Previous Chapter:
Renji membiarkan BANKAI-nya menggulung diri. Dia duduk dan membiarkan Yumichika mengalirkan bantuan reiatsu yang memulihkan kekuatannya perlahan-lahan.
Kira mendekati Ikakku yang mengisyaratkan kepalanya pada Hisagi. Hisagi melirik dengan ekor matanya, lalu berteriak keras. Mengeluarkan suara pada para Shinobi tersisa dengan intonasi yang mampu di dengar bahkan oleh kedua mantan kunoichi ini.
"Oh, maafkan kami. Kami tidak sungguh-sungguh ingin membunuh kok."
Hinata dan Ino sama-sama bisa merasakan keringat dingin menyusuri belakang punggung mereka.
Orang-orang ini...
Hinata menelan ludah tepat tatkala Hisagi melanjutkan kalimatnya lagi yang ternyata belum selesai.
"...Mungkin kalian bisa beritahu kami di mana Kyuubi?"
~~~~4LP~~~
DISCLAIMER: Masashi Kishimoto-1999
Tite Kubo-2001
AUTHOR: Alp Arslan no Namikaze-2011
9th Naruto Shippuden The Movie:
"The Hunting of Soul Reaper"
12th Chapter:
"CERO!"
Normal POV
"Ya Tuhan... apa kita sungguh-sungguh akan mendapatkan Kyuubi di sini, Hisagi? Sepertinya tidak juga?"
Hisagi menoleh pada si empunya suara barusan. Ikakku mengorek kupingnya, berpura-pura tak berdosa. Hisagi kembali berpaling pada sekian Shinobi Konoha yang masih bersiaga penuh. Dia menghembuskan nafasnya malas, mengulangi pertanyaannya.
"Hei, apa kalian tidak bisa menyambut dengan baik? Shinobi? Apa kalian tidak mendengar kalimatku barusan? Kami hanya ingin tahu dimana Kyuubi berada, apa kalian tidak bisa menjawab?"
Hisagi sadar kalau sebagian besar Shinobi yang di depannya ini sudah mulai digerogoti rasa takut, bagaimana tidak. Sebuah meriam beruntun yang dimuntahkan oleh Hihio Zabimaru, BANKAI milik Renji sudah lebih dari cukup untuk 'membersihkan' jalur hingga mengantarkan mereka ke sini.
Dan orang waras manapun yang sudah menjadi saksi mata akan berpikir dua kali untuk menghadapinya.
Hanya Kyuubi yang mereka inginkan, bukan nyawa shinobi Konoha.
Karena tanpa inti dari Rubah Ekor Sembilan itu, Shinigami tidak akan bisa meneruskan sejarah kehidupannya. Tidak akan pernah.
Maka dari itu Hisagi mengulangi kembali perkataannya, memastikan kalau mulut Shinobi Konoha yang tadi memakinya masih bisa bersuara.
"Hoi, kalian dengar? Kami mencari peliharaan kami, namanya Kyuubi." Kira menginterupsi pertanyaan Hisagi, membulatkan kedua tangannya di depan mulut seperti megafon.
"Tidak akan!"
Jawaban tegas itu menarik perhatian Hisagi dan keempat rekannya,
"Kami tidak akan memberitahukan apapun bagi mereka yang tak berkepentingan masuk desa kami, tanpa izin!" Sergah seorang ANBU. "Kalian sudah membunuh sekian orang dari kami, menghancurkan desa, dan sekarang ingin mengambil Kyuubi? Tidak akan pernah kami izinkan!"
Hisagi mengerutkan kening, dia maju selangkah lalu berorasi.
"Membunuh? Menghancurkan? Apa maksud kalian?" Tangannya menunjuk-nunjuk. "Kami sudah datang kesini dengan penuh rasa santun, meminta baik-baik namun malah diacuhkan. Apa bukan kalian yang tak tahu aturan? Mestinya manusia berakal patut untuk menghormati setiap tamu yang datang, bukan malah mengacungkan senjata seperti itu.
Maka jika kami bertindak lebih kasar, bukankah kalian juga yang harus memperhatikan tingkah laku-kalian? Menjijikkan."
Suhu kian memanas.
"K-Kau..."
Seorang ANBU mengerling tajam padanya, tanpa terlihat oleh Hisagi dan keempat rekannya, pepohonan sekitar mereka sudah meledak.
DAAAR!DDDAAAAARRRRRR!
"N-Nani?"
Mau tak mau mereka berlima melompat cepat, menghindari panas kayu yang turut mengejar dengan nyala api merambat. Hisagi menyadari sesuatu yang ganjil saat serangan tidak berlanjut,
Dan sedetik kemudian dia mengetahui apa itu, mereka lengah.
Untaian rantai mengikat mereka semua satu demi satu, pintar. Sudah belajar banyak dari pola gerakan lincah mereka sehingga memaksa Jounin dan ANBU bekerja sama mengurai rantai hingga mengikat gerakan Shinigami. Tak bisa bergerak.
"SEKARANG!"
Sebuah perintah mengayunkan rantai yang mengikat itu ke atas tanah, membanting ke lima shinigami itu hingga menimbulkan suara berdebum. Kumpulan api menghilang lantas karena terhisap debu. 12 orang Ninja melompat, melemparkan 120 kunai peledak tepat ke arah mereka yang terjerembab.
Ikakku yang mendarat paling awal menengadah, terpana sudah melihat hujan peledak yang akan mencabut nyawa mereka dengan segera.
"Tsk! Manusia gila..!
...BAN...KAI...!"
Sekonyong-konyong putaran reiatsu merah pekat mengalir ke atas, berputar bak tornado sewarna merah darah. Ikakku mengerahkan reiatsunya sekuat tenaga sedetik setelah rekan-rekannya jatuh, mementalkan kunai peledak yang baru saja melayang bak menutup mahatari.
"A-AWAS!"
Bahaya, kunai yang siap meledak itu terlempar kembali ke arah luar, formasi ANBU dan Jounin langsung kacau balau menghindari kunai yang berdentum ke luar. Barak pengungsian tak diperdulikan lagi, sudah dirancang pula dengan kekkai pelindung.
Tanpa memperhatikan dua kunoichi yang masih diluar.
Ino menjerit, dia menutupi kepalanya reflek untuk menghindar saat sebuah langkah menapak mantap di depannya. Berputar.
"HAKKEISHOU KAITEN!"
Sejurus berlalu, Ino mengangkat kepalanya. Mendapati putaran taijutsu khas milik Klan Hyuuga ini tepat di depan matanya mementalkan kembali kunai peledak, meluncur bebas menjauhi mereka.
Dan putaran itu berakhir tepat saat kunai terakhir menabrak pohon. Meledak dan menjatuhkan ranting gemuk ke bumi.
"H-Hinata?"
Gadis lavender yang terpanggil tak mengurangi kewaspadaanya kian, kumpulan urat berkumpul sudah di samping pupilnya.
"Jangan lengah Ino." Tukasnya.
"Aku tak tahu apa kewajban ninja medis sekarang, namun aku hanya bisa berharap masih sempat mendengar pesanmu itu."
Dan perkataan itu membuat Ino membelalakkan matanya, rambut biru tua ini berkibar-kibar. Hinata menatap tajam ke depan memperhatikan putaran reiatsu dahsyat di depan mereka.
"Kita tak punya pilihan lain selain bertarung, Ino. Mereka-!"
DUAAAAAASSSSHHH!
Ledakan reiatsu dari putaran itu meledak sekali, lalu berhenti. Menginterupsi seketika kalimat Hinata yang spontan melindungi matanya dari terbangan debu dengan tangan, keramaian hilang. Hinata mengembalikan pandangannya, dan dia luar biasa terkejut.
Tidak, bahkan seluruh ninja yang dengan jelas melihat pemandangan ini merasakan sudah jantungnya terlambat berdetak, sekali.
"...RYUUMON...
... HOUZIKIMARU...!"
Sosok plontos Ikakku kian ekstrim dengan sebuah pisau besar melindungi bahunya melewati kedua sisi bahu, terhubung kedua sisinya dengan sebuah rantai yang berakhir pada dua belah golok dan pedang besar di tangan kanan dan kiri. Ketiga logam tajam ini bahkan lebih besar bahkan dari tubuh Ikakku sendiri. Disampingnya, Renji kembali hadir dengan BANKAI miliknya, ular tengkorak berambut merah yang akan sewaktu-waktu menembakkan meriam merah pekat yang dengan mudah mampu meluluhlantakkan barisan Shinobi Konoha lagi.
Ino menelan ludah, bahkan Hinata juga.
Membayangkan tersentuh oleh pisau besar yang bahkan melebihi ukuran tubuh adalah mimpi terburuk yang pernah lewat di kepala mereka.
Ikakku melemaskan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mematahkannya hingga mengeluarkan suara krek yang membuat bulu kuduk merinding.
"SIAGA! JANGAN BIARKAN MEREKA MELANGKAH LEBIH JAUH DARI INI!"
Ikakku mengangkat alis, melirik malas pada Hisagi. Shinobi Konoha kembali membentuk formasi.
"Ck, menyusahkan. Apa yang harus kita lakukan sekarang, Hisagi?"
Hisagi mengendikkan bahunya,
"Yah, sepertinya kita semua sudah tahu jawabannya." Dia melirik pada Renji.
"Buka jalannya, Renji."
Shinigami berambut merah ini terkekeh tipis, lalu menyeringai
"Serahkan padaku."
Renji menggerakkan zanpakotu-nya hingga bergerak bak cambuk. BANKAI-nya meraung keras saat mementalkan sekian Shinobi yang mencoba menghalangi. Mulut Hihio Zabimaru-nya terbuka, lamat-lamat mengumpulkan setitik energi merah bundar di depannya, Renji meringis
"Hikotsu Tai-!"
.
.
BRRRRRAAAAAAAAAAAAAKKKKK!
Renji menatap murka, kata perintah untuk mengeluarkan meriam khas miliknya ini tak jadi terucap. Dia mendecih,
"N-Nani?"
Suara patah barusan sungguh mengagetkan semuanya. Hihio Zabimaru hancur berserakan, dan pelakunya tak lain...
Hinata menatap sosok ini tak percaya, byakugan-nya memperhatikan betul paras lelaki yang baru saja datang di hadapannya ini. Berdiri di atas katak raksasa yang kini tengah memegang kepala Zabimaru. Hinata terpana...
Naruto? Bukan...
Dan menyadari sesuatu yang salah, Hinata memperhatikannya baik-baik. Sinar matahari menyilaukan pemandangannya, mata lavendernya memicing, lalu menyadari sesuatu.
Orang itu...
"K-Konohamaru...?"
~~~~4LP~~~
TRAAAANGG!
Kakashi menarik nafas lega spontan saat sesercah chakra angin tajam menghalangi gerak pedang hitam yang hampir-hampir smengiris dadanya. Naruto menahan beban gerak pedang Ichigo kuat-kuat, menjaga jarak guna membeli waktu agar gurunya sempat bangun.
Kakashi melompat ke belakang, Naruto menebaskan pedang anginnya sekuat tenaga sekaligus hingga memaksa Ichigo mundur nyaris 4 petak. Naruto mundur,
"Daijoka, Kakashi Sensei?"
Kakashi mendesah malas, punggung dengan jubah merah menyala di depannya berdiri kokoh.
"Ya,seperti yang kau lihat. Paling tidak aku merasa yakin Anko masih bisa bertemu denganku setelah ini."
Wasiat kematian, Naruto mendengus.
"Jangan bicara yang aneh-aneh, guru." Naruto menekankan kata-kata terakhirnya itu guna memancing kerut dahi gurunya. "Biar aku yang urus dia, guru bantulah saja yang disana."
"Sepertinya mereka butuh bantuan."
Kakashi memutar kepalanya, dia menghela nafas,
"Baiklah." Katanya. Kakashi menepuk sesaat bahu Hokagenya ini, lalu melompat pergi.
"Jaga dirimu, Naruto."
Ichigo menatap kesal pada Naruto, tanpa aba-aba dia langsung menyerang kembali. Naruto bersiaga,
Ichigo menebas pedangnya menyamping, memaksa Naruto untuk menaruh pedangnya vertikal di sebelah kanan guna bertahan. Ichigo meringis, bertumpu pada kepalan Naruto yang menahan pedang, Ichigo menarik badannya ke atas melawati pedangnya sendiri. Melayangkan tendangan.
Namun kakinya hanya mampu menembus angin, obyek sasarannya menghilang tepat darinya. Ichigo tak celingukan, ia menarik langsung reiatsu-nya memadat ganas pada pedang lalu menebaskannya ke kiri.
"GETSUGA TENSHOU!"
.
.
BLLAAAAAAARR!
.
.
Ledakan terjadi lagi. Naruto berpindah tepat sudah ke belakang Ichigo, mengujamkan pedangnya segaris lurus kedepan.
TRAAANGG!
Dan Naruto merasakan ganjil yang mengagetkannya. disembunyikan ekspresinya sejurus, tusukannya barusan hanya membentur mata pedang yang –entah sejak kapan- merintangi jalur serangannya. Naruto menguatkan luapan chakra anginnya, mendesak Ichigo untuk mundur selangkah.
Ichigo sempoyongan, Naruto melemparkan sebuah hiraishin kunai. Ichigo menarik kepalanya kesamping menghindar, dan Naruto tersenyum tipis.
Kena kau!
Naruto sunshin ke arah dimana dia melemparkan kunainya itu, badannya berputar tepat di atas kepala Ichigo.
Pedang angin berpindah ke tangan kiri, Naruto mengemposkan chakra angin kuat-kuat di atas telapak kanan lalu menghujamkannya tepat ke arah Ichigo.
"OODAMA RASENGAN!"
Telak, jaminlah.
Putaran angin sebesar tubuh itu menyerbu Ichigo dari balik punggung, menyergap target dengan ganas.
Naruto menggeram murka,targetnya bukanlah tubuh kekar dibalik kimono berdesain jas. Namun reiatsu hitam padat, menyergap tanpa ampun tekanan energi oodama rasengan yang mengganas luar biasa.
"GETSUGA TENSHOU!"
.
.
DDDAAAAAAAAAAARRRRR!
.
.
Naruto mendorong terus putaran energi anginnya, berusaha mendesak Ichigo yang bertahan mati-matian bermodalkan sebuah sabetan penuh tekanan reiatsu. Ichigo menyadari tanah yang dia pijak searea dengan posisi dimana Naruto menyerangnya mulai retak perlahan, benturan energi mereka berdua menghancurkan tanah, memaksanya tercabut keluar wilayah teritorial bertarung. Ichigo menggertakkan gigi, menghentakkan sekaligus tebasannya tepat saat Naruto mendorong habis Rasengan-nya.
.
.
BLLLLAAAAAAAAARRRR!
.
.
Ledakan lagi, mementalkan mereka berdua ke dua arah berlawanan, Naruto memastikan lingkup bertarungnya kini tak lagi terbantu karena hiraisin kunai yang masih tertancap terpental sudah mengikuti terpentalnya retakan tanah.
Tak ada pilihan.
Serangan langsung!
Naruto menapak kakinya keras sekali, melemparkan dirinya sejauh 2 depa. Kembali pada posisi dimana dia beradu tenaga dalam barusan. Mata senninnya menatap tajam pupil coklat di depannya.
Naruto mengetahui sesuatu.
Apa ini?
Naruto sadar ada yang salah. Mereka sudah bertarung sejak tadi, dan entah kenapa dia menyadari ada sesatu yang ganjil. Paling tidak untuk saat ini.
Kenapa dia bisa mengelak dari seranganku begitu mudah?
Naruto mencoba menganalisa kejadian sejak awal, namun tetap tak mendapati sesuatu yang aneh. Dia sudah kembali pada mode Sennin karena Naruto tahu akan sudah cukup meladeni Ichigo hanya dengan mode ini. Kekuatan fisiknya dengan chakra kyuubi yang tergabung dalam mode sennin dapat dengan mudah meruntuhkan sebuah bukit, Naruto paham itu dan tahu kalau dia tidak membutuhkannya.
Namun entah kenapa terhitung dari pertama kali mereka bertarung di atas benteng hingga barusan dua kali dihindari serangannya Naruto merasakan sebuah firasat buruk.
Apa dia bisa mendeteksi?
Naruto memutarkan pedangnya, kembali beradu sekian tebasan dengan Ichigo.
TRRAANNG! TRINGG! TRAAAANNG! TRRRKK!
Tidak, tipe pendeteksi manapun itu bukan masalah. Tak ada yang lebih cepat dari cahayaku!
TRRRRRKKKKKKK!
Naruto bertahan dengan pedang angin, Ichigo menatap balik sang Rokudaime tajam. Lalu berkelakar,
"Sampai kapan kau akan berusaha menganalisaku, Kyuubi?" Naruto tanpa sadar membulatkan kedua matanya. Tanpa menunggu jawaban Ichigo kembali melontarkan komentar.
"Kupikir kau cukup pintar untuk mencari tahu 'kenapa'. Namun ternyata kau tidak seperti yang kuduga."
Kalap sudah Naruto. Meski dia masih mampu menahan diri, namun berdiam diri dalam jarak wajah kurang dari 20 senti sambil mendengarkan hinaan sungguh berbahaya.
Naruto tahu dia bodoh, dan dia teramat benci mendengar ada siapapun yang mengulangi kata-kata itu hingga berujung pada bengkaknya kuping. Naruto mendorong sekuat mungkin Ichigo , mementalkannya ke belakang.
"Huft!" Seru Ichigo. Naruto yang mendarat dengan posisi rendah, memberikan kesempatan pada Ichigo untuk melemaskannya otot lehernya sebentar.
"Marah?"
Naruto sudah berdiri tegak saat balik bertanya.
"Apa itu pertanyaan?"
Ichigo mendecih. Dia menepuk kepalanya, Naruto menghela nafasnya pula. Mereka tak kunjung bergerak.
Naruto berpikir, mencoba menganalisa.
Naruto sungguh yakin ada sesuatu yang terjadi. Namun apa?
Naruto sama sekali tidak bisa memastikan apa itu karena secara fisik dan mental Naruto sungguh siap. Sudah sekian kali ia nyaris mencabut nyawa Shinigami Daiko di depannya ini, namun sungguh sekarang ada sesuatu yang bahkan sungguh membuatnya heran. Sebelum bertarung Naruto sudah menjatuhkan mental mereka sekali hanya dengan tatapan. Sudah jelas!
Dan karena sesuatu yang menurut Naruto tak bisa dilihat itu, Naruto sedikit merasa panas. Terlebih lagi Ichigo barusan langsung bisa membaca situasi perasaannya barusan.
Naruto menarik nafasnya, membuangnya sekali lagi.
Belum sedetik saat dia sudah melontarkan badannya kembali kedepan. Ichigo dengan –entah apa yang- membuatnya lantas turut melejit meladeni pedang angin Naruto dengan zanpakutou-nya.
TRRRRAAAAAAKKKKK!
Sekali lagi Naruto bertahan, pedang hitam pekat di depan hidungnya ini sungguh membuat jengkel. Dalam hati dia menunggingkan senyum.
Hft! mau adu intelektual, Shinigami?
Naruto menaruh telunjuknya di bersilang dengan telunjuk yang mengarah sejajar di atas mata pedang. Ichigo belum bisa menyadari sesuatu apapun saat 3 bunshin sudah muncul mengepungnya dari arah mata angin tersisa lalu menusukkan pedang angin tepat menembus dagingnya.
CRRAAAAASSSHH!
~~~~4LP~~~
Shikamaru, Neji, Kiba POV
"UAKH...!"
"Neji!"
Kiba menyambut Neji yang jatuh terbentur lutut dengan tanah, nyaris berlutut. Darah segar termuntahkan sudah, Shikamaru menggertakkan giginya murka.
"CK!" Kalimat spontan yang keluar dari mulut Kiba seketika, mereka mundur membopong Neji yang terluka sekujur tubuhnya.
"Neji, kau baik saja-Hei!"
Neji mengerang, telapak kakinya masih menapak tanah. Dia masih mampu berdiri, dilepaskannya rangkulan Kiba dari bahunya.
"Hh, a-Aku baik saja, Hh..." tangannya bergerak ke bibir, menarik sekali hingga menghapus jejak darah merah dari pinggirnya.
Sial... Neji menggerutu. Tubuhku...
Neji tahu benar kalau jurus barusan sudah membuatnya cedera bukan main. Kakinya bergetar luar biasa, dia tahu kalau sekarang badannya sudah sampai pada batasnya.
Jurus tadi...
Kurohitsugi-UKH!
Teriakan Ukitake barusan kembali terngiang-ngiang, saat dimana Kyoraku melontarkan BUSHOGAMA, mengadukan putaran angin yang dibalas dengan Gatsuuga seketika setelah Neji memutar balik jurus angin itu dengan Hakkeishou Kaiten. Shikamaru masih sibuk dengan kontrol bayangannya mengejar Ukitake saat tanpa disadari jari Ukitake bergerak tepat ke arah Neji yang baru menyelesaikan jurus pertahanannya.
"Hado no. 90...
...Kurohitsugi!"
Dan nahas, jurus itu benar-benar dirancang bahkan untuk membunuh. Shikamaru dan Kiba yang sibuk dengan urusan masing-masing hanya bisa terpana melihat rekannya terkurung dalam sebuah kotak hitam yang menusukkan sekian tombak tenaga dalam.
Tragis, Neji tak bisa menghindar sama sekali. Jurus tadi benar-benar menyiksanya hingga serasa ke organ paling dalam tubuh meski hanya berupa reiatsu. Neji menahan nyeri sekali lagi, lalu memuntahkan darah.
"Ukh-A-Akh!"
Akamaru mengendus dengan rasa takut. Kiba menggeram, Ingin rasanya memaki lagi.
"He, sepertinya sudah cukup, begitu. Ukitake?" Tukas Kyoraku. Membuat Kiba sontak mengangkat kepalanya. Orang ini tidak akan main-main. Batin Kiba. Dia melirik sekilas pada Neji yang menahan dadanya dengan tangan, sadar kalau untuk sekarang ini dia tak bisa lagi bertarung. Kiba menelan ludah. Ia tak bisa bernafas.
Serangan bertubi-tubi dari mereka berdua sungguh sedari tadi tak bisa membuat Kiba dan Neji mampu bernafas.
"Sokka. Ayo kita habisi sekarang dan bantu Ichigo-Kun."
Si rambut putih menjawab sudah pertanyaan Kyoraku. Kyoraku mengangkat sedikit ujung topi jeraminya.
"Aku mulai duluan,"
Kalimat barusan tadi lebih terdengar sebagai bisikan. Kiba menajamkan kupingnya lagi,
.
.
CRRAAAAAAAAASSHH!
.
.
Sebercak darah yang melompat di udara memancing Neji dan Shikamaru untuk berpaling ke sebuah arah, memaksa mereka untuk melihat suatu pemandangan yang membuat mereka merinding bak mengiris kulit.
Sebuah golok besar menusuk tepat di tengah perut Kiba, Kyoraku mengangkat badan Kiba sebelum mencabut pedangnya kembali. Neji memandang tak percaya.
Sial, bagaimana bisa?
Shikamaru membelalakkan matanya saat menyadari . Sosok Kyoraku tak sepenuhnya berada di atas tanah, namun-
T-Tidak mungkin...!
Itu bayang-
.
.
CRAAAAAASSSHH!
.
.
Sebuah tebasan yang datang menyusul tak sempat memberikan Shikamaru waktu untuk melanjutkan kalimatnya, kali ini Neji yang roboh dengan tebasan melintang di dada. Shikamaru merinding.
Dia-
BUAGH!
Kyoraku melancarkan tendangannya pada Shikamaru, membuat pemuda ini menahan nyeri pada ulu hatinya sebelum memuntahkan sebercak cairan putih. Shikamaru nyaris berlutut tatkala Kyoraku menendangnya lagi tepat di wajah, mementalkannya dua meter sebelum berakhir dengan mendarat secara tidak nyaman di atas tanah.
"UKH! AKH-!"
DAGH!
Shikamaru yang baru saja merasakan kepalanya menyentuh tanah sadar kalau kali ini ada sebuah telapak kaki yang dengan kasar menginjak kepalanya. Belum mampu bernafas saat sebuah kalimat mengusik pendengarannya, membuatnya membelalakkan kedua mata.
"Hadō no. 63...
....Raikōhō!"
Rambatan kilat kekuningan muncul sedetik, melintas di depan mata sewarna onyx yang pias.
BLAAAARR!
~~~~4LP~~~
Sasuke POV
Sasuke membuka-matanya lembat-lambat. Bau hangus masih tercium di hidungnya. Sasuke menggerakkan kakinya, tak ada pijakan.
CIH!
Yamamoto mengangkat tubuhnya ke udara. Sasuke mengerang menahan luka bakar yang hampir meninggalkan bercak di seluruh tubuhnya, pedangnya masih tergenggam di tangan kanan.
Namun apa daya, kekuatannya genggamannya ini dia yakin tak bisa meladeni Yamamoto lebih jauh.
S-Sial...
Yamamoto sadar akan suatu hal. "Masih mau bertarung, eh?"Gertaknya. Sasuke menggeram.
"Cih, pak tua brengsek. Kau pasti takut khan mau membunuhku?"
Ungkapan hinaan yang bagus, Yamamoto melempar sudah badan Sasuke yang lemas ke udara. Membiarkannya mendarat di lutut Yamamoto hingga menimbulkan suara berderak.
"A-AKH-"
.
.
BRAAAAKKK!
.
.
Belum ada sedetik Sasuke mendarat di atas lutut Yamamoto, orang tua ini menendang Sasuke hingga terpental sejauh 5 meter. Sasuke mendarat telungkup, menahan sakit dengan mengambil segenggam tanah. Tiga tulang rusuk yang dirasanya patah semakin menjadi-menjadi. Sasuke merintih.
Akh-Ukh...!
SREK! SET!
Langkah Kaki Yamamoto terdengar lagi. Sasuke sembari menahan nyeri akibat patah tulang sadar akan aliran darah yang muncul perlahan dari pinggir bibirnya.
S-Sial...
Kata-kata Yamamoto seakan terputar ulang.
Flashback ON
Sasuke POV
Orang tua ini berlari cepat, tidak. Mungkin lebih tepat dikatakan terbang dari pada berlari. Pedang apinya berkobar jelas di tangan kanan, dia menebaskan pedangnya padaku.
.
.
TRRRAAAAAKK!
.
.
CIP! CIIP! CIIP!
Kulancarkan chidori shouken, menahan tepat gerak tebasan pedangnya yang serasa bak gempuran bogem. Beban berat ini kutahan sejenak, lalu meringis.
Tangan Susano'o bergerak mengambil Yamamoto. Mengurung dirinya dalam sebuah kepalan lalu mengangkat dirinya ke atas. Shinigami sebelah lengan ini tak lantas berusaha melepaskan diri. Aku mengedipkan mata kiriku sesaat.
Jurus pertama.
AMATERASU!
Gelombang api hitam muncul dari titik atas kepala Yamamoto. Si tua bangka ini tak terlihat lagi wajahnya karena tertutup sudah dengan kobaran api hitam. Susano'o melepaskan jasad Yamamoto yang terbakar Amaterasu. Badannya jatuh dengan suara berderak tipis di atas tanah. Aku tersenyum sombong.
Sedetik usai aku menatap kobaran api hitam yang mulai berlanjut ke atas tanah. Sharingan-ku membaca tiap-tiap pergerakan chakra di sana, memastikan.
Tak ada api yang lebih bisa membakar Amaterasu.
Kesimpulan baik, orang sebodoh apapun akan tahu itu sebagai jawabannya.
Namun ada sebuah alasan yang membuatku masih berdiri di sini, memandang sosok Shinigami yang tengah terbakar api hitam. Dan kalau kau mau tahu alasannya...
Bau kematian.
Selama pertarungan tadi yang bahkan tak terlewati hingga 5 menit sama sekali aku benar-benar merasakannya. Hawa pembunuh yang teramat santer dari dalam dirinya sungguh membuat dalam relung gelap hatiku yang paling dalam merasakannya kembali, dan semakin lama semakin kuat. Bau kematian.
Aku tak menyangka bisa merasakan bau yang terkesan dekat masuk kubur hanya dengan bertarung dengan Shinigami ini. Ck!
Aku memakai Susano'o, namun dia melawanku seakan aku tak menggunakan pelindung apapun. Aku jengah sedari tadi, namun di sisi lain beruntung.
Karena mungkin aku sudah merasakan patah 3 tulang rusuk kalau tidak memakai raga Susano'o.
Beberepa detik selanjutnya, aku mematikan raga Susano'o. Menghilangkan sosok reiki terkuat ini dari tubuhku dengan melangkah berbalik, berjalan. Pertarunganku usai sudah. Kakashi Sensei sepertinya kewalahan di sana, akan segera kubantu.
Dan baru saja akan melompat, sebuah tinju menghantam telak dada kananku dari arah belakang. Melayangkanku setengah meter ke udara selama sedetik sebelum aku sadar akan bercak darah yang lantas keluar membanjir sekepalan tangan dari mulut. Kusempatkan diriku menoleh kebelakang, dan kedua sharingan-ku melotot sudah.
T-TIDAK MUNGKIN!
.
.
.
.
KRREEKKKK...KRRRRAAAAKK!
Suara itu menginterupsi pandanganku, kabur sejenak.
Tulang rusukku-AKH!
Yamamoto kulihat melancarkan tinjunya tepat ke arah tadi. Mataku membulat hebat, dan dengan sangat cepat, tangan kosongnya mengarah tepat ke leherku, mencekiknya.
"A-...Akh..."
Suaraku tercekat luar biasa, tak mampu berbicara hingga sulit bernafas. Sepasang sharingan-ku menatap Yamamoto dengan susah payah. Shinigami tua ini tak berkata apapun. Aku terengah-engah,
WUUF...WUUF...
Susano'o kembali muncul, kali ini aku tak bermain-main lagi. Luka dalam disertai patah tulang di tiga titik sudah membuatku jera.
Jurus kedua...
TOTSUKA NO TSURUGI!
Pedang penyegel itu bangkit, muncul dari tangan ketiga Susano'o. Yamamoto hanya mendelik sedetik sebelum serta merta kutusukkan pedang reiki itu penuh kekuatan pada dadanya menembus punggung. Kurasakan perlahan dengan sharingan-ku betapa chakra sosok tua ini perlahan lenyap, lamat-lamat dan-
N-NANI?
"Reiki, huh?"
Kalimat pendek keluar dari bibir yang terhiasi jenggot putih panjang, benar-benar membuatku jantungan setengah mati. Yamamoto terkekeh tipis, aku merinding kaku.
T-Tidak mungkin!
"...Amaterasu, Totsuka no Tsurugi, Tsukuyomi...Hingga Izanagi adalah nama-nama penuh kenangan yang benar-benar telah membuatku serasa kembali ke masa lalu. Tidak salah kau bertarung denganku, Uchiha!"
DDEEEEEGHH!
Dia tahu nama keempat jurusku...
Dia tahu Uchiha?
KENAPA-?
Belum usai sudah pertanyaanku terontar, Yamamoto kembali menginterupsi dengan kalimat yang sungguh membuatku takut. Bau itu kembali hadir, namun kali ini aku tak merasakan sedikitpun aura tantangan dari situ. Aku benar-benar merasa –entah kenapa- akan benar-benar mati.
Bau kematian. Bau itu kentara mengental dengan kalimat pendek berikut,
"...Tentu saja aku tahu..."
Kedua mataku membulat sempurna sudah.
Dia tahu apa yang aku pikirkan!
"...Karena aku hidup sezaman dimana anak sulung pertapa sennin dulu hidup!"
Tangan Yamamoto menjatuhkan diriku melayang, aku tak bisa merasakan apapun lagi. Telingaku hanya menangkap suara berdesir tatkala pedang berapi Yamamoto mengibas badanku, menggoreskan sayatan dalam di kulit disertai panas yang memanggang luar biasa.
"...TAIMATSU..."
Tebasan itu mengobarkan api yang luar biasa kuat. Memanaskan udara hingga bagian terdalam organ tubuhku, aku tercengang.
Badanku terbakar.
FLASHBACK Off
Aku menggenggam tanah dengan kesal. Yamamoto melangkah padaku, tamat sudah.
Aku akan mati di sini.
Sayup-sayup aku mendengarkan sebuah bising yang terkesan seperti benda melayang. Berwarna merah darah pekat luar biasa yang menabrak habis langsung Yamamoto, membuatku mengejang.
~~~~4LP~~~
"RAIKIRI!
Kyoraku menahan laju pedang petir Kakashi dengan Raikoho. Sejurus saja karena dua petir –kuning dan biru- itu langsung tertelan oleh salah satu. Ukitake sadar kalau rekannya dalam masalah, dia turut merangsek maju.
"Hado no. 33
...Sokatsui!"
Bulatan energi padat berwarna biru melesat sudah pada Kakashi yang sedikit lagi akan mencabut nyawa Kyoraku, dan-
BOOF!
"Doton: Doryuheki!"
Dinding tanah muncul dari bunshin yang terpanggil oleh Kakashi. Menghalangi laju Sokatsui telak. Ukitake lengah, sebuah putaran dari arah kanan menyambarnya habis.
"GATSUUGA!"
Tsk! Brengsek!
.
.
BLAAAAAAAAAAAAARRRR!
.
.
Kyoraku menyusul Ukitake melompat mundur, keduanya cedera sempurna sudah. Haori mereka jadi korban dengan hasil sobekan. Kakashi menyempatkan diri mengambil Shikamaru yang terbujur di atas tanah sebelum kembali pada posisinya semula, dan secara tak sengaja kedua matanya membulat.
"K-Kiba? Daijoka?"
"Aku baik saja, Sensei." Serunya. Tangannya ditaruh di atas perut. " Aku tak perduli dengan cederaku sekarang, pokoknya aku tak rela kebagian darah sisa Shinigami ini."
Kakashi masih terkejut, jelas-jelas hampir mandi darah namun dengan santainya merangsek seperti tadi. Dia menghela nafas, di bahunya Shikamaru mengerang. Berontak untuk turun.
"T-Turunkan aku, Sensei..."
Kakashi tak menginterupsi, instingnya mengatakan kalau Shikamaru sama keras kepalanya dengan Kiba paling tidak untuk saat ini. Dia menurunkan Shikamaru dari bahunya, menapakkannya di atas tanah sesaat sebelum mendengar suara,
"J-Jangan tinggalkan aku- UKH!"
Neji bangkit perlahan dari baringnya. Tanahnya banjir darah.
Kiba mendesah,
"Tak ada pilihan lain. Shikamaru, kau tetaplah menjagaku dengan Kagenui. Awasi pergerakan mereka dan jaga Neji baik-baik."
Mendengar kalimat barusan membuat Kakashi mampu merasakan sebutir jagung basah melintasi pipinya.
"Bakaeyaro! Kau ini-"
"-Aku akan mengeluarkan kartu AS."
Dan Kakashi tercengang sudah. Sedetik lantas ia tak mampu berkomentar lagi. Kiba menyadari apa yang terjadi. Dipalingkan sedikit wajahnya pada Kakashi lantas bergumam,
"Sensei, kali ini biarkan kami yang menghabisi mereka. Kami pasti menang."
Kakashi menghilangkan kerutan wajahnya lantas hanya mampu menghela nafas,
"Terserah kalian saja." Gumamnya "Akan ku-support kalian dari sini dengan Mangekyou Sharingan."
Shikamaru kian berkelakar mendengar instruksi dai Kiba, malas.
"Ck, mendokusai. Kalau kau mati Naruto akan marah besar karena tak akan mendapatkan lagi rekan untuk berjudi."
Kiba meringis,
"Payah, kalau aku mati paling-paling Ino akan nangis darah karena kau juga akan mengikutiku masuk kubur bersama mereka."
Gantian Shikamaru yang meringis, namun sedetik kemudian ia nyaris terperangah melihat Neji menepuk bahu Kiba dari balik punggung.
"B-Bodoh...
...Kau ingin melihat Tenten menahan rasa senangnya karena aku masih hidup?
Biarkan aku melangkah sekali lagi."
"Ya Tuhan..." Kiba menepuk kepalanya, "Aku sadar betul kalau dua orang rekanku yang sedang bertarung sekarang adalah orang terjenius antara ke 12 rookie, namun ternyata soal cinta mereka benar-benar bodoh."
Kakashi menutup matanya sejurus, membukanya kemudian.
"Neji."
Kakashi memanggil pendek, memancing yang empunya nama untuk menoleh.
"Tak usah paksakan chakramu yang sekarang untuk Byakkugan. Cukup fokuskan pada serangan, biar aku yang ambil urusan visual."
"Wakarimasta, Sensei..."
Neji menahan senyumnya, membiarkan Kiba dan Akamaru melompat menerjang Kyoraku dan Ukitake yang baru saja melejitkan diri mereka pula.
GUK!
Sebuah gonggongan melengkapi panggilan Kiba, tangannya merogoh sepasang pil, dilemparkannya sebutir pada Akamaru yang lantas menyambut sebelum ditelannya bulat-bulat butir hitam Hyorogan.
"Ikuze! Akamaru!"
Ukitake Selangkah maju di depan Kyoraku, bersiap dengan telapak yang menghadap ke arah Kiba
"Bakudo no. 61...
... Rikujōkōrō!"
6 Pilar reiatsu kuning terang menyergap Kiba yang baru saja menyelesaikan kontraknya. Kyoraku masih merasa di atas angin saat melontarkan mantra
"Hadō no. 88...
... Hiryugekizokushintenraiho!"
Tangan Kyoraku terpenuhi dengan titik pusat reaitsu biru yang memadat, lalu meluncur tepat ke arah Kiba dengan tekanan bak halilintar.
Ledakan lagi.
"Inuzuka Ryuu, JINJU KONBI HENGE: SOTORO!"
Bumi serasa bergetar. Dan di balik ledakan itu, sesosok anjing putih raksasa berkepala dua muncul. Membuat Ukitake yang meluncurkan jurus penyegel barusan membelalakkan matanya lengah,
"I-Itu-"
Dan kalimatnya terinterupsi sudah, sepasang totok yang diikuti dengan 126 pukulan yang menghancurkan 64 titik peredaran tenaga dalam Ukitake dalam tempo kurang dari semenit. Ukitake menahan derita sesaat yang serasa menghancurkan seluruh organ dalamnya itu dengan setitik darah dari mulut.
"Jyuukenhou: HAKKEROKUJUYUNSHOU!"
"Ukitake!"
Kyoraku menyadari maut yang akan dengan sangat mudah menginterupsi jalur nyawa rekannya. Dia baru akan bergerak saat seberkas putaran bak pusaran topan sebesar bukit mengejar dirinya. HANCUR.
.
.
DRRRAAAAAAAAAKKK!
.
.
Bak gempuran bor, Kiba melesakkan dirinya penuh-penuh melewat Kyoraku. Sang kapten divisi 8 bertahan mati-matian dengan kedua goloknya. Namun nahas,
Putaran taijutsu ryuujin khas klan Inuzuka yang dikeluarkan dengan daya maksimum sudah melewati batas beban yang mampu ditahan oleh Shikai milik Kyoraku. Sebelah zanpakutou-nya retak.
Celaka...
Kiba kembali beputar, puncak.
"GAROOGA!"
Kyoraku tak ada pilihan, Ukitake sudah nyaris jatuh. Dia mendecih diantara nafasnya yang bak terancam ajal.
"BAN...KAI..."
Terlambat...
.
.
BRRRAAAAAAAAAKKK!
.
.
Suara tabrakan brutal menghilangkan suasana bertarung. Kyoraku tak bisa lagi berkonsentrasi mengeluarkan BANKAI-nya saat terkunci dengan bayangan lalu digempur penuh stamina fisik setajam taring yang menghajar tepat dirinya. Kyoraku rubuh. Mulutnya melontarkan darah sekali.
S-Sial...
Ukitake mengerang pula, badannya mengikuti arah gravitasi. 128 totokan sudah menghancurkan hampir semua yang ia punya. Neji jelas kelelahan, cedera tubuhnya diseluruh tubuh dengan tebasan yang melintang dada kembali menyiksa. Neji muntah darah sekali, lalu ambruk dengan tangan bertahan di tanah.
"Neji!"
Kiba dan Akamaru mendarat, baru akan membopong Neji tatkala tiba-tiba rasa nyeri akibat luka tusuk yang menusuk dada kembali muncul. Kini keadaan mereka berdua tak jauh beda, sama-sama memuntahkan darah dari mulut dengan ekspresi menahan sakit.
"UKH-OHOK!"
Tangan Kiba yang bergetar menahan jatuh tubuhnya dengan memegang Akamaru. Kakashi terburu-buru mendekati, Kakashi sadar tak bisa berbuat banyak. Namun ia pasti bisa melakukan sesuatu.
"Ck!"
"Bertahanlah, Kiba! Neji!" Shikamaru turut mendampingi. Paling tidak, dia yang punya cedera paling ringan di antara mereka berempat.
"Sensei, ayo kit-"
Sebuah suara.
Shikamaru menoleh mengikuti gerakan Kakashi yang spontan berpaling pada arahnya suara. Ledakan.
Dan ledakan ini tak cukup diwakili dengan ledakan-ledakan yang sudah terjadi sebelumnya. Pertama berlangsung sangat keras, disana-!
NARUTO!
Beberapa hitungan saja sudah berlalu kemudian, pindah ke tempat dimana Shino baru usai menghabisi musuhnya. Merah darah, Pekat menyala.
SHINO!
CRAAAASHH!
Dan tepat pada suara terakhir yang dia dengar, Shikamaru menoleh. Dan sungguh-sungguh itu adalah mimpi buruk.
Telinganya baru bergeser 45 derajat saat tumpahan darah kian menyebar dari 3 orang rekannya barusan. Sosok itu, dengan sepasang tanduk besar diantara wajahnya yang bak iblis berwarna putih bercorak. Rambutnya oranye panjang dengan dada yang berlubang bundar sempurna. Shikamaru sempat melihat Akamaru yang melompat marah padanya sebelum sosok itu menebaskan pedang hitamnyalagi. Menjatuhkan Akamaru yang lantas menggelepar menyusul 3 Shinobi yang lebih dulu jatuh. Shikamaru berteriak keras,
"SIAAAAAAALLL!"
Diambang maut teman-temannya Shikamaru nekad. Baru akan melancarkan segel kagenui shibari saat dengan mata onyx-nya yang kelam Shikamaru melihat jelas sosok itu tak memperdulikan sedikitpun keberadaannya. Sosok itu menunduk, membiarkan titik merah menyala berkumpul di antara keduanya. Merah darah, pekat menyala.
Dan sebelum Shikamaru menyadari betapa dua ledakan yang terjadi sebelum dia menebaskan pedangnya itu telah membuat jagat pertarungan memanas bak hawa neraka, Shikamaru paham seksama kalau sepasang ledakan yang barusan dia lihat dengan sosok ini sungguh berhubungan, tak salah lagi.
Hingga akhirnya tepat sudah kedua tangannya menyatu membentuk segel, sungguh dia sadari tak ada bayangan sedikitpun yang keluar. Jurusnya tak kian berungsi karena bola merah yang memadat itu lantas tersembur dalam seuntai laser merah darah yang membantai habis mereka semua.
Shikamaru hanya terdiam, tanpa teriakan.
Suara ledakan kemudian, lagi.
~~~~4LP~~~
BOOF!
3 bunshin muncul, mengagetkan Ichigo yang baru mulai menghindar. Perutnya tertusuk tepat menyusul dengan 2 tikaman lain yang mengikuti, chakra angin memanjang dari pedang menembus kulit dan daging. Ichigo tersegel, dia sempoyongan.
"UKH! U-UAKH!"
Tertikam pisau angin di tiga posisi berlainan sudah cukup untuk menciptakan cedera dalam. Ichigo nyaris rubuh, pegangannya pada pedang sudah goyah. Naruto melompat ke belakang, membiarkan dirinya lengah.
Tinggal sekali lagi...
Naruto tak akan membuang kesempatan ini, habis sudah. Dan dia akan menang.
Ichigo mendongak ke atas.
Naruto mengangkat tangannya. Tiga bunshin lain sudah hilang berganti dengan sepasang bunshin yang berada di kanan kiri Naruto, lalu turut lenyap.
"Fuuton: RASENSHURIKEN!"
Ichigo terperangah, luka di tiga titik yang menembus daging memang tak terlalu parah. Namun chakra angin yang turut memutus sel-sel tubuh dalamnya di sekitar luka tusukan seakan menambah derita. Dia meringis. Putaran chakra angin super padat yang berdisain planet terlempar sempurna ke arahnya.
Tak ada pilihan lain.
Ichigo menarik lagi topeng hollownya, melontarkan staminanya luar biasa jauh hingga sesaat mampu melupakan rasa sakit akibat luka tusuk. Sejurus Naruto menyadari hal sosok Ichigo berubah aneh, shappirenya membulat tatkala mendapati pupil yang dibalik topeng berubah warna.
Matanya-
Dan bahkan belum sempat Naruto mengambil kesimpulan, Ichigo sudah mengumpulkan sekuat mungkin reiatsu hitam pekatnya di mata pedang. Lalu menyambut RasenShuriken dengan sebuah tebasan murka.
"...GETSUGA...-"
Naruto sadar sekarang.
Suaranya-
"...TENSHOU!"
Tidak, bukan tebasan.
Ichigo kini melesatkan pusat energi miliknya pada tebasan hingga melesatkan tekanan reiatsu yang melejit bak tembakan meriam. RasenShuriken meluncur terus sempurna hingga bersalaman dengan padat reiatsu yang membentuk pola bulan sabit.
.
.
GLLAAAAAAAAAAAARRRRRRRRR! DDDDDRRRRRRRRRRRRRTTTTT!
.
.
Suara itu kian berbenturan, berisik dan menyesakkan udara. Kedua pihak merasakan kesal yang sama. Naruto memaki,
"BRENGSEK!"
Naruto melompat, mengambil celah melewati udara sekitar mereka yang terbakar karena suhu kedua jurus mematikan. Ichigo bertahan dari hawa ledakan dengan menaruh lengannya di depan muka, membelakanginya. Naruto bersiap lagi.
Namun sejurus sebelum dia sempat membentuk kembali segel kagebunshin, Sebuah hawa dingin yang sejenak menurunkan suhu oksigen yang dia hirup membuatnya terhenyak. Naruto menyadari ada sesuatu yang datang.
Naruto tak jadi membentuk segel, tanpa menoleh dia langsung melompat ke atas. Naruto melirik jejak angin di bawahnya, beku.
"HORYU SENBI!"
Teriakan sederhana yang mengiringi sayatan melintang, meninggalkan semburat es horizontal di udara, Naruto tercengang.
Orang ini, dia-
Tangan mungil itu berkelebat lagi, kali ini mengayun ke atas. Melanjutkan secarik pola es yang mengikuti udara beku sebelumnya dengan garis vertikal lurus ke atas, mengejar Naruto ke atas.
"ZEKKU!"
Cih!
Naruto tak memikirkan lagi untuk menghindar, dia melirik sejenak ke belakangnya. Ichigo dalam topeng hollow sudah melihatnya, sial.
Mau dua lawan satu?
Akan kulayani!
Es yang memburu menantang Naruto untuk berfikir. Di depannya ada Hitsugaya yang mengambil kesempatan sekali tadi untuk membokong, sementara di belakangya ada Ichigo yang tengah mempersiapkan diri pasca ledakan barusan. Naruto memperhatikan bekas luka yang tercetak di perut dan dada Hitsugaya lekat-lekat, sejurus kemudian dia mengerutkan dahi.
Regenerasi kecepatan tinggi, eh?
Apapun yang sudah terjadi, Naruto tak mau lagi ambil pusing. Memang sengaja dia mengurangi daya putar Oodama Rasengan tatkala tadi karena sungguh ia ingin menguji, namun jawabannya?
Naruto belum dapat menemukannya.
Udara mendingin seiring dengan keberadaan Hitsugaya yang hadir dengan BANKAI miliknya. Naruto mengumpulkan sejurus chakra angin, membalas tekanan es itu dengan sekuat tenaga.
"RASENGAN!"
Pola es yang menyerupai mirip ekor naga itu hancur, Naruto menarik nafas sejenak. Lantas sebuah serangan dari belakang membuatnya sontak berpaling.
.
.
TRRRAAAANNGG!
.
.
Ichigo dengan topeng hollow menutupi wajahnya bertatap muka lagi dengan Naruto. Naruto menahan serangan pedang Ichigo sedetik sebelum menyilangkan kedua telunjuknya.
Kagebunshin no Jutsu!
Jurus bayangan lagi. Tak mau lagi mendapatkan kekalahan akibat sebuah jurus konyol, Ichigo menarik dirinya ke belakang, langsung.
Dia meringis, sepasang bunshin yang muncul terdiam menganggur. Ichigo merasa rencananya akan berhasil. Mata kuningnya melirik ke atas, memperhatikan dengan seksama.
Dan sungguh-sungguh, pemandangan itu membuatnya kecewa. Ichigo mengerem laju mundurnya, lalu benar-benar membulat kedua matanya. Dia tegang.
Celaka...
Dirinya kalut bukan main. Ichigo menelan ludah sekali sebelum berteriak,
"TOSHIRO!"
Namun dengan kejamnya takdir berkata lain, formasi dadakan yang terjalin antara kapten divisi 10 dan shinigami daiko ini belum terpenuhi secara kontak batin. Naruto melakukan perubahan sifat pada jurusnya lagi, lalu melemparkannya.
Ke belakang.
Arah yang sungguh di luar dugaan Ichigo, tidak.
Bahkan berpikir kalau Naruto ingin mengeluarkan RasenShuriken tadi sama sekali tidak. Yang terlintas di otak Ichigo hanyalah bahwa barusan dia sudah tertusuk dengan pedang angin oleh bunshin, dan Ichigo tak mau mengalaminya lagi.
Namun ternyata keputusannya salah.
Hitsugaya tengah melaju ke arah Naruto cepat, berniat membokong. Namun apa daya dalam kecepatan serangan seperti itu Hitsugaya hanya sempat kaget, sekali.
Bahkan tatkala Ichigo menjeritkan namanya ia hanya mampu tersenyum sesaat, ada rasa bangga dan bahagia yang bergelayut di hatinya.
Bangga mempunyai seorang teman.
Bahagia bisa menyusul langsung sang kekasih.
RasenShuriken menggilas tubuhnya dalam putaran angin luar biasa cepat di udara tanpa membiarkannya jatuh ke bumi, memberikannya rasa derita akibat sayatan sekian ratus ribu pisau angin tak terlihat yang melumat habis sel tubuhnya. Hitsugaya menyempatkan dirinya untuk melirik ke atas.
Gadisnya muncul,Hitsugaya sadar betul kalau ia sudah berada di ambang barzakh. Dia tersenyum melihat Soifon berbalik badan padanya, baju kaptennya masih lengkap dengan Haori rapi bertuliskan kanji 2 di belakang punggung. Soifon tersenyum manis seraya menawarkan tangan mungil miliknya pada Hitsugaya yang turut menyambut.
"Okaeri... Toshiro-Kun..."
Tangan itu tak tembus. Kalimat pendek barusan membuat Hitsugaya terkekeh sejenak,
"Itadaima... Soi-Chan..."
Dan tepat saat Soifon menarik penuh jiwa Hitsugaya, putaran RasenShuriken mencapai puncaknya, memaksanya untuk membatin saja dalam hati.
Sayonara...Kurosaki...
Hitsugaya tewas.
"AAAAAARRRRRGGHH!"
Ichigo berteriak luar biasa, dia kalap.
"BRENGSEK! BAJINGAN!"
Ichigo serta merta melontarkan dirinya ke atas, zanpakutou-nya telah kembali terkonsentrasi dengan reiatsu hitam. Naruto di atas, melayang setelah menyelesaikan urusannya dengan kapten, berniat turun. Menyambut Ichigo yang dengan amat bernafsu ingin membantainya.
Tiba-tiba Ichigo tersentak sudah, tanpa sadar dia menoleh.
Dan sekali lagi sebuah pemandangan yang bak sukses menusuk jantungnya sungguh terlihat jelas. Kali ini terbukti kalau pupilnya yang tersembunyi di balik topeng tak bisa lagi di ajak kompromi, kakaknya.
Kakak iparnya tengah dirubung oleh sekian bayangan hitam, terangkat ke udara sedetik sebelum Ichigo benar-benar kehilangan hawa kehadirannya.
Byakuya, tewas.
Belum cukup, seorang lagi-
K-Kenpachi?
Kenapa baru sekarang dia menyadarinya?
T-Toshiro?
Ichigo benar-benar merasa kehilangan sudah akal sehatnya. Pupilnya bergoyang, menggambarkan betapa kalutnya dia sekarang ini.
Rasa bersalah.
Rasa bersalah yang seakan-seakan sudah menyekiknya hidup-hidup.
Rasa bersalah yang mulai melakukan penyiksaan perlahan yang dengan santainya membuat cedera dari titik hati terdalam Ichigo hingga mendobrak kasar akal jiwanya. Ichigo goncang.
Rasa bersalah, benar-benar memukulnya.
Kakak iparnya,rivalnya, dan lebih parah dia sudah membuat sepasang sejoli tak bisa merasakan manisnya kursi pelaminan.
Dan seketika itu pula Ichigo berteriak lantang, membiarkan topeng hollow itu hancur dalam jeritan beserta getsugatenshou yang lantas lenyap.
"AAAAAAAAAAAAAARRRRGGGHHHHH!"
Naruto melihatnya.
Berbeda dengan Ichigo yang hampir setengah gila karena tewasnya rekan-rekannya, Naruto dalam mode sennin dapat merasakan pula betapa sekian kawannya tengah rubuh, tertebas, terdesak. Namun Naruto tak khawatir sedikitpun.
Apa alasan?
Naruto percaya pada teman-temannya. Hidup dan Mati adalah pilihan, lantas mana yang kau pilih?
Naruto yakin kalau yang pertama akan menajdi opsi utama, entah dalam keadaan hilang anggota badan maupun kewarasan, Naruto bertaruh kalau teman-temannya sudah cukup dewasa dalam memilih. Itu saja.
Dulu, dua RasenShuriken dalam mode sennin adalah batasnya.
Dulu, dia harus mempersiapkan bunshin yang duduk diam untuk menjaga kadar chakra sennin-nya.
Dulu, hingga sebelum kejadian di penjara darah, ia sama sekali masih merasa asing dengan kekuatannya sendiri.
Dan Sekarang dia bukanlah Naruto yang dulu lagi. Tak ada batasan lagi untuk dirinya menggunakan RasenShuriken, tak ada larangan untuk mengeluarkan kemampuan sebenarnya dari seorang UzumakiNaruto. Naruto urung mengurangi daya serangnya, dia bersiap dengan sebuah RasenShuriken, lagi.
Dua bunshin yang turut mendukung lantas lenyap. Naruto mengambil ancang-ancang, lalu serta merta melemparkan jurusnya tepat ke arah Ichigo yang masih berdiri membelakanginya.
RasenShuriken merangsek angin, melewati udara panas hingga mendekati tempat Ichigo berpijak sekarang. Naruto tersenyum lagi.
Kena!
Untuk sekarang ini tak ada alasan sama sekali bagi Naruto untuk tidak bisa mengenai Ichigo dengan telak. Emosi lawan yang goncang serta sistem putaran padat RasenShuriken akan membawa maut bagi Ichigo. Naruto yakin itu.
.
.
BLAAAAAAAARRRRR!
RasenShuriken menghajar habis target. Putaran tornado yang mampu menyayat setiap inchi sel ini melesatkan hawa pembunuh yang semakin santer. Naruto memasang matanya lekat-lekat, memastikan objek yang ditujunya benar-benar tewas.
Dan di detik-detik yang benar-benar menjadi penentu pintu masuk akhirat bagi lawannya, Naruto tiba-tiba merinding.
Bulu romanya kentara berdiri, sedetik saja memang. Namun itu sudah cukup untuk membuatnya berpaling.
BUAAAGH!
Dan sebuah benda keras langsung menghajar wajahnya, mematahkan hidungnya. Naruto mengaduh saat sebuah sikut kembali mendarat keras tepat di ulu hatinya, mementalkannya tanpa ampun hingga membentur tebing hingga meremukkannya hingga menjadi serpihan sebelum mendarat sempurna di bagiannya yang tersisa.
"UKH-O-AGH-OHOK!"
Naruto dalam keadaan pasca dihajar sadar kalau dia sudah mendarat dengan posisi terbalik, tak bisa memprotes tubuhnya yang memaksanya memuntahkan cairan putih kental akibat ulu hatinya yang bocor lewat hidung dan mulutnya yang juga berdarah. Naruto mengira-ngira benda apa yang mengantam tulang hidungnya itu dengan sekilas mendongak, melihat sosok dalam bayangan pandangnya yang kabur. Sosok dengan baju hitam sobek disana-sini, berkepala siluman dengan sepasang tanduk di kepalanya dan segenggam pedang.
Naruto mengerang, terbatuk sekali. Pedang itu...
Sial, Naruto sadar kalau gagang pedang berantai itu barusan sudah mematahkan hidungnya, Naruto merasa akan benar-benar tersedak. Nafasnya terkejar oleh detak jantungnya yang kian bertalu-talu enam kali lebih cepat, pedang itu...
TAK MUNGKIN! PEDANG ITU -!
Belum berniat memotong kalimatnya, sosok bertanduk itu tiba-tiba sudah melesat di depannya. Menusukkan pedang hitam.
Sejak kapan-!
CRAAAAKK!
Pedang itu hanya mendapati tanah sebagai sasarannya, Naruto sunshin 6 meter dari sana.
Tsk!
Sadarlah dia siapa yang berada di balik topeng itu, namun...
Naruto menyembunyikan kalutnya. Dia sungguh berbeda.
Selamat dari RasenShuriken seperti Raikage ketiga, lalu dengan mudah menerjangnya hingga menabrak tanah adalah sebuah prestasi yang cukup menantang. Naruto melihat jelas selangkah di belakangIchigo ada sebuah hiraishin kunai tertancap,
Ingin mengalahkan Namikaze Naruto? Tidak semudah itu!
Naruto sunshin lagi, kali ini pindah ke atas Ichigo. Titik buta belakang tengkuk.
"OODAMA RASENGAN!"
.
.
TRAAAAKK!
Dan sungguh-sungguh, Naruto tercengang. Apakah dia melupakan kejadian sebelum ini? Tidak.Naruto dengan bijak memutuskan bahwa musuhnya ini tengah kehilangan kewarasannya karena peristiwa pahit yang baru saja lewat.
Dan ternyata keputusannya salah besar.
"N-Nani?"
Ichigo hanya mengangkat pedangnya kebelakang leher, menebas oodama rasengan lalu memusnahkannya. Putaran angin seukuran tubuh itu lenyap begitu saja. Naruto terpana.
Dan diamnya ia selama sedetik itu merupakan kesalahan kedua yang teramat fatal. Ichigo menarik tangan kirinya yang menganggur ke atas, mengambil lengan Naruto lalu membantingnya dengan keras ke atas tanah.
"UAGH!"
Belum cukup, Ichigo menginjak kuat dada Naruto hingga menyesakkan nafasnya ke dalam. Bodoh, di antara goncangnya jiwa dan nafasnya yang sesak pikirannya malah seakan kosong. Naruto tak merasakan apapun.
"NARUTO-KUN! Nidai Shinka! SEKARANG JUGA!"
Nidai Shinka...?
...Perubahan kedua...?
Teriakan dari dalam innernya membangunkannya sejenak dari alam khayal, Kyuubi memanggilnya. Sang bijuu berusaha berteriak keras pada Jhincuuriki majikannya tatkala sepasang tanduk itu mulai mengumpulkan bulatan reiatsu merah darah, pekat menyala.
Naruto malah seakan tuli, istilah yang tersebut oleh Kyuubi barusan tak dianggap. Dia hanya sanggup mematung.
"-CEPAT BERUBAH! SEKARANG!"
Bulatan penuh energi penghancur itu semakin memadat, lalu membesar hingga mencapai ukuran sebesar kepala manusia. Kyuubi gelisah.
"DIA AKAN MENEMBAKKAN-!"
Dan bola merah darah itu memancar dalam bentuk laser yang memanjang, membabat habis sepanjang pandangannya. Naruto masih tercengang, targetnya. DIA SEORANG.
Naruto mematung, membiarkan dirinya terendam dalam dentuman laser merah pekat yang menyamai letusan puluhan dinamit tertembak dari jarak kurang dari dua meter. Kyuubi membulatkan matanya,
"-CERO!"
.
.
.
.
BLAAAAAAAAAAAAAAARRRRR!
~~~~TBC~~~~
(See u in Next CHAPTER!)
