Sehun menggerutu kecil ketika bel rumahnya berbunyi dengan nyaring. Ia baru saja merebahkan tubuhnya di kasur Zitao, namun suara 'ting-tong ting-tong' itu membuatnya kesal. Dengan malas ia beranjak dari kasur, mendecih saat suara bel tersebut kian nyaring dan semakin berisik.
"Ck, shut up, jerk!" umpatnya sambil mencari kunci pintu rumahnya. Setelahnya, pemuda berdarah Korea itu membuka pintu megah tersebut dengan tampang tidak suka. Siapa sebenarnya yang bertamu pagi hari begini?
Bugh!
Dan pas sekali saat Sehun membuka pintu, sebuah hantaman keras dipelipisnya berhasil membuatnya terjatuh. Sehun meringis dan seketika bangkit, menatap seseorang yang baru saja menghajarnya.
—Yifan
"SIALAN!"—dan tidak bisa dihindari saat Sehun menendang keras perut Yifan, membuat pemuda bermarga Wu itu terdorong cukup keras dengan punggung yang menabrak pintu. Yifan segera maju dan membalas perbuatan Sehun, hendak menonjok perut si pemuda albino, namun sayangnya Sehun dengan cepat menghindar.
"YA TUHAN! WU YIFAN! HENTIKAN!"
Godness
AUTOMNE
Chapter Twelve
Rated : T
Cast : Huang Zitao, Wu Yifan, Oh Sehun, Xi Luhan, Suho, Chanyeol, Kai, Qing Zhu (Kyung soo), and others
Warning : YAOI! TYPO? Tetep ada kok :v
DON'T LIKE? DON'T READ!
NO SIDERS! Need a bacot in review :V
.
.
Just ENJOY it while reading this Fic!
Hope you like it~
Suho dan Chanyeol datang di waktu yang tepat. Keduanya segera menahan Yifan yang sudah mengeluarkan aura kehitamannya. Sedangkan Sehun yang kebingungan sekaligus naik pitam hanya menatap Yifan sembari mendecih, menyeka pelipisnya yang masih terasa sakit. Kai benar, pukulan Yifan memang sangat menyakitkan. "Inikah caramu bertamu, Wu Yifan?"
"Dimana Zitao?! Apa yang kau lakukan padanya?!"
Suho menepuk pelan lengan Yifan, "Hei, tenangkan dirimu,"
Yifan menghempas kasar pegangan Chanyeol dan Suho di lengannya, berjalan mendekati Sehun hingga keduanya sangat dekat. Dengan tatapan yang saling melempar kebencian, Yifan menarik kerah baju Sehun. "Kuulangi sekali lagi. Dimana Zitao?!"
Sehun mendorong dahi Yifan dengan telunjuknya, berusaha menjauhkan Yifan dari dirinya. "Me-nying-kir,"
Yifan merasa diremehkan, tentu saja. Harga dirinya sebagai seorang lelaki terasa hancur saat Sehun mendorong dahinya hanya dengan sebuah telunjuk. "Kurang ajar!"—yaps, Yifan kembali menonjok Sehun hingga pemuda itu terjatuh. Dengan segera Sehun bangkit dan kembali mendapat sebuah tonjokan diperutnya. Pemuda bemarga Oh itu berulang kali berusaha menendang Yifan namun tetap saja Yifan-lah yang menang disini.
Suho dan Chanyeol kembali menyergap dan segera menarik Yifan yang semakin tidak terkendali. Melihat Sehun yang tanpa pertahanan sedikitpun membuat Suho sedikit meringis dan Chanyeol khawatir.
Sehun kembali berdiri dengan terhuyung, menyeka darah yang mengalir dibibirnya. "Apa maumu, hah?!"
"HUANG ZITAO!"—Yifan membalas kuat pertanyaan Sehun.
Sehun tertawa, "Hahahaha," dia tertawa sangat keras, berjalan selangkah mendekati Yifan dan menarik kalung yang dikenakannya, "Dia bukan milikmu lagi, Wu Yifan. His mine!"
"Oh ya?! Dia tetap kekasihku, Oh Sehun! Ia tetap kekasihku!"
"Atas dasar apa, tuan Wu yang terhormat?!"
"Seluruhnya! Zitao tidak akan pernah menoleh padamu!"
"Ahahahaha,"—Sehun kembali tertawa, "Rebut dia jika kau bisa, Wu Yifan!"
Yifan menggeram, "Zitao bukan mainan!"
"Dan mainan akan berubah menjadi Ratu hanya untuk seorang Raja, Wu Yifan!"—cukup sudah, ucapan yang keluar dari mulut Sehun benar-benar membuat Yifan marah. Kemarah Yifan bak kekuatan dewa, melepaskan cengkraman kuat Chanyeol dan Suho, dan segera menghajar Sehun hingga bertubi-tubi. Suho dan Chanyeol berusaha keras menjauhkan Yifan dari Sehun, menarik pemuda itu sebelum Sehun harus berakhir dirumah sakit.
"Yifan! Cukup! Hentikan!" teriakan Suho sama sekali tidak didengar oleh Yifan.
Chanyeol yang berusaha menarik kuat lengan Yifan memekik, "Wu Yifan! Sadarlah!"
.
Bugh!
.
"Asalkan kau tahu, Oh Sehun! Zitao dan aku akan bersatu!"
.
Bugh!
.
"Kau tidak berhak mencampuri urusan kami!"
.
Bugh!
.
"Sekedar informasi, Zitao dan aku baru saja-," Yifan menarik kuat kerah Sehun, menekatkan wajah pemuda tersebut hingga ia bisa menggumamkan sesuatu tepat ditelinga Sehun.
Sebuah bisikan yang akan membuat mata si pemuda albino membola hebat.
"Bercinta,"
Buagh!
.
.
"HENTIKAAN!"
Teriakan keras Zitao membuat Yifan menoleh, terkejut mendapati Zitao yang sudah berlari bak kesetanan, mendekati Sehun. Sehun yang sudah lebam sana-sini ditambah dengan luka yang cukup parah, tersungkur hingga menabrak meja tamunya sendiri.
Zitao kian terisak dan segera merengkuh Sehun. "Yifan-ge! Apa yang baru saja kau lakukan pada Sehun?!"
Kaki Yifan melangkah mundur kebelakang, "A-aku tidak .. Zitao .. kau .. kau—baik-baik saja?"
"Hancur!" Zitao berteriak pas dihadapan Yifan dengan kedua tangan yang memeluk Sehun dengan erat. "Kau membuatku hancur! Kau membuat kekasihku hancur dan kau menghancurkan segalanya!"
DEG!
Bagaikan petir menyambar di siang bolong, Yifan merasakan hatinya terguncang hebat saat Zitao membentaknya dengan begitu kasar. Hancur? Yifan membuat Zitao hancur? Benarkah? Benarkah begitu?
Rasanya bagai terkena granat berulang kali
"Z-Zitao .. aku—aku tidak bermaksud-,"
"PERGI!" Zitao kembali berteriak dengan sebelah tangannya menunjuk pintu, memerintahkan Yifan untuk segera keluar.
"Zitao .. aku tidak .."
"Kubilang PERGI! Pergi dari sini! PERGIIII!"
.
.
Keduanya hancur
.
.
"Yifan, ayo pergi," Suho menepuk pundak Yifan, menarik tangannya keluar dari rumah Sehun. Yifan masih mematung. Ia tidak percaya Zitao berulang kali membentaknya demi membela Sehun. Hanya demi seorang Oh Sehun. Pengganggu hubungan mereka.
Salah. Kekasih Zitao.
Hahaha. Benar. Kekasih. Kekasih Huang Zitao.
"Ti—tidak!" teriakan tiba-tiba Yifan membuat Chanyeol dan Suho menoleh. "Yifan?"
"Tidak! Tidak! TIDAK! ZITAO! ZITAO!" Yifan berlari, hendak kembali masuk kedalam rumah tersebut yang segera dihentikan oleh Chanyeol dan Suho.
"Yifan! Tenanglah!" seru Chanyeol, menahan lengan Yifan untuk kembali memasuki rumah Sehun.
"Zitao! ZITAO!"—percuma, hanya nama Zitao yang dikeluarkan oleh mulut Yifan.
Sakit. Suho bisa merasakan bahwa Yifan tidak bisa menahan hal ini lebih jauh. Nyatanya, Yifan tidak bisa berdiri kuat. Yifan, benar-benar mainan rongsokan sekarang. "Yifan, sadarlah! Zitao bukan milikmu lagi!"
Bukan milikmu lagi
"Tidak .."—Tubuh Yifan jatuh, terduduk diaspal hitam sekelam hatinya. Mengeluarkan uraian air mata yang tidak bisa ia tahan lagi. Mengeluarkan senjata terakhirnya, pekikan tangisan atas kepergian Zitao dari dirinya. Tangannya menjambaki surai hitam kemerahannya, menarik sekuat mungkin hingga kemarahannya terlampiaskan. "Tidak ... tidak .. Zitao .. Zi .. ZI!"
.
Dan Zitao bisa mendengar semuanya. Suara keputus asaan. Suara penuh derita. Suara yang memerintahkannya untuk kembali. Hanya satu, suara Yifan. "Hiks ..."—yang dibalas oleh tangisan pelan miliknya.
Sehun segera bangkit dari pelukan Zitao, membuka matanya yang sudah keunguan dihajar sana-sini. Ia memperhatikan Zitao yang terus saja menangis tanpa suara sambil menghapus air matanya sendiri. Ia tak habis pikir. Apa yang Zitao tangisi? Dirinya kah? Ataukah mantan kekasihnya yang baru saja menghajarnya? Tangan Sehun dengan gemetaran menangkup pipi Zitao, mengusapnya pelan. "Ada apa?"
"Kau terluka ..." jawab Zitao pelan, menggenggam erat tangan Sehun yang menempel dipipinya. ".. Kau terluka karena diriku ..." lanjutnya.
Sehun tersenyum, "Ini sama sekali tidak sakit, sayang,"
"Aku meng-khawatirkanmu .." Zitao mengecup tangan Sehun pelan, menempel pada pemuda itu dengan wajahnya yang bersembunyi di dada bidang si pemuda Oh.
Sehun memeluk Zitao erat. "Hatiku yang sakit,"
"A-apa maksudmu?" si pemuda Huang langsung saja keheranan. Mulai merasa was-was saat Sehun menggenggam syal merahnya.
Srat!
Zitao terkejut, "... Se-Sehun, aku .. aku bisa menjelaskannya padamu ..."
"Tak apa," Sehun menggeleng, tersenyum melihati beberapa kissmark di leher Zitao. "Aku hanya ingin kau tahu, bahwa hatiku sakit,"
"Sehun, aku—ini semua adalah kecelakaan. Ini semua seharusnya tidak terjadi,"
"Aku tahu, aku memang tidak akan menang oleh Yifan,"
"A-aku salah. Aku salah, Sehun. Aku—aku benar-benar salah ..."
"Hatiku terluka, Zitao. Kau tahu itu,"
"Se-,"
"Kurasa aku tidak berhasil mengajarimu mencinta-,"
"LAKUKAN PADAKU!"
Sehun mengerjap. Apa yang barusan dikatakan oleh Zitao? "Apa .. maksudmu?"
Zitao menggenggam erat kedua tangan Sehun, "Lakukan padaku. Lakukan apa yang baru saja Yifan lakukan padaku. Buat bekasnya menghilang, Sehun. Buat semuanya tergantikan olehmu!"
"Zitao?" Sehun mematung. "Kau tidak sungguh-sungguh, bukan?"
"Apa yang membuatmu begitu ragu?" Zitao bergumam persis ditelinga Sehun, bermaksud menggoda kekasihnya. "Kau kekasihku. Tidak perlu ragu,"
Seringai tipis segera muncul dibibir Sehun. Ini sedari tadi yang ia inginkan. Ber-akting dengan akhir yang membuat Zitao ingin melakukan -you know what I mean- dengan dirinya.
Good Actor!
Tanpa aba-aba, Sehun sekarang sudah menindih Zitao dan mengunci segala pergerakan kekasihnya. Zitao sedikit terkejut, namun semuanya ia sembunyikan dengan senyum paksa, "Lakukan, Sehun,"
Sehun tersenyum, "Kau yang meminta,"—dan dengan cepat ia menggigit leher Zitao, berusaha bersaing dengan tanda kepemilikan Yifan. Zitao hanya tersenyum tipis, matanya menatap sendu pada langit-langit rumah. Ini benar, bukan? seharusnya ia bercinta dengan kekasihnya, bukan dengan tunangan orang lain. Mengapa ia harus sedih? Setidaknya ia sudah membalas keburukan yang telah ia lakukan.
Satu tanda kepemilikan atas nama tuan Oh telah selesai. Sehun mengangkat kepalanya, melihati hasil yang telah ia buat selama beberapa detik, dan menatap mata Zitao yang menatapnya begitu lirih.
Tunggu.
Zitao akan membencimu
"Cukup," Sehun memindahkan dirinya, mengusap seluruh wajahnya hingga membuat Zitao duduk bangkit disampingnya.
"Ada apa?" tanya Zitao.
Sehun terdiam cukup lama, "Ini tidak benar, Zi,"
"Apa yang salah?"
"Kau belum menginginkannya," Sehun menghela napas, "Ini bukan waktunya,"
Zitao menaikkan sebelah alisnya, "Aku—tidak mengerti .."
Sehun tersenyum, menoleh menatap Zitao dan mengecup bibir kekasihnya singkat, "Aku benar-benar mencintaimu," serunya, lalu segera berdiri dan berjalan tertatih menuju tangga.
Zitao tersenyum, "Terimakasih ..."
Really Genius, Sehun! Zitao kembali mempercayaimu!
Luhan menghela napas berulang kali. Ia berkali-kali berjalan bolak-balik dan menggigit tangannya sendiri, merasa ketakutan sekaligus senang dalam satu hal. Pikirannya tak berhenti melayang-layang. Rasanya ia ingin berteriak kencang walaupun sedang banyak orang yang berdatangan. Kakaknya, yang baru tiba seminggu yang lalu di China, keheranan melihatnya. "Ada apa denganmu, Lu?"
"Ooh Qing Zhu-ge! Aku benar-benar gemetaran sekarang!"—Luhan berlari memeluk kakaknya, Qing Zhu.
"Hahaha, kau hanya gugup, Lu. Kau gugup karena ini hari pertunanganmu," serunya, mengusap surai emas milik Luhan dengan lembut. "Sebenarnya, kau senang, rite?"
"Berhenti menggodaku!"—Luhan mengerucutkan bibirnya, walau pipinya tidak bisa berbohong karena bersemu merah.
Qing Zhu hanya tergelak, kemudian matanya membelalak sesat dan segera menepuk pundak Luhan. "Lu, lihat! Itu tunanganmu datang!" bisiknya.
"Uuuh! Gege! kubilang berhenti menggodaku!" pekik Luhan dengan kaki yang dihentak-hentakkan.
Yifan yang baru saja tiba dengan tuxedo putihnya, berjalan dengan tatapan datar menuju Luhan dan kakaknya. "Ah, Ni hao, Qing Zhu-ge," ucapnya sopan, sempat menunduk pelan.
Kakak Luhan tertawa, "Yak! Yifan, jangan terlalu formal padaku! Aku masih mengingat bahwa dulu aku sering memandikanmu bersama Luhan!"
Luhan sudah melotot, bersama Yifan yang terkejut, keduanya memandangi Qing Zhu. "Ah, sepertinya aku salah ngomong. Ups ..." ucap Qing Zhu dengan memasang tanda peace, dan segera pergi meninggalkan pasangan yang akan bertunangan tersebut.
"Huuh, dasar! Qing Zhu-ge selalu bikin malu!" umpat Luhan dengan kerucutan bibir merahnya.
"Luhan,"—panggilan dari Yifan segera membuat Luhan menoleh, "Ada yang ingin kubicarakan,"
Luhan mengangguk. "Katakan saja .."
Yifan menunduk sesaat, kemudian menatap Luhan yang sudah kebingungan disana. "Maaf ..."
Luhan menyerngit, "Maaf? Kenapa?"
"Aku akan bersalah sebentar lagi. Aku benar-benar minta maaf," ujar Yifan, kemudian berlalu meninggalkan Luhan yang telah kebingungan setengah mati.
"Bersalah?"—Luhan benar-benar tidak mengerti.
Dan sebentar lagi kau akan mengerti
.
.
.
"Waktunya penukaran cincin!"
Suara teriakan kakak Luhan, membuat semua yang hadir bertepuk tangan. Puluhan pasang mata memandang Yifan yang terdiam dan Luhan dengan rona merah di pipinya. Dua buah cincin dengan warna perak yang masing-masing dipegang oleh Luhan dan Yifan, membuat para hadirin berteriak menggoda mereka. Terlebih kakak Luhan, Qing Zhu dan Kai, yang juga datang dipertunangan Yifan dan Luhan.
Mata Yifan tidak berhenti melihat-lihat kerumunan yang berada dihadapannya. Mencari sosok yang sedari tadi ingin dilihatnya. "Wu Yifan, silahkan memasangkan cincin pada pasangan anda,"—suara Qing Zhu melalui mikrofon menyadarkan Yifan dari lamunannya. Ia terdiam cukup lama, lalu segera menarik pelan tangan Luhan.
.
"Ah, terlambat, yah?"
.
Cincin perak itu masuk ke jari manis Luhan, bersamaan dengan datangnya Zitao.
.
Yifan menghentikan aksinya memasukkan cincin ke jari manis Luhan, kemudian menoleh pada kerumunan, terpaku saat melihat Zitao yang datang dengan Sehun. Pandangan keduanya bertemu secara tidak sengaja. Yifan dapat melihat Zitao disana dengan kemeja biru muda dan juga celana jeans selutut, dengan Sehun disampingnya yang mengenakan pakaian yang sama dengannya walaupun berbeda warna.
Dan tangan keduanya bertaut.
"Yifan? Kau baik-baik saja?"—suara Luhan tiba-tiba membuat Yifan menoleh padanya.
Yifan menggeleng, dan kemudian menarik kembali cincin yang baru saja akan terpasang di jari manis Luhan, hingga sengaja menjatuhkannya. Cincin itu bergilir jauh, membuat panik para hadirin. Yifan tidak memperdulikan itu semuanya. Ia hanya terus menatap mata Zitao dalam.
Luhan terkejut, ia tidak menyangka Yifan akan menjatuhkan cincin tunangan mereka dan memilih untuk mematung dihadapannya. "Ada apa denganmu?" gumam Luhan lirih, sampai ia melihat Zitao dan Sehun disana. Hatinya berdenyut sakit sekarang. Tidak bisakah Yifan melihatnya walau sehari saja? Tidak bisakah Yifan berhenti memikirkan Huang Zitao walau sejam saja? Tidak bisakah? Mengapa Yifan tidak bisa melepaskan Zitao? Apa yang istimewa dari diri pemuda Huang itu?
Luhan benar-benar tidak tahu.
"A-aku harus ketoilet sebentar,"—Yifan berlalu bergitu saja, meninggalkan Luhan dan berlari melalui kerumunan, keluar dari ruangan tersebut.
Luhan menunduk dalam. Rasanya ia ingin menangis sekarang. Sementara itu, kakaknya sibuk mencari cincin tunangan yang dijatuhkan Yifan secara sengaja. Ia melirik, melihat betapa marahnya Ayah Yifan atas kelakukan putranya dan Ibunya yang tersenyum tipis disana. "Mama ... mengapa kau menjodohkanku dengannya ..?"—dan Luhan menangis, masuk kedalam kerumunan.
.
Sehun yang melihat Luhan berjalan dengan kepala yang ditundukkan, menaikkan sebelah alisnya. Ia tahu persis bahwa pemuda manis itu sedang menangis. Ia memperhatikan Luhan yang terus berjalan tanpa memperdulikan siapa yang ditabraknya.
"Zitao, aku pergi sebentar, ya?"
Zitao mengangguk, mengizinkan kekasihnya melepaskan genggaman mereka dan segera berjalan pelan. Zitao menghela napas. Seharusnya ia tidak perlu menanggapi tatapan Yifan dengan ikut membalas tatapan pemuda tampan itu? Ia menepuk dahinya pelan. "... What should I do ..?"
.
Bruk!
Ini sudah kesekian kalinya Luhan menabrak orang. Namun baru kali ini, seseorang menghentikan langkahnya dengan menarik lengannya. Ia menoleh pelan. Dan terkejut begitu mendapati Sehun yang bersiul seolah tidak memperhatikannya, namun Sehun-lah yang menggenggam lengannya. Luhan dengan cepat menghapus airmatanya. "Yaak! Apa yang kau lakukan? Lepaskan!"
Sehun menoleh padanya, tersenyum membalas gerutuan Luhan, "Kau mau kemana, huh? Acaranya belum selesai,"
"Bukan urusanmu!"—Luhan menghempaskan genggaman Sehun, kemudian melipat kedua tangannya didada.
Sehun terkekeh, "Wow, santai saja .. kau mengerikan juga kalau marah, ya?" candanya.
Luhan semakin mengerucutkan bibirnya, "Uhh .. kenapa kau jadi menyebalkan sih?!"
Sehun menggendikan bahunya, "Aku menyebalkan untuk orang-orang manis saja,"
DEG!
"A-apa katamu?" ucap Luhan terbata-bata. Ia tidak percaya dengan celoteh yang baru saja dikeluarkan oleh pemuda dihadapannya. "Kau mengataiku manis, ya?! Aku tampan, tahu! Aku bahkan lebih tampan darimu! Di Canada, aku direbuti para ga-,"
"Iya-iya! Kau memang manis,"—sebuah cubitan mendarat dipipi merah Luhan bersamaan dengan tawa Sehun. Kemudian, Sehun mendekatkan wajahnya, membuat Luhan merona merah.
"Benar. Kau manis, sungguh,"
Blush!
Seluruh wajah Luhan rasanya memerah mendengar gumaman Sehun. Dengan cepat ia mundur beberapa langkah dan kembali melipat kedua tangannya, "A-aku tampan ya! Kau jangan sembarangan!"
Sehun memasang wajah tidak percayanya, "Benarkah? Benarkah pemuda manis ini tampan? Aigoo, kau benar-benar manis, Xi Luhan!"
Jantung Luhan berdetak tak wajar saat Sehun mulai menggodanya dan mengusak rambutnya. Luhan terdiam beberapa saat, hingga senyum tipis mulai terpasang di bibir merahnya.
Pemuda dihadapannya tersenyum, "Sudah tersenyum sekarang, huh?"—Sehun kembali menarik pipi Luhan, membuat pemuda manis itu mengaduh kesakitan. Dengan kesal Luhan menggapai pipi Sehun kemudian membalas cubitan Sehun. "Awwh! Kau balas dendam, huh?" seru Sehun, semakin menarik pipi Luhan yang dibalas balik olehnya.
"Ya! Kau men-nyeu-bhal-kan!" ucap Luhan setengah mati karena pipinya ditarik.
Keduanya segera melakukan cubit-cubitan dengan tatapan mata yang saling berhadapan. Tatapan mata Sehun yang seperti bulan sabit sedangkan Luhan yang membelok sempurna sangat lucu sekarang. Tidak butuh waktu lama, hal itu menarik perhatian para tamu. Mereka tertawa-tawa melihat aksi lucu kedua pemuda itu.
"Sudah, hentikan. Ini benar-benar sakit," ujar Luhan, melepaskan cubitannya pada pipi Sehun dan segera melepaskan cubitan Sehun pada pipinya.
Sehun tersenyum sembari mengusap pipinya, "Jangan menangis lagi, okay? Susah membuatmu tertawa, kau harus tahu itu!" titahnya, kembali mengusak rambut Luhan.
Luhan mendengus. "Huh! Kau merusak rambutku!"
"Luhan!" suara teriakan yang memanggil si manis segera saja menarik perhatian. Luhan menoleh dan mendapati Yifan sudah kembali dan berdiri dipanggung. "Baiklah, aku pergi dulu," ujarnya, melangkah meninggalkan Sehun.
"Bye bye, cutie!"—dan Sehun kembali mendapati tatapan tajam dari Luhan. Pemuda bermarga Oh itu hanya tersenyum menanggapinya.
.
Yifan segera menarik tangan Luhan, hendak kembali memasangkan cincin yang sempat menghilang itu. Luhan hanya terdiam. Sekarang yang ada dipikirannya bukanlah Yifan lagi. Dalam hati, ia terus menggerutu memikirkan Oh Sehun yang membuat waktunya sia-sia. Ia juga tidak begitu mengerti, mengapa dirinya sempat merasa begitu gugup saat Sehun berada didekatnya. Semacam rasa yang terus menggelitik, namun Luhan terus saja mengabaikannya.
Apa artinya ini?
Luhan menoleh sesaat, dan dia bisa melihat Sehun yang sedang bercakap-cakap dengan Kai yang sekali-sekali menampakkan tawa lucunya.
-Pandangan keduanya bertemu.
Dan Luhan merasa bahwa jantungnya berdetak sangat keras saat Sehun tersenyum menatapnya.
.
Mungkinkah .. Luhan ...
.
"A-APA ITU?!"
"KYAAA! ADA HELIKOPTER!"
Dan seluruh pasang mata kini sedang menyaksikan sebuah helikopter mendarat tepat didepan pintu gedung, membuat beberapa taplak meja dan benda lainnya beterbangan dan juga menimbulkan suara bising. Luhan terkejut, tentu saja. Sama seperti Luhan, yang lain juga terkejut melihat bahwa tiba-tiba saja sebuah helikopter mendarat. Tapi tidak bagi Yifan.
"Zitao! Kau dimana?!"—suara Sehun yang mulai mencari Zitao, segera mengisyaratkan Yifan untuk beranjak dari tempatnya, berlari menuju Zitao yang berada di pojok ruangan.
"Yifan! Kau mau kemana?!" Luhan terkejut saat Yifan berlari meninggalkannya.
.
.
.
Grep!
"Eh?"
Dan Yifan berhasil membawa Zitao kedalam gendongannya, menuju si mesin terbang, helikopter.
.
.
.
.
TBC
Yuhuu, ira kembali setelah hiatus yang berkepanjangan :'v
oke kali ini ira gatau mesti bilang apa. Yang jelas adakah yang kangen sama AUTOMNE dan ira :'v so, what do you think about this chapter, readers?
pengen liat pendapat kalian ttg chapter ini dong :v
BIG THANKS TO :
"LVenge, luphbebz, delightbaek, GalxyPanda69, Panda Saeng, yuikitamura91, Kirei Thelittlethieves, Huang Zi Mei, Orangcuppie, celindazifan, Varka, annisakkamjong, Ko Chen Teung, Yasota, beruanggajah, Ammi Gummy, Safitri676, reader, qwerty, BabyWolf Jonginnie'Kim, JungSooHee, exoel12, ang always, AmeChan95, Aiko Michishige, HUANGYUE, YuRhaChan, ndadinda, yjima, maulina45, zizi, ajib4ff, putri ana 7399, adindaPCy, Panda Item, meimei, MRS KittyTemong, ShinJiWoo920202, anis l mufidah, SAPPHIRE BLUE-EXO PLANET, owe, Xyln, Guest"
Maaf ira gabisa balas review kalian satu persatu .. ira lagi gaenak badan, jadinya disuruh istirahat mulu, megang laptop bentaran aja emak ira udah kayak mau ngelahap orang marahinnya :v :3
TERIMAKASIH YAAA UDAH REVIEW READES MUMUMU ILYSM :*
Thanks buat yang udah nge review, nge fav-in, nge follow-in \^^/ laff laff
Last, MIND TO REVIEW? ;)
