Terinspirasi dari Voyeur by Nelliel-Ni dan Liberated by Shante Diamond.

(Both were KibaIno stories XD)

.

Disclaimer : I only own the story

.

Love and Hatred

.

Warning! : Mainstream Idea

.

.

.

Chapter 11

Osaka

Rabenda Boutique

Berjam-jam lamanya pria pirang itu menunggu dengan penuh kesabaran dan semangat yang tinggi. Penantian ini terasa berbeda dengan mencipta getaran-getaran asing dalam hatinya. Hangat dan cerah. Dua kata yang mengilustrasikan konteks hatinya di saat ini. Bagaikan terang oleh seberkas cahaya. Senyum lebar senantiasa terpatri di bibir tipisnya. Menandakan kerelaan yang teramat dalam bagi pria itu untuk melakukan sebuah kegiatan yang paling membosankan.

Satu kala dirinya duduk santai saat jemarinya memainkan layar HP, kala berikutnya dia berdiri untuk mengamati sketsa-sketsa desain hasil torehan marker di sebuah whiteboard. Lenggak dan liuk yang membentuk sebuah karya yang mengagumkan. Bagian dalam otak besarnya yang disebut dengan lobus temporal dan lobus frontal melakukan koordinasi demi bisa memetakan deretan garis dan sudut yang saat ini menarik atensinya. Meski tidak menggeluti bidang fashion design sedikit banyak Naruto memahami tentang nilai-nilai seni yang begitu tinggi. Hal yang tidak aneh mengingat pria itu sudah terlampau acap menikmati sentuhan karya semacam ini. Saat dirinya membangun koneksi dengan para desainer yang ingin mempromosikan karyanya.

Sebut saja Mei Terumi, desainer kondang seantero Jepang. Yang mengedepankan kemewahan membuat hampir setiap karyanya selalu terkesan glamor. Atau mungkin Orochimaru, pria yang konon mantan seorang kriminal ini mampu menembus pasaran regional dengan karya-karya uniknya. Untaian tali tebal yang terlihat seperti ular selalu menghiasi setiap desainnya, mungkin merupakan sebuah dogma yang menjadi pembentuk karakter seorang Orochimaru.

Interval demi interval waktu berjalan. Mengagih sebuah kejemuan pada pria itu. Netra safirnya melirik malas pada jarum jam arloji yang melingkar di sendi pergelangannya. Seolah mengejek, jarum jam itu berotasi tanpa henti, membeberkan tawa sinis sepasang batang tipis. Hembusan nafas bergulir kasar dari dalam rongga mulutnya.

Pada jenak selanjutnya, pria tampan itu menyibukkan iris birunya dengan sebuah substansi nyata yang terpampang begitu anggun. Seorang wanita dengan wajah putih halus laksana material porselen yang dipoles sedemikian rupa. Sepasang belah pipi tembam dan hidung mungil yang mancung menjadi kontur indah dari sebuah seni pahat yang sempurna. Jangan lupakan bibir mungil merekah, yang membentuk performa bulat seakan merengek untuk disentuh.

Naruto menyedot saliva sebanyak mungkin, mendorongnya kasar ke dalam kerongkongan hingga menampilkan gerakan naik turun pada jakunnya. Sel-sel darah merah kembali terpompa naik, terkonsentrasi tinggi di bagian dalam pipi tirusnya. Memendarkan semburat merah sebagai simbol pengakuan ketaklukan hatinya akan kecantikan seorang Hyuuga Hinata.

Tidak.

Sekalipun tidak pernah pria pirang itu mengalami hal serupa. Pun di saat persuaan dengan seorang wanita yang telah menjadi korban kedangkalan pikirnya.

Netra safir itu menguarkan binar kekaguman, terlalu memuja menatap sang kekasih hati yang masih enggan untuk mengacuhkannya. Tanpa sadar saat sepasang tungkainya bergerak, melangkah dan menghapus jengkal demi jengkal ruang yang memisahkan raganya dengan sang intensi.

"Jangan menggangguku, Tuan."

Cukup sebaris kalimat untuk menghentikan semua gerakan perlahan yang sedang pria itu lakukan. Mungkin saat ini otaknya sedang vakum sehingga mengakibatkan kinerja jantungnya terhenti. Detakan nadi dan deru nafas seakan sama-sama tercekat di dua saluran yang berbeda. Rasanya begitu sesak, ibarat ada sebuah batu besar mengganjal menghalangi sistem metabolisme tubuhnya. Hatinya perih bak ditusuk-tusuk dengan kuku pancanaka. Entah sejak kapan negeri matahari terbit itu mengenal senjata pusaka tokoh pewayangan.

"Tidak. Tapi apakah kau masih lama? Ini kan sudah lewat jam makan siang, bagaimana kalau kita makan siang bersama?"

Fotografer memang profesi utamanya, tetapi terlalu lama bergaul dengan model dan aktris melantarkan sebuah keahlian baru bagi dirinya. Berakting. Seakan-akan barisan kata yang baru saja diucapkan oleh bibir mungil wanita itu tak menganjurkan satu efekpun pada dirinya.

"Kalau kau lapar, silakan saja makan duluan. Aku masih terlalu sibuk."

Shit!

Apa sebenarnya material pembentuk hati manusia? Bukankah otot miokardium yang dikelilingi membran kantung? Yang begitu lunak dan mudah goyah? Lantas mengapa hati wanita di hadapannya ini seakan terbuat dari besi dan baja? Yang terlalu kaku bahkan untuk sekedar digeser?

"Aaaa... Tidak, aku akan menunggumu hingga selesai."

"Jika memang begitu, silakan duduk dan diam. Jangan ganggu pekerjaanku!"

Tunggu! Benarkah pria itu adalah Namikaze Naruto? Pria yang terkadang suka seenaknya dan sedikit pemaksa? Jika iya, mengapa pula yang terlihat saat ini bagaikan sebuah inversi? Terlalu bertolak belakang dari apa yang disebut sebagai kelumrahan.

Terduduk jemu, Naruto mengeluarkan ponsel pintarnya. Jemari kekar yang terlatih dengan fokus lensa kamera, menyentuh dan menggeser layar dengan cepat. Kentara sekali hanya sebagai suatu aktivitas pengalih atensi.

Greekkkh

Gesekan kaki kursi dengan lantai marmer memasuki cuping telinga Naruto, membuat kepala pirang laki-laki itu menengadah. Mendapati pemandangan yang cukup membangkitkan sensasi familiar pada tubuhnya.

Oh, mungkin beberapa waktu lalu, netra birunya tidak terlalu fokus, atau mungkin organ terpenting dalam tubuhnya sedang lumpuh sementara. Mengingat tidak satupun gambaran Hyuuga Hinata yang terpindai matanya saat ini melintasi pikirannya menit-menit yang lalu.

Wanita itu, apakah memiliki sebuah karsa untuk sengaja menggodanya? Bayangkan saja, tubuh sintal yang terbungkus sempurna oleh material katun. Begitu melekat, membentuk deretan lekuk sempurna yang akan mampu membangkitkan gelenyar birahi bagi kaum Adam. Belum lagi kaki jenjangnya yang terbuka hingga ke paha sempat mengusik ketenangan iman. Terkhusus laki-laki yang saat ini sedang memandangnya intens.

'Oh My... I wonder how it looks like without that layer?'

Pikiran mesum melintas, mulai terjejal dalam kepala Naruto. Didukung oleh sesuatu di bawah sana yang menagih sebuah atensi, mengingat sudah berminggu lamanya tidak ada satupun sentuhan yang menghampiri.

"Aa.. Kau mau kemana, Hinata?"

Hinata memutar matanya bosan. Tetapi Naruto tak mempersoalkannya. Laki-laki itu terlalu sibuk dengan objek pandangannya saat ini.

"Bukan urusanmu. Jika kau lelah menunggu kenapa tidak pulang saja?"

Luapan kata penuh emosi mengalir menjadi sekelebat tamparan panas yang mendarat di pipi bergarisnya. Tapi sekali lagi, pria itu memilih untuk menelan segala kegundahan dan bertahan di tengah terpaan aura dingin sang wanita.

Permata safir mengekori langkah sang wanita yang berjalan pelan keluar dari pintu ruangan. Naruto mendesah kasar, matanya terpejam begitu erat. Kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dan mulai merebahkan diri.

Percik-percik memori mulai terlihat. Seakan berbanjar begitu rapi di dalam otaknya. Naruto mengalah, melepaskan egonya sejenak dan mulai menderma afeksi pada lajur-lajur memori itu. Berusaha memindai satu persatu, tentang sebuah ingatan masa lalu. Kiranya dosa apa yang pernah dia lakukan hingga mendapat karma sekejam ini? Oh suatu soalan yang sebetulnya tidak membutuhkan jawaban. Tetapi kedunguan membuat dirinya enggan untuk menghakimi diri sendiri.

.

Bosan.

Pria itu terlalu bosan.

Entah berapa jam berlalu sejak wanita itu meninggalkan ruangan. Yang jelas, ketika mata birunya mengintip ke luar jendela, tampak rona jingga telah muncul menghiasi langit. Mengartikan hari yang sudah menjelang petang.

Shit!

Rutukan menggeram keluar dari bibir tipis itu. Seharian ini pria itu menghambakan diri kepada sang waktu, tetapi tak seujung kukupun hasil dia dapatkan.

"Aaargghhh!"

Teriakan frustrasi membahana seantero ruang kecil itu. Selanjutnya hentakan kasar kedua tungkai kekarnya ikut menjadi tabuhan pengiring amarah yang telah meluap.

"Aaa Tuan, Anda masih di sini?"

"Dimana Hinata?"

"Huh? Nyonya Hinata bukannya sudah pulang sejak tengah hari tadi? Apakah dia tidak berpamitan padamu?"

Naruto membolakan matanya begiru lebar. Sekujur tubuhnya terasa panas hingga mendidih, riuh detak jantungnya menggelora seolah organ tubuh tersebut hendak melompat keluar. Hati yang sudah terluka ibarat semakin remuk tak berbentuk. Oh setan jahanam mana yang merenggut sisi kemanusiaan seorang Hyuuga Hinata? Hingga sampai hati menindas hati laki-laki macam dirinya?

Ayolah, Namikaze Naruto hingga saat ini bahkan masih terlalu larut dalam keangkuhannya. Tak akan melontarkan kata maaf yang baginya hanya sebuah ilusi yang jauh dari kenyataan.

"Oh, jadi dia sudah pulang? Apa kau tahu di mana rumahnya?"

"Um.. Nyonya tinggal di mansion Hyuuga, Tuan. Tetapi kalau Anda berharap bisa mengunjunginya di sana lebih baik Anda lupakan. Lagipula tadi Nyonya pulang bersama Tuan Gaara, kekasihnya."

"A-Apa?"

Seolah patahan bumi yang dipijaknya bergeser. Meruntuhkan segala kemassivan tulang penyangga tubuh. Mencipta getaran lemah yang merambat dengan lantunan degup kencang jantung sebagai melodi pengiring.

Aaaaa.

Pria itu masih saja terlalu sombong. Bertanya-tanya tentang sebuah kesalahan yang telah dilakukannya pada masa lampau. Terlalu lantam arogansi itu untuk diluluhlantakkan. Kepalan tangan saling meremas erat, menyalurkan senyar panas ke seluruh jaringan, menderma energi kalor yang begitu tinggi. Hingga membakar hangus akal sehatnya.

"Apa kau tahu di mana rumah laki-laki bernama Gaara itu?"

Sang pelayan mengangguk gugup. Kentara sekali kegaguan tengah menderanya. Bukan saja perkara gelombang amarah yang menguar dari tubuh pria itu telah sampai padanya, melainkan sebuah eksistensi nyata seorang pria hot yang begitu dekat dengannya. Menghimpit tubuh mungilnya layaknya isi sandwich. Antara dinding dengan tubuh kekar itu.

"Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, Manis." Bisik sang cassanova yang mendadak menampakkan kembali ruhnya.

Ya. Emosi yang merajai berhasil menempa otaknya hingga tumpul. Memilih jalur yang salah dengan menuruti kecemburuan yang tidak berdasar. Naruto tidak peduli. Mengabaikan segala argumen demi mencari pembenaran atas tindakannya.

"Baiklah, jadi kau akan mengantarku ke rumah Gaara itu dan-"

Naruto menyeringai tajam bak iblis rubah ekor sembilan saat mendapati sepuh merah padam telah menaungi wajah sang pelayan.

"-aku akan memberikan kenikmatan tak terkira, yang kau inginkan."

.

.

.

Osaka

Otedori, Osaka-Shi Chuo-Ku

Malam itu udara hangat berhembus. Sebuah konveksi alam yang mampu menyampaikan kehangatan itu hingga ke kulit manusia. Senyap yang seharusnya tercipta sedikit terganggu dengan keberadaan kumpulan manusia. Yang tengah tenggelam dalam lautan kesibukan yang nyaris tanpa dasar. Gempita yang didominasi hentakan karet sepatu seakan menjadi senandung yang menghibur bagi malam yang tak terlalu dingin.

Pendaran mega merah memeri bak lautan darah, menghiasi langit malam yang masih temaram. Terkadang angin bertiup membelai, membuai lelah manusia dalam dekapan hangat. Hingga semua lelah yang tercipta, menguap begitu saja.

Hinata tengah terlibat sebuah perbincangan ringan, yang diselingi dengan senyum sipu serta tawa mendayu. Rona merah menguar menjadi pewarna alami pipi porselennya. Canggung dan sedikit kikuk menjadi pemanis konversasi yang mengalir.
Di hadapannya, sosok laki-laki dalam balutan jas mahal. Materialnya katun kualitas terbaik yang dijalin dari benang-benang lembut. Rambut merah berantakan, menambah kesan seksi yang sejak semula telah melekat. Meski lingkaran hitam tebal membingkai matanya, tak sedikitpun mengurangi kadar keindahan wajah sang pria.
Aroma lemon menguar jelas dari tubuh kekar itu. Menggelitik indera penciuman dan menembus masuk ke jaringan saraf. Membangkitkan sesuatu hal yang dikatakan sebagai gairah.
"Jadi, kau menerima tawaranku Hinata?"
Antusiasme begitu kentara dalam sekali anggukan yang diberikan sang wanita. Otot bibir yang tertarik mencipta senyum menawan yang terpatri begitu lembut.
"Tentu saja, Gaara-kun. Jadi kapan kita bisa memulainya?"

"Secepatnya tentu saja. Bagaimana jika malam ini kau bermalam di sini adan kita bisa langsung mulai mengerjakannya?"

"Aaa maafkan aku, Gaara-kun. Aku hanya mengkhawatirkan Boruto. Anak itu tidak bisa tidur tanpa ibunya."

Hinata tersenyum sedikit merasa bersalah. Niatnya memang menghindar dari permintaan Gaara, tetapi sebuah alasan jitu terucap begitu saja dari bibirnya.

Sebuah alasan yang entah mengapa menimbulkan perubahan atmosfer pada raut muka sang pria.

"Begitu. Baiklah. Jadi kau ingin pulang sekarang? Atau setelah makan malam bersamaku?"

"Boleh. Rasanya sudah lama kita tidak makan malam bersama."

Gaara tersenyum tipis mendengar jawaban Hinata. Ya terakhir kali mereka makan bersama adalah dua tahun lalu, saat Hinata mengambil cuti dari pekerjaannya dan pulang ke Jepang. Pria itu tidak menyangkal jika ada yang mengatakan bahwa dirinya terjatuh dalam pesona seorang Hinata. Faktanya memang demikian, namun pria itu masih belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Terlebih saat dirinya mengetahui kenyataan bahwa Hinata telah memiliki seorang putera.

Rasanya ingin Gaara melayangkan pukulan dan tinju kepada laki-laki yang telah berani menodai Hinata-nya. Bahkan membuat wanita itu menderita dengan mencampakkannya. Sayangnya sampai saat ini Gaara belum pernah bertemu secara langsung dengan laki-laki itu.

"Ayo kita pergi Hinata. Kau ingin makan malam apa? Di dekat sini ada restoran Prancis yang baru buka seminggu lalu. Mau mencobanya? Tentu saja aku yang akan mentraktir."

"Aaa... Tidak perlu Gaara-kun. Aku malah merepotkanmu."

"Sama sekali tidak. Lagipula ini kan sebagai perayaan kita menjalin kerjasama."

Hinata menatap iris jade di hadapannya lalu tersenyum lembut dan mengangguk pelan. Keduanya berjalan meninggalkan apartemen milik Gaara yang berada di lantai dua. Langkah mereka seolah sengaja diperlambat agar memberikan rentang waktu yang lebih lama untuk bisa saling berbincang. Tawa renyah dan senda gurau menjadi kembang-kembang yang menghiasi konversasi mereka. Tanpa menyadari sepasang iris azure yang mendadak intensitasnya meredup. Tanpa menyadari derap langkah kaki terbakar emosi yang kini tengah mendekat.

"Hihihihi... Baiklah... Baiklah... Mungkin kapan-kapan Gaara-kun harus menco-"

Bugh!

"Gaara-kun!"

.

.

.

TBC

.

.

.

Yosh... Usai sudah chapter 11. Bagaimana dengan chapter ini, Minna? Mohon maaf tidak sepanjang yang lalu. Nai tadi terlalu tenggelam dalam euforia pernikahan Naruto dan Hinata ahahahahha...

Mohon saran dan kritiknya yaa ^^

Terimakasih.