Between Past and Present

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi sensei

Pairing this chap : AoKiKaga

Warnings : abal, typo, garing, dan semoga gak OOC


Chapter 12 – Double Date?

.

Kise mengerjap tatkala sinar mentari menembus dari celah kecil dibalik kordennya. Menggeliat kecil seraya menghadap kanan mencari jam weker yang biasanya akan mengganggu tidur cantiknya, namun kini jam yang bersuara layaknya volume film di bioskop itu tidak berbunyi. Tentu saja, ini hari Minggu, untuk apa Kise bangun pagi – pagi, setidaknya khusus hari ini ia senggang tanpa pekerjaan dan memutuskan untuk melanjutkan tidurnya saja sampai siang, atau mungkin malah samapai sore, berhubung ia lelah, baik fisik maupun mental.

"Ryouta! Ryouta! Ryouta!" Suara tegas dari bawah kamar membuat Kise mengerutkan keningnya, tanpa memperdulikan teriakan sang ibu Kise justru kembali ke dalam euforia dunia mimpi mengeratkan selimutnya.

Selang beberapa menit selimut yang seharusnya melindunginya dari dingin dan secercah sinar matahari ditarik paksa dan sangat kasar oleh perempuan yang hampir serupa dengannya namun lebih tua beberapa tahun.

"Mou Ryouta, okaa-san memanggilmu tau! Cepat bangun!"

"Lima menit lagi onee-san." Kise bergumam kecil masih mengantuk, sosok perempuan pirang yang ternyata kakak pertama Kise Ryouta menggembungkan pipinya tanda sebal dan mendelik tidak suka.

"Ryouta bangun! Ada mantan pacarmu di ruang tengah!"

Kise membelalakan matanya langsung tersadar, "HAH?!" Manik madu itu melotot tajam ke arah kakaknya, oke candaan untuk membangunkannya sugguh tidak lucu. "Nee-chan ... berhenti menggoda dan membohongiku." Kise menguap, merasa bodoh percaya dengan kata-kata kakaknya yang mencoba untuk mengganggu tidur cantiknya.

"Siapa yang menggodamu Ryouta~ Aku serius soal mantan pacarmu di ruang tengah~" Sang kakak menyeringai kecil.

"Huh? Ma-maksudmu ... A-Aominecchi?" Kise kembali bergumam kecil, setengah percaya setengah tidak.

"Tentu saja Aomine Daiki. Atau ada yang lain, he~" Mata sang kakak berkilat layaknya anak kecil kelebihan gula. Kakaknya ini sungguh senang sekali kalau ada Aomine, bahkan disaat mereka putus justru kedua kakaknya lah yang menangis paling keras. Dari gumamaman yang Kise dengar kakaknya tidak rela kalau adegan yaoi gratis mereka menghilang begitu saja, punya kakak fujoshi itu diluar dugaan merepotkan.

"Te-tentu saja tidak. Ta-tapi, apa yang Aominecchi lakukan pagi-pagi begini?" Pertanyaan yang sebenarnya ia tujukan untuk dirinya sendiri, tapi tiba-tiba langsung dijawab tidak tahu oleh sang kakak.

"Lebih baik kau segera mandi dan berdandan Ryouta~" Kise mengangguk pelan seraya melihat kepergian sang kakak yang bersenandung riang.

Aomine memandang kosong teh yang sudah 15 menit yang lalu disajikan oleh Nyonya Kise, bukannya ia tidak mau meminum sajian yang diberikan kepadanya, tapi entah kenapa Aomine merasa gugup layaknya pacar yang baru pertama kali berkunjung ke rumah sang calon mertua. Padahal jelas-jelas dulu sekali Aomine sering bertandang ke rumah sang mantan pacar.

"Aominecchi, apa kau menunggu lama?" Kise Ryouta, sang mantan pacar yang ditunggu Aomine akhirnya muncul dari lantai atas dimana kamarnya berada. Berpakaian serba rapi seolah bersiap untuk pergi, apakah semua model berpakaian seperti itu walaupun hanya untuk bersantai di rumah?

"Ah, tidak Kise ..." Aomine terdiam seketika, jujur dia terpesona, mungkinkah Kise berpenampilan seperti itu demi menyambut dirinya?

Kise sendiri ikut duduk seraya memandang Aomine sedikit bingung, pertama adalah perihal kedatangannya yang mendadak, untuk apa Aomine ke rumahnya? Menagih jawaban atas pernyataan cintanya kah? Oh tidak, Kise belum siap! Ia menunggu, kalimat selanjutnya yang mungkin ingin dilontarkan Aomine namun kata-kata itu tak kunjung datang, orang yang dimaksud justru menatapnya intens dengan pipi yang sedikit memerah. Ada apa? Apa penampilan Kise aneh? Apa karena baju yang dikenakannya terlihat norak dan terlalu sederhana?

"Emm ... Aominecchi? Kenapa kau berkunjung? Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" Kise menatap Aomine skeptis, takut-takut kalo pemikirannya benar, bahwa Aomine datang untuk meminta jawaban.

"Ah, tidak. Apa hari ini kau senggang? Aku ingin mengajakmu pergi." Aomine menggaruk kecil pipinya yang tidak gatal seraya menghindari tatapan mata Kise.

"Pergi? Kemana Aominecchi?" Kise memandang Aomine bingung, gelisah yang tadi dirasakannya perlahan menguap.

"Yah, kemanapun, yang kau inginkan." Aomine menyeringai kecil menahan malu.

"Oh, maksudmu ... seperti ... kencan?" Kise bertanya polos, sedikit melongo, sebelum memerah seketika. Ya Tuhan, yang benar saja?! Sudah lama sekali sejak Aominecchi-nya mengajaknya kencan. Aomine yang melihat reaksi Kise perlahan ikut memerah, modusnya ketahuan rupanya. Tapi sesaat kemudian ia menggangguk, setidaknya ia memang berharap demikian, dulu ia pernah menyakiti Kise. Dan menyatakan perasaannya kembali seperti itu pasti akan sangat membuatnya ragu dan tidak percaya. Makanya setidaknya agar dapat meyakinkan Kise bahwa perasaannya tulus Aomine mencoba mengajaknya berkencan.

"Ba-baiklah. Kita pergi sekarang Aominecchi?" Mata Kise mengerling ke segala arah, masih terbesit perasaan malu karena Aominecchi-nya mengajaknya berkencan, secara mendadak pula.

Setelah berpamitan kepada ibu dan kakak-kakaknya – tak lupa dihadiahi siulan menggoda dari sang kakak tentunya – Kise bersiap pergi dengan Aomine entah kemana. Namun baru saja mereka hendak meninggalkan kediaman Kise, sesosok tinggi dan menyala merah di bagian kepala mengagetkan keduanya. Terutama bagi sang surai keemasan.

"Ka-Kagamicchi?!"

.

\(PRESENT_PAST)/

.

Jikalau Kise adalah seorang perempuan cantik dengan rambut pirang tergerai dan kulit seputih susu yang menghiasi tubuh langsingnya, tak ayal pula menggunakan dress berenda-renda, ia pasti akan dijuluki perempuan yang paling beruntung di dunia. Dikelilingi oleh dua laki-laki bertampang kece yang kalau saja keduanya tidak bertampang sangar dan malah memilih tersenyum dipastikan akan membuat seluruh perempuan ber-ahn~ ria dan mungkin sedikit kejang-kejang. Namun sayangnya, Kise bukanlah perempuan, dia laki-laki tulen. Dan ia juga tidak mengenakan dress, melainkan kemeja putih dengan sweater abu-abu dipadu celana jeans. Kise hanyalah seorang anak SMA dengan tinggi diatas rata-rata dan diberi anugerah tampang manis kelewat uke. Ia bukanlah tokoh utama shoujo manga yang setiap kali berjalan akan dibumbui tone bunga-bunga sebagai backgroundnya dan menjadi incaran oleh banyak laki-laki di sekolahnya. Tapi walau begitu entah mengapa ia merasa keadaannya sekarang seperti tokoh utama Shoujo Manga yang gender nya diganti tentu saja. Ditambah lagi sekarang ia sedang berkencan dengan dua pria sekaligus. Kurang beruntung apa coba Kise. (Kise : beruntung gundulmu!)

Setelah kaget mengetahui Kagami yang berdiri tegap di depan rumah Kise dan ternyata memiliki modus yang sama dengan Aomine. Akhirnya mereka berdua – Aomine dan Kise – memutuskan untuk mengajak serta Kagami dalam kencan mereka. Sebenarnya Aomine sudah mencak-mencak dan berniat menghajar Kagami kalau ia menolak untuk pulang, berhubung Kise sudah berkencan dengan dirinya duluan. Namun berhubung Kagami sendiri keras kepala layaknya zodiak yang disandangnya tentu saja dia menolaknya mentah-mentah, berpikir bahwa apa hak Aomine menyuruhnya pergi. Setelah berdebat selama kurang lebih 15 menit, debat layaknya anak kecil memperebutkan permen, dan ditonton oleh beberapa tentangga yang lewat beserta keluarganya sendiri. Akhirnya Kise memutuskan untuk menarik dua lelaki beda rupa namun hampir sama kepribadian menjauhi kediamannya-berhubung Kise sendiri sudah merasa bahwa dibelakang kedua kakaknya cekikikan memutuskan siapa seme yang pantas untuk dirinya. Lalu voila, disinilah mereka bertiga, di sebuah taman bermain tak begitu jauh dari rumah Kise.

"Aku tidak mengerti Kise, kenapa kau mengajaknya? Si Bakagami ini!" Aomine mencibir kesal, wajahnya yang semula memang sudah sangar jadi makin sangar, membuat seorang bocah yang tak sengaja menatapnya terisak memanggil mama.

"Tch, aku juga tidak berniat untuk ikut. Tapi Kise yang mengajakku dan aku tidak mungkin menolaknya, Ahomine!" Kagami menatap tajam pria lain disebelah kanan Kise, merasa jengah dengan keluhan-keluhan Aomine yang sedari tadi memintanya pulang.

"HA? Kau ini diajak karena Kise kasihan padamu, Bakagami!"

"Kau bilang apa Ahomine?! Justru karena Kise tidak mau berdua denganmu makanya dia mengajakku!"

Baik Aomine dan Kagami menolak untuk mengalah, terus memojokan pihak masing-masing dengan harapan salah satunya akan pulang. Namun sayang keduanya terlalu bodoh untuk menyadari bahwa mereka sudah berada di dalam taman bermain, membayar tiket untuk tiga orang. Sayang bukan kalo harus ditinggal pulang, bayarnya mahal berhubung ini akhir pekan.

"Sudahlah Aominecchi, Kagamicchi, bagaimana kalau kita bermain saja?" Kise menatap keduanya dengan mata berbinar layaknya balita mendapat kado pertamanya. AoKaga yang tidak tahan dengan tatapan uke Kise akhirnya memutuskan untuk mengibarkan bendera putih sementara dan memilih menuruti Kise, menikmati wahana yang ada.

Wahana pertama yang mereka mainkan adalah komedi putar, jangan tanya kenapa wahana khusus anak-anak itu menjadi pilihan ketiganya. Sebenarnya Kise lebih tertarik pada Roller Coaster, tapi ternyata di luar dugaan kedua seme itu menolak mentah-mentah dengan dalih membahayakan nyawa Kise. Oke, disini Kise sudah pasang tampang facepalm.

Hingga akhirnya disinilah mereka bertiga, memperebutkan siapa yang pantas duduk disebelah Kise. Oh, ayolah sejak kapan dua seme ini begitu agresif memperebutkan Kise, seingatnya sebelum adegan "Pernyataan Cinta" dua orang ini bersikap sedikit hati-hati dan cuek terhadap Kise.

"Sudahlah, aku duduk disini saja-ssu." Kise memilih duduk diatas kuda berwarna putih dengan mahkota di helaiannya. Sedikit tersenyum baru menyadari bahwa menaiki komedi putar mungkin asyik juga, ia seperti menunggangi kuda sungguhan. Aomine dan Kagami yang melihat itu sontak dengan segera mencari tempat strategis agar bisa berdekatan dengan Kise, dan dalam hitungan detik posisi itu dimenangkan oleh Aomine. Kagami merutuk dalam hati, melihat ke belakang mencoba mencari tempat strategis lain, namun nihil, sudah banyak anak-anak yang menempati posisi yang diinginkannya. Dan sebagai seorang anak SMA yang baik, ia memutuskan untuk mengalah dan duduk di tempat yang agak jauh dari AoKise.

Selama wahana berlangsung Kagami dapat melihat wajah senang Kise yang sedikit bercanda dengan Aomine, melihat wajah Kise yang sedikit memerah karena perkataan entah apa dari Aomine. Kagami sedikit cemberut, tak tau mengapa ia merasa kesal melihat Kise dan Aomine, bahkan semenjak ia melihat duo AoKise itu keluar dari rumah Kise perasaannya sudah sangat kesal. Seolah ia tidak rela dengan kedekatan keduanya, Kagami merasa ... cemburu? Wajah Kagami sontak berwarna senada dengan rambutnya, cemburu? Apa-apaan itu? Kata yang bodoh sekali, ia kembali merutuk dalam hati. Berpikir bahwa Himuro akan menertawakannya kalo mengetahui Kagami merasakan perasaan membara seperti cemburu.

Setelah selang beberapa menit ketiga pemuda itu akhirnya ganti wahana, dari wahana yang menyenangkan sampai yang menegangkan. Dan naas bagi Kagami karena hampir semua wahana yang mereka mainkan, kesempatan berdekatan dengan Kise justru jatuh pada Aomine, Kagami tidak mengerti kenapa hari ini seolah Dewi Cinta mengejeknya dan tidak merestui hubungannya dengan Kise.

"Baiklah, ini wahana selanjutnya." Kise tersenyum bangga melihat rumah hantu di depannya, wahana meneganggakan lain yang sudah cukup lama ingin ia kunjungi.

Kagami dan Aomine menatap horor rumah hantu yang ada dihadapan mereka. Yang benar saja, kalo ada wahana yang paling ingin dihindari AoKaga, maka rumah hantu jawabannya, bahkan mereka rela menaiki Roller Coaster berkali-kali daripada harus masuk ke tempat nista yang ditunjuk Kise.

"Ganti saja Kise, kita ke labirin saja." Aomine berucap serius menatap Kise. Keringat dingin perlahan keluar dari pori-pori kulitnya.

"Tapi ini lebih mengasyikan Aominecchi. Bukankah begitu Kagamicchi?" Kise menatap si surai merah penuh pengharapan. Kagami membuka mulutnya mencoba berkilah untuk menolak, tapi entah mengapa menatap mata penuh pengharapan Kise membuatnya tidak tega.

"Fine, kita masuk. Biarkan saja si bodoh Ahomine disini kalau dia tidak mau." Kagami menyeringai kecil, sedikit berharap bahwa mungkin ini kesempatannya berdekatan dengan Kise. Namun sekali lagi sungguh disayangkan, dengan rasa cinta Aomine yang begitu besar ia mengalah dan memilih ikut memasuki wahana rumah hantu. Siapa tahu dirinya bisa modus ke Kise dengan berpura-pura memeluknya saat si pirang ketakutan.

"GYAAAAAAAAAA!" Suara jeritan membahana dari dalam rumah hantu hingga keluar hampir mencapai seluruh taman bermain. Seorang pemuda berkulit tan menutup matanya erat seraya menempelkan tubuhnya kepada pemuda yang lebih pendek beberapa senti darinya. Kise meringis kecil ketika Aomine memeluknya erat, terlalu erat hingga ia merasa sedikit kesulitan bernafas. Kagami sendiri menatap Aomine dengan pandangan yang cukup sulit diartikan, jujur pertama kali masuk Kagami sudah berkeringat dingin dan ketakutan, terlebih lagi ketika sesosok dengan rambut panjang tiba-tiba masuk dalam pandangannya. Namun belum sempat ia mengekspresikan ketakutannya, teriakan Aomine sudah membahana duluan, mengubah seluruh rasa takut Kagami menjadi kaget, lalu kesal. Begitu pula seterusnya, ketika Kagami hendak menjerit atau menegang takut, teriakan Aomine selalu mengganggunya dan malah membuatnya sebal. Ditambah lagi, semakin kedalam, pelukan Aomine terhadap Kise malah semakin mengerat, dan sekali lagi itu membuat Kagami kesal, tidak, dia cemburu!

Kini Kagami tidak fokus lagi dengan apa yang ada di depannya, setiap kali ada hantu datang mencoba menakuti mereka pandangan Kagami justru semakin tajam, salahkan teriakan Aomine yang perlahan membuatnya jengah. Kagami sendiri heran kenapa Kise dengan sukarela meminjamkan badannya untuk dipeluk. Tunggu! Jangan-jangan ini salah satu modus licik Aomine. Sial! Kagami kembali merutuk dalam hati, tidak menyangka otak pas-pasan Aomine bisa berubah jenius kalau menyangkut Kise. Ingin rasanya Kagami keluar duluan dan meninggalkan duo AoKise itu jikalau sebuah tarikan di ujung kemejanya membuatnya terpaksa mengalihkan pandangan dari depan. Kise menggenggam erat ujung kemejanya, matanya terbuka dan terpejam beberapa kali menghilangkan rasa takutnya. Kagami menghela nafas, tak disangka bahwa orang yang disukainya ternyata sedang menahan rasa takutnya.

Dengan sigap Kagami melepaskan genggaman tangan Kise ke kemejanya dan justru menggandeng lembut tangan putih itu, yang tentu saja membuat Kise sedikit berjingkat. Manik madu itu membelalak kaget memandang pelaku yang menggenggam tangannya dengan sangat erat, begitu hangat. Wajah Kise berubah memerah, ia menunduk malu dengan perlakuan Kagami yang menurutnya begitu gentle. Wajah Kagami sendiri sudah ikut memerah, sama seperti Aomine, terkadang otak pas-pasannya itu bisa berubah jenius juga kalau menyangkut Kise.

Kagami dan Kise duduk di sebuah bangku jauh di pinggir arena permainan. Setelah melalui terapi batin dan fisik akhirnya mereka berhasil melalui rumah hantu tanpa kurang apapun, namun naas tidak untuk Aomine, setelah hampir keluar dan berpikir bahwa tidak akan ada lagi setan yang mengganggu, justru sesosok sadako tiba-tiba berdiri di depan mereka dengan wajah yang begitu mengerikan. Kontan pemandangan itu membuat Aomine pingsan seketika, hingga disinilah ia terlelap dengan beralaskan paha Kise sebagai sandarannya.

Mereka bertiga terdiam, dua orang yang masih sadar tidak berniat membuka pembicaraan, entah kenapa ada sedikit rasa canggung diantara keduanya. Kise yang biasanya ceria pun bingung harus mengatakan apa, ia hanya bisa memilin pelan rambut biru tua milik Aomine siapa tahu pemuda tan itu akan segera bangun dari pingsannya.

"Kise ... akan kubelikan minuman. Kau tunggu disini saja." Kagami beranjak dari duduknya dan dengan segera berlari ke kedai minuman terdekat, tak sedikitpun ia menanti balasan dari Kise, sendirinya masih sedikit malu dengan perilaku yang tadi dilakukannya.

Kise menatap punggung Kagami seraya melepaskan nafas berat yang sedari tadi ditahannya. Ia kembali memilin kecil rambut Aomine, sedikit menariknya saking jengkelnya karena pemuda itu belum bangun juga dari pingsannya. "Kau bodoh Aominecchi, menyebalkan! Aku tidak tahu lagi-ssu." Kise kembali menarik rambut Aomine semakin kasar kemudian mengacaknya asal, namun tetap saja pemuda yang tidur dipangkuannya ini masih belum bangun juga.

"Dia mati atau pingsan sih?" Kagami berkomentar seraya memberikan salah satu minuman yang sudah dibelinya kepada Kise.

"Tidak tahu-ssu. Mungkin Aominecchi kena serangan jantung mendadak dan mati." Kise mencibir kecil seraya meminum Strawberry Float nya. Kagami yang mendengar mengangkat satu alisnya memandang Kise seolah bertanya – apa kau serius.

Kise yang melihat perubahan sikap Kagami itu langsung tertawa renyah, tak menyangka Kagami akan termakan ucapannya, sebodoh itukah pemain dari Seirin ini?

"Aku bercanda Kagamicchi. Mana mungkin Aominecchi mati, dia hanya pingsan, dan mungkin keterusan hingga dia ketiduran." Kise kembali tertawa, mengelus helaian rambut Aomine yang sekiranya menutupi mata. Kagami memandang dalam diam perlakuan Kise terhadap Aomine yang sedang pingsan, dapat terlihat dengan jelas bahwa Kise begitu perhatian terhadap mantan pacarnya itu. Dan itu sedikit membuatnya sakit. Oh sial, Himuro benar-benar akan mentertawakannya jika ia tahu.

"Kise." Kagami berucap pelan, masih tidak beranjak dari tempat ia berdiri. Kise hanya bergumam kecil, mengalihkan pandangannya dari Aomine ke arah sang surai merah. Menanti apa yang akan diucapkan pemuda di depannya.

Kagami menghela nafas, "apa kau menyukai Aomine?" Tatapannya tajam ke arah Kise. Sedang yang ditanya hanya bisa kaget dengan pertanyaan yang begitu tiba-tiba. Lidahnya terasa kelu tak mampu menjawab. Kenapa? Kise juga tidak mengerti.

"Tidak apa-apa Kise, aku tahu dari Kuroko. Kalau kalian dulu pernah menjalin hubungan bukan. Aku mengerti Kise, itu sebabnya aku sudah tidak akan menagih jawaban dari pernyataan cintaku waktu itu." Kagami memejamkan matanya perlahan sebelum kembali menatap Kise yang masih tidak mampu bereaksi apapun. Kagami sangat mengerti bahwa ia tidak mungkin bisa menggantikan posisi Aomine di hati Kise, ia dapat melihat dengan jelas bahwa Kise masih sangat mencintai Aomine, begitu pula sebaliknya. Karena itulah ia memutuskan untuk mundur, setidaknya asal Kise bahagia bersama dengan siapapun yang ia cintai maka Kagami juga akan ikut bahagia.

"Alright Kise, lebih baik aku pulang duluan. Kau tunggu saja si Ahomine ini sampai dia terbangun dan minta dia untuk mengantarmu pulang." Kagami tersenyum lebar ke arah Kise seraya berbalik untuk meninggalkan keduanya. "Good luck Kise." Kagami bergumam kecil dengan tatapan sendu. Bagus, patah hati ternyata rasanya sangat menyakitkan.

Kise masih membeku di tempat, memandang punggung Kagami yang makin menjauh darinya. Kise sungguh tidak mengerti dengan apa yang tadi diutarakan oleh Kagami kepadanya. Tidak menagih jawaban? Apa itu artinya Kagami menyerah terhadap perasaannya? Kise termenung, entah kenapa ada suatu rasa dalam hatinya yang begitu mengelitik mengganggunya. Ia menatap tangan kanannya. Rasanya dingin, bukan dingin karena efek minuman yang baru saja dicicipinya, tapi lebih kepada-

"Uh ..." Aomine membuka matanya perlahan, ia memegang keningnya yang sedikit berkedut pusing. Ia menatap keatas, melihat sosok Kise yang menunduk balas memandangnya.

"Kise? Kau ... menangis?" Aomine terbelalak, terakhir kali ia melihatnya menangis adalah saat akhir pertandingan Kaijou vs Too. Aomine langsung terduduk dan memegang pundak Kise, tangan kanannya ia gunakan untuk menghapus jejak air mata yang baru dikeluarkan oleh orang yang sangat dicintainya.

"Kise, kau kenapa? Katakan padaku oi." Aomine selembut mungkin menatap Kise, sebrengsek apapun dirinya saat pertandingan basket, tapi melihat orang yang begitu dicintainya menangis membuat hatinya begitu perih.

Kise tidak menjawab, tangisannya justru semakin pecah, dan itu justru semakin membuat Aomine kelimpungan. Dirinya bingung harus berbuat apa, karena dua kali ia melihat Kise menangis, dua kali itu pula ia tidak pernah menghiburnya. Karena itulah sekarang Aomine bertindak secara instingnya, seperti yang pernah ia lihat – secara tak sengaja – dari drama tontonan Momoi. Aomine memeluk Kise erat, memberikan bahunya sebagai sandaran Kise untuk menangis.

Kise langsung membalas pelukan Aomine dengan lebih erat, tangisannya juga makin kencang. Ia tidak tahu, dan ia tidak mengerti. Yang Kise ingat hanyalah sesuatu dalam hatinya begitu sakit membuatnya ingin menangis. Dan ia bersyukur Aomine memberikannya pelukan, setidaknya ia tidak ingin terlihat menggelikan karena menangis tanpa sebab. Dan Kise juga bersyukur, karena kehangatan Aomine sedikit membuatnya tenang.

.

\(PRESENT_PAST)/

.

Keduanya kembali ke rumah Kise tepat pukul tujuh malam, selama perjalanan pulang mereka sama sekali tidak membicarakan apa-apa. Bahkan Aomine terlihat begitu ragu saat hendak menanyakan perihal kenapa Kise menangis dan kemana gerangan perginya Kagami. Ia ragu jika bertanya itu justru akan membuat Kise kembali terisak, menenangkannya begitu susah kau tahu.

"Kise." Kini mereka berdua telah berada di depan pintu pagar rumah Kise, walaupun tangisan Kise sudah berhenti, tapi masih dapat tergambar kesedihan yang mendalam dalam raut mukanya.

"Arigatou Aominecchi. Aku sudah lebih baik-ssu." Kise tersenyum kecil sedikit dipaksakan. Aomine terdiam, masih mencoba mencari jawaban atas kesedihan Kise yang mendadak. "Baiklah Aominecchi, hati-hatilah dalam perjalanan pulangmu." Ucap Kise sebelum ia membalikan badan untuk segera masuk ke kediamannya.

"Tunggu Kise!" Aomine menarik lengan Kise perlahan, tanpa ia sadari tatapan mata biru laut itu begitu sendu.

"Dengar Kise, Aku sangat mencintaimu. Sungguh, aku bahkan rela melakukan apapun demi dirimu. Maka dari itu, jangan bersedih, ingat bahwa aku akan selalu disisimu. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi." Aomine menatap Kise penuh determinasi, ia begitu serius mencintai Kise, dan ia sangat menyesal dulu pernah menyakitinya. Oleh karena itulah ia tidak ingin membiarkan Kise-nya bersedih lagi. Aomine terlalu mencintai Kise.

Kise yang mendengarnya hanya bisa tersenyum, kata-kata Aomine begitu hangat di hatinya. "Sekali lagi, arigatou Aominecchi."

Aomine tersenyum kecil, sebelum memutus jarak diantara keduanya. Aomine mencium singkat bibir Kise, menyalurkan kehangatan dalam balutan angin malam.

"Aku pulang Kise." Aomine berlari menuju kegelapan malam. Kise masih berada di luar, menatap kepergian Aomine yang semakin menjauh. Kise sangat mengerti perasaan Aomine kepadanya, ia dapat menlihatnya dengan jelas. Dan itu sungguh membuatnya senang, bahagia, dan berbagai ungkapan yang menunjukan suka cita ia rasakan ketika Aomine menyatakan cintanya. Tapi walau begitu, Kise merasa ada sesuatu yang mengganjal, kehangatan yang membuatnya nyaman hilang seketika. Kehangatan yang diberikan oleh seseorang yang beberapa minggu ini ia klaim sebagai temannya. Kehangatan yang diberikan oleh seseorang yang beberapa hari ini mengklaim bahwa ia mencintainya.

"Kagamicchi." Kise berucap lirih, kembali merasakan sesuatu yang menggelitik hatinya. Sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

.

Double Date? End


A/N : ohonhonhon~ apa saya terlalu lama update? tidak kan~ *senyum maut*dibuang* aduh maaf ya, chap ini pasti banyak yang OOC, maklum, saya sendiri bukannya baca fic Kurobasu buat referensi, malah menjelajah ke Screenplays, :v ada yang bikin fic Screenplays? oke, abaikan

Sebelum chap terakhir dibuat, ada yang mau memberi saran siapa pairing akhirnya? Oh, tentu saja itu hanya saran, karena pairing akhirnya sudah saya tentukan sendiri, hanya pengen tau aja siapa saja yang suka AoKi dan KagaKi~ hoho~ :3

oke~ cukup cuap2 nya, sebelum bales review, saya mau mengumumkan pemenang kuis (?), pemenangnya adalah ... *dumdumdumdum* dee-mocchan~ selamat~ silahkan sebutkan pairing yang anda inginkan melalui review, atau mau PM saya juga boleh, :v buat RinRin-san, sayang sekali, bener dan cepet sih, tapi pengarangnya belom ditulis tuh, haha... mungkin lain kali yak~

balesan review :

RinRin NaRin desu : halo juga say~ :* #diesh adih, sama kali, saya juga jarang update fic di KnB, terlalu terbuai pada fic2 Screenplays, *ikutan curcol* aih, boleh tuh boleh, 3some, ditunggu aja ya~ :v ah, lambat ya, saya sadar itu kok, soalnya setiap bikin fic saya emang selalu begitu, kalau ini gimana? apa masih lambat? dan ini juga sudah diperpanjang, semoga memuaskan, :3 terima kasih sudah mereview, :D

dee-mocchan : huehue... ini saya udah update, jangan dilempar gunting lagi yak, ;3; dan soal 3some~ ditunggu saja~ hoho~ terima kasih sudah mereview~

ai selai strawberry : aduh, selai-san, saya makin cinta sama nama anda, :v ini gimana? masih pendek kah? dan soal brokoro, saya males membuat Aomine patah hati, tapi chap ini bikin brokoro gak? :D dan terima kasih sudah mereview~ oh ya, kembalikan Akashi, =3=

shiro yuki : ah, gomen ne, saya tidak bisa update saat itu juga, tapi semoga chapter ini dapat memuaskan Yuki-san ya, karena saya terlalu lama update, :3 dan sekali lagi maaf, pemenang nya jatuh buat mocchan-san, mungkin AkaKise nya lain kali ya~ :3 dan terima kasih sudah mereview~

Authorjelek : au au, gimana dengan pengguna Muga no Kyochi? bukankah mereka juga bisa melakukan perfect copy? :va wkwkwk... Kagami mudah belajar soalnya, jadi dalam hitungan detik kata suka bisa berubah jadi cinta, :v dan terima kasih sudah mereview~

ThatSniperGirl : hai! ganbarimasu! terima kasih sudah mereview, :3

Kiwok : soal Kise dibilang sakit itu kan karna wajahnya pucat abis latihan, terus memerah juga gara-gara dideketin ama Aomine, jadinya ya pada mikir Kise sakit, :D dan terima kasih sudah mereview, :3

oke, review selesai dibalas~ sekali lagi terima kasih untuk kalian semua, semoga para readers sekalian masih berkenan untuk mereview, apalagi final chapter sebentar lagi~ hai~ jaa ne~ :3

PS : ada yang tertarik pada fic Rated M atau 18+ *saya nanya*smirks*

peluk cium,

Higitsune