Mom for My Little Menma
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Family, Romance, Humor
By : Lukas "Luke"
Warn : AU, OOC, GS , Gaje, Garing, Ngaco
Typos menunjukkan bahwa yang ngetik juga manusia. Ini serius.
Happy reading~
Chapter 11
..
Naruto meremas ponselnya erat, menghela nafas panjang saat tahu balasan Sasuke tak juga datang sejak dua hari lalu ia mengirim permintaan maaf yang sangat singkat untuk pria itu. Jantungnya berdegup kencang tiap kali mengingat pertemuan terakhir mereka, getaran yang tidak menyenangkan karena membuat gadis itu meringis sebab dadanya yang terasa sesak seolah terhimpit beban berat.
Ia sadar telah menyakiti Sasuke juga Menma. Ia meninggalkan laki- laki itu lagi untuk kedua kalinya. Naruto merasa tak punya pilihan, mau tak mau dirinya harus kembali ke Suna secepatnya sebelum hari perayaan pertunangannya dengan Utakata dilaksanakan. Bagaimanapun ia harus menghormati pilihan papa- nya yang telah menjadikan Utakata sebagai calon pendamping hidupnya kelak ketika sang papa jelas tidak menyukai Sasuke setelah tahu apa yang dilakukan Mikoto padanya delapan tahun lalu. Iruka tak ingin dirinya dipermalukan lagi oleh ibu Sasuke dan memintanya untuk tidak lagi berhubungan dengan keluarga Uchiha.
Naruto bisa apa, ia tak ingin membuat Iruka kecewa. Pria yang telah merawatnya sejak ia masih berusia 5 tahun itu sudah berkorban banyak untuk kebahagiaannya, membuat hidupnya menjadi jauh lebih baik. Meski ia tahu perasaan pada pria Uchiha- nya tak pernah berubah dan kini ditambah Menma yang telah berhasil membuat hatinya semakin tertawan oleh pesona luar biasa dari dua manusia bermarga sama itu.
Tapi bukankah Mikoto telah meminta maaf untuk perlakuannya delapan tahun silam? Dan hubungannya dengan Sasuke serta ibunya telah membaik? Jadi, bisa disimpulkan bahwa tak ada masalah lagi sekarang jika ia kembali menjalin hubungan dengan Sasuke. Well, Naruto tak bisa mengabaikan fakta itu. Namun untuk berbicara dengan sang papa, ia sama sekali belum memiliki kesempatan untuk melakukannya. Lagi pula bagaimana mungkin ia membuat malu Iruka setelah pertemuan dengan kedua orang tua Utakata telah terlaksana sebelum kepergiannya ke Konoha dua bulan lalu. Keluarga mereka telah berhubungan dengan sangat baik dan Naruto tak bisa merusaknya hanya karena ia memilih pria lain yang kini berstatus duda beranak satu. Iruka pasti akan sangat kecewa.
Naruto menghela nafas berat. Mengambil buku sketsanya dari atas meja ruang TV dan membukanya asal. Ia baru saja menggambar desain baru untuk cafe- nya yang belum ia kunjungi lagi sejak dua bulan terakhir dan mungkin akan diaplikasikan secepatnya setelah gambarnya benar- benar jadi. Oh, mungkin ia akan meminta pendapat Sai terlebih dulu sebelum mengambil keputusan tentang café- nya.
Gerakannya berhenti begitu selembar kertas gambar terjatuh ke atas pangkuan.
Ia jelas ingat siapa pemilik gambar menggemaskan yang kini ditatapnya dengan senyum kecil.
" Menma," gumamnya pelan. Membersit pelan dengan hidung yang kembali memerah hendak menangis. ah, sialan. Ia jadi rindu setengah mati pada pria kecilnya di Konoha. Menma pasti sangat kecewa padanya dan Naruto tidak ingin membayangkan reaksi macam apa yang akan bocah itu tunjukkan jika suatu saat mereka bertemu lagi.
Naruto bukan gadis cengeng sebenarnya, tapi ia jadi begitu mudah menangis diam- diam sejak pertemuan terakhirnya bersama Sasuke empat hari yang lalu. Ia selalu merindukan Menma, dan tak akan bohong jika ia merindukan daddy- nya bocah itu juga. Naruto bahkan harus menahan diri untuk tidak menghubungi Sasuke demi memuaskan rasa rindunya pada dua laki- laki bermarga Uchiha yang tinggal di Konoha itu.
Naruto tidak habis pikir bagaimana mungkin Sasuke masih bisa mengatakan bahwa ia tetap mencintai dirinya bahkan setelah tahu ia memiliki seorang tunangan. Naruto bahkan begitu malu hanya untuk sekedar berhadapan dengannya. Ia tak tahu jika dirinya akan seberani itu untuk berhubungan dengan pria lain saat disisi lain ia memiliki seorang tunangan, Sasuke pastilah sangat kecewa dengan perilakunya yang seperti gadis murahan dan –
" Chk, dari awal aku hanya menyukai Sasuke, " erangnya, mencoba membela diri saat pikirannya terus saja menyalahkan dirinya.
Naruto mendecih. Merasa begitu kesal dan sedih.
Ngomong- ngomong, sudah tiga hari sejak kepulangannya ke Suna dan ia hanya mengurung diri di kamar. Cepat atau lambat papanya pasti akan menyadari perilakunya yang tidak ingin terlibat percakapan panjang dengan siapapun, apalagi Utakata. Tunangannya itu sempat mengunjunginya kemarin setelah tahu ia sudah kembali, tapi ia tak berniat sedikitpun untuk mengobrol lama dengan laki- laki berambut cokelat itu.
Iruka adalah seorang yang mencintai pekerjaannya, tidak banyak waktu yang bisa laki- laki paruh baya itu habiskan di rumah untuk menemani putrinya, papanya pasti butuh beberapa saat lebih lama untuk menyadari perubahan sikap dirinya ini dan itu membuatnya sedikit tenang.
" Ada apa denganmu?"
Atau tidak?
Naruto tersentak. Menoleh cepat pada pria berkuncir yang tiba- tiba telah duduk di sebelahnya.
Eh?
Sejak kapan?
" Kau terus menghela nafas dan menggumam tentang Menma dan apapun yang aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas," tambah pria itu. Sekilas Naruto mengingat editor dadakannya yang tinggal di Konoha, ia juga berkuncir seperti papanya ini. Lupakan.
" Papa sudah pulang?" tanyanya ragu- ragu. Menggaruk tenguknya salah tingkah.
Iruka mengernyit kemudian mendengus pelan.
" Aku sudah duduk di sini nyaris dua menit yang lalu, Sayang. Apa kau melamun?" menatap putrinya heran.
" Err, yah, aku memang sedang banyak pikiran."
Naruto meremas ujung celana pendeknya di atas lutut.
" Kau sedang banyak pikiran, yea, papa tahu," Iruka mengangguk beberapa kali, " Kau selalu mengurung diri sejak kepulanganmu dari Konoha. Apa kau sedang punya masalah? Katakan padaku."
" Apa kau memikirkan pesta pertunanganmu dengan Utakata?" tambahnya.
Naruto memasang wajah blank selama beberapa saat. " Sepertinya begitu," putus Iruka sebelum putrinya memberikan balasan.
" Apa kalian bertengkar?"
" Bertengkar? Tidak. Kami baik- baik saja."
Iruka mengangguk mengerti. Sementara putrinya menarik kedua sudut bibir membentuk garis lurus menahan gugup.
Iruka menyandarkan punggung lelahnya, menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar, " Kau tidak terlihat baik- baik saja, Naruto. Apa kau berubah pikiran? Kau menyesal bertunangan dengan Utakata?"
Naruto terpaku mendengar pertanyaan sang papa yang terdengar sedikit kecewa.
" Bukan, Pa-"
" Jangan bohong padaku, Sayang," Iruka tersenyum kecil hingga kedua matanya menyipit. Mengusak puncak kepala putrinya sayang.
Naruto menggigit bibirnya. Sementara pria di sebelahnya menghela nafas panjang karena sepertinya gadis manisnya sedang tidak ingin berbagi cerita apapun.
" Jadi," melirik selembar kertas di tangan Naruto dan meraihnya, "gambar siapa ini?"
" Apakah ini dirimu?" tambahnya membuat Naruto meringis kecil tanpa suara.
" Ini kau, bukan?" tunjuk Iruka pada gambar dirinya.
Naruto tersenyum kecil," Ya, itu aku."
" Dan ini Menma, putra kecil Sasuke," tunjuk laki- laki itu lagi.
" Ya, itu Men-"
Naruto terpekur. Tubuhnya mematung dan tiba- tiba nafasnya sesak seolah tercekat di tenggorokan.
..
..
" Dad, kemejamu terbalik," Menma menatap sang daddy yang tengah menyiapkan bekal makan siangnya.
" Ah, benarkah?" Sasuke tampak linglung, memandangi kemeja kerjanya yang memang terbalik. Merasa begitu idiot di hadapan putra semata wayangnya yang kini mendengus pelan.
" Dan masakan Daddy tidak ada rasanya," keluh Menma kecil melempar tatapannya kembali pada sepiring omelet yang sengaja dimintanya untuk sarapan.
Sasuke menghela nafas lelah, ia baru ingat lupa menaburkan garam pada masakannya, " Kau tahu daddy tidak pintar memasak, Sayang," ujarnya mencoba memberi pengertian sebelum jemarinya meraih kancing- kancing kemeja untuk melepasnya.
Menma diam tak membalas. Melirik daddy- nya sebentar dan kembali berujar, " Dad, aku tidak mau sekolah hari ini."
" Tidak boleh. Kau sudah dua hari membolos dan kepala sekolah sudah menelfonku, menanyakan kenapa kau tidak masuk," Sasuke kembali mengenakan kemejanya.
" Aku mau mommy," lirih Menma. Menautkan jemari kecilnya di atas pangkuan.
Sasuke mematung, menghembuskan nafas kasar dan meletakkan sendoknya ke atas piring. Selera makannya menguap begitu saja, dan memang sejak awal ia sama sekali tidak nafsu makan.
Sudah nyaris seminggu dan ia belum mendengar kabar apapun dari Naruto. Ponselnya telah rusak dan dirinya cukup malas untuk membeli ponsel baru.
" Dad, kemarin kemana? Nenek bilang Daddy ke pergi ke tempat jauh," suara kecil Menma kembali terdengar. Bocah kecil itu menatap sang daddy dengan kaki terayun pelan.
" Apa Daddy juga akan pergi seperti mommy?" tambahnya lirih dengan nafas tersengal hendak menangis.
" Apa aku akan ikut nenek lagi seperti dulu?-"
" Menma-"
" Daddy membenciku-"
" Tidak, Sayang."
Sasuke merangsak maju, meraih sang putra dengan tergesa ke dalam rengkuhannya. Mengecupi puncak kepala Menma untuk menunjukkan betapa ia menyayangi bocah itu serta bermaksud meminta maaf untuk kesalahannya di masa lalu di mana ia pernah mengabaikan pria kecil ini selama beberapa tahun dan menganggapnya sebagai kesalahan.
Sasuke menyesal. Ia benar- benar menyesalinya.
" Daddy menyayangimu, Menma. Dan Daddy ingin kita selalu bersama- sama, Daddy tidak akan mengijinkan siapapun membawamu pergi dariku, kau mengerti? Maafkan Daddy, oke? Daddy tidak akan pernah meninggalkanmu."
..
..
Naruto terkekeh geli kala mendapat terjangan pelukan dari Sai dan Ino. Dua sahabat baiknya ini pasti merasa sangat khawatir padanya. Selama ia di Konoha dirinya tak menghubungi keduanya sama sekali.
" Bocah kurang ajar! Kau meninggalkan cafe mu selama dua bulan dan tak mengirim kabar apapun pada kami!" Ino menarik telinga kanannya sebal.
" Akh aww, sakit, Ino."
" Kenapa kau pulang? Padahal aku sudah senang dapat warisan cafe dan toko buku sebesar ini darimu," cerca Sai tak berniat menghentikan siksaan lahir dari istrinya untuk si pirang.
" Wah, jahat sekali mulutmu itu," sungut Naruto kesal. Mengusap telinganya yang memerah dengan beringas. Matanya mendelik tajam pada keduanya meski pada akhirnya tak memberikan efek apapun pada Sai dan Ino.
" Jadi?" Ino bertanya, menatap serius pada Naruto, menuntut jawaban. Wajahnya bergerak mendekat. Mengikis jarak dengan mata menatap penuh tanya pada si pirang yang meringis penuh antisipasi, " Apanya yang jadi?" tanya Naruto berpura- pura tak paham.
Ino memutar bola mata bosan, menarik wajahnya menjauh dan melipat kedua tangannya di depan dada.
" Bagaimana? Kau sudah benar- benar siap menerima Utakata sebagai calon suamimu?"
" Astaga, kami bahkan belum melakukan perayaan pertunangan," Naruto terkekeh masam. " Calon suami apanya?"
" Apa bedanya? Saat ini kalian bertunangan dan akan menikah suatu saat nanti."
Sai mendengus.
Naruto menggigit kedua bibirnya, melirik geli melihat antusiasme Ino mengenai kisah cintanya. Sahabatnya yang satu ini memang cerewet bukan main jika urusannya sudah masuk tentang jodoh menjodohkan dirinya dengan seorang pria.
" Aku mengundangnya datang ke cafe siang ini," ujar Naruto.
" Apa!?" Ino memekik penuh semangat menuai decakan sebal dari Sai yang lantas menutup sebelah telinganya yang berdenging menyakitkan. Mulai lagi, batinnya gondok bukan main.
" Serius!? Kau mengundang pria ganteng itu ke sini?"
" Hei- hei-" Sai merengut tidak terima. Bagaimana bisa sang istri menyebut pria lain ganteng di depan suaminya sendiri.
" Iya, aku mengundangnya dan mungkin akan menraktirnya sepiring oreo brownie cake dan secangkir besar oreo milkshake. Aku akan membuatnya sendiri untuknya," Naruto tersenyum kecil.
" Astaga, Naruto. Kalian manis sekali~"
Naruto terkekeh ringan melihat Sai terus merengek, meminta istrinya untuk berhenti bertingkah berlebihan dan menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung cafe.
Gadis itu meraih ponselnya, menatap tampilan jam digital di sudut layar. Setengah jam lagi Utakata datang. Ia menghela nafas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk bertemu sang tunangan. Karena ia telah mengambil keputusan dan dirinya merasa yakin jika pilihannya takkan membuatnya menyesal di kemudian hari.
..
..
Langkah kaki kecil terdengar samar. Sepasang manic kelam menatap sebuah pintu yang terlihat semakin dekat. Si pemilik surai gelap itu mengulurkan tangan, mengetuk si pintu beberapa kali dan memanggil " Mom," dengan suara lirih. Berharap pintu itu akan terbuka dan menampilkan gadis pirang kesayangannya.
" Mommy," lirihnya lagi dengan hidung memerah hendak menangis. Ia merindukan Naruto.
" Menma kangen."
..
..
Obito melihatnnya. Dan ia hanya bisa menahan diri untuk tidak meluapkan kesedihannya ketika melihat sang keponakan selalu mendatangi apartemen Naruto diam- diam. Berdiri selama beberapa menit sebelum kembali pulang dengan hidung memerah dan mata basah.
" Menma?" panggilnya.
Si kecil tersentak, menoleh cepat.
Obito bisa pastikan kedua pipi menggemaskan pria kecil di depannya ini basah. Bahkan tubuh mungilnya terlihat gemetaran.
" Nii- chan?" balas Menma lirih.
Obito berjongkok. Menyamakan tinggi dengan si kecil Menma dan bertanya, " Kau mencari Naruto- san?"
Si kecil terdiam beberapa saat dan mengangguk.
" Mommy belum pulang," berujar lirih. Dan air matanya kembali menetes.
Obito trenyuh. Pemuda itu mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepala Menma.
" Hei, Menma, katamu kau mau jadi cowok ganteng sepertiku," ujarnya dengan cengiran kecil.
Menma mendongak. Menatap Obito-nii-channya beberapa saat dan membalas," Tidak mau. Aku mau gantengnya seperti daddy saja."
Obito meringis masam.
" Oke, ganteng seperti daddy- mu," ulangnya membenarkan. " Tapi kau tidak jadi ganteng tuh-"
Menma mengernyit.
" Apa karena aku dekat- dekat Obito- nii- chan?" tebaknya menuai dengusan sebal dari Obito. Apalagi ditambah reaksi berlebihan si bocah yang beringsut menjauh, takut kadar gantengnya memudar karena berdiri terlalu dekat dengannya.
" Bukan."
Obito meraih lengan Menma dan menarik si bocah kembali mendekat dengan lembut.
" Lalu?" si kecil mengerjap penuh tanya.
" kalau kau menangis gantengnya jadi pindah padaku, begitu," jawab si pemuda SMA .
Menma mendelik, " Enak saja."
Lah?
" Aku tidak menangis tahu. Ini kelilipan. Kelilipan," seru Menma seraya menunjuk- nunjuk mata kanannya. Sedikit salah tingkah.
" Ah, yang benar?"
" Nii- chan, aku serius," Menma mencubit kedua pipi Obito kesal.
Chapter 11 _ Tbc
Omake
Dua minggu. Dua minggu sejak kepergian Naruto, Sasuke tak akan bohong jika ia sangat merindukan gadis itu. hari- harinya terasa jauh lebih buruk dari saat sebelum gadis itu kembali berkeliaran di dekatnya. Mau memasang topeng setebal apapun nyatanya pria itu tetap tak mampu mengendalikan emosinya dengan baik saat di kantor. Belum lagi ketika ia pulang dan disuguhi Menma yang kadang akan merengek dan memaksanya untuk mencari serta membawa pulang si pirang yang kini ada di Suna meski tak sesering di minggu pertama Naruto meninggalkan mereka.
Sasuke meletakkan sebuah cangkir warna abu- abu bergambar Pokemon di meja kasir, menyusul 2 bungkus ramen instan, dua buah susu kotak rasa stroberi, dan dua kotak besar sereal rasa cokelat kesukaan Menma. Ia langsung melesat ke toko begitu mendapati menu paling digemari sang putra telah habis.
" Apakah ini untuk putra Anda, Tuan?" sebuah suara membuatnya mendongak. Menatap penjaga kasir berambut silver yang tengah melempar senyum ramah padanya.
" Hn."
Si penjaga kasir tertegun mendengar gumaman singkat Sasuke. itu tidak bisa disebut kalimat balasan. Pemuda itu tersenyum geli, sebentar, lalu kembali berujar, " Sepertinya Anda sedang tidak dalam mood yang baik-"
" Berapa totalnya?" potong si Uchiha tidak sopan. Malas sekali rasanya berbasa basi dengan orang asing.
Toneri terkekeh dan menyebut nominal yang harus Sasuke bayar.
" Ngomong- ngomong, Tuan. Itu mug terakhir yang tersisa, seseorang barusaja membelinya juga dengan gambar dan warna yang sama, dia pelanggan baruku sejak beberapa minggu lalu, dan dia membeli satu kotak paling besar sereal cokelat dan empat susu kotak beda rasa beberapa saat lalu," celoteh Toneri sambil memasukkan barang- barang yang telah dibayar Sasuke ke dalam kantong plastik, seolah tak peduli pria di depannya sudi mendengarnya atau tidak. Dia hanya mencoba berperan sebagai pemilik toko yang ramah dan dekat dengan para pelanggan.
" Dan dia gadis yang manis dan menarik dan –"
Terserah. Sasuke menulikan pendengaran, dalam hati mengumpat dan mengirim makian paling kejam untuk si penjaga kasir yang cerewet bukan main. Membuatnya semakin pusing.
Dengan tak berperasaan dia menyela celotehan Toneri dengan berujar permisi, kemudian berlalu.
Dibilang juga apa, Sasuke sedang dalam suasana hati yang buruk.
..
..
Ketukan pintu terdengar, sesekali Menma akan melirik lift di ujung koridor kalau- kalau daddy- nya keluar dari benda kotak bergerak itu. Sang daddy pasti akan segera menarik dan menggendongnya pulang dengan wajah lelah dan sedih.
Manik kelamnya kembali bergulir, menatap pintu di hadapannya dan mengetuknya lagi dengan jemarinya yang kecil. " Mommy," panggilnya putus asa.
Menma terus berharap gadis Namikaze- nya segera pulang dan membukakan pintu untuknya, ia bahkan berdoa setiap malam agar Tuhan mengembalikan mommy- nya tapi nyatanya pintu ini masih tetap bergeming, tak bergerak sedikit pun. Menma merasa ia sudah mulai lelah dan-
KLEK
Si bocah mematung.
" Menma?"
End Omake
Ini cerita bikinnya ngebut, mikir ngebut nulis ngebut, mumpung pikiran lagi jalan. Jadi kalo alurnya maksa bin pasaran banget, mohon maklum. Keterbatasan saya sbg penulis itu kdg pikirn mampet dan kerjaan yang numpuk. Yang srg nulis cerita pasti ngrasain juga. Hehe.
Maafken segala kekurangan, segala kesalahan dan typo yang tak tertahankan. Cerita makin gaje? Iya. Makin ngaco? Iya. Yang sabar ya jadi pembaca, dibaperin author terus. Tehee
Makasih banyak untuk semua dukungan teman2. Dan jgn lupa tunggu chap depan.
Sekian dari saya.
Salam,
Lukas.
Oh, saya publish cerita di watty judulnya Firefly for Sasuke tp karena gangguan sinyal ato emng lgi sial ceritanya belum muncul, pdhal udah dari siang publishnya. Ada yang tahu kenapa? (curhat sekaligus nanya)
Maaf, cm publish di watty.. T.T
