Pinky Bluie
Cast: SEVENTEEN, mungkin akan ada grup lain dan banyak figuran.
Rating: T
Genre: Friendship/Romance
Warning: GS tanpa merubah nama, alur yang mungkin lambat-lambat-lambat sekali, fic tidak jelas –sekali lagi aku bilang ini akan jadi sangat tidak jelas –aku serius.
Member yang ku-switch di fic ini: Jeonghan, Wonwoo, Jihoon, Minghao, Seungkwan. Selain itu tetap.
Judul terinspirasi Pinky Zhou dan warna rambut SoonHoon era lalu. Cerita diambil dari hubunganku dengan seseorang di dunia nyata, bisa dibilang 62% kisah nyata, 38% penyesuaian dengan tokoh dan gabungan dua hal atau lebih.
XXX
Kadang Jihoon tidak mengerti tapi teman temannya –di Cheollie's Angel- tiba tiba berkumpul.
Cara memancingnya mudah, cukup kirim Line yang isinya 'ayo kumpul' dan saat ini mereka sedang tiduran di ranjang Seungcheol.
Mingyu hari ini santai sekali, dia cuma pakai celana selutut dan kaus lengan panjang garis garis hitam. Lengannya melar dan hampir menutupi tangannya, mirip Wonwoo. Wonwoo sendiri tidur di paha Mingyu. Wonwoo masih saja cantik, tinggi, putih, langsing –model material. Jihoon iri.
Seungcheol pakai kaus dan celana rumah biasa, tidur berpelukan dengan Jeonghan. Jihoon merasa agak kikuk, tapi masalah 'internal' antara Seungcheol dan Jeonghan sebenarnya bukan masalahnya dan tidak ada untungnya juga kalau dia ikut campur.
Jihoon duduk di tengah kasur, membatasi dua pasangan itu sambil nonton promo bisnis properti di TV. Kali ini developer-nya mengembangkan suatu kawasan dengan membangun satu lagi gedung apartemen yang posisinya tidak terlalu jauh dari apartemen lain yang sudah lebih dulu ada. Tidak ada yang peduli dengan acara yang Jihoon tonton karena keempat temannya –dua pasangan itu- sedang sibuk pacaran.
Tapi begitu nama Seoul Tower disebut, Jeonghan menengok.
"Apartemen Josh." Katanya.
Jihoon tahu gedung itu, ada mall di lantai bawahnya, ada apartemennya, dan katanya ada kantor di puncaknya. Jihoon pernah beberapa kali ke sana kalau diajak buat cover dan kadang main ke mall di lantai bawah gedung.
Jeonghan akhirnya malah ikut menonton acara itu. Dia terlihat tertarik dengan cicilan 60x dan iming iming balik modal dalam dua setengah tahun.
"Jadi yang kau ingat cuma Josh saja?" tanya Seungcheol.
"Aih." Jeonghan meringis.
Handphone Wonwoo tiba tiba berbunyi, notifikasi Line. Wonwoo mengambil handphone-nya sambil menggerutu, "Siapa sih, berisik."
Tapi Mingyu buru buru mengambil handphone Wonwoo dari tangan pemiliknya.
"Mingyu!" Wonwoo protes.
"Hoshi?" tapi Mingyu malah bertanya, "Untuk apa Hoshi Hyung mencarimu?"
Wonwoo mengambil handphone-nya dari tangan Mingyu, "Mana aku tahu? Kan Line-nya belum kubaca, kau bagaimana sih?" kata Wonwoo, "Hoshi itu berisik, dia dari kemarin tanya tanya terus so-"
"Hoshi ngeline?" Sela Jihoon. daripada nanti Wonwoo menggeluh panjang lebar, lebih baik Jihoon langsung ke intinya saja.
"Iya." Jawab Wonwoo, lalu dia menyodorkan handphone-nya pada Jihoon, "Coba kau saja yang balas, Ji."
"Kenapa aku?"
"Aku malas dengannya, sudah sana kau balas." Kata Wonwoo, dia memberikan handphone-nya pada Jihoon dan tidak mau mengambilnya lagi.
"Ini kan handphone-mu." Kata Jihoon, handphone Wonwoo masih di tangannya.
"Tapi paling dia juga cuma tanya tanya soalmu, aku malas." Kata Wonwoo, menyibukan tangannya dengan meremas kaus Mingyu. Sekarang ketahuan kenapa kaus Mingyu bisa melar.
"Ih." Jihoon mau tak mau menuruti Wonwoo, walaupun akhirnya dia cuma memandangi chat yang belum dibuka sama sekali itu. Jihoon juga tidak berniat membuka, itu kan Line Wonwoo, bukan Line-nya.
Jeonghan tiba tiba bertanya, "Siapa itu Hoshi?"
Wonwoo dan Seungcheol menjawab bersamaan, "Calonnya Uji."
"Calon!?"
"Calon pacar." Jelas Wonwoo, lalu dia bicara pada Seungcheol, "Oppa sudah bertemu dengannya waktu dia main ke rumah Jihoon ya?"
"Ya, aku tahu dia." Jawab Seungcheol.
"Bagaimana?" tanya Wonwoo, jelas soal kesan Seungcheol pada Hoshi.
Seungcheol menggeleng dan Wonwoo dengan cepat paham kalau itu tanda kalau Seungcheol tidak suka.
Jihoon diam diantara mereka.
Wonwoo menghela napas.
Jeonghan bertanya lagi, "Anaknya kayak apa?"
"Lebih pendek sedikit dari Seungcheol Oppa, sipit, rambutnya biru." Jawab Wonwoo cepat.
"Bukan ciri cirinya, tapi mukanya." Kata Jeonghan lagi.
"Oh, fotonya. Sini handphone-ku, Ji."
Jihoon memberikan handphone Wonwoo pada pemiliknya. Dan Wonwoo kelihatannya mencari foto Hoshi.
"Ini." Dan dia langsung menunjukannya pada Jeonghan.
"Hm," Jeonghan berkedip, memperhatikan fotonya, "Aku rasanya kenal." Katanya.
"Kau kenal, Eonnie?" tanya Wonwoo. Jihoon juga penasaran dan dia menunggu Jeonghan akan bilang apa.
"Cuma fimiliar saja. Hoshi, ya? Coba nanti aku tanya teman temanku. Kayaknya aku pernah liat dia –Anak seni tari ya?"
"Iya, seni tari. Menurutmu dia bagaimana?"
"Bocah." Jawab Jeonghan cepat.
Jihoon tertawa kecil, jawabannya persis jawaban Seungcheol.
"Coba nanti aku cari." Kata Jeonghan.
"Coba di-mute saja kalau berisik." Kata Mingyu soal Line Hoshi.
Wonwoo melakukan apa yang Mingyu katakan walau sambil mengeluh, "Tapi aku tidak suka kalau ada Line yang belum terbaca."
"Nanti saja bacanya." Kata Mingyu.
Wonwoo cemberut, tapi dia tidak mengutak atik handphone-nya lagi, dia menaruhnya begitu saja di kasur.
Lalu handphone Jeonghan yang berbunyi, telepon.
"Josh." Kata Jeonghan.
"Angkat saja." kata Seungcheol.
"Dia biasanya SMS loh." Kata Jeonghan.
Dan dia mengangkat telepon Joshua.
"..."
"With Cheol, why?"
"..."
Jeonghan melirik Seungcheol, "I don't know, Josh."
Seungcheol bertanya, "Kenapa?"
"Ini di-loudspeaker, ya, Josh."
Dari seberang Joshua H bilang, "Okay. Seungcheol, kau disana, bro?"
"Ya, kenapa?" tanya Seungcheol.
"Aku barusan dapat text dari Mom, dia bilang dia mau ketemu Jeonghan. Jadi sekarang aku tanya padamu, boleh tidak dia pergi, then she said i don't know, so i ask you."
"Kenapa tanya aku? Kalau Jeonghan mau pergi dia bisa pergi kok." Kata Seungcheol.
Jeonghan tersenyum padanya.
"We ask for your permission, sebenarnya." Kata Joshua.
"Kau sudah beli tiket?" tanya Jeonghan.
"You know, aku memang ada rencana kesana, rite? Aku sudah booking flight ke L.A, tapi kayaknya mau ku-cancel." Jelas Joshua.
"Memang kapan flight-nya?" tanya Jeonghan.
"Lusa. Aku tidak tahu kau bisa atau tidak kalau lusa."
"Aku tidak bisa sih."
"Okay, jadi aku cancel ya."
"Ya. Sekarang kau dimana, Josh?"
"Dibawah, biasa, why?" katanya, Joshua ada di mall di lantai bawah gedung apartemennya.
"Sebenarnya aku ingin kesana," Kata Jeonghan, dia melirik Seungcheol, "Sekalian kita ngobrol soal tiket."
"Iya, kesini saja, Angel. Kau di rumah Seungcheol kan? Dari situ sekitar lebih dari setengah jam kesini, kau bisa sampai pas jam makan siang."
"But, Josh, kita bawa yang lain juga."
"Oh, ya? Great! Ayo sini."
XXX
Note: Lee Sang dari chapter kemarin itu tampannya... aduh! Main gitarnya... aduh! Suaranya... aduh! Aku suka ngedenger dia, suka suka suka! Dan dia tidak kelewat jangkung, haha (aku suka cowok mungil seperti Jihoon dan Jimin, juga Lee Taeil, Suho, Chen, pokoknya yang begitulah)
Note: Adikku, si Seunghyun itu, kalau punya baju pasti melar. Entah tangannya atau lehernya, dia emang suka narik narik baju sih, jadi itu normal.
Note: Channel favorit-ku di hari minggu adalah M****tv dan acara promo properti-nya, aku suka lupa waktu kalau sudah menonton itu. (Aneh ya?)
Note: Seoul Tower itu fiksi, kalau ada yang tahu properti dari suatu grup tertentu mungkin tahu aku dapat inspirasi darimana. (Eh. Aku tidak perlu disclaim kan?)
Note: Josh memanggil Jeonghan dengan nama ... (baca chapter ini). Itu bisa juga dibilang english name-nya Jeonghan yang dibuat oleh the Hongs.
