Title : (Bad) Blood #11 [Huh? Jun? Is that you?]
authornim : innochanuw
disc : warn!boyxboy! boyslove! violet-word-and-action? Fantasy! Drama?! Rate-up?! –plis the plot is mine, the characters are belongs to their family and agency. DON'T LIKE DON'T READ~!
Cast : all ikon's members pair: a little junhyeong, yunchan, and netral feels/? No 'mature' content again guys, calm:D
.
.
.
Yunhyeong pikir Jun hanya bermain-main saja.
Apa yang bisa kau harapkan dari bocah masa pubertas? Janji ditepati? Mendengarkan perintah dan larangan? Hah, tidak mungkin!
Tapi Jun (bahkan malam tadi tidak menjanjikan 'apapun') kali ini benar-benar serius.
"...hyung? Kau tidak benar-benar terantuk lutut karena aksi anarkis Chanwoo saat tidur bukan?"
Tolong siapapun bangunkan Yunhyeong dari mimpi buruk ini. Se-ka-ra-ng!
"Hyung?"
Mimpi apa aku semalam? Ah tidak bahkan aku tidak bisa memejamkan mata karena geli sekali dengan Jun!
"Ya ya ya, aku mendengarmu. Aku sudah bangun ya ya ya, berisik," Pemuda manis ini yakin pasti sekarang sudah terjadi kesalahan. Misalnya, sifatnya tertukar dengan Jun? Lalu Jun bertukar sikap dengan Jinhwan karena...ya tuhan, hanya karena melihatnya akhirnya bangun dan melempar selimut, senyumnya langsung mengembang sama seperti senyum Jinhwan hyung setelah membangunkan dirinya dengan Chanwoo tiap pagi!
"Kau tidur nyenyak kan semalam? Bagaimana dengan-"
Yunhyeong menoleh sinis ke arah bayangan Jun yang terpantul pada cermin –sialan, dia ingin mengganti piayamanya dan anak itu masih bertengger di tempatnya?!
"Apa kau baru saja melempaskan tata kramamu sekarang? Mana sopan santunmu yang tadi seperti baru tau ada kata 'hyung' di dunia ini? Apa itu menghilang lagi?" Ia mengulas senyum miring (demi kakaknya yang selalu mengomel tiap dibangunkan pagi-pagi, Yunhyeong merasa seperti bukan dirinya lagi! Sejak kapan dia berani dan bisa mengulas senyum miring huh?! Berguru pada siapa? Dan ini mengulasnya di hadapan Jun!)
"Aku mau mengganti bajuku, kau senang ya melihat orang telanjang? Aku mempesona bukan?"
Pemuda Song tersebut berani bersumpah kalau wajahnya pasti sudah memerah tapi mati-matian sudah ia tahan karena Jun masih mempertahankan senyumnya di ujung pintu.
"Tidak perlu, semua sudah menunggu. Bukankah itu membuang-buang waktu hyung? Maaf atas kelancanganku. Kenapa bisa sampai telat bangun hyung? Ada yang mengganggu pikiranmu?"
Brengsek. Ingin rasanya ia melontarkan makian yang selalu didengarnya tiap pagi dan malam dulu. Dipanggil hyung sudah merupakan sebuah keajaiban untuk jenis vampir manapun yang menjunjung tinggi harga dirinya, sekarang ada permintaan maaf khas bangsawan terhormat, dan sok perhatian?!
Yang membuatku tidak bisa tidur kan kau ish!
Yunhyeong kembali mengancingkan piyamanya yang sudah setengah terbuka (wajahnya pasti sudah benar-benar memerah) dan pergi berlalu melewati Jun begitu saja yang mengekorinya (tunggu, kenapa justru ia terdengar seperti prince ketimbang Jun dengan jubah hebatnya tetap cocok dengan piyama?)
Aku sudah seperti orang tidak punya malu saja sekarang! Setelah tidak punya harga diri sekarang tidak punya malu?
"Kenapa kau seperti ini sih?" Jarak dari pintu kamarnya ke ruang serbaguna cukup jauh ('rumah' ini cukup luas juga untuk ukuran di hutan antah berantah) jadi sepertinya cukup banyak waktu untuk 'berbicara'.
"Apanya?"
"Jangan pura-pura tidak tau, bocah. Kau dengan tata krama? Jinhwan hyung berbalik memukulimu dengan sapu ajaibnya setelah pulang ya?"
Posisinya memang membelakangi tapi Yunhyeong masih bisa lihat Jun semakin lebar mengulas senyumnya, tak ada paksaan atau kesinisan yang biasanya sangat meremehkan disana.
Setelah 'hyung', 'minta maaf', sekarang 'senyuman?' Benar-benar aneh!
"Setidaknya aku tau tata krama kaum manusia meskipun tidak pernah tinggal di tempat menjijiikan itu bersama kalian."
Apa? "Maaf? Pardon?"
"OH! YOYO HYUNG!"
Yunhyeong tidak bisa untuk tidak refleks membalas senyuman idiot Jiwon karena kebiasaannya baik-dibalas-kebaikan di sekolah (tapi tentu saja langsung direspon pura-pura muntah saat Jiwon membalasnya dengan flying kiss) dan tiba-tiba moodnya jatuh begitu saja ketika...
...Jun langsung 'nyalip' dan melesat duduk di sebelah Hanbin –yang agak keringat dingin membuat Jiwon yang sedang menjahili Hanbin langsung melompat dengan kaki kelincinya ke arah Jinhwan untuk 'berlindung'.
Sudah? Jadi begitu saja selesai begitu saja keanehannya? Lucu sekali.
Tapi Yunhyeong tidak bisa untuk tidak bersikap normal seakan-akan halo-tadi-aku-dibangunkan-jun-untuk-pertama-kalinya-dan-itu-secara-baik-baik-bahkan-kami-ngobrol-baik-juga-apa-tidak-ada-yang-aneh-dan-curiga tidak pernah terjadi.
Dulu Yunhyeong protes akan kebisuan Jun yang sama sekali tak bertanggung jawab setelah membawanya ke 'rumah' ini tetapi begitu mendengar banyak sekali celotehan tidak berguna keluar dari bibir tebalnya, rasanya ia ingin menarik kata-katanya saja.
Masalahnya...Jun hanya berisik padanya! Di hadapannya saja!
"Sudah selesai?"
Yunhyeong mendecih. Dari semua jenis makian, tinju, pukulan, dan jitakkan, anak ini hanya bertanya sependek ini?
"Aku...A-ah, tau ah," Pemuda Song ini menepis tangan Jun yang sedaritadi menggenggam miliknya (entah siapa dulu yang memulainya, pastinya Yunhyeong malu kalau itu dirinya) sejak mereka keluar dari 'rumah'.
Selesai sarapan, mulut ceriwis Yunhyeong sudah gatal untuk tidak 'berbicara' pada Jun si kelewat kalem dengan santapan manusianya dan Yunhyeong langsung mengajak Jun untuk mencari kayu bakar setelah si tetua, Jinhwan menyelesaikan acara makannya.
Baik Jun ataupun double Kim sepertinya sudah 'mengerti' jadi saat Yunhyeong langsung meninggalkan ruang 'makan', hanya Jun yang mengikutinya.
"Maumu apa?" Jun hanya mengulas senyum. "Asal kau tau ya, aku tidak memerlukan senyuman sampahmu itu!"
"Lalu kau mau jawaban apa? 'Aku mau kamu' begitu?"
Si anak sial ini...
Yunhyeong berbalik, Jun yang berada di belakang dengan kedua tangan yang terlipat di dada langsung berhenti berjalan.
"Kau benar-benar mau menjauh?"
"Memangnya kau mau hidup abadi bersamaku?"
Yunhyeong berdengus keras. "Kau barusan sedang wedding proposal?"
"Mau menganggapnya begitu? Tak masalah."
Yunhyeong benar-benar kesal sekarang. Kalau dia adalah tokoh di manga, sudah ada empat persimpangan berwarna merah di keningnya karena tak pernah ada dan tak boleh ada yang mempermainkan dirinya, seorang Song Yunhyeong sekalipun Jun yang mungkin saja anak bangsawan atau bisa membawa seluruh pasukkan vampir di hadapannya seperti yang dilakukan pangerang cilik Chanwoo lalu.
Ah tapi tidak mungkin Jun seorang anak bangsawan karena...
Yunhyeong menggelengkan kepalanya keras. Tidak tidak! Berhenti, Song! Cukup Jun, Jiwon, dan sesekali Chanwoo yang membuatmu tidak fokus!
"Memangnya kau pikir kau itu siapa bisa seenaknya?" dengusnya keras, ikut-ikutan gaya Jun (atau Jun yang menirunya) dengan melipat kedua tangan. "Aku ini Song Yunhyeong loh. Bukan orang sembarangan, tidak bisa diajak main-main apalagi diajak becanda. Wahaha bagaimana ya? Boleh saja posisimu di klan vampir itu berpengaruh hebat atau apapun itu tapi aku bukan Song Yunhyeong yang kau tolong waktu itu, aku sudah beru-"
"Kau berisik sekali sih?" Jun dengan senyum miringnya. "Omonganmu ngelantur. Lucu sekali, apa masalahnya kalau kau seorang Song Yunhyeong? Aku baru tau namamu dan melihatmu setelah disini bukan bertemu saat berada di dunia brengsekmu. Aku tidak tau seberapa hebatnya kau di duniamu, apa sehebat posisi anak kurang ajar Jung Chanwoo? Bahkan setelah Jiwon dan Hanbin kubawa kesini, mereka tidak sombong dan membanggakan nama mereka yang sangat terkenal di dunianya," Satu tarikkan nafas panjang sebagai jeda dan sepertinya Yunhyeong benar-benar tak ingin mendengar penjelasan panjang lebar Jun meski dalam mode normal.
"Jadi jangan bawa-bawa namamu, jabatanmu, nama kakak, adik, atau orang tuamu disini. Kalau vampire rendahan kemarin kau ancam dengan kata-kata konyol, dalam hitungan detik kau bisa berpindah ke dalam perutnya karena itu tidak berguna."
DEG!
"Apa masalahnya kalau kau seorang Song Yunhyeong?"
'Yunhyeong sunbae! Tolong bantu kami, terima peran ini ya ya ya?'
'Memangnya kenapa kalau kami dari keluarga Song dan kakakku Song Yunhyeong? Kami sama saja seperti kalian! Tidak ada yang berbeda!'
'Yunhyeong oppa! Terima cintaku tolong!'
'Kamu adalah seorang Song Yunhyeong, anak dari kami yang selalu luar biasa. Cukup dengan masalah kakak dan perginya adikmu. Hanya kamu yang bisa kami andalkan. Jadilah Song Yunhyeong yang membawa nama baik keluarga Song dengan prestasi tidak biasa.'
"...Aku tidak tau seberapa hebatnya kau di duniamu..."
'U-uwah hoksi uri Song Yunhyeong memang dae-bak!'
'Jalsaengkhaetta, Song!'
'You're the best, hyung!'
'Aku mau makan makanan buatan kak Yunhyeong saja deh kalau begitu terus caranya hehe~enak!'
Yunhyeong tidak sakit hati. Tidak sama sekali, sebelum ibu dan ayahnya secara langsung memintanya untuk menjadi satu-satunya harapan keluarga besar Song( dengan menjadi nomor satu di antara yang lain, panutan, dan berbagai macam 'topeng lainnya' untuk pertama dan terakhirnya mereka bersikap sebaik itu), tepat 3 tahun yang lalu ia, kakaknya, dan adiknya sudah pernah mendengar itu semua.
Mereka dikucilkan dan ditindas, terlalu dini untuk mental anak sekolah dasar seperti mereka. Untuk itu, sang kakak selaku pelindung adik-adiknya bertekad untuk berubah menjadi kuat, hasilnya adalah 'preman tersangar' yang dikenal hampir seluruh sekolah di daerahnya. Sang bungsu yang awalnya cengeng dan selembut kucing berubah menjadi gadis tomboy yang kuat dan jiwa keibuannya bisa berubah menjadi kucing liar demi melindungi kakak keduanya, Song Yunhyeong sendiri dan keluarganya.
Sementara Yunhyeong sendiri? Dia tidak dapat berbuat banyak, dirinya terlalu dilindungi oleh keluarganya sendiri, tidak banyak perubahan yang ia alami sejak kecil sebelum penindasan itu berakhir dan mereka mulai tinggal menetap.
Song Yunhyeong yang semulanya hanya anak bertubuh ringkih dengan kulit kelewat pucat berubah dan tumbuh menjadi pemuda berkulit pucat yang sering tersenyum, bertingkah konyol (hanya itu yang bisa dilakukan untuk dianggap berguna di dalam keluarganya yang selalu pulang kelelahan), selalu rangking terakhir di kelas, bermasalah sampai sang ayah mencubit pipi berisinya (hukuman terberat yang mereka dapatkan jika sudah kelewat nakal), dan hobi mencaci maki di masa pubertasnya sampai sang kakak mengejeknya untuk menjadi diss rapper saja daripada menjadi aktor.
Yunhyeong melakukannya agar tidak dianggap remeh oleh anggota keluarga ayah ataupun ibunya yang lain atau dari keluarganya sendiri meskipun seluruh anggota keluarganya selalu menyambutnya dengan pelukkan hangat.
Yunhyeong hanya ingin diakui bahwa ia juga kuat, bisa diandalkan, dan berguna walaupun itu hanya berbentuk 'kenyamanan' dan 'kehangatan' dari masakkan, tawa renyah, ataupun lelucon murahannya bukan 'keamanan' dan 'keberanian' yang selalu diberikan oleh seluruh anggota keluarga Song.
Karena dia tau, suatu saat nanti hal besar akan terjadi dan semuanya berubah. Dia tetaplah lelaki dan sudah 'peraturan' turun menurun dari keluarga kalau saat dewasa, anak lelaki tidak boleh dimanjakan dan harus hidup sendiri, untuk anak perempuan disaat seluruh saudara lelakinya sudah memasuki masa pubertas dia akan dijodohkan dan tinggal terpisah dengan suaminya tak akan kembali lagi.
Yunhyeong tau itu akan terjadi tapi dia tidak menyangka akan secepat ini.
Kakaknya yang selalu perhatian dan mengajarinya bela diri dengan kasih sayang berubah menjadi orang asing yang tak berbeda dengan preman di luar sana, adiknya benar-benar pergi dengan seorang laki-laki seumuran dengannya yang disebut sebagai suami yang bahkan tak pernah Yunhyeong lihat, dan orang tuanya berubah drastis setelah meminta 'permohonan baik-baik' pada Yunhyeong untuk berubah menjadi lebih baik menjadi sempurna lalu dibiarkan tinggal bersama si sulung yang sering mabuk-mabukkan, berkelahi, dan kelakuan buruk lainnya yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
Itu semua karena...
Tidak, Song. Tidak! Sudah cukup!
Yunhyeong memejamkan mata seerat mungkin, seerat kedua tangannya yang sudah terkepal. Sekelebat memori berputar di kepalanya dan ia tidak bisa menghentikannya. Emosinya mulai mengalir tak beraturan ke atas kepala.
Otaknya terlalu cerdas untuk langsung menarik kesimpulan dari perkataan panjang Jun.
Selama kau hidup, dari dulu sampai sekarang kau tidak berguna Song Yunhyeong. Kau hanya mengandalkan namamu dan kekuasaan dari keluargamu saja. Kau tidak berguna namun sangat arogan dan sombong.
Sungguh tidak berguna.
Jun memiringkan sedikit kepalanya. "Apa aku memancing amarahmu lagi, Song? Jadi amarah sisa kemarin belum semua lepas nih? Apa nanti akan ada angin konyol yang menyerangku?"
"Diam kau."
Jun terkekeh pelan sementara Yunhyeong mulai menundukkan kepalanya dalam-dalam seperti yang sudah-sudah.
"Kau mengancamku? Punya kekuatan apa kau sampai berani mengancamku? Kau berubah menjadi rubah dan memiliki kekuatan ini itu karena kemurahan hati Jung Chanwoo dan keputusanku. Aku bisa mengambilnya begitu saja, apalagi Chanwoo begitu tau kau menggunakannya dengan seenak jidat. Ah...Apa nada dan penggunaan kata-kataku sudah sama seperti kau, Song Yunhyeong?"
"Berhenti hiks bicara hiks GEUMANHAE!"
Jun tercengah. Apa Song Yunhyeong tengah menangis sekarang?
"Iya hiks aku menangis lalu hiks kenapa? Apa masalahnya? Karena aku adalah Song Yunhyeong? Hiks hiks..."
Gawat. Katakan saja Jun sangguh melawan seribu pasukkan vampir rendahan dalam satu malam, tapi jangan suruh dia untuk mendiamkan seseorang yang sedang menangis. Kebisaannya adalah menangisi orang bukan membuatnya berhenti menangis.
Jun tidak suka melihat orang lain menangis, apalagi ini adalah seorang Song Yunhyeong. Ada yang berbeda. Waktu Jinhwan menangis dua hari satu malam karena rindu teman-temannnya, Jun bisa mengganjalnya dengan menutup telinga dan menebalkan hatinya tapi sekarang...rasanya hatinya langsung mencelos.
"Y-yah," Aku harus bicara mulai darimana? Minta maaf? "Jangan menangis. Kau laki-la-"
"LALU KALAU AKU LAKI-LAKI KENAPA? AKU TIDAK BOLEH MENANGIS KARENA AKU LAKI-LAKI BERNAMA SONG YUNHYEONG BEGITU?!"
Wow, Jun pikir kemampuan 'berteriak'nya akan berkurang karena sang pemilik suara tengah 'mengeluarkan' emosi batinnya.
Haduh, harus bicara apa? Waktu Jinhwan menangis, duo Kim langsung menyerang habis-habisan karena malaikat mereka terluka hatinya dan Hanbin sumpah serapah karenanya. Yunhyeong menangis siapa yang berkoar?
"Ka-kau boleh kembali seka-"
"HUAAAA! EOMMA! HYUNG! YEODONGSAENG! AKU MAU PULANG SEKARANG! HUAAAA!"
Ada baiknya setelah ini Jun ke ruang kesehatan untuk mengecek fungsi sepasang telinganya pada Kim Donghyuk.
.
.
.
.
"Dasar keparat tak tau diri!"
PRANG!
Seorang pemuda yang baru saja memiringkan sedikit kepalanya langsung terbelak kaget, tak sebanding dengan wajah datar yang setiap hari ia tunjukkan.
"Hah! Baru kali ini kau tidak bisa menghindari seranganku. Aku yang terlalu hebat atau kau tidak sehebat yang dikatakan orang-orang? HAHAHA!"
Pemuda tersebut berdecih pelan. Di dekat pelipisnya sudah tercipta luka garis memanjang berkat lemparan botol vodka yang pernah ia punya.
Sepasangan matanya menatap nyalang ke arah sekumpulan pria yang tentun lebih tua darinya tengah tertawa terbahak-bahak. Ia tak terima dipermalukan seperti ini, di dalam klub yang membesarkan namanya tetapi jauh di dalam lubuk hatinya adalah sesuatu yang membuatnya tak nyaman, sesuatu yang meresahkan.
Sekelebat bayangan yang beberapa hari ini tak ia lihat tiba-tiba muncul di dalam benaknya.
"Yunhyeong? Itukah kau? Ada apa?" bisiknya pelan.
.
.
.
"Ya ya ya! kalian cari di sebelah kanan lalu sisanya cari di sebelah kiri, arraseo? Kita diberi misi untuk menangkap ketua atau tidak ada makan malam! Hari ini kita akan makan besar tau?! Anggap saja ini adalah sebuah misi!"
"YE! ALGESEUMNIDA!"
"Baik, sekarang berpencar!"
Bagaikan sekelompok ninja berpengalaman di serial televisi, barisan anak kecil berpakaian serba hitam yang baru saja berkumpul itu langsung menyebar ke segala arah dalam bentuk yang bermacam-macam. Ada yang anjing, kucing, kelinci, bahkan serigala.
Sementara yang memberi perintah langsung mengacak-acak rambutnya depresi, tidak seperti dirinya beberapa menit lalu.
"Aish, hyung kemana sih? Susah sekali mencarinya...lagipula apa-apaan ini misi pertama kali anak tingkat pertama langsung mencari petinggi yang terkuat? Dia pikir itu mudah? Anak tingkat akhir saja belum tentu bisa melakukannya!"
Tak jauh dari posisinya berdiri, seorang pemuda yang lebih tua tampak terkikik pelan di atas dahan besar milik pohon tua. Ya, dia adalah petinggi terkuat dan ketua yang disebut-sebutkan tadi, sekaligus 'founder' dari 'tempat' berlindung ini.
"Belum dicoba langsung menyerah? My my~ Jeno-ku...Bahkan Jisung lebih cer-"
DEG!
Pemuda yang berusaha menjaga keseimbangannya di dahan dengan cakarnya nyaris saja terjatuh dari ketinggian 3 meter kalau saja ia tak dapat mengendalikan diri.
Pe-perasaan apa ini?
"Zeay?"
"Hm? Chan-ah? Wae? Tumben sekali."
Chan atau lebih kita kenal dengan nama Jung Chanwoo menggelengkan kepalanya pelan untuk menghilangkan pikiran negatif sebelum fokus terhadap 'panggilan telepati' dengan betinanya.
"Apa keadaan disana baik? Tidak ada penyerangan?"
"Semuanya aman terkendali. Benar-benar aman karena kami sedang berkumpul untuk sarapan, perbedaan waktu yang signifikan bukan? Apa kau merasakan sesuatu?"
"Tidak," Chanwoo menggeleng, tak ingin betinanya merasa khawatir. "Hanya perasaanku saja...Kalau begitu titip salam pada eomma dan a-"
Hujan.
Chanwoo bergeming sebentar sebelum menjulurkan tangannya, menyapa titik-titik hujan yang tiba-tiba muncul dalam skala besar atau disebut hujan lebat.
"Hujan?!"
"Yah, Jung Chanwoo! What's wrong?!"
"Tidak ada," Pemuda kelebihan kalsium ini berusaha menahan suaranya untuk tidak berteriak lagi. "Hanya...masalah dengan anak-anakku. Titip salam pada orang tuaku saja."
"Nde..."
Hujan! Gawat!
"CHANWOO HYUNG! KEMANA SAJA KAU?! JANGAN BERSEMBUNYI DI ATAS POHON! KAU SENDIRI TAU KALAU AKU TAKUT KETING-HYUNGGGG~ MAU KEMANA?!"
"Tu-tunggu sebentar!" balas Chanwoo terbata-bata. Ia baru saja nekat terjun dari atas pohon setinggi 3 meter dan berlari kencang dalam wujud serigalanya tanpa aba-aba. "Tidak, maksudku jangan tunggu aku! Langsung ke sarang saja, semuanya. Ada panggilan gawat!"
Satu-satunya rubah disini yang memiliki kekuataan hanyalah Yunhyeong hyung. Dan lagi, aku sudah memberi 'alat pelacak' yang lebih hebat padanya. Apa yang terjadi? Hujan tiba-tiba karena seekor rubah menangis...Yunhyeong hyung?
.
.
.
.
BRAK!
"Sudah sampai? Tidak ketuk pintu dulu?"
"Bagaimana bisa aku mengetuk pintu kalau saja-" Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik menujuk-nunjuk bola kristal di tangannya yang menggambarkan wajah seseorang. "-Bola ini tidak menunjukkan ada yang terjadi pada anak kita lagi!"
"Lagi?" Lawan bicaranya hanya tersenyum kecil. "Sebelum-sebelumnya, terjadi juga bukan padanya? Kau sudah sepanik ini dulu dan tidak terjadi apapun. Kakaknya mengajarkan dengan baik, apa yang perlu dicemaskan?"
"Ta-tapi..."Wanita paruh baya tersebut menggigit kukunya. Matanya bergerak tak nyaman, antara ragu dan tak yakin.
"Tapi apa? Sudahlah, dia akan baik-baik saja. Kalau pun terluka, dia tidak akan ma-"
"Aku menggunakan pengelihatanku dan melihat ada orang lain bersamanya. Bukan dari jenisku, kaum lebih lemah, manusia, atau musuh lagi tapi seekor vampir!"
Lawan bicaranya mulai memberi respon. Sepasang matanya berubah warna menjadi merah darah.
"Bukankah sudah kubilang untuk tidak menggunakan kekuatanmu lagi apapun kondisinya, nyonya Song? Apa kekuatan dari jenisku tidak cukup? Harus berapa kali kubilang?"
"A-aku...AKU TIDAK TAHAN LAGI!" Di balik ketenangan yang menyelimut auranya, teriakkan kerasnya sama sekali tidak mengusik sang lawan bicara untuk melunakkan tatapannya. "Anak kita memang sudah ditakdirkan untuk seperti ini, yeobo...bukan karena jenisku atau aku yang memberikannya segel pelindung dan masih memakai kekuatanku hingga sekarang!" jeritnya histeris.
"Dia tidak berbeda, hanya unik. Tidakkah kau bisa membedakannya, menganggapnya sama, dan tidak mengucilkannya?"
Tatapan sang lawan bicara yang ternyata suaminya mulai lunak tapi matanya masih semerah darah. "Aku tidak mengucilkannya, lingkungan yang melakukannya dan dia berubah karena itu. hanya dia yang berbeda, apa kau tidak merasa aneh? Semua anakku sama, normal, tidak ada spesialnya sama sekali, kenapa hanya dia?"
Senyum tipis masih terpatri di bibirnya. Daripada merasa melihat sosok 'hangat' itu justru menambahkan label 'bahaya' padanya. "Bukankah itu bagus kalau dia bersama seseorang yang jelas-jelas jenisnya itu? Dia akan mendapatkan 'pendidikkan' yang baik, kekuatanmu yang mengalir padanya dapat lenyap, dan akhirnya dapat menerima jati dirinya sendiri bukan kebingungan lagi. Apa yang perlu kau khawatirkan lagi?"
"Mau kau menempelkannya pada anak manusia, anak serigala, atau apapun itu warisanku darinya tidak akan lenyap! Hanya tertahan!"
"Well well well~" Wanita paruh baya tersebut menatap tajam ke arah suaminya yang berpindah dengan cepat ke arah jendela besar milik istana mereka, menghadap langsung ke arah matahari yang baru saja terbit. "Aku ragu kalau kau sebenarnya sengaja memberikanmu 'warisan' hanya padanya untuk meneruskan kaummu. Kau tau bukan alasan mengapa kita menikah?"
"Untuk menahan pergerakkan kaumku, memperkuat kekuasaanmu, mencegah terjadi pernikahan antara musuh, dan menjadikan pernikahan kita pertama dan terakhir dalam catatan 'dosa'..." bisiknya pelan yang mendapatkan jentikkan jari keras.
"Tepat sekali! Lalu apa masalahnya dengan vampir itu? Toh, aku juga tidak memaksakan anak kita untuk menjadi jenis yang 'seharus-"
"Dia bukan kaum bangsawan."
"Lalu?" Senyumnya makin melebar tanpa perlu sang istri menoleh ke arahnya. "Rendahan juga tidak kan?"
Istri cantiknya yang benar-benar 'mengkopi' diri pada anak lelaki kedua mereka hanya bisa menggeleng dalam tundukkan kepalanya yang makin dalam.
"Apa lagi yang meresahkanmu? Aku tidak mau kita bertengkar karena masalah sepele ini. Kau tidak mau bukan kita benar-benar bertengkar bukan pura-pura seperti saat putra kita memasuki masa remaja-"
"Vampir yang bersama anak kita dari kaum perdana menteri."
Keheningan langsung tercipta di antara keduanya yang berada di dalam ruangan besar nan mewah.
"Saya selaku ibunya dan sang ratu memerintahkan pasukkan istana untuk membawa pulang putra mahkota, Song Yunhyeong kembali ke dalam istana dikarenakan keadaan yang tak memungkinkan," Nyonya Song menarik sudut bibirnya sedikit. "Saya kemari untuk meminta persetujuan langsung dari raja tapi kalau tidak disetujui, saya akan menurunkan langsung pasukkan saya sendiri dan membawa pulang pangeran secara paksa tak peduli ia setuju atau tidak. Tak peduli juga dengan masa karantinanya yang belum selesai."
.
.
-widihadayangbisanebak?
.
.
TADA! SELAMAT SUDAH MEMBACA 101 HAL(ngerasa gak udah baca sebanyak ini? kek novel abal jha)! CIE YOYO DIMODUSIN JUN/? EWWKWKWK GAK TAU INI APA SERIUSAN DAN INI NGEBUT BANGET:((( KUCINTA BAGIAN IYA-IYA JUNHYEONG/? Sudah nih ya, gak tau mau berkata apa lagi (mama Yoyo cantik! And i hope u will surprise about yoyo's older brother/?) mau munculin dedeq eunji tapi masa dibagian tabok-tabokkan ala game pet di fb/? Pokoknya saya mabok cinta sama pemeran kakak yoyo disini karena lagi ngehitz gila (sebenernya banyak kan yang bermarga Song, Im, atau Nam tapi kayanya cuma kenal mino, yoyo, jaebi, sama taehyun doang: mungkin saya harus berbau pada grup lain/?)
ADA JENO NUMPANG LEWAT! HAHAHA Jisung sebut nama doang (cause anak smrookies mau nongol di ff sebelah aja), mau nih bikin ff svt (gils, beneran naksir saya sama mereka. Tolong) atau ditongolin aja di ff sebelah? Hehe, gak tau nih, males banyak cingcong (aus kiw) dan bukan karena cuaca panas sepertinya yang mengurangi semangat jung buat nulis tapi semua kegiatan kayanya mengurai tenaga ya? sudahkah kalian ikut acara donasi dkk? Comeback/album support? Birthday project? Gift project? Atau ada yang nonton acara YG Indonesia; Showtime Movement di KCC jakarta kemarin? Siapa tau kita ketemu xD
(numpang iklan tak berbayar; jimin mau ultah guys! Jimin bts bukan aoa hehe, dan ada birthday project gitu kek di koriya muka jimin dalam bentuk poster bakalan nonggol di beberapa kereta krl commuter line! Kesannya kaya jalan ditemenin jimin kan? Hehe, makanya nama projectnya DATING WITH JIMIN! /horay jadi ada donasi gitu, 150K buat donasi online (dapet totebag, gantungan kunci-hp, e-sertifikat, dll) dan offlinenya minimal 25K (e-sertifikat, poster, pc) ini projectnya Global_Armys (twitter) jadi kalo mau nanya-nanya gak usah sungkan-sungkan! /iklanselesai/)
