11
The Red Glam; Sorrowful Choice
.
.
Warn : Child violence
Luhan tak pernah bermimpi akan menginjakkan kaki ke tempat ini; salah satu gedung pencakar langit milik perusahaan IT tempat Seungho bekerja. Tapi, ia tak bisa memikirkan pilihan lain. Jika memang ini bisa menyelesaikan semuanya, jika memang ini bisa membuat Shia kembali ke pelukannya; Luhan akan menerima segala konsekuensi.
Atau, ia mencoba untuk melakukan itu.
Lututnya gemetar, tapi ia punya satu kekuatan untuk membuatnya tetap melangkah.
"Lantai 9…" Bisiknya saat memasuki lift dan menekan tombol angka 9.
Di dalam lift Luhan hanya bisa terdiam dengan tangan yang saling meremat gelisah. Luhan merasakan dorongan kuat untuk kembali turun dan lari, ia merasa begitu gentar. Tapi ia tahu jika ia melakukannya, mungkin di kemudian hari ia tak akan mendapat keberanian yang sama.
Helaan nafas berat terdengar bersama dentingan lift yang terbuka.
Luhan keluar, mengedarkan pandang dan lantas menunduk dalam-dalam saat beberapa pegawai di sana menatapnya dengan penasaran. Bisikan memenuhi udara dan menciptakan riuh rendah. Itu hanya membuatnya merasa makin tidak nyaman.
"Kau Luhan?"
Luhan menghentikan langkah ketika seorang pria jangkung berambut pirang gelap menghadang jalannya. Pria itu tampak seperti blasteran Asia-Amerika dilihat dari paras dan kontur tubuhnya. Pria itu sangat menjulang dan entah mengapa Luhan tiba-tiba didera perasaan tak nyaman. Ada sesuatu yang membuatnya berpikir untuk tidak berurusan dengan pria ini.
Sebuah seringai tipis tersembunyi apik.
"Seungho sudah menunggumu di dalam. Kusarankan kau berhati-hati, Luhan." Pria itu berucap seolah sungguh-sungguh dengan kalimatnya, memberi senyum yang ganjil kemudian menghilang di persimpangan koridor.
Luhan mencoba tak berprasangka.
Luhan menarik nafas, kembali melangkah dan saat ia sampai di ruang yang ia tuju, ia berhenti sejenak. Menatap papan nama yang membuatnya merasa campur aduk. Ia mengetuk pintu pelan, merasa sebentar lagi ia akan menghadapi salah satu neraka dunia. Atau lebih tepatnya, salah satu penciptanya.
"Masuklah, Luhan. Aku sudah tahu kedatanganmu."
Luhan masuk, menemukan Seungho berdiri membelakanginya di depan jendela besar. Luhan masih tak mendekat karena langkahnya terasa makin berat, atmosfer ruangan ini mencekik nafas. Dan dari sini Luhan bisa melihat sudut bibir Seungho yang tertarik beberapa mili. Dia bahkan tak berusaha menyembunyikannya.
"Aku benar-benar tak menyangka akhirnya kau menemuiku dengan sukarela, tanpa paksaan… Dan yang lebih baik lagi, itu karena kau sendiri yang datang, karena keinginanmu sendiri."
Senyumnya tipis nyaris tak terlihat, tapi Luhan bisa menilai ada banyak arti di baliknya.
Luhan gemetar, tapi ia menguatkan diri. Untuk putri kecilnya… Sebentar lagi, sebentar lagi ia akan bisa merengkuh Shia…
"Duduklah, Luhan."
Luhan duduk di sisi sofa yang paling dekat dengan pintu. Tangannya menggenggam di atas pangkuan dan ia masih diam saat Seungho meletakkan secangkir teh di meja hadapannya. Luhan hanya menatapnya tanpa arti.
"Jadi, Luhan, kenapa kau menemuiku sekarang? Setelah sekian lama kau menolak dan mengabaikanku. Apakah Sehun sudah tidak lagi bersamamu sekarang?"
Kalimat itu terdengar menjijikkan, tapi Luhan tak punya pilihan selain membiarkan Seungho mengatakan apa yang ia inginkan.
"Apa kau tahu di mana Shia?" Luhan bertanya, matanya menatap lurus pada Seungho yang masih mempertahankan senyum tipisnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?"
Luhan terdiam. Ini akan sulit. Ia tahu apa yang Seungho inginkan, ia tahu apa yang bisa membuat Seungho menjawabnya dengan jujur; tapi Luhan masih ketakutan. Semua resiko dan kemungkinan buruk yang ia pikir bisa ia sisihkan untuk nanti tiba-tiba menyeruak di saat-saat krusial seperti ini.
"Apa yang kau inginkan?" Luhan merasa seluruh kenangan saat Sehun membuat Shia tertawa menusuknya sangat dalam. Apa yang ia lakukan sama saja sebuah pengkhianatan, tapi ia tak bisa memikirkan cara lain. Ia sudah nyaris putus asa, ia sudah di ujung titik nadir.
"Haruskah kau bertanya?" Dia masih saja bermain dengan kata-kata dan Luhan sudah sangat tertekan sejak awal, ia ingin segera pergi dari sini, ia ingin segera keluar dan membebaskan paru-parunya yang sesak.
"Jawab pertanyaanku dengan benar." Luhan nyaris mendesis.
Seungho melebarkan senyum, dia menyandarkan punggung dan membawa lengannya naik melingkari sandaran sofa. Dia menatap Luhan dengan tatapan penuh obsesi yang tidak repot ditutupi.
"Kalian. Hanya kalian berdua, tanpa orang lain."
Luhan merasa getir dan ketakutan, ini yang harus ia lakukan agar Shia kembali kepadanya, kan? Hanya ini yang bisa ia lakukan, kan? Luhan mencoba meyakinkan diri. Bayangan di mana ia harus meninggalkan Sehun dan semua tentang pria itu terasa menyakitkan, tapi ia tak bisa memikirkan pikiran lain. Ia sudah merasa sangat kelelahan.
"Jika Shia kembali padaku dengan selamat, tanpa kekurangan apapun. Kau bisa memiliki apa yang kau inginkan."
Seungho sama sekali tak menutupi seringai penuh kemenangannya, dan itu membuat Luhan semakin yakin bahwa monster di depannya ini adalah dalang dari semua hal buruk yang menimpa. Pikiran bahwa ia harus menghabiskan seumur hidup bersama brengsek ini benar-benar membuatnya gemetar, tetapi bukankah ia akan memiliki Shia di pelukannya seperti dulu? Luhan terus mencari pembenaran dan dan selama itu pula, ketakutan dalam hatinya makin menyudutkannya.
"Shia akan segera kembali; aku akan membawanya kembali padamu."
Dan ternyata, kalimat yang sangat ia nantikan, yang ia perjuangkan sejauh ini; tak terdengar sangat melegakan.
.
.
.
Rumah bergaya Amerika yang kental dengan warna putih klasik itu lengang, Baekhyun duduk di depan jendela menikmati pemandangan senja dengan secangkir teh hijau yang ia harapkan bisa mengendurkan benang-benang kusut dalam kepalanya. Mungkin ini sudah cangkir ketiga, atau keempat, barangkali. Entahlah, ia masih bertahan pada harapan semu itu.
Tsali sedang melakukan sesuatu di basement rumah, Kris mungkin sedang berdiri menyandar di pintu basement dengan sebatang rokok dan mengamati Tsali.
Dan di sini ia sibuk bernostalgia.
"Nostalgia," Baekhyun mendengus menyadari pemilihan katanya. "nostalgia seharusnya kenangan bahagia, tapi yang kupunya malah nyaris pahit semua."
Biarkan dia mengingat sejenak, sejak kapan, kenapa dan apa yang membuatnya mulai menapaki jalan kotor dan penuh bebatuan tajam ini. Sejujurnya, dia hanya bisa samar mengingat seperti apa dirinya saat belum mengenal semua hal yang kini ia genggam.
Saat itu dia baru akan menanjak enambelas tahun, masih seorang gadis remaja yang tak mengenal apapun selain bangku sekolah, perpustakaan dan minimarket di persimpangan jalan pulang. Dia berasal dari keluarga pas-pasan yang berantakan, ibunya lari dari rumah bersama pria lain, tapi ia memiliki ayahnya yang amat menyayanginya. Pria itu teduh, menenangkan dan tampak kuat meski ditinggal pergi oleh istrinya—Baekhyun tak sudi memanggilnya ibu.
Sejak kecil dia tak terlalu paham seperti apa rasanya diantar sampai gerbang sekolah, atau memiliki bekal-bekal lucu yang mengenyangkan; karena ayahnya pergi bekerja sejak dini hari dan pulang saat ia sudah terlelap ke alam mimpi, tentu membuatnya hanya bisa tersenyum menahan diri saat iri membuncah di dadanya.
Tapi keberkahan terbesar di tengah semua kemalangan itu ada; dia pandai, tak memerlukan les tambahan atau berbagai bimbingan untuk menjadi juara kelas. Baekhyun muda merasa sedikit tenang. Selepas menengah pertama ia akan melanjutkan sekolah dengan beasiswa dan sedikit mengurangi beban ayahnya. Angan-angan itu cukup ampuh untuk menyembuhkan luka yang kembali terbuka saat malam menapaki langit.
Namun, seperti kemalangan yang menimpa dirinya sejak kecil belum juga cukup, ia ditampar keras oleh kenyataan, menghancurkan semua angan yang ia bangun keping demi keping dengan susah payah. Di hari kelulusannya, saat ia berlari hendak memeluk ayahnya karena amat bahagia; yang ia dapatkan adalah rumah kecil mereka yang hancur berantakan. Beberapa orang berwajah mengerikan menunggunya di sana bagai predator menunggu mangsa.
Ayahnya kabur entah kemana, meninggalkan setumpuk hutang yang membuat ia akhirnya sadar; ayahnya tak pernah bekerja dengan benar sejak istrinya lari. Pria bodoh itu sialnya sangat mencintai wanita sialan itu, dan menghabiskan banyak sekali uang untuk mabuk hampir tiap malam. Baekhyun merasa ditipu habis-habisan.
Ia ditinggalkan, angan-angannya hilang tersapu angin dan ia harus menanggung beban yang bukan miliknya. Kemarahan membakar habis semua sedih dan kecewa, menggantikannya dengan dendam dan segala perasaan gelap. Baekhyun masih ingat, ia mengutuk ayahnya habis-habisan malam itu.
Hidupnya yang sudah sulit menjadi berkali lipat lebih sulit. Tak ada yang diharapkan dari gadis remaja ingusan seperti dirinya, gajinya sebagai kasir minimarket hanya cukup untuk makan sekali sehari dan mencicil hutang yang tampaknya tak akan lunas bahkan sampai ia mati.
Ia putus asa, sampai seorang gadis asing berdandanan menor yang mampir ke minimarketnya memberitahu jalan pintas untuk mendapatkan uang. Baekhyun merasa pahit, tapi tak punya pilihan ketika langkahnya sampai ke sebuah rumah bordil mewah.
Ia diterima dengan sangat mudah kala itu, oh tentu saja, pikirnya getir. Remaja macam dirinya akan menjadi aset yang sangat berharga, dan saat itulah ia mengerti nilainya—meski dalam dunia kotor macam itu. Ia dipekerjakan sebagai pelayan bar dan kadang penari eksotis oleh Madam Hong, pemilik rumah bordil mewah itu, paling tidak sampai ia berumur legal nanti, dia berkata.
Baekhyun tersiksa, ia merasa kotor setiap tangan-tangan bejat dari pria berumur menggerayang tubuhnya, tiap kecupan menjijikkan yang mampir ke bibirnya, tiap siulan nakal yang diperuntukkan untuknya. Tapi setidaknya uang yang ia terima bisa membuatnya mencicil hutang. Ia diberi satu kamar nyaman dan juga makanan layak, tapi ia tidur dengan mimpi buruk mengerikan tiap malam.
Ia pikir ia bisa sedikit tenang sampai ia delapan belas nanti, tapi itu tidak ketika banyak pelanggan mulai melekatkan mata. Ia mulai mendapatkan tatapan sinis menusuk dari seniornya di sana—Baekhyun tertawa satir dengan kata senior yang ia sematkan. Lalu, Madam Hong memulas senyum tipis sarat makna.
"Aku tahu kau masih sangat muda, tapi, kurasa kau membutuhkan lebih banyak uang untuk membayar hutangmu, Sayang? Kau tahu Tuan Jung? Dia akan memberikanmu banyak uang dan hadiah jika kau mau menemaninya malam ini."
Madam Hong berkata seolah itu saran, tapi tahu ia akan disiksa jika ia tidak mengangguk.
Dan disitulah hidupnya yang benar-benar kotor dimulai. Ia berpura memasang senyum seduktif yang diajarkan padanya, belajar banyak hal menjijikkan yang membuatnya mual setengah mati, berpura menjadi gadis nakal penggoda.
Semua pria memujinya, memberinya hadiah-hadiah mahal dan jumlah uang yang ia terima sangat banyak, membuat hutang-hutang yang ditinggalkan ayah brengseknya mulai tercicil dengan benar.
Tapi ia hampa, ia tahu dirinya sudah rusak, kotor dan tak berharga, tapi ia masih punya setitik nurani. Ia tidak mau menghabiskan hidupnya berkutat dalam kubangan kotor ini. Ia malu pada dirinya di masa lalu.
Dan suatu hari saat matahari masih belum tampak, ia melarikan diri dari rumah bordil itu dengan gaun merah menyala yang robek di mana-mana. Pria yang membayarnya terlalu kasar dan mengerikan, itu hanya membuat semua ketakutan dan rasa muak yang terpendam menggelegak keluar. Baekhyun dikejar-kejar oleh para pria pemukul di rumah bordil itu.
Ia berlari ketakutan, mengabaikan tatapan mencela orang-orang karena yang bisa ia pikirkan hanyalah mencari tempat sembunyi. Para pemukul itu makin dekat saat kakinya lecet parah. Baekhyun sedang memikirkan akan segera bunuh diri jika tertangkap, lalu tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya dan membuatnya tersungkur di celah bangunan. Ia panik setengah mati takut para pemukul itu sudah menangkapnya, tapi tidak.
Pria pucat yang menyungkurkannya itu bukan salah satu dari para pemukul itu. Pakaiannya layak dan mahal, dan Baekhyun sudah dibanjiri berbagai pemikiran mengerikan sampai pria muda itu buka suara.
"Ikut denganku atau kembali ke sana?"
Pengalaman mengajarkan bahwa tak ada satupun pria yang sepenuhnya berhati bersih, tapi saat itu, mungkin lebih baik jika ia pergi.
Baekhyun dibawa ke rumah besar bergaya Amerika yang memiliki atmosfer membingungkan. Baekhyun merasa asing, namun anehnya juga … terlindung. Pria pucat itu mengenalkan diri sendiri sebagai Sehun, dengan suara menahan kegelian terhadap ucapannya sendiri.
"Atau terserah bagaimana kau memanggilku." Begitu katanya mengakhiri perkenalan singkat.
Ia mengikuti langkah Sehun dan disambut oleh seorang Kepala Pelayan bersenyum ramah dan juga seorang pria jangkung yang menatapnya dingin di pertengahan tangga.
"Selamat datang, Tuan Muda…" Kepala Pelayan itu membungkuk sopan dan mengikuti langkah Sehun.
"Siapa dia? Salah satu pelacurmu? Biasanya kau tidak pernah membawa mereka ke rumah, dan oh, dia masih bau kencur." Pria jangkung itu menuruni tangga, menatapnya dingin dan menusuk.
"Dia akan tinggal bersama kita."
Sehun menatap pria jangkung itu, dan pria jangkung itu hanya terdiam sejenak sebelum mengangguk acuh tak acuh. Tapi kentara sekali ada sesuatu lain di balik matanya saat menatap Baekhyun.
"Tuan Seo, urus dia, beri dia pakaian layak. Aku akan menunggu di ruang kerja."
"Baik, Tuan Muda." Kepala Pelayan Seo membungkuk sopan kemudian membimbing langkahnya ke sayap timur sementara Sehun dan pria jangkung itu berjalan menjauh ke sayap barat.
Baekhyun mengikuti langkahnya dengan takut-takut, dan ia risih bukan main ketika para gadis pelayan membungkuk saat bertemu dengannya di jalan. Baekhyun pikir ia akan mendapat tatapan sinis dan risih melihat pakaian yang ia kenakan, tapi semuanya menatapnya sopan.
Kepala Pelayan Seo membukakan pintu kamar indah di ujung koridor. Di sana ada sekitar tiga gadis pelayan yang membungkuk sopan.
"Nona … ?"
"Baekhyun."
"Nona Baekhyun, kami akan membantu Nona membersihkan diri dan mempersiapkan segala kebutuhan Nona. Jika Nona menginginkan atau membutuhkan sesuatu yang spesifik, tolong beritahu kami. Segera setelah Nona siap, Nona akan menemui Tuan Muda dan Tuan Chanyeol di meja makan."
Pintu itu tertutup dan para gadis pelayan itu langsung mengerubunginya.
Semua kemewahan dan kenyamanan yang ia terima terus mendatangkan pertanyaan; apa yang harus ia bayar untuk semua ini? Melayani pria bernama Sehun itu? Juga pria jangkung bernama Chanyeol itu? Entah mengapa Baekhyun tak yakin, karena di matanya, dua pria muda itu tak tampak sebagai pria semacam itu.
Baekhyun duduk di depan kaca bersinar dengan dua gadis pelayan membantunya merias wajah dan menata rambut. Untuk pertama kali setelah ia masuk ke dunia kotor, ia bisa memandang bayangan wajahnya di cermin dengan ulasan senyum tipis; tak ada bedak tebal dan lipstik menor menjijikkan di sana. Riasan sederhana membuatnya kembali teringat bahwa ia masih gadis enambelas tahun.
"Anda ingin menata rambut Anda seperti apa, Nona?"
"Sesuatu yang sederhana."
Dan Baekhyun mendapatkan rambut panjangnya diikat rendah dengan apik. Saat ia keluar, gadis pelayan lain sudah menunggunya di sana.
"Tuan Muda dan Tuan Chanyeol telah menunggu di meja makan. Mari ikut saya, Nona."
Dan di sana, dua pria itu duduk berseberangan dengan beberapa lembar kertas di masing-masing tangan. Baekhyun nyaris gemetar, apakah itu kontrak? Kepala Pelayan Seo menyambutnya di ujung tangga, menuntunnya dan sembari membisikkan sesuatu dengan sopan.
"Nona tidak diperkenankan untuk bertanya; saya akan menjelaskan semuanya setelah ini selesai."
Baekhyun meneguk ludah saat ia duduk.
Sehun menatapnya sekilas sementara Chanyeol masih mengerutkan dahi menatap kertas-kertas di tangannya.
"Byun Baekhyun, 16 tahun, masuk ke rumah bordil untuk membayar hutang, ayah dan ibumu lari, tak punya sanak saudara." Chanyeol berkata, dan Baekhyun berjengit, tak pernah suka jika hal itu dikonfirmasi. Baekhyun tak menjawab karena Chanyeol seperti tak membutuhkan jawaban.
"Keberuntungan kecil, kau sangat pandai dulu." Lanjutnya acuh tak acuh.
Sehun yang sedari tadi diam menyodorkan sebuah berkas padanya. Baekhyun terbelalak, jemarinya gemetar ketika mengambil berkas itu.
"Semua hutang ayahmu pada rentenir selesai, dan aku sudah membayar tebusan pada Madam Hong. Kau sudah tak terikat dengan mereka."
Baekhyun menatap nanar semua bilangan uang yang ada di hadapannya, begitu banyak hingga membuatnya limbung.
"A-apa yang harus aku—"
Kalimatnya terhenti oleh tangan yang memegang bahunya, Kepala Pelayan Seo tersenyum mengingatkan, dan ia tak berani mengangkat pandangan.
"Aku tahu kau lapar, kita akan makan." Chanyeol menatapnya datar.
Hanya itu kalimat terakhir yang terucap sebelum mereka sarapan.
Baekhyun duduk termenung di kamarnya, memikirkan semua keganjilan yang tiba-tiba datang tak terkira ini. Kepala Pelayan Seo masuk membawa sebuah berkas. Baekhyun tak mau mengandai-andai lagi.
Mereka duduk berhadapan di sofa nyaman dan Baekhyun masih menundukkan pandangan.
"Saya yakin Nona memiliki banyak pertanyaan, dan saya sudah berjanji akan menjelaskan pada Nona."
"Siapa mereka?" Baekhyun bertanya.
"Tuan Muda Oh Se Hun dan Tuan Park Chan Yeol."
"Mereka bukan saudara?" Baekhyun mengernyitkan dahi, sementara pria empat puluh tahun itu tersenyum kecil.
"Tidak memiliki nama belakang yang sama bukan berarti mereka bukan saudara. Tuan Muda adalah anak angkat dari Tuan Besar Park."
Baekhyun terkejut, tak menyangka karena bagaimanapun ia melihat, Sehun terlihat lebih superior dibandingkan Chanyeol. Kepala Pelayan Seo tampaknya mengerti kebingungannya.
"Tuan Besar Park adalah pemilik rumah sakit swasta terbesar di kota ini dan beberapa perusahaan kecil, tetapi Tuan Chanyeol tidak ingin mewarisinya, dia lebih memilih menjadi dokter bedah dan membiarkan Tuan Muda yang mengambil alih bisnis keluarga."
"Kenapa begitu?"
"Nona akan mengerti suatu saat nanti."
Suatu saat nanti? Oh, tentu saja, dia pasti tak akan bisa keluar dari lingkaran ini. Tidak, setelah semua yang diberikan dua orang itu padanya.
"Kenapa Tuan Muda Sehun—" Lidahnya kaku.
"Nona bisa memanggilnya dengan nama kecil, begitupun dengan Tuan Chanyeol."
Baekhyun terkejut lagi. "A-apa?"
"Nona sudah menjadi bagian dari keluarga ini."
Baekhyun pusing setengah mati, tapi tahu pertanyaan macam ini hanya akan dijawab dengan ia yang akan tahu suatu saat nanti, jadi ia menyingkirkannya.
"Kenapa Sehun … melakukan ini?"
"Nona akan bersama Tuan Chanyeol."
Kalimat itu sama sekali tak membantu.
Namun ia mendapatkan jawaban keesokan paginya, saat ia terbangun dari tidur paling nyaman setelah sekian lama yang ia ingat, ia menemukan Chanyeol menyandar di pilar ranjang dengan tangan terlipat. Baekhyun memekik sangat keras dan berhasil melemparkan bantal bulu angsa ke wajah dingin itu.
"Ya! Kenapa kau melemparku hah?!"
"K-kau mengejutkanku!" Baekhyun nyaris berkaca-kaca.
Chanyeol mengernyitkan dahi. "Terkejut? Bukankah kau seharusnya sudah terbiasa dengan pria di atas ranjangmu dan—"
Kalimat itu terhenti, dan Chanyeol menggelengkan kepalanya.
"Lupakan. Kau mandi dan aku akan menunggumu di bawah. Seharian ini kau akan ikut denganku."
Lalu Chanyeol pergi begitu saja, para gadis pelayan yang sama dengan kemarin datang menggantikan pria muda itu.
Di meja makan ia mendapati dua pria itu duduk di tempat yang sama, dan hal paling mengejutkan yang ia dapat hari pertama itu selain keberadaan Chanyeol di kamarnya adalah senyum tipis yang Sehun berikan padanya.
"Ah … Baekhyun."
Baekhyun hanya mengangguk kaku saat duduk. Sarapan mereka di hari itu berjalan dalam hening. Lalu saat Sehun pergi tanpa kata-kata menghilang di balik tangga, Chanyeol menyita perhatiannya.
"Kau cerdas dan otakmu encer, dan kuharap itu belum terlalu aus dan tumpul."
Baekhyun menyadari sesuatu; suatu saat nanti ketika mereka sudah dekat, Chanyeol akan menjadi sangat menyebalkan.
"Ya."
Seorang pelayan pria datang mendorong satu troli penuh berisi buku-buku tebal mengerikan mendekat kepada mereka. Chanyeol mengerlingnya. "Kau akan mempelajari itu, setelah sebulan dua bulan kau akan masuk universitas dengan surat rekomendasiku."
Baekhyun terkejut bukan main, ia ingin memprotes dan bertanya mengapa ia harus melakukannya, tapi ia telah diingatkan untuk tidak bertanya macam-macam. Dan tampaknya, Chanyeol mengerti itu.
"Jika kau bisa memilih pertanyaanmu, kau boleh bertanya sesukamu."
"Kau seorang dokter bedah?"
"Aku sedang menyelesaikan studi spesialisku. Aku masuk sekolah kedokteran saat aku empat belas."
Baekhyun tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Chanyeol menyeringai tipis.
"Tentu tidak di sini." Katanya. "Aku yakin kau bisa melakukannya, kau harus bisa melakukannya, jika kau merasa sulit, ingat kenapa kau ada di sini."
Baekhyun hanya mengangguk pelan.
Pada bulan-bulan pertama ia tak banyak berinteraksi dengan Sehun atau Chanyeol, tutor yang ia dapatkan membantainya habis-habisan dengan segala materi sulit yang membuat kepalanya berasap. Tapi Baekhyun tidak mengeluh, ini jauh lebih baik dari semua yang telah ia tinggalkan. Pertanyaan masih menjejalinya, tapi ia mulai terbiasa, ia mulai menerima bahwa ia akan mengerti suatu saat nanti.
Kadang Chanyeol mengawasinya, atau Sehun, dan bahkan, pernah suatu kali Sehun membawakan secangkir cokelat panas di tengah malam saat ia berkutat dengan diktat kedokteran. Kebaikannya sangat tiba-tiba, muncul tak terduga di antara pandangan dinginnya.
Baekhyun ingat, hari itu adalah tepat tiga bulan ia masuk ke rumah itu. Malam hari, saat seharusnya ia kembali berkutat dengan tumpukan buku yang makin menggila sejak ia resmi masuk ke sekolah kedokteran, Chanyeol membawanya pergi ke suatu tempat. Baekhyun tak tahu di mana daerah itu tepatnya, tapi ia cukup paham bahwa ia di bawa ke pinggiran kota tempat para penduduk di bawah garis ekonomi hidup.
Kawasannya sepi, remang dan kumuh.
Saat itulah Baekhyun tahu apa alasan sebenarnya ia masuk ke rumah itu. Ia bertemu dengan seorang pria tinggi berdarah Asia-Amerika, memiliki tatapan dingin dan menusuk, tapi cukup ramah dengan sapaan kecilnya. Chanyeol mengenalkannya sebagai Kris, atau Wu Fan.
"Malam ini kau hanya melihat."
Dan Baekhyun memang hanya ingin melihat. Ia mengetahui dengan pasti siapa Chanyeol dan Kris, atau mungkin juga Sehun. Tentang pekerjaan kotor yang mereka lakukan di balik cahaya terang yang mereka jalani di dunia atas, tentang Chanyeol yang merupakan putra salah seorang mafia berpengaruh; Tuan Besar Park yang hanya ia lihat saat makan malam di hari ulang tahunnya sebulan lalu.
Baekhyun melihat bagaimana mereka bekerja, semua kekejaman yang mereka lakukan dengan tangan ringan. Pekerjaan Chanyeol sebagai dokter yang menghargai nyawa manusia seolah menjadi alter ego, tapi dia tahu Chanyeol jujur pada dirinya sendiri di manapun kakinya menapak.
Ia tak bisa tidur sepanjang sisa malam, dan Chanyeol menemaninya di kamar sampai fajar.
"Kau terguncang?"
Baekhyun diam.
"Kau keberatan?"
"Tidak."
Jawaban itulah yang ia pikirkan sepanjang malam. Ia baru saja berpikir hidupnya akan kembali seperti dulu, ia akan berjalan di bawah cahaya tanpa rasa khawatir, kemudian harapannya dihantam kenyataan untuk kedua kali. Seharusnya ia tak kembali membangun angan; dirinya sudah rusak dan kotor, dan bukankah memang dunia gelap sudah pernah menjadi rumahnya?
"Minggu depan kau mulai bekerja bersamaku, pintar-pintarlah membagi waktu."
"Ya."
Chanyeol bangkit, mengusap rambutnya dengan lembut yang membuat perasaannya campur aduk sebelum melangkah pergi.
"Kau tidak diizinkan membicarakan ini dengan Sehun."
Ah, ini akan jadi merepotkan…
Lalu semuanya berjalan perlahan. Baekhyun terbagi menjadi dua, dirinya yang menapak di bawah cahaya dengan senyum manis dan dirinya yang menyelinap ke dalam kegelapan. Baekhyun mulai mengenal pisau, obat bius dan revolver sebaik ia mengenal peralatan kedokteran yang ia pelajari. Baekhyun mendapati hal-hal yang ia terima sungguh memualkan, tapi ia cepat belajar untuk menerimanya.
Seharusnya ini terasa mengerikan, tapi ia merasakan dirinya aman, dan lebih hidup, ironisnya.
Tatapan Chanyeol berubah, dan ia mendapati dirinya senang dengan hal itu. Mereka mulai menjalin kedekatan setelah Chanyeol kelepasan menciumnya di salah satu malam setelah mereka menyelesaikan sebuah pekerjaan. Baekhyun mendapatkan alasannya yang lain untuk menerima semua hal yang ia jalani kini.
Banyak hal masih menjejali kepalanya sebagai pertanyaan, tapi ia yakin suatu saat ia akan mulai mengerti. Dan ia mendapatkan jawaban dari pertanyaan terbesarnya setelah enam bulan berjalan.
"Chanyeol-ah, di mana Sehun?"
Chanyeol yang sudah mendahului makan malam hanya mengedikkan bahu, tampaknya dia sangat lapar dan kelelahan setelah shift panjang di rumah sakit.
"Dia di ruang kerjanya. Panggil dia kalau kau mau, mungkin dia akan turun jika kau yang kesana."
Baekhyun mengedarkan pandangan dan salah seorang pelayan menatapnya berharap, mungkin dia sudah mencoba dan ditolak. "Oke."
Baekhyun naik ke lantai atas dan berjalan ke sayap barat, ia mengetuk pintu ruang kerja Sehun dan masuk setelah Sehun mengizinkannya.
"Kami menunggumu untuk makan malam; kenapa tidak juga turun?" Baekhyun tak menutupi nada kesalnya, karena bagaimanapun, ia diminta untuk tidak bersikap kaku. Itu adalah permintaan Chanyeol, segera setelah mereka dekat. Dan ia mendapati hal itu menyenangkan; ia seperti mendapat keluarga.
Sehun terkekeh kecil, senyum kecilnya saat itu sedikit membuat Baekhyun terkejut. Baekhyun mendekat ke meja kerja, melongok apa yang tengah Sehun kerjakan. Baekhyun mengernyit ketika mendapati Sehun tengah menulis sesuatu seperti catatan harian di buku agenda bersampul perak.
"Apa kau suka menulis catatan harian seperti itu? Bahkan aku sudah berhenti menulis hal-hal macam itu sejak aku lima belas."
Sehun tersenyum, menutup bukunya dan bangkit.
"Ada yang perlu membacanya."
Baekhyun hanya makin mengerutkan dahi.
Mereka beriringan menuju meja makan, dan di sana Chanyeol tampak sudah puas dengan makan malamnya, tengah tidur di meja dengan tubuh lunglai.
"Tuan Sehun, seharusnya aku meminta Nona Baek untuk memanggil sejak awal." Kepala Pelayan Seo, atau Paman Seo sejak seminggu lalu, berkata dengan senyum jenaka lembut. Sehun tertawa.
"Kurasa kau benar, Paman. Dia pasti akan merecokiku kalau aku tidak segera turun." Sehun mengusak rambutnya sekilas sebelum duduk di kursinya, berterimakasih pada pelayan yang menyajikan makan malamnya.
Baekhyun terpaku di ujung tangga, menyadari ia mendapatkan jawaban atas salah satu pertanyaan terbesarnya.
"Nona Baek, sepertinya Nona harus bertanggung jawab untuk menemani Tuan Sehun makan malam?" Paman Seo menatapnya dengan tatapan penuh arti, dan Sehun tampak sejenak berhenti dengan makan malamnya.
"Aku seperti mendengar sindiran kepadaku, Paman Seo?" Chanyeol menggumam tak jelas.
Baekhyun segera tersenyum manis. "Ah … tentu!"
Setelah itu, ia mulai bisa menanyakan semua pertanyaan yang ada di kepalanya, satu demi satu, sampai semua pertanyaannya habis dan mendapatkan jawaban.
.
.
.
"Baekhyunna…"
Baekhyun tersentak, ia nyaris mengira Luhan yang tengah memanggil namanya. Ia mendesah lega ketika ia mendapati yang tengah menatapnya bingung adalah Tsali.
"Ada apa denganmu? Kau terlihat sangat tertekan." Kata Tsali.
Baekhyun masam. "Kau tahu, itu terdengar sangat menjengkelkan."
Tsali pasang senyum pasrah. "Sudah siap. Dan kau tau aku butuh kau."
Baekhyun hanya mengangguk, ia mengikuti langkah Tsali menuju basement. Dan tepat seperti perkiraannya, Kris ada di pintu basement dengan sebatang rokok, atau lebih jika melihat puntung rokok yang berserakan di bawah kakinya. Baekhyun menatapnya mencela tapi Kris tak ambil pusing.
"Keberatan, Bee?"
"Aku keberatan pun kau tak akan peduli."
Kris menyeringai sebagai jawaban.
Baekhyun sampai di basement, mengedarkan pandang ke ruang remang berbau pengap itu. Ini akan sangat sempurna, desahnya frustasi. Ia mendekat ke kotak kaca sebesar satu meter persegi berisi cairan kehijauan yang beraroma pekat. Baekhyun melongokkan kepalanya untuk mencium aroma cairan itu kemudian menoleh kepada Tsali.
"Kau sudah menyiapkannya seperti yang aku katakan padamu?"
Tsali mengangguk, dan sabuk kulit yang tengah ia rapikan membuat Baekhyun merasa ruangan menjadi sedikit lebih dingin. "Aku menurunkan kadarnya ke limapuluh persen seperti maumu; sangat cukup untuk mengacaukan ingatan, tapi masih di batas kau bisa menyembuhkannya seperti sedia kala. Ah, itupun jika kau bekerja dengan benar setelahnya, Baekhyunna."
Baekhyun mendengus. "Jika aku tidak berhasil nanti aku pasti akan bunuh diri. Dan Tsali, berhenti memanggilku seperti itu!" katanya sembari melempar tatapan tajam.
Tsali tersenyum tipis. "Hanya pengingat agar kau berhati-hati saja."
Baekhyun memalingkan wajah. "Aku tak akan gagal dan mengacaukan semuanya."
Tsali lalu memberi kode tanpa suara pada Kris, pria itu mengangguk lalu menghilang di balik pintu. Gadis kaukasia itu melemparkan masker hitam pada Baekhyun yang langsung dipakainya. Tsali melakukan hal yang sama.
"Kau akan melakukannya dengan rambut merahmu itu?" tanya Tsali sangsi.
"Ini akan mudah diingat, dan aku akan segera menggantinya setelah ini selesai. Kau tenang saja, aku yang akan memastikan semuanya berhasil."
"Kalau begitu aku juga harus mengganti warna rambutku nanti, dan Chanyeol, di mana dia?"
"Dia akan menangis darah jika melihat ini semua."
"Bukankah kau juga sama?" Tsali melempar pertanyaan retoris.
Baekhyun mendengus untuk kesekian kali, tapi dia mulai gemetar. "Dan kau tahu bahwa perempuan adalah makhluk terbaik soal bermain peran."
"Terdengar menyakitkan, tapi benar sekali."
Kris datang dengan Shia di gendongannya. Gadis kecil itu tampak berkali lipat lebih pucat dengan bawah mata sedikit menggelap, tubuhnya kurus dan memprihatinkan. Efek obat bius tak membiarkannya terjaga dengan benar dan selama ini ia tak mendapat nutrisi selain dari selang infuse yang menusuk punggung tangannya.
"Dia akan segera sadar."
Baekhyun mengangguk, mengamati pergerakan pupil mata di bawah kelopak tipis itu. Ia membiarkan Tsali mendudukkan Shia di kursi pendek di atas lantai kayu buatan yang lebih tinggi di belakang kotak kaca itu. Lalu mengikatnya dengan sabuk kulit lembut yang kuat. Jemarinya mulai tremor, suhu udara terasa jatuh belasan derajat dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia melakukan hal yang sama, ia merasa sangat takut.
Baekhyun takut akan ada yang meleset dari perhitungannya, akan ada sesuatu yang salah yang membuatnya tak bisa menyelesaikan ini di kemudian hari. Ia benar-benar butuh Chanyeol tapi pria menyebalkan satu itu malah kabur dan bersembunyi di balik jadwal shift; tapi ia tak bisa menyalahkan.
Ruangan itu hening, mereka menunggu sampai gadis kecil malang itu terbangun dari pengaruh obat bius. Lalu suara lenguhan samar membuat mereka menegakkan punggung; Shia mulai mengerjapkan matanya dengan lemah, matanya mulai terbuka.
Mereka membiarkannya selama beberapa saat, untuk membuatnya mulai menyadari di mana ia berada.
Baekhyun menatap Tsali dan gadis itu mengangguk. Dia pergi ke belakang kursi itu, mendongakkan wajah kecil Shia ke atas dengan cara mengangkat dagunya. Baekhyun mendekat, memastikan ia ada pada jarak pandang yang jelas. Mata sayu itu berusaha menatapnya.
"Shia, kenapa Shia baru bangun?"
Shia melenguh kecil, tatapannya tak fokus, terlihat sangat rapuh dan rentan. Baekhyun mengepalkan tangan.
"Shia?"
"Ma … ma..." Suara kecil itu terdengar serak dan kasar.
Baekhyun merasa dadanya mencelos menyakitkan.
"Tidak ada Mama, Shia anak nakal jadi tidak ada Mama. Mama pergi." Tapi ia tetap bisa menggunakan nada yang harus ia gunakan.
Kesadaran gadis kecil itu meningkat, tapi tak sampai sepenuhnya karena terlalu banyak obat bius yang ia dapatkan di tubuh lemahnya tidak mengizinkan hal itu. Mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca.
"T-tidak … nakal. Shia… tidak nakal." Gadis kecil itu tampak berusaha keras berbicara di tengah kesadarannya yang hanya setengah.
"Shia anak nakal. Tidak ada Mama."
"Ti.. dak… Mama…"
Baekhyun menegakkan tubuh dan Tsali mengaitkan kursi pendek itu dengan rantai yang menggantung di atasnya. Baekhyun memejamkan mata erat-erat saat mendengar suara gejolak air dan suara tercekik yang memilukan.
Shia ditenggelamkan ke kotak kaca itu selama beberapa detik, membiarkannya merasakan dinginnya air dan aroma pekat menyengat, yang menyadarkannya juga membuatnya kehilangan kendali. Baekhyun mendekat saat Shia diangkat, gadis kecil itu terbatuk hebat dan terengah-engah. Matanya memerah.
"Shia anak nakal. Shia tidak menuruti apa kata ayah, jadi Mama meninggalkan Shia di sini."
"Tidak!" Shia memekik lemah, matanya terbuka tertutup, Baekhyun bisa melihat gadis malang ini berusaha keras untuk membuka mata. Kepalanya menggeleng lemah.
"Mama tidak—"
Kalimat itu tak terselesaikan, Tsali kembali menenggelamkan Shia ke dalam kotak kaca. Shia memberontak, tampak ingin menggapai sesuatu yang tak mungkin ada. Baekhyun gemetar hebat tapi ia tetap mengusahakan suaranya tetap stabil.
Shia diangkat dan dia terlihat lebih menyedihkan. Bibirnya mulai menggigil.
"Jika Shia menuruti kata ayah, Mama tidak akan meninggalkan Shia di sini. Shia tidak akan disakiti, jika Shia menuruti kata ayah."
Gadis kecil itu mencoba berteriak lemah. Dia mulai menangis terisak.
Baekhyun merasakan matanya ikut pedih, tapi ia sudah tidak punya kesempatan untuk berhenti. Sedikit lagi, sebentar lagi… Batinnya teriris.
Baekhyun memastikan Shia bisa melihatnya dari dalam kotak kaca yang cairannya mulai tumpah itu. Baekhyun memastikan bayangan ini akan terpatri kuat dengan menatapnya lekat.
"Ayah tidak akan membuat Shia disakiti seperti ini jika Shia menuruti kata ayah. Jika Shia menuruti kata ayah, ayah tidak akan menyakiti Shia seperti ini."
Baekhyun mencengkeram erat dagu kecil itu, memastikan ada bekas yang nanti akan tertinggal di sana. Mendekat dan membisikkan kata-kata yang akan mengacaukan pikirannya. "Apakah ayah jahat, jika begitu? Apakah ayah jahat?"
"Ja… hat… Jahat…" Shia merapalnya lemah. Suaranya serak karena terlalu banyak air yang masuk ke mulutnya.
"Sekali lagi." Bisik Baekhyun, matanya benar-benar pedih dan wajahnya sudah basah air mata.
Shia kembali ditenggelamkan, suara teriakan teredam gejolak air dan Baekhyun yakin itu akan menghantui malam-malamnya. Baekhyun sama sekali tak bisa memalingkan wajah, ia membiarkan matanya menangkap memori mengerikan itu. Bagaimana Shia ditenggelamkan, berteriak serak dan berusaha mencari pertolongan. Untuk pertama kali, hal itu terasa sangat menyakitkan dan mengerikan.
Semua itu selesai dengan Shia yang nyaris kehilangan kesadaran, tapi masih memiliki sedikit sisa untuk menangkap bayangan orang-orang yang mengelilinginya dan juga suara-suara yang dibisikkan ke telinganya.
Gadis kecil malang itu dibiarkan kedinginan dengan satu lembar selimut untuk beberapa saat. Baekhyun mendekatinya, membisikkan kata-kata dengan lembut.
"Jika Shia tidak nakal, maka ayah tidak akan menyakiti Shia. Jika Shia tidak nakal, maka ayah tidak akan menjauhkan Mama. Apakah ayah jahat?"
Kata jahat diucapkan berkali-kali, membuat Shia terisak kecil dan menggigil hebat. Matanya menyorot ketakutan dan terror.
"Ayah… jahat."
Kalimat kecil itu yang Shia ucapkan sebelum jatuh pingsan. Baekhyun melepas maskernya dan segera memeluk Shia sangat erat, membisikan kalimat permintaan maaf dengan nada tertahan.
"Maafkan aku, Sayang… Setelah ini kamu akan bahagia."
.
.
.
Chanyeol duduk di salah satu ruangan dengan beberapa layar monitor menampilkan rekaman CCTV. Matanya terpaku pada salah satu monitor, di mana ia melihat Shia tidur tak tenang. Mungkin tidak sedekat itu, tapi ia seakan bisa melihat kerutan dahi dan raut ketakutan di paras manis yang kini tambah memucat itu.
Chanyeol mendesah berat. Tubuhnya masih sangat pegal setelah shift panjang juga rangkaian operasi yang ia jalankan selama dua puluh jam terakhir, seharusnya ia tidur, tapi ia sudah berjanji pada Baekhyun untuk kemari. Dan lagi, ia merasa tidak bisa lari lagi setelah kemarin ia kabur; tak ingin melihat bagaimana gadis sekecil Shia ditenggelamkan ke dalam cairan obat.
Raut wajah kekasihnya sangat murung dan menyedihkan, sepanjang hari dia begitu muram dan mendung. Dan ia tak bisa berkata apa-apa.
Ia berjanji dalam hati, setelah semua ini selesai ia akan berhenti sejenak, mungkin berlibur ke suatu tempat untuk meringankan beban—yang mana ia tahu tak akan hilang seumur hidup.
Pintu ruang terbuka kasar dan ia menemukan Baekhyun masuk dengan wajah datar. Sedikit banyak ia tersenyum ketika mendapati bukan warna merah mencolok mata yang ia lihat, tapi cokelat gelap di rambut yang sudah pendek sebahu itu.
"Kau manis dengan rambut barumu."
Baekhyun tak menjawab, langsung duduk di pangkuannya dan menatap layar monitor dengan mata sedikit basah.
"Dia akan bahagia kan?"
"Ya." Jawabnya pelan sembari mencium puncak kepala Baekhyun, yang kini memeluknya dan menyembunyikan wajah di perpotongan bahu dan leher.
"Seungho akan datang sebentar lagi, jadi kurasa lebih baik kau memasang earphone dan mengawasi, Sayang."
Baekhyun mengangguk, lalu duduk di kursi sebelah sembari memasang earphone. Suara mobil terdengar makin dekat, kemudian digantikan langkah kaki yang cukup terburu, suara kunci pintu terbuka dan langkah kaki yang makin terburu.
Kris masuk ke kamar di mana Shia berusaha lelap, bersama Tsali yang telah mengganti warna rambutnya menjadi merah menyala dan Seungho yang sama sekali tak menyembunyikan seringai. Sudut bibirnya berkedut melihat tatapan jengkel yang Tsali berikan pada Seungho saat pria itu datang, tapi tak lebih.
"Dia tidur?" Seungho bertanya, dan Kris membiarkan Tsali yang membuka mulut.
"Akan bangun sebentar lagi, mungkin."
"Mungkin?"
"Jika kau bertanya apa dia dibius atau tidak; tidak. Bius terakhirnya adalah kemarin lusa. Raut wajahmu seolah mencela; kau pikir sudah berapa minggu dia dibius? Bukankah kau yang tidak menginginkan dia cacat?" Tsali berkata tanpa menutupi nada kebencian. Seungho hanya menatapnya tajam sejenak kemudian beralih kembali ke Shia.
"Apakah mulutnya memang tidak sopan? Kemarin dia hanya diam." Gumamnya.
"Kesopanan tidak kami butuhkan."
Kris tersenyum mendengar jawaban Tsali.
"Jadi kapan kau akan mengambilnya?" Kris bertanya, memasang telinga dan mengamati baik-baik perubahan wajah Seungho, yang kini menjadi campuran antara tidak sabar namun juga menahan diri, puas dan menang; tak ada setitik kesedihan atau perih di matanya.
Pria ini benar-benar bajingan.
"Sebentar lagi, aku sudah mendapatkan Luhan di tanganku dan aku tak mau terburu-buru." Tapi sangat kentara jika dia tak sabar. Seungho merangsek maju, meraih Shia yang tampak sangat gelisah dalam tidurnya.
Seungho menggendongnya sayang, tapi entah mengapa tak ada sesuatu yang seharusnya ada ketika seorang ayah memeluk anaknya. Senyum tipis itu memang terlihat lembut, tapi bagi Kris yang telah mengenal Seungho, dia tahu itu hanya kamuflase.
Seungho menatap Shia dalam gendongannya, matanya seolah berkata bahwa sebentar lagi semua yang ia inginkan akan benar-benar ada dalam genggamannya. Luhan sudah menyerah, dan setelah Shia berada di pelukan wanita itu, mereka berdua akan menjadi miliknya. Sesuatu yang sudah seharusnya menjadi miliknya, sebentar lagi ia akan kembali memilikinya.
Seungho masih dalam angan, sampai ia mendengar lenguhan kecil dari anak perempuannya. Shia mengerjap samar, matanya bergerak-gerak akan terbuka. Seungho tak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja Shia menjerit sangat keras. Tubuhnya menegang dan nyaris meluncur jatuh.
Ia panik seketika. "Shia?! Shia?! Ada apa denganmu, Sayang? Tenanglah, kau bersama ayah sekarang." Ia berkata refleks.
Dan jeritan itu makin keras. "Jahat… Ayah jahat…" Seungho membeku mendengar raungan serak itu. Ia menatap tak percaya pada Shia yang kini memberontak lemah dengan isak tangis, sorot matanya yang masih lemah memancarkan ketakutan.
"Apa yang terjadi?!"
Itu bersamaan dengan teriakan tertahan Baekhyun yang serasa mendengingkan telinga.
"Jauhkan brengsek itu dari Shia! Sudah cukup!"
Tsali segera mengambil Shia dari pelukan Seungho, memeluknya erat sembari membisikkan kata-kata yang seharusnya kata penenang, tapi Shia malah makin menjerit ketakutan, karena apa yang ia bisikkan memang tidak ditujukan untuk menenangkan. Ayahmu datang, Shia… Ayah akan menyakiti Shia karena Shia anak nakal… Apakah ayah jahat, Shia? Apakah ayah jahat?
Seungho menatap semua itu dengan sorot mata tajam dan gusar. "Apa yang terjadi?!" Tuntutnya pada Kris. Kris hanya menatapnya tak begitu peduli.
"Bukankah aku pernah memberitahu semua resiko yang kau miliki?"
Seungho memerah murka, nyaris mencekik kerah lehernya. "Kenapa Shia ketakutan melihatku?"
"Alam bawah sadarnya, brengsek!" Tsali yang masih memeluk Shia yang berontak menjawab sinis. "Gadis kecil ini membencimu sampai ke dalam dan semua yang dipendamnya muncul ke permukaan setelah semua trauma yang ia terima. Pikirmu biusan jangka panjang tak beresiko?" —dan sedikit hal yang dikacaukan oleh Baekhyun, tentu saja. Lanjutnya dalam hati.
Seungho mencengkeram kepalanya. "Ini akan kacau… Ini akan kacau… Kau sengaja melakukan ini?!"
Kris hanya menatap dingin. "Aku hanya melakukan apa yang diminta padaku." Dan Kris sama sekali tidak berbohong.
Seungho menatap Shia yang mulai tenang setelah satu suntikan mengenai tubuhnya. Melihat raut wajah itu membuatnya makin frustasi, semua akan kacau jika Shia berakhir ketakutan saat melihatnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi, tidak setelah ia nyaris menggenggam apa yang ia inginkan.
"Apa … Shia bisa kembali … normal? Maksudku—" Seungho menatap tak fokus.
"Terapi akan membantunya." Kris menjawab cepat.
Dan kau tak perlu repot-repot untuk itu, Brengsek.
Kris dan Tsali tersenyum miring mendengar desisan dari earphone mereka; pasti di ruang itu Baekhyun nyaris gila ingin membunuh Seungho sementara Chanyeol tersenyum seperti idiot.
"Dua hari lagi, pukul empat petang."
Dan begitu kalimat yang sangat ia tunggu datang; Baekhyun langsung melepas earphone-nya. Menekan panel speed-dial pada ponsel pintarnya dan mengetukkan jari tak sabar saat mendengar nada monoton.
Begitu panggilan itu tersambung Baekhyun tak repot-repot menunggu penerima panggilan menyapanya.
"Yeobose—"
"Dua hari lagi, pukul empat petang."
"Ah… Aku tak percaya, kau menghubungiku hanya untuk mengatakan itu." Baekhyun menggeram kecil. "Oh oh… Baiklah, akhirnya aku bisa menyelesaikan kasus ini. Dan sebaiknya kau menjauh dari tempat itu, Bee."
Baekhyun memutar bola mata mendengar candaan kering itu.
"Jangan mengacaukannya sedikit pun, Detektif Kim." Baekhyun berkata penuh peringatan.
"Kau tahu aku tak pernah. Ah ya, katakan pada Chanyeol aku ingin bertemu malam ini kalau begitu."
.
Tbc
.
Yha pokoknya, seperti ini lah chapter 11. Sepertinya Baekhyun's Side Story yah, HunHan disimpan untuk chapter depan ya…
Harusnya publish twoshot, tapi Chi bilang buat besok lagi jadi akhirnya bertekad update VVL di tanggal ini dan kesampaian! :" *sobs
Dan aduh, sudah 2019 tapi ini belum selesai. Makin molor dah astaga. Tapi, terimakasih buat kalian yang masih membaca dan me-review cerita ini, jujur saya sempet kagok, semisal udah nggak ada yang baca mungkin saya akan lanjutkan ini untuk file pribadi saja. Eh, yha, kok malah gitu ya. *slapped
Dengan keadaan masih beraroma buku-buku apak (karena bahkan libur tahun baru pun saya gabisa panggang barbeque huhu) saya ucapkan
Happy New Year 2k19! Semoga tahun ini menjadi lebih baik buat kita semua! ^^
.
Anne, 2019-01-01
