"Aaaahh!"

Kyungsoo tersenyum kecil melihat hasil kerjanya—dua tangan Joonmyeon yang sukses diikat di kepala ranjang rumah sakit yang berjeruji. Ia menepuk tangan kotornya dua kali, sebelum kemudian menuruti perintah Yifan untuk memegangi kedua kaki si kelinci yang terlonjak berusaha melepaskan diri.

Sementara Yifan sendiri menduduki selangkangan pemuda mungil itu, mencuri kesempatan dengan menggesekkan kemaluan mereka.

Joonmyeon tak bisa apa-apa selain berusaha memekik, berusaha berontak sampai mati. Tapi sia-sia. Kaki tangannya diikat tanpa sedikitpun celah untuk pergi, dan matanya ditutup sehelai kain hitam yang Yifan keluarkan dari saku jas hitam elegannya—sayangnya fungsinya tidak elegan.

Yifan benar-benar seorang yang sakit mentalnya, Joonmyeon mengakui itu.

"Lep—mmph!"

Kain lain melingkar di atas mulutnya. Joonmyeon menggigitnya keras-keras, berharap ia bisa menyobeknya tetapi Yifan hanya tertawa.

"Itu sutra kualitas terbaik, Sayangku. Semua yang melilit tubuh indahmu ini adalah sutra terbaik." Joonmyeon merinding mendengar suara Yifan bersumber dekat sekali dari mukanya. "Tidak akan sobek hanya dengan gigi-gigi tumpulmu."

Joonmyeon menjerit tetapi tidak ada suara yang keluar. Hanya Yifan yang mengelus pipinya berkali-kali seolah tengah mengelus guci Cina paling antik di dunia ini.

Gestur lembut itu tidak menenangkannya. Justru menakutinya. Joonmyeon tidak tahu sudah berapa liter air matanya yang keluar.

"Pnghgi... hiik..."

"Hum?"

"Pnghgi..."

"Pergi? Kau bilang pergi?"

Yifan bisa melihat sutra hitam yang menutup mata pujaannya itu basah. Ia terkekeh.

Melihat Joonmyeon menangis dan memohon padanya adalah hiburan terbaik yang pernah ada.

"Kenapa kau mau aku pergi, Manis? Lalu siapa yang akan memuaskanmu kalau aku pergi?"

Joonmyeon mendengar suara keresak dari bawah sana, dan perasaannya benar-benar tidak mengenakkan.

"Aku punya hukuman untukmu karena kau berani menyuruhku pergi."

Ctik.

"NGGGGHHH!"

"Panas, Myeon-ie?" Lalu Yifan tertawa kencang. "Kenapa menggelinjang begitu? Apa terlalu panas?"

Kyungsoo agak kesulitan memegangi kaki Joonmyeon yang berontak setelah telapak kakinya dipaparkan langsung pada korek api.

"NNNHHH! MMMPHH! YIF-NNHHH!"

"Uuuh, kelinciku malang. Sakit, ya? Hm?"

Lolongan Joonmyeon menyakitkan untuk didengar. Tetapi tidak ada satu titik pun pada hati Kyungsoo yang tersentil mendengarnya.

Malah, senyumnya melebar.

"NNNH! UMPPH! UMMHH!"

Ini benar-benar luar biasa. Memiliki kuasa di atas manusia lain benar-benar sensasi yang luar biasa.

Yifan mematikan korek api yang ia pegang, tersenyum melihat tetes merah mulai mengalir dari jaringan kulit yang rusak setelah dibakar.

Ia baru tahu ia punya fetish pada permainan api. Dan Joonmyeon tentulah peliharaan yang tepat untuk menemaninya bermain dengan semua ini.

"Kita coba lagi, Myeon-ie. Aku belum pernah mengajarimu untuk bermain dengan api, kan? Tenang saja, rasanya menyenangkan, kok. Jangan berteriak dan jangan menendang, oke? Tiga, dua..."

Ctik.

"NNNNGGGHHH!"

Joonmyeon bersumpah kuku jarinya hampir patah akibat mencengekram jeruji kepala ranjang terlalu kuat. Tapi rasa sakit ini tidak tertahankan.

Ia menitikkan air mata. Tidak tahu bagaimana nasib kakinya setelah ini. Kaki itu belum sembuh, bahkan bisa dibilang dalam kondisi terburuk.

Yifan memperparahnya dengan main-main membakarnya hidup-hidup.

"Myeon-ie, lihat ini," Yifan tergelak entah karena apa. "Penisku tegang karena kakimu terus berontak dan menggeseknya. Uuuh, ini nikmat sekali."

Joonmyeon mual. Hendak muntah mendengarnya.

Ctik.

Ctik.

Ctik!

Kyungsoo menatap lelehan darah dan kulit kaki Joonmyeon seperti bocah menatap mainan favoritnya. Yifan melempar lirikan padanya, terkekeh akan kekaguman Kyungsoo pada erotika semacam ini.

"Coba tekan kakinya, Kyungsoo."

Pria yang lebih mungil menurut, matanya membulat lucu ketika jarinya menekan telapak kaki Joonmyeon dan si empunya seketika mengerang keras, membuat ranjang berderit akibat ulahnya.

Dan Yifan yang mendesah hebat oleh gerakan tiba-tiba Joonmyeon yang kesakitan.

"Myeon-ie, tahu apa yang akan membuat orgasme lebih nikmat?"

Yifan mengurut kejantanannya sejenak. Joonmyeon tidak perlu pelumas, tidak perlu dipersiapkan. Ini bagian dari hukuman.

"Sensasi sakit yang tiada tara."

Joonmyeon hanya melihat gelap. Kakinya lama-lama jadi mati rasa. Yifan menurunkan karet celana rumah sakitnya, dan ia hanya bisa mengutuk bersamaan dengan berdoa. Tidak tahu akan diapakan, toh ia tidak bisa melawan.

"Tuan Wu, kondom?"

"Tidak usah. Aku ingin keluar di dalamnya. Kau berjaga saja di luar."

Begini rasanya menjadi tidak berdaya?

Tiba-tiba Joonmyeon ingin mati saja.

.:xxx:.

"LUHAN!"

"Yah!" Pria Cina itu terlonjak kaget saatnya tubuhnya tiba-tiba ditimpa badan besar. Demi Tuhan, ini di tengah taman kota! "Se-Sehunnie?!"

Ia sudah hendak memarahi kekasihnya karena ini publik dan banyak anak kecil ketika Sehun sudah duluan meraup tubuhnya, memeluknya begitu erat hingga Luhan sulit bernafas.

"Sehuuun!"

"Kau tidak apa-apa? Baik-baik saja? Ada yang luka?"

"Aku tidak apa-apa! Aku baru selesai belanja. A-ada apa? Kenapa kau tiba-tiba begini? Aku kaget sekali tahu!"

"Tidak ada orang aneh di sekitarmu?"

"Tidak. Aku hanya tiduran saja di sini dari tadi. Satu-satunya yang aneh di sini adalah kau."

Luhan tau harusnya Sehun marah dibilang seperti itu. Tapi tidak. Sehun justru mengecup dahinya.

"Syukurlah. Kau tahu aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau ia sampai melukaimu..."

Kekasihnya ini demam, ya?

.:xxx:.

Jemari Tao sakit. Chanyeol sudah menyerah dan melepas pegangannya pada jeruji ventilasi rumah sakit.

Lalu jatuh di atas tanah dengan tubuh lemas.

Kepalanya serasa ringan. Serasa kosong.

Tao lebih parah lagi. Ia melepas cengkeramannya pada jeruji itu, membiarkan tubuhnya jatuh di samping Chanyeol. Tetapi otaknya tidak berhenti seperti Chanyeol. Justru berputar makin kencang dengan segala amarah, kekecawaan, sedih yang mendalam...

... dan penyesalan.

"Aku tidak tahu bagaimana neraka bisa lebih buruk dari ini."

Chanyeol berbisik pelan. Tao tahu kalau sahabatnya itu sekarang gemetar hebat.

"Apa-apaan itu..."

Tao merasa sulit hanya untuk bernafas. Kerongkongannya sakit. Dadanya seperti diremas. Perih.

Ia tidak tahu bagaimana, tapi setetes air bening tiba-tiba sudah mengaliri pipinya.

"Myeon..."

Chanyeol mendongak. Menyandarkan kepala pada dinding. Jakunnya naik turun, menelan ludah.

"Joonmyeon... k-kenapa dia bisa begitu..."

Pekik kesakitan Joonmyeon dari balik dinding bata itu terlalu menyakitkan untuk mereka dengar. Desah dan racauan Yifan adalah racun sakit yang membuat mereka mual.

Tapi keduanya tahu, seburuk apapun kondisi mereka saat ini, tidak ada yang bisa mengalahkan keterpurukan Zhang Yixing.

Pertemuan tanpa di sengaja di depan halaman rumah Joonmyeon sore tadi membawa ketiganya kembali ke rumah sakit di saat yang benar-benar tidak tepat. Kecurigaan Yixing akan keamanan yang diperketat oleh sejumlah pria berseragam hitam dan kelincahan Tao membuat mereka bisa menyelinap masuk menuju kamar Joonmyeon—diiringi Yixing yang terus bercerita pada Tao dan Chanyeol yang hanya bisa menganga mengenai penyerangan Joonmyeon di apartemennya beberapa waktu lalu dan kondisi pemuda mungil itu.

Tapi begitu ia mencapai Ruang VIP yang dipesan Sehun-hyung sendiri dan mengikuti dua dongsaengnya untuk memanjat dan mengintip lewat lubang ventilasi (karena ada dua orang berseragam hitam di depan kamar Joonmyeon malam-malam begini dan Chanyeol yakin sekali mereka tidak akan memperbolehkan ketiganya menjenguk Joonmyeon), Yixing membeku.

Dua dongsaengnya juga.

Semua tahu kalau itu Yifan. Semua mengenalnya sebagai kakak sepupu Joonmyeon yang dingin dan sering menjemput si pemuda mungil pulang.

Tidak ada yang tahu kalau ia boleh mengikat Joonmyeon pada ranjang rumah sakit dan menyetubuhinya begitu kasar. Tunggu—bukannya mereka saudara?!"

"Hoek—!"

Tao berhasil menahan diri sebelum muntah. Kaki Joonmyeon menjejak sana-sini, berusaha lari dari api yang diputar-putar Yifan dekat telapak kakinya.

Dan itu pasti sakit, melihat genangan darah pada lantai yang terus bertambah tetes demi tetes.

"Hnnghh! Ummmhh! Hk... hk!"

"Teriak saja yang kencang, Myeon-ie! Teriakkan betapa hebat penisku memenuhi lubangmu!"

"UHNG! NNGH! NNH!"

"Kau suka, huh? Manis sekali... jalang mungilku. Kenapa kau menggigit penutup mulutmu? Hum? Sakit?"

Tawa Yifan memekakkan. Tao mengepalkan tangan.

"Lebih sakit mana denganku yang melihat peliharaannya bersama dengan bocah ingusan itu?"

Bocah ingusan—Y-Yixing?

"Unng!"

"Apa dia juga memperkosamu seperti ini, Myeon-ie?"

Jerit panjang. Tao tidak berani membayangkan apa yang Yifan lakukan di dalam sana.

"Waktu kau masih kecil dulu, aku sudah mengajarimu kalau penis paling besar yang bisa memuaskanmu hanya milik Yifan-ge, kan? Kenapa sekarang kau mencari yang lain? Apa satu belum bisa memuaskanmu, hm?" Plak. Plak. Plak. Chanyeol bisa mendengarnya dengan jelas dari luar sana. "Manisku rupanya mulai sulit dipuaskan. Aku punya beberapa algojo yang bertubuh kekar. Aku bisa menyuruh mereka menghabisimu semaumu dan bukannya bermain-main dengan penari kurus itu."

Yixing memalingkan muka. Ekspresinya tanpa nyawa.

Bibirnya berdarah akibat digigit terlalu keras. Jantungnya berhenti berdetak, lalu berdegup begitu kencang, lalu berhenti, lalu berdegup lagi.

Tidak karuan.

"Unnnh! Hnng..."

Mulut Joonmyeon yang disumpal tak bisa membentuk barisan kalimat yang koheren.

"Mainanku. Peliharaanku. Kelinciku. Kita akan bersama, kau dengar itu? Kita akan selalu bersama, dan tak ada seorangpun yang bisa memisahkan kita."

"BAJ—!"

Chanyeol sigap membekap mulut Yixing sebelum mereka bisa berbuat keributan lebih. Tao mendongak lemah dari syoknya.

"Hyung!"

Gigitan kencang Yixing pada telapak tangan Chanyeol jelas bermakna, "minggir, aku akan membunuh bajingan itu!"

"Jangan, Hyung! Mereka bisa tahu kalau kita di sini."

Chanyeol berusaha bersikap rasional walau itu terasa sulit sekali.

"K-k-kita tidak akan masuk dan me-menyelamatkannya?"

Tatapan mata Yixing begitu menyeramkan hingga Tao bergeser dari tempatnya. Sorot itu tentu akan bisa melubangi kepalanya. Tao hanya bersyukur ia bukan Yifan atau ia akan menghadapi murka Hyung yang satu ini.

Atau tidak.

"Kau tidak lihat di pinggang bangsat pendek itu? Pesuruh Yifan-hyung itu punya pistol! Kalau kita mati konyol karena bersikap sok heroik, tidak ada yang bisa menyelamatkan Joonmyeon!"

Penjelasan Chanyeol cukup masuk akal. Yixing berhenti berontak, tapi pekik Joonmyeon lagi-lagi membuatnya hilang kendali.

"Siapa di sana?"

"Gawat."

Derap langkah mereka nyaris tak terdengar. Ketiganya melesat begitu cepat menuruni tangga dan melompat keluar jendela yang dibiarkan terbuka walau sebenarnya enggan.

Yixing melihat ke belakang sekali lagi, pada lampu kamar Joonmyeon yang masih menyala, sebelum kemudian mengikuti Chanyeol dan Tao pergi dari kompleks rumah sakit itu.

Tiap langkahnya begitu berat. Mengetahui kekasihnya kesakitan dan meminta pertolongan dari siapapun di balik kain hitam yang menutup mulutnya, dan ia sendiri mengetahui hal itu tetapi tidak sanggup menolongnya... Yixing hanya berharap ia mati saja.

Benar-benar payah. Kekasih paling payah di dunia.

Ia melepas tangisnya di apartemen Chanyeol.

"Bukankah dia kakaknya?!" Tao meraung. "Dia kakaknya! Kakak Joonmyeon!"

"Aku akan bicara dengan orang tuaku." Chanyeol menekankan dahinya pada telapak tangan. Pusing. "Mungkin mereka bisa membantu... Aku tidak... Aku hanya... aku sungguh tidak tahu apa-apa soal ini..."

Tao tidak berkata apa-apa lagi. Masih menyimpan pada diri sendiri bahwa ia pemicu di balik semua ini.

Ia hanya tidak siap kalau semua orang tahu perbuatannya. Ini mimpi buruk yang jadi kenyataan.

"Hyung? Hyung," bisik Chanyeol pada pria yang tengah menutup mata. "Jangan diam saja, Hyung... Katakan sesuatu..."

Yixing tidak membuka mata. Tetapi pipinya mengilap oleh air mata.

Bibirnya bergetar hebat begitu ia membuka suara.

"Kalian ingin aku berkata apa?"

Chanyeol dan Tao berpandangan, lalu menunduk.

Yixing benar. Apa yang mereka harapkan?

Ini situasi sulit yang tak pernah mereka sangka akan terjadi.

Yixing membuka bibir lagi, dan Chanyeol maupun Tao mendengarnya berbisik lirih.

"Aku akan membunuhnya... Aku bersumpah akan membunuhnya."

.

.

.

.

.:tbc:.

Harusnya lanjutin LH kan ya kenapa malah ini duluan yang selese /plak