Who is she? she is, Luhan.

Baby Aery HHS

-Big Event HunHan INDONESIA-

Main cast : Luhan, Sehun.

Genre : Hurt, Comfrot, Romance.

Rate : M 17+.

Warning : Genderswitch, Mature content, Dirty talk, Typo.

Length : Chapter.

PS : Semua pemain milik bersama(?) tapi FF ini cuma punyaku^^ hargai FF ini dengan review kalian. menerima keritikan tapi menolak bash! Kalo suka Alhamdulillah kalo ga suka cukup close FF ini. Happy reading^^

.

.

.

.

.

Semua orang tanpa terkecuali termasuk Eunhwa terdiam menunggu kalimat apa yang akan Luhan sampaikan. Kini mereka bukan berada di dalam gedung bioskop untuk menonton film horror tapi suasana yang semula terasa hangat juga menyenangkan berubah menjadi kelabu seperti ada awan pekat yang berputar di atas sana.

Kotak cincin yang berada di dalam genggamannya Luhan amati secara lekat, kemudian sebuah senyuman tersungging manis di bibir pink miliknya. "Apa yang tuan Sehun katakan memang benar. Aku adalah kekasihnya sejak kami berada di New York."

Mendengar itu orang-orang mulai bergemuruh dan Sehun pun menghela napas lega. Luhan seperti memberi tanda baik untuk sebuah lamaran mendadak yang ia lakukan.

"Tapi itu hanya sebuah kisah lama." Luhan melanjutkan sembari berbalik menghadap Sehun yang tiba-tiba menegang di tempatnya berdiri. "Benarkan tuan Oh Sehun?" Kembali Luhan menghadap ke depan. "Kami sudah berpisah sejak bertahun-tahun lalu tapi sepertinya dia belum bisa melupakanku. Tapi wajar untuknya melakukan hal konyol seperti ini karena pria mana yang tidak ingin menikah denganku?"

Beberapa tamu khususnya para pria lajang terkekeh sembari saling berkasak-kusuk membenarkan apa yang Luhan ucapkan. Hanya pria tidak normal yang tidak ingin menikah dengan Luhan.

"Aku bisa memakluminya jika begitu banyak pria yang menginginkanku, tapi bukan berarti aku harus menerima secara sembarangan kan? Diantara pria itu aku sudah menjatuhkan pilihan dan pilihanku bukan dirimu, Oh Sehun." Luhan secara sengaja memberi penekanan pada penyebutan nama Sehun. Dirinya tersenyum mengejek kepada Sehun yang hanya terdiam malu karena penolakan yang Luhan lakukan.

Tapi dari pada sebuah rasa malu atau kesal, Sehun lebih merasakan perasaan lain yang menggerayapi hatinya. Ini terasa asing, ia tidak pernah merasakannya dan Sehun tidak tau perasaan semacam apa ini. Luhan sudah menjatuhkan pilihan? Apa itu artinya Luhan sudah memiliki pria yang akan ia nikahi? Lalu kenapa hatinya harus terasa sesak?

"Cincin ini terlihat cantik." Cincin bertahta berlian itu Luhan ambil. "Cincin limited edition keluaran Harry Winston dengan harga jutaan dolar. Apa ada dari kalian yang menginginkan ini?" Luhan bertanya sembari menyodorkan cincin yang ia pegang. "Ambilah, karena aku rasa Sehun tidak membutuhkannya." Dan dengan enteng Luhan melemparnya secara sembarangan.

Baekhyun menjadi wanita pertama yang berlari untuk mendapatkan cincin itu. Ia mengabaikan gaun yang ia kenakan juga menyingkirkan pesaingnya yang tidaklah banyak karena rata-rata yang berada di sini pastilah memiliki image yang terlalu tinggi hingga membiarkan cincin itu menggelinding jauh walau di dalam hati merasa ingin merebut.

"Kau mendapatkannya, Baek!" Kyungsoo berseru heboh ketika melihat Baekhyun mendapatkan cincin incarannya. Mereka saling berpelukan senang sembari melompat kecil mengabaikan semua orang yang diam menyaksikan.

Beberapa detik Luhan merasa seperti tertampar akan pemandangan itu. Sebuah kesedihan tanpa aba-aba merasuk di hatinya saat melihat persahabatan manis antara Baekhyun juga Kyungsoo yang tidak pernah ia rasakan bagaimana rasanya. Ia iri melihat itu.

Tersadar akan lamunannya sendiri, Luhan bergegas melewati Sehun untuk turun dari podium, ia pun tidak memperdulikan Eunhwa yang menatap nanar kepada dirinya. Dalam kadaan ini ia bisa menjadi lemah dan Luhan benci untuk ada dalam posisi seperti itu!

Sehun hanya diam, dia tidak mencegah Luhan atau pun bergerak dari tempatnya. Jelas ia melihat genangan samar di mata Luhan yang tidak semua orang sadari saat Luhan melewati dirinya dan Sehun tau kalau Luhan diam-diam menyimpan sebuah kesedihan.

.

.

Seusai pesta Sehun melakukan hal bodoh dengan berdiam diri di dalam mobil sembari menatap lekat pada jendela kamar Luhan yang masih terlihat terang. Wanita itu benci jika lampu kamarnya dimatikan, Sehun masih sangat ingat dengan kebiasaan Luhan. Dia akan berteriak atau berlari jika tiba-tiba lampunya padam, kemudian Sehun akan memeluk Luhan sampai wanita itu tertidur lelap penuh kedamaian.

"Aku takut." Luhan mengeratkan pelukannya pada Sehun yang berbaring di sampingnya.

Sembari terkekeh kecil Sehun mengusap kening Luhan yang sedikit berkeringat. "Seperti anak kecil. Tenanglah, sepertinya ada masalah pada aliran listrik di apartementmu."

"Mungkin."

"Apa yang membuatmu takut pada gelap?"

"Aku tidak bisa melihat apapun. Seperti manusia buta itu menyeramkan."

"Kau berlebihan, masih ada cahaya di sini." Sehun berujar sembari menunjuk pada jendela yang sengaja ia buka.

"Tapi tidak terang. Itu tetap menyeramkan."

"Baiklah, aku akan mengusuir rasa takutmu."

"Sehun! Apa yang kau lakukan?" Luhan berseru terkejut saat merasakan jemari Sehun memasuki lingerie yang ia kenakan.

Secara jahil Sehun menggelitiki perut Luhan membuat Luhan tertawa dengan dirinya yang terus terkekeh senang karena melihat Luhan bergerak brutal demi lepas dari jemari nakalnya. Dalam keadaan pencahayaan yang remang tawa itu terus terurai bahagia, merangkai alunan indah yang memasuki sanubari terdalam hingga mampu dikenang walau kini semuanya tlah pudar.

Sehun memejamkan matanya erat saat sekelebat kenangan itu seperti berputar di depannya. Bagaimana wanita itu sekarang? Apa sudah tertidur? Atau dia sedang menangis seorang diri?

Oh, sejak kapan kau peduli kepada Luhan?

Menyadari keanehannya sendiri, Sehun pun menyalakan mobil miliknya dan melesat pergi untuk menemui Tiffany di hotel tempatnya menginap.

.

.

Sore itu ketika sang matahari tengah menunjukan bias cahaya jingganya, Luhan berdiri mematut kesempurnaan yang Tuhan berikan di depan cermin besar yang ada di dalam kamar megahnya. Beberapa maid saling berjejer, dengan berbagai barang bermerk yang ada di dua tangan mereka. Membiarkan Luhan untuk memilih mana yang ingin ia kenakan.

Celana demin panjang itu Luhan padu dengan kaos oblong putih juga jaket kulit berwarna hitam. Sepatu boots ber'hak ia pakai tak tertinggal sebuah chocker menyampir apik di leher putih milik Luhan untuk melengkapi penampilan Chic yang ia pilih hari ini.

"Mau saya antar nona?" Chanyeol menawarkan diri kepada Luhan saat melihat nona besarnya keluar dari pintu utama.

"Tidak perlu. Kau cukup menungguku dengan baik di rumah."

Dan dua tepukan lembut di lengan adalah apa yang Chanyeol dapatkan. "Tapi nona itu bisa berbahaya untuk keselamatan anda."

"Jangan khawatir. Hanya iblis yang bisa membunuhku." Luhan berujar enteng dan dengan tanpa beban dirinya melangkah seorang diri, tidak mengizinkan satu pun anak buahnya mengekor di belakang langkahnya.

"Dia mau kenama?"

Chanyeol menggeleng ketika Woo bin bertanya.

"Biarkan saja. Nona Luhan selalu ingin memiliki waktunya sendiri."

Dua pria tampan itu saling menyeringit ketika mendengar ucapan ketua Maid di rumah Luhan. Bisa dibilang si ketua Maid itu sepuh di sini karena bibi itu memiliki usia paling tua dan sudah berada di rumah ini sejak bertahun-tahun silam sehingga semua orang pun menghormati juga mematuhi apa yang ia suruhkan, jadi walaupun Chanyeol merasa cemas ia tidak membantah dan mengikuti Woo bin untuk memasuki rumah.

.

.

Dalam kepadatan kota Seoul di jam pulang kerja seperti sekarang adalah sesuatu yang menjengkelkan untuk sebagian orang. Bagaimana deretan mobil berbaris rapat dengan bunyi kelakson yang saling bersahutan menjadi factor utamanya. Dan di antara kemacetan itu terdapat seorang Oh Sehun yang bahkan dengan bosan mengendorkan simpul dasi di lehernya yang terasa mulai mencekik. Sudah hampir tiga puluh menit ia terjebak di sini, tepatnya setelah mengantar Eunhwa ke airport untuk kembali pulang ke New York.

Sedikit menghela napas, Sehun memajukan mobilnya sembari mengumpat karena roda mobilnya mungkin hanya berputar seperkian detik sebelum berhenti kembali untuk menunggu. Jika terus menerus seperti ini mungkin ia tidak akan bisa kunjung sampai ke apartement.

Mata Sehun melirik area sekitarnya. Berpikir; mungkin ia bisa mencari jalan lain untuk keluar dari kemacetan, namun bukannya menemukan apa yang ia harapkan Sehun justru melihat sesosok wanita tengah berjalan seorang diri di trotoar.

Beberapa detik Sehun meyakinkan dirinya kalau yang ia lihat adalah Luhan, hanya sedikit merasa ragu karena Luhan berjalan tanpa kawalan. Setelah mengamati dan yakin pasti kalau itu benar adalah Luhan, ia segera bergegas keluar tidak menghiraukan mobilnya yang mungkin bisa saja diderek oleh petugas patroli.

Kaki Sehun melangkah lebar, melewati deretan mobil yang mengklakson berisik kepada dirinya. Dengan cepat ia mencoba mengejar Luhan walau wanita itu sudah memiliki jarak cukup jauh di depan sana. "Luhan!" Panggilan Sehun cukup nyaring tapi sepertinya itu tidak mampu Luhan dengar.

Wanita itu terus berjalan dan Sehun tidak tau apa yang membawanya sampai ia mengikuti Luhan tanpa alasan. Sehun berhenti beberapa meter di belakang Luhan ketika melihat wanita itu berbelok ke arah taman. Langkahnya hampir kembali tersusun untuk menghampiri wanita yang sudah mengganggu pikirannya beberapa hari ini, namun terhenti saat ada sosok pria yang wanita itu panggil dengan hiasan senyuman lebar.

Senyuman itu adalah senyuman yang dulu selalu Luhan tampilkan hanya untuk dirinya. Senyuman itu sama dengan senyuman ketika Luhan memanggil namanya dulu, tapi kini Sehun menyadari kalau senyuman itu sudah tidak ada lagi untuk dirinya. Ia teringat bagai mana ekspresi Luhan setiap melihatnya sekarang, senyuman itu tlah pudar dan digantikan tatapan kebencian yang selalu Luhan pancarkan melalui matanya.

Kepahitan tiba-tiba Sehun rasakan tertelan ludahnya, ia menunduk sejenak dan memasang mata demi menyaksikan sebuah adegan yang tidak pernah ia suka. Tidak tahu ia akan bisa bertahan seberapa lama, tapi Sehun hanya ingin memastikan jika pria itu bukanlah pria yang Luhan maksudkan.

"Menunggu lama?"

Pria tinggi, berambut gelap dengan alis tebal juga tatapan matanya yang menyerupai elang, menggeleng ketika Luhan bertanya. Sembari tersenyum hangat pria itu menyambut pelukan dari Luhan. "Hanya tiga puluh menit."

Kekehan lembut mengalun dari bibir Luhan sembari mendongak kepada pria yang tidak lain adalah Wu Yifan. Mata mereka saling berpandang dekat tanpa ada niat untuk lepas dari dekapan masing-masing. "Tidak sampai satu jam kan?"

"Ya, tapi aku hampir saja pergi untuk menjemputmu. Takut jika kau tersesat."

"Isshhhh."

Cubitan pelan Yifan terima sebagai buah ejekkannya kepada Luhan. Melepaskan pelukkan masing-masing mereka pun memutuskan untuk duduk di atas rerumputan hijau sembari menghadap pada air mancur yang bermain indah.

"Kenapa mengajak bertemu di taman?"

"Hanya ingin." Luhan menjawab dengan memandang ke depan.

"Apa terjadi sesuatu?"

Luhan menoleh kepada Yifan dengan tatapan tanya.

"Biasanya kau hanya ingin bertemu denganku ketika terjadi sesuatu."

Mendengar itu Luhan tertawa geli. "Kau tidak suka? Bukankah kau harusnya merasa bangga karena aku yang mengajakmu bertemu? Ingat, untuk bertemu denganku itu bukanlah sesuatu yang mudah."

Yifan mendecih. "Aku hanya curiga kau menjadikanku pelampiasan."

"Kau bukan pelampiasanku tapi kau adalah tempat istirahatku. Karena itu aku selalu berlari kepadamu saat lelah." Luhan berujar tenang dan menyandarkan kepalanya pada bahu tegap Yifan sembari memandang kedepan.

"Apa terjadi sesuatu?" Yifan mengajukan pertanyaan yang sama namun kali ini menjadi terdengar lebih serius.

"Tidak ada, aku hanya sedang ingin bersamamu. Bagaimana keadaan perusahaanmu?"

Yifan terdiam sejenak. Ia tau kalau ada yang menganggu Luhan namun sepertinya kali ini dia tidak mau berucap jujur. "Baik dan semakin pesat. Aku berencana memasarkan produkku di Eropa nanti."

"Kau akan semakin sibuk dan sepertinya harus aku yang menyesuaikan jadwal untuk bertemu denganmu nanti."

Keduanya terkekeh pelan. Yifan menoleh ke bawah-menatap Luhan- dan menggenggam lembut jemari Luhan. "Jangan terlalu dipaksakan, Luhan. Itu hanya akan membuatmu semakin lelah."

"Itulah kenapa aku membutuhkanmu. Apa kau tidak berniat kembali menjadi asistenku?"

"Aku bosan melihatmu membentak semua orang." Yifan berujar sembari tertawa kecil hingga membuat wajah angkuh Luhan melunak menjadi menggemaskan karena tertekuk kesal. "Lagi pula jika aku kembali bagaiman nasib pria tinggi itu?"

"Aku bisa menggaji kalian berdua."

"Kau sombong. Ingat jika apa yang kau dapat sekarang adalah hasil dari kerja kerasku juga."

"Karena itu aku menawarkanmu untuk kembali." Luhan menegakkan tubuhnya dan memukul pelan lengan Yifan. "Ada beberapa hal menjengkelkan yang terjadi dan itu benar-benar membuat frustasi."

"Sehun?"

Luhan mendengus. "Kau tau?"

"Aku melihatnya di Tv."

Sedikit menghela napas, Luhan memeluk lututnya yang tertekuk. "Pria itu muncul seperti malapetaka untukku."

"Jangan hiraukan."

"Aku tidak pernah menghiraukannya tapi dia selalu muncul dan membuatku marah."

Yifan mengangguk paham akan kekesalan Luhan. Dia adalah satu-satunya orang yang Luhan beritahu tentang bagaimana kehidupannya di New York. Itu terjadi saat mereka berdua mulai saling terbuka melebihi dari sebatas asisten pada atasannya. Aneh memang mengingat Luhan begitu dingin ketika awal mereka bertemu namun semuanya mencair karena terbiasa selalu bersama dua puluh empat jam selama bertahun-tahun lamanya sampai Yifan memutuskan berhenti demi membangun perusahaan impiannya sendiri.

"Dia sepertinya menginginkanmu kembali." Luhan menoleh kepada Yifan yang juga tengah menatapnya. "Aku tau kalau dia melamarmu saat malam peresmian."

"Itu hanya kebodohan, Yifan. Aku tidak ingin kembali kepadanya."

"Tapi bagaimana jika suatu saat kau berbalik memeluknya?"

Luhan terdiam tidak tau harus menjawab apa untuk pertanyaan Yifan yang ia anggap mustahil. Sepenuh hatinya Luhan tidak ingin kembali kepada Sehun, tapi kenapa ada keraguan yang ia rasakan? Kepala Luhan menggeleng dan berakhir dengan dirinya memeluk Yifan. "Kau bisa mengingatkanku untuk tidak memeluknya dan hanya memeluk dirimu."

Usapan lembut serta kecupan di pelipis Yifan berikan kepada Luhan. "Menikahlah denganku agar aku bisa memiliki alasan untuk mengingatkanmu." Berbisik pelan di telinga Luhan yang tengah memejamkan matanya tenang. "Kau tau kalau selama ini aku mencintaimu dan semua hal yang aku lakukan sekarang hanya agar bisa terlihat pantas untuk bersanding dengan dirimu. Sekarang aku bukan lagi bawahanmu yang kau larang untuk mencintai dirimu, tapi sekarang aku adalah Wu Yifan pemilik dari Wuxien production."

Pelukkan itu semakin Luhan eratkan pada leher Yifan. Kepalanya bersandar nyaman di atas bahu lebar milik pria satu-satunya yang kini ada di dalam hidupnya."Ya, aku akan menikah denganmu." Menjawab pelan, Luhan berujar tanpa karaguan walau hatinya belum sepenuhnya yakin jika jawabannya adalah pilihan yang tepat.

Yifan tersenyum penuh kebahagiaan. Hal yang dinantikannya akhirnya mendapat jawaban dari wanita yang dicintainya. Pelukkan itu Yifan lepas, tangannya mengusap dua pipi halus milik Luhan sembari menatap lekat pada bola mata Luhan. "Terima kasih." Berujar lembut dan dengan sorot cahaya matahari yang mulai turun tenggelam.

Penyatuan bibir itu terjadi di depan mata Sehun yang menatap nanar. Hanya dengan pemandangan itu ia tahu kalau benar pria itu adalah pria yang Luhan maksudkan. Tangannya terkepal erat dengan tatapan yang tak mampu teralih dari keduanya. Sekarang tidak hanya rasa sesak yang menjalar tapi sebuah kepedihan dalam sanggup ia rasakan di balik panasnya api cemburu yang membara.

Wanita yang dulu hanya mengingkan dirinya kini justru berada dalam rengkuhan pria lain dan mengabaikan dirinya. Kenapa bisa sesakit ini? Rasa tidak rela itu muncul namun terasa bukan lagi dalam artian sama seperti dulu, tapi rasa tidak rela itu muncul karena dirinya merasa sepenuhnya tidak ingin kehilangan Luhan.

Sadarkan dirimu Oh Sehun! Kau hanya ingin mendekati wanita itu untuk kepentinganmu sendiri! Jangan sertakan perasaan yang akan membuatmu jauh melangkah dari tujuan. Ingat Tiffany yang menunggumu di hotel! Ingatkan dirimu kalau Luhan hanya boneka yang bisa kau manfaatkan. Jangan terpengaruh dan tetap fokus pada apa yang kau inginkan.

Bisikkan itu muncul di tengah goncangan hati yang Sehun rasakan. Sedikit enggan Sehun melirik Luhan yang kembali terlihat berbincang tanpa bisa ia dengar apa yang tengah mereka bicarakan, kemudian dirinya mengambil langkah mundur untuk kembali menuju mobil yang ia tinggalkan.

Biarkan untuk beberapa waktu Sehun berpikir dan menenangkan dirinya sendiri.

.

.

"Mau aku antar?"

Luhan menggeleng dan melepaskan tangannya yang ada dalam gandengan Yifan. Kini mereka ada di sebuah jalan setelah menghabiskan waktu bersama hampir empat jam.

"Aku bisa pulang sendiri."

"Ini terlalu malam."

"Jangan khawatir. Aku bisa menelepon Chanyeol untuk menjemputku."

"Terdengar tidak buruk. Jadi apa mau aku temani menunggu?"

"Kau berlebihan." Luhan mengelus pipi Yifan sembari tersenyum singkat.

Tidak membuang kesempatan Yifan meraih tangan Luhan dan ia kecup penuh kelembutan. "Aku hanya khawatir."

"Aku bisa menjaga diri, kau bisa pulang sekarang. Lagipula kau harus menemui nyonya Cho kan?"

Yifan menengok pada semua arah. Yah, di sini terlihat aman karena ramai hanya untuk meninggalkan wanita cantiknya sendirian. Sedikit merasa tidak rela Yifan melepaskan tangan Luhan karena dirinya memang memiliki jadwal. "Aku akan pergi tapi kau jangan kemanapun sampai Chanyeol datang."

Luhan mengangguk patuh.

"Telepon aku jika ada sesuatu."

"Sambungan cepat nomor satu." Sembari terkekeh Luhan menunjukkan ponselnya. Memberi tahu Yifan jika nomor pria itu akan menjadi yang pertama ia tekan jika ada hal genting.

Yifan mengusap surai rambut Luhan. "Aku mencintaimu." Mencium kening serta bibir Luhan dan berlalu pergi menuju mobilnya yang tak terparkir terlalu jauh.

Luhan melambaikan tangan sembari mengamati mobil Yifan yang mulai melaju. Senyuman manis yang sejak tadi ia ukir seketika menghilang tergantikan kembali oleh raut wajah angkuh yang mampu membuat semua orang katakutan. Mata Luhan menatap pada area sekitar. Sudah berapa lama ia tidak menikmati Seoul di malam hari? Kesempatan seperti ini sangat sulit didapat sehingga Luhan tidak ingin menyia-nyiakannya. Dia berakhir kembali berkeliling dan menunda untuk menghubungi Chanyeol guna menjemput dirinya.

Kelopak dari bunga anggrek putih yang tergeletak di pinggir jalan Luhan ambil dan ia amati secara lekat. Kasihan, kelopak itu terlepas dari tangkainya sehingga berakhir sendirian.

"Jadi pria itu yang membuatmu menolakku?"

Luhan berbalik ke belakang saat mendengar suara seseorang dan dirinya menemukan Sehun berdiri dalam keadaan yang bisa dibilang cukup kacau juga berantakan. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Mengikutimu." Sehun menjawab jujur karena dirinya memang berakhir menguntit Luhan bersama Yifan layaknya seeokor anjing pengintai.

"Kau tidak memiliki pekerjaan yang lebih penting dari pada ini?"

"Cukup jawab aku. Apa pria itu yang kau maksudkan?"

Kelopak bunga yang ia pegang Luhan lepaskan sampai kembali jatuh menyentuh tanah. "Ya, dia pria yang aku pilih. Pria yang lebih baik dari dirimu."

"Kau mengatakan hanya akan menikah denganku, Luhan!" Nada suara Sehun meninggi. Langkahnya mendekati Luhan yang tidak berniat menghindar untuk pergi.

"Menikah denganmu setelah semua yang kau lakukan? Kau kira aku masih tetap bodoh?" Luhan tertawa geli. "Aku bukan lagi bonekamu yang akan terus mengharapkan pria yang bahkan tidak pernah mencintaiku. Jangan menginginkan sebuah kenyataan yang tlah terkubur, Oh Sehun."

"Aku tidak peduli! Aku tidak akan membiarkanmu menikah bersama pria lain."

"Kau masih sama egois seperti dulu." Tanpa ketakutan Luhan balas menatap tajam mata Sehun. "Apa kau masih berpikir kalau aku hanya milikmu sementara dirimu bisa memiliki apapun yang kau inginkan?"

Sehun terdiam.

"Setelah semua yang kau lakukan itu cukup membuatku muak kepadamu." Tatapan Luhan terlihat penuh akan kebencian, namun tidak bisa ditutupi jika genangan itu mulai muncul seperti bayangan tipis diatas permukaan air. Menyiratkan sebuah luka tersembunyi yang hanya timbul saat luka itu berhadapan dengan penyebabnya. "Sekarang berhentilah mengusikku dan biarkan aku hidup bersama Yifan."

Sehun menahan tangan Luhan ketika Luhan hampir ingin pergi dari tempatnya. "Itu tidak mungkin."

"Kenapa? Apa sekarang kau menyesal sudah melepaskan boneka bodoh sepertiku? Atau kau berubah pikiran karena apa yang aku miliki sekarang?"

Sehun membisu karena Luhan secara tidak langsung menyindir telak akan niat busuk yang ia miliki. Tapi tidak! Bukan hanya karena itu Sehun menjadi seperti ini. Perasaan ini lebih dari sekedar perasaan tidak suka karena mainannya disentuh seperti apa yang Ken lakukan dulu.

"Ah, jadi benar seperti itu? Kau memang bajiangan, Sehun!" Satu pukulan keras di dada Luhan berikan kepada Sehun yang tidak menjawab, kemudian dirinya mengambil langkah pergi menjauhi Sehun yang masih terdiam.

"Luhan! Dengarkan aku dulu." Sehun berbalik berniat mengejar Luhan tapi matanya menangkap gerak-gerik aneh dari seseorang yang bersembunyi di balik pepohonan.

Mata Sehun kian menyipit jeli, meneliti apa sedang pria itu lakukan. Dia terlihat mengeluarkan sebuah pistol yang diarahkan pada..

Luhan!

Sehun berlari secepat yang ia mampu. Tangannya meraih lengan Luhan kemudian ia bawa masuk dalam pelukannya secara tiba-tiba. Luhan memberontak kuat namun gerakannya terhenti saat mendengar letupan pistol yang melengking nyaring memasuki pendengaran.

Tubuh Sehun terhentak pelan ke depan dengan tetap mengeratkan rengkuhannya kepada Luhan.

Mata Luhan membola terkejut sekaligus bingung dengan apa yang terjadi saat ini. "Sehun." Dirinya mendongak, menatap Sehun yang memucat.

Kepala Sehun jatuh terkulai di bahu Luhan. Sedikit kesadaran masih dapat ia rasakan walau rasa panas menjalar pada bagian belakang punggungnya. "Sudah berapa lama aku tidak memelukmu seperti ini?"

Suara Sehun terdengar lirih juga berat dan itu semakin membuat Luhan terpekur diam.

"Jangan selalu menghindar dan biarkan aku berbicara." Keringat dingin mulai keluar dari pelipis Sehun. "Aku menyadarinya. Aku tidak sanggup kehilanganmu kembali." Ditengah kesadaran yang mulai menipis Sehun berbisik pelan, kemudian matanya terpejam dengan dua tangan terkulai di sini tubuh.

"Sehun." Jemari Luhan yang begetar merambat, menyentuh punggung Sehun dan mendapati sesuatu yang basah juga berbau anyir menempel pada telapak tangannya. Pandangan Luhan mulai mengabur karena air mata yang mendesak keluar saat ia menyadari kalau busur panas itu berhasil menembus tubuh Sehun.

Dengan sigap Luhan menahan tubuh Sehun yang hampir terjatuh dan membawanya berbaring dengan kepala Sehun yang ia dekap. "TOLONG!" Menjerit kencang hingga memenuhi kesunyian malam di tengah-tengah jalan taman yang sudah mulai sepi. "Tolong! Siapapun, tolong dia!" Berteriak pilu penuh ketakutan menyergap hatinya.

Tidak! Jangan ada lagi yang hilang dan pergi. Tidak pula dengan dirinya. –Luhan

.

.

.

.

.

To be continue…

Preview Next chap.

"Jangan menyebar cerita palsu tentang kejadian ini. Mereka hanya tidak sengaja bertemu dan apa yang menimpa tuan Sehun bukan sepenuhnya kesalahan nona Luhan."

"Kau ingin balas dendam?"

"Bukankah itu yang kau lakukan padaku dulu?" – Luhan.

"Bisakah kita bicara?"

"Pergilah."

LOL adegan acak loh ya ga urut jadi cermati deh tu next chap yang ngomong gitu siapa aja lmao Chap 12 up yuhuuuuuuu! Hallo semuanya.. apa kabar? Aku fast up kan^^ Cieee yang pada demo minta Luhan nolak Sehun. Tenang, ga dong, ga lah, ga akan semudah dan secepat itu mereka menyatu lol gimana Yifannnya? Nongolkan? Yang suka KrisHan pasti pada nyengir lima jari ga mingkem2 hahaha gimana nextnya nasib HunHan atau Sehun yang ketembak? Yoosss review untuk chap ini tapi-tapi tanpa bash loh ya..

Kemarin pada ngira ada NC ya lol ga ada tapi kan jaga2 namanya juga puasa^^ Buat pembaca baru.. hallo-hallo salam kenal^^ namaku Eky 93line. Bebas mau kalian panggil apa aja^^ Semoga betah ya, ditunggu next reviewnya dan thanks udah mau mampir^^

Selenia oh : Iya^^ asal jangan minta bayaran ya lol nanti aku masukin jadi cameo..

Angel deer : iya, aku dengerin ko..

Juna oh & D1 : TEPAT!

Paboasshole : Sorry :

Rara : tanya apa emang? Aku kalo guest bingung balesnya karena kalo pake akun guest ga Cuma ada satu.

Mustika253 : iiihhhh bener hahaha

Chenma : Nah itu si Sehun juga diomelin kan hahaha Luhan menantu idaman soalnya lmao

Xiaohimelu : Hahaha iya aku tau juga ko soal itu.. tapi emang udah keterlaluan jadi Luhan ga bisa nahan buat ga marah mungkin^^ Maaf udah bikin baper gara2 ni FF hahaha tapi emang sekedar nunjukin kalau Sehun itu masih seenak jidat dia hidupnya lol

Sanmayy88 : Itu juga jadi permasalahan lol Ga bisa dipungkiri kalo baca Park Jungsoo itu ya pasti gambarannya Leeteuk, uri leader si malaikat tanpa sayap. Tapi sebenernya aku ga pake karakter Leeteuk di sini, jadi kaya cuma fiksi. Aku kesalahan pilih nama heemmmm jadi ini sama kaya si Ken. Yang baca pada ngira Ken VIXX tapi sebenernya dari awal itu bukan dia yang aku pake terus aku juga ga pernah gambarin detail rupa mereka kan. Jadi bebas aja si kalian mau gambarin Ken atau Park Jungsoo kaya apa.

Jj : Luhan kan emang cinta mampus ke Sehun haha /Tengok flashback/

Real wu94 : baca ulang chap 12.

Siskaeka90 : Lulu strong ka strong banget. Tapi nanti kalo belajar karate/whusu kuku berhias kutek mahalnya bisa pudar. Tangannya nanti kapalan trus ga halus lagi ka hahaha

Pudding rendah lemak : namanya ucul deh kkk makasih ya.. ditunggu next reviewnya

Chizuru mey : Emang pendek 3k plus doang lol Mau lah digendong Sehun *-*

Memei122004 : Walau ga suka baca dong biar paham sama jalan ceritanya. Sehun suka ke Tiff tapi Tiff? Kita liat next chap nanti ya^^

Ok, thanks untuk semua review, dukungan semangat dari kalian semua^^ sebentar lagi lebaran. Walau kita ga saling kenal secara personal tapi minal aizin ya.. yang pada demo TSP ditunggu ok! Doain aja aku free waktunya banyak^^ thanks untuk yang follow juga favorit. Segala review kalian aku baca^^

Kita ketemu di next chap. Jump! Jump! Jump! Jump! We are HHS^^ See you..

I LOVE YOU ALL..