Izumi come back, minna! (sambil bungkuk-bungkuk)

Lanjutannya udah update nih…!

Maaf bikin penuh daftar fic IchiRuki, tapi sungguh... kalo gak baca gak apa-apa kooook ^_^


Summary chapter:

Orihime berkata pada Ichigo bahwa Rukia telah pergi jauh dan tak akan pernah kembali lagi. Apa yang terjadi pada Rukia? Kata-kata Orihime mampu membuat Ichigo tidak bisa tidur, walau sebenarnya Ichigo memang terus terjaga sejak Rukia meninggalkannya. Ichigo hanya ingin bertemu dengan Rukia, bagaimanapun keadaannya…


Disclaimer : Pak Tite Kubo, Izumi cuma pinjem beberapa karakternya kok, sungguh...

Pairing : sudah dijelaskan di atas, tapi sepertinya kurang lengkap, karena bakal ada pair yang lain, hehe gomen

Genre : sebenernya gak cuma Romance sama Hurt/Comfort aja, perhaps... gado-gado. (jadi laper!)

Ow, fic Izumi kali ini masih OOC, dan... masih ber-typo(s), hmm... sekali lagi... gomen yaaa...

WARNING!

Seperti biasa, selama baca, harap diteliti tanggal yang ada di dalam fic, cuz Izumi sengaja gak ngasih font italic di bagian flashback, hanya tanggalnya aja. Jadi, kalu gak teliti, dijamin bakal bingung! ^_^

Gak apa-apa, kaaan? sudah tuntutan skenario nih... hehehe


BAB XI

Seiretei, 1 Agustus 2012

Senang? Tentu saja Inoue Orihime merasa senang karena kekasihnya telah kembali. Kurang lebih 2 minggu yang lalu, Kuchiki Hisana, kakak kandung Kuchiki Rukia, datang menemuinya secara diam-diam sambil berkata bahwa adiknya akan mengembalikan Ichigo ke pelukannya dan menyuruhnya untuk datang ke rumah Ichigo pada tanggal 16 pagi untuk mencegah Ichigo agar tidak mengejar Rukia. Dan, yah… tentu saja Orihime menerima tawaran itu dengan senang hati. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain melihat orang yang begitu kau cintai kembali ke tanganmu, kan?

Hanya saja… Orihime sedikit kecewa lantaran sikap pria yang dicintainya itu berubah. Sudah lebih dari 2 minggu Orihime menemaninya, bahkan terkadang bermalam di rumah kekasihnya, namun selama itu pula Orihime merasa bahwa waktu yang dilaluinya bersama Ichigo membuatnya semakin tidak mengenali pria yang dicintainya itu. Memang tidak sepenuhnya berubah, Ichigo masih sesekali tersenyum padanya, berbicara seperlunya, dan membiarkan Orihime mengacau dapurnya, namun kali ini… tidak ada ciuman mesra, atau bahkan pelukan hangat. Menyentuh tangan Orihime pun sepertinya tidak pernah. Tidak seperti dulu. Sesekali Orihime menemukan Ichigo tengah termenung di dalam sebuah kamar bernuansa ungu muda –yang Orihime tahu pasti itu adalah kamar yang dulunya ditempati Kuchiki Rukia- seorang diri sambil mengusap pelan seprei yang bahkan tidak pernah dilepasnya hanya demi mengisi kenangan di dalam kekosongan hatinya. Orihime memang merasa kecewa dengan perubahan sikap kekasihnya, namun selama ia masih bisa bersama dengan orang yang dicintainya… ia tidak keberatan diperlakukan seperti itu. Seperti orang asing di mata Ichigo, dan Orihime akan bertahan. Bukan! Pasti bertahan! Sambil membangun keyakinan, suatu saat Ichigo pasti sepenuhnya kembali padanya. Apa itu terlalu egois?

Orihime menatap lurus ke depan, mencoba memfokuskan pikirannya pada jalanan selagi ia menyetir, walaupun tidak bisa sekalipun ia berkonsentrasi. Di pikirannya hanya ada Ichigo saja, pria yang begitu dicintainya. Pagi ini, Orihime pergi ke butiknya, butik yang menjadi sumber penghasilannya. Hal yang mulai rutin ia lakukan selama 2 minggu ini. Pagi-pagi sekali, ia datang ke rumah Ichigo untuk membuatkan sarapan –yang entah bagaimana rasanya lantaran Ichigo tidak pernah memakannya- lalu melihat Ichigo berangkat kerja, setelah itu, ia membersihkan rumah Ichigo, dan kemudian berangkat ke butiknya. Tunggu! Ada hal aneh yang dilihatnya saat ia melintas di kawasan perumahan elit, hal aneh yang membuat Orihime harus menghentikan mobilnya dan memastikan dari jauh. Sebuah mobil Honda CRZ warna hitam tengah terparkir di depan salah satu mansion elit milik… keluarga Kuchiki? Orihime mengerutkan keningnya, terlebih saat menangkap sosok pria yang dicintainya itu tengah berdiri dengan tatapan sedih pada mansion itu. Ada apa? Ada apa, Ichigo? Apa kau masih mengharapkannya kembali? Batin Orihime. Seketika ia merasa ada jarum yang menusuk hatinya begitu dalam, membuatnya harus menarik napas dalam untuk mengurangi sesak yang dirasakannya, hingga kemudian ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

Saat sore menjelang, Orihime kembali ke rumah Ichigo, memutuskan untuk mengajaknya berbicara dan sedikit terbuka untuknya. Orihime tahu, kekasihnya itu pasti sangat kehilangan. Oleh karena itu, ia ingin menghiburnya, kalau bisa….

Tepat! Mobil milik Ichigo sudah ada di halaman rumahnya. Itu berarti, Ichigo sudah datang terlebih dahulu, kan? Orihime bergegas memarkir mobilnya, kemudian tanpa permisi, ia langsung masuk ke dalam rumah Ichigo. Rumah itu tampak gelap. Orihime menekan sakelar lampu dan menemukan Ichigo tengah berdiri membelakanginya, menghadap kulkas. Tiba-tiba saja napas Orihime berpacu, ia segera berlari dan memeluk sosok yang dicintainya itu dengan begitu erat. Sebaliknya, sosok yang dipeluknya itu menjadi kaku, tak bergerak sama sekali. Perlahan, Orihime merasakan air matanya mulai turun.

"Apa kau selalu berdiri di depan mansion Kuchiki setiap pagi?" tanya Orihime lirih.

"Orihime?"

"Katakan padaku! Apa kau selalu berdiri di depan mansion Kuchiki setiap pagi, Ichi?" kali ini suara Orihime terdengar lebih keras.

Diam, tidak ada suara…

"Ya… aku… aku… ada di sana, setiap pagi, menunggu," jawab Ichigo lirih, bahkan suaranya terdengar bergetar.

"Apa yang kau harapkan, Ichi? Kuchiki-san… Kuchiki-san tidak akan pernah kembali. Ia… ia telah pergi."

"Pergi?"

Orihime mengangguk, "Pergi… ke tempat yang sangat… jauh."

"Di mana… itu?" tanya Ichigo dengan suara yang lemah, terdengar putus asa.

"Aku tidak tahu. Yang aku tahu… Kuchiki-san… telah pergi, Ichi. Ia tidak akan kembali…."

Diam lagi. Orihime dapat merasakan tubuh Ichigo yang bergetar hebat, dan Orihime semakin erat memeluknya.

"Maka dari itu, bisakah… kau hanya melihatku… untuk saat ini? Seperti dulu. Ah, tidak! Dulu kau mencintaiku awalnya hanya karena pelarian. Jadi, bisakah kau mencintaiku… Ichi?"

Lantas, Orihime merasakan bahwa kedua tangannya digenggam begitu erat, dan kemudian dilepaskan secara perlahan-lahan. Orihime mengerutkan keningnya, menuruti apa yang dilakukan Ichigo walau enggan untuk melepaskan tangannya.

"Maaf, Orihime…."

Suara itu terdengar renda dan lembut, namun menyakitkan! Orihime dapat melihat Ichigo yang kini berjalan menjauhinya, menuju kamarnya yang ada di lantai 2, meninggalkan Orihime yang perlahan mulai merosot, terduduk di lantai dapur yang dingin, menangis seorang diri. Cara apa lai yang harus dilakukannya agar Ichigo benar-benar kembali padanya?

^Love You Like A Dream^

Mata hazel Ichigo masih belum bisa terlelap sepenuhnya. Ia terus terjaga, seperti malam-malam sebelumnya, sejak Rukia meninggalkannya. Ia terus terjaga, berharap ia akan kembali melihat Rukia yang menyelinap masuk ke dalam rumahnya, dan tidak ingin melewatkannya. Tapi… tentu saja itu hanya harapannya, kan? Sebuah harapan kosong yang pasti… tidak akan pernah terwujud. Lagi pula, Rukia sudah pergi meninggalkannya.

Pergi. Tadi sre Inoue Orihime juga berkata seperti itu. Wanita itu berkata sambil memeluknya, bahwa Kuchiki Rukia telah pergi jauh dan tak akan kembali lagi. Seketika otak Ichigo tidak bisa digunakan untuk berpikir. Buntu! Kalau dilihat dari mansion Kuchiki, sepertinya mansion itu sepi, tidak! Mansion itu memang selalu sepi! Lalu, pergi jauh dan tak kembali… apa artinya… Rukia telah… tidak! Ichigo menggeleng kuat, merenggut helaian rambut oranyenya kuat-kuat demi menghilangkan asumsi yang menyakitkan itu.

"AAAARRRRHG! Apa maksudnya?" geram Ichigo, frustasi. Apa yang harus dilakukannya? Apa… benar-benar harus kembali pada Orihime?

^Love You Like A Dream^

Karakura, 30 September 2012

Sudah 2 bulan berlalu, dan Orihime tetap melakukan akrifitas seperti biasanya. Datang ke rumah Ichigo hampir tiap hari, memasak untuknya yang pada akhirnya tidak tersentuh sama sekali, dan juga membersihkan rumahnya. Wanita itu tetap gigih, walaupun Ichigo tidak mengaaknya berbicara sama sekali. Awalnya Ichigo mencoba untuk menghapus Rukia dan kembali pada Inoue Orihime, namun semakin dicoba semakin tidak bisa. Ingatan tentang Kuchiki Rukia terus melekat di dalam benaknya. Walaupun akalnya berbisik bahwa Rukia telah mati, namun hatinya berteriak dengan lantang bahwa wanita yang dicintainya itu masih hidup di suatu tempat.

Lalu, bagaimana dengan Inoue Orihime? Entahlah… sejak kejadian 2 bulan lalu, saat Inoue Orihime memeluknya, wanita itu enggan untuk menatapnya, walau terus melakukan aktifitas seperti biasa di rumahnya. Bagaimana bisa Ichigo kembali padanya bila sikapnya seperti itu? Ah! Lupakan! Toh Ichigo tidak akan pernah bisa berpaling dari Kuchiki Rukia.

^Love You Like A Dream^

Sudah berapa kali Ichigo menganggapnya seperti orang asing? Entahlah, Orihime tidak mampu menghitungnya. Sore ini, seperti biasanya… Orihime mampir ke rumah Ichigo setelah pulang kerja. Ia membawakan sekotak Pizza, karena ia tahu bahwa selama ini Ichigo tidak pernah menyentuh makanan yang telah dibuatnya. Orihime masih terdiam sebentar di dalam mobil, memejamkan matanya dan menarik napas dalam. Ia tengah mempersiapkan diri, hal yang selalu dilakukannya mengingat hubungannya dengan Ichigo sudah tidak bisa dibilang baik-baik saja. Tak lama kemudian, ia memutuskan untuk turun dan masuk ke dalam rumah Ichigo.

"Tadaima…" ujarnya pelan, dan seperti biasa pula… tetap tidak ada sahutan dari dalam rumah yang kini tampak gelap itu.

Orihime menyalakan sakelar lampunya, meletakkan sekotak Pizza di atas meja, kemudian terdiam, berdiri cukup lama di dalam dapur. Tak lama kemudian, ia mendengar langkah seseorang, yang ia yakini adalah pemilik rumah. Orihime menatapnya, dan sesaat… mata mereka saling beradu. Hazel itu… tidak menunjukkan cahayanya sama sekali, tidak seperti saat Kuchiki Rukia masih ada di sisinya. Rambut oranye terang miliknya pun mulai sedikit tampak panjang. Kekasihnya… benar-benar tidak merawat diri lantaran depresi. Ya, depresi, tentu saja.

"Ichi… go?" Orihime memanggilnya dengan ragu.

Pria itu tampak mengerutkan keningnya, sedikit memiringkan kepalanya, respon bahwa pria itu menanti kata-kata selanjutnya.

"Ada apa, Orihime?" tanyanya dengan nada datar saat Orihime tak kunjung memberikan kata-kata selanjutnya.

Mendadak, Orihime menjadi gugup, ia tersenyum kikuk sambil mengibaskan tangan kanannya.

"Ah, ti-tidak! Bu-bukan apa-apa. Maaf,"

"Kalau tidak begitu penting, tidak usah memanggilku."

DEG!

Seakan tertusuk duri, Orihime langsung saja menunduk, membiarkan Ichigo melaluinya untuk mengambil sebotol air mineral di dalam kulkas kemudian beranjak lagi.

"Aku… membelikan Pizza untukmu karena kau tidak pernah makan masakanku. Makanlah, kau… tampak lebih kurus… Ichi…" ujar Orihime lirih.

Langkah Ichigo terhenti, "Begitukah?" tanya Ichigo dengan nada yang seakan-akan tidak peduli, namun kemudian Ichigo tersenyum, walau tampak jelas bahwa senyumnya dipaksakan, "Ah, terima kasih," lanjutnya, lantas Ichigo kembali melangkah pergi.

Orihime masih belum berani mengangkat wajahnya. Ia menggigit bibirnya, dan air matanya kembali turun membasahi pipinya. Berakhir! Ini semua sudah berakhir! Sejak awal, ia memang sudah kalah, dan selama ini ia hanya memaksakan perasaannya saja. Semua organ tubuhnya sudah ingin menyerah, namun hatinya meronta dan tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa Ichigo memang tidak diciptakan untuknya. Kalau sudah begini, apa yang harus dilakukannya? Kurosaki Ichigo, pria itu… sudah benar-benar berubah, dan Orihime tidak bisa lagi mengenalinya. Apakah… ia harus melepasnya dan menyerah? Tidak! Sedikit lagi! Orihime ingin sedikit waktu lagi untuk bertahan sebelum akhirnya ia memilih untuk menyerah.

^Love You Like A Dream^

Karakura, 1 November 2012

Sudah 4 hari sejak Inoue Orihime memutuskan untuk mengakhiri hubungannya. Ichigo seakan mendapatkan cahayanya kembali, terlebih saat wanita itu berkata bahwa Kuchiki Rukia ada di suatu tempat yang tidak diketahuinya dan dalam keadaan hidup. Ichigo seakan berbunga-bunga! Hanya ada satu tempat di mana ia bisa memperoleh informasi tentang keberadaan wanita mungil yang bertahun-tahun telah dicintainya, dan yah… pagi ini bukan pertama kalinya ia datang ke mansion Kuchiki sambil memohon di depan kepala keluarga Kuchiki yang angkuh dan dingin itu. Sebenarnya ia kesal, hanya memberikan informasi saa, apa susahnya? Namun ia lakukan semua ini dan membuang rasa malunya hanya demi bertemu dengan Rukia! Bertemu dengan Rukianya!

Kedua lutut Ichigo masih bersimpuh di hadapan Kuchiki Byakuya yang tengah berdiri angkuh. Bersuud? Ia pernah melakukannya, bahkan hampir saja kepala oranyenya itu menjadi sasaran tendang pria angkuh di hadapannya.

"Aku mohon…."

"Tidak! Kau telah melakukan kesalahan besar, dan aku tidak akan membiarkanmu mendekati adikku lagi!"

"Aku tidak peduli! Aku akan memohon seperti ini… aku terus memohon agar bisa menemui Rukia, bakan kalau saa Rukia sudah mati sekalipun, aku tetap harus menemuinya."

"Kau! Rukia tidak akan memaafkanmu, baik dalam keadaan hidup maupun mati, harusnya kau tahu itu, Kurosaki Ichigo."

"Siapa yang berani berkata bahwa adikku telah mati?" suara seorang wanita, disusul dengan sosoknya yang berjalan mendekati area perdebatan antara dua pria yang sama-sama keras kepala itu, "Adikku tidak mati, dan aku tidak akan mengizinkannya untuk mati sebelum aku. Dia ada di suatu tempat," terang wanita anggun yang mirip seperti Rukia itu.

Mata hazel Ichigo membulat. Ia tahu ini! Ia tahu bahwa wanita yang dicintainya itu masih hidup!

"Di mana dia? Bisakah… aku… menemuinya?" tanya Ichigo yang mendadak gugup.

"Avenue George Mandel, 75116, di Paris. Adikku tinggal du salah satu apartemen mewa di sana," jawab wanita itu dengan tenang.

Ichigo segera bangkit, membungkuk dalam pada wanita itu.

"Terima kasih, Hisana-san! Aku akan menemuinya," ujar Ichigo yang kemudian segera berlari meninggalkan mansion Kuchiki. Paris! Tujuan utamanya kali ini adalah Paris! Ya, Ichigo merasa senang kali ini, ia tidak berhenti tersenyum barang sedetik. Selain itu… Kuciki Hisana selalu saja menolongnya.

^Love You Like A Dream^

Kuchiki Byakuya menatap punggung Ichigo yang semakin lama semakin menjauh, berlari menuju mobilnya yang diparkir sembarangan, kemudian pergi dengan tergesa-gesa. Sesekali, Byakuya melirik ke sisi kirinya, di mana wanita anggun dengan rambut hitam sebahu berdiri dengan arah tatapan yang sama.

"Kenapa kau memberikan alamat tinggal Rukia padanya, Hisana?" tanya Byakuya.

Sebaliknya, wanita bernama Kuchiki Hisana itu tersenyum, lantas menarik napas dalam, menatap mata Byakuya dengan mata lemonnya yang cantik.

"Apa kau masih tidak mau memberitahukannya? Ini sudah hari keempat dia datang dan bersujud di hadapan kita demi bertemu dengan Rukia-chan."

"Begitukah?"

Hisana kembali menatap lurus ke depan. Senyumnya kembali pudar.

"Lagi pula, semua itu tergantung keputusan adikku, kan? Aku lebih tahu bagaimana sifat Rukia-chan, melebihi siapa pun."

Byakuya berbalik, memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam mansionnya.

"Baiklah, tersera kalian saja."

Sebenarnya, Byakuya sudah bisa menebak hal ini, dan apa yang akan terjadi nanti pada adik iparnya itu. Ia hanya berharap, semua akan baik-baik saja, dan ia yakin… istri mungilnya juga mengharapkan hal yang sama.

^Love You Like A Dream^

Setelah melewati perjalanan yang melelahkan, Ichigo sampai d kota yang konon dijuluki kota paling romantis itu. Tak banyak yang dibawanya, hanya dompet saja, ah! Ada paspor yang diurusnya dengan cara kilat. Ia tidak mempersiapkan apa-apa, termasuk melatih kemampuan bahasa asingnya yang mendekati nol. Lalu… Avenue George Mandel, 75116? Di sebelah mana itu? Yang Ichigo lihat saat ini hanya gedung-gedung berarsitektur kuno dengan jajaran toko-toko yang menjual fashion-fashion terbaru. Baiklah! Ichigo memutuskan untuk memanggil taksi agar ia bisa sampai di tempat tujuan langsung.

Ichigo duduk di jok belakang, membiarkan pengemudi taksi itu membawanya pergi setelah Ichigo mengatakan tujuannya. Ichigo melihat keadaan sekitar yang benar-benar asing di matanya. Bagaimana bisa Rukia tertarik pada pria asing daripada Ichigo? Oh, stop, Ichigo! Berhenti berpikiran dangkal dan negatif seperti itu! Sejenak, jantung Ichigo berpacu kencang saat ia melihat sosok wanita mungil berambut hitam sebahu, sedikit lebih panjang dari yang dulu, dan mereka… tengah tertawa tertawa mesra? Rukia? Tidak! Ichigo berharap ia salah lihat, dan Ichigo memejamkan matanya. Ya, aku pasti salah lihat! Rukia pasti saat ini sedang berada di dalam apartemennya, bersih-bersih, atau memasak, seperti yang biasa dilakukan di rumahku dulu. Tunggu aku, Rukia! Aku akan datang menemuimu, dan membawamu pulang.

^Love You Like A Dream^

Seorag wanita tengah berjalan dengan tenang, menyusuri jalalan di Kota Paris yang menjadi kebiasaannya sehari-hari. Ia membawa sekantong penuh bahan-bahan makanan yang siap dimasaknya di apartemen. Ah! Ia tak hanya sendiri, ada seorang pria yang menemaninya. Pria tampan berkulit putih, yang sayangnya… serba biru. Jangan tanya dari mana wanita itu mengenalnya, sebenarnya ia sudah sedikit pusing dengan warna-warna terang yang mencolok seperti… oranye?

"Baiklah Rukia, hari ini aku telah melaksanakan tugasku lagi untuk menemanimu berbelanja keliling Paris," ujar pria itu sambil tersenyum.

"Ya, terima kasih. Sebenarnya kau tidak perlu mengikutiku ke mana pun aku pergi, Grimmjow. Aku buka anak kecil-"

"Bukan anak kecil, dan… bla bla bla, aku tidak mau mendengarmu, Nona!" ujar pria biru itu lagi yang kemudian menyeringai, cukup membuat Rukia begidik ngeri melihatnya.

"Hentikan senyumanmu itu, manusia biru! Kau menyeramkan!"

"Ada apa? Para gadis di sini lebih menyukaiku menyeringai daripada diam."

"Tapi aku lebih suka… Ichigo?" sesaat suara Rukia tercekat saat melihat sosok pria yang tengah berdiri di depan gedung apartemen mewahnya. Grimmjow yang sedari tadi memperhatikan Rukia, kini mengalihkan pandangannya, mengikuti arah mata Rukia.

"Ah! Itu pria terang satu lagi yang sering kau ceritakan?"

Rukia tidak menjawabnya, hanya diam membatu dengan mata yang membulat. Tentu saja ia terkejut dengan kehadiran Kurosaki Ichigo di sini! Apa yang dilakukannya dan apa yang diinginkannya sehingga ia harus pergi ke Paris dan berdiri tepat di depan gedung apartemen Rukia, tak jauh darinya. Lantas, pandangan mereka bertemi. Hazel itu seakan menatap amethyst Rukia penuh dengan kerinduan, namun tatapannya itu berubah bingung sekaligus tidak suka saat melihat pria biru di samping Rukia. Oh, tentu saja!

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rukia yang masih terkejut dengan kehadiran Ichigo.

"Rukia?" dan itu adalah suara pertama yang didengar Rukia setelah 2 bulan terakhir tidak mendengarnya. Suara yang begitu… dirindukannya?

^Love You Like A Dream^

Ichigo duduk di salah satu sisi kursi sofa bulu berwarna putih yang nyaman di ruang tengah unit apartemen milik Rukia. Tidak salah! Unit apartemen ini pasti disewa Kuchiki Byakuya khusus untuk adik iparnya yang satu ini. Lihat saja unit apartemen bernuansa putih yang begitu luas dan cukup terkena cahaya matahari! Tampak sekali dari perabotan di dalamnya bahwa harga sewa unit apartemen ini tidak bisa diremehkan. Bukankah unit apartemen ini terlalu luas dan mewah untuk ditinggali seorang diri? Dan… oh! Pria biru itu juga tinggal tepat di samping unit apartemen milik Rukia. Anak bangsawan juga, kah? Ichigo sempat kesal saat melihat pria itu berada di samping Rukia dan bertingkah selayaknya kucing yang harus membuntuti majikannya. Pria itu sungguh memuakkan! Ingin rasanya Ichigo memukulnya, namun urung lantaran pria biru itu masuk terlebih dahulu ke dalam unit apartemennya sendiri. Yah, Ichigo saat ini tidak perlu pusing memikirkan pria biru itu lagi. Saat ini yang ada di matanya hanyalah sosok wanita mungil yang tengah sibuk meletakkan barang-barang belanjaannya, kemudian beranjak untuk membuka tirai jendela, menyalakan kipas angin, kemudian beralih ke kulkas. Ichigo tidak bisa lepas memandanginya.

"Apa yang kau inginkan sehingga kau datang ke Paris dan menemuiku, Ichigo?" tanya Rukia, terdengar sedikit tak ramah. Ya… tentu saja! Bukankah kehadiran Ichigo di sini tidak diharapkannya?

"Aku… aku hanya ingin memastikan sesuatu," jawab Ichigo terdengar sedikit ragu.

Berikutnya, yang terdengar adalah suara kaleng minuman yang berbenturan dengan meja kaca di hadapannya dan Rukia tengah duduk tepat di kursi sofa putih yang ada di hadapannya, menatapnya tajam.

"Oh ya? Dan… kalau boleh tahu, apa sesuatu yang ingin kau pastikan itu?"

"Sesuatu yang penting, dan mungkin… saat ini aku benar-benar salah menilai sesuatu yang penting itu," jawab Ichigo, tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari amethyst Rukia, berusaha menghilangkan rasa rindunya walau hanya dengan saling bertatap mata.

"Apa kau bahagia di sini, Rukia?"

Ichigo melihat dahi Rukia yang berkerut, kemudian wanita mungil itu bersandar pada kursi sofanya, melipat kedua tangannya.

"Ya, tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Lantas, Ichigo memukul dahinya, menggeleng pelan sambil tersenyum miris, "Bodoh! Tentu saja kau bahagia! Kau telah menemukan pengganti Shiba Kaien yang jauh lebih tepat. Kaya, tampan, dia sepertinya… cukup kuat untuk melindungimu, bukan?"

"Ah! Bagaimana denganmu sendiri, Tuan Kurosaki? Akhirnya kau kembali ke pelukan kekasih seak SMA-mu dan tanpa ada gangguan dariku. Hidup bersama dengan wanita yang selama beberapa tahun ini kau cintai, terlebih wanita itu cantik, baik, lembut, perhatian, dan… memiliki tubuh yang sempurna. Sudah pasti kau lebih bahagia, kan?"

"Tidak! Aku tidak bahagia!" sahut Ichigo, entah kenapa hatinya terasa kesal saat Rukia berbicara mengenai Inoue Orihime, belu lagi penekanan kata 'lebih' dalam kalimatnya, "Aku tidak bahagia, Rukia! Apa kau menyadari hal itu?"

"Lalu apa maumu, Ichigo?" kini suara Rukia terdengar lebih tegas lagi, "Kau… dan aku… kita tidak lebih dari sekedar teman, sejak dulu… hingga saat ini. Aku… lebih memilih untuk pergi dari kehidupanmy karena aku… tidak ingin menadi penghalangmu, Ichigo," suara Rukia merendah, entah sejak kapan amethyst-nya beralih menatap lantai dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"Justru kau yang menghindar dan mencari orang lain, Rukia! Tidakkah kau menyadari… perasaanmu sendiri? Setidaknya… perasaan kita sama, namun kau telah mengubur perasaanmu sendiri kemudian membangunnya kembali untuk orang lain," ujar Ichigo, bibirnya mulai bergetar, lantas ia kembali menatap Rukia yang kini tengah menatapnya dengan kening yang berkerut, wanita itu diam tanpa kata.

"Aku dan Orihime… sudah berakhir, Rukia. Tidak! Perasaan itu… tidak pernah ada, karena dari dulu… aku hanya mencintaimu, namun aku mengalihkannya karena kau… lebih memilih Shiba Kaien. Ketika kau menikah, aku mencoba untuk jatuh cinta pada Orihime, dan berhasil, walau sesaat saa. Hingga kau mengalami kecelakaan parah yang membuatmu terkena amnesia total. Perasaanku pada Orihime… kembali hilang. Kau… tidak pernah mengerti hal ini, Rukia. Kau tidak pernah mengerti bagaimana aku menahan perasaanku padamu sampai pada akhirnya, aku membunuh perasaanku sendiri."

"Lalu, apa yang kau inginkan, Ichigo? Apa yang kau inginkan saat kau tahu bahwa aku juga memiliki perasaan yang sama?" tanya Rukia datar, kedua mata amethyst-nya terpejam. Apa… ia tengah memikirkan sesuatu?

Ichigo tertawa miris, tampak kepedihan dari raut wajahnya yang kacau saat ini.

"Kenapa kau bertanya sesuatu yang jawabannya sudah jelas, Rukia?" tanya Ichigo, kemudian ia kembali melihat Rukia yang memandangnya dengan amethyst-nya, lantas Ichigo memalingkan wajahnya, ia dapat merasakan rona kemerahan muncul di kedua pipinya, "Bila aku masih diberi kesempatan, aku… ingin membawamu pulang, dan menjadikanmu istriku yang sesungguhnya. Aku… aku tidak bisa jauh lagi darimu. Itu akan membuatku gila!" lanjut Ichigo.

Tak ada jawaban, hingga Ichigo kembali menatap Rukia dan mendapati wanita itu telah bangkit dari singgasana mewahnya.

"Kau harus menjelaskan semua ini pada nii-sama. Merebut hati nee-san-ku tidak sesulit merebut hati nii-sama. Aku yakin, nii-sama tidak akan memaafkanmu semuda itu, Ichigo," ujar Rukia dengan nada angkuhnya seperti biasa, namun Ichigo hanya mengerutkan keningnya. Lantas, Rukia berjalan mendekatinya.

"Perlu aku luruskan hal ini. Pria biru itu, Grimmjow Jaegerjaquez, adalah pengawal yang disewa oleh nii-sama untuk menjagaku di Paris. Aku tidak punya hubungan apapun dengannya, dan sepertinya makhluk itu telah memberitahukan kedatanganmu di sini pada nii-sama," terang Rukia yang kemudian pergi meninggalkan Ichigo, mungkin masuk ke dalam kamarnya.

Perlahan, bibir Ichigo mulai terangkat ke atas. Apakah Ichigo boleh menganggap bahwa Rukia mau menerimanya?

Still not over…


Arigato udah baca!

Sebelumnya Izumi pengen ngucapin… "OTANJOUBI OMEDETOU, ICHIGOOO!" yaah.. sepertinya telat Izumi ngucapinnya dan… itu tulisan bener apa salah ya? GUBRAKS! *readers-sama pingsan.

Waaa maaf apdetnya leleeet banget kaya' siput, Izumi sedang sibuuuuk banget, bahkan baca fic IchiRuki yang biasanya jadi aktivitas sehari-hari jadi berubah… huuft~ Izumi kangen baca fic-fic IchiRuki…

Gimana lanjutan cerita Izumi kali ini? Mengecewakan, kah? Mendadak kemampuan menulis Izumi jadi tumpul gara-gara kerjaan kantor yang mengharuskan Izumi menghitung, bukan berimajinasi… huhuhu *nangis sambil gulung-gulung. Izumi juga gak baca lagi cerita di atas, soalnya Izumi masih punya kerjaan lain… gomen bikin para readres-sama gak nyaman…

Ah iya, masih ingat chapter prolog? Ya… bisa dihubungkan dengan chapter ini, tepatnya sebelum keberangkatan Ichigo ke Paris. Kalau masih inget chapter pertama pasti tahu apa yang akan terjadi saat itu, kan? Jadi gak Izumi tulis lagi. Hmm… semoga aja gak bosen sama fic Izumi ini, dan Izumi buat chapter ini lebih pendek!

Chapter Epilog sudah Izumi apdet sekalian, silakan klik tombol "next" untuk ke halaman selanjutnya. Happy Reading! ^_^


Waktunya bales review

Buat KeyKeiko: iyakaaah? Wah, arigatoo! Semoga chapter yang ini juga bisa menghibur Keiko-san… heehehe

Buat ichirukilover : haha iya… waktu apdet chapter kemaren emang Izumi rasa jarang ada apdetan fic IchiRuki, jadi apdet aja, tapi… sepertinya yang chap ini apdet pas rame-ramenya fic IchiRuki apdet ya? Heehe

Yupz, mereka sudah saling terbuka. Ara~ Honto ni Arigatoo udah ngingetin… emang kadang Izumi ini suka pikun dan gak teliti… haahahaa. Mungkin Izumi udah betulin tanggalnya… atau belum ya? *garuk-garuk kepala. Yosh! Izumi bakal terus semangaaaat!

Buat darries: hihi untuk ending udah apdet kook~ dan sudah bisa ditebak… *kita kan di fandom IchiRuki.. hehehe. Happy Reading yaaa darries-san!

Buat Kurosaki Yukia : eh? Kurang ya? Yang kemaren dialognya IchiRuki kurang? Fic-nya kurang panjang? Sepertinya… yang ini tambah pendek ya fic-nya… hehehe. Gomen… ^^

Buat Azura Kuchiki : Yupz sudah berakhir permainan flashback-nya, tapi… sepertinya chap selanjutnya masih ada sedikiiiiit flashback. Hehe gomen

Wah, akun yang lama gak bisa kebuka? Coba di utak-atik lagi, hehe kan sayang akun lamanya… ^^

Buat hendrik. widyawati : ahahahay! Gantung diri di rumput sih gak berasa jatohnya... hahaha *loh?

Buat KeyofHeart : Iya… ini sudah puncaknya… (mungkin sih.. soalnya Izumi juga bingung… hehehe *loh?) iya selalu sad… ini fic mengharu biru… tapi Izumi gak nyadar loo kalo ada kata-kata lucunya… hehe yokatta.. kalo Key-san terhibur sama fic Izumi…

Ow iya, fic Key-san masih ada lanjutannya kah? Dan… ow, sepertinya chap ini Izumi sedikit melihat setting Kota Paris… hehe Gomen ya… setting tempatnya jadi kaya' fic punya Key-san… ^^ boleh kaaaan? *puppy eyes

Buat Rukaga Ann : hai juga! ^^ iya gak apa-apa bacanya borongan, Izumi kalo baca fic multichap juga kadang suka borongan kok… hehehe.

Honto ni? Arigatoo! *BigHug

Buat life's really hard: Kira-kira yang ini galau juga yaa…? *Izumi juga lagi pikir-pikir… hehehe.

Buat yang baca fic Izumi ini, arigatoo! Buat yang baca dan ngasih review, honto ni arigatooo dan tetep nge-review yaaa! Hehehe *wishing, dan buat yang baca, ngasih review, dan ngasih saran… terima kasih banyak! Sungguh! Saran temen-temen berarti banget buat Izumi…

Oke, cukup berkicaunya, Izumi lanjut ke Epilog ya, Minna!