Chapter 12
BAEK2
.
.
.
Kadang terlintas dibenak Baekhyun untuk tidak jatuh cinta sama sekali, jatuh cinta itu menyakitkan bukan hanya ketika kau merasakan nya secara langsung tapi dengan melihat orang yang jatuh cinta merasakan sakit saja maka akan terasa bagaimana sakitnya jatuh cinta. Kita bisa merasakan apa yang dia rasakan, sakit, sesak dan air mata.
Lantas apa gunanya hidup tanpa cinta? Bukankah cinta yang member warna dalam kehidupan? Entahlah, bisa kalian lihat hidup Byun Baekhyun sebelum dia bertemu Chanyeol, kosong dan tak bersemangat bagaimanapun Chanyeol memberika banyak perubahan yang berarti dalam hidup Baekhyun walau sebenanrnya Baekhyun sendiri tak mengerti dengan semua itu.
.
.
.
Langkah kaki ramping seorang gadis dipinggir pantai tampak begitu semangat, oke ini adalah hari pertama liburan Seulgi dan teman-teman nya dimulai mungkin pantai adalah tempat yang biasa tapi cukup menyenangkan karna liburan ini dilakukan bersama teman-teman nya.
"Seulgi-ah?" panggil salah seorang teman nya yang paling tinggi diantara mereka
"Huh?"
"bagaimana jika kita bercamping saja ditepi pantai ini? Kita sewa tenda saja"
"sebenarnya itu akan lebih terasa dari pada harus menyewa hotel"
"aku hanya akan mengikut kalian saja" sahut Seulgi masih bersemangat
"baiklah kalau begitu kita pesan dulu tendanya"
"Hmm"
Terdengar menyenangkan melakukan camping ditepi pantai, belum pernah dicoba karna itu dia menyempatkan diri untuk mencobanya. Melihat mentari terbenam diujung sana sangatlah menyeangkan sementara yang lain memasang tenda ia berencana untuk pergi ketoko terdekat untuk membeli camilan malam mereka.
"Joohyun eonni apa kau mau ikut?"
"kemana?"
"ketoko, aku ingin membeli camilan untuk kita"
"baiklah, hanya berdua?"
"siapa lagi yang mau ikut?"
"kurasa tidak ada, anak-anak sibuk dengan tenda dan barang-barang mereka"
Kedua wanita tersebut berjalan beriringan menuju toko, jalanan tampak lebih gelap daripada biasanya membuat mereka tak nyaman satu sama lain. Ini terasa sedikit menyeramkan.
"rambutmu terlihat seperti wanita yang menjadi hantu Jepang, Seulgi"
"kenapa?"
"ponimu jelek, membuat suasana gelap ini semakin mengerikan"
"biarkan saja, yang penting aku tetap cantik"
"percaya diri sekali ya"
"eh?"
Seulgi menghentikan langkahnya ketika melihat seseorang diujung sana, meringkuk ketakutan dan dia mengenal pria tersebut, pria tinggi dengan senyum lebar dari telinga ketelinga serta mata bulat dan gigi rapi yang indah. Park Chanyeol.
Lelaki yang sempat mengisi hatinya walau hanya sebentar saja, walau bagaimanapun Seulgi tetap menganggap Chanyeol seperti kakaknya sendiri, yang dia lihat sekarang menyentak hatinya. Kenapa Chanyeol merinkuk dengan memeluk kedua lutut seperti itu di halte bus? Bukankah itu sangat aneh? Terlebih dia adalah seorang laki-laki.
"kenapa berhen—Yakk Seulgi! Kau mau kemana? Jangan tinggalkan aku!"
Kakinya melangkah cepat memastikan apa itu benar-benar Chanyeol atau bukan, dia memang khawatir karna itulah dia berlari menemui Chanyeol tanpa peduli Joohyun meneriakinya dengan kesal dibelakang sana.
"Chanyeol oppa!"
Nafas Chanyeol tampak tak beraturan menimbulkan bunyi sepergi 'ngik….ngik…' dan tubuhnya dipenuhi keringat, apa mungkin Chanyeol itu takut gelap? Entahlah pikiran Seulgi sendiri kalap dan bingung bagaimana cara menyelamatkan Chanyeol saat ini yang terlihat seperti seorang ketakutan atau mungkin Chanyeol beru saja melihat hantu? Karna itukah dia ketakutan? Tidak! Mustahil! Hantu itu tidak ada teriaknya dalam hati.
Seulgi masih kebingungan memanggil-manggil nama Chanyeol sampai tubuhnya digeser kemudian mematung melihat apa yang dilakukan Joohyun, kakak kelas perempuan nya memeluk Chanyeol dengan lembut mengusap surai abu-abu pria tersebut dengan penuh perasaan menenangkan kemudian bergumam tak jelas mengatakan hal seperti,
"tidak apa-apa, aku disini" atau semacamnya
Nafas Chanyeol yang tadinya tidak beraturan kini mulai stabil dengan sendirinya tak adalagi suara seperti 'ngik…ngik…' terdengar disela nafasnya, membuat perasaan Seulgi menjadi lebih lega.
Mata nya masih memperhatikan apa yang dilakukan Joohyun sampai menangkap sosok lelaki dengan penuh airmata menatap mereka disebrang jalan sana, itu Baekhyun. Kekasih Chanyeol dan Seulgi tak ingin semua ini bertambah rumit dia hanya tak ingin hubungan Chanyeol dan Baekhyun menjadi renggang. Air mata Baekhyun barusan menjelaskan bahwa ada rasa kekecewaan disana. Semua ini salah paham!
"Eonni!"
"Huh?" Joohyun beralih menatapnya
"A-apa yang kau lakukan? Kenapa kau tiba-tiba memeluknya?"
"tadi itu kau panik sekali, uh Chanyeol-ssi maafkan aku" Joohyun merenggangkan tubuhnya menjauhkan Chanyeol yang bersandar didinding halte, nafasnya sudah beraturan
"kau tau dia kenapa?"
"dia takut gelap, sepertinya ini semacam fobia. Kau tau Lami juga sering mengalami hal ini dirumah salah satu caraku mengobati itu dengan memeluknya"
"benarkah? Um te-terimakasih"
"bukan masalah"
"C-chanyeol oppa"
"Hng?" Chanyeol hanya bergumam menjawab panggilan nya
Lampu yang tadinya mati mulai mengerjap beberapa kali sampai benar-benar hidup denga cahaya yang terang membuat kekuatan Chanyeol perlahan memulih.
"apa masih sakit?"
"tidak, terimakasih"
"syukurlah"
Seulgi tampak kaku sekali sekarang, dia memikirkan Baekhyun tapi dia jua takut untuk bertanya situasi ini teramat sangat membinngungkan baginya.
"aku ingin pulang" serak Chanyeol mulai bangkit
"apa kau kuat?"
"Hng, sekali lagi terimakasih"
"bukan masalah oppa anggap saja ini balas budiku pernah kau tolong dulu"
"Chanyeol-ssi?"
"ya?"
"kenapa kau sendirian disini? Apa kau baru saja melihat hantu?"
"Umm itu… aku takut kegelapan, tadi saat aku sedang duduk tiba-tiba saja lampunya mati"
"apa ini pertama kalinya?"
"Eonni, kenapa banyak sekali bertanya?" Seulgi merasa tidak enak dengan Chanyeol yang baru saja berdiri
"taka pa Seulgi-ah, sejak tiga tahun terakhir ini memang yang pertama. Dulu ibuku juga melakukan hal yang sama ketika aku mengalaminya, pelukan itu menenangkan"
"jika hal seperti itu terjadi lagi jangan sampai kau sendirian. Hal seperti itu memang sepele tapi jika tidak ditangani dengan cepat akan menajadi berbahaya"
"yak au benar umm—"
"Bae Joohyun, kau bisa memanggilku Joohyun"
"ya Joohyun-ssi, apa kau ingin menjadi seorang dokter?"
"haha tidak kok!" Joohyun tertawa hambar kemudian melanjutkan kata-katanya "aku hanya tau sedikit soal itu"
"kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa Seulgi-ah, Joohyun-ssi"
"berhati-hatilah"
Setelah kepergian Chanyeol kedua wanita tersebut masih berdiri disana dengan pikiran masing-masing, Seulgi masih mengkhawatirkan kekasih Chanyeol, apa dia harus menyelesaikan semua ini atau diam adalah pilihan terbaik? Joohyun beralih menatapnya dengan kerutan didahi.
"ada apa?"
"bukan apa-apa" jawab Seulgi terkaget
"apa dia seorang gay?"
"Hah?"
Mata sipitnya menatap tak percaya pada Joohyun, bagaimana bisa wanita itu tau dengan orientasi seksual Chanyeol sementara mereka bertemu kurang dari satu jam. Apa Joohyun seorang peramal? Ini mengejutkan sekali.
"bagaimana kau tahu?"
"kau tau Seulgi? Jika dia pria normal dia akan balas memelukku atau bahkan memanfaatkan kesempatan ini juga mungkin dia akan terangsang dengan ini semua karna tadi wajahnya tepat berada didadaku tapi nyatanya dia bahkan bereaksi seakan-akan yang dia lalui hanyalah hal yang tak menarik"
"Umm… kau benar dia itu se—"
"sudah kuduga! Aku memang calon psikolog yang handal!" senang Joohyun
Dia langsung melangkah dengan riang menuju toko yang tadi mereka akan kunjungi sementara Seulgi kembali terkaget dengan tingkah laku Joohyun, dia itu pintar dan kekanakan dirinya masih tak habis pikir bagaimana seorang seperti Joohyun bisa mendapatkan kekasih tinggi dan tampan seperti Kris Wu.
.
.
.
Tubuh mungilnya yang meringkuk dibalik selimut tampak bergetar dan naik turun, Baekhyun masih menangis entah kenapa dia merasa dikhianati oleh kekasihnya. Wanita tadi memang terlihat berparas cantik dan lemah lembut, apa mungkin dia adalah selingkuhan Chanyeol? Bodohnya wanita itu sampai mau menjadi yang kedua ataukah Chanyeol sebenarnya tidak pernah mengakui dia sebagai seorang kekasih? Sial! Memikirkan semua itu membuat kepalanya sakit. Baekhyun kembali terisak karna memang satu-satunya hal yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah menangis.
Dia telah jatuh terlalu dalam pada Chanyeol, sekarang dia merasa seperti tercabik-cabik dipukul oleh kenyataan bahwa nyatanya Chanyeol masih menyukai wanita. Jadi apa maksudnya selama ini? Untuk apa dia menjadi kurus selama tidak bertemu dengan Baekhyun? Untuk apa dia mengungkapkan semua kata cintanya pada Baekhyun? Dan yang paling penting untuk apa mereka berbagi tubuh satu sama lain jika didalamnya tidak ada perasaan.
Baekhyun masih terisak dengan kerasnya didalam selimut sampai telinganya menangkap sesuatu seperti pintu yang dibuka. Baekhyun membuka selimutnya turun dari ranjang dengan perlahan, sebenarnya dia belum sanggup bertemu Chanyeol.
Sementara diluar sana Chanyeol juga merasa bersalah dengan Baekhyun, dia sendiri juga rasanya belum siap bertemu Baekhyun. Chanyeol tidak masuk kedalam kamar, bahkan dia tidak membuka pintu kamarnya dengan semua rasa lelah ditubuhnya Chanyeol bersandar pada pintu kamar, rasa bersalah teramat kuat dia rasakan pada Baekhyun dan Baekhee kenapa dia begitu jahat setelah mengencani adiknya beralih dengan mengajak nikah kakaknya. Benar-benar brengsek!
"C-chanyeol…" Baekhyun memanggil namanya nyaris seperti bisikan dibelakang pintu kamarnya, dia sendiri juga enggan membuka pintu kamar tersebut
Hingga akhirnya melakukan hal yang sama dengan bersandar pada pintu kamarnya memejamkan mata, kelihatan seperti drama klasik yang saling menyakiti tapi kenyataan nya memang seperti itu. Mereka hanya sama-sama belum siap dengan semua ini.
.
.
.
.
Malam berbintang seperti sekarang cocok sekali untuk menemaki kegalauan hati Jaehyun dia berulang kali menghela nafas kemudian membuangnya, hanya itu yang dia lakukan sejak tadi ditemani segelas minuman didepan nya. Seumur hidup Jaehyun belum pernah minum soju tapi setelah melihat di dalam televise orang-orang merasa lebih ringan setelah meminum ini Jaehyun dengan iseng juga mencobanya, didalam kepalanya masih teringat dengan jelas ucapan Taeyong.
"aku bisex, tidak ada yang menyangka bahwa aku memiliki kekasih seorang lelaki"
"sialan!" umpat Jaehyun memukul angin didepan nya
Disebelah botol soju nya masih ada kertas dengan nomor ponsel Lee Taeyong yang belum dia sentuh sama sekali, batin nya berperang didalam sana
Telpon?
Tidak!
Telpon?
Tidak!
Telpon?
Tidak!
Telpon! Persetan dengan dia memiliki kekasih atau tidak
Suara nada sambung terdengar jelas ditelinga Jaehyun entah kenapa dia tiba-tiba merasa gugup sekali saat akan berbicara dengan orang yang selama beberapa hari belakangan cukup membuat hatinya seperti diremas, sial! Lee Taeyong memiliki sejuta pesona menggairahkan dengan rambut pink nya tersebut.
"hallo?" terdengar sapaan seseorang disebrang sana
"H-hallo?"
"maaf ini siapa?"
"Taeyong?"
"Uh?" yang disebrang sana terdengar bingung namun sesaat setelah keheningan
"Jaehyun?"
"huh? Bagaimana kau tau?"
"hanya kau yang memanggil namaku seperti itu"
"eh? Bukankah itu memang namamu?"
"benar, tapi semua kenalanku memanggiku dengan panggilan Tiway"
"cih! Apa-apaan itu"
"hei jangan marah, itu artinya kau special bukan?"
Jaehyun memerah beberapa saat, ayolah! Jaehyun itu seharusnya menjadi dominan bukan submissive
"kau tidak memberi tahuku nama panggilanmu yang itu"
"aku sengaja"
"sengaja kenapa?"
"agar saat kau menelpon aku tau bahwa kau adalah Jaehyun, entah kenapa aku merasa kita adalah takdir"
"wow"
"hanya wow? Tak ada respon lain?"
"lalu kau ingin aku merespon seperti apa? Seperti sebuah tangisan atau jeritan?"
"tidak juga, setidaknya kau mungkin akan menggodaku"
"aku tidak hobby menggoda kekasih orang Tae"
"cocok kan, aku juga tidak memiliki kekasih"
"hei, jangan begitu kasihan kekasihmu kalau tidak kau anggap seperti itu"
"aku jujur Jaehyun, kenapa bisa kau beranggapan aku memiliki seorang kekasih"
"kau sendiri yang mengatakan nya di rumah sakit"
"benarkah? Aku lupa hehe" terdengar kekehan disebrang sana
"jadi kau tidak memiliki kekasih?"
"dulunya ada, tapi sekarang dia sudah tidak bersamaku"
"kenapa?"
"dia… kau tau? Tak banyak yang mau bertahan dengan seorang yang penyakitan sepertiku kurasa terlalu lama dirumah sakit membuatnya tak nyaman karna jarang bertemu dia menemukan yang lain nya"
"ka-kau tidak berbohong kan?"
"aku tidak terlalu suka berbohong, apalagi jika kebohongan tersebut sama sekali tidak menguntungkan bagiku tapi aku pernah berbohong"
"wow"
"wow lagi?"
"aku hanya tak tahu harus mengatakan apa lagi, tapi apa kau merindukanku?"
"Umm, lumayan. Mau melepas rindumu?"
"besok di xxx café jam dua siang"
"sure"
Jaehyun sendiri tidak tahu seperti apa reaksi yang harus dia berikan sekarang ini, luar biasa! Ternyta tuhan masih berpihak padanya dengan mengembalikan Taeyong padanya. Ingin rasanya dia melompat dan berteriak pada seluruh dunia bahwa dia akan segera memiliki lelaki bersurai pink tersebut.
Setelah sambungan nya terputus Jaehyun dengan cepat memencet nomor pada ponselnya, Sehun hyung
"hallo jae—"
"hyung!" suara Sehun langsung terpotong teriakan keras dari Jaehyun
"ada apa?"
"mau kutraktir mie hitam? Aku akan kesana sekarang"
"malam-malam begini?"
"tunggu saja!"
.
.
.
.
"jadi kenapa kau tiba-tiba saja mentraktirku seakan kita ini akrab Jaehyun-ssi?"
"eh? Panggilan macam apa itu"
"aku jadi curiga, jangan-jangan kau menaruh racun dalam mie milikku"
Jaehyun memutar bola matanya dengan malas menghentikan acara makan nya kemudian menatap Sehun dengan datar tak lama tangan nya bergerak cepat menyendok mie yang belum tersentuh oleh Sehun dan memakan nya.
"see? Aku tidak mati jadi sebaiknya habiskan traktiran ku sebelum Luhan hyung datang menghabisiku karna memberimu makanan cepat saji"
"aku hanya curiga, tapi karna kau benar belum mati maka akan kumakan ini sekarang"
Dengan semangat Sehun membuka mulut memakan mie pemberian calon adik iparnya, menyenangkan memang memakan makanan gratis ketika perutmu kosong ditengah malam.
.
.
.
.
Masih ragu!
Tapi entahlah sejak dia bangun bahkan belum mendengar pergerakan dibalik pintu selain deruan nafas yang terdengar lirih, apa Chanyeol baik-baik saja? Baekhyun berpikir keras untuk membuka pintu atau tidak, apa dia harus tetap didalam sampai Chanyeol masuk kesini dan menjelaskan semuaya atau dia harus keluar menghadapi apapun yang dilakukan Chanyeol diluar sana?
Pada akhirnya egonya mengalah dan membuka pintu dengan cepat tapi yang dia dapati adalah benturan sebuah kepala dikakinya, Chanyeol rupanya masih tidur walau waktu sudah menunjukkan jam setengah delapan pagi. Baekhyun ingin berteriak marah tapi kemudian amarahnya padam mendengar lenguhan dari lelaki didepan nya.
"euugh" Chanyeol mengeliat tak nyaman perlahan membuka mata sayunya
"Baekhyun…" serak nya
Baekhyun hanya membuang muka berjongkok didepan Chanyeol membantu yang lebih tinggi untuk duduk dengan benar, Chanyeol bersandar pada pintu menghela dan membuang nafas nya dengan berat dia nampak kesakitan menimbulkan kecemasan tak beralasan dihati Baekhyun, tangan lentiknya terjulur menyentuh kepala lelaki besarnya.
"astaga Chanyeol! Kau panas"
Baekhyun terkaget bukan main merasakan kepala Chanyeol yang begitu panas tangan nya serasa terbakar ketika memegangi kepala Chanyeol, Chanyeol hanya menatapnya dengan senyuman tipis yang dirasa Baekhyun seperti ejekan.
"kenapa tersenyum hah?"
"galak sekali kekasihku ini" ucap Chanyeol lemah dengan suara masih serak
Baekhyun membantu Chanyeol beridiri memapahnya keatas ranjang kemudian menyelimuti nya, tubuhnya duduk ditepi ranjang sambil menatap Chanyeol yang tampak tak nyaman karna demam nya. Baekhyun luluh, Chanyeol sedang sakit walau hatinya masih sakit mengingat kejadian semalam tapi Chanyeol sudah pulang saja dia rasanya lega.
Baekhyun menyingkirkan poni Chanyeol yang menutup matanya mengusap dengan pelan rambut bayi besar didepan nya, Chanyeol nya yang dia cintai ini benar-benar mengacaukan perasaan nya.
"kenapa pulang telat?" tanya Baekhyun penuh kelembutan
"maaf"
"kenapa juga tidak masuk kamar?"
"maaf"
"berhenti meminta maaf Chanyeol dan jawab pertanyaan ku"
"sakit Baekhyun" adu Chanyeol memelas
"apa yang sakit?" Baekhyun kembali melunak mengusap rahang tegas Chanyeol
"kepalaku"
"tunggu disini ya, aku buatkan sarapan"
Tangan nya dicekat oleh Chanyeol dalam satu tarikan sudah berbaring bersama Chanyeol diatas tempat tidur. Baekhyun ingin menolak kemudian pergi tapi Chanyeol masih saja lebih kuat darinya.
"seperti ini dulu, kumohon" pinta Chanyeol dengan lembut
"C-Chanyeol?"
"hng?"
"apa kau,… ugh bukan apa-apa. Tidurlah"
Baekhyun mengeratkan pelukan nya melayang menuju alam mimpi bersama Chanyeol, semalam memang sebagian dia habiskan dengan menangis membuatnya mengantuk jadi tak ada salahnya dia tidur bersama Chanyeol, mari lupakan masalah semalam untuk saat ini karna Chanyeol masih bersamanya.
Dengkuran halus disebelahnya membuat mata bulat Chanyeol terbuka menatap paras lelaki bagai malaikat disampingnya, Chanyeol kembali memejamkan mata merasakan hatinya kembali menghangat, dia memang membutuhkan Baekhyun-nya.
.
.
.
.
Tubuhnya terasa diguncang pelan oleh seseorang, Chanyeol membuka matanya menemukan Baekhyun tersenyum tipis didepan nya lelaki tinggi tersebut membalas senyuman nya kemudian mendapatkan kecupan kecil dibibir tebalnya.
"bangunlah, sudah siang kau belum makan sejak pagi kan?"
"hng, jam berapa sekarang Baekhyunee?"
"jam satu siang, kau itu tidurnya nyenyak sekali"
"maaf"
"kenapa minta maaf? Karna kau tertidur nyenyak? Seharusnya itu menjadi hal yang bagus"
Baekhyun menuntun kekasihnya untuk duduk diruang makan kemudian menghidangkan sepiring nasi dan semangkuk sup didepan Chanyeol, lelaki bermarga Park tersebut menghabiskan makanan nya dengan cepat seakan masakan Baekhyun adalah yang paling enak didunia ini.
"Baekhyun?"
"hum?" baekhyun menoleh duduk disampingnya
"maaf"
"sudahlah lupakan"
"kau tahu aku meminta maaf untuk apa?"
"untuk semalam kau berpelukan dengan selingkuhanmu itu?"
Mata Chanyeol nyaris keluar karna kaget dengan jawaban Baekhyun, selingkuhan? Siapa yang Baekhyun maksud? Joohyun? Astaga demi tuhan!
"maksudmu yang—"
"jangan berpura-pura tidak tahu setelah kau sendiri yang mengungkitnya Chanyeol"
Chanyeol memijit pelipisnya, kepalanya terasa sakit
"kau terlalu cepat mengambil kesimpulan Baek"
"lalu apa? Kenapa kau berpelukan dengan seorang wanita ditempat gelap seperti itu?"
"berpelukan kau bilang? Kau sebut berpelukan saat aku sama sekali tak merangkul wanita itu?"
"lalu itu semua apa Chanyeol!?"
"pelankan suaramu" Chanyeol menatap Baekhyun tajam menciutkan emosi Baekhyun yang tadinya sudah berapi-api
"maaf sayang" Chanyeol menyelipkan kedua tangan nya diketiak Baekhyun mengangkat lelaki ringan tersebut dalam pangkuan nya. Baekhyun masih membuang muka enggan menatap kekasihnya
"maafkan aku ya"
"jadi kau memang benar berselingkuh?" tanya Baekhyun takut-takut
"mau mendengarkan penjelasanku?"
"huh?" baekhyun menatap bingung kemudian mengangguk lucu
"kau ingat aku takut gelap?"
"fobia mu?"
"semalam itu kambuh dan seseorang datang membantuku saat kambuh penenangan dari seseorang memang cara cepat mengobatinya sayang"
"lalu siapa dia?"
"Joohyun, teman nya Seulgi"
"lain kali aku yang akan memelukmu Chanie"
"tentu, kau adalah kekasihku. Memang sudah seharusnya"
"maaf sudah kekanakan"
"maaf juga sudah menjadi brengsek"
"eh? Apa maksudmu?"
"aku… aku merasa benar-benar menjadi bajingan Baek"
Chanyeol menundukkan kepalanya
"kenapa?"
"aku mengencani adikmu setelah itu aku mengajakmu menikah, bukankah itu sangat brengsek?"
"C-chanyeol?"
Tubuh Baekhyun menegang seketika tapi kemudian tangan nya bergerak melingkari leher Chanyeol memeluknya begitu erat diiringi elusan lembut dibelakang kepala bayi raksasa kesayangan nya.
"tidak Chanyeol, kau lelaki terbaik yang aku kenal"
"maafkan aku Baek"
"kau adalah Chanyeol kesayanganku, jadi jangan pernah merasa seperti bajingan, maafkan aku! maaf aku tidak member tahumu bahwa aku adalah kakak nya Baekhee, tapi sepintar apapun aku menyembunyikan nya ternyata tuhan punya cara sendiri agar kau mengetahuinya. Maaf"
"aku juga minta maaf Baekhyun"
"tak apa, semua sudah berakhir kekhawatiranku selama ini sudah berakhir sekarang"
"mau menciumku?"
"sure babe"
Baekhyun mendekatkan wajahnya mencium lembut kekasihnya, ternyata kekhawatiran nya selama ini sudah berakhir Chanyeol memang sedikit tertekan dengan kenyataan ini tapi semua terasa sangat ringan setelah mereka sama-sama jujur menekan kuat keegoisan dan rasa gengsi.
Baekhyun merasa tubuhnya melayang, mereka berjalan menuju kamar masih dalam keadaan bertautan Baekhyun pikir mereka akan berakhir dengan sex seperti biasanya tapi ternyata dia salah, Chanyeol memisahkan tautan mereka kemudian mendudukkan nya diatas nakas, tangan nya mengambil sesuatu didalam laci meja mengeluarkan nya tepat didepan Baekhyun.
'Umm… mungkin ini tidak romantis tapi maukah kau menikah denganku Park Baekhyun?"
Blank
Semua pikirann nya menjadi kosong seketika, apa dia baru saja dilamar? Astaga! Baekhyun merasa panas menjalar keseluruh sisi pipinya dengan kaku mengangguk meneteskan air matanya.
"aku malu~" rengek nya menutup kedua mata dengan tangan
"manisnya istriku…"
Chanyeol kembali meraup bibir penuh calon istrinya, ini semua belum berakhir karna sebentar lagi mereka akan segera menjadi orang tua
.
.
.
.
.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
.
.
Akhirnya aku selesai pra-UNBK makanya bisa ngelanjutin yang kegantung ini. Gaje ya? ngga suka sama endig nya?
Apa ada yang mau lihat dedek Chanhyun lahir dulu?
Apa stop sampai Chanbaek lamaran aja? Hehe
Saranghaee cbhs kesayangan
