Sinar matahari masuk melalui jendela, mengenai mata Kyuhyun. Pemuda itu mengerang pelan, membuka matanya sedikit dan menyadari bahwa hari sudah pagi. Dia masih sangat mengantuk, setidaknya ia harus tidur lima menit lagi. Ia pun kembali menutup matanya dan bergelung dengan selimut.
Hmmm...entah kenapa wangi selimut ini sangat membuatnya nyaman, terasa hangat dan...berat?
Kyuhyun langsung membuka matanya, dan begitu melihat kesamping matanya langsung melotot. Choi Siwon tidur disampingnya dengan tangan memeluk pinggang Kyuhyun!?
"AAAAARGH! KENAPA KAU ADA DIKAMARKU!" Kyuhyun langsung berteriak panik, membuat Siwon langsung terbangun.
Pria itu masih setengah bangun dan melihat sekitarnya dan agak kaget mendapati Kyuhyun tidur disampingnya.
"M-mwo!? Ini adalah kamarku! Kau yang tidur di rumahku Cho!" Protes Siwon.
B-benarkah?
Kyuhyun kemudian melihat ke sekitarnya dan langsung kaget. Benar, ia berada dikamar Siwon. Pemuda itu langsung menyilang tangan di depan dada, berpikir tentang apa yang terjadi semalam. Kenapa ia berada disini?
.
.
.
.
Tittle : Fly To The Sky
Genre : Comedy Romance
Rating : T
Main Cast :
Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun
Choi Siwon as Choi Siwon
Other Cast :
Choi Minho as Choi Minho
Shim Changmin as Shim Changmin
Lee Donghae as Cho Donghae
Kim Jungmyeon as Choi Suho
Kim Heechul as Cho Heechul *Genderswitch
Park Jungsoo as Choi Jungsoo *Genderswitch
Tan Hangeng as Cho Hankyung
Lee Hyukjae as Lee Hyukjae
Kim Kibum as Kim Kibum / Choi Kibum
Kim Youngwoon as Kim Youngwoon / Kangin
.
.
.
Seoul-South Korea
.
Flashback
.
Author POV
Pukul sebelas malam ketika Kyuhyun kembali kerumahnya. Ia masuk dengan sepelan mungkin, berharap tak ada satupun yang menyadari bahwa ia baru saja pergi ke rumah Siwon. Kyuhyun bersyukur karena lampu sudah dimatikan, tanda bahwa seluruh anggota keluarga Cho mungkin sudah tidur atau berada dikamar masing-masing. Ia pun langsung bisa bernapas lega.
"Kau darimana malam-malam begini, Kyunie?"
Kyuhyun baru akan menaiki tangga menuju kamarnya ketika tiba-tiba lampu dihidupkan dan terdengar suara sang Ibu yang menginstrupsinya.
Pemuda itu menoleh ke samping, asal suara itu berbunyi. Ibunya tampak duduk dengan tangan dilipat depan dada. Dan ada sang Ayah dan Donghae yang duduk dikiri dan kanan wanita itu. Keduanya hanya tersenyum maklum dan berharap Kyuhyun selamat dari si Ratu Iblis. Tatapan Heechul mengintrogasi.
"Mini market." jawab Kyuhyun asal. Mana mau dia mengakui bahwa dirinya baru dari rumah Siwon.
Heechul melihat kedua tangan Kyuhyun tidak membawa apapun."Mini market jaraknya satu kilo dari rumah kita. Dan dimana belanjaanmu jika kau benar-benar pergi ke mini market?"
Kyuhyun mulai tidak sabaran, "Aku membeli Yogurt, dan aku meminumnya dalam perjalanan hingga habis. Aku tak mungkin membawa sampahnya kerumah hanya untuk membuat Eomma percaya."
Heechul menatap Kyuhyun serius, dan begitu juga Kyuhyun. Dalam hati ia berharap Ibunya, Si Ratu Iblis dapat percaya.
Setelah beberapa detik, Heechul mengeluarkan suara. "Geurae? Arraseo."
Hankyung dan Donghae baru akan bernapas lega ketika Heechul kembali berkata,"Ini belum terlalu malam. Ayo bermain Go-Stop."
Ketiga pria keluarga Cho itu agak kaget. Benar-benar tidak biasanya Heechul mengajak mereka bermain Go-Stop. Kyuhyun yang kali ini menatap Ibunya dengan serius, ia memincingkan matanya. "Eomma...apa kau merencanakan sesuatu?"
Heechul memperlihatkan smirk diwajahnya, "Apa kau takut kalah dengan wanita tua yang masih punya wajah cantik ini?" ia balik bertanya.
Keduanya saling beradu pandang beberapa saat, "Baiklah. Tapi tidak seru jika hanya bermain dengan uang. Ada tambahan hadiah. Bagaimana jika kalah harus menuruti apa yang diminta oleh pemenang?"
Donghae menghela napas panjang, kedua iblis sudah saling membuka perangkap masing-masing. Ia melirik sang Ayah, berharap dapat menjadi penengah. Tapi Hankyung hanya tersenyum maklum dan berkata, "Kita harus mengawasi mereka berdua, Hae-ah."
Heechul tersenyum puas, "Baiklah, waktunya bermain. Hae-ah, keluarkan soju~"
.
.
.
WK
.
.
.
"YEAY! Eomma menang~~~"
Heechul berteriak kegirangan ketika berhasil menang. Wajahnya kemerahan khas mabuk. Sementara itu Kyuhyun mendengus kesal, wajahnya juga merah. Ia sudah mabuk. Kepalanya, ia senderkan di bahu Donghae yang tidur dengan posisi duduk. Ia sudah sangat lelah karena Ibu dan adiknya sudah bermain Go-Stop selama beberapa ronde. Hankyung juga sudah tertidur. Ia tidur bersandar di bahu Heechul.
"Karena kau yang kalah, kau harus menuruti permintaan Eomma~" kata Heechul tersenyum lebar, tapi matanya setengah terbuka.
Kyuhyun menghela napas panjang, ia memberengut kesal. "Eomma mau apa...?"
"Choi Siwon. Eomma mau kau tidur dengannya~" kata Heechul cepat.
Kyuhyun terdiam sejenak, matanya mengerjap lucu. "Kenapa aku harus tidur dengannya..? Aku bukan kekasihnya lagi..."
Heechul menunjuk Kyuhyun dengan telunjuknya, "Kau sudah berjanji...jadi harus ditepati..."
"...Sekarang?" tanya Kyuhyun dengan lucunya.
Heechul mengangguk, "Cepat pergi sana!"
"Aish! Arraseo..." Kyuhyun berusaha untuk berdiri, dengan sempoyongan ia berjalan menuju keluar. Ia terlalu mabuk untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah memastikan Kyuhyun benar-benar pergi ke rumah keluarga Choi, Heechul tersenyum puas, ia belum benar-benar mabuk.
"Hmmm...aku berhasil~" ucapnya.
Ia kemudian melihat Donghae dan Hankyung yang tampak tidur nyenyak. Dengan segera ia menepuk pipi keduanya dan berteriak. "CEPAT BANGUN!"
Keduanya pun tersentak kaget dan bangun. Donghae melihat sekelilingnya, mencari Kyuhyun. "Ng? Dimana Kyu?"
Heechul tersenyum, "Kyuhyun sudah berada di 'kamarnya'."
.
Flashback End
.
.
WK
.
.
.
Wajah Kyuhyun langsung memerah ketika menyadari bahwa ia mengingat semuanya sekarang. Matanya penuh kemarahan. Awas saja! Akan kubalas kau Ratu Iblis! batinnya. Pantas saja waktu makan malam, Heechul tampak sangat tenang. Si Ratu Iblis ternyata sedang mengatur strategi.
Ia kemudian menatap Siwon tajam, "Bagaimana mungkin kau tidak bangun ketika aku ada disini!?"
Siwon mengerjapkan matanya, ia kemudian menunjuk kearah meja nakas disamping tempat tidur. Ada botol obat disana. "Dua hari terakhir aku tidak tidur nyenyak, jadi aku meminum itu agar bisa tidur."
"Aish! Kau menyebalkan!" ujar Kyuhyun
Kyuhyun menghela napas panjang. Ia kemudian beranjak dari tempat tidur menuju pintu kamar.
Cklek!
Ketika Kyuhyun membuka pintu, tampak Suho dan Jungsoo berdiri di depan pintu. Wajah Kyuhyun semakin memerah. Tanpa bicara apapun, pemuda itu langsung pergi meninggalkan kediaman keluarga Choi.
Siwon yang juga masih bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi masih terduduk di tempat tidurnya. Ia kemudian menoleh dan menatap Jungsoo dan Suho yang tampak sangat kaget. Sontak wajahnya langsung kaku dan agak panik.
Siwon mengangkat bahu dan terbata-bata menjawab,"J-jangan tanya aku. Aku sama sekali tidak i-ingat."
.
.
.
WK
.
.
.
Perang dunia tampaknya akan meletus di kediaman keluarga Cho. Donghae sesungguhnya ingin melarikan diri dari kegiatan sarapan pagi itu. Tapi ketika ia baru menuruni tangga untuk pergi ke kantor langsung dicegat oleh suara Heechul yang memanggilnya. "Hae-ah, panggilkan Kyuhyun dikamarnya. Waktunya sarapan!"
Donghae hanya mampu menghela napas panjang, kembali menaiki tangga menuju kamar Kyuhyun. Betapa terkejutnya ia tahu apa yang terjadi ketika melihat Kyuhyun yang masuk ke dalam rumah tadi. Ia baru sadar bahwa ternyata sang adik tak berada dikamarnya semalam. Donghae merutuki dirinya sendiri, tak tahu rencana sang Ibu tadi malam.
Tok! Tok!
Diketuknya pintu kamar itu, "Kyu, boleh hyung masuk?"
Beberapa saat kemudian terdengar suara Kyuhyun, "...masuklah."
Cklek!
Dibukanya pintu kamar itu. Kyuhyun duduk berbaring di kamarnya, seluruh tubuhnya tertutupi selimut. Donghae lagi-lagi menghela napas. Dihampirinya sang adik, duduk dipinggir tempat tidur.
"Kau masih mengantuk?" tanya Donghae pelan.
Awalnya tak ada jawaban, tapi perlahan Kyuhyun membuka selimut yang menutupi wajahnya. Mukanya tampak sangat merah, semerah tomat.
"Kau sakit?" tanya Donghae, khawatir ketika melihat wajah adiknya sangat merah. Ditempelkannya telapak tangan di dahi Kyuhyun. Kyuhyun hanya menggeleng.
Donghae tampak bingung, "Jadi, kenapa wajahmu merah?" tanyanya.
Bukan menjawab, Kyuhyun malah menutup wajahnya. Sesungguhnya saat terbangun dikamar Siwon tadi, Kyuhyun ingin langsung memarahi Ibunya. Tapi Kyuhyun tidak bisa menemui Ibunya dengan wajah semerah ini. Memalukan. Kenyataan yang sedang tidak ingin ia percayai membuatnya jadi begini.
"Bolehkah aku tidak bekerja hari ini?" tanya Kyuhyun pelan.
Donghae mengangguk, "Jangan khawatir, istirahatlah. Dan ada satu lagi, Eomma memintamu turun untuk sarapan."
Bagi keluarga Cho adalah kewajiban untuk sarapan, makan siang , dan makan malam bersama jika anggota keluarga itu ada di rumah. Kebiasaan itu ditanamkan agar mereka sering berkomunikasi di sela-sela kesibukan masing-masing. Dan Kyuhyun sudah melewatkan itu selama beberapa tahun terakhir.
Kyuhyun menghela napas panjang sebelum menjawab, masih dengan kedua tangan menutup wajah. "Aku akan turun sebentar lagi."
Donghae mengangguk, "Hyung tunggu dibawah." ujarnya kemudian menepuk pelan bahu Kyuhyun. Ia kemudian beranjak keluar dari kamar itu. Meninggalkan Kyuhyun yang sedang mengendalikan dirinya sendiri sebelum bertemu sang Ibu yang akan mendapat omelan gratis darinya.
.
.
.
WK
.
.
Incheon-South Korea
.
Siwon tersenyum puas melihat pesawat jet yang ada di depannya. Siwon meminjam pesawat milik keluarga Cho itu untuk latihan bersama Kyuhyun. Menurutnya, terlalu mudah bagi Kyuhyun jika berlatih dengan simulator. Dan lagipula, akan menyenangkan bila mengemudikan pesawat sungguhan, hanya berdua dengan Kyuhyun.
"Kenapa kau menyuruhku kemari?"
Siwon menoleh ketika mendengar suara Kyuhyun. Pemuda itu berjalan mendekat, Kyuhyun melepas kacamata hitamnya dan menatap pesawat jet di depan mereka. "Bukankah ini pesawat jet milik Fishie hyung?" tanyanya.
"Aku meminjamnya agar kita berlatih untuk ujian besok." kata Siwon tersenyum.
Kyuhyun memutar bola matanya dan menatap Siwon malas, "Kenapa harus latihan segala, sih? Kita kan sudah pernah berpasangan dalam beberapa penerbangan. Lagipula, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk menerbangkan pesawat ini. Apa kau tidak memikirkannya?"
"Sejak kapan kau mendadak jadi pelit begini?" keluh Siwon.
Kyuhyun mendelik, "Aku bukan pelit, tapi irit."
"Geurae, aku yang menanggung biaya sewa pesawat ini. Kau puas? Ayolah, kita pernah gagal di ujian simulasi. Aku tak mau gagal untuk yang kedua kalinya." ujar Siwon.
Kyuhyun mendelik kesal, "Yak! Kau menyalahkanku!?" teriaknya.
Siwon hanya menghela napas panjang, ditariknya tangan Kyuhyun. "Siapa yang bilang begitu? Cepatlah! Kau bisa keriput jika terus mengomel."
Kyuhyun hendak melepas tangan Siwon, tapi genggaman pria itu cukup kuat. Siwon menoleh sedikit dan tersenyum jahil, "Kenapa kau selalu menghindariku, sih? Kita kan 'teman tapi mesra'. Kita bahkan sudah tidur bersama."
Blush!
Siwon berhasil membuat pipi Kyuhyun memerah. Hah...Kyuhyun sudah berusaha keras untuk tidak mengingat apa yang terjadi pagi tadi. Asal Siwon tahu saja, Kyuhyun butuh waktu untuk menghilangkan rasa malunya untuk datang kesini. Bahkan pada akhirnya pipinya tetap memerah tadi saat mengomel pada ibunya di meja makan. Sarapannya sudah tidak menyenangkan. Dan Siwon sendiri sudah tahu apa yang terjadi semalam dari Donghae tadi. Kau sudah memelukku dua kali saat tidur, batin Siwon. Bisa gawat jika Kyuhyun mendengarnya.
"Kau menyebalkan!" keluh Kyuhyun. Ia masih tidak menyerah untuk melepaskan tangannya. "Aakh!" teriaknya pelan.
Siwon menoleh dan melihat wajah Kyuhyun yang tampak kesakitan. Segera dilepaskannya genggaman tangannya yang menimbulkan bekas kemerahan. "Kyu, gwenchana? Mianhae, aku terlalu kuat menarikmu." ujarnya.
Kyuhyun meringis pelan sebelum kemudian memukul bahu Siwon keras. Pria itu mengaduh sakit. "Aakh! M-mian."
"Rasakan!" kata Kyuhyun sebelum mendahului Siwon masuk ke dalam pesawat.
.
.
.
WK
.
.
Seoul-South Korea
.
"Dia mengancam akan pindah ke apartemen jika aku melakukan hal itu lagi. Aigoo, anak itu kenapa kolot sekali. 'Tidur bersama' bukan hal yang aneh zaman sekarang. Bahkan mereka sama sekali tidak melakukan apapun selain tidur. Seperti dua batang kayu saja."
Jungsoo hanya tersenyum mendengar celotehan Heechul sambil memperhatikan beberapa pakaian yang terpajang di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul itu. Ia menemani Heechul memilih pakaian untuk Hankyung.
"Tampaknya kau harus berhenti ikut campur lagi, Chullie-ah. Bisa gawat jika Kyuhyun benar-benar melakukan apa yang ia katakan padamu. Sudah cukup beberapa tahun terakhir dia jauh darimu." ujar Jungsoo.
Heechul menoleh dan berkata, "Eonni tak perlu khawatir. Itu hanya gertakannya saja. Lagipula sebentar lagi pasti mereka akan kembali bersama."
"Baiklah kalau begitu," kata Jungsoo. Tangannya mengambil sebuah kemeja warna blue aqua. Awalnya ia tersenyum melihat kemeja itu, tapi perlahan matanya tampak sendu.
"Eonni mau membeli itu untuk Siwon?"
Jungsoo tersadar dari lamunannya ketika Heechul bertanya padanya. Ia tersenyum dan menggeleng, "Siwon tidak terlalu suka warna ini."
Heechul mengangguk paham. Ia kemudian kembali sibuk memilih pakaian. Jungsoo juga hendak kembali memilih ketika terdengar suara memanggilnya. "Choi Jungsoo-ssi!"
Jungsoo menoleh dan terkejut melihat siapa yang memanggilnya itu.
.
.
.
WK
.
.
Incheon-South Korea
.
"Otte? Pendaratan yang mulus. Kita harus melakukannya seperti ini saat ujian besok." ujar Siwon.
Mereka baru saja mendaratkan kembali pesawat jet ke bandara Incheon setelah cukup lama berkeliling. Mereka memang terbang tidak jauh dan agak rendah karena masih dilingkungan Incheon.
Kyuhyun mendengus pelan, "Bahkan aku sudah pernah terbang dengan Airbus. Menerbangkan pesawat jet bukan hal yang sulit." ujarnya. Dilepaskannya kacamata yang tergantung di hidung bangirnya. Ia kemudian melepas headphone dan hendak pergi ketika Siwon menginstrupsinya.
"Mau makan siang bersama?"
Kyuhyun menoleh, menatap pria yang menatapnya dengan senyum itu. Entah kenapa jantungnya jadi berdegup kencang melihat wajah pemuda itu. Lagi-lagi kejadian tadi pagi terlintas di otaknya. Ada apa denganku? batinnya.
"M-makanlah sendiri. Aku harus pergi ke suatu tempat." kata Kyuhyun.
Siwon pun akhirnya mengangguk. Keduanya kemudian keluar dari kokpit. Siwon tampaknya harus menelan pil kekecewaan karena penolakan Kyuhyun. Dia sibuk mengaktifkan ponselnya, untuk membatalkan reservasi di salah satu restoran perancis yang rencananya akan ia datangi bersama Kyuhyun.
"Choi, ak—"
"Aakh!"
Bruk!
Kyuhyun hendak berbalik ketika Siwon menabraknya. Kyuhyun meringis menahan sakit karena tubuhnya yang terbaring dilantai cabin. Siwon juga meringis, karena tangannya tertindih kepala Kyuhyun. Saat terjatuh tadi, gerakan refleknya melindungi kepala Kyuhyun.
"Aish..." Awalnya Kyuhyun membuka matanya sambil berdecak kesal. Tapi mendadak matanya melotot ketika menyadari keadaannya saat ini. Siwon berada diatasnya, ia juga menyadari tangan Siwon melindungi kepalanya.
Blush!
Deg!
Deg!
Pipinya mendadak memerah. Kyuhyun merasa wajahnya panas dan jantungnya berdegup sangat kencang. Sudah lama sekali sejak ia melihat wajah Siwon sedekat ini. Bahkan ia dapat merasakan deru napas Siwon.
"Apa aku sangat tampan sampai kau menatapku begitu?"
Kyuhyun tersadar dari lamunan ketika mendengar perkataan Siwon dan melihat dimple smile di pipi pria itu. Ia terkesiap, dan segera mendorong tubuh Siwon menjauh. Siwon terkekeh melihat reaksi Kyuhyun, dengan segera ia menyingkir, mengambil ponselnya yang terjatuh dilantai.
"B-begitukah caramu mengucapkan maaf? Kau menabrakku!" omel Kyuhyun sambil berusaha bangkit.
Siwon tersenyum, "Sorry."
Kyuhyun hanya mendengus kesal, pergi meninggalkan Siwon. Sepeninggalan pemuda itu, Siwon tertawa ringan. Meski belum berasil mengajak Kyuhyun makan siang, setidaknya ia berhasil mengerjai Kyuhyun. Dia berhasil membuat pemuda itu salah tingkah. Tak salah ide berpura-pura menabrak Kyuhyun ia lakukan~
.
.
.
WK
.
.
Seoul-South Korea
.
Di Universitas Korea, seorang dosen muda sedang memberikan kuliah untuk para mahasiswa. Choi Minho tampak sangat berkarisma di depan para mahasiswanya.
Minho tersenyum, "Baiklah. Untuk memulai perkuliahan kali ini, saya akan bertanya. Apa yang kalian tahu tentang hipnotis?"
"Masa lalu."
"Ya, masa lalu."
"Membuat orang tidur."
Banyak mahasiswa yang menjawab pertanyaan Minho. Jawaban mereka ada yang serius, ada juga yang mengundang tawa.
Setelah tawa mahasiswa reda, Minho berkata, "Baiklah, jawaban kalian tampaknya belum tepat. Masa lalu tidaklah ilmiah, dan hipnotis itu ilmiah. Sebagai seorang psikolog tentu saya tahu bagaimana menghipnotis orang lain. Tapi bukan berarti saya adalah ahli hipnotis. Saya seorang ilmuwan."
"Menurut kalian, bagaimana seseorang bisa dioperasi tanpa dibius? Atau seorang yang biasa makan pizza tiba-tiba membenci makanan kesukaannya?"
Minho berjalan kearah salah seorang mahasiswa yang duduk dikursi depan. "Siapa namamu, haksaeng?" tanyanya.
Mahasiswa itu adalah pemuda manis berkulit putih pucat dengan rambut blonde. Ia tampak kaget karena Minho mendadak bertanya padanya, "E-eh!? L-Lee Taemin imnida."
"Jangan gugup, bisakah kau menjawab pertanyaanku?" ujar Minho dengan senyum menenangkan.
Taemin menarik napas sebelum menjawab dengan ragu, "S-sugesti..."
"Ya, benar. Seseorang yang melakukan proses hipnotis yang artinya memberi sugesti terhadap subjek yang disebut hipnotis. Sugesti hipnotis dapat disampaikan oleh seorang hipnotis subjek atau mungkin dilakukan sendiri oleh subjek yang disebut Self-hypnotist."
Minho tersenyum pada Taemin, "Karena jawabanmu tepat, lima poin tambahan nilai untukmu." ujarnya yang langsung dapat decakan kagum sebagai respon.
"Dan jangan dianggap seseorang dihipnotis hanya untuk mengorek kejadian masa lalunya. Memang masa lalu terkadang mempengaruhi seseorang ingin di hipnotis atau yang disebut hipnoterapi. Hipnoterapi terkadang dilakukan untuk pasien-pasien yang merasa khawatir tentang masa depan atau hal lain."
Minho menjelaskan dengan panjang lebar. Ia kemudian berjalan ke tengah podium dan bertanya, "Sejauh ini adakah yang pernah melakukan hipnoterapi?"
Tidak ada mahasiswa yang mengangkat tangannya. Minho pun kembali bertanya. "Atau...ada yang ingin melakukan hipnoterapi?"
Beberapa mahasiswa mengangkat tangannya , dan sedikit mendapat sorakan riuh dari mahasiswa-mahasiswa yang tidak mengangkat tangan.
"Lalu siapa yang ingin melakukan hipnoterapi hanya untuk iseng?" tanya Minho lagi.
Beberapa menurunkan tangan, hanya ada sedikit yang mengangkat tangan. "Angkat tangan untuk yang benar-benar ingin melakukan hipnoterapi?"
Ada Taemin yang masih tetap mengangkat tangannya, membuat sorakan dari teman-temannya. Minho tersenyum melihat itu, tapi ia kemudian melihat sebuah tangan dari kursi paling atas terangkat. Mata Minho melebar ketika menyadari tangan siapa itu. Mendadak ia merasa jantungnya berdegup kencang. Senyum terkembang diwajahnya. Cho Kyuhyun duduk dikursi teratas, mengangkat tangan juga dengan senyum diwajahnya.
.
.
.
WK
.
.
.
"Dari mana Kyuhyun-ssi tahu kalau aku disini?" tanya Minho.
Kyuhyun tersenyum lebar, "Jonghyun-ssi memberitahuku. Aku tadi ke klinik tapi kau tidak ada."
"Setelah mengajar siswa SMU, kau sekarang mengajar mahasiswa?"
Pemuda itu menatap sekelilingnya, mereka sedang berada di cafetaria di salah satu universitas bergengsi itu. Kyuhyun bertanya dengan antusias pada Minho.
Minho tersenyum dan mengangguk, "Aku baru mulai mengajar tiga hari yang lalu. Eomma yang memperkenalkanku pada rektor universitas ini. Secara khusus ia memintaku mengajar disini, tentu setelah tes wawancara." ujarnya.
"Jadi kau sudah mendapat gelar doktor?" tanya Kyuhyun takjub.
"Aku menyelesaikan kuliah S1 diusia dua puluh tahun, S2 diusia dua puluh dua tahun, S3 diusia dua puluh lima tahun. Sekarang usiaku dua puluh tujuh tahun." jawab Minho kemudian menyesap minumannya.
Mata Kyuhyun langsung melebar, mulutnya terbuka sangking terkejut dengan apa yang ia dengar. "Kau menyelesaikan semuanya secepat itu? Dan usiamu lebih tua dariku?"
Minho terkekeh pelan, "Apa tidak terlihat?" tanyanya.
Kyuhyun menggeleng cepat, matanya mengerjap lucu. "Kupikir kita seumuran."
"Kalau begitu, panggil aku hyung mulai sekarang." kata Minho sambil menumpu kepala di kedua tangannya.
Kyuhyun kali ini yang terkekeh, "Shireo."
Minho tersenyum, "Bagaimana jika panggil Minho saja. Minho-ah."
Kyuhyun melipat kedua tangan, berpura-pura berpikir sebelum kemudian memperlihatkan smirk diwajahnya. "Geurae, Minho-ah. Panggil aku Kyuhyun."
Minho merasa melayang-layang diudara sangking senangnya. Ia tersenyum lebar. "Arraseo, Kyuhyun."
"Kau tidak ada jadwal penerbangan lagi hari ini?" tanya Minho.
Kyuhyun menggeleng, "Tidak ada jadwal penerbangan hari ini, tadi aku baru saja latihan simulasi. Besok ada ujian simulasi." ujarnya.
Minho mengangguk paham, "Kau sudah makan siang?"
Kyuhyun mengangguk, "Aku sudah makan siang dengan..." pemuda itu tersadar bahwa ia makan siang dengan Siwon tadi. "Rekan kerjaku." lanjutnya.
"Bagaimana kalau menemaniku makan siang? Katanya makanan di kafetaria ini sangat enak. Kau bisa memesan dessert disini. Setelah itu kita pergi ke Game Center, ada kaset terbaru yang ingin kubeli." ujar Minho.
Kyuhyun tampak berpura-pura berpikir sebelum kemudian ia terkekeh pelan, "Geurae? Aku terima tawaranmu, Choi songsaengnim." kata Kyuhyun dengan senyum manisnya, membuat Minho merasa jantungnya hampir meledak. Pemuda itu tanpa sadar mengulurkan tangannya, mencubit pelan pipi chubby Kyuhyun.
"Kau benar-benar lucu, Kyu." ucapnya.
Blush!
Sontak pipi Kyuhyun memerah karena perlakuan mendadak Minho. Tapi Kyuhyun berusaha tersenyum kikuk. Mwoya ige? batinnya.
.
.
.
WK
.
.
.
"Kamu ini milip daddy, dan kamu ini milip Mommy."
Donghae terkekeh pelan melihat Suho yang sibuk memperhatikan ikan-ikan yang ada di akuarium besar yang mengelilingi sudut kamarnya. Pria itu baru pulang bekerja ketika mendapati Suho sedang bermain di kamarnya. Anak itu memang selalu bermain di rumah ini, apalagi kamar Donghae. Dia sangat suka memperhatikan ikan-ikan yang berenang dan mengajak mereka bicara, seperti yang ia lakukan sekarang. Karena Donghae hari ini pulang lebih cepat dari biasanya, jadi ia menemani Suho bermain. Alasannya pulang cepat hari ini karena Hyukjae datang ke rumah. Kekasihnya itu sedang berkutat di dapur bersama Ibunya yang mungkin hanya mengajak Hyukjae mengobrol tanpa membantu. Hyukjae memang sedang beradaptasi dengan lingkungan keluarga Cho karena suatu saat dia pasti akan menjadi bagian di dalamnya. Lagipula Donghae sedih jika membiarkan Hyukjae makan malam sendirian di apartemennya.
Donghae agak meringis mengingat tingkah Ibunya yang pasti sedang bergosip dengan Hyukjae tentang Kyuhyun. Huft, Ibunya orang yang sangat gigih. Dia masih penuh semangat untuk mengembalikan hubungan Kyuhyun dan Siwon. Saat Donghae meminta pendapat Hankyung, sang ayah hanya tersenyum antara maklum dan berkata, "Appa tidak bisa melarang Eommamu. Seperti itulah wanita yang Appa cintai." Jadi, yang bisa Donghae lakukan sekarang hanya berpihak pada Kyuhyun dan turun tangan jika diperlukan.
"Hae-camchon, apa halmeoni cudah pulang ya?" tanya Suho.
Donghae menoleh dan tersenyum, "Sepertinya belum. Jika sudah, biasanya akan langsung kesini, kan?"
Suho mengangguk paham, anak manis itu mengucek matanya dengan kedua tangan. Tampaknya ia mengantuk.
"Apa Suho mengantuk?" tanya Donghae.
Jawaban Suho adalah mata lelah dan anak itu menguap. Donghae terkekeh melihat tingkah lucu Suho.
"Baiklah, akan samchon bangunkan saat makan malam, ne? Segera dihampirinya Suho,menggendong anak itu. Dibiarkannya Suho menyandarkan kepala dibahunya, dan tak berapa lama napas yang teratur menandakan dia sudah tertidur. Donghae membiarkan posisi itu beberapa saat sambil mengelus punggung keponakannya itu. Setelah rasanya Suho benar-benar terlelap, dengan perlahan Donghae berjalan menuju tempat tidur dan hati-hati membaringkan Suho disana. Suho agak menggeliat sebentar sebelum kembali tenang.
Setelah memastikan Suho benar-benar tidur nyenyak, ia segera keluar dari kamarnya menuju dapur. Ia tersenyum ketika mendengar suara heboh yang berasal dari dapur. Tampaknya sang Ibu dan calon menantu sudah sangat akrab.
"Wah, kalian sedang membicarakan apa?" tanya Donghae.
Seperti dugaannya, Hyukjae tampak sibuk memotong-motong sayuran sementara Ibu duduk di kursi pantry dengan apel ditangannya.
"Mana Suho?" tanya Heechul lebih dulu tanpa menjawab pertanyaan Donghae.
"Dia baru saja tidur. Bangunkan nanti saja sebelum makan malam." ujar Donghae kemudian menghampiri Hyukjae, memeluk kekasihnya dari belakang hingga wajah yang dipeluk langsung memerah malu.
Heechul meringis melihat tingkah lovey dovy anaknya. Ia kembali mengingit apel ditangannya dan mengunyahnya perlahan. "Yak, jangan ganggu menantuku saat masak." omelnya.
Donghae memberengut kesal, tangannya malah semain erat memeluk pinggang Hyukjae. "Eomma hanya iri, kan?"
Heechul hanya memutar bola matanya, diliriknya jam di dinding dan bergumam, "Wah, Jungsoo eonni tampaknya benar-benar berkencan."
"M-mwo? Kencan!?" Donghae yang mendengar perkataan sang Ibu langsung kaget.
"Kenapa kau sekaget itu? Wajar saja jika dia berkencan. Lagipula sudah waktunya ia membuka lembaran baru. Siwon dan Kyuhyun juga pasti sebentar lagi akan menikah." jawab Heechul.
Donghae menatap Ibunya heran, "Apa Eomma sudah kenal dengan kekasih Jungsoo Eomma?"
Heechul menggeleng, "Eomma juga baru pertama kali bertemu. Kalau melihat wajahnya, ia orang yang baik. Eomma tidak mau menganggu mereka, jadi Eomma pulang duluan. Nanti Jungsoo eonni juga akan menceritakannya padaku."
Hyukjae menatap Donghae yang tampak kaget sekali, "Kenapa kau sebegitu kagetnya sih?"
Donghae sadar reaksinya yang agak berlebihan dan tersenyum. Ia menggeleng, "Habis, sejak Appanya Siwon meninggal tampaknya Jungsoo Eomma tidak tertarik untuk menikah lagi."
"Ooh begitu." ucap Hyukjae kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Donghae melirik Heechul, "Tumben Eomma tampak tidak tertarik?"
Hyukjae terkekeh mendengar perkataan Donghae. "Apanya yang tidak tertarik? Kami sudah membicarakan itu sepanjang aku berada di dapur ini."
Mana mungkin Heechul tidak exited -_-
.
.
.
WK
.
.
.
"JINJA!?"
Kyuhyun berteriak kaget ketika mendengar berita tentang Jungsoo. Sementara wanita paruh baya yang sedang disebut-sebut malah menghela napas sambil menggeleng-geleng.
Mereka sedang makan malam bersama, semuanya tampak exited membicarakan bahwa Jungsoo sedang berkencan dengan seorang pria.
Kyuhyun menoleh pada Siwon yang duduk disampingnya, "Kau tidak tahu?" tanyanya.
Siwon berdehem pelan, "Aku juga baru dengar." Tampaknya ia juga agak kaget mendengar berita ini.
"Aniya, dia hanya teman Eomma. Aku sudah terlalu tua untuk berkencan." Elak Jungsoo.
"Aish, apanya yang sudah tua. Kau masih cantik, eonni." protes Heechul. Ia kemudian melirik Siwon, "Aku rasa Siwon tidak keberatan jika Eonni menikah lagi."
"Aku tidak keberatan, Eomma." jawab Siwon sambil tersenyum.
Jungsoo menghela napas, "Percayalah, dia hanya teman."
Donghae hanya terkekeh melihat Jungsoo yang berusaha menjelaskan, tapi semua orang terlalu senang jika wanita itu membuka kembali lembaran baru hidupnya.
"Halmeoni pacalan ya daddy?" tanya Suho dengan polosnya.
Siwon tersenyum, "Daddy juga tidak tahu, baby. Halmeoni tampaknya belum mau bercerita dengan kita."
Heechul menambahkan, "Geurae, kita ganti topik saja. Bagaimana kalian berdua? Menyenangkan tidur bersama?"
"Uhuk!" Kyuhyun yang sedang menyuap nasi ke dalam mulutnya tersedak mendengar perkataan Heechul.
Puk! Puk!
Kyuhyun semakin tersedak ketika menyadari Siwon menepuk-nepuk punggungnya dan memasang wajah khawatir.
"Uhuk! Uhuk!"
"Minum ini." Siwon menyodorkan gelas berisi air yang dengan terpaksa Kyuhyun ambil dan meminum isinya. Jika karena tersedak, mana mau dia. Dan pemandangan keduanya malah membuat semua yang ada di meja makan itu tersenyum.
Kyuhyun mendelik pada Ibunya, "Ancamanku masih berlaku, Eomma. Aku benar-benar akan pindah ke apartemen."
Heechul awalnya terkekeh pelan tapi langsung berhenti dan memperlihatkan deathglarenya. "Awas jika selangkah saja kau bawa semua barang-barangmu keluar..."
"Chullie, Kyunie...geuman. Lebih baik kalian lanjutkan makan." kata Hankyung menginstrupsi. Kepala keluarga itu melanjutkan makan malamnya.
Kedua 'Iblis' tidak menjawab, tapi akhirnya mereka melanjutkan makan malam mereka. Sementara itu setelah semuanya tampak kembali sibuk dengan makanan, Jungsoo lah yang tampak terdiam sejenak. Dalam hatinya ia merasa sangat kacau...
.
.
.
WK
.
.
Incheon-South Korea
.
"Kapten Choi Siwon dan Co-pilot Cho Kyuhyun."
Siwon menoleh pada Kyuhyun yang baru saja mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Kajja." kata Siwon.
Kyuhyun mengangguk. Dimatikannya ponsel, memasukkannya ke saku celana. Keduanya kemudian berjalan masuk ke ruang tes. Di dalam simulasi, sudah ada penguji—Kapten Lee Sungmin.
"Silahkan mulai." kata Sungmin
Keduanya mengangguk dan segera duduk di kursi simulasi. Kyuhyun menghela napas sejenak, tampaknya ia agak gugup karena pernah gagal. Siwon sadar jika Kyuhyun gugup. Dengan perlahan, tangannya menyentuh bahu Kyuhyun. Sadar Siwon menyentuh bahunya, Kyuhyun segera menoleh.
Deg!
Jantungnya berdesir saat menyadari Siwon tersenyum padanya. Dan entah bagaimana senyum itu sangat menenangkan. Mata itu menatapnya dengan lurus, seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Awalnya, pemuda itu agak ragu. Tapi Siwon berkata, "Kita akan melakukan yang terbaik."
Kyuhyun menarik napas dalam-dalam, matanya juga menatap lurus pada Siwon. Ia seolah meyakinkan diri akan sorot mata itu. Dan akhirnya ia mengangguk. Keduanya pun bersiap, memasang Aviation Headset dan sarung tangan.
"Baiklah, lakukan persiapan." kata Siwon.
"Roger." ucap Kyuhyun. Ia mulai mempersiapkan semua yang harus dilakukan, mengecek flight plan—mulai memprogram ketinggian, rute, ketinggian di titik tertentu.
"Persiapan sudah selesai, Kapten." kata Kyuhyun.
Siwon menatap layar simulasi. "Umumkan take off."
"Roger." Kyuhyun mengumumkan take off. "Simulation delivery, ini Korean Airlines simulation, meminta izin ATC untuk menuju titik Simulasi."
Setelah menyelesaikan prosedur, Siwon mulai menggerakan tuas ruder. Layar simulasi menunjukkan bahwa pesawat sudah melaju dan melesat terbang. "Siapkan ketinggian 35000 kaki."
"Roger." Kyuhyun mengatur ketinggian altimeter pesawat menjadi 35000 kaki dan perlahan layar simulasi menunjukkan pesawat terus naik mencapai ketinggian tersebut. "35000 kaki, clear."
*(altimeter adalah alat yang menunjukkan ketinggian pesawat yang dhitung dari atas permukaan laut yang disebut ASL atau Above Sea Level)
Siwon tersenyum menyadari mereka sudah berhasil menyeimbangkan pesawat. Semoga kami bisa melewati ini, batinnya.
Beberapa saat layar simulasi tampak menunjukkan bahwa mereka terbang dengan tenang sebelum Kyuhyun melihat layar radar menunjukkan ada awan CB. Mereka harus menghindari awan itu. "Kapten, ada awan CB di depan. Kita harus menghindarinya sebelum terjadi turbulensi. Kita bisa menaikkan ketinggian sebanyak 6000 kaki atau berbelok ke kanan berlawanan dengan arah angin." ujarnya.
*(CB adalah singkatan dari cumulonimbus. Cumulonimbus adalah awan yang berbentuk seperti bunga kol yang terbentuk oleh ketidakstabilan atsmosfer. Awan ini sangat berbahaya dalam dunia penerbangan).
*(Turbulensi adalah guncangan pesawat yang disebabkan oleh benturan massa udara yang datang dengan kecepatan yang cukup tinggi dari berbagai arah di kolom udara.)
"Naikkan ketinggian." kata Siwon.
"Roger." Kyuhyun mulai menaikkan ketinggian. Siwon menarik tuaspesawat naik menuju 6000 kaki, sementara itu Kyuhyun mengecek RPM Indicator dan mengecek Airspeed indicator. Mereka berdua benar-benar fokus sampai akhirnya berhasil naik dan melewati awan CB itu.
Kyuhyun meghembuskan napasnya lega. Ia tersenyum dan menoleh pada Siwon, "Kerja bagus, kapten."
Siwon membalas senyum Kyuhyun, "Kerja kita, Kyu."
Mereka kemudian bersiap untuk landing. Kyuhyun mulai melakukan prosedur, "Simulation delivery, ini Korean Airlines simulation. Meminta izin untuk mendarat di bandara simulasi."
"Korean Airlines Simulation, ini ATC simulation. Diperbolehkan untuk mendarat dua menit lagi, turunkan ketinggian menjadi 5000 kaki.
Siwon pun memberi perintah, "Persiapan landing, turunkan ketinggian menjadi 5000 kaki."
"Roger." Kyuhyun mempersiapkan penurunan ketinggian. "Clear."
Perlahan Siwon pun mulai menurunkan ketinggian menjadi 5000 kaki.
"Korean Airlines Simulation, ini ATC simulation. Lakukan landing sekarang."
"Roger." kata Kyuhyun. Siwon pun mengangguk, "Kajja."
Simulasi itu mulai memperlihatkan pesawat turun ke landasan. Kyuhyun mempersiapkan pengeluaran roda pesawat, dan akhirnya mereka mendarat dengan mulus. Keduanya tak dapat menahan senyum lega ketika melihat tulisan besar dilayar simulasi itu. SUCCES.
Kyuhyun menoleh pada Siwon, raut wajahnya sangat senang. "Kita berhasil!" teriaknya senang. Siwon terkekeh, "Ya, kita berhasil. Kau sudah bekerja keras, Kyu."
"Kau juga, Kapten. Kyaa~" jawab Kyuhyun. Dan ia terlalu senang sampai-sampai diluar kesadarannya langsung memeluk Siwon dengan erat.
Grep!
Siwon yang mendapat pelukan tiba-tiba itu sangat kaget. Bagaimana tidak, Kyuhyun memeluknya! Orang yang dicintainya memeluknya dengan erat! Sementara itu Kyuhyun belum benar-benar sadar apa yang dilakukannya, malah ia sempat bergumam pelan, "Ehm, hangat." Tubuh Siwon terasa hangat.
Tunggu?
Hangat?
Kyuhyun langsung melotot dan segera melepas pelukannya, pipinya langsung bersemu merah. Sementara Siwon masih mencerna kejadian barusan sebelum kemudian Sungmin menginstrupsi.
"Ehem! Kalian berdua lulus, sampai bertemu di tes simulasi berikutnya. Sekarang kalian keluar." kata Sungmin.
Kyuhyun mengangguk cepat. Dengan segera dilepaskannya Aviation setnya dan keluar dari simulasi tersebut. Setelah itu diikuti Siwon yang akhirnya sadar dengan apa yang terjadi dan sekarang malah senyum-senyum sambil menyusul Kyuhyun. Sungmin hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
Author POV End
.
.
.
WK
.
.
.
Kyuhyun POV
"Cho Kyuhyun pabo! Aish! Apa yang tadi kau lakukan!" Kurutuki diriku sendiri atas apa yang tadi kulakukan. Memeluk Choi Siwon!? Aku!? Aaaakh menyebalkan. Rasanya pipi sudah terbakar sangking malunya. Sebaiknya aku segera pergi dari tempat ini.
Dengan langkah cepat, aku pergi dari tempat Uji Simulasi itu. Tampaknya aku akan tambah gila jika berada disini lebih lama. Tak kupedulikan tatapan beberapa pilot yang heran melihatku.
"Kyuhyun-ah!"
Aku baru benar-benar akan pergi ketika suara itu memanggilku. Hah, itu pasti dia! Aish, mana bisa aku melihatnya dengan wajah terbakar begini. Jadi, tak kupedulikan panggilannya dan melesat pergi.
Grep!
Tanganku ditarik oleh seseorang, membuatku menoleh ke belakang yang sudah pasti aku tahu siapa orangnya. Siwon berdiri tepat di depanku dengan napas sedikit terengah, dia mengejarku.
"M-mwo?" tanyaku agak tergagap. Aish, kenapa aku jadi gugup.
Siwon berdehem pelan, "Apa kau mau pergi ke Lotte World bersamaku dan Suho? Aku berjanji padanya untuk mengajakmu juga."
"Kau harusnya tidak menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kau tepati. Aku harus pergi ke suatu tempat sekarang. Mian." jawabku. Dengan segera kulepaskan tangannya dan hendak benar-benar pergi ketika melihat Eomma berdiri dengan Suho yang berada dalam gendongannya!? Oh god!
Eomma tersenyum sangaaat manis dan berkata, "Siwon menjanjikan sesuatu yang bisa ia tepati, chagi."
"Kyu Mommy~" panggil Suho padaku. Yak! Anak ini tidak tahu tempat memanggilku begitu!
Melihat aku yang hanya menatap kesal padanya, Eomma langsung menghampiriku dan memberikan Suho padaku. Aish, apa-apaan ini? Aku tidak mungkin berteriak marah disaat semua orang melihatku.
"Apa lagi yang kalian tunggu? Cepat ganti seragam dan waktunya bersenang-senang~"
Kutolehkan kepala pada Siwon yang kini sudah berada disampingku, si bodoh ini malah hanya tersenyum. Dasar! Kau benar-benar komplotan Eomma!
Kyuhyun POV End
.
.
.
WK
.
.
Seoul-South Korea
.
Author POV
Lotte World adalah arena permainan yang indah dan ramai. Besok adalah akhir pekan, hari ini pun tak luput dari orang-orang yang bermain disini. Setelah selesai makan siang, Siwon, Kyuhyun dan Suho pergi ke Lotte World. Sejujurnya, bisa saja Kyuhyun kabur saat mereka makan siang tadi. Tapi begitu melihat Suho yang begitu semangat menceritakan wahana apa yang ia ingin naiki bersama Siwon dan Kyuhyun, pemuda itu urungkan niatnya. Ia masih punya hati untuk tidak menghancurkan impian anak kecil itu.
"WAH~ LOTTE WOL BECAL YA~" Lihat saja sekarang, Suho berteriak senang ketika mereka sudah masuk dalam area Lotte World. Suho melompat-lompat dan berlarian karena senang.
"Yak! Jangan berlari-lari, bocah!" kata Kyuhyun sedikit kesal.
"Baby su, jangan berlari. Nanti baby su bisa jatuh." kata Siwon segera menyusul Suho, ditangkapnya anak itu dan langsung ia gendong. Suho tertawa riang meski berhasil ditangkap oleh sang ayah. Apalagi saat Siwon mendukungnya di bahu, membiarkan Suho sesekali berpegangan dikepalanya.
Kyuhyun menggeleng-geleng melihat tingkah keduanya. Siwon bukannya menenangkan Suho yang terlalu bersemangat, dia malah ikut-ikutan. Segera dihampirinya anak dan ayah itu, "Yak, simpan tenaga kalian. Bukankah kita mau naik wahana?"
Suho mengangguk, "Tentu caja Mommy! Kita naik bianglala ya?"
"Bisakah kau tidak memanggilku begitu?" keluh Kyuhyun. Suho dengan tampang tanpa dosa menggeleng cepat sambil terkekeh. Tawa Siwon hampir meledak melihat reaksi Kyuhyun yang akhirnya hanya menghela napas. Kyuhyun melihat peta Lotte World yang diberikan saat mereka masuk tadi. Sudah lama sekali Kyuhyun tidak kemari, ia lupa. Setelah tahu dimana letak wahana, mereka pun segera menuju tempat wahana Bianglala.
"Mommy, gendong~" kata Suho saat mereka mengantri untuk menaiki wahana. Kyuhyun menghela napas pelan, dengan malas diambilnya Suho dari gendongan Siwon.
"Kau senang sekarang?" tanya Kyuhyun.
Suho mengangguk senang, "Cangat cenang~" Dan tanpa sadar Kyuhyun tersenyum melihat ekspresi senang Suho. Tanpa sadar ia membayangkan suatu kenangan ketika melihat ekspresi itu, sesuatu yang menyenangkan.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Siwon. Kyuhyun tersadar dan tersenyum kikuk, "Aniya, amugeotteon aniya."
.
.
.
WK
.
.
.
Daddy, Cuho mau naik lolel koctel (Roller Coaster)."
Kyuhyun sweatdrop, "Kau belum cukup umur untuk naik itu, bocah. Ayo pilih yang lain." ujarnya. Ketiganya duduk dibangku panjang yang disediakan di Lotte World.
Hari menjelang sore, sudah banyak wahana yang mereka naiki. Mereka juga sudah membeli es krim dan gulali, bahkan mereka juga membeli tiga topi yang sama bergambar minion meski awalnya Kyuhyun menolak keras. Tapi Suho selalu memenangkan pertarungan mereka dengan puppy eyesnya yang membuat Kyuhyun tak mampu menolak.
Suho merengut, "Ciapa bilang Cuho mau naik ini. Cuho mau Mommy dan Daddy yang naik."
"MWO!?" teriak Kyuhyun kaget. "Yak, shireo! Lagipula jika kami naik, siapa yang akan menjagamu." omelnya.
"Benar, baby su. Siapa yang akan menjaga baby jika daddy dan Kyuhyun naik wahana itu?" ujar Siwon menimpali.
"Tenang caja, daddy. Ada olang yang bica jaga Cuho, kok."
Siwon dan Kyuhyun menatap anak itu bingung. "Nugu?"
Suho menunjuk kearah seorang pria berpakaian berkacamata hitam dengan kamera ditangannya. Orang yang ditunjuk itu tampak kaget karena Suho menunjuknya. Kyuhyun langsung paham ketika melihat orang itu, jelas itu suruhan Ibunya. Tampaknya sang Ibu jelas memata-matai dia.
Wajah Kyuhyun berkerut kesal, pemuda itu mendelik pada Siwon. "Kau tahu soal ini?" tanyanya. Dengan cepat Siwon menggeleng, "Aku benar-benar tidak "
Kyuhyun kemudian menatap Suho. "Kenapa kau tidak bilang jika ada yang mengikuti kita, bocah?"
Suho tersenyum dengan polosnya, "Chullie Halmeoni bilang tidak boleh kacih tau daddy dan mommy. Coalnya nanti daddy tidak bica belbohong dan mommy bica malah. Telus Chulli halmeoni juga bilang kalau Cuho halus bikin Mommy dan daddy naik wahananya beldua dan Cuho dititip sama ahjussi itu."
Kyuhyun benar-benar tak habis pikir mendengar penjelasan Suho, begitu juga Siwon. Ia sama sekali tak menyangka bahwa sang anak di doktrin sedemikian rupa oleh Heechul agar menjadi pengikut setianya.
"Pokoknya tetap saja tidak." kata Kyuhyun dengan tegas. Ia segera bangkit dari kursi, diangkatnya Suho ke dalam gendongannya dan menatap anak itu tanpa berkedip. "Mana mungkin aku membiarkanmu dititipkan pada orang yang tidak kukenal meski dia suruhan Eomma sekalipun. Kau pergi kesini bersamaku dan kita akan bersama sampai pulang nanti, arraseo?"
Deg!
Jantung Siwon berdesir ketika mendengar dan melihat jelas interaksi Kyuhyun pada Suho yang diluar dugaannya. Ia tak menyangka Kyuhyun akan melakukan ini. Ia tak mungkin mengatakan hal itu jika hanya untuk menolak naik Roller Coaster bersamanya. Dia benar-benar peduli pada Suho. Sangat peduli...
"Bagaimana kalau naik komedi putar bersama?" tanya Kyuhyun akhirnya.
Mendengar itu Suho mengangguk senang, "Tentu Cuho mau! Kita naik komedi putal ya daddy~"
Siwon tersadar, "N-ne."
Mendengar jawaban Siwon yang agak terkejut, Kyuhyun menatap pria itu. "Waeyo?" tanyanya.
Siwon tersenyum dan menggeleng, "Aniya, aku hanya berpikir bahwa kau benar-benar uke."
Kyuhyun langsung melotot mendengar perkataan Siwon, dicubitnya pinggang pria itu membuatnya mengaduh kesakitan. Suho yang melihat tingkah 'Mommy' dan 'Daddy'nya hanya tertawa dengan polosnya.
Kyunie-ah, bolehkah aku melangkah maju lagi? batin Siwon.
"Bocah, ayo kita naik komedi putar." kata Kyuhyun kemudian dengan menggendong Suho menuju wahana komedi putar disusul Siwon. Mereka melewati mata-mata suruhan Heechul. Kyuhyun tersenyum manis pada pria itu, "Kau harus memotret kami dengan bagus, oke?"
Pria itu mengangguk takut, senyum manis Kyuhyun berarti beda baginya.
.
.
.
WK
.
.
.
Bagi setiap taman bermain, komedi putar adalah ikon terpenting. Setiap orang, muda atau tua tidak akan melewatkan kesempatan untuk menaiki wahana ini. Wahana ini adalah simbol tawa, cinta dan kasih sayang. Setelah cukup lama mengantri, Kyuhyun, Suho dan Siwon akhirnya bisa menaiki wahana itu. Suho dengan sangat bersemangatnya memilih kuda berwarna putih, ia menaiki kuda itu bersama Siwon, sementara Kyuhyun memilih kuda coklat yang ada disampingnya.
Dan ketika komedi putar itu mulai berputar, Suho tertawa riang. Musik yang mengiringi komedi putar itu berputar terdengar lucu dan riang. Kyuhyun tersenyum melihat Suho tampak sangat menikmati wahana ini. Dia sendiri juga menikmatinya. Sudah lama sekali sejak ia datang ke taman bermain dan menaiki komedi putar.
"Kyu." Kyuhyun menoleh ketika Siwon memanggilnya. Siwon tersenyum dan berkata, "Apa kau ingat sejarah komedi putar?"
Kyuhyun terdiam beberapa saat sebelum berkata, "S-sedikit."
Siwon kemudian mengalihkan pandangannya ke depan, "George Ferris, ia seorang insinyur asal Amerika. Ia membuatnya di tahun 1893 untuk menyaingi menara eiffel yang menjadi ikon di Paris. Komedi putar pertama ia buat di kota Chicago, kota paling terkenal dengan arsitekturnya..."
Kyuhyun terhanyut mendengar penjelasan Siwon. Ia tersenyum tipis mendengarnya. Siwon sudah pernah menjelaskan ini. Ketika Kyuhyun berusia 17 tahun, saat itu Siwon mengajaknya berlibur ke Chicago. Siwon sedikit-sedikit menjelaskan tentang sejarah kota yang indah itu, salah satunya adalah sejarah komedi putar yang terkenal di Chicago...
.
.
WK
.
Flashback
.
Chicago
.
"Kyu, apa ikon dari sebuah taman bermain?"
Kyuhyun mengerjapkan matanya dengan polos ketika mendengar perkataan Siwon. Mereka sedang menikmati sarapan pagi di sebuah kafe di kota Chicago, salah satu kota terbesar di negara bagian Amerika Serikat Illinois itu. Mereka menikmati liburan mereka, di musim panas indah. Tepat satu bulan setelah pertunangan mereka.
"Nnggg...bianglala?" jawabnya ragu.
Siwon tersenyum dan menggeleng, "Jawabannya adalah komedi putar."
Kyuhyun terkekeh mendengar perkataan Siwon, "Iya juga sih, banyak anak-anak yang suka menaikinya."
Siwon mengelus pelan pipi Kyuhyun dan tersenyum "Dan komedi putar pertama kali dibuat dinegara ini."
"Jinja!?" Kyuhyun mengatakan kata itu dengan mulut yang bulat seperti ikan. Siwon sampai tertawa melihat ekspresi Kyuhyun yang lucu. Ditangkupnya kedua pipi Kyuhyun dan mengecup kedua pipi gembul tunangan manisnya itu.
"Kenapa kau manis sekali sih, baby Kyu? Hyung tak tahan melihat ekspresimu." kata Siwon sambil mengoyang kepala Kyuhyun ke kiri dan ke kanan. Kyuhyun terkekeh mendengarnya.
"Aku memang manis karena wonnie hyung yang membuatku begini." jawabnya, kali ini ikut-ikutan menangkup wajah Siwon ditangannya. "Jangan mengalihkan pembicaraan, lanjutkan ceritanya."
Siwon terkekeh, "Arraseo, akan hyung lanjutkan." katanya sambil mengacak pelan rambut Kyuhyun.
"George Ferris, ia seorang insinyur asal Amerika. Ia membuatnya di tahun 1893 untuk menyaingi ketenaran menara eiffel yang menjadi ikon di Paris. Komedi putar pertamanya dibuat di kota Chicago, kota paling terkenal dengan arsitekturnya." Siwon memulai ceritanya, sementara Kyuhyun mendengarkannya dengan kedua tangan bertumpu menahan kepalanya. Ia tampak antusias mendengarkan.
"Komedi putar buatan Ferris menjadi atraksi mengesankan bagi warga Chicago ataupun turis yang mengunjunginya. Tapi sayangnya, ketenaran komedi putar di Chicago tidak berlangsung lama. Komedi putar sudah tidak diminati dan akhirnya tahun 1906, komedi putar dihancurkan menjadi besi tua."
Kyuhyun cemberut mendengar cerita Siwon, "Jahat sekali sih! Hanya karena komedi putar sudah tidak tenar, kenapa harus dihancurkan!"
Siwon tersenyum, "Hei, ceritanya belum selesai." Ia kemudian melanjutkan, "Meski Komedi putar buatan Ferris tidak ada lagi, tapi ternyata ia sudah menginspirasi orang lain yaitu, Walter Basset. Tahun 1984 adalah kali pertama ia merancang komedi putar desainnya dan akhirnya ia berhasil membuatnya menjadi nyata. Komedi putar pertamanya berada didirikan di Earls Court, London. Dan kemudian ia membangun komedi putar lain di Black Pool-Inggris dan Paris. Dan seseorang bernama Steiner asal Wina juga membangun komedi putar di Wina."
"Tapi memang pada akhirnya saat perang dunia pertama, mereka merubuhkan komedi putar karena membutuhkan besinya untuk para tentara."
Kyuhyun kembali cemberut mendengar cerita Siwon. Ia mendengus kesal, "Harusnya hyung tak menceritakannya jika pada akhirnya komedi putarnya sudah tidak ada." omelnya.
Siwon tersenyum, "Kyunie, hyung belum selesai." Diraihnya kedua tangan Kyuhyun, "Hyung menceritakan kisah ini karena ada satu hal yang selalu terjadi ketika setiap satu komedi putar dibuat di dunia ini. Pada akhirnya, diseluruh dunia, komedi putar dibuat dibanyak tempat karena wahana itu memberikan cinta. Bukan hanya cinta sepasang kekasih, tetapi cinta sebuah keluarga dan persahabatan. Tawa bahagia setiap orang yang menaikinya adalah cinta. Karena itu, meski sudah tidak ada komedi putar buatan Ferris, Walter Basset ataupun Steiner, tapi kenyataannya cinta mereka disetiap komedi putar yang dibuat tetap ada sampai sekarang. Bukan bentuk fisik yang menjadi titik pentingnya, tetapi bagaimana karya mereka menjadi inspirasi setiap pembuat komedi putar memberikan cinta mereka."
Dan ketika Siwon mengakhiri ceritanya, Kyuhyun tampak tak mampu berkata-kata. Ia terpukau mendengar cerita tunangannya itu. Siwon mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir pinkish Kyuhyun dan tersenyum, "Hyung memang bukan seorang insyinyur yang membuat sebuah komedi putar. Kenyataannya hyung ingin bilang mungkin ada saat dimana cinta hyung untuk Kyuhyun seolah meredup, seolah hilang, tapi kenyataannya tak terlewatkan satu haripun hyung tetap mencintaimu. Setiap hari..."
Tes!
Air mata jatuh dari kedua kelopak mata Kyuhyun. Ini bukan tangis sedih, ini tangis bahagia. Ia sangat bersyukur menemukan orang yang paling mencintainya...
Siwon mengusap air mata Kyuhyun dan berkata, "Janji cinta adalah janji suci. Janji suci adalah cinta..."
.
Flashback End
.
.
WK
.
.
Seoul-South Korea
.
"Janji cinta adalah janji suci. Janji suci adalah cinta..."
Kyuhyun tersadar dari lamunannya ketika mendengar kembali kalimat itu dari Siwon. Kyuhyun menatap Siwon yang tak sadar bahwa pemuda itu menatapnya. Setiap alunan musik yang mengiringi putaran komedi putar itu menghipnotisnya, menciptakan sensasi candu yang membuat ia enggan mengalihkan pandangannya dari Siwon.
Jantungnya berdegup kencang, degupan jantung yang terdengar sama seperti dulu. Dan ia menikmatinya...
Tangannya terangkat menyentuh pipi Siwon, membuat pemuda itu menoleh dan terkejut. Iris mata mereka bertatapan, larut di dalamnya. Dan tanpa sadar Siwon juga menyentuh pipi Kyuhyun, perlahan mendekatkan wajahnya. Beberapa senti sebelum kemudian bibir keduanya bertemu, bertaut lembut dalam sebuah ciuman. Tak ada kata yang keluar dari keduanya, karena tak ada kata yang mampu mengungkapkan perasaan itu. Cukup naluri...dan rasa yang menjadi jawabannya...
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Hai readers semua! Sudah sebulan ga' apdet fanfic ini dan akhirnya saya apdet juga hahahahahahaha. Maaf untuk semua readers yang udah nunggu fanfic ini. Oh ya, kalau kalian lihat tanggal publish fanfic ini. Tanggal 3 Agustus kemarin adalah tepat satu tahun fanfic ini. Sumpah, ga' terasa banget kalau udah setahun, dan ternyata belum kelar-kelar hehehehehehehehe. Sebenarnya sya mau apdet fanfic ini tepat tanggal 3. Tapi bisa karena ternyata saya harus operasi pengangkatan FAM dihari yang sama. Dan tentu saya ga' bisa pegang laptop kemarin. Ini bru bisa pegang karena udah keluar dari rumah sakit.
Bagi readers semua yang mungkin cewek, saya mau kasih info aja bahwa sebagai cewek kita emg prlu hati-hati sama salah satu jenis tumor jinak ini. Biasanya cewek dikisaran 18-30an sangat rentan trkena FAM. Baca di Mbah Google atau bca dibuku untuk lebih lengkapnya oke? Saya memberitahukan ini karena mencegah itu lebih baik daripada mengobati, oke! Saya ga' mau kalian seperti saya yang sering ga' bisa jaga kesehatan yang selalu berakhir dirumah sakit. Ini udah kali kedua saya masuk rumah skit dan harapannya ga' masuk lagi. Saya udah kapok! -_-#
Balik ke topik fanfic ini hehehehehehe. Fanfic ini mungkin akan mencapai endingnya dalam 3-4 chapter lagi. Jadi, teruslah baca fanfic ini dan jangan lupa review oke? Karena review kalian adalah vitaminnya aku. Annyeong~ Sampai ketemu di chapter berikutnya~
