Unrequited Reminiscence
majority: YoonMin
by lonalunatic
.
.
summary: Suga merasa ingatannya tidak pantas kembali. Mereka sangat kelam. Hitam putih dan menyayat hatinya. Park Jimin sendiri rela melakukan apapun agar bisa kembali dalam ingatan seseorang.
.
note: yoonmin au. penulis menyebutkan umpatan dalam bahasa inggris dan indonesia juga konten dewasa yang sebaiknya tidak dibaca anak-anak.
Chapter 12: Petrichor
ˈpeˌtrīkôr (noun): Wangi Tanah Setelah Hujan Pertama
.
.
.
Seoul, 15 Tahun yang lalu…
Waktu itu sedang hujan di musim gugur saat dia keluar dari rumah sakit. Nenek Jung mendorong kursi rodanya pelan-pelan di sepanjang lorong rumah sakit. Daun-daun berwarna kuning keemasan terbang kesana kemari tertiup angin dan hujan.
Basah dan lembab.
Hampir dua minggu dia berada di rumah sakit tanpa bisa keluar. Ada banyak alat rumah sakit yang menempel di tubuhnya. Syukurlah dia selamat dari kecelakaan maut yang merenggut ayah, ibu, juga adiknya. Sebenarnya Yoongi tidak ingin selamat. Jika bisa memilih, dia ingin ikut bersama keluarganya. Mereka sudah bahagia di surga. Yoongi berumur sepuluh tahun saat itu. Saat dimana seharusnya dia bisa berlari kesana kemari bersama teman-temannya. Saat dia baru saja bisa menikmati senangnya naik sepeda mengilingi bukit di Daegu. Ada banyak hal yang kini sudah direnggut darinya. Kecelakaan itu membawa bekas yang tidak menyenangkan. Selain kakinta pincang, dia juga harus tahu diri kalau sekarang dia tidak bisa lagi naik sepeda. Berlarian mengejar layang-layang atau untuk sekedar berloncat-loncat juga menaiki pohon menangkap serangga.
Dia tidak ingin tersenyum. Membayangkan semua itu membuatnya sedih dan ingin menangis. Yoongi kecil hanya terdiam sepanjang pulang menuju rumah Nenek Jung. Dia menolak untuk mampir ke makam keluarganya. Dia berkata kalau dia terlalu lelah seharian harus menjalani pemeriksaan pasien terakhir kali sebelum keluar dari rumah sakit. Sebenarnya dia merindukan ayah, ibu, juga adiknya. Rasanya baru kemarin mereka bermain bersama. Rasanya baru kemarin ibu membuatkannya pancake. Rasanya baru kemarin ayahnya memuji nilai ulangan di sekolah. Semuanya berputar terlalu cepat dan Yoongi kecil tidak bisa mengikuti kemauan takdir yang membawanya begini. Dia ingin menangis dengan keras seperti saat dia baru saja jatuh dari sepeda. Dia ingin memeluk ibunya. Dia ingin menggoda adiknya seperti biasa namun semuanya sudah tidak ada.
Yoongi kecil kehilangan semuanya tapi anehnya, semua kesedihan ini baru saja dimulai.
.
.
Yoongi menatap anak-anak yang sedang bermain di sekeliling rumah Nenek Jung. Sudah hari ketiga sejak dia datang ke Seoul, tempat yang awalnya benar-benar dia kagumi karena di Seoul semuanya lebih canggih dan lebih menyenangkan terlebih lagi Seoul terasa hangat di musim ini. Yoongi merasa Seoul tidak bisa lagi membuatnya tersenyum. Semua makanan yang dibuatkan Nenek pun tidak ada yang terasa enak di mulutnya. Yoongi hanya ingin menangis seharian. Matanya sampai bengkak dan menghitam karena dia selalu tidak bisa tidur. Jadi bagaimana dia tidak berharap kalau seharusnya dia lebih pantas mati? Hidup seperti ini sangat menyedihkan untuk anak berumur sepuluh tahun. "Yoongi-yah, kau ingin turun ke bawah dan bermain?" tanya Nenek Jung begitu menangkap basah dia sedang menatap ke arah jendela. Yoongi menggeleng pelan. Dia berjalan perlahan menuju meja makan, meletakkan tongkatnya di sana lalu duduk.
"Di luar banyak angin." ucapnya beralasan. Nenek Jung tersenyum lebar.
"Tidak apa-apa terkena angin sedikit. Anginnya sangat segar. Kau juga belum berkenalan dengan teman-temanmu di sini bukan? mereka anak yang baik."
"Yeah." jawabnya singkat. Yoongi berfikir Nenek terlalu sering menghibur dirinya. Tidak ada orang yang ingin bermain dengan Si Pincang seperti dia.
"Nenek sudah membuatkan kue untukmu. Besok kita akan bermain keluar. Kau pasti menyukai udara di sini."
Yoongi mengangguk pelan. Tidak ingin terlalu berharap dengan apa yang diiming-imingi oleh Neneknya.
.
.
Saat itu matahari baru saja tenggelam. Yoongi membawa satu bungkus sampah untuk dibuang di depan rumah saat dia melihat seorang anak lelaki sedang berjongkok di dekat tempat sampah Nenek Jung. Awalnya Yoongi takut untuk mendekat. Hey, dia hanya seorang anak sepuluh tahun. Pemikiran soal zombie, alien, dan sejenisnya tentu sangat menyita waktunya. Yoongi berjalan terseok-seok sedikit demi sedikit mendekat ke arah bayangan yang ada di dekat tempat sampah.
Anak lelaki itu sedang berjongkok dan menenggelamkan kepalanya di bawah tangan yang dia lipat di atas lutut. Yoongi mendengar suara isakannya pelan-pelan.
Yoongi mengira hanya dia yang selalu menangis sendirian. Yoongi mengira semua anak seumurannya sedang bahagia bermain sepeda dan mengejar layang layang.
"Hey, kau okay?" tanya Yoongi pelan.
Anak itu mengangkat wajahnya dan menatap Yoongi dengan heran. Dia menghapus air matanya cepat-cepat. Seperti tidak ingin terlihat.
"Yeah. Aku hanya sedang bermain petak umpet."
"Huh?"
"Siapa kau?" tanya anak lelaki itu tanpa menjelaskan jawabannya lebih dulu. "Ah ya, kau pasti cucu Nenek Jung." katanya lagi sebelum sempat Yoongi menjawab.
"Yeah. Kenapa kau bersembunyi di sini? di sini bau." kata Yoongi lagi. Anak lelaki itu menggeleng pelan.
"Aku sudah terbiasa dengan baunya. Sudah ya."
Anak lelaki itu bangkit dan berjalan menjauhi gang rumah Nenek Jung. Yoongi masih menatapnya hingga anak lelaki itu menghilang di balik tikungan.
.
.
"Jiminie, kenalkan ini Min Yoongi. dia baru saja pindah dan tinggal bersama Nenek Jung."
Hari itu Yoongi tahu anak lelaki yang bersembunyi di dekat tempat sampah Nenek Jung bernama Jimin. Park Jimin. Anak itu mengulurkan tangan seolah mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Yoongi perlahan menjabat tangannya.
"Wah, ada apa dengan kakimu?" tanya Jimin polos. Melihat Yoongi dengan tongkat penyangga kakinya.
"Pincang?" jawab Yoongi sedikit asal.
"Jimin-ie, Yoongi baru saja mengalami kecelakaan. Ayah dan Ibunya meninggal dan sekarang dia tinggal bersama Nenek Jung. Jimin-ie mau kan menjadi teman Yoongi? lihat, dia kesepian"
Sebenarnya Yoongi tidak ingin mendapat belas kasihan karena dia yatim piatu dan pincang. Dia agak kesal dengan kalimat Mrs. Park tapi setelah dia melihat ke arah Jimin, semua itu menghilang satu persatu karena Jimin menatap ke arahnya dan tersenyum lebar.
"Baiklah. Ayo berteman mulai sekarang"
Semenjak hari yang begitu menyedihkan terjadi di dalam hidupnya, Yoongi hampir lupa caranya tersenyum. Yoongi bahkan hampir tidak pernah berbicara banyak tapi hari ini, bibirnya refleks mengukir satu senyuman lebar. Dia mempunyai teman.
.
.
Jimin teman yang sangat baik. Yoongi berfikir mungkin dalam hidupnya dia tidak akan bisa lagi naik sepeda atau bermain layang-layang tapi Jimin membuktikan semua itu tidak benar. Jimin memboncengnya dengan sepeda kemana mana. Yoongi akan berada di belakang sambil memegangi tongkat juga tas sekolahnya.
Ada banyak orang yang meledek juga mencemoohnya dimana mana tapi Jimin berdiri di sana untuk membelanya dan mengajaknya bermain. Jimin kehilangan beberapa temannya semenjak dia bermain dengan Yoongi tapi dia sama sekali tidak terlihat keberatan dengan itu. Jimin tetap datang ke perpustakaan Nenek dan membaca buku bersama di sana.
Jimin sering menginap di rumah Nenek Jung. Menghabiskan waktu bersama untuk membaca buku dongeng dengan Yoongi. Terkadang menginap hanya karena besok libur dan Nenek Jung mengajaknya untuk datang ke rumah.
Yoongi tidak bisa memungkiri kalau dia sangat senang. Hari-hari di hidupnya seolah kembali ceria semenjak dia berteman dengan Jimin.
Jimin anak yang sabar dan baik. Jimin begitu banyak menolongnya. Jimin banyak mengenalkannya tempat bermain yang asik. Jimin juga mengajarkannya bermain ular tangga dan kartu-kartu mainan lain. Yoongi sangat senang. Sangat senang.
Namun satu hal yang selalu membuat Yoongi merasa setidaknya dia harus bersyukur untuk hidupnya karena anak lelaki seceria Jimin ternyata mengalami hal yang pahit. Ayah dan Ibunya tidak pernah berhenti bertengkar. Ayahnya suka memukul Jimin dengan kasar. Jimin sering terlihat mempunyai memar di sekitar wajahnya.
Suatu malam di saat umurnya menginjak lima belas, Yoongi baru saja akan tidur saat dia mendengar ada sebuah ketukan di jendelanya. Yoongi tidak menyalakan lampu tapi diam-diam dia mengambil tongkatnya. Yoongi berjalan pelan ke arah jendela dan mengintip sedikit. Dia melihat Jimin sedang menggigil kedinginan. Buru-buru Yoongi membuka jendelanya dan membiarkan Jimin masuk ke dalam. Jimin tampak kikuk dan menghindari tatapan Yoongi. Yoongi tahu Jimin tidak sedang ingin membahas apapun yang sudah dilakukan ayahnya. Yoongi membuka lemari dan menyodorkan piyama untuk Jimin.
"Terima kasih." ucap Jimin pelan. Yoongi mengangguk.
Dia menunggu Jimin di atas ranjang sampai lelaki itu selesai mengganti pakaian menjadi piyama. Yoongi menutup buku dongeng yang sedang dia baca sewaktu Jimin mendekat dan duduk di sampingnya.
"Tidurlah di sini Jiminie. Sebanyak waktu yang kau suka." kata Yoongi pelan. Jimin tersenyum tipis. Yoongi bisa melihat air matanya hampir menetes. Yoongi merebahkan tubuhnya di ranjang sementara Jimin menyusul di sampingnya. Keduanya menatap ke langit-langit kamar.
"Kau tahu, hari ini mungkin hari terburuk yang pernah ada."
"Yeah. Aku bisa melihatnya dari wajahmu."
Jimin menoleh ke arah Yoongi sambil terkekeh. "Memangnya kau peramal?"
Yoongi tersenyum. "Jangan membahas soal itu Jiminie. Sebaiknya kita tidur."
Jimin mengangguk pelan. Keduanya tidak bicara lagi meski lelap belum menelan.
"Yoongi.." panggil Jimin pelan. Suaranya agak serak. Yoongi menoleh menatapnya. Jimin tengah menangis.
"Jiminie, jangan menangis." ucapnya sambil menghapus air mata Jimin.
"Peluk aku Yoongi. Aku merasa sangat dingin."
Yoongi tidak berfikir dua kali untuk mengabulkan permintaan Jimin. Tubuhnya masih terasa dingin. Air matanya pun masih mengalir. Yoongi mengusap punggung Jimin dengan lembut.
"Yoongi, aku sangat takut."
"Kau tidak sendirian Jiminie."
"Jangan tinggalkan aku Yoongi."
Yoongi merasa seharusnya dia yang berkata begitu. Jimin yang tidak boleh meninggalkannya karena dia tidak tahu lagi bagaimana caranya tersenyum jika bukan Jimin yang mengajarkannya. Yoongi tidak tahu bagaimana caranya mempunyai teman jika bukan karena Jimin yang selalu menemaninya selama ini.
Jimin berhenti menangis. Jimin juga sudah tertidur dalam pelukannya. Jimin menggenggam tangannya dengan erat dan Yoongi merasa bahagia karena bukan hanya dia yang membutuhkan Jimin. Jimin juga membutuhkannya.
.
.
Hari-hari berlalu tanpa bisa dihitung. Yoongi dan Jimin, keduanya tampak seperti tidak bisa dipisahkan. Jimin seperti wangi tanah setelah hujan pertama. Wangi atap rumah yang terbakar matahari lalu disiram hujan pertama kali. Jimin seperti air yang bertahan pada satu lembar daun. Seperti teratai di musim semi. Seperti awan yang hadir di antara cuaca panas. Seperti lembaran daun yang berwarna merah diantara yang kuning keemasan. Seperti salju pertama turun yang membuatnya lupa kalau dia sedang kedinginan. Seperti layang-layang yang terkembang kokoh melawan angin. Jimin seperti segalanya yang begitu sederhana tapi begitu menyejukkan jiwanya.
Yoongi bahkan sudah kalah menghitung berapa kali Jimin membuat hatinya berdegup lain dari biasanya. Di umurnya yang keenam belas, Yoongi sadar Jimin yang selama ini tidur di ranjangnya dan memeluknya erat sampai pagi bukanlah lagi mempunyai arti sebagai teman. Jimin mempunyai makna lebih dari itu. Hanya saja, remaja Yoongi tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan. Dia menganggap semua itu hal yang biasa. Yoongi tahu diri. Dia bukan lelaki yang bisa membahagiakan siapapun. Mungkin dengan kaki pincangnya dia tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Meski Jimin selalu berkata sebaliknya tapi dia tahu sampai dimana dia bisa berharap dan menelan pahit yang memang seharusnya dia hadapi.
Yoongi terkadang lupa keadaannya. Bersama Jimin dia merasa bisa berlari begitu jauh. Bersama Jimin bahkan dia merasa dia bisa terbang kemanapun dia mau. Jimin seperti membuatkan dua sayap untuk Yoongi.
Mungkin bagian yang paling menakutkan baginya adalah ketika melihat Jimin tersenyum. Betapa semua itu semakin menyeramkan ketika Yoongi ingin Jimin hanya tersenyum kepadanya. Yoongi ingin mendengar semua keluhan Jimin. Ingin melihatnya marah karena dia terlalu banyak membaca buku dongeng. Yoongi ingin memeluknya ketika Jimin termenung sendirian. Yoongi ingin menjadi tempat pertama ketika Jimin sedih karena ibunya sakit-sakitan setelah ditinggal ayahnya. Yoongi ingin menjadi orang pertama yang Jimin lihat saat dia terbangun dari tidur. Pemikiran itu memakannya seperti bara api. Dalam pelukan tidur hampir setiap malam, Yoongi berharap Jimin memiliki degupan jantung yang sama dengannya. Yoongi berharap apa yang dia rasakan juga terjadi pada Jimin.
.
.
Perasaan yang begitu rumit akhirnya terjawab saat dia mendapatkan mimpi basahnya yang pertama. Dia bersama seorang lelaki. Dia bersama Jimin .Jimin yang meraih wajahnya untuk sebuah ciuman panjang sebelum keduanya menghabiskan waktu untuk bercumbu. Yoongi ingat benar Jimin mendesah dalam dekapannya saat dia mulai menyentuh tubuh Jimin. Yoongi mengingat bagaimana rasanya melihat tubuh indah Jimin meski hanya dalam mimpi. Tangan dan jari bertaut dengan bibir yang tidak pernah saling melepaskan pagutan. Yoongi merasa mimpi itu adalah bagian terbaik dalam hidupnya. Meski setelah itu dia tidak bisa lagi menahan perasaannya. Rasanya ingin menarik Jimin dalam pelukannya menjatuhkannya di atas ranjang dan mencumbunya seperti hari besok tidak ada lagi.
Yoongi begitu habis-habisan berperang dengan hatinya meski dari luar dia selalu tampak tenang menjawab semua pertanyaan Jimin dan mendengarkan semua keluhannya di sepanjang pulang sekolah hingga suatu sore, Keduanya menyusuri jalan pulang seperti biasa namun ada satu hal yang berbeda, sejak tadi Jimin selalu mengalihkan pandangannya. Yoongi mencoba menebak apa yang sudah terjadi tapi Jimin terlalu sulit terbuka pada siapapun. Seingatnya dialah yang seharusnya mempunyai kepribadian tertutup.
Malam itu Jimin menginap di kamarnya seperti biasa. Dia jarang sekali kembali ke rumahnya. Seperti biasa juga Yoongi akan memeluknya dalam tidur namun kali ini Jimin yang menariknya lebih dulu ke dalam dekapan. Yoongi terlalu mengantuk untuk mengartikan kehangatan pelukan itu sebagai hal lain. Yoongi merasa kausnya basah. Yoongi merasa seperti berada diantara kenyataan dan mimpi. Dia bisa merasakan Jimin menangis namun dia tidak bisa membuka matanya. Untuk yang kesekian kali Jimin datang dalam mimpinya, malam ini ciuman yang ada di mimpi basahnya terasa begitu nyata. Jimin memagut bibirnya dengan lembut. Jimin mengecup bibirnya. Jimin mengecup keningnya. Mengecup hidungnya. Jimin juga mengatakan satu kalimat yang selama ini dia mengira tidak akan menjadi nyata.
.
.
Saat dia terbangun, Jimin menghilang entah kemana. Jimin tidak ada di dalam kamarnya atau pun bagian lain di rumah Nenek. Yoongi sibuk berjalan kesana kemari mencari keberadaan Jimin hari itu. Terseok-seok dengan tongkatnya mendatangi semua tempat yang sering dia kunjungi bersama Jimin tapi hasilnya nihil. Yoongi mengira kalau dia sudah mengetahui semua tempat persembunyian Jimin namun dia salah. Ternyata Jimin masih mempunyai banyak tempat yang tidak dia ketahui untuk bersembunyi.
Yoongi kembali ke rumah setelah lebih dari setengah hari dia mencari Jimin. Nenek menanyakan keberadaan Jimin namun Yoongi tidak mempuntai jawaban yang baik, dia hanya menggelengkan kepala pelan sambil masuk ke dalam kamarnya.
Yoongi mencoba menghubungi Taehyung, teman sebangku Jimin di sekolah. Taehyung juga bilang kalau seharian dia tidak melihat Jimin.
Yoongi hanya berharap dimanapun Jimin berada lelaki itu akan mengingat saatnya makan dan tidak melakukan hal buruk.
Yoongi terlelap setelah hampir semalaman menunggu Jimin dan berharap Jimin akan mengetuk jendela kamarnya seperti biasa.
.
.
Ada yang berubah dari Jimin. Lelaki itu tidak pernah main ke kamarnya atau ke perpustakaan. Jimin seperti mempunyai teman-teman baru dan yang Yoongi tahu teman baru Jimin bukanlah anak-anak baik. Mereka semua sering menganggu Yoongi dan mengejeknya. Entah bagaimana ceritanya hingga di pagi hari setelah Jimin seharian menghilang, Yoongi melihatnya di sekolah. Yoongi menghampirinya. Tentu karena Yoongi ingin tahu apa yang terjadi pada Jimin.
"Jiminie." panggilnya pelan dan Jimin tidak menoleh. Dia sibuk memasang gembok di sepedanya. Yoongi mengayunkan tongkatnya lebih cepat agar dia bisa mendekat dan saat itu Jimin berlalu pergi.
"Jiminie, kau baik-baik saja? apa yang terjadi?"
Jimin tetap tidak menjawah dan Yoongi menunggunya. Saat Jimin selesai memasukkan kunci ke dalam tas, Yoongi menggenggam tangannya pelan.
"Hey, kau sakit?" tanya Yoongi cemas.
Yoongi tidak berharap saat itu Jimin akan menghempaskan tangannya dengan keras hingga membuatnya kaget dan hampir terjatuh.
Jimin tidak menatapnya. Dia berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Yoongi.
Yoongi menarik nafas pelan. Berharap semua ini hanya bagian dari mimpi buruk dan jika memang benar, Yoongi ingin secepatnya sadar dari mimpi buruknya.
.
.
Semua itu bukan mimpi. Sayangnya. Jimin berubah menjadi anak yang nakal. Dalam sekejap mata, dia sudah pergi jauh dari hidup Yoongi. Bermula dari dia tidak menjawab pertanyaan Yoongi hingga lelaki itu menghempaskan tangannya. Kini Jimin bermain bersama Song Jino dan kawan-kawannya.
Yoongi hanya berharap Jimin mau menjelaskan apa yang terjadi setidaknya dia bisa menjawab pada Nenek Jung apa yang sedang terjadi karena nenek terlihat khawatir.
Yoongi berusaha mengejarnya. Kadang Taehyung membantunya, memboncengnya dengan sepeda dan mencegat Jimin. Hanya saja lelaki itu selalu lebih cepat dari Yoongi.
Hingga suatu hari, Yoongi berhasil mencegatnya dan menarik tangan Jimin.
"Jiminie, aku ingin bicara sebentar." kata Yoongi saat Jimin tidak bisa mengelak.
Di hari itu, akhirnya Yoongi bisa melihat ke dalam mata Jimin namun kali ini mata itu begitu kosong. Jimin seperti tersiksa sama seperti dirinya.
"Aku sudah bilang aku tidak mau berteman denganmu lagi."
"Kenapa? berikan aku satu alasan Jiminie."
"Kenapa aku harus memberikanmu alasan? semua orang yang tidak ingin berteman denganmu tidak pernah kau tanyakan begitu."
"Karena mereka bukan kau. Karena mereka bukan Park Jimin yang selalu ada bersamaku sejak dulu."
"Oh sudahlah. Kau terlalu dramatis. Aku harus bertemu Jino."
"Dan mengapa kau berteman dengannya? kau membencinya Jiminie. Kau tidak menyukai Song Jino juga-"
"Lalu apa jika aku berubah pikiran? mengapa kau harus mencampuri semua hal yang terjadi di hidupku?"
"Aku tidak mencampuri, hanya saja- kau berhak mendapat teman yang lebih baik."
"Siapa? kau? yang bahkan tidak bisa mengayuh sepeda?"
Yoongi tidak menghiraukan hatinya yang sedikit berdenyut. Dia terdiam ketika Jimin melepaskan tangannya.
"Kau ingin satu alasan? Aku tidak ingin berteman denganmu lagi karena aku menyukai Song Jino. Aku ingin menjadi kekasihnya dan berteman denganmu hanya akan menghambat semua itu. Kau tahu? Song Jino tidak akan membiarkan aku mendekat jika dia melihatku berteman dengan Si Pincang Min."
Yoongi tidak menjawab. Tidak juga bisa mengejar Jimin karena semua perkataan Jimin seperti duri yang menusuk kakinya. Lebih sakit dari saat dia tahu saat kakinya pincang. Selama ini dia berfikir Jimin satu-satunya orang yang mengerti keadaannya, Jimin satu-satunya yang bisa mebahagiakan dia. Jimin yang paling mengerti dia. Hanya saja mungkin saat ini semuanya sudah selesai.
Semua ini salahnya. Dia tidak seharusnya menggantungkan hidup pada Jimin. Kini Yoongi tidak tahu bagaimana caranya tersenyum karena Jimin mengambil semua senyumannya. Terlebih untuk perasaan yang akhirnya dia tahu apa sebutannya, perasaan itu hancur bahkan sebelum dia bisa mengabulkan harapan.
Yoongi menangis tanpa suara malam itu. Entah menangisi apa. Menangisi dirinya yang berharap pada Jimin. Menangisi dirinya yang pincang dan tidak layak dicintai. Menangisi sahabatnya yang pergi karena berteman dengannya tidak menguntungkan atau menangisi Jimin, Park Jimin, yang kini juga memanggilnya dengan Si Pincang sama seperti orang-orang yang selalu mengejekknya.
.
.
Cinta pertama seharusnya begitu menyenangkan. Bagaimana hati kita berharap pada seseorang untuk pertama kali dan merasakan degupan jantung yang begitu cepat untuk pertama kalinya. Hanya saja semua itu begitu cepat hancur untuk Min Yoongi.
Dia ingin menjadi manusia yang tahu diri. Dia ingin melupakan Jimin dari hidupnya hanya saja Jimin sudah terlalu jauh menenggelamkan hatinya hingga saat Jimin menghancurkan perasaan ini, Yoongi sama sekali tidak bisa membencinya. Yoongi ingin dia kembali menjadi Jimin yang menatapnya lembut.
Satu hal yang tersisa hanya Taehyung. Dia begitu baik meski tidak bisa menjadi pengganti Jimin yang sempurna. Taehyung pun memiliki pertanyaan yang sama untuk Jimin. Mengapa dia berubah dan mengapa Jimin memilih untuk melakukan itu semua.
Suatu hari diantara semua hari yang semakin menyedihkan, Yoongi tidak tahu kalau hari itu seperti hari yang paling menyakitkan baginya. Jimin datang ke rumah nenek bersama Jino tanpa sepengetahuan Yoongi dan ketika Yoongi kembali setelah berkunjung ke perpustakaan dia melihat Jimin sedang bercumbu dengan Song Jino.
Jimin mengulum milik lelaki itu. Lelaki yang selalu menghinanya kini duduk di tepian ranjang dengan Jimin ada di antara dua kakinya.
Yoongi ingin menarik Jimin dan menghabisi lelaki itu. Rasa marah yang membludak membuatnya tidak bisa menahan diri. Dia mengerjakan semua tugas sekolah Jimin dan Jino asal-asalan hingga nilai mereka jelek dan esoknya Jino hampir menginjak-injak tubuhnya.
Dia juga melihat Jimin dipukuli dan ditendang. Rasa sakitnya tentu bukan apa-apa karena Jimin semakin membencinya setelah itu.
Kaca matanya pecah dan saat kembali ke rumah Nenek Jung bertanya dengan lembut dan meminta Yoongi bercerita semuanya. Yoongi hanya berkata kalau Jimin mungkin sedang mencari angin segar dalam hidupnya. Kalau mereka baik-baik saja. Kalau sebenarnya mereka adalah korban dari Song Jino.
Yoongi tidak ingin Nenek Jung tahu kalau dia begitu terluka kalau hatinya sakit dan sungguh rasanya dia ingin menyerah dengan semua ini. Ingin berlari sejauh mungkin dari keadaan hidupnya yang begitu menyedihkan.
Namun setiap saat dia melihat Nenek Jung, Yoongi seperti mempunyai alasan untuk bertahan. Dia tidak ingin kehilangan senyuman Nenek. Cukup Jimin yang pergi dari hidupnya dan Nenek tidak perlu tahu bagaimana Yoongi mencintai Jimin.
Cinta.
Yoongi tidak pernah menyangka perasaan seindah itu bisa menyakitinya seperti ini.
.
.
Yoongi pernah berkata pada Taehyung di pagi hari sebelum sekolah mereka dimulai, di saat Yoongi kembali menyapa Jimin dan memintanya datang karena Nenek merindukannya juga sudah memasak makanan kesukaan Jimin. Kala itu seperti biasa Jimin akan menghindar dan mengumpat padanya. Jimin berkata kalau dia orang miskin dan pincang.
Hari itu Yoongi berkata pada Taehyung, apa mungkin jika dia sudah mempunyai uang yang banyak dan kakinya tidak lagi pincang, Jimin akan kembali ke hidupnya?
Taehyung tidak menjawab. Mungkin lelaki itu tahu perasaan Yoongi pada Jimin bukanlah lagi seperti perasaan seorang teman.
Jimin dan Yoongi mempunyai sebuah ikatan yang lebih dari itu.
Yoongi sendiri tidak pernah tahu jika pada akhirnya dia dan Taehyung akan berteman dengan akrab. Selama ini Yoongi berfikir tidak akan ada orang yang ingin berteman dengannya namun setelah Jimin pergi, Taehyung selalu menggantikan Jimin untuk memboncengnya dengan sepeda, juga membantunya bangun saat dia terjatuh. Di satu sisi Yoongi tidak bisa mempercayai ini dan di sisi lain, Yoongi bersyukur setidaknya masih ada orang lain yang peduli padanya.
.
.
Hari itu Yoongi merasa gelisah lain dari biasanya. Berkali-kali dia mencoba membantu Nenek Jung merapikan rak buku di perpustakaan tapi hasilnya lebih buruk dari yang selama ini dia lakukan. Nenek Jung memintanya beristirahat di rumah dan mengkhawatirkan kesehatan Yoongi.
Yoongi bersikeras kalau dia baik-baik saja namun hatinya semakin berdebar tidak karuan.
Semua itu terjawab saat Taehyung berlari cepat ke arahnya. Taehyung memberikan selembar kertas pada Yoongi.
'Taehyung-ah, aku akan pergi hiking dengan Jino. Mereka bilang aku bisa menjadi bagian dari geng jika aku ikut mereka hiking. Hanya saja perasaanku tidak enak sejak tadi. Tolong jaga Yoongi untukku ya.'
"Dia tidak pernah menuliskan surat sebelumnya. Dia juga tidak pernah terlihat berbahasa lembut sebelumnya. Yoongi kurasa-"
"Aku harus menyusulnya Tae. Sekarang."
"Aku akan meminjam mobil ayahku. Kau tunggu di sini Yoongi."
Sekejap setelah Taehyung pergi, Yoongi merasa perasaannya campur aduk dan membludak begitu kuat. Dia tidak sama sekali menyadari kalau air matanya sejak tadi turun ke pipi. Yoongi mengusap air matanya kasar. Lelaki itu mencoba berjalan lebih cepat dari biasanya. Yoongi melempar tongkatnya agar dia bisa berlari. Entah sejauh apa Yoongi bisa membawa kakinya berlari rasanya tenpat pemberhentian bus tidak kunjung terlihat.
Yoongi terantuk batu dan terjatuh tepat di depan halte. Orang-orang memperhatikannya sesaat namun setelah itu kembali pada urusannya masing-masing.
Kakinya seperti patah. Seperti tak bisa lagi digerakkan. Yoongi berpegangan pada tiang halte dan mencoba berdiri agar dia bisa masuk ke dalam bus yang baru saja datang.
Yoongi mencoba sekuat tenaga, menjadikan bayangan Jimin sebagai kekuatannya. Jimin yang ternyata masih peduli padanya. Jimin yang ingin seseorang menganggantikan dirinya untuk menjaga Yoongi.
.
.
Perjalanan memakan waktu banyak. Yoongi mulai terseok-seok berjalan dengan energinya yang tersisa. Saat dia sampai di Pegunungan Surak, langit sudah berubah menjadi kelam dan kabut sudah mulai turun menutupi jalan setapak tanpa cahaya.
Yoongi berkali-kali jatuh dan berkali-kali juga bangkit sambil menyebut nama Jimin.
Kakinya berdarah atau mungkin sebenarnya sudah terluka parah sejak tadi tapi Yoongi tidak peduli. Yoongi berpegangan pada sebuah pohon sebelum meneriakkan nama Jimin lagi. Kali ada sebuah jawaban. Suara yang sangat sayup tapi Yoongi bisa mendengarnya.
"Jiminie!"
"Yoongi.. Yoongi-yah"
Yoongi melihat Jimin dikelilingi beberapa lelaki. Baju yang dia kenakan hampir semuanya dilepas secara paksa. Pandangan Yoongi sudah mulai buram, sangat buram tapi dia bisa melihat Jimin menatapnya. Dia melihat Jiminie yang dulu sering menginap di rumahnya. Jiminie yang datang ke hidupnya dan mengajaknya bermain sepeda. Jiminie yang bersembunyi di dekat tempat sampah Nenek Jung. Jiminie yang begitu rapuh dan menangis di tengah malam dalam pelukannya.
Keduanya menangis. Yoongi melihat Jimin tengah menangis dan air matanya mendadak sudah keluar banyak. Yoongi menjatuhkan tubuhnya begitu Song Jino dan sekawanannya mulai beralih ke arahnya. Mereka memukuli Yoongi dengan apapun yang mereka bawa. Jimin menangis dengan keras menyebut namanya dan di titik itu Yoongi tidak berharap apapun. Dia hanya ingin setelah ini Jimin-nya kembali.
Yoongi sudah tidak bisa merasakan apapun. Tubuhnya sudah kebas dengan begitu banyak darah yang keluar dari tubuhnya.
Di satu saat ketika Song Jino dan kawanannya berhenti memukuli Yoongi, lelaki itu mencoba bangkit dan meraih lengan Jimin. Dia ingin sekali berjalan ke arah Jimin dan memeluknya erat.
Tangisan itu belum selesai. Jimin masih berusaha menggapai tangannya sewaktu seseorang mengeluarkan pemantik dan membuangnya ke arah Yoongi.
Jimin berteriak sangat keras. Begitu keras hingga Yoongi tidak bisa mendengar gelak tawa Song Jino dan teman-temannya. Yoongi mencoba menggulungkan tubuhnya kesana kemari hanya saja dia tidak tahu kalau dia akan masuk ke dalam jurang dan menghilang di sana. Jeritan Jimin adalah suara yang terakhir dia dengar.
.
.
Kepalanya terantuk batu. Tubuhnya terbawa arus Danau Cheongpyeong. Awalnya dia masih menyadari apa yang terjadi pada dirinya setelah jatuh namun setelah terantuk batu dengan keras, Yoongi kehilangan kesadarannya.
Hal yang membawanya sadar adalah suara Nenek Jung juga suara Jimin. Mereka datang dari tempat yang sangat jauh.
Yoongi mencoba membuka matanya namun tidak bisa. Dia ingin menggerakkan tubuhnya juga tidak bisa. Ada banyak orang berjalan kesana kemari dan bicara ini itu yang dia tidak mengerti namun satu hal, dia melihat Nenek Jung berdiri di antara mereka. Nenek tersenyum seperti biasa. Senyum yang selalu menyambutnya setiap pagi dan setiap dia kembali dari sekolah. Yoongi membalasnya dan mendekat.
Tiba-tiba saja di sekelilingnya ada hamparan rumput yang luas dengan segala bunga-bunga ada di sana. Tempat kesukaan Nenek Jung. Nenek pernah berkata kalau dia sangat menyukai padang rumput dengan kebun bunga yang luas.
Nenek Jung mendekat dan mengamit jemari Yoongi.
"Yoongi-yah, kembalilah lagi. Jimin membutuhkanmu." ucap Nenek dengan senyumannya. Yoongi menggeleng pelan.
"Jiminie sudah bahagia Nenek."
"Jiminie hanya akan bahagia jika kau kembali. Jiminie merindukanmu setiap malam. Jiminie ingin bertemu denganmu."
Yoongi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis dan mengusap jemari Nenek.
"Yoongi-yah, kau akan bahagia. Kau pasti bahagia. Kembalilah seperti matahari di musim semi. Kau tahu bagaimana semua orang mengharapkannya kembali kan?"
Yoongi belum sempat menjawab ketika Nenek Jung tiba-tiba saja sudah menjauh dari dirinya. Nenek menghilang ditelan oleh langit dan angin yang berhembus. Yoongi terdiam di tempatnya.
Bagaimana caranya kembali?
.
.
Pulau Sentosa, Singapore.
Sebenarnya dia tidak terantuk batu. Hell, tidak akan ada batu di perairan yang cukup dalam. Hanya ada karang yang tidak begitu banyak.
Saat dia memaksa dirinya masuk ke dalam air, saat itu kepalanya seperti menubruk sesuatu yang keras dengan satu kali hantaman dan itu adalah air laut.
Air laut seperti masuk ke dalam hidungnya dan membuatnya tidak bisa bernafas.
Perlahan kenangan yang selama ini mirip seperti kilasan kenangan orang lain berubah menjadi kenangan miliknya sendiri. Suga mengingat semuanya. Merasakan apa yang Min Yoongi rasakan karena dia adalah Min Yoongi. Karena semua hal yang Min Yoongi lalui adalah hal yang dulunya dia jalani.
Mencintai sahabatmu sendiri, mencintai Park Jinin.
Saat putaran ingatannya habis, Suga melihat Min Yoongi tersenyum dan mengulurkan tangannya seperti biasa. Kali ini Suga membiarkan Min Yoongi masuk ke dalam dirinya dan kembali.
.
.
.
Singapore, Hari ini..
Saat dia terbangun dari tidur yang panjang, dari kilas balik yang tampak seperti bukan mimpi tapi seperti layar terkembang dengan dia sebagai pemeran utamanya, cahaya temaram masuk perlahan-lahan sebelum dia bisa menangkap jelas keberadaannya.
Tentu dia akan berada di rumah sakit. Rumah sakit yang sama seperti delapan tahun yang lalu. Matanya kembali berair. Dia mengingat hari itu dia sama sekali lupa akan semua hal yang terjadi di dalam hidupnya dan semua itu tidak seberapa karena beberapa bulan setelah itu dia mulai membenci segala sesuatu tentang masa lalunya.
Kamar ini sedikit redup. Ada seseorang yang tengah tertidur di sampingnya. Dia tersenyum lemah.
Jiminie
Jiminie yang tidak lagi kemana-mana. Jiminie yang kini menunggunya bangun.
Namun rasa senang itu tidak lama berada di pikirannya. Sedikit-sedikit rasa cemas mulai datang menguasainya. Ada banyak hal yang harus dia lakukan setelah ini dan itu akan membutuhkan waktu banyak juga bagaimana dengan Seokjin dan Namjoon?
Dia menarik nafas pelan. Kepalanya masih agak sakit. Dengan gusar dia menyentuh keningnya yang terbalut perban. Rasa sakit itu sedikit berdenyut membuatnya nyeri.
Gerakannya membangunkan Jiminie. Dia menggeliat pelan-pelan dan membuka matanya. Oh ya, tentu dia menyadari kalau orang yang terbaring di depannya sudah sadar.
"Suga-ssi.." panggilnya pelan. suara itu lebih banyak berisi kecemasan.
Ingin rasanya dia mengutuk dirinya sendiri, betapa Kim Suga sangat angkuh hingga Jiminie tidak boleh lagi menyebut namanya. Betapa dia ingin Jiminie menyebut namanya.
Melihat Jiminie di menatapnya lembut membuatnya ingin tersenyum. Jiminie sempat menatapnya dingin, menepis tangannya tanpa alasan tapi sekarang Jiminie sudah kembali. Jiminie kembali menatap dengan sepasang mata yang teduh. Seperti langit setelah ditimpa hujan.
Sedetik dia berharap mungkin Jiminie akan memanggil namanya.
Ah ya, dia tidak ingin lagi Jiminie menyebut namanya. Dia sendiri yang meminta Jiminie untuk tidak menyebut namanya.
Sekarang semua itu terdengar konyol karena dia begitu merindukan Jiminie memanggil namanya.
Jiminie menekan satu tombol di samping ranjang. Dia masih tampak cemas tapi tidak tahu harus bagaimana. Lelaki itu menatapnya sambil tersenyum meski tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang bercampur aduk.
"Suga-ssi, kau baik-baik saja?"
Dia mengangguk pelan. Kepalanya masih berdenyut nyeri dan dia tidak ingin Jiminie tahu hal itu.
"Aku akan menghubungi Hyungnim dan Namjoon-ssi. Mereka akan segera datang."
Sekali lagi dia hanya mengangguk. Perlahan mengamit jemari Jiminie agar lelaki itu tetap ada di sampingnya.
Jiminie tersenyum lagi dan kali ini membiarkannya mengusap pipi Jiminie dengan lembut.
"Aku mencemaskanmu Suga-ssi. Maafkan aku."
"Tidak apa-apa." jawabnya serak.
Jika bisa dia ingin menarik Jiminie ke dalam pelukannya. Kenangan yang begitu menyayat hatinya hanya seperti kilasan mimpi dan kini dia merasa seperti sudah kembali dari tidur panjangnya.
Keduanya hanya saling menatap sampai satu dokter datang dan memeriksanya. Namjoon dan Seokjin datang tidak lama setelah itu. Seperti biasa Seokjin menangis dengan keras dan memeluknya erat. Namjoon menepuk bahunya seolah meluapkan rasa leganya.
Dia tersenyum lebar.
Seokjin dan Namjoon. Keduanya seperti malaikat yang menyelamatkannya dan membawanya kembali pada Jiminie.
.
.
Dokter bilang dia baik-baik saja. Dia akan melakukan CT Scan dua hari lagi. Dokter bilang kepalanya membentur sesuatu ketika lompat ke dalam air. Dia sama sekali tidak ingat pernah membentur sesuatu. Kepalanya yang berdenyut mungkin menjadi bukti dan juga alasan semuanya sudah kembali.
Seokjin datang ke rumah sakit setiap hari bersama Namjoon sampai waktunya dia diperbolehkan pulang. Seokjin masih sesekali menangis dengan Namjoon yang merangkulnya erat. Lelaki itu menggenggam tangannya kuat-kuat. Meski menangis dia terlihat bahagia.
Jiminie tetap berdiri tidak jauh darinya. Rasa cemasnya masih ada. Meski kini dia lebih terlihat lega karena dokter sudah menjelaskan semuanya. "Suga-yah, kau tidak sadarkan diri selama tiga hari. Aku sangat bingung." cerita Seokjin. Dia mengangguk pelan.
"Kau ingin sesuatu? Suga-yah, katakan sesuatu."
Dia tersenyum tipis sebelum membuka mulutnya. "Aku baik-baik saja" katanya pelan. Seokjin mengusap air matanya lagi.
"Syukurlah kau sudah kembali padaku. Aku sangat takut. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi."
Dia terkekeh pelan dan mengenggam jemari Seokjin. "Aku tidak akan pergi kemanapun. Kau tahu aku tidak bisa kemana-mana jika tidak ada kau."
Seokjin tersenyum haru tapi tak urung menepuk lengannya dengan gemas. "Kau jangan menggombal sekarang."
Dia tertawa lagi, kali ini sedikit menatap ke arah Jiminie yang juga menatap ke arahnya.
Perasaan lega ini begitu membahagiakannya. Melihat Jiminie berdiri di sana dengan senyumannya seperti dia tidak lagi menunggu mimpinya terwujud. Semua mimpinya sudah ada di depannya.
Dia merasa begitu malu dengan ucapannya. Dia sangat membenci Min Yoongi karena lelaki itu mencintai Jimin hingga rela mati untuknya. Padahal lelaki itu adalah dirinya sendiri. Lelaki yang dia benci selama ini adalah dirinya. Lelaki yang dia anggap begitu lemah ternyata dirinya. Park Jimin yang sempat dia anggap seperti mimpi buruk adalah mimpi indah yang selama ini dia harapkan terkabul.
Park Jimin cinta pertamanya. Park Jimin yang membuatnya tersenyum pertama kali saat kakinya pincang.
Park Jimin yang memboncengnya dengan sepeda kemana-mana. Park Jimin yang mengajaknya bermain layangan.
Park Jimin yang seperti wangi tanah setelah hujan pertama. Seperti bunga teratai di musim semi.
Kini dia mengingat semuanya. Ternyata dia begitu mencintai Park Jimin. Dia ingin melakukan apa saja agar Jiminie kembali di hidupnya dan hal itu pula yang dilakukan Jiminie untuk Kim Suga. Jiminie mencintainya. Jininie akan melakukan apa saja agar dia bisa kembali. Kini dia sudah bisa menjawabnya.
.
.
.
Hari ini dia melakukan check up pertama setelah keluar dari rumah sakit. Sebenarnya dia bisa datang besok karena hasil CT Scan-nya belum bisa keluar hari ini. Namun ada satu hal yang harus dia lakukan sebelum hasil CT Scannya keluar. Satu hal penting yang membuatnya harus datang sekarang. Dia masuk ke ruangan yang sudah tidak asing lagi. Ruangan dokter yang dulunya selalu dia kunjungi untuk pemeriksaan rutin. Dokter Shin sudah menunggunya dan memintanya duduk saat dia membuka pintu ruangan.
"Mr. Kim kau sudah lebih baik? hasil CT Scan mu akan keluar besok" kata Dokter Shin riang.
"Paman, ingatanku sudah kembali." ucapnya pelan. Dia bisa melihat perubahan raut wajah Dokter Shin.
"Huh?"
"Iya. Kau mungkin bisa melihat dari hasil CT Scan ku besok dan jangan katakan apapun tentang ini pada keluargaku." pintanya.
"Tapi-"
"Aku akan mengatakannya di saat yang tepat. Hanya saja sebelum itu aku perlu mengurus beberapa hal."
Dokter Shin menarik nafas panjang. "Mr. Kim jujur aku sangat- perasaanku sangat campur aduk sekarang. Aku hampir kehilangan harapan pada kasus amnesia milikmu dan sekarang kau duduk di depanku berkata kalau kau sudah mengingat semuanya, well aku sangat tidak menduganya."
Dia tersenyum kecil. "Aku pun tidak menduganya. Apalagi setelah aku melakukan beberapa hal untuk menjadikan kasus amnesiaku benar-benar permanen karena aku tidak ingin mengingat apapun."
"Lalu, kau sudah mengingat siapa dirimu? Apa masa lalumu begitu buruk?"
Dia tersenyum lebar. "Di luar dugaanku, masa laluku begitu menyedihkan tapi aku sama sekali tidak menyesali semua itu karena semua yang kuinginkan ada di ingatanku hari ini."
"Maksudmu?"
"Mungkin jika aku terus hidup dan kecelakaan itu tidak menimpaku, aku tidak akan mendapatkan mimpiku."
Dokter Shin tampak harus menelan banyak waktu untuk memproses perkataannya. Namun tak urung dia mengangguk dan tersenyum lebar. "Jika ini seperti kabar baik, aku menyertai kebahagiaanmu Mr. Kim" ujar Dokter Shin penuh haru dan saat itu menarik dirinya ke dalam sebuah pelukan erat.
"Satu kali ini kumohon bantu aku untuk merahasiakannya Paman."
.
.
Dia tidak bisa tidur. Salah satunya karena dia begitu canggung berada di tempat yang sama dengan Jiminie. Hubungan mereka terakhir kali tidak begitu baik. Sebelum kabar kematiannya, dia sama sekali tidak berhubungan dengan Jiminie dan kini lelaki itu terus membuntutinya kemanapun menanyakan kesehatannya. Tidak berarti dia membenci hal itu hanya saja, dia sedikit gugup seperti pertama kali dia mencoba berjalan dan menerima kenyataan kalau dia tidak lagi pincang. Semua ini seperti mimpi bukan?
Hal lain yang menganggunya mungkin keinginan untuk kembali ke Seoul. Melihat perpustakaan dan bertemu Nenek Jung. Dia juga harus mengurus administrasi soal pengembalian nama baiknya. Belum lagi status hidupnya sudah dihapus oleh pemerintah di sana. Dia juga harus kembali membongkar kasus penculikan Jiminie dan pembunuhan yang melibatkan dirinya delapan tahun silam. Artinya dia harus segera bertemu dengan Jino. Lelaki itu masih berada di penjara. Terakhir dari yang diceritakan oleh Hoseok, tampaknya Seokjin dan Namjoon turun tangan sendiri untuk menuntut Jino juga ayahnya atas dasar pembunuhan berencana dan manipulasi kematian seseorang.
Entah sudah sampai mana kasus itu berlanjut. Namjoon dan Seokjin juga tidak pernah membahas semua itu.
Dia menghela nafas panjang. Rasanya sangat ingin merokok meski sebagian dari dirinya melarang. Ada satu hal lain yang begitu menyita pikirannya. Semua ini tentang kepribadiannya. Dia hidup berdampingan dengan Kim Suga yang kini masih sering berkata banyak di pikirannya. Suga begitu sangat berbeda dengan dirinya dan lebih dari itu bagaimana cara mengatakan pada Seokjin jika dia sudah kembali?
"Suga-ssi? kau belum tidur?"
Dia mendengar gerakan Jiminie yang baru turun dari ranjang. Jiminie mendekat dan duduk di depannya.
"Suga-ssi, apa yang terjadi? kau bermimpi lagi?" tanya Jiminie sambil mengusap matanya yang mengantuk. Dalam hati dia mengutuk Kim Suga. Well, Jiminie selalu bisa melemahkannya.
Dia tersenyum tipis.
"Aku hanya tidak bisa tidur" jawabnya singkat. Jiminie menatapnya sekali lagi sebelum menunduk.
"Kau ingin sesuatu? aku bisa membantumu supaya kau bisa tidur."
Ada satu semburat merah muda di pipi Jiminie. Jiminie begitu berubah banyak. Jiminie tidak pernah sepemalu ini sebelumnya. Dia ingin tertawa hanya saja dia tidak mungkin mengacaukan semua rencananya.
Iya, dia mengerti sekali maksud Jiminie.
Perlahan dia mengelus pipi Jiminie. Lelaki itu kembali menatapnya.
"Sebentar lagi. Kembalilah tidur, aku akan menyusulmu."
Jiminie mengangguk. "Kepalamu.. apa sakit lagi?"
"Tidak. Dokter Shin bilang kepalaku sudah baik-baik saja." jawabnya lagi.
Jiminie terlihat kikuk. Lelaki itu seperti sudah kehabisan ide untuk menariknya kembali ke ranjang. Dia menarik dagu Jiminie agar lelaki itu menoleh ke arahnya.
"Aku baik-baik saja, Jimi-n" ucapnya. Hampir saja dia memanggil Jimin dengan sebutan biasanya.
Saat itu dia tidak menyangka kalau Jiminie akan mengecup bibirnya lembut dan melumatnya sesaat.
Dia tidak mempunyai waktu untuk membalas ciuman Jiminie. Otaknya seperti membeku. Dia tahu ini bukan yang pertama kalinya bagi Suga. Rasanya begitu berbeda karena dulu dia hanya mendapatkan itu di dalam mimpinya saat dia berumur enam belas sampai hari dimana dia hilang ingatan.
Jiminie menatapnya sekilas sebelum menunduk lagi dengan semburat merah muda di pipinya. Dia mengelus pipi Jiminie dengan lembut.
"Tidurlah, aku akan menyusulmu." ucapnya hampir tanpa suara.
.
.
Dia tidak pernah merasa hidupnya begitu ramai. Mungkin sebelumnya sarapan seperti hal yang biasa-biasa saja tapi entah mengapa setelah dia mendapatkan kembali ingatannya, semua terasa berbeda. Dia belum pernah sarapan bersama dengan keluarga selama dia hidup.
"Suga-yah, kau bisa istirahat saja. Tidak perlu ke kantor." kata Seokjin sambil menuang susu untuk Jungkook.
"Aku baik-baik saja. Seharusnya Suran sudah mengambil cuti untuk acara pertunangannya. Dia sudah menunda persiapannya begitu lama. Aku tidak ingin menghambat acaranya." jelasnya. Dia ingat betul Suran sudah membicarakan soal niat untuk bertunangan sebelum dia membawa Jiminie ke Pulau Sentosa.
"Suran- Well, gadis itu memang sepertinya lebih memilih pekerjaan dibanding masa depannya." ucap Seokjin lagi.
Dia melihat Jiminie datang dari dapur membawa satu pitcher jus buah yang diminta Seokjin sebelumnya. Jiminie memakai celemek pink milik Seokjin yang terlihat sangat lucu. Dia hampir tersenyum jika saja dia lupa dimana dia berada sekarang.
"Suga-ssi, kuambilkan jus untukmu ya?"
Dia mengangguk pelan dan detik itu Jimin kembali menghilang ke dapur hingga beberapa saat kemudian datang membawa satu pitcher jus.
"Jimin, sarapan saja dulu. Biar Jungkook yang menuangkannya untuk Suga. Sejak tadi kau sibuk kesana kemari menyiapkan sarapan." pinta Namjoon. Seokjin mengiyakan sambil mengisyaratkan pada Jiminie untuk duduk di tempatnya.
"Tidak apa-apa Namjoon-ssi. Hari ini tugasku menyiapkan sarapan."
Jiminie membawa dua buah tempat bekal dan menaruh di sisi kanan tempatnya duduk juga di dekat Namjoon sebelum duduk di kursinya.
Jiminie melahap roti panggang buatannya juga meneguk susu hangat.
"Suga-yah, Suran akan cuti selama seminggu. Kurasa kau perlu bantuan Namjoon untuk proyek hotel."
"Well, sebenarnya aku memang membutuhkan bantuan kalian berdua karena aku harus ke pergi ke Seoul."
Saa itu bukan hanya Namjoon dan Seokjin yang terkejut. Jiminie dan Jungkook juga menatap tidak percaya ke arahnya.
"Seoul? lagi?" tanya Seokjin sedikit melirik ke arah Jiminie.
"Yeah. Hoseok mengirimkan email semalam dan aku rasa, aku harus datang ke sana."
"Apa ada masalah?"
"Hanya ada beberapa masalah di bagian vendor tapi Hoseok bilang aku harus menanganinya langsung."
"Hyung, aku ikut!"
"Tidak Jungkookie, kau akan mengikuti ujian sebentar lagi. Nanti saja ya." jawab Seokjin dan saat itu Jungkook melipat wajahnya kesal.
"Kapan kau akan pergi?" tanya Namjoon lagi.
"Aku dan Jimin akan pergi besok."
Dia bisa melihat Jiminie menatapnya dengan senang. Dia tersenyum tipis dan saat itu Jiminie kembali makan dengan lahap.
Tentu dia harus pulang ke Seoul. Dia harus mengurus segalanya hingga nanti Jiminie bisa melihat dia sudah kembali.
.
.
To Be Continue
Mohon maaf sekali atas keterlambatan updatenya. Cerita ini bukan ditelantarkan cuma saya terdistraksi sama proyek ff baru yg entah kenapa tau-tau ada di kepala saya. Saya juga perlu waktu banyak untuk menuangkan semua flashback Min Yoongi
Semoga chapter ini menjawab semuanya ya? karna yang paling menyedihkan buat saya adalah menulis bagian yang paling menyedihkan.
Terima kasih sudah menunggu sampai hari ini.
Oh ya di beberapa chapter belakang, ada part yang terpotong ketika dibaca ulang jadi ada beberapa kata yang hilang dan gatau gimana. Semoga temen-temen bisa mengerti ya. Mohon maaf saya membuat ff jni hanya menggunakan ponsel. Jadi terkadang banyak typo yang tidak bisa dihindari. Semoga setelah awal tahun baru ff ini bisa update dengan normal. aamin.
Bagian Taekook dan Vhope. Saya udah dapat jawabannya hehehe mungkin mereka akan berperan banyak di beberapa chapter ke depan. Terima kasih. Sampai jumpa lagi.
Kim Kyuna.
