Untuk kesekian kalinya melihat Sakura yang memeluk Sasori dengan erat membuatnya semakin sakit.
Ya, Sakura dan Sasori berpelukan dibelakang halaman sekolah, dan Sasuke tak sengaja melihatnya.
"Aku sayang Sakura-chan, kau mau jadi pacarku?" tanya Sasori pelan.
Sakura terdiam sejenak.
"A-aku..."
"SAKURA!" Sasuke berteriak keras. "APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Gadis yang bernama lengkap Haruno Sakura itu terbelalak kaget kemudian menoleh ke arah sumber suara. Iris emerald gadis itu menatap seolah tak percaya.
"Sa-Sasuke-kun?"
Tuhan, kapan semua kesalahpahaman ini berakhir?
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
AU/OOC/Romance/Drama/Lime-Lemon
.
.
.
.
.
Sasuke mengepalkan tangannya erat kemudian memukul pemuda berambut merah itu dengan penuh amarah. Sasori—pemuda merah itu—jatuh tersungkur dengan darah yang sedikit keluar di ujung bibirnya.
"SASUKE!" Sakura histeris. "JANGAN MAIN KEKERASAN DI HALAMAN SEKOLAH!"
"PEDULI APA KAU CEWEK MURAHAN?!" Balas Sasuke. "Hanya karena aku tunduk kepadamu kau memperlakukanku semaunya. hah?!"
Gadis berambut soft pink itu terkejut mendengar ucapan mantan pacar yang masih ia sayangi tersebut. Heh, semaunya? Bukannya pemuda rambut pantat ayam ini yang bertindak semaunya.
"Tarik ucapanmu." Ucap Sakura pelan tapi dingin. Gadis itu membantu Sasori berdiri "AKU BILANG TARIK UCAPANMU DAN MINTA MAAF PADA SASORI BAHWA KAU SUDAH MEMUKULNYA!"
"Untuk apa?"
Sasuke menatap Sakura tajam.
"Bukannya dia yang harusnya minta maaf kepadaku, Sakura?"
Mata Sasuke terlalu tajam untuk ditatap, Sakura tak akan sanggup. Jujur saja sebenarnya dia gemetaran melawan Sasuke seperti ini. Dia takut Sasuke akan melakukan tindakan kekerasan padanya.
"Hei, Uchiha," Sasori menatap Sasuke yang sedari tadi hanya fokus ke Sakura. "Kau terlihat tidak Gentle, ya." Tambahnya sarkastik.
Ingin rasanya detik itu Uchiha Sasuke mematahkan leher Akasuna Sasori.
"Kau..." gumam pemuda berambut raven itu, "...belum pernah dipatahkan di leher kan?"
"SASUKE!" Sakura berteriak keras. "Sudah cukup!"
Seluruh mata mengarah ke mereka bertiga, mungkin Sasuke dan Sasori tak sadar bahwa mereka berada di area sekolah.
Kesal, Sasuke menarik pergelangan tangan Sakura kasar, ia tak sadar saat itu telah menarik tangan Sakura yang sedang dibalut perban. "Akasuna, apa menariknya dari merebut pacar orang, huh?"
Akasuna Sasori tertawa terbahak-bahak. "Apa aku tak salah dengar, Uchiha?"
Sakura menggigit bibirnya keras. "Kita kan sudah putus, Sasuke-kun..." Genggaman Sasuke pada tangannya semakin erat membuatnya meringis kesakitan.
"Sakura kita hari ini libur saja sekolah, kita akan bicara baik-baik. Sekarang."
"Ta-tapi—"
"—Naruto akan mengurusnya."
"Tidak mau!"
Cukup. Kesabaran Uchiha Sasuke hampir habis. Dengan sangat terpaksa Uchiha Sasuke menggendong Haruno Sakura menjauh dari area sekolah. Refleks, Sakura kaget setengah mati.
"Kau mau membawaku kemana, bodoh?! Turunkan sekarang juga!"
"Diam!"
"DASAR MESUM! LEPASKAN AKU!"
Tetap saja ia tak menghiraukan ucapan Sakura yang berontak. Mereka berdua meninggalkan Akasuna Sasori sendirian.
"Sialan." Bisiknya pelan.
.
.
.
.
My Hentai Prince
.
Chapter 12
.
.
Original Story from Azuka-nyan
.
.
Rate M for Lime and Lemon
.
.
Happy Reading
.
.
.
.
"Rumahku?"
Sasuke menurunkan Sakura dari gendongannya. "Iya, kenapa?"
"A-ah... Aku kira kau akan membawaku ke rumahmu."
"Aku sedang tidak mood untuk membawamu ke rumahku, lagi pula untuk apa?"
Sakura terdiam.
"Cepat buka kuncinya dan masuk, aku akan merawat luka di tanganmu."
Gadis soft pink itu mengangguk pelan sembari membuka pintu rumahnya. Mereka pun masuk ke dalam. Suasana canggung menyelimuti keduanya.
"Kau sudah sarapan?" Tanya Sasuke memecahkan keheningan.
Sakura mengangguk.
"Siapa yang membuatkannya? Tanganmu terluka."
"Uh... i-itu..." ia menggigit bibir bawahnya. Bingung hndak menjawab apa. Haruskan ia jujur? "Sa-Sasori-kun..."
"HAH?!" Sasuke kembali murka. "Kau... aarrghh!" tambahnya sembari mengacak-acak rambutnya sendiri.
Oh, Tuhan. Apa dia salah karena terlalu jujur?
"Dia tidak macam-macam kan?!"
Gadis beriris emerald itu menggeleng. Sasuke menghela nafas lega. "Syukurlah."
"Kenapa kau masih peduli padaku, Sasuke-kun?" Sakura menunduk. "Kita kan sudah..."
"Masuk ke kamar dan ganti bajumu Sakura, aku akan mengambil air kompresan dan perban baru untuk lukamu."
Ah, lagi-lagi ucapannya dipotong.
Sakura menurut, jujur ia masih merasa kurang enak badan akibat kejadian kemarin. Tapi ia masih tak bisa melupakan Uchiha Sasuke sialan itu. Gadis itu menghempaskan seluruh tubuhnya ke atas kasur. Ia merasa malas untuk mengganti bajunya.
"Sasuke-kun..." rintihnya pelan. "...aku masih memikirkanmu."
Ini gila. Seharusnya dia sudah muak dengan Uchiha Sasuke karena perbuatannya yang kurang ajar itu. Tapi mau bagaimana lagi ia teramat mencintainya. Sampai hatinya pun terasa sesak.
Ah, jangan menangis lagi.
'Tok-tok-tok'
"Aku buka ya Sakura."
"Silahkan."
Pintu kamar Sakura pun terbuka, terlihat pemuda berambut raven membawa keperluan P3K untuknya. Ia buka pelan perban yang ada di tangan Sakura kemudian digantinya dengan yang baru.
"Kau berani juga ya menampar sebuah kaca." Ledek Sasuke.
Sakura terdiam.
Keadaan semakin tak nyaman, mereka sama-sama terdiam. Bunyi jam dindin pun terdengar keras memecah keheningan.
"Nah, sudah selesai." Ucap pemuda berambut raven tersebut sembari membereskan peralatan yang terhambur. "Kalau kau merasa lapar aku sudah menyiapkan—"
"—Jangan pergi..." Tarik Sakura pada lengan baju Sasuke. "...disini saja, kita bicara.
Sasuke menurut kemudian disamping gadis yang masih ia cintai tersebut. Ah, sial. Sakura terlihat imut sekali dan jujur Sasuke serasa ingin menciumnya. Kepala Sakura menyandar pada bahu Sasuke. Dapat Sasuke rasakan harum cherry yang ada pada Sakura. Manis.
"Sasuke..." lirih Sakura pelan.
"Hmm?"
"Tak apa."
"Sepertinya kau masih sakit Sakura," Sasuke kemudian memegang jidat Sakura yang terlihat lebar. "sebentar aku akan mengambilkan obat."
Belum sempat pemuda itu berdiri mengambil obat, Sakura menariknya keras kemudian mencium bibirnya lembut. Tentu saja Uchiha Sasuke kaget.
"Jangan pergi..." isak tangis Sakura meluap. "...aku tak ingin kehilangan Sasuke-kun... hiks!"
Ah, sial. Manisnya.
Sasuke mengusap air mata yang mengalir pada pipi chubby gadis yang dicintainya itu. "Sakura, aku ingin bertanya padamu. Tolong dijawab baik-baik ya."
Sakura mengangguk.
"Kau..." dapat Sakura lihat telinga Uchiha Sasuke saat itu terlihat merah sekali. "...masih mau menjadi pacarku, Sakura?"
"Iya!" Balas Sakura mantap. "Iya iya iya! Aku mau!"
"Walaupun aku sudah menyakitimu dengan 'main' bersama perempuan lain?"
"Aku tahu kau hanya memikirkanku, Uchiha." Jawabnya. "Dan aku yakin kau tak serius 'main' dengannya."
Sasuke tersenyum tipis. Akhirnya mereka berdua kembali bersama. Ia tak akan melepaskan Sakura begitu saja dengan mudah. Ia sangat menyukai gadis itu, atau bahkan sudah mencintai gadis itu dengan sepenuh hatinya.
Tanpa basa-basi lagi ia cium gadis tersebut dengan lembut. Sakura sedikit kaget kemudian melingkarkan kedua tangannya pada leher Sasuke. Dengan pelan Sasuke menghempaskan tubuh mereka ke atas kasur milik gadis berambut soft pink tersebut. Ciuman mereka lambat laun semakin ganas. Sasuke menggigit bibir Sakura agar gadis tersebut membuka mulutnya dan membiarkan lidah Sasuke memainkan lidah mereka di dalam mulut gadis tersebut.
"Uh... ah..."
Air liur mereka menjadi satu. Sakura mengerang keras merasa oksigennya akan habis. Sasuke kemudian melepaskan ciuman panas mereka. Pemuda itu menyingkirkan rambut Sakura yang berada pada leher gadis tersebut kemudian menciumnya lembut. Sakura mengerang pelan ketika Sasuke kembali membuat tanda kepemilikannya. Ia cium pelan kemudian ia gigit sampai membuat tanda berwarna merah.
"Kau milikku, Sakura."
Kedua tangan milik Uchiha Sasuke kemudian melepas kancing baju sekolah Haruno Sakura. Tak ada perlawanan dari gadis soft pink itu. Padahal Sasuke hampir takut setengah mati jika ia akan di bogem mentah Sakura karena membuka bajunya tanpa ijin.
Setelah terbuka dapat Sasuke lihat jelas kedua buah dada milik Sakura berukuran sedang yang masih dibalut bra berwarna pink milik gadis tersebut. Wajah Sasuke dan Sakura semakin memerah.
"Bo-boleh ku buka?" Tanya Sasuke dan dijawab dengan anggukan oleh Sakura.
Ia buka pelan bra tersebut kemudian menatap dengan seksama kedua buah dada Sakura. Walaupun ukurannya sedang entah kenapa Sasuke sangat menyukainya.
"Ja-jangan dipandangi terus!" Ujar gadis tersebut sembari menahan malu.
Perlahan telunjuk kanan Sasuke menyentuh puting sebelah kiri milik Harus Sakura. Dapat ia rasakan puting tersebut mengeras. Sakura mengerang pelan.
"Ah, kau nakal juga." Ledek Sasuke sambil tersenyum.
Tanpa basa basi lagi Sasuke kemudian mengulum puting kiri Sakura ke dalam mulutnya sembari memainkannya dengan lidah. Sedangkan tangan kirinya meremas payudara Sakura yang sebelah kanan sembari memainkan puting gadis tersebut dengan jari-jari miliknya. Sakura semakin mengerang kencang meraskan sensasi nikmat tersebut.
"Ah.. Sasuke-kun.. uh..."
Ia gigit pelan puting Sakura membuat gadis tersebut merintih kesakitan.
Beberapa saat kemudian Uchiha Sasuke menghentikan aksinya kemudian menatap Sakura dengan intens. Penglihatannya kabur dan kepalaya terasa berat.
"Ah, sepertinya... aku demam Sakura..." –Bruk! Belum sempat Sakura sadar sepeuhnya. Uchiha Sasuke kemudian ambruk kepelukan gadis berambut soft pink tersebut. Sakura tersenyum kemudian memegang jidat Sasuke.
"Kasihan dia malah tertular juga." Ucapnya sembari tersenyum.
Sakura kemudian merapikan bajunya kemudian tidur menghadap Sasuke yang terlihat kelelahan.
"Aku mencintaimu, Uchiha Sasuke. Sungguh."
.
.
.
.
Uchiha Sasuke terbangun ketika mencium aroma enak yang berasal dari dapur rumah Haruno Sakura. Jam menunjukkan pukul 6.40 pm. Cukup lama juga pemuda itu tertidur. Ia kemudian meletakkan telapak tangannya pada jidatnya sendiri. Ah, demam, pikirnya dalam hati.
Sialan padahal tadi momennya sudah lumayan mendukung untuk melakukan hal 'itu' tapi sayangnya ia merasa kurang enak badan dan malah tertidur. Pemuda berambut raven itu kemudian menoleh ke sebelah kirinya. Tak ada Sakura. Apa jangan-jangan gadis itu yang sedang memasak di dapur?
Sasuke kemudian bangkit dengan perlahan menuju dapur di lantai satu. Ia berjalan pelan walaupun kepalanya masih terasa berat. Sesampai di dapur dapat ia lihat gadis berambut soft pink itu sedang memasak. Perlahan ia peluk gadis itu kemudian mencium tengkuk lehernya, hal tersebut tentu saja membuat Sakura kaget.
"He-hei!"
"Kau manis sekali, darling."
Blush—! Rona merah menghiasi kedua pipi chubby milik Haruno Sakura. Ah, Sasuke curang selalu saja membuatnya salah tingkah.
"Rasanya sudah lama sekali ya aku tidak memanggilmu seperti itu."
Sakura mengangguk. "Sudah, makan dulu kemudian pulang dan istirahatlah. Kau masih demam."
Sasuke menyandarkan kepalanya ke bahu kanan Sakura kemudian menggeleng. "Aku ingin menginap disini."
"HAH?!" Sakura kaget setengah mati kemudian berbalik menghadap Sasuke. "Kau... gila, ya?"
"Kenapa?" Pemudu raven itu terlihat cemberut. "Tak boleh, ya?"
Sakura menggeleng cepat. "Kakakmu akan khawatir nanti."
"Dia tak akan pulang malam ini, jadi siapa yang akan merawatku?"
"Hei, kau jangan bertingkah manja."
Sasuke kembali memeluk Sakura. "Aku ingin berdua saja denganmu, malam ini."
Mereka berdua kemudian saling bertatapan. Sakura tersenyum tipis. "Baiklah, baiklah. Kau boleh menginap disini, tuan Uchiha."
Sasuke ternyum kemudian mencium gadis yang dicintainya itu singkat. "Aku suka." Ucapnya pelan dan hal tersebut sukses membuat rona merah muncul kembali di pipi chubby milik Haruno Sakura.
Sakura kemudian menarik kerah baju Sasuke kemudian mencium pemuda tersebut dengan intens. Mereka saling bertukar cairan saliva semabari memainkan lidah mencoba untuk mengalahkan satu sama lain. Tapi pada akhirnya Sakura lah yang harus kalah karena gadis tersebut hampir kehabisan oksigen.
Sasuke kemudian mendudukkan Sakura ke meja makan ia pandangi gadis tersebut. "Bagaimana kalau kita melanjutkan hal yang tadi sempat tertunda, darling?"
"Ta-tapi... makanannya bagaimana?"
"Aku cukup memakan dirimu saja kan?"
Belum sempat Sakura membalas ucapan Sasuke, pemuda tersebut sudah lebih dulu menggigit telinga milik gadis berambut soft pink itu dengan lembut. Membuat sang pemilikya mengerang pelan.
"Ah... Ja-jangan... Sa-sasuke-kun..."
Sasuke tak menghiraukan ucapan Sakura karena ia tahu gadis itu juga ingin.
Pemuda raven itu kemudian turun ke arah leher Sakura, ia kemudia mengecek tanda kepemilikan yang ia buat pagi tadi. Ah, masih ada dan sudah mulai memudar. Ia cium tanda tersebut kemudian ia gigit kasar. Tentu saja hal tersebut membuat Sakura kesakitan sekaligus nikmat.
"Ah! Sa-sakit... uh..."
"Kau milikku."
Sakura terdiam menikmati perlakuan Sasuke yang sedang memainkan tubuhnya. Tangan Sasuke kemudian membuka satu persatu kancing baju miliknya. Jujur saja ini kali pertamanya bagi seorang Haruno Sakura melakukan hal seperti ini. Ia merasa malu sampai rasanya ingin mati.
Sasuke menaikkan bra gadis tersebut tanpa melepasnya. Ia pandangi kedua buah dada milik gadisnya itu.
"Ja-jangan dilihat..." ucap Sakura sembari menutupi dadanya dengan kedua lengannya. Sasuke kemudian menyingkarkan kedua lengan gadis tersebut perlahan.
"Kenapa?" Tanya nya. "Ini... milikku, kan?"
Sakura mengangguk pelan membuat Sasuke menyeringai mesum sembari meremas kedua buah dada tersebut.
"A-ah... Sasuke-kun..." desah Sakura ketika mulut Sasuke mengulum putingnya. Tangan kanan pemuda tersebut menyingkap rok sekolah milik Sakura sembari membelai paha gadis tersebut. "Tu-tunggu.. ahh..."
Sakura kemudian berdiri menghadap Sasuke, pakaiannya masih berantakan. "Ba-bagaimana kalau ki-kita ke ka-kamar saja?" tawarnya.
Tanpa basa-basi lagi Uchiha Sasuke langsung menggendong Sakura ala bridal style. "Kau akan merasakan kenikmatan yang tak tertandingi, Haruno Sakura."
.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
.
Halo kembali lagi bersama saya Azuka-nyan~! Hm... kira-kira sudah berama lama yah saya tak melanjutkan fict ini hahaha. Sekarang saya sudah sangat sibuk dengan tugas kuliah, praktikum, KKL, dsb yang membuat saya harus berurusan dengan dunia nyata, jadi mohon dimaklumi ya para penunggu MHP *senyum tulus*
Terimakasih kepada readers dan silent readers yang sudah sangat setia menantikan fict ini termasuk sudah mereview, memfave, memfollow, dan juga memberi dukungan kepada saya untuk terus melanjutkan fict ini. Maaf sekali saya tak bisa menyebutkannya satu persatu karena waktu yang semakin singkat *tugas kuliah menunggu*
Jangan pernah bosan untuk menunggu kelanjutnya cerita ini ya, Akhir kata...
REVIEW XD
