"Ish menyebalkan!" Kata Baekhyun merasa malu lalu membalik tubuhnya, memeluk boneka beruang besar disampingnya untuk menyembunyikan wajanya.
Tawa Sehun mereda. Dan Baekhyun merasakan tubuhnya ditarik ke dalam pelukan hangat ayahnya. Merasakan kecupan singkat di kepalanya, dan suara bisikan dari Daddynya.
"Terima kasih, princess."
"Replace"
Warn: Gs!Kai, Gs!Baekhyun, Typo(s)
Pair : Hunkai
Disclaimer : Cast(s) milik diri mereka sendiri.
.
.
.
Sehun membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air dingin lalu meneguknya. Saat hendak kembali ke kamar Baekhyun, Sehun samar-samar melihat sosok berambut panjang dengan gaun tanpa lengan berwarna putih.
Hantu?
Kuntilanak?
Tunggu tunggu mana ada kuntilanak memiliki lengan berwarna tan? Semua hantu berkulit pucat kan?
Lalu.. Jongin?
Sosok itu menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga supaya tidak tertiup angin. Dan sekarang Sehun dengan jelas melihat sosok Jongin yang sedang berdiri di depan kolam renang sambil memandang ke langit malam.
Jongin berdiri diam memandang ke langit lalu memejamkan matanya. Pikirannya melayang, membuatnya tidak memperdulikan apapun disekitarnya, tidak peduli dinginnya malam yang menusuk tulangnya, ataupun langkah kaki yang berjalan mendekatinya. Sampai bau coklat masuk ke indera penciumannya dan merasakan hawa panas di pipinya. Buru-buru Jongin menoleh ke sumber panas di dekat pipinya dan menemukan tangan putih terulur memegang segelas coklat panas. Jongin mengikuti tangan putih panjang itu dan menemukan Sehun sedang tersenyum ke arahnya.
"Hot chocolate?" Tawar Sehun.
"Terima kasih." Kata Jongin menerima gelas yang disodorkan Sehun.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini di luar?" Tanya Sehun menyesap coklat panas miliknya.
"Entahlah. Melihat bintang mungkin?" Jawab Jongin menggenggam gelasnya dengan kedua tangannya merasakan panas dari gelas yang dipegangnya merembes ke kedua telapak tangannya. Bergidik pelan saat merasakan angin musim dingin berhembus.
Melihat itu Sehun langsung menarik tangan Jongin lembut, membawanya masuk ke dalam rumah. Di dalam Sehun memutar salah satu sofa sampai menghadap ke pintu kaca besar. Lalu kembali menarik Jongin untuk duduk disana.
"Jika ingin melihat bintang lakukan dari sini. Haowen akan berteriak-teriak seperti orang kebakaran jenggot kalau tahu Mommynya membeku karena berdiri malam-malam ditengah musim dingin." Canda Sehun bersandar di sofa yang didudukinya dengan Jongin. Jongin terkekeh pelan lalu ikut bersandar di samping Sehun.
Suhu di dalam sana cukup hangat tapi Jongin masih tetap menggigil pelan. Bahkan setelah Sehun perhatikan dengan seksama bibirnya terlihat sedikit membiru, membuat Sehun mengerutkan alisnya tidak suka.
"Berapa lama kau berdiri di luar?"
"Entahlah. Cukup lama sepertinya." Jawab Jongin setelah menyesap coklat panasnya. Merasakan cairan itu berjalan di tenggorokannya menghangatkan tubuhnya sampai tiba-tiba rambut panjangnya disisihkan ke bahu kirinya, dan lengan kekar memeluk tubuhnya. Menarik tubuh kedinginannya bersandar ke dada bidang yang menenggelamkan dirinya di sebuah pelukan yang hangat.
Tubuh Jongin menegang karena terkejut.
"Aku bisa mengambilkanmu selimut kalau kau keberatan?" Sebuah suara terdengar dari kepala yang bertumpu pada bahu kanannya. Suara Sehun.
"Tidak. Aku baik-baik saja." Kata Jongin berusaha tenang padahal jantungnya bertalu-talu seolah ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. Pelukan Sehun terasa begitu.. besar.. hangat.. dan harum.. Oke Jongin jadi terdengar mesum sekarang. Tapi sungguh itulah yang Jongin rasakan. Terutama napas hangat Sehun yang menerpa pipinya, membuat Jongin terpaku untuk sesaat.
"Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu?" Suara Sehun membuat Jongin kembali tersadar.
"Tidak juga."
"Kau terlihat gelisah."
"Benarkah?"
"Ya. Jadi katakan padaku apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada. Karena besok hari ibu aku jadi teringat ibuku. Dan merindukannya. Sangat." Jongin tersenyum tipis tapi kepedihan terdengar di suaranya. Dan dalam jarak sedekat ini Sehun bisa melihat dari mata Jongin bahwa Jongin merasa kesepian.
"Aku disini." Kata Sehun mengeratkan pelukannya. Jongin terkekeh pelan.
"Aku tahu."
"Jangan bersedih kalau begitu. Kau membuat ibumu juga bersedih." Kata Sehun.
"Aku tidak bersedih." Kata Jongin meyakinkan Sehun.
Atau mungkin meyakinkan dirinya sendiri?
Dan sudah pasti Sehun tidak akan mempercayainya dengan mudah.
"Ibu Jongin yang sedang menonton dari langit, jangan khawatir. Aku akan menjaga Jongindengan baik." Sehun mengatakannya sambil mendongak menatap langit malam yang mulai menurunkan salju. Jongin tersenyum, di telinga Jongin, Sehun terdengar seperti Haowen sekarang.
"Dan Jongin juga mengucapkan selamat hari ibu untukmu, Nyonya Kim. Jongin bilang dia mencintaimu." Sehun terus-terusan berbicara pada angin kosong di depannya.
"Oh? Apa? Ah baiklah akan kusampaikan pada Jongin." Sehun mengangkat kepalanya membuat gesture seperti sedang mendengarkan sesuatu, lalu mengangguk-angguk dan meletakkan lagi kepalanya di bahu Jongin.
"Kau tahu apa yang ibumu katakan padaku?" Tanya Sehun. Jongin tersenyum lebar dan menggeleng.
"Dia bilang dia mencintaimu." Bisik Sehun. Bukan hanya bibir Jongin yang tersenyum sekarang. Matanya pun ikut tersenyum.
Dan Sehun suka itu.
Senyuman juga ikut muncul di bibir Sehun.
"Begitu juga aku." Kata Sehun masih memandang Jongin yang sekarang menoleh ke arahnya dan menampilkan wajah terkejutnya.
Sedari tadi Jongin memang sengaja hanya memandang lurus ke depan karena kalau dia menoleh wajahnya akan jadi terlalu dekat dengan Sehun. Tapi mendengarkan Sehun barusan membuat Jongin otomatis menatap Sehun dumbfounded.
Melihat Jongin yang hanya memandangnya diam sambil berkedip-kedip lucu membuat Sehun tersenyum kecil lalu melanjutkan.
"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada Baekhyun dan Haowen. Ataupun padaku. Kau datang dan membuka mata dan hati merek-kami. Kau.. membuat mereka mencoba hal-hal baru. Memberikan mereka sesuatu yang telah lama mereka tidak rasakan. Dan aku sangat berterima kasih untuk itu."
"You don't have to. Aku senang melakukannya." Kata Jongin tulus dengan senyumannya membuat Sehun ikut tersenyum karena Jongin sudah kembali dari fase bengongnya.
"Kau tahu aku bukan lagi remaja."
"Begitu juga aku." Potong Jongin.
"Jadi aku tidak akan mengatakan sesuatu yang klise seperti aku mencintaimu." Sehun berucap lagi.
"Kau baru saja mengatakannya." Potong Jongin lagi lalu tertawa.
"Jongin aku mohon biarkan aku menyelesaikannya dulu. Aku ingin membuat ini terdengar romantis." Dan Jongin bersumpah Sehun terdengar seperti sedang merengek sekarang.
"Baiklah baiklah maafkan aku." Jongin berhenti tertawa lalu menatap mata Sehun.
"Aku akan mulai dari awal, oke?" Sehun hanya mendapat balasan berupa anggukan dan senyuman kecil dari Jongin.
"Aku sudah bukan lagi remaja. Dan seperti yang aku bilang, aku mencintaimu terlalu klise. Dan terlalu dangkal untuk menggambarkan perasaanku padamu," Sehun berhenti sejenak, Jongin merasakan hangat menjalar di seluruh wajahnya.
"Aku juga tidak akan memintamu menjadi kekasihku. Karena aku memang tidak ingin menjadikanmu sebagai kekasihku."
"Aku memiliki dua anak, dan kekasih bukanlah yang aku dan anak-anakku butuhkan. Jadi..."
"..."
Sunyi.
Hanya denting jam yang terdengar.
Atau mungkin kau juga bisa mendengarkan jantung Jongin yang berpacu sangat cepat.
"Maukah kau menjadi Mommynya Baekhyun dan Haowen?" Pinta Sehun tulus.
Jongin terdiam lagi. Meresapi satu persatu kata yang diucapkan Sehun. Merasakan desiran seperi ada ribuan kupu-kupi terbang di perutnya. Merasakan jantungnya yang berdegup semakin kencang seperti siswi sma yang baru saya ditembak.
Well, Jongin memang baru saja ditembak by the way.
Cukup lama terjadi keheningan sebelum akhirnya Sehun buka suara.
"Aku tahu. Aku seharusnya membeli cincin dulu." Sehun berkata sesal seolah-olah telah membuat kesalahan. Sehun menjatuhkan kepalanya di bahu Jongin. Menunduk.
"Kau tahu bukan cincin yang aku butuhkan." Suara Jongin membuat Sehun mendongak dan menemukan wajah Jongin tersenyum ke arahnya membuat senyuman ikut terkembang di bibir Sehun.
"Aku tahu. Hanya saja kau terus diam, membuatku merasa seperti ditolak." Canda Sehun membuat Jongin terkekeh.
"Aku tidak bilang aku menolakmu."
"Jadi kau menerimaku?"
"Well, aku juga tidak bilang kalau aku menerimamu." Canda Jongin balik sambil mengangkat bahunya enteng.
"Kau mematahkan hatiku sekarang." Rajuk Sehun kecil meletakkan kepalanya di bahu Jongin tapi membuang mukanya ke sisi lain. Tidak mau menatap Jongin. Jongin tertawa pelan.
"Maaf. Aku tidak bermaksud mematahkan hatimu. Aku hanya sedang mengontrol jantungku yang berdebar-debar." Kata Jongin jujur. Sehun kembali menatap Jongin. Kali ini sambil menyeringai.
"Jadi aku membuat jantungmu berdebar-debar?" Jongin tersenyum.
"Kau membuat jantung semua wanita berdebar-debar, kalau kau mau tahu." Jawab Jongin terkekeh.
"Dan kau masuk salah satu diantara mereka?"
"Well, aku wanita." Jongin tidak mengatakan 'Ya' secara langsung, tapi nada suaranya terdengar sarkatis seolah-olah berarti 'Sudah jelas. Masih perlukah kau menanyakannya?'
Kali ini Sehun yang terkekeh.
"Aku anggap itu sebagai pujian. Tapi, sepertinya aku harus minta maaf pada semua wanita itu?" Jongin mengangkat alisnya tidak mengerti.
"Karena sekalipun aku membuat jantung semua wanita berdebar-debar. Hanya ada satu wanita yang membuat jantungku berdebar-debar."
"Perlukah aku bertanya siapa dia?"
"Tidak. Cukup rasakan dan kau akan tahu jawabannya." Sehun semakin memeluk erat Jongin. Semakin membuat punggung Jongin menempel ke dadanya. Dan Jongin benar-benar merasakannya.
Jantung Sehun yang berdebar-debar.
Jongin merona membuatnya menunduk untuk menyembunyikan wajahnya di helaian poninya.
Keheningan kembali menyapu mereka untuk beberapa saat.
"Jongin? Kau masih disini?"
"Tidak. Aku sedang terbang ke langit ketujuh."
Sehun tergelak sebelum menautkan jari-jari mereka. Menggenggam tangan Jongin. Erat.
"Aku tidak akan membiarkanmu terbang sebelum kau menjawab pertanyaanku."
"Baekhyun?" Itulah jawaban yang diberikan Jongin. Jongin ingin berkata 'Ya' tapi teringat janjinya pada Baekhyun.
'Aku berjanji tidak akan terjadi apa-apa diantara kami selama kau tidak menginginkannya.'
Itulah janji Jongin dan Jongin pasti akan menepatinya.
"Percaya atau tidak tapi kita sudah mendapatkan lampu hijau dari Baekhyun."
Jongin terbelalak.
"Benarkah?" Tanyanya tidak percaya.
Apa Baekhyun benar-benar sudah menerimanya? Apalah Baekhyun benar-benar sudah memberikan lampu hijau? Kalau begitu bolehkah Jongin berharap?
"Ya. Jadi apa jawabanmu?"
Ya. Jongin boleh berharap. Dan Jongin akan mengambil sesuatu yang telah lama tidak dirasakannya.
Sebuah komitmen.
Bukan komitmen yang main-main karena andai mereka berakhir dengan tidak baik bukan hanya mereka yang merasakan sakitnya.
Tapi Jongin sudah yakin dengan keputusannya. Setiap sel di tubuhnya berteriak 'Ya' untuknya.
"Masih perlukah kau bertanya?" Tanya Jongin tersenyum tipis.
"Aku rasa tidak." Itu yang Jongin dengarkan terakhir sebelum merasakan bibir Sehun menempel di bibirnya. Awalnya hanya menempel merasakan hangatnya bibir masing-masing. Jongin memejamkan matanya merasakan bibir Sehun memanggutnya lembut dan penuh afeksi. Tidak ada nafsu yang terselip, hanya penyaluran rasa cinta dan kasih sayang yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Mungkin Sehun berhalusinasi.
Or just madly in love.
Karena yang Sehun rasakan bibir Jongin sangat manis dan hangat melebihi coklat panas yang baru saja diminumnya. Sangat adiktif melebihi heroin-yah meskipun Sehun sendiri tidak pernah merasakan heroin. Hei meskipun Sehun terlihat sedikit 'sangar' tapi Sehun seratus persen pria baik-baik.
Ciuman itu terus berlangsung sampai beberapa saat, sampai akhirnya Sehun menarik dirinya, Jongin terlihat terengah-engah karena ciuman mereka.
"Aku lega. Ternyata menduda tidak membuatku menjadi pencium yang buruk." Canda Sehun.
"Selamat untukmu." Sindir Jongin setelah berhasil menangkap napasnya.
"Aku akan melakukannya lagi." Kata Sehun membuat Jongin mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"Di tempat yang romantis, dengan sebuket bunga, dan sebuah cincin, aku akan berlutut dan melamarmu dengan Bahasa Perancis." Lanjut Sehun membuat Jongin terkekeh.
"Aku tidak bisa Bahasa Perancis." Jongin tersenyum.
"Ah kalau begitu Bahasa Jerman? Dulu waktu kau melamar ke perusahaanku Bahasa Jerman salah satu keahlianmu bukan?" Tawar Sehun. Jongin bisa Bahasa Jerman dia mengambil kelas Bahasa Jerman dulu. Dan Bahasa Jerman termasuk salah satu keahliannya. Tapi kalau menyangkut Cinta dan Bahasa Jerman hanya satu kalimat yang terlintas di kepalanya.
"Ich liebe dich?" Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Jongin. Sehun menyeringai.
"Ich liebe dich auch." Jawab Sehun. Jongin membelalak. Dia seperti baru saja mengatakan cinta pada Sehun.
"Bukan itu maksudku!" Pekik Jongin malu. Sehun terkekeh.
"Kau tidak tidur? Ini sudah sangat larut." Tanya Sehun.
"Ya. Aku rasa aku harus tidur sekarang." Kata Jongin dengan berat hati melepaskan diri dari pelukan Sehun dan berdiri.
"Kau mau kemana?" Tanya Sehun.
"Tidur, tentu saja. Di kamar Haowen." Jawab Jongin polos.
"Tidak Jongin. Maksudku tidur bersamaku."
"Apa?!" Sehun menarik Jongin jatuh keatasnya yang sedang berbaring di sofa panjang yang menjadi saksi bisu resminya hubungan mereka. Mendekap Jongin erat, tidak membiarkan Jongin bangun.
"Sehun, Haowen..." Protes Jongin.
"Biarkan, Haowen sudah besar."
"Ya benar. Dan kau sendiri tidak besar begitu." Sindir Jongin.
"Kau sudah sering tidur bersama Haowen. Dan sudah saatnya Haowen belajar apa itu berbagi." Kata Sehun enteng memiringkan tubuhnya supaya mereka berdua muat di sofa sempit itu.
"Tapi Hun-"
"Selamat malam, sayang." Dengan seenaknya Sehun memotong kalimat Jongin. Mengecup kening Jongin dan memejamkan matanya.
"Hun... Sehun... Oh Sehun sajangnim kau tidak benar-benar tidur kan?" Jongin meronta pelan. Tapi Sehun makin memeluk Jongin makin erat dan membuat suara seperti sedang tidur sungguhan.
"Dasar." Rutuk Jongin mengalah. Mau tidak mau Jongin menyamankan posisinya di dada Sehun bersiap untuk tidur. Tidak memperhatikan senyuman Sehun yang merekah.
Jongin membuka matanya saat merasakan cahaya matahari menerpa matanya karena memang dirinya sedang tidur di depan pintu kaca besar jadi yah kalian tahulah. Diluar salju masih tetap turun seperti kemarin malam. Tapi Jongin tidak merasa dingin sama sekali karena pelukan Sehun luar biasa hangat dan selimut-yang entah muncul darimana-menutupi tubuh mereka.
Jongin mendongak dan menemukan wajah Sehun masih dengan mata yang terpejam terlihat sangat tenang, kerutan di wajahnya yang biasa menghiasi ketika sedang stress di kantor menghilang. Sehun memang terlihat lebih muda dari usia aslinya tapi ketika sedang stress Sehun bisa benar-benar terlihat seperti om om. Ketika sedang tidur Sehun juga terlihat begitu polos dan lucu. Sangat menge-
"Aku tahu aku tampan. Dan memandangiku akan membuatku terlihat makin tampan." Sehun membuka matanya dan menyeringai dengan kurang ajarnya. Membuat Jongin merasa malu karena tertangkap basah memandangi Sehun. Pipi tan Jongin perlahan-lahan memerah dan membuat Jongin mengalihkan pandangannya pada apapun selain Sehun. Tapi Jongin tidak mengelak, karena, yah, percuma saja mengelak.
"Kau malu? Pipimu merona." Sehun tersenyum sambil mengusap pipi Jongin dengan punggung jari-jari tangannya. Jongin diam saja.
"Jangan malu. Kalau bisa aku akan memandang wajahmu terus-terus dan mengagumi betapa-"
"Stop it." Jongin setengah merengek karena malu.
"It's still morning and you already ruin my day." Lanjut Jongin. Sehun terkekeh.
"Really? Ruin in a good way or bad way?" Tanya Sehun.
"In a good way i suppose." Jawab Jongin.
"Good." Sehun tersenyum miring sebelum menunduk untuk mencuri ciuman tapi dengan sigap Jongin menahan bibir Sehun dengan tangannya.
"Jangan. Aku belum gosok gigi." Kata Jongin tegas.
"It doesn't matter." Jawab Sehun enteng. Seolah napas bau bukanlah masalah untuk Sehun. Well, napas bau memang bukan masalah untuk Sehun karena Sehun percaya napasnya tidak bau. Begitu juga milik Jongin.
"It's matter, for me." Tapi sepertinya Jongin berpendapat lain. Napas bau jelaslah masalah untuk Jongin. Atau setidaknya untuk seluruh wanita di planet ini.
"Aku akan pergi memasak sekarang." Jongin bangkit dari tidurnya tapi karena keterbatasan tempat terpaksa membuat Jongin menduduki paha Sehun sambil mengikat rambutnya dengan karet yang Sehun tidak tahu didapatkan Jongin dari mana. Apa semua wanita selalu membawa ikat rambut kemana-mana?
Sehun bangkit dan memeluk pinggang Jongin membuat mereka terlihat seperti sedang berpangkuan mesra.
"Tapi aku membutuhkan morning kiss. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau morning kiss bisa membuat hari kita lebih menyenangkan."
"Well, tidak ketika aku belum menggosok gigi." Sehun menghela napas panjang. Jujur masih belum mengerti, kenapa wanita suka mempermasalahkan hal semacam ini? Lalu kenapa kalau belum menggosok gigi? Sehun tidak akan meninggalkan Jongin kok kalau benar napas Jongin bau.
Sehun memajukan kepalanya dengan keras kepala.
Jongin memundurkan kepalanya tidak kalah keras kepala.
"Lihatkan, bocah? Sudah kubilang bukan aku yang menculik Jongin." Sehun dan Jongin buru-buru menoleh ke sumber suara itu. Menemukan Haowen yang cemberut dan Baekhyun yang bersandar malas ke pegangan tangga paling bawah.
Jongin buru-buru berdiri dari pangkuan Sehun, sekalipun Sehun bilang Baekhyun sudah memberikan mereka lampu hijau tapi Jongin masih merasa sedikit tidak enak pada Baekhyun.
"Kenapa kalian sudah bangun?" Tanya Sehun santai merasa tidak masalah menunjukkan afeksinya pada Jongin di depan Baekhyun. Toh dia sudah mendapat restu kan?
"Karena Mommy hilang." Haowen yang sudah bergerak menuju Jongin menjawab pertanyaan Sehun sambil memeluk perut Jongin. Jongin mengelus kepala Haowen sambil melempar senyum meminta maaf.
"Karena Haowen mendobrak pintu kamarku seperti orang kerasukan dan menuduhku menculik Jongin." Baekhyun ikut berjalan ke arah mereka lalu mendudukkan pantatnya di sofa yang ditiduri Sehun setelah Sehun menekuk kakinya dan memberikannya ruang untuk duduk. Baekhyun bersikap biasa saja seolah tidak melihat Daddynya dan Jongin yang baru saja berada di posisi yang intim.
Mungkin Sehun benar, Baekhyun sudah memberikan lampu hijau untuk mereka.
"Oh iya Jongin. Kita akan berangkat pagi jadi bersiap-siaplah." Jongin mengangguk dan tersenyum mengingat janjinya ke salon bersama Baekhyun.
"Kalian mau kemana?" Tanya Sehun.
"Mall. Biasa ke salon." Jawab Baekhyun enteng. Sehun memutar bola matanya.
"Wanita." Katanya pelan.
"Lalu Haowen bagaimana?" Tanya Haowen. Haowen juga akan membolos hari ini. Karena, yah, sudah jadi kebiasaan untuk kedua anaknya membolos ketika hari ibu.
'Teman-teman Haowen datang bersama Mommynya. Haowen tidak punya Mommy. Jadi Haowen tidak mau sekolah hari ini.' Itulah yang dikatakan Haowen dan Sehun tidak bisa memaksa Haowen sekolah kalau Haowen sudah memasang muka sedih hampir menangisnya.
"Kita berdua akan pergi berkuda Haowen." Tawar Sehun membuat Haowen sumringah. Tapi tidak dengan Jongin.
"Ditengah hujan salju?" Tanya Jongin tidak percaya.
"Saljunya akan berhenti turun nanti." Jawab Sehun.
"Tapi akan tetap dingin. Tidak. Aku mohon jangan berkuda. Kalian bisa sakit. Lakukan kegiatan lain yang berada di dalam ruangan." Suara Jongin terdengar memerintah dan memohon disaat yang sama. Atau mengomel mungkin?
Sehun terpaku.
Wow.
Apakah Jongin baru saja mengomeli dirinya?
Seumur-umur tidak ada yang pernah mengomeli Sehun. Bahkan Mommynya sekalipun. Ini hal baru bagi Sehun. Dan Sehun suka itu.
Karena Sehun merasa diperhatikan.
"Yes, Mom." Kata Haowen menurut. Jongin mengangguk puas lalu ganti menatap Sehun seolah meminta jawaban pada Sehun.
"Yes, Mom." Sehun yang masih setengah sadad dari kekagetannya mengulangi jawaban Haowen. Jongin mengangguk puas lagi.
"Bagus. Kalau begitu aku akan memasak sekarang. Ada request?" Tanya Jongin.
"Aku ingin makan yang hangat." Kata Baekhyun.
"Bagaimana kalau sup?" Tawar Jongin, Baekhyun mengangguk antusias. Dia benar-benar membutuhkan sesuatu yang hangat karena tenggorokannya mulai bermasalah karena suhu dingin.
"Mau membantuku sedikit?" Ajak Jongin. Baekhyun terdiam sejenak. Berpikir.
"Baiklah. Kurasa tidak ada salahnya belajar memasak." Baekhyun bangkit dari kursinya, Jongin tersenyum lalu merangkul pundak Baekhyun. Dan Baekhyun terima-terima saja. Sekarang tingkah mereka berdua terlihat sangat natural, seolah merangkul Baekhyun adalah hal yang biasa dilakukan oleh Jongin. Dan Baekhyun menyambutnya dengan senang-senang saja. Mereka berdua berjalan menuju dapur, Jongin menoleh ke arah Sehun dan Haowen sebelum berbelok menghilang dari jarak pandang Sehun dan Haowen.
"Kalian berdua, segera pergi mandi."
"Yes, Mom." Dan kali ini pasangan ayah dan anak itu menjawabnya dengan kompak.
Sehun duduk di mobilnya, memandang keluar jendela mobilnya. Dugaannya salah salju tidak berhenti turun, dan mungkin Jongin benar bahwa dia dan Haowen akan sakit kalau mereka tetap pergi berkuda di cuaca seperti ini. Keputusan yang baik untuk memilih pergi ke mall saja bersama Jongin dan Baekhyun, meskipun Baekhyun sempat tidak mau Haowen ikut.
Bukannya Baekhyun membenci adiknya atau apa. Bukan seperti itu. Hanya saja Haowen akan jadi sangat manja kalau dengan Jongin, yang pasti akan membuat Jongin sibuk mengurus Haowen. Dan Baekhyun hanya tidak mau diabaikan oleh Jongin-meskipun Baekhyun tidak mau mengakuinya dengan keras.
Baekhyun memasuki mobil Sehun dengan menghentak-hentak, masih cemberut. Biasanya kalau naik mobil dengan Sehun, Baekhyun selalu duduk di kursi depan tidak peduli siapa lagi yang ikut di mobil mereka. Tapi kali ini Baekhyun memilih bangku belakang. Entah karena dia menyiapkan kursi depan untuk Jongin atau hanya karena dia sedang marah pada Sehun.
"Baekhyun, Daddy berjanji akan mengajak Haowen pergi dan tidak akan mengganggu 'waktu perempuan' kalian." Janji Sehun yang entah untuk keberapa kalinya.
"Harus. Kalau tidak aku sendiri yang akan melempar Haowen dari jendela mall." Amuk Baekhyun, tapi tentu saja Sehun tahu Baekhyun tidak akan benar-bebar melakukan itu, hanya saja mulut Baekhyun bisa menjadi sangat tajam kalau marah.
"Kenapa kau sangat ingin Haowen menyingkir sih?" Tanya Sehun heran.
"Aku bukannya ingin Haowen menyingkir. Aku hanya ingin berelaksasi sebentar, tidak lama, setidaknya berikan aku waktu tiga jam saja tanpa Haowen di dekatku."
"Dan di dekat Jongin?" Sehun bertanya sambil mengangkat sebelah alisnya. Baekhyun jadi sedikit gelagapan.
"Bu..bukan begitu! Aku hanya butuh seseorang untuk menemaniku menghabiskan 'waktu perempuan'ku. Dan, yah, Jongin perempuan." Sanggah Baekhyun malu. Sehun terkekeh.
"Aku tidak akan meminta Daddy membawa Haowen pergi kalau saja dia tidak menempel seperti serangga pada Jongin." Baekhyun melirik ke arah Haowen yang bergelayut manja ke pinggang Jongin.
Sehun bergeser membuka pintu depan untuk Jongin masuk. Jongin masuk dengan Haowen di pangkuannya. Sehun melirik Baekhyun dari kaca didepannya dan melihat putrinya itu mendengus sambil memutar bola matanya.
"Haowen duduk di belakang." Titah Sehun. Sehun tahu Baekhyun pasti akan merasa tertinggal karena dia yang paling terakhir menerima hubungan keluarga mereka, dan tentu saja karena Sehun sudah berjanji pada Baekhyun. Baekhyun langsung membelalakkan matanya antara kaget dan senang.
Haowen merengut.
"Tapi Haowen kedinginan, Dad." Rengek Haowen.
"Noona akan memelukmu Haowen sayang." Kata Baekhyun riang, yang menurut Haowen menyebalkan.
"Haruskah aku duduk dibelakang?" Jongin yang paham pada situasi yang terjadi langsung menawarkan.
"Tidak tidak tidak. Kau disitu saja. Aku hanya ingin berdua bersama Haowen." Baekhyun tersenyum manis membuat Haowen benar-benar ingin menarik rambut Baekhyun.
Dengan mulut yang manyun Haowen pindah ke kursi belakang. Baekhyun tersenyum makin lebar lalu menarik Haowen ke pelukannya.
"Kau kedinginan kan? Sini noona peluk."
"Tidak mau." Jawab Haowen ketus sambil meronta dari pelukan Baekhyun. Baekhyun makin tersenyum lebar sambil mengerutkan pelukannya. Haowen yang kesal langsung saja menarik rambut Baekhyun.
"Aww! Oh Haowen!" Baekhyun secara reflek langsung mencubit pipi Haowen kesal campur gemas.
"Awww! Mommy, Baekhyun noona mencubit Haowen." Adu Haowen memegang pipinya.
"Dia duluan yang menarik rambutku!" Baekhyun tidak mau kalah.
"Kids, Daddy mohon sehari saja tidak bertengkar." Pinta Sehun. Baekhyun dan Haowen langsung menurut walaupun sambil cemberut. Jongin hanya bisa menoleh ke belakang dan melemparkan senyum simpati.
"Ayo ayo buruan kita menonton!" Teriak Haowen semangat saat memasuki rumah mereka sambil memegang beberapa cd film yang baru saja dibelinya di mall tadi. Haowen langsung melesat ke ruang keluarga yang memiliki tv terbesar di runah itu. Untung saja mereka tadi sempat makan malam dulu sebelum pulang, kalau tidak Haowen pasti tidak akan mau makan sekarang karena sibuk dengan filmnya.
Sekarang sudah pukul delapan malam. Tadi sebelum pulang mereka sudah makan di Restoran China yang menjadi langganan Sehun.
Tunggu?
Restoran China?
Bukankah Baekhyun membenci Restoran China?
Memang. Sangat. Semenjak Mommynya meninggal Baekhyun sangat anti untuk memakan masakan China atau bahkan hanya untuk menginjakkan kakinya di Restoran China. Terlalu menyakitkan. Terlalu banyak kenangan dengan Mommynya.
Tapi itu dulu.
Baekhyun sangat menyanyangi mendiang Mommynya, tentu saja. Tapi dia tidak bisa terus-terusan berdiam di satu titik dan berduka atas kepergian Mommynya. Terutama saat Daddynya dan Haowen memutuskan untuk melangkah maju. Baekhyun tidak bisa menyeret ayah dan adiknya dalam kesedihannya terus, tapi Baekhyun juga tidak ingin ditinggalkan oleh mereka berdua yang sudah mulai melangkah. Satu-satunya pilihan adalah ikut melangkah ke depan bersama mereka.
Meskipun langkah Baekhyun yang paling lambat. Tapi Baekhyun pasti akan terus melangkah.
Menuju Jongin.
"Baekhyun? Kau tidak mengantuk?" Suara Jongin membuyarkan lamunan Baekhyun.
"Tidak. Kau?" Sudah hampir dua jam mereka menonton dan Baekhyun tidak merasa mengantuk sama sekali.
"Belum. Aku belum bisa tidur kalau aku belum menyelesaikan film yang satu ini." Kata Jongin melirik film yang sedang mereka tonton. Entah film apa, Baekhyun tidak tahu. Daritadi dia sibuk dengan ponselnya atau dengan lamunannya.
"Aku akan mengambilkan selimut untuk mereka berdua dulu." Baekhyun mengikuti arah pandangan Jongin ke arah Daddynya dan Haowen yang tidur saling berpelukan dan meringkuk. Sepertinya kedinginan. Baekhyun hanya mengangguk samar.
Setelah Jongin menaiki tangga, Baekhyun meraih tasnya yang tadi dibawa ke mall dan meraih sebuah kotak dan membukanya. Sebuah gelang berwarna putih yang terlihat sederhana namun elegan.
Gelang milik Baekhyun? Bukan.
Baekhyun sudah punya gelang yang seperti itu, gelang couple bersama dengan Daddynya dan Haowen. Bahkan Daddynya itu sedang memakai gelang itu. Well, sebenarnya Daddynya selalu memakai gelang itu tidak seperti Baekhyun dan Haowen-karena sekolah mereka melarang siswa siswinya menggunakan perhiasan.
Jadi itu gelang siapa?
Sebenarnya Baekhyun membeli gelang ini untuk Jongin, sebagai, yah kalian taulah-hadiah hari ibu. Baekhyun sudah bilang kan kalau dia mau sedikit demi sedikit menghilangkan rasa bencinya pada hari ibu, jadi... mungkin memberikan hadiah pada Jongin merupakan langkah awal yang lumayan baik.
Baekhyun mengambil gelang itu dari kotaknya dan memandanginya, teringat saat Haowen tadi memberikan hadiah pada Jongin. Sebuket bunga, sebuah pelukan dan kecupan, juga satu buah kalung cantik yang sialnya sama dengan brand gelang mereka. Baekhyun bersorak karena tidak jadi membeli kalung itu tadi, meskipun tadi dia sempat ragu untuk membeli gelang dengan model yang sama dengan milik keluarganya, karena mereka akan benar-benar terlihat seperti sebuah keluarga bahagia dengan gelang couple seperti akhirnya Baekhyun membeli gelang itu. Toh Jongin memang akan bergabung dalam keluarga mereka bukan?
Terdengar langkah kaki mulai mendekat, Baekhyun buru-buru menyembunyik gelang itu disamoing tubuhnya, berteoan dengan Jongin yang muncul di deoannya. Jongin yang tidak memperhatikan gerak gerik aneh Baekhyun tetus melanjutkan aktifitasnya, menyelimuti Sehun dan Haowen.
"Aku matikan lampunya ya?" Tanya Jongin. Baekhyun mengangguk. Jongin mematikan lampunya lalu kembali mendudukkan dirinya di samping Baekhyun, memasangkan satu lagi selimut yang dibawanya ke tubuh mereka berdua.
Baekhyun menggenggam gelang di tangannya makin erat, merasakan dinginnya gelang itu ditangannya.
'Ayo Oh Baekhyun kau bisa! Lampunya sudah dimatikan, pasti lebih mudah kan? Iya kan?'
Baekhyun mengalami konflik batin dirinya gengsi tapi ada rasa ingin yang besar untuk memberikan gelang itu oada Jongin.
'Kau bisa Baekhyun! Kau bisa! Pasti bisa!'
Setelah meyakinkan dirinya untuk yang entah ke berapa kalinya Baekhyun memjamkan matanya dan menarik napas.
"Jongin?" panggil Baekhyun.
"Ya?" Jongin mengalihkan pandangannya dari film yang ditontonnya ke Baekhyun yang terlihat... gelisah?
"Kau baik-baik saja?" tanya Jongin khawatir.
"Ya. Tutup matamu." Perintah Baekhyun.
"Hmm?" Tanya Jongin bingung.
"Lakukan saja." Dan Jongin menurut. Jongin memjamkan matanya.
"Berikan tanganmu." Perintah Baekhyun lagi, Jongin terlihat kebingungan dari mukanya tapi tetap menurut dan mengangkat tangan kirinya.
Oke mungkin Baekhyun salah mengambil strategi, Jongin terlihat seperti anjing sekarang.
Ah sudahlah mau bagaimana lagi?
Jongin merasakan tanggan Baekhyun memegang tangannya. Masih sambil memejamkan matanya, Jongin merasakan sesuatu dipasangkan di tangannya.
Apa itu... gelang?
Rasanya seperti gelang.
Setelah Baekhyun memasangkan benda yang Jongin yakin pasti gelang itu mereka terdiam. Baekhyun terdiam, dan Jongin menunggu Baekhyun.
Hening cukup lama.
Sampai Jongin mencoba membuka matanya. Baru terbuka sedikit, Jongin merasakan tubuhnya diterjang untung saja refleknya cepat jadi mereka tidak terjatuh ke belakang.
Mereka?
Ya mereka.
Baekhyun memeluk Jongin.
Erat.
"Baekhyun kau baik-baik saja?" tanya Jongin khawatir melihat sikap Baekhyun yang sedikit aneh.
"Kau bilang ingin membantuku menghilanginya kan?" Jongin awalnya bingung, apa yang dimaksud Baekhyun dengan nya. Tapi melihat sebuket bunga yang diberikan Haowen tadi terletak indah di samping tv, membuat Jongin mengerti.
"Ya."
"Jadi, yah, ermm..." Jongin merasakan jari-jari tangan Baekhyun mencengkram bajunya, jari-jari kakinya juga bergerak-gerak gelisah.
"Selamat hari ibu Jongin." bisik Baekhyun pelan akhirnya. Baekhyun melepaskan pelukannya dan berbaring memunggungi Jongin.
"Aku mau tidur. Besok harus sekolah." Baekhyun ingin membuat suaranya tegas tapi justru malah terdengar bergetar.
Jongin yang baru selesai mencerna apa yang terjadi, melihat ke pergelangan tangan kirinya dimana gelang putih cantik itu tersemat. Lalu tersenyum. Jongin mengaku dia merasa terharu dan ingin menangis sekarang.
"Terima kasih." Bisik Jongin masih memandang gelang barunya tapi Baekhyun mendengarnya dengan jelas.
"Selamat malam, Baekhyun." Dan Baekhyun merasakan sebuah tangan mengelus kepalnya.
.
.
.
TBC
A/N:
Yeheeeey saya apdet untuk memperingati ultahnya Nini 3 Pibesdey Nini moga makin banyak momennya sama Sehun :')
Buat yang minta hunkai moment ini ya udah walaupun rada aneh sekaligus untuk menghibur yang lagi baper garagara Hunrene Kaiyoona photoshot :') Ampuuun saya baper banget liat mereka :'(
Mungkin untuk Chap tenang nya bakalan nambah 1-2 chapter lagi. Semoga nggak ngebosenin yah :')
Sekian dulu.
Ciao~
