan mendengarkan permintaanmu terlebih dulu sebelum memutuskan menerimanya atau tidak."
"Hem~ baiklah!" Tukas Atlas yang terlihat mulai rileks kembali. "Tapi sebelum menyampaikan permintaanku, aku akan menjelaskan alasan dari permintaanku."
"Itu tidak perlu!"
"Sejujurnya aku sudah mati..."
"Kalau kau sudah mati, kenapa kau ada di sini?" Bentak Naruto sambil menunjuk Atlas. "A-apa kau hantu? Dan kenapa kau tetap menjelaskan alasanmu? Aku sudah mengatakan tidak ingin mendengarkannya!"
"Aku memang sudah mati, dan aku berada di sini karena kau memakan cukup banyak apiku, sehingga aku bisa mentransfer sebagian jiwaku masuk dalam tubuhmu." Jelas Atlas. "Kau mengatakan tidak ingin mendengarkannya, tapi kau terlihat cukup tertarik, sampai mengomentari tentang keberadaan dan kematianku."
Wajah Naruto tampak memerah. "Tidak!" Elak Naruto sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada.
"Dulu, di Perang Sipil Naga aku merupakan salah satu dari kelompok yang tidak menyutujui ideologi koeksis dengan manusia. Tapi setelah aku mendirikan Desa Matahari, dan memperhatikan manusia lebih seksama tanpa sepengetahuan mereka, berlahan keyakinanku berubah. Manusia bisa berfikir, memiliki kebijaksanaan meskipun dengan usia pendek, mengenal kasih antar sesama, dan yang terpenting sebagian dari mereka memiliki keyakinan, pendirian, serta semangat melebihi ras Naga."
"Oh~" Tukas Naruto. Terlihat kepulan asap putih mulai keluar dari telinga pemuda bersurai pirang itu.
"Sekarang aku sudah mati. Peninggalanku yang tersisa hanyalah Desa Matahari, tapi lambat laun terlupakan, sebab beberapa tahun semenjak pudarnya jiwaku, nantinya api yang selama ini terus berkobar akan padam. Setelah menyadari bahwa kau adalah seorang Pembunuh Naga, dan yang mengejutkan lagi merupakan didikan Uwriyel, aku menjadi tertarik dengan ide itu."
"Hem?" Tubuh Naruto terlihat semakin mengecil seiring panjangnya penjelasan Atlas.
"Aku ingin kau mengambil Lacrima Naga; milikku. Aku menyimpannya di puncak Gunung Doom, bersamaan dengan Lacrima yang berisi jiwa temanku, Naga Angin dan Api, Plegon. Aku akan mempercayai penilaianmu nantinya mengenai siapa orang yang tepat menjadi pemegang Lacrima itu. Aku sudah melihat semua ingatanmu, baik dari kehidupan di sini maupun di Negeri Elemen, itu sudah cukup bagiku untuk mempercayai penilaianmu, sebagaimana Uwriyel padamu, Naruto Uzumaki."
Bom!
Ledakan kecil terjadi di kepala Naruto, kepulan asap putih terlihat memenuhi surai pirangnya. Naruto kini terkapar, matanya tertutup, sedangkan wajahnya tampak begitu pucat. Tapi berlahan bibirnya terbuka. "Hehehe~"
"Naruto?" Atlas menyipitkan mata begitu melihat manusia yang diajak berbicara terkapar.
Crack!
Sekeliling area yang di tempati Naruto dan Atlas berlahan retak. Sinar terang berwarna emas memasuki area itu, sehingga membuat kegelapan yang tadi sempat menjauh karena api Atlas kini mulai memudar. Setelah retakan semakin luas, semua galap menghilang.
Blar!
Kepingan retakan terlihat ikut menghilang. Area tadi kini diselimuti cahaya, terlihat begitu terang. Berlahan sebuah sosok besar muncul. Kejadian seperti kedatangan Atlas sebelumnya kembali terulang.
BOMMM!
Seekor naga besar berkulit emas mendarat di samping Atlas. Iris merahnya menatap tajam Atlas, membuat Naga Api itu nerfes.
"Atlas Flame. Apa yang kau lakukan di sini?" Suara berat penuh wibawa dan ketegasan keluar dari mulut naga berkulit emas tadi.
"Uwriyel, aku..."
"Naruto!" Gumam lirih seekor kucing putih.
Shirone masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sebelumnya. Sebuah pertarungan besar antara pria yang pernah berbagi makanan dengannya melawan seekor Naga. Ketika masih di dunia sebelumnya, ia sering mendengar betapa besarnya kekuatan seekor Naga. Tapi ia baru menyaksikan kekuatan dari seekor naga secara langsung beberapa waktu lalu.
Tubuh kucing kecil itu masih bergetar, ia tidak tahu kenapa tubuhnya bergerak sendiri untuk menolong Naruto. Meskipun dirinya berkeyakinan tidak memiliki kekuatan untuk menolong. Beruntung pria yang ia selamatkan memiliki teknik perpindahan, sehingga keduanya bisa keluar dari pembantaian Naga Hitam.
Kucing bernama Shirone terlihat khawatir, ia melihat kondisi parah tubuh Naruto. Orang pertama yang membuat Shirone merasa nyaman ketika berada di sisinya; sama halnya dengan Kuroka. Selama kedatangannya di Earthland, ia sudah bertemu banyak orang, tapi tidak satupun dari mereka yang memiliki aura damai dan hangat seperti Naruto.
Mungkin benar saat kali pertama bertemu Shirone sempat takut dengan pria bersurai pirang itu. Namun setelah berinnteraksi lebih lanjut, berlahan ia bisa menerima keberadaan Naruto. Sifat ceria pria itu mengingatkannya dengan Kuroka, terlebih lagi kini ia tahu bahwa Naruto memiliki Yōki. Energi atau kekuatan yang dimiliki setiap Yōkai.
Shirone tidak tahu mengapa Naruto bisa memiliki Yōki, tapi setidaknya ia memiliki harapan. Harapan bahwa ia bukanlah satu-satunya yang terdampar; jika yang ia rasakan sebelumnya dari Naruto benar-benar Yōki, maka ada kemungkinan Yōkai juga hidup di dunia yang ia tempati sekarang.
"Sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu."
Dia kembali menatap tubuh bersimbah darah Naruto. Pemuda bersurai pirang itu langsung pingsan setelah berteriak kesakitan seusai mengkonsumsi banyak bara api. Api yang menjulang tinggi dan menghangatkan seluruh desa, meskipun terletak di bagian tepi.
Sebelumnya, Shirone diminta mentransfer sihirnya pada Naruto untuk membantu pria itu menggunakan sihir perpindahan. Lantas keduanya berpindah di area perbukitan, dan pria tadi meminta Shirone membawa tubuhnya menuju 3 Km ke arah timur, sebab ia merasakan panas yang begitu besar.
Perjalanan mereka di lalui dalam kesunyian. Shirone sempat terkejut dengan keberadaan api besar; tapi keterkejutannya semakin bertambah ketika begitu sampai pada tempat tujuan, Naruto langsung melahap banyak kobaran api yang menjulang tinggi tadi.
Penyembuhan!
Itulah jawaban yang dilontarkan Naruto ketika Shirone mengajukan pertanyaan mengenai tindakannya mengkonsumsi api. Namun acara makan Naruto terhenti ketika mendengar api yang ia makan berbicara, dan tidak lama setelah itu pria bersurai pirang tadi mengerang kesakitan sambil mencengkram tubuhnya sendiri, lantas diakhiri dengan hilangnya kesadaran.
Shirone masih mengingat jelas perkataan yang keluar dari gumpalan api; api yang ketika mengeluarkan suara menampakkan bentuk kepala Naga.
"Hem~ Uwriyel? Bukan, manusia! Manusia, kenapa di tubuhmu tercium bau Acnologia?"
Shirone tidak tahu maksud perkataan yang dilontarkan sang api. Uwriyel? Acnologia? Dia tidak tahu siapa pemilik nama itu. Tapi yang jelas keduanya bukanlah manusia, sebab sang api mengatakan bahwa manusia bukanlah pemilik kedua nama tadi.
Lantas apa?
Yōkai?
Bukan... sebab Naruto masih disebut sebagai manusia meskipun memiliki Yōki.
Apa mungkin... naga? Karena Naruto baru saja bertarung melawan naga, bahkan bersimbah darah mahkluk itu, jadi pantas jika memiliki bau dari salah satu naga yang disebutkan namanya oleh sang api. Kalau begitu Uwriyel...
"HEM~ MANUSIA KERDIL..." Shirone dikejutkan dengan suara keras yang menggema di sekelilingnya. "...DAN KUCING?"
"Huh? Siapa yang berbicara? Tunjukkan dirimu!" Tukas Shirone sambil mengamati sekelilingnya. Dia beranjak dari duduk, lantas bersiap siaga.
"DI SINI!" Saat Shirone mengarahkan pandangan ke sumber suara, ia hanya mendapati tiang besar yang menjulang tinggi.
"Jangan bercanda! Di mana kau? Tunjukkan dirimu!" Bentak Shirone yang mulai naik pitam.
"DI SINI!"
Twich!
Alis putih [silver] Shirone terlihat berkedut. Kemarahannya terasa semakin memuncak, sebab suara yang ia dengar sedari tadi terus mempermainkannya. "CEPAT KELUAR ATAU KAU AK..."
"DI SINI!" Suara tadi menjawab kembali, memotong teriakan penuh amarah Shirone. "DI ATAS, MENDONGAKLAH KALAU KAU INGIN MENATAP WAJAHKU!"
"...AN AKU..." Shirone menghentikan teriakkan begitu mendongak, sebab ia dikejutkan dengan penampakan mahkluk yang baru pertama kali ditemui, Manusia Raksasa. "Ka-ka-kau seoRANG RAKSASA!" Teriak kucing itu. Dia merasakan tubuhnya terduduk kembali ke tanah, semua terjadi karena keterkejutan yang luar biasa.
"HEM~" Raksasa yang diteriaki Shirone mengangguk pelan, tangannya terlihat asik mengelus janggut putih panjang di dagu. "AKU ADALAH MANUSIA RAKSASA, SALAH SATU PENDUDUK DESA MATAHARI, SEKALIGUS PENJAGA API ABADI."
"Ah~ ka-kau merupakan penduduk natif desa ini?" Tukas Shirone dengan sedikit gugup, terlihat peluh dingin membasahi pelipis kucing putih itu.
"YA!"
"Em~ aku Shirone." Tutur Shirone. "Bi-bisakah kau menolong... temanku? Dia tengah terluka parah." Lanjut kucing putih tadi sambil menunjuk ke arah tempat tergeletaknya tubuh Naruto.
"HEM~" Raksasa tadi terlihat menyipitkan mata, ia melayangkan pandangan ke arah yang ditunjuk Shirone. "BAIKLAH."
"Hyperion." Shirone maupun manusia raksasa tadi dikejutan dengan perkataan yang keluar dari mulut pria bersimbah darah di anatara mereka, sebab pria tadi sampai sekarang masih terlihat pingsan. "HELIOS, AKU AKAN MEMBUNUHMU! Uhuk~ uhuk~"
"Naruto!" Shirone langsung berlari mendekati Naruto yang terbatuk sambil memuntahkan darah.
Sedangkan manusia raksasa tadi terlihat mematung, dengan iris mata terbelalak. "KENAPA MANUSIA KERDIL INI MENERIAKKAN NAMA DEWA HYPERION, THE HIGH-ONE [Heavenly Light] ? TAPI YANG LEBIH MENAKUTKAN, MENGAPA DIA BERTERIAK HENDAK MEMBUNUH DEWA HELIOS, THE SUN [Sun High-One] ?"
[Magnolia – Kerajaan Fiore]
. . .
Dalam sebuah kediaman kecil yang terletak di hutan pinggiran Kota Magnolia, terlihat seorang remaja laki-laki bersurai pink... bukan, salmon... tengah sibuk berkemas. Dia terlihat ditemani seekor kucing biru yang asik menggigit ikan segar.
"YOSH! SEMUANYA SELESAI." Teriak remaja bersurai salmon tadi. "Happy, ayo berangkat! Kita akan melakukan perjalanan untuk berlatih, agar bisa mejadi lebih kuat. Aku ingin melindungi keluarga kita dan Fairy Tail. Aku tidak ingin kejadian yang menimpa Lisanna terjadi pada yang lain!"
"Aye!" Sahut kucing biru yang dipanggil dengan nama Happy oleh remaja bersurai salmon tadi. "Tapi Natsu, kau tidak lupa membawakanku bekal ikan, kan?"
"Happy."
"Aye."
"Kau terkesan sengaja merusak suasana percakapan!"
"Maaf."
"Tidak apa-apa, Sobat!"
Baik Natsu maupun Happy melangkah meninggalkan rumah mereka, berjalan menjauhi kawasan Magnolia.
"Natsu."
"Hem?"
"Apa suasana itu merupakan nama dari salah satu jenis ikan?"
Bruk!
Natsu langsung terjungkal mendengar pertanyaan Happy. Dia tidak tahu apakah keputusannya memaafkan Happy sebelumnya merupakan hal yang tepat atau tidak. Tapi Natsu yakin, setidaknya perjalanan yang akan ia lalui tidak akan membosankan selama sahabat sekaligus anak angkatnya itu berada di sisinya.
Silahkan tinggalkan reviews!
Salam... Deswa
