Perkataan yang dilontarkan Sai, seakan selalu terngiang di telinganya. Tatapan menusuk Sai, sakitnya pukulan Sai, seakan terus saja membayang dibenak Sasuke. Matanya mulai memerah, ingin rasanya Sasuke menangis, dan berteriak sekencang mungkin. Tapi itu tidak bisa dilakukannya. Sasuke hanya terus menunduk, menggenggam sebuah kotak jus dingin di tangannya yang diberikan Naruto beberapa saat lalu. Sementara pemuda blonde itu sendiri tengah menyibukan dirinya untuk mengompres seluruh luka memar yang ada di wajah dan di tubuh Sasuke.

"Kau masih memikirkannya?" Suara lembut Naruto menyentak keterdiaman Sasuke di taman luas itu. Saat ini mereka memang sedang berada di taman belakang kediaman Uchiha.

Sasuke hanya mengangkat kepalanya, menoleh menatap mata biru Naruto yang selalu berhasil menghipnotis kesadarannya.

"Kau tahu sendiri, Sai memang tipikal orang yang seperti itu. Dia egois. Semua yang terjadi dengan keluarga ini bukan karena kesalahanmu, Sasuke."

"Tapi aku–"

"Sudah jangan dipikirkan," Naruto merebut kotak jus milik Sasuke hanya untuk menusuknya dengan sedotan. Setelah itu ia mengarahkan jus itu ke bibir Sasuke, memaksa remaja raven itu untuk meminumnya. "Kau hanya shock. Tenang saja, aku ada disini. Aku akan menjagamu."

Sasuke meminum jus itu dalam diam. Membiarkan Naruto membelai lembut puncak kepala dan bahunya. Sentuhan ini rasanya seperti sudah lama sekali tidak dirasakan Sasuke.

"Berbaringlah… Aku akan mengompres luka memar di wajahmu itu," Naruto menepuk kedua pahanya, memberi isyarat agar Sasuke membaringkan kepalanya disana. "Cepatlah, Teme."

"Eh? Tapi–"

"Ck, aku tidak bisa memastikannya dengan jelas kalau kau terus-terusan menunduk seperti itu," Dengan segera Naruto menarik lengan Sasuke, kemudian memaksanya untuk berbaring diatas pangkuannya. Menyebabkan kedua pipi putih Sasuke bersemu merah mendapati perlakuan manis itu dari Naruto. "Nah, sekarang aku bisa melihat wajahmu dengan jelas."

Senyuman lebar itu sedikitnya memberi kehangatan di hati Sasuke. Belum lagi sapuan jari lembut yang hendak menyingkirkan anak rambut dari wajahnya, lalu usapan kain handuk dingin yang menekan pelan luka di sudut bibir serta rahangnya. Naruto benar-benar memperlakukannya dengan hati-hati, seolah Sasuke adalah benda mahal yang mudah pecah jika diperlakukan kasar dan sembarangan.

"Naruto."

"Hm?"

"Terima kasih," Sasuke menyentuh tangan Naruto, kemudian menatap kedua matanya lekat-lekat.

"Hm, bersabarlah Sasuke. Aku yakin akan ada kebahagiaan dibalik semua kejadian ini. Aku juga yakin suatu saat nanti Sai pasti bisa menerima kehadiranmu seperti halnya Itachi dan Shisui."

"Itu tidak mungkin. Kak Sai sangat membenciku. Dia benar…, aku ini hanyalah anak haram. Seharusnya aku sadar dengan tidak berani menginjakan kakiku lagi di rumah ini. Aku seharusnya malu, karena kehadiranku… aku sudah membuat kehidupan mereka semua berantakan."

"Ini bukan salahmu," Naruto meraih pergelangan tangan Sasuke kemudian meletakannya di pipi bergarisnya. "Kau tidak pernah menginginkan semua ini terjadi. Memangnya kau tahu kalau kau itu anak haram? Apa kau tahu kalau ayah yang selama ini kau pertanyakan adalah seorang Uchiha Fugaku yang terkenal? Dan apa kau juga tahu kalau perusahaan akan mengalami masalah kebangkrutan seperti sekarang? Tidak Sasuke. Ini bukanlah salahmu. Kau hanya pihak kecil yang dijadikan kambing hitam oleh pihak-pihak besar yang tidak bertanggung jawab. Kau tidak bersalah… tapi keadaanlah yang tidak adil pada dirimu."

Mata Sasuke berkaca-kaca. Ia menatap Naruto dalam yang saat ini mengecup pergelangan tangannya berkali-kali dengan ekspresi pilu.

"Kau tidak salah, Sasuke. Kau tidak salah. Ini bukan karena dirimu. Bukan…."

Dan setelah itu ia hanya mampu melihat surai pirang Naruto yang membelakangi cahaya matahari sore perlahan bergerak mendekat. Kepala itu menunduk dan Sasuke merasakan kalau bibirnya yang bergetar telah dibekap oleh sebentuk benda lembut nan kenyal yang menguarkan aroma citrus yang hangat.

Setelah menenangkan dirinya di taman belakang bersama Naruto, akhirnya Sasuke memiliki keberanian untuk menemui Itachi. Meskipun nantinya ia akan mendapatkan cacian dan pengusiran kasar yang sama dengan yang dilakukan oleh Sai, Sasuke tidak peduli asalkan ia bisa melihat keadaan Itachi serta Shisui. Barulah setelah itu ia akan berpamitan untuk pergi jika tak ada yang menginginkannya untuk tetap tinggal disini.

"Sasuke?" Suara seseorang di depan pintu mengalihkan lamunan Sasuke.

"Yahiko-san? Kau sudah menjenguk kak Itachi?" Pertanyaan Sasuke dijawab anggukan pelan dari Yahiko.

"Sekarang giliranmu untuk menemuinya. Jangan takut… Itachi sepertinya sangat merindukanmu."

"Apa iya?"

"Hm, kenapa tidak kau pastikan sendiri?"

"Lalu kau mau kemana?" Sasuke menilik gestur Yahiko yang sepertinya tengah terburu-buru untuk pergi.

"Tentu saja pulang. Urusanku sudah selesai di tempat ini," katanya, sedikit melirik sebelah tangan Sasuke yang digenggam erat oleh Naruto. Yahiko merasa miris dalam hati. Secepat inikah dirinya akan patah hati lagi. "Cepatlah temui dia," Ia meraih dagu Sasuke dan hampir mendaratkan kecupan singkat di bibir delima itu, kalau saja tangan kekar Naruto tidak lebih cepat menyegel mulut mungil Sasuke yang terancam mendapatkan pelecehan dari Yahiko.

Mata onyx sang remaja hanya mampu berkedip saat merasakan bibirnya tiba-tiba dibekap oleh kekasihnya sendiri. Terlebih lagi Sasuke merasa bingung kenapa Yahiko menghela napas kecewa, sementara Naruto terlihat geram dan… cemburu.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu menyentuhnya lebih dari ini?" Delikan sinis diberikan oleh sepasang mata biru yang berkilat tajam. Yahiko menghela napas lagi, kemudian mengedikan bahunya tak peduli.

"Aku bahkan pernah menyentuhnya lebih dari ini," Bibirnya mengulas seringai mengejek yang membuat darah Naruto seakan mendidih diatas kepala.

"Apa katamu?!"

Yahiko terkekeh geli melihat sikap posesif yang diberikan Naruto. Ia melirik Sasuke yang terlihat semakin bingung dan tidak mengerti. Benar-benar remaja yang polos.

"Aku pulang dulu, Sasuke. Sampai bertemu lagi," pamitnya sembari mengacak gemas puncak kepala Sasuke. Itupun tidak berlangsung lama karena Naruto segera menepisnya jauh-jauh. Sasuke sebenarnya ingin menjawab, tapi mulutnya tak kunjung dibebaskan oleh tangan Naruto.

Setelah melihat kepergian Yahiko, barulah Naruto membebaskan mulut Sasuke, dan melihat remaja itu tengah menarik napas lega atas rasa sesak yang mendera jalur pernapasannya.

"Kau hampir membuatku mati kehabisan napas, Dobe."

"Katakan, apa saja yang telah dilakukan pria itu padamu selama kau pergi bersamanya?"

Dahi Sasuke mengernyit. Ia tak mengerti, terlebih kenapa Naruto harus memasang ekspresi seserius itu.

"Aku tidak mengerti. Memangnya apa yang dia lakukan padaku?" Sasuke justru malah balik bertanya sambil memasang pose bingung yang lucu. Jelas saja Naruto langsung menggeram frustasi dan mencium gemas bibirnya.

"Dobe mesum! Nanti dilihat orang lain, Idiot!" Sasuke menampar kuat pipi Naruto sampai membuat pemuda pirang itu mengaduh kesakitan. Ia mendelik galak sebelum memutar handle pintu kamar Itachi. Seketika itu juga Sasuke membeku layaknya patung yang tidak bernyawa.

Di dalam kamar itu terdapat kakak tertuanya, Itachi, bersama kedua sahabatnya, Kurama, dan Kisame. Mereka terlihat memasang ekspresi serius dan seperti baru membicarakan hal yang sangat penting. Sasuke merasa tak enak hati. Ia seperti muncul disituasi yang salah. Apalagi ketiga pasang mata berbeda warna itu kini sedang menatapnya tanpa berkedip.

"Sasuke," Suara baritone lembut Itachi yang memanggilnya, membuat bahu Sasuke semakin menegang dan kaku. Tapi ketika pelukan hangat dan nyaman membekap tubuhnya, seketika itu pula ia merasakan kerinduan yang membuncah di dalam hatinya. "Akhirnya kau pulang."

Sasuke melingkarkan kedua tangannya di pinggang Itachi. Berharap agar pelukan hangat itu tidak secepatnya berakhir.

"Kau tidak akan pergi lagi kan?"

"Kak, aku…."

Sasuke nyaris saja memekik kecewa ketika Itachi melepaskan pelukannya, namun Sasuke merasa senang ketika dua telapak tangan kekar itu membungkus wajahnya dengan penuh kelembutan.

"Apa yang sudah dikatakan Sai malam itu, tak perlu kau ambil hati. Dia hanya belum bisa menerima, tapi kakak yakin suatu saat dia pasti bisa memperlakukanmu dengan baik, seperti selayaknya adik kandungnya sendiri. Percayalah Sasuke, dibalik sifat egois Sai, sebenarnya dia adalah orang yang baik dan juga penyayang."

Sasuke sebenarnya sangsi mempercayai hal itu. Kenyataannya sikap permusuhan dan kebencian Sai terhadapnya semakin lama justru malah semakin menjadi-jadi. Kalau saja tidak ada Naruto yang menolongnya tadi, mungkin ia sudah terusir dari rumah ini layaknya sampah.

"Tetaplah disini. Kakak akan menganggapmu seperti adik kandung kakak sendiri. Meskipun kita berbeda ibu, tapi kita tetaplah berasal dari ayah yang sama."

Mata Sasuke kembali berkaca-kaca. Perkataan Itachi dan juga Naruto sangat mudah mempengaruhi suasana hatinya. Mereka selalu mampu membuat dirinya merasa melambung tinggi tanpa tahu kapan dirinya akan terjatuh suatu saat nanti.

"Terima kasih," bisik Sasuke parau, yang lekas teredam bahu lebar Itachi yang merengkuhnya erat.

Itachi merasa cukup lega. Setidaknya satu-persatu masalah yang mendera hidupnya akan segera terselesaikan. Yang paling terpenting adik kecilnya ini sudah kembali. Meskipun hatinya merasa sakit menerima kenyataan mengenai status Sasuke yang hanya sebagai anak haram dari rahim wanita asing, tapi ia tetap tidak bisa melepaskannya. Karena bagaimanapun Sasuke tetaplah adiknya.

Ia merasakan bahunya basah dan tubuh yang berada dalam rengkuhannya ini bergetar. Itachi tak bisa menutup mata hatinya dari semua itu. Ia hanya mampu mempererat pelukannya serta mencium puncak kepala sang adik yang kini mulai membalas pelukan tak kalah erat darinya.

Sepasang kaki mungil bocah itu berlari riang menghampiri seorang wanita di ruang santai keluarga. Senyum sumringah segera mampir di bibirnya tatkala ia mendengar suara tangisan kecil dari posisinya berada sekarang. Dia semakin mempercepat gerakan kakinya dan mulai duduk di sofa beludru tempat wanita itu terduduk bersama seorang bayi dalam rengkuhannya.

"Kaachan cedang apa?" Ia bertanya penuh minat. Perhatiannya tertuju pada seonggok bayi mungil yang tak henti-hentinya menangis sejak tadi.

"Sai sendiri sedang apa? Bukannya tadi bilang ingin bermain bersama kak Itachi?" Wanita itu balik bertanya, mengukir senyum lembut yang sangat disukai oleh para lelaki di keluarga ini.

Sang anak merengut, jarinya yang mungil meremas ujung pakaiannya yang berwarna biru muda. "Kak Chicui mengacau, Kaachan. Kak Itachi tijak jaji belmain jengan Cai, kak Itachi pelgi ke kamal kak Chicui uncuk belajal."

"Jadi Sai tidak jadi bermain karena kak Itachi lebih memilih mengajari kak Shisui belajar?"

"Um," Sai menganguk lesu, matanya yang hitam bulat berkaca-kaca sebelum teralih oleh suara leguhan lucu adik bayinya. "Em… kalau Cai belmain jengan ajik bayi boyeh?"

"Tentu," Wanita itu tersenyum seraya mengarahkan tubuh mungil sang bayi ke hadapan Sai. "Kau ingin menggendong adikmu?" tanyanya. Sai lekas mengangguk penuh semangat, ia dengan cepat mengambil alih tubuh adiknya yang masih terbungkus buntalan selimut sampai ke leher.

"Ajik lingan," celotehnya. Wanita itu tertawa kecil melihat Sai yang begitu antusias menimang adiknya, meskipun ia juga turut menahan tubuh sang bayi agar tidak terjatuh dalam rengkuhan kecil Sai yang masih berusia 3 tahun.

"Tentu saja ringan, adik kan masih sangat kecil. Nah, Sai, kan kakaknya jadi Sai harus melindungi adik."

"Cai kakak?" tanyanya tak percaya.

"Ya, Sai sudah menjadi kakak sekarang. Adik ini suatu saat nanti akan memanggil Sai dengan sebutan kakak Sai."

Mata Sai kecil berbinar bahagia. Ia menatap paras mungil itu yang ternyata sedang membuka, melihat ke dalam bongkahan kelam yang sama dengan miliknya, namun belum terisi oleh cahaya. "Kakak Cai," sebutnya dengan bangga. Sudut bibirnya melengkungkan senyum puas yang menggemaskan. "Ajik bayi halus memanggil kakak Cai kalau cudah becal."

Wanita itu kian tertawa geli mendengar celotehan lugu Sai, namun ia tetap mengamati interaksi putra ketiganya pada si bungsu.

"Cacuke halus panggil kakak Cai!" putusnya, yang segera menciumi pipi gembil Sasuke yang terus menggeliat dalam rengkuhan lengannya, tapi Sai segera terdiam ketika tanpa sengaja matanya menumbuk pada tanda lahir yang ada di bahu kecil Sasuke.

Sebuah dorongan besar seperti menarik seluruh nyawanya ke dalam raga. Rasa rileks dan buaian memabukan itu seakan menghilang dalam satu kerjapan mata.

Sai menarik kuat-kuat napasnya yang seperti memburu. Sepoian angin yang menyapu sekitar taman itu terasa tak lagi berdampak pada buliran keringat dingin yang menetes dari ujung keningnya. Ia terlonjak kaget seakan dirinya masihlah berada di dalam mimpi itu, namun sebuah rangkulan hangat seseorang menghentikan degupan keras yang ada di jantungnya secara tiba-tiba.

"Me-Menma?"

"Ada apa, Sai?" tanya Menma khawatir mendapati kekasihnya yang sedang tidur nyenyak di atas pangkuannya tiba-tiba saja terlonjak seperti tadi.

"Aku… mimpi…."

"Kau mimpi apa? Apakah itu mimpi yang buruk?"

Sai mengatur napasnya seraya menunduk. Dalam hati ia bertanya-tanya apa maksud dari mimpinya barusan. Ia tak pernah bermimpi saat tidur di siang hari, tapi pada hari ini ia mendapatkannya, terlebih ia mengakui kalau mimpi itu terasa begitu nyata sekali. "Itu… mimpi itu… buruk. Aku… seperti pernah merasakannya, dan, dan, aku… bingung," jawabnya linglung.

"Tenanglah," hibur Menma, memeluk tubuhnya. "Itu hanya mimpi, oke? Dan mimpi hanyalah bunga tidur saja, jadi kau tidak perlu memikirkannya lagi."

Sai menyamankan dirinya dalam pelukan itu. Lamat-lamat buaian memabukan yang sempat menghilang tadi perlahan kembali. Tangan-tangan lembut Menma seperti mengayunkan nyanyian tidur pada raganya yang rapuh.

"Menma?"

"Hm?"

"Terima kasih."

Lelaki bermarga Uzumaki itu membatu sesaat, sebelum bahunya yang menegang kembali rileks. Perkataan Sai, dan juga sikap manisnya, benar-benar membuat perasaannya menghangat. Ia sangat mencintai pemuda eboni ini dengan segenap hati, sepenuh jiwa dan raganya. Menma berjanji akan selalu berada di sisi Sai dalam keadaan senang maupun sedih. Itulah janjinya.

"Kami mendapatkan kabar baru pagi ini. Mengenai surat yang mengancam kehancuran Sharingan corp, kini ternyata terdapat sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan. Surat itu ada sangkut pautnya dengan Akatsuki Inc, perusahaan yang didirikan oleh Rikudou Yahiko yang merupakan salah satu pebisnis handal asal Amerika. Dan pagi ini, Rikudou Yahiko, maupun pihak yang bersangkutan akan kembali mengadakan rapat untuk menentukan hasil keputusan. Sekilas berita pagi ini. Untuk kabar selanjutnya, akan kami laporkan kembali nanti."

Yahiko yang mendengar berita di televisi pagi ini hanya mampu tersenyum simpul. Ia masih saja terfokus pada pantulan dirinya di depan cermin, memasang dasi bercorak merah pada lingkaran kerah kemeja berwarna biru malam miliknya, setelah itu ia memakai jas yang sudah disiapkan Nagato di atas kasur sembari mematut keseluruhan sosoknya yang sudah rapi. Yahiko lagi-lagi tersenyum, tak dapat dipungkiri bahwa ia terlihat begitu senang. Tidak ada hal yang membuatnya takut ataupun resah, karena ia yakin inilah yang terbaik yang harus ia lakukan saat ini.

Perhatiannya beralih pada satu titik yang tertangkap pada cermin. Satu objek bergerak yang baru saja ia tangkap kemunculannya. Yahiko menarik napas pelan-pelan sebelum mencoba untuk tersenyum pada sosok itu.

Ya, inilah yang terbaik.

Wajah dan senyum hangat yang menyambutnya serasa ikut memberinya kekuatan serta ketegaran.

"Boleh aku meminta satu hal?"

Ingatan akan permintaan Menma di taman sore itu kembali terngiang. Sai mencelupkan sebelah tangannya ke dalam air kolam renang, merenung, setengah mengingat.

"Apa?"

"Ini sebenarnya hanya saran," Menma tersenyum seraya mengusap puncak kepala Sai. "Apa tidak sebaiknya kau melupakan rasa bencimu pada Sasuke?" Sebelum Sai sempat menyela, Menma mengecup mulut pria eboni itu dan kembali bersuara. "Tolong jangan marah dulu, maksudku baik, Sai. Aku hanya tidak ingin kau terus-menerus berselisih paham dengan kedua kakakmu. Ada baiknya kau lupakan sejenak kebencianmu itu sampai masalah yang dihadapi Itachi-san mereda, setelah itu aku akan kembali memastikan apakah kau masih mampu membenci Sasuke atau tidak."

"Apa maksud perkataanmu itu? Kau ingin membela anak haram itu dan ikut menyalahkanku, begitu?"

"Tidak, bukan begitu. Menurutku masalah yang sedang dialami Itachi-san serta keluargamu jauh lebih penting dari kebencianmu terhadap Sasuke. Jika kau tidak bisa melakukannya demi kedua kakakmu, atau rasa egomu sendiri, maka kumohon… tolonglah, Sai… lakukan semua ini demi diriku. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, dan pastinya aku tidak sanggup jika harus selalu melihatmu bersedih sehabis bersitegang dengan kedua kakakmu itu."

Percikan air kolam yang beriak akibat gerakan tangannya menyadarkan lamunan Sai di tempat itu. Ia masih terduduk di tepian kolam renang, dan sekarang ia baru sadar kalau Itachi sedang berjalan tepat menuju ke arahnya.

Sai memutuskan untuk berdiri, memasang senyum terbaiknya untuk menyambut kedatangan Itachi, meskipun itu terlihat begitu kaku dan terpaksa. "Aku senang melihat kakak sudah mulai membaik," Matanya melirik sendu pada pergelangan tangan Itachi yang diperban.

"Kenapa kau ada disini?" tanya Itachi heran, karena tidak biasanya Sai melamun di tepian kolam renang seperti tadi.

"Aku hanya… sedang bosan."

"Kau tidak ada kuliah?"

Sai menggeleng pelan, lalu matanya bertatapan dengan iris pekat Itachi. Ada rasa hangat yang menjalar ke relung hatinya. Kehangatan yang sudah hampir tak pernah lagi ia lihat dari sepasang mata kakaknya. "Mengenai masalah ini… kuharap kita menang."

Suara Sai seperti berbisik, tapi Itachi dapat menangkap maksud perkataan itu dengan baik. Ia mengangguk mantap, jari-jari tangannya terangkat menyentuh puncak kepala Sai. Sudah lama ia tidak melakukan hal ini dan rasanya sangat rindu sekali.

"Percayalah kakak akan memenangkan semuanya."

"Aku percaya…."

"Kakak senang kau sudah kembali, Sai," Itachi memeluknya, menyalurkan kasih sayang seorang kakak yang selama ini dirindukan Sai. "Tetaplah seperti ini, jangan berubah lagi."

Tirai jendela itu kembali ia tutup. Sasuke menghela napas lega. Ia baru saja melihat Itachi dan juga Sai berbaikan, saling tersenyum, lalu berpelukan sebagaimana saudara kandung pada umumnya. Meskipun ia tak termasuk ke dalam anggota keluarga ini, tapi rasanya ia tetap saja bahagia, melihat dua orang yang sangat ia hormati kembali akur seperti sedia kala.

Sasuke berniat meninggalkan tempat itu jika saja ia tidak dikagetkan dengan kemunculan Sai dari halaman belakang. Keduanya saling bertatapan dengan pancaran yang berbeda. Sasuke mendadak gugup, ia ingin menyapa tapi tak ada satupun kalimat yang terlintas dalam benaknya. Lidahnya pun menjadi kelu, dan ia sama sekali tak memiliki keberanian untuk memulai. Sampai pada akhirnya Sai memutuskan kontak mata itu lebih dulu, lalu kembali melangkah, barulah Sasuke berani membuka mulutnya.

"Aku–"

"Aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusi dirimu," ucap Sai sarkas. Langkahnya berhenti, dan ia masih mengingat permintaan Menma beserta masalah besar yang tengah dipikul oleh Itachi dan keluarganya. "Ada masalah lain yang jauh lebih penting dari sekadar meladeni kehadiranmu yang tidak penting itu."

Ia sudah memutuskan untuk menurunkan bendera permusuhan ini sejenak waktu, tapi bukan berarti kebenciannya terhadap Sasuke musnah begitu saja. Sai hanya ingin mengutamakan permasalahan keluarganya terlebih dahulu, dan membuang seluruh tenaga maupun emosinya kepada hal-hal yang lebih penting.

"Semoga saja… kau tidak menambah beban kak Itachi lebih dari ini," Sai memberinya tatapan ultimatum pada Sasuke yang hanya bisa mematung mendengarnya. Melihat anak itu yang langsung menunduk, Sai tanpa sengaja melirik bahu Sasuke yang tertutupi pakaian berkerah.

Tidak terdapat tanda lahir kehitaman yang sempat ia lihat malam itu. Sai penasaran apa benar ia pernah melihatnya di suatu tempat. Tetapi ketika teringat akan mimpinya kemarin sore, ia jadi ragu apakah itu benar-benar nyata atau hanya sekadar mimpi tidurnya semata.

TBC

Notes:

Sorry momen Saisasu-nya pending dulu ya. Ada beberapa bagian yang harus saya rombak ulang demi kenyamanan pembaca di fic ini. Maklum ini fic lama jadi penulisannya pun masih acak kadul, dan ada beberapa scene yg menurut saya kurang, jadi harus diperbaiki hehehe.

Ngomong-ngomong udah berapa lama saya hiatus? Ada yang masih inget ga nih sama isi cerita fic ini? hehehe