Not a FairyTale

Author: Nacchan Sakura

I DO- not own Durarara!. Sadly.

.

.

.

Chap 12: Servant of Evil

.

.

.

Note(s): Based of Servant of Evil by Len Kagamine / Requestfic from TheMasochistDevil~! Enjoy! :D / Cast: Len = Shizuo, Rin = Shizuka aka Fem!Shizuo, Miku = Kanra aka Fem!Izaya, Kaito = Izaya (Kind of crack oTL and OOC..) / Shizuo's POV / AU

.

.

.

Kau adalah Ratu,

Dan aku adalah pelayanmu.

Kita berdua adalah,

Sepasang anak kembar yang terpisahkan oleh takdir yang menyakitkan..

.

.

.

"Kumohon! Aku mohon, beri aku keringanan satu hari saja! Aku pasti akan membayar pajak besok!"

Ia hanya tersenyum. Senyuman yang tidak memperlihatkan rasa kasihan ataupun simpati. Senyuman yang sudah tertoreh di wajahnya untuk limabelas tahun lamanya, senyuman yang membuat orang-orang tak berani berkutik dan melawan.

"Kau pikir, semua air matamu, dan kata-kata memohonmu itu bisa membuatku berubah pikiran?"

Gadis itu berhenti menangis.

Ah, dia melihat ke arah Ratu itu dengan tatapan yang tajam.

"Kau—kau memang iblis! Kau memang anak iblis! Kau tidak punya hati, kau bahkan tidak sedikitpun memandang kami sebagai manusia!"

"Iblis, katamu?" Gadis berambut blonde—yang menjadi Ratu dari negeri ini—hanya tertawa dan kembali memandang gadis itu. "Sonohara Anri-san, kau ternyata punya keberanian besar untuk berkata kasar, ya. Siapa yang mengajarimu? Tunanganmu yang baru saja dipenggal kemarin, Ryuugamine Mikado?"

Gadis bernama Sonohara Anri itu merapatkan mulutnya. Wajahnya kini menunjukkan emosinya yang sudah lama terpendam.

"KAU MEMANG IBLIS! IBLIS!" Gadis berkacamata itu berteriak. Namun suaranya kian menjauh seiring dengan pengawal yang membawanya pergi dengan paksa atas perintah sang Ratu.

Sang Ratu tersenyum puas.

"Shizuka-sama.. Sudah waktunya makan siang."

"Ah, Shizuo-kun.." Sang Ratu yang bernama Shizuka—berdiri dari singgasananya dan berjalan menuju arah pelayan pribadinya yang paling setia—Shizuo. Wajahnya tersenyum dengan lembut, seolah gambaran seorang Ratu yang kejam itu lenyap seketika.

"Shizuka-sama, mau makan apa hari ini?"

"Sudah kubilang, panggil saja Shizuka.. begitu juga 'kan, kita ini sebenarnya adik-kakak."

Ah, benar juga.

Peristiwa lama yang selalu ingin kulupakan—padahal aku berharap Shizuka tidak akan mengungkitnya lagi.

"Bagaimanapun juga, sekarang kau adalah Ratu.. dan aku hanya pelayanmu."

.

.

.

Jika kau disebut sebagai iblis oleh semua manusia di muka bumi ini,

Maka akupun akan menjadi iblis layaknya dirimu.

Agar aku bisa,

Melindungimu sampai akhir hayatku.

.

.

.

"Ne, Ne, Shizuo-kun~"

Suara lonceng berdentang

"Shizuo-kun? Shizuo-kun~!

Suara tangisan dari dua insan yang terlahir ke dunia

"Shizuo-kun! Tidak, jangan pisahkan aku dengan Shizuo-kun!"

Masa depan yang terbelah menjadi dua

"Maaf, Shizuka... aku tak bisa melindungimu."

"...Shizuo-kun?"

"Ah... maaf, aku melamun. Tadi Shizuka-sama berbicara apa?"

"Mou-! Jangan sering melamun, Shizuo-kun! Apalagi di tengah pembicaraan penting!"

"Maafkan hamba.."

"Aku tadi ingin memintamu untuk memantau Aka no Kuni. Kau tidak sibuk, 'kan?"

"Tentu tidak. Hamba akan pergi sekarang juga.."

"Un, tolong ya."

Walaupun seisi dunia ini,

Akan memusuhimu dan membencimu,

Aku akan melindungimu.

Jadi, kau akan tetap tersenyum.

.

.

.

"Ah, jadi ini Aka no Kuni itu?" Aku melihat ke sekeliling kota yang damai nan tenang ini. Sungguh berbeda dengan Ao no Kuni tempat aku berasal, negeri ini terlihat sungguh damai dan semua orang disini tertawa seperti tak punya beban.

Terkadang aku berpikir, andai saja Ao no Kuni seperti ini.

"Aah, kau pasti pengunjung dari luar ya?"

Aku berhenti 'mengamati' keadaan negeri ini ketika mendengar seseorang menyapaku. Mataku menangkap sosok gadis berambut hitam dengan mata berwarna merah menatapku dengan wajahnya yang polos dan ramah.

"Aku Ratu di negeri ini, Namaku Kanra!" Mata ruby itu menatapku dengan lembut. Ia tersenyum. "Apa kau menikmati kunjunganmu?"

Aku mengangguk. "Iya, negeri ini sungguh damai dan tenang. Semua orang terlihat bahagia."

"Syukurlah kalau kau berpikir begitu!" Kanra tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Siapakah namamu?"

Aku tak bisa menahan rona merah yang muncul di wajahku. Aku menerima uluran tangannya dan tersenyum. "..Shizuo"

Aku menyukai Kanra pada pandangan pertama.

Namun, itu semua hanya perasaan yang tak akan tersambut.

Aku melihat Kanra, sedang tersenyum lebar sembari menggandeng tangan dari seorang lelaki tampan yang menatapnya dengan lembut.

"Shizuo-san, ini Izaya-san~! Dia tunanganku!"

Ya, aku tahu. Aku memang seharusnya tak berharap terlalu banyak.

"Salam kenal.."

Dari senyum itu, dari keramahan itu,

Hatiku jatuh kepada sang gadis.

"Shizuka-sama, Tadaima—"

"SHIZUO!" Shizuka menghampiriku, dengan paras yang sama sekali tidak bisa dibilang senang. Matanya sembab karena habis menangis, dan kedua tangannya mengepal dengan keras.

"Ada apa, Shizuka-sama? Kenapa anda menangis?"

"Izaya.." Shizuka menggumam di tengah isak tangisnya. "Izaya! Calon tunanganku—Izaya—telah direbut oleh gadis Kanra itu!"

Aku terdiam. Izaya—calon tunangan Shizuka?

"Nee, Shizuo.. kau mau 'kan membalaskan dendamku? Kau mau 'kan mengabulkan permintaanku?"

"Apapun untukmu, Shizuka-sama.."

"Hancurkan Aka no Kuni. Bunuh ratu mereka, Kanra Orihara."

Namun, sang Ratu menginginkan gadis itu untuk menghilang.

"Selamatkan diri kalian!"

"Penyerangan tiba-tiba dari Ao no kuni!"

"Apa salah kami? Kenapa kalian menghancurkan Aka no Kuni!"

"Shizuo.. kenapa..."

"Maafkan aku.. Kanra."

STAB

Tubuh tanpa nyawa itu tergeletak bersimbah darah di depan mataku.

Tugasku kini sudah selesai.

Namun kenapa...

Kenapa air mataku tak dapat terhenti?

Kau adalah sang Ratu,

Dan aku pelayanmu.

Takdir telah menjauhkan kisahmu dan juga diriku.

'Snack hari ini adalah Brioche'

Kau tertawa dengan polos mendengar kalimat itu.

"Aku puas~! Kini, Ao no Kuni sudah lenyap. Kanra sudah lenyap. Aku.. masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Izaya!"

Aku hanya tersenyum. Berusaha menyembunyikan pedih ini dibalik bayanganku.

"Aku turut berbahagia, Shizuka-sama.."

.

.

.

"Ao no Kuni.. yang melakukan ini semua?"

Izaya menatap kerusakan parah yang baru saja terjadi di Aka no Kuni. Semuanya hancur, berantakan, dan—tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Begitu banyak manusia yang tergeletak bersimbah darah, begitu banyak bangunan yang terbakar.

Tidak pernah Izaya sangka, hanya dalam waktu 5 jam—semua hal bisa berubah, semudah membalikkan telapak tangan. Padahal ia pergi ke Midori no Kuni hanya sebentar. Dan saat ia kembali.. dunianya sudah hancur.

"Kanra.." gumam Izaya. "DIMANA KANRA-?"

Izaya segera berlari menuju Istana—yang sudah tak berbentuk seperti Istana lagi. Segelintir orang yang berhasil selamat kini sedang berkumpul di dekat puing-puing bangunan istana yang hancur seraya menangis.

Izaya masuk ke tengah kerumunan itu, berharap apa yang ia lihat bukanlah sebuah mimpi buruk.

Namun, kenyataan memang tidak sebagus harapan, bukan?

"Kan..ra.."

Disana telah tergeletak sosok Kanra yang sudah hampa. Tubuhnya penuh darah, dan di sekelilingnya penuh bunga yang sudah hancur karena keributan yang dibuat oleh Ao no Kuni.

"KANRAAAAA!" Izaya berlari,mendekati tubuh itu dan memeluknya erat. Noda darah yang sudah amis menempel di bajunya yang masih bersih, namun ia tidak peduli. Sungguh, bau darah itu tidak bisa membuat Izaya melepaskan pelukannya dari tubuh Kanra.

"Ao no Kuni... Shizuka Heiwajima.."

"Aku akan menghancurkan mereka."

.

.

.

Dan—suatu saat, tibalah waktu dimana kerajaan ini akan hancur.

Manusia tak bisa memendam emosi mereka terlalu lama,

Pasti, manusia akan berontak juga.

"Shizuo... ada keributan apa di luar? Sedari tadi, rasanya berisik sekali.."

"Ah, Shizuka-sama!" Aku berlari ke arahnya dan menjauhkan sosoknya dari jendela. "Jangan menampakkan dirimu. Semua rakyat Ao no Kuni telah berkhianat! Mereka berniat membunuhmu!"

Mata hazel milik Shizuka membesar. "Berani sekali mereka mengkhianatiku! Aku akan meminta pengawal istana—"

"Pengawal istana juga telah berkhianat! Kumohon, Shizuka-sama, selagi masih sempat, pergilah dari sini.."
"Kenapa aku harus pergi?" Shizuka mengerenyitkan dahinya. "INI NEGERIKU! AKU TAK MUNGKIN MENINGGALKANNYA!"

"Kumohon, Shizuka—"

BRAK!

"Suara apa itu..?"

"Shizuka-sama, mereka sudah memasuki istana."

Shizuka terdiam. Ia menundukkan wajahnya, dan menggenggam erat kain gaunnya hingga menjadi kusut.

"Shizuka-sama, pakailah baju milikku."

"..Eh-?"

"Aku akan memakai gaunmu. Shizuka-sama bisa memakai baju milikku. Tenang saja, kita anak kembar, tidak akan ada yang tahu."

"Tapi—"

Ini memang sebuah hal yang seharusnya aku lakukan.

"Pergilah... Shizuka."

Akulah sang Ratu,

Dan kau seorang pengamat.

Takdir yang memisahkan kedua anak kembar yang malang.

Bila mereka memanggilmu sebagai Iblis,

Maka akupun memiliki darah Iblis yang sama,

Mengalir di dalam tubuhku..

"Shizuka Heiwajima-sama.."

Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum. Di depanku terlihat, sosok gadis yang sewaktu itu datang dan memanggil Shizuka sebagai Iblis dengan gagahnya. Ia menghunuskan sebuah pedang ke arahku, dengan emosi yang tak bisa kubaca dengan jelas.

Sonohara Anri.

"Ah, sudah waktunya, ya?"

Suatu hari, di sebuah tempat, disana ada sebuah kerajaan yang mewah.

Dan yang menjadi pemimpin dari kerajaan itu adalah,

Adik perempuanku yang sangat manis.

Aku dikelilingi oleh orang-orang yang sedang tertawa puas, melihat sang Ratu tak berdaya di hadapan mereka.

Orang-orang itu melempariku dengan batu yang cukup besar. Membuat sebuah luka baru di kulit wajahku dan juga tubuhku.

Namun aku hanya terdiam. Tak melawan ataupun berkata apapun. Tali yang cukup kuat ini tak bisa membuatku kabur.

Dan di tengah kerumunan itu, Izaya Orihara sedang tersenyum puas melihat dendamnya yang terbalaskan.

Walaupun seisi dunia ini,

Akan menjadi musuhmu yang abadi,

Aku akan melindungimu.

Jadi, kumohon,

Tetaplah tersenyum.

Aku melihat Shizuka yang berdiri di tengah kerumunan orang-orang. Ia menangis, ia memanggil-manggil namaku, namun tak ada seorang pun yang mendengarnya. Baguslah, tak ada yang mengenalnya dengan baju milikku itu.

Suara itupun telah datang. Suara lonceng dari jam raksasa yang menunjukkan tepat pukul tiga. Alat pemenggal kepala ini sudah turun dan siap untuk melenyapkan sang Ratu dari dunia untuk selamanya.

Saat mataku dan Shizuka bertemu, aku hanya tersenyum dan menggumam kepadanya,

"Ah, ini sudah waktunya minum teh."

SRAT

Kau adalah sang Ratu,

Dan aku hanyalah pelayanmu.

Jika itu semua demi untuk melindungimu—

Maka aku akan menjadi Iblis untukmu.

Hey, Shizuka.

Kalau kita bisa terlahir kembali..

Kuharap, kita bisa bermain bersama seperti dulu lagi.

END