Akaashi merentangkan tangannya, tersenyum samar,
"..Akulah si Gagak Hitam.."
Tidak, itu pasti bohong.
Ya, pasti Akaashi itu sudah gila!
.
.
'Gagak Hitam'
.
Haikyuu! © Furudate Haruichi
.
Gagak Hitam © MiracleUsagi
.
Rate : T+
.
Genre : Mystery, Crime
.
Warning : Out of Character, missed TYPO(s), Alternate Universe, menggunakan kata dan kalimat yang melenceng dari KBBI, EYD kacau, etc.
.
Penulis tidak mengambil keuntungan materiil dari penulisan fanfiksi ini. Penulis hanya mengambil kebahagiaan semata karena telah menyiksa karakter favoritnya.
.
DLDR/Enjoy!
.
.
.
.
"Kau! Jangan coba-coba menipuku!" Sugawara menunjuk pria berwajah tenang itu dengan geram. "Daichi, jangan percaya pada orang licik ini! Bos tidak mungkin dia! Dia hanya pesuruh, sama sepertiku!" Sugawara seketika bungkam, menyadari perkataannya barusan yang kelewat blak-blakan di depan para Pers.
"Oh? Sepertinya ada yang kelepasan bicara?" Akaashi menyeringai.
Sawamura berdehem, "Konferensi Pers ditutup, kami sudah menjawab pertanyaan kalian, silahkan keluar-"
"Eit," Akaashi menyela lagi, "Sudah kubilang tadi, kau mengatakan hal yang bukan sebenarnya terjadi, pak kepala.."
"Oh begitu? Lantas, kau yang mengetahui semua hal yang benar terjadi, begitu?" Sawamura tidak bermaksud terpancing pada omongan si Black Angel, namun ia tahu ia harus melakukan sesuatu sebelum Akaashi melanjutkan bicaranya di depan banyak Pers.
"Tentu saja." Akaashi melipat kedua tangannya, "Karena aku si Gagak Hitam, Bos Gagak Hitam." Tegasnya sambil tersenyum.
Akaashi berjalan pelan menuju tempat Sawamura. Pers di sekitarnya mendadak memberinya jalan, entahlah. Setelah cukup dekat dengan Sawamura dan tentunya Sugawara, ia berkata dengan suara berat.
"Ya, akulah bos pengganti Gagak Hitam yang kini sekarat karena terlalu lemah."
Akaashi melanjutkan, "Kalian tahu? Aku memboikotnya sesaat sebelum pesan ultimatum dikirimkan peretas kami. Jadi? Jadi, akulah yang mengundang Tobio-kun! Ya! Aku yang di sana kemarin malam!"
Sugawara mulai merasa kepalanya pusing mendengar tuturan Akaashi. Rasa-rasanya kepala Akaashi terbentur atau apa? Dia sudah mulai gila rupanya. Memboikot? Menggantikan bosnya yang lama? Hal tergila yang pernah Suga dengar. Memangnya apa yang terjadi pada bosnya yang selalu di balik tirai itu? Ia lemah, katanya? Ia sekarat, katanya? Lantas bagaimana Akaashi memboikotnya dengan ratusan pejagal yang menjaga di bawah kaki bosnya yang agung itu?
"Oh, ya. Aku melakukannya bersama kembar kebanggaanku. Atsumu dan Osamu." Seperti bisa membaca jalan pikir Sugawara, Akaashi menyahut santai. "Tidak perlu kecewa, Silver. Aku sudah menemukan penggantimu, yang… jaauuuhh kemampuannya dibanding dirimu. Duo kembar itu akan kumasukkan dalam baris depan dan sekaligus kaki tangan bawahanku, resmi. De facto."
Sugawara terkekeh, agak bergetar suaranya. "Oh? Baguslah. Setidaknya kau dapat berhenti menemuiku untuk memohon-mohon supaya aku kembali ke sarang ular itu."
"Bagus, Silver. Keluarkan saja sumpah serapahmu dan kembalilah menjadi dirimu yang dingin serta haus darah korbannya. Atau kau sebenarnya masih ingin bersamaku?"
"Tidak, terima kasih. Hanya orang bodohlah yang sanggup bertahan di ranjau darat semacam komplotan picikmu dan bisa sewaktu-waktu meledak bagai bom waktu."
"Ya, benar sekali. Kami sudah siap meledak."
Sugawara seketika merinding. Wartawan dan seluruh orang yang berkumpul di sana mulai berbisik panik. Ya, mereka semua mendengarnya. Gerung ganas mesin kendaraan melaju kencang, mereka menabrak beberapa petugas di gerbang depan sebelum akhirnya berhenti dan memuntahkan belasan orang berjubah hitam membawa senjata api di tangan.
Tanpa berpikir dua kali, Sawamura memberi komando kepada seluruh kepala pasukan untuk bersiap dan segera mengamankan Pers yang masih tersisa.
"Semuanya ikut aku! Tetap tenang jangan ada yang panik!" Tanaka menginstruksikan wartawan-wartawan yang wajahnya pias itu untuk mengikutinya keluar lewat pintu darurat.
Dua orang yang terakhir turun dari mobil jip hitam segera mendekat ke Akaashi. Mereka melepas masker berbentuk paruh dari wajahnya. Si kembar Miya. Atsumu dan Osamu. Tanaka yang sempat melihatnya tidak tahan lagi. Demi melihat senyum Atsumu yang sungguh menyebalkan, ia menarik pistol colt-nya dan langsung menodongkannya tepat di depan kedua Miya itu.
"Oh, ya? Kau si botak teman si pendek yang sok berani itu, ya? Bagaimana kabar si anak kecil itu? Apa dia menangis di pangkuan ibunya?"
DOR!
"Tanaka! Tenangkan dirimu!"
Anak peluru meluncur cepat menggores bahu kanan Atsumu. Saking cepatnya hingga menggores jubah sampai mengenai kulitnya. Jubah hitam Atsumu ternodai bercak merah darah.
Atsumu bersiul. "Tidak buruk. Maju!" Akaashi dengan santai menahannya.
"Tanaka tenang!" Sugawara demikian. Dengan cepat menarik Tanaka yang berontak. Sangat ingin menembuskan anak peluru ke kepala Atsumu, sepertinya.
"KAU!" Tanaka menunjuk ke arah muka Atsumu yang menyeringai mengejek. "Kau tidak akan mati sebelum aku yang membunuhmu, sialan!"
"Kalau begitu terima kasih. Kurasa aku akan hidup untuk selamanya."
Sugawara telah menarik paksa Tanaka, dibantu Asahi yang pias wajahnya. Sawamura berdiri tegap, matanya nyalang kepada tamu-tamu tak diundang di hadapannya.
"Baiklah," Akaashi berucap santai, "bagaimana jika negosiasinya kita ulang lagi?"
.
.
.
Setengah jam sebelum jumpa Pers di kantor kepolisian. Rumah sakit.
Hinata mengerjap-ngerjap. Cahaya lampu rumah sakit amat menusuk matanya. Berefek pada kepalanya yang seketika berdenyut kencang. Menyadari sosok yang terbaring beberapa saat lalu tidak ada, Hinata menjerit panik.
"Kageyama ke mana?!"
Sosok yang dipanggil masuk perlahan, terhenti di daun pintu. Demi melihat tingkah Hinata yang menggelitik perutnya, Kageyama terkekeh pelan.
"Wow, tenang bung. Aku hanya keluar untuk berjalan-jalan, tetapi kau sudah sepanik ini. Kutanya padamu sekali lagi, kau ini bocah yang ketakutan jika ditinggal sendirian atau mahasiswa tahun tua yang kerjanya hanya memohon belas kasihan pada dosennya?"
"Kageya -kurang ajar! Tidak, bukan keduanya. Terima kasih." Hinata merengut sebal.
Kekehan dan godaan Kageyama bungkam seketika saat ponselnya berdering nyaring. Sedangkan Hinata masih menggumam kesal dan kembali duduk di bangku kecil sebelah tempat tidur. Kageyama duduk di pinggiran tempat tidur, mengetuk layar ponselnya, mengangkat panggilan, mengaktifkan mode speaker. Sebelum Kageyama menjawab halo, orang di seberang telepon langsung saja berbicara.
"Kageyama? Apa kau tidak apa?"
"Ya, aku baik, Suga-san. Ada apa?"
Terdengar desah lega di ujung sana.
"Syukurlah…" jeda sejenak, "hm, tidak apa-apa Kageyama. Aku hanya khawatir kau belum sadar sejak kemarin. Apa kepalamu tidak apa-apa? Kata dokter lukanya cukup parah, apa kau ingat hal yang membuatmu pingsan?"
"Tenang saja Suga-san. Aku baik. Sangat baik. Yah, meski sewaktu aku bangun tadi rasa sakitnya masih, tetapi sekarang sudah tidak. Dan ya, aku ingat aku kehilangan emosi dan memaksa melawan si Gagak Hitam tetapi aku malah ditimpuk dan pingsan." Kageyama mencoba bergurau.
"Fisik maupun mentalku baik, Suga-san. Ah, mungkin tidak jika saat aku kembali aku harus diceramahi Sawamura-san.."
Sugawara terkekeh. "Baiklah, kau tetaplah istirahat di sana jika tidak ingin dimaki Daichi. Oh ya, sudah dulu, jumpa Persnya akan dimulai."
Sambungan telepon itu diputus.
"Suga-san itu baik sekali ya..?" Ucapan Hinata mengawang ke langit-langit kamar.
"Begitu? Yah, sejak aku pertama kali masuk akademi polisi, dia orang yang membimbingku, sih. Awalnya dia hanya pengantar materi di kelasku, lalu entahlah sejak kapan kami mulai dekat. Sudah begitu lama, aku lupa."
"Heeh.." Hinata memegang perutnya, lapar. "Kageyama, aku lapar."
"Ya makan lah, bodoh."
"Temani ya? Temani aku beli makan?"
Kageyama memutar matanya dramatis. Lalu beranjak sambil tertawa.
"Kau benar-benar tidak berubah, ya?"
.
.
.
Hinata memandang ngeri nampan makanan yang dibawanya.
"Astaga Kageyama, kupikir rumah sakit harus merekrut koki yang ada di salah satu stasiun televisi itu, deh.."
Kageyama mengernyit, "Maksudmu?"
"Lihat makanan ini, astaga melihatnya saja membuat nafsu makanku hilang." Hinata menunjuk mangkuk sayur sup hambar dan sepiring kentang tumbuk.
"Ho, begitu? Kupikir malah kau seharusnya bersyukur masih bisa makan di kantin rumah sakit ketimbang berjalan keluar di tengah angin dingin yang menusuk tulang."
"Uh, Kageyama kau nggak asyik.."
Keduanya duduk di salah satu meja kecil dengan dua bangku di samping kanan-kirinya. Kageyama tidak mengambil makanan apapun, ia hanya mengambil sekotak susu dengan merek kesukaannya dari vending machine. Sedangkan Hinata mencoba menikmati makanan yang dipilihnya yang sepertinya kurang enak di lidah.
"Oh ya, Kageyama setelah ini kau ada check-up dengan dokter, jadi jangan kabur dengan kotak susu kesayanganmu, ya.." Hinata mengunyah kentang tumbuknya. Menodong sendok ke wajah Kageyama.
"Memangnya aku dirimu?"
"Wah!" Suara berisik yang familiar memecah keduanya. Dari arah counter makanan, pemilik suara itu tersenyum cerah.
"Kageyama dan Hinata rupanya! Kalian hebat bisa makan makanan itu, ya?"
"Nishinoya-san?"
Nishinoya memang dirawat di rumah sakit yang sama dengan Kageyama, tetapi Kageyama tidak yakin ia akan cepat sekali membaik.
"Oi, oi Kageyama, apa barusan kau meremehkanku?" Seperti bisa membaca pikiran Kageyama, Nishinoya melipat tangannya. "Aku bahkan pernah patah tulang gara-gara meloncat seenaknya dari mobil patrol demi mengejar pejambret tas seorang wanita. Dan kau tahu? Berapa lama aku bisa sembuh? Besoknya dokter sudah memperbolehkanku pulang." Ia menunjuk dadanya, bangga.
"Hebat.." Mata Hinata berbinar.
"Tentu saja!" Nishinoya mengambil satu kursi dari meja sebelah. "Lalu, kau kenapa ada di sini?" Ia menunjuk Kageyama dan Hinata dengan dagunya.
"Dia ini ditimpuk pejagal gara-gara kehilangan emosi.." Hinata berbisik sambil menahan tawa.
"Benarkah? Kau baru saja bertugas menjadi anggota polisi dan pada kasus pertamamu kau langsung kena timpuk. Luar biasa!" Nishinoya terbahak. "Jadi, siapa lawanmu?"
"Gagak Hitam."
Senyum Nishinoya luntur seketika, pun dengan tawanya. Dalam sekejap saja matanya menyorot tajam, seolah-olah Gagak Hitam benar ada di hadapannya.
"Cih!" Nishinoya mendecih. "Jika saja aku tak terkurung di bangunan ini, jika saja aku bisa menghindari peluru kembar sialan itu, aku pasti benar-benar sudah menghabisinya saat itu. Miya Atsumu -sial!"
Ketiganya hening. Masing-masing terpaku pada dendam kepada Gagak Hitam. Pada akhirnya Hinata berseru memecahkan keheningan di sekitarnya.
"Yaa.. Nishinoya-san setidaknya karena ada kau gedung kepolisian baik-baik saja! Jadi kau tetap pahlawannya!" Hinata mencoba meyakinkan polisi yang setahun lebih tua itu.
"Oh! Kau mengerti sisi kerenku, ya?" Syukurlah Nishinoya kembali tersenyum bangga. Mereka berdua cepat sekali akrab, saling tertawa seperti adik-kakak.
Kageyama tetap diam, menyedot habis kotak susunya. Suara televisi di tengah ruang kantin terdengar jelas. Siaran berita lokal, jumpa Pers di kantor kepolisian. Segera setelah susu kotaknya habis ia pamit kepada Hinata dan Nishinoya.
"Hinata, aku duluan kembali ke kamar. Permisi, Nishinoya-san."
"Oh, hm!"
.
.
.
"Kageyama-san, kau sudah bisa pulang hari ini. Fisikmu baik, cedera pada kepalamu juga sudah tidak separah kemarin. Pastikan Kageyama-san istirahat yang cukup dan tidak melakukan hal berat dulu sementara waktu."
"Baik, terima kasih, dokter."
Dokter yang melakukan check-up membereskan peralatannya dan keluar sambil berkata satu-dua hal pada perawat di sebelahnya. Kageyama tidak terlalu mendengarkan, ia segera berkemas. Memikirkan berita di televisi yang sempat didengarnya.
'DALANG GAGAK HITAM TERUNGKAP. SEORANG PRIA YANG TERDUGA DALANG GAGAK HITAM DATANG PADA KLARIFIKASI PIHAK KEPOLISIAN.'
Begitu tulisan headline Breaking News di televisi. Kageyama menggeram. Sosok pria yang disebut-sebut dalang itu pria yang amat dikenalnya. Ikal, bermata hitam kelam, berwajah cantik. Akaashi Keiji.
"Kageyama, kau sudah boleh pulang?" Hinata berdiri di ambang pintu. Entah kenapa wajahnya sedikit panik.
"Ya, aku sudah boleh pulang. Oh ya, Hinata sebaiknya kau juga segera pulang ke apartemen, karena kalau tidak ibumu pasti akan mengomeliku." Kageyama membalas tanpa menatap Hinata. Ia segera berganti pakaian dari seragam pasien menjadi kemeja yang sempat Hinata bawakan dari apartemennya.
"Kau, akan pulang, kan?" Hinata sudah menebak gelagat Kageyama. Ia sempat melihat berita itu bersama Nishinoya tadi. Headline berita yang ditulis di semua channel televisi itu tidak mungkin tidak mengasumsikan Kageyama akan pergi ke kantor kepolisian setelah ini.
"Kageyama. Kau dengar kata dokter tadi? Istirahat. Tidak mengerjakan sesuatu yang berat. Apa telingamu tuli?!"
"Tidak, aku tidak tuli. Memangnya kau pikir aku akan ke mana? Tentu saja aku mendengar nasehat dokter tadi."
"Kalau begitu! Kau tidak boleh pergi di kantor kepolisian, Kageyama."
Kageyama akhirnya menoleh pada Hinata. Pemuda oranye itu menatapnya tajam seolah bertitah Kageyama tidak boleh melakukan hal yang ia larang. Kageyama mendengus, memalingkan wajah.
"Oh? Siapa yang tahu aku akan pergi ke sana? Dan bukannya di apartemenku?"
"Aku! Aku yang tahu, Kageyama!" Hinata menggenggam gelang tangan Kageyama. Menahannya.
"Ck!" Kageyama menepis genggaman Hinata. "Baik, baik kau benar aku akan ke sana. Lalu apa? Kau mau melarangku? Dan menyuruhku diam saja melihat sepasukan jubah hitam meninvasi kantor kepolisian?"
"Bukan -Kageyama!"
Kageyama sudah berjalan cepat di lorong rumah sakit. Dalam sekejap sudah berada di halaman parkir yang lengang. Hinata yang mencoba menyamakan langkah dengan pemuda hitam itu tetap bersikeras melarang Kageyama untuk pergi.
"Minggir." Kageyama menatap tajam Hinata. "Kubilang minggir dari hadapanku, bodoh."
"Tidak, sampai kau berjanji tidak akan pergi ke kantor kepolisian."
"Baik, aku berjanji. Sekarang minggir."
"Tidak."
"Astaga! Minggir dari hadapanku, Hinata Shouyo!"
Kageyama mendecak sebal. Ia tahu ia takkan pernah bisa melawan Hinata. Sekeras apapun usahanya. Hinata memang tipe menyebalkan yang terlalu egois. Mau lari juga tidak bisa. Fisiknya tidak terlalu mendukung untuk lari dari rumah sakit ke kantor kepolisian -tidak, yang melakukan hal itu pun akan dicap gila. Kageyama mengacak rambutnya, frustrasi.
"Baik! Baik, sekarang maumu apa!?"
"Kita kembali ke apartemenmu, Kageyama."
.
.
.
Kageyama duduk di sofa dengan gusar. Cokelat panas yang dibuatkan Hinata untuknya sudah mendingin. Berkali-kali decakkan terlontar dari lidahnya, dan berkali-kali matanya menyorot tak suka pada ulangan berita yang sempat menjadi topik utama perbincangan beberapa menit yang lalu. Hinata yang baru selesai mencuci gelas cokelat panasnya menyambar remote televisi dari tangan Kageyama dengan kasar.
"Woi –apa yang kau lakukan!?"
Hinata mengambil setoples kacang dari meja kopi kecil di sebelahnya, menatap tak bersalah, "Apa? Aku ingin nonton acara lawak yang biasanya. Ini sudah jadwalnya. Memangnya tidak boleh?" Lalu ia meraup segenggam kacang itu ke dalam mulutnya.
Kageyama menggeram sebal, "Ini apartemenku. Televisiku!" dan mencoba merebut kembali remote yang tidak sempat Hinata ungsikan dari Kageyama.
"Ih! Pantas saja mukamu seram setiap hari, rupanya kau kekurangan asupan lawakan, ya? Kasihan sekali dirimu, Kageyama-kun?"
"Sialan-!" Kageyama pasrah dengan remote yang kembali berpindah tangan ke Hinata. Ia membanting bantal ke sofa dan pergi menjauh. Entahlah, ke kamarnya mungkin? Hinata tidak terlalu peduli. Pemuda oranye itu terus menggilas kacang-kacang dengan giginya.
"Apa-apaan dia itu? Seenaknya! Memang dipikir ini apartemen siapa?" Dari jauh Hinata terkikik geli mendengar suara Kageyama yang samar-samar.
Tanpa diketahui Kageyama, Hinata memindahkan saluran televisi kembali pada tayangan berita soal jumpa Pers itu. Volume suara ia kecilkan. Komentator berita sedang bercakap-cakap membahas kejadian lima belas menit yang lalu dengan seorang pria yang diketahui adalah tokoh masyarakat setempat.
"Jadi, bagaimana pendapat bapak tentang penyerangan terbuka yang dilakukan Gagak Hitam kali ini? Apakah ada maksud tertentu?"
Pria itu terdiam sejenak, kemudian menatap tajam ke arah kamera dan berseru tegas, "Siapapun kalian, disebut Gagak Hitam atau kelompok teroris apapun! Dengarkan saya! Saya tidak tahu apa yang kalian cari, tetapi! Dengan kalian dan paham radikal kalian, menyakiti orang-orang, lansia, anak-anak, kalian benar-benar gila! Jadi walaupun kalian membela diri dengan alasan akan mengubah dunia menjadi lebih baik dengan paham kalian, saya dan masyarakat tidak akan pernah terpengaruh! Tidak akan! Camkan itu! Kami tidak sedikitpun takut pada kalian!"
Hinata mengusap wajahnya yang berkeringat. Menonton berita memang bukan hobinya, tetapi mendengar tuturan pria itu kenapa rasanya ia menggigil sekaligus berkeringat? Ia melirik pintu kamar Kageyama yang tertutup rapat, takut-takut Kageyama akan memergokinya yang sedang melihat tayangan berita. Sedikit rasa khawatir dan bersalah menelusupi hatinya karena melarang Kageyama pergi, walaupun ia tahu Kageyama sangat ingin pergi.
"Maaf, Kageyama." Gumamnya pelan.
Hinata mematikan televisi dan beranjak ke kamar Kageyama untuk melihat kondisi sahabatnya itu. Dari pintu yang membisu, Hinata mengetuk pelan. Mencoba memantabkan hati untuk mengungkapkan sesuatu. Tidak ada jawaban dari ketukan kedua Hinata. Hinata menarik napas, menghembuskannya.
"Kageyama, aku harus minta maaf padamu." Hening terus menyapanya. "Maaf aku egois tidak memperbolehkanmu pergi.."
"Aku.. aku.. maaf aku sudah membohongimu…" Lama-lama Hinata merasa ganjil dengan hening yang begitu lama ini. Seolah-olah Kageyama tidak benar-benar ada di dalam kamarnya.
Hinata berpikir kemungkinan terburuk. Kageyama benar masuk kamarnya tadi, kan? Ia dengar sendiri pintunya ditutup rapat sambil si muka seram itu mengomel-ngomel padanya. Kemungkinan buruk itu lantas membuat Hinata segera membuka pintu abu-abu itu dan menemukan tidak ada Kageyama di sana. Kosong.
Hinata memeriksa balkon yang tirainya terbuka. Hinata hampir tertawa getir saat mengingat bahwa kamar Kageyama berada di lantai ke sekian puluh. Tidak mungkin ia loncat, kan? Ya, tidak mungkin. Karena yang Hinata temukan di balkon adalah tukang cleaning service apartemen itu yang tersenyum kaku padanya.
"Ah, anu… teman anda tadi memaksa menaiki lift kecilku untuk turun ke bawah. Anu, apa dia sedang terburu-buru sampai tidak bisa menaiki lift yang ada di dalam?"
"Sialan kau Kageyama!"
Hinata buru-buru turun ke lantai bawah.
.
.
.
.
Bersambung…
.
.
.
A/N
Yey, bagian akhir sedikit ngereceh! www
Duh, saia ini punya penyakit apa ya kadang-kadang ide itu udah ada, niat ada, tapi gak pernah kelarin ini? Beneran ini pengen tamat di sini, tapi kok gak sesuai plot line awal? pengen loncat dari apartemennya Kags aja kalo kayak gini T.T
Seneng deh bisa ngasih banyak scene KageHina di sini dan ngasih line ke bang Noya, yaampun. Seneng juga karena kalian masih setia nunggu. Kadang saia pengen peluk cium kalian satu persatu xD
Akhir kata terima kasih karena sudah mampir di chapter ini!
Salam, Usagi.
