A/N : Annyeong! Okay, author tahu, ini belum waktunya update, tapi ga tau kenapa nih tangan gatel banget pengen update.. So, ya sudah, update lah.. Dan mungkin sampai chapter 15 bakal ga beraturan gini update-nya wkwk.. oh ya, mau ngumumin aja, kalau ff ini akan berakhir pada chapter 15. Berarti setelah ini, 4 chapter lagi! ^^ Nah, selamat menikmati chapter 11 ^^
Chapter 11
-Direct Confession!
_Jaehwan POV_
Berhari-hari berlalu. Aku sudah sering menebak siapa yang Hongbin sukai. Aku menyebut semua nama murid di kelas, bahkan satu sekolah. Tapi Hongbin selalu menjawab, 'Bukan dia.'
.
Suatu siang, aku bertanya lagi.
"Hongbin-ah~ Kumohon beritahu aku! Siapa orangnya?"
"Sudah kubilang, aku tak akan memberitahumu. Cari tahu sendiri.."
Hongbin memeletkan lidahnya. Kesal, aku mem-pout-kan bibirku. Aku pun menoleh ke orang di belakangnya. Sanghyuk tengah sibuk membaca buku. Ia akhirnya menyadari bahwa aku sedang menatap tajam padanya.
"Mwo?"
"Kau tahu siapa orang yang Hongbin sukai?"
Sanghyuk melirik ke arah Hongbin. Hongbin tak mengatakan apapun, hanya mengangkat bahu seakan ia tak peduli. Mata Sanghyuk kembali terarah padaku.
"Yah, begitulah.. Tapi aku tak peduli.."
Ucapnya enteng sebelum kembali fokus pada bukunya. Mataku membulat, sebesar mulutku yang terbuka.
Aku kemudian menatap Hongbin.
"Kau memberitahu dia, tapi tidak memberitahuku?!"
"Ya! Dia tahu sendiri!" Ucap Hongbin. Aku kembali menatap Sanghyuk. Dia tanya mengangguk dengan mata masih tertuju pada bukunya. Aku hanya menghela nafas.
Dan aku tahu mereka berdua diam-diam menertawaiku.
.
_Author POV_
Jaehwan benar-benar penasaran siapa orang yang kini Hongbin sukai. Ia terus menanyakan tentang itu pada Hongbin beribu-ribu kali. Namun tetap, hanya jawaban 'Bukan dia' yang keluar dari mulut Hongbin.
.
Suatu petang, sepulang sekolah, Jaehwan sudah tak bisa menahan lagi. Ia menarik Sanghyuk ke atap gedung sekolah. Hanya mereka berdua.
"Jaehwan! Kenapa kau membawaku ke sini?"
"Ssh! Jangan berisik! Aku ingin bertanya padamu!" Jaehwan mendesis, dan Sanghyuk kebingungan.
"Tentang siapa orang yang Hongbin sukai?" Jaehwan mengangguk antusias.
Sanghyuk menghelas nafas, "Kenapa kau penasaran sekali dengan hal itu?"
"Aku ini juga sahabatnya, okay? Tapi dia hanya memberitahukan hal ini padamu!"
Sanghyuk memutar bola matanya. Kemudian Jaehwan bicara lagi. "Kumohon, Sanghyuk-ah.. Beritahu aku siapa orang yang Hongbin sukai!"
Jaehwan berlutut di depan Sanghyuk, memohon jawabannya.
"Jae- Jaehwan?" Sanghyuk terkejut dengan apa yang Jaehwan lakukan. Ia menatap Jaehwan yang masih berlutut, kemudian kembali menghelas nafas. Ia menggenggam bahu Jaehwan. "Aku benar-benar minta maaf. Tapi aku tak bisa memberitahumu.."
"Wae?"
"Karena-" Sanghyuk berhenti bicara, karena tak tahu harus mengatakan apa.
Jaehwan mengangkat alisnya, kebingungan.
"Tidak apa-apa, Sanghyuk-ah. Katakan saja." Tiba-tiba Hongbin muncul. Jaehwan dan Sanghyuk menoleh. Jaehwan langsung beranjak dari posisinya.
"Ne, Hongbin-ah! Beritahu aku!"
"Ho- Hongbin? Kau yakin?" Tanya Sanghyuk. Hongbin mengangguk, dan kemudian menatap Jaehwan.
Ia menarik nafas dalam sebelum mulai bicara, "Orang itu-" ia berhenti sejenak. Meyakinkan dirinya bahwa ia siap memberi tahu Jaehwan. Ia menunduk, kemudian melanjutkan "-sedang berdiri tepat di sampingmu.."
Hening...
Jaehwan membatu. Sanghyuk hanya menghela nafas, sedangkan Hongbin tetap menunduk.
"Jadi..." Jaehwan menoleh menatap Sanghyuk. Senyuman yang benar-benar tipis masih tertera di wajahnya. "Kau orangnya?"
"Yah.. begitulah.."
Jaehwan masih tersenyum, namun kini senyumannya aneh. Seakan ia akan menangis. Hongbin mulai khawatir.
"Hyung, kau baik-baik saja? Kau tidak marah, kan?"
Jaehwan terdiam selagi Hongbin dan Sanghyuk menatapnya. Ia pun mengangkat kepalanya, dan tersenyum lebar.
"Untuk apa aku marah, eoh? Memang sesulit itu mengatakannya padaku? Sampai kalian merahasiakannya selama dua minggu? Ya ampun.. Kalian benar-benar, deh! haha!" Jaehwan tertawa sekencang mungkin. Ia harap dengan begitu, Sanghyuk dan Hongbin akan berpikir bahwa air mata yang keluar dari matanya adalah karena tertawa terbahak-bahak. Sanghyuk dan Hongbin saling bertukar tatap. "Ahah.. Sudah, ah.. Aku harus pulang sekarang. Di rumah ada sepupuku menunggu. Aku harus pergi. Annyeong!"
Jaehwan berlari menuruni tangga dari atap gedung sekolah, selagi mencoba menyeka air matanya. Hatinya kini hancur berkeping-keping.
Jadi prasangkanya selama ini benar. Hongbin menyukai Sanghyuk, begitu pula sebaliknya. Sebenarnya ia bisa menerima itu, namun ia harus menenangkan dirinya terlebih dahulu.
.
Hongbin melirik ke arah Sanghyuk.
"Apa kubilang. Dia juga menyukaimu.."
"Hongbin.."
"A- aku teman yang buruk. Aku menyakitinya. Aku berbohong padanya. Aku.. Aku-" Hongbin mencoba menahan air matanya agar tidak keluar. Ia membenci dirinya sendiri setelah mengatakannya pada Jaehwan.
Sanghyuk menatap Hongbin, kemudian memeluknya. Ia mengelus punggung Hongbin, sedangkan Hongbin mulai menangis di bahunya.
"Tenanglah, Hongbin. Kita akan temukan cara untuk menjelaskan semuanya pada Jaehwan."
"Tapi dia pasti tak mau lagi bicara padaku. Dia pasti membenciku!"
"Tidak mungkin! Kita tahu, dia bukan orang seperti itu. Ia selalu memaafkan orang lain, selama orang itu meminta maaf padanya." Sanghyuk masih memeluk Hongbin. Dan Hongbin masih menangis.
"Kita akan temukan cara untuk meminta maaf padanya. Untuk menjelaskan semua padanya." Gumam Sanghyuk.
.
Jaehwan berbohong. Ia tidak benar-benar pulang, melainkan ia pergi ke taman belakang sekolah. Satu-satunya tempat yang dapat menenangkannya. Ia duduk di sebuah bangku, menangis dengan kencang. Kedua tangannya menutupi wajah. Ia tak bisa berhenti menangis.
Di sisi lain taman itu, seseorang memperhatikannya. Orang itu kemudian mendekati Jaehwan yang masih menangis. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Jaehwan.
"Jaehwan? Ada apa? Kenapa kau menangis?" Jaehwan mengangkat kepalanya, dan melihat orang itu adalah Taekwoon. Taekwoon terkejut melihat wajah Jaehwan. "Jaehwan? Apa yang-"
Taekwoon berhenti bicara ketika Jaehwan tiba-tiba berdiri dan memeluknya. Taekwoon membatu.
"Taekwoon hyung.. Aku tak bisa mengatakan apa yang sedang terjadi. Tapi.. Kumohon, tetaplah di sini. Aku membutuhkanmu." Jaehwan menangis di dada Taekwoon.
Taekwoon tak bisa mengatakan apapun. Ia masih membatu. Namun kemudian, ia menyadari perkataan Jaehwan barusan.
Tangannya beranjak mengelus kepala Jaehwan.
"Tenanglah, Jaehwan. Aku akan tetap di sini bersamamu."
"Gomawo."
"... Ne.."
Taekwoon terus memeluk Jaehwan sampai Jaehwan merasa lebih tenang.
Namun Jaehwan tetap tak mengatakan apa yang telah terjadi. Ia tak bisa.
.
_Hongbin POV_
Aku menatap langit, kembali di balkon kamarku. Aku kembali menangis ketika teringat kejadian tadi sore. Aku menyakitinya. Aku menyakiti Jaehwan. Aku tahu dia juga menyukai Sanghyuk, lalu kenapa aku melakukannya? Aku benci diriku sendiri.
"Hongbin.."
Aku menoleh dan melihat Taekwoon hyung tengah berjalan mendekati tempatku berada.
"Ne, Hyung.."
"Ada apa? Kau menangis."
"Aniya.." Aku menghapus air mataku, namun itu tak berguna karena mataku terus mengeluarkan bintik air itu.
"Kau tak bisa bohong padaku.."
Aku menghela nafas. Akupun menceritakannya. Kuberitahu semua yang terjadi pada Taekwoon hyung. Termasuk perasaanku yang mengatakan Jaehwan menyukai Sanghyuk. Dan kecuali bahwa Jaehwan pernah menyukainya.
"Jadi kau dan Sanghyuk sudah jadian?" Tanyanya.
Aku menggeleng. "Tidak. Kurasa kami tidak akan pernah jadian. Aku tak mau merusak persahabatan kami. Hal ini benar-benar menyulitkan.."
Aku terisak. Dapat kurasakan Taekwoon hyung hanya menatapku, dan tak mengatakan apapun. Tak satupun dari kami berbicara.
"Kau butuh bantuan?"
Aku menoleh kepadanya.
"Memang apa yang bisa kau lakukan?" Ia tak menjawab, malah tersenyum sinis.
Aku mengangkat alis, bingung.
"Selamat tidur, Hongbin-ah.." Ia pun keluar dari kamarku. Aku hanya menatap punggungnya dari belakang.
Apa yang bisa ia lakukan? Dia tak pernah terlibat dalam masalah ini. Apa ada sesuatu yang ia ketahui?
.
.
.
.
.
=To Be Continued=
A/N: Uwaaah! Keooooo *LOVE LOVE LOVE* (Spazzing ff sendiri ini namanya wkwk) gimana chapter 11? udah mulai panas, belum? kkk okay, please review! Criticisms are allowed, as long as you guys are not rude! Thanks for reading ^^
