Yesung membuka matanya. Sial, ia tidak bisa tidur dari tadi. Ia pun menyibak selimutnya lalu bangun menjadi duduk. Yesung membuang napas kasar. Perasaannya tidak enak. Ia tidak bisa tidur dengan tenang. Melihat langit gelap di luar, Yesung terdiam berpikir. Kemudian ia putuskan untuk keluar.

"Aku harus bertemu dengannya."

Siapa? Ryeowook? Ne, Yesung merasa harus bertemu dengan namja itu sekarang. Langkah tergesa-gesa dirinya diiringi beberapa pelayan yang mengikutinya, menimbulkan kegaduhan. Beberapa anggota Kerajaan terbangun penasaran. Yesung tak peduli, ia lurus saja menuju penjara bawah tanah. Belum sampai di sana, seorang prajurit berlari cepat dan menghadang perjalanannya.

"Yang Mulia," katanya panik dengan napas yang terengah-engah. Yesung berdiri penasaran. Pernafasannya mendadak sesak terhimpit rasa sakit yang terasa nyata. Ketika ia mendengar semua itu, ia tahu ia telah membuat kesalahan besar. "Permaisuri Kim melarikan diri."

Yesung sedikit terhuyung. Ia menatapi sepatunya penuh ketidak percayaan, "Apa? Bagaimana bisa?"

"Kami sudah berjaga sangat ketat, kami juga tak mendapati Permaisuri Kim keluar dari pintu manapun."

Yesung mengusap wajahnya gusar. "Panggil Panglima Choi, lakukan pencarian sampai kalian menemukan Permaisuri Kim."

Yesung mengepalkan tangannya. Mendadak wajahnya mengeras. Muncul satu perasaan yang mengalahkan hati kecilnya. Amarah. Keyakinan akan kesalahan Ryeowook, meyakini kalau Ryeowook benar-benar bersalah hingga melarikan diri seperti ini. Yesung berbalik dengan tergesa-gesa. Ia hendak melakukan pencarian juga. Namun, sebelum itu terjadi ia harus dihadapkan pada satu tembok besar.

"Apa maksudnya, Yang Mulia Yesung?" Yesung tak mampu berkata apa-apa. Yeah, sepandai-pandainya orang mengubur bangkai, baunya akan tercium juga. Dan hal itu berlaku bagi Yesung.

"Yang Mulia, jawab aku!"

Yesung memejamkan matanya. Menghembuskan napas pelan, ia menjawab lirih, "Ryeowook melarikan diri."

"Huh? Kenapa?"

"Karena Ryeowook…" Yesung menundukkan wajahnya, "…dipenjara setelah mencoba membunuh Selir Jang."

Sama seperti perkiraannya. Heechul akan sangat terkejut mendengarnya. Dengan sigap, disangganya tubuh ramping yeoja berumur itu. Kasihan Heechul. Baru menyadari semuanya setelah sekian lama.

"Kim Yesung apa maksudnya?!" Yesung menatap ke arah lain, kepada pelayannya. Lalu Yesung menyerahkan tubuh eomoni nya itu pada pelayan di sana.

"Aku akan mencarinya, eomoni. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Bawa Ratu Heechul ke kamarnya."

Setelah mengatakan semua itu, Yesung cepat-cepat menuju kudanya. Ia tidak boleh terlambat, sebelum Ryeowook benar-benar menghilang dari jangkauannya. Melewati gerbang utama, Yesung menelusuri setiap jalan. Bertanya pada orang-orang yang kebanyakan tak mengetahui rupa Permaisuri Raja itu. Terus mencari ditemani rembulan penuh di atas kepala. Semakin lama, semakin sulit. Hanya bermodalkan obor sebagai penerangan membuat Yesung kesulitan. Napasnya mulai berhembus kasar.

"Yang Mulia kita tidak akan mudah menemukannya dengan kondisi seperti ini." ucap Siwon sambil menghentikan kudanya di samping Yesung.

Kim Yesung merenungi perkataan Siwon. Dirinya juga melihat ke sekeliling yang diliputi kegelapan. Ryeowook tidak akan berani berkeliaran dalam keadaan gelap begini. Pasti ada yang menolongnya. Orang itu membuat Ryeowook melarikan diri dari Kerajaan ini.

"Kita kembali." Putusnya.

Kaki-kaki jenjang kuda putihnya bergerak sesuai instruksinya. Perlahan mulai meninggalkan lokasinya. Suatu daerah yang tenang dan terdengar deburan ombak mengenai dermaga. Yesung menghentikan kudanya lalu menoleh ke belakang lagi, ke arah dermaga.

"Yang Mulia?"

Yesung ingin ke sana, ingin memastikan sendiri apakah Ryeowook ada di sana. Akan tetapi, benar perkataan Siwon. Semua usahanya ini hanya akan berbuah kesia-siaan. Mengangguk sekali dan kembali melanjutkan perjalanannya. Ia pulang tanpa membawa apapun, tanpa ada Ryeowook di sisinya. Meskipun ia bertemu Ryeowook nanti, yang ia lakukan pertama kali pasti menampar namja itu. Jadi bukankah lebih baik tidak perlu bertemu lagi?

.

_`Evanescence`_

.

by : Denies Kim

.

Warning : Yaoi, BL, Boys Love, Typo(s), bahasa aneh, alur terlalu lambat/terlalu cepat, membosankan, OOC, dll.

.

Chapter 12 : Naked Truth

.

.

~Selamat Membaca~

Yesung memandangi tangannya. Tangan yang sewaktu memukul Ryeowook ingin ia putuskan dari tubuhnya. Ia, terlalu pemarah sampai menyakiti namja manis itu. Mungkin ini karma yang ia dapatkan.

"Ke mana perginya?" Yesung berdiri menyandar pilar. Memikirkan ke mana Ryeowook pergi. Ia mengingat seseorang, Cho Kyuhyun. Bukankah namja itu sudah menghilang begitu lama? Dan kini apakah Kyuhyun kembali dan juga yang membawa Ryeowook pergi?

Yesung benar-benar tidak mengerti. Hatinya tak menentu, antara sedih, kecewa, amarah, dan juga khawatir. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Ryeowook di luar sana. Yesung menarik napas dalam. Dipandanginya pintu geser kamar Ratu Heechul, Yesung harus memastikan keadaan eomoninya.

"Eomoni…" Yesung memanggil dari kejauhan. Perlahan, langkah kakinya membawanya mendekat. Tepat berdiri di samping ranjang Heechul. Eomoni nya itu terlihat tidak suka padanya, memang apa salahnya?

"Kau berhasil menemukannya?" Yesung menggeleng lemah lalu menekuk lututnya di samping ranjang. Heechul termenung, lalu beberapa saat kemudian menutupi wajahnya dengan telapak tangan.

"Kim Yesung, kau baru beberapa hari menjabat dan sudah mengecewakan eomoni seperti ini."

"A-apa?"

"Kau memilih keputusan yang salah. Kau membiarkan Ryeowook merasakan hidup di penjara. Kau menyakitinya!"

"Itu bukan keinginanku, aku hanya berlaku sesuai dengan kedudukanku. Aku hanya berlaku adil."

"Apa kau percaya bahwa itu murni kesalahannya?" Yesung terdiam.

"Apa kau percaya kalau Ryeowook melakukan semua itu? Kau percaya kalau barang bukti itu milik Ryeowook?"

Yesung tak bisa menjawabnya. Karena hatinya setuju dengan eomoni nya. Ia merasa Ryeowook tidak bersalah. Ryeowook tidak pernah membuat masalah seperti itu, terlebih lagi pada Sulli. Sulli menyukai Ryeowook, tapi bukan berarti karena itu Ryeowook ingin menyakitinya.

"Kau salah, Yesung. Dia dijebak."

"Tidak, eomoni. Dia bahkan mengakuinya di pengadilan, mengakui kalau dialah yang berada di balik semua kekacauan ini. Kami tidak memaksanya, kami hanya menunjukkan sebuah bukti lalu dia langsung mengakuinya begitu saja."

"Eomoni tidak percaya dia melakukan itu semua."

"Dia bersalah, eomoni. Kalau dia tak bersalah, dia pasti akan tetap berada di sini. Dia tidak akan ketakutan dan melarikan diri."

Sejenak keheningan menyelimuti keduanya. Yesung sedang menormalkan napasnya yang sempat memburu karena marah, dan Heechul sedang menatap putranya itu penuh dengan kesedihan. "Apa kau belum mengetahui kondisinya?"

"Kondisi apa?"

"Seharusnya, sebelum mengambil keputusan kau mengatakan semuanya padaku."

"Kondisi apa, eomoni?"

Jadi Ryeowook belum memberi tahu Yesung tentang itu, tentang calon putera mahkota. Heechul menatap Yesung penuh dengan luka. Bagaimana jadinya jika Yesung tahu? Apa Yesung akan menyesali perbuatannya itu? Bagaimana dengan Kerajaan selanjutnya?

"Ryeowook sekarang sudah pergi." Heechul memejamkan matanya. "Ia pergi membawa serta bayinya."

"Huh?" Yesung menatap Heechul bingung. Sedetik kemudian ia tertawa sinis, "Apa yang eomoni bicarakan? Bayi? Bayi siapa?"

"Bayimu, Kim Yesung! Bayimu sendiri! Calon Putera Mahkota Kerajaan!"

Lalu Yesung mematung, seperti habis ditimpa batu besar tak bisa mengucapkan apapun. Dan Heechul hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia menutupi wajahnya yang hendak menangis.

"Sejak kapan?"

Heechul kembali menatap anaknya, "Sudah lama, lebih tepatnya lima bulan yang lalu."

Sepasang manik Yesung terbelalak lebar. "Selama itu kalian menyembunyikannya dariku?"

Heechul menggeleng pelan. "Ani. Bukan kami, tapi Ryeowook. Dia yang bersikeras tak ingin kau tahu."

Apa? Kenapa begitu? Kenapa Ryeowook menyembunyikan kehadiran bayinya? Apa yang Ryeowook inginkan?

Berbagai macam pertanyaan berdesak-desakkan memenuhi otaknya. Yesung memegangi kepalanya yang mendadak pusing. Ia jatuh terduduk. Lututnya, tak mampu lagi menopang perasaannya. Lalu kilasan-kilasan balik mengenai keberadaan Ryeowook dengannya mulai mendominasi. Yesung merasa matanya memanas.

"Yesung, kau baik-baik saja?" tanya Heechul khawatir.

"A-ku akan kembali ke kamarku."

Yesung berdiri, ia melangkah pergi sambil menyembunyikan wajahnya. Ia tak mau semua orang tahu apa yang terjadi padanya. Sampai di dalam kamarnya, Yesung lantas berbaring begitu saja. Memejamkan matanya yang terasa mendidih. Dan aliran air mulai tercipta melalui sudut-sudut matanya.

"Kau meninggalkanku," Yesung menutupi wajahnya. "Kau tak jujur padaku."

Sekarang barulah ia sadar, kalau selama ini dugaannya memang benar. Ketika ia merasakan keanehan dalam diri Ryeowook. Ketika Ryeowook tanpa sadar memintanya mengusap perutnya. Ketika Ryeowook tiba-tiba menangis tanpa sebab. Dan juga ketika ia melihat perut Ryeowook yang membuncit malam itu. Yesung merasa dibohongi.

"Setidaknya katakan padaku apa alasannya." Yesung berguling ke kanan, menghadap sisi ranjang yang biasa Ryeowook tempati. Di mana namja manis itu?

Yesung beringsut mendekati meja kecil di sampingnya. Membuka lacinya dan mengambil satu kotak kecil berisi sebuah perhiasan yang tak ternilai harganya, sebuah cincin emas putih. Bukan karena harga atau bahan untuk membuatnya tetapi mahal karena Yesung yang memberikannya langsung. Ryeowook meninggalkan cincin tanda cintanya.

Melihat cincin itu, Yesung teringat sesuatu. Dulu ketika ia memberikan cincin itu, Ryeowook sangat senang dan memakainya langsung. Yesung ingat betul kalau Ryeowook mempunyai cincin juga, sebagai liontin kalungnya. Ryeowook tidak pernah mau melepaskan kalung itu.

"Kenapa kau selalu memakainya? Apa sangat berharga?"

"Eum, ini milik umma ku. Kyuhyun memberikannya, dan aku akan selalu menjaganya. Aku akan berusaha keras untuk terus membuat cincin ini bersamaku."

"Itu milikku!"

Yesung termenung menatapi atap kamarnya.

"Apa jika aku mengakuinyacincin itu akan kembali padaku?"

"Aku mengakuinya. Aku yang melakukan semua itu, aku yang bertindak buruk pada Selir Jang. Aku juga berbohong kalau aku merasa diikuti. Itu hanya akal-akalanku saja, terserah kalian menganggapku gila aku tidak peduli lagi."

"Bagaimana, Yang Mulia Raja?"

"Hukum berdasarkan peraturan."

Yesung menutupi telinganya. Ia tak ingin mengingatnya lagi. Ingatan buruk tentang hari-hari itu. Perlahan menyakitinya bak tertusuk duri tak kasat mata.

"Hiks..." Yesung membekap mulutnya sendiri. Sungguh tak pantas, pemimpin Kerajaan sepertinya yang menangisi pelarian permaisurinya.

Yesung butuh udara segar. Namja tampan itu melangkah perlahan keluar dari kamarnya. Ia sendiri tak tahu harus ke mana. Ia hanya butuh sedikit waktu untuk berpikir. Menghirup napas dalam-dalam, Yesung memijit keningnya yang terasa berdenyut. Menangis sungguhan setelah waktu yang lama membuatnya sakit.

"Kau temukan sesuatu?" Lalu suara seseorang terdengar, suaranya seperti milik Panglimanya, Choi Siwon.

"Sedang apa dia di sana?" Kata Yesung penasaran

"Aku temukan beberapa orang dengan ciri fisik seperti yang disebutkan oleh Permaisuri Kim. Aku belum bisa memastikan mana yang mengganggu Permaisuri Kim."

Jantung Yesung terasa berhenti ketika satu orang lainnya itu menyebut permaisurinya. Menyelinap dalam keheningan malam, Yesung mendekat sambil berusaha tak terlihat. Ada Lee Donghae di sana, seorang pemanah jitu. Bagaimana bisa ia mengingatnya? Tentu karena namja itu yang menyelamatkannya waktu itu, sewaktu Ryeowook dalam bahaya.

Ah, Yesung jadi mengingatnya. Ryeowook waktu itu sangat ketakutan, ketika berdarah pun Ryeowook menjadi pucat dan melamun di tengah pertarungan. Ryeowook sangat takut terluka, lalu bagaimana sekarang? Bagaimana kalau ada yang menangkapnya dan menjadikannya sandera?

"Kau yakin ingin melanjutkannya?" Lagi terdengar suara Siwon yang terlihat ragu. "Mengingat Permaisuri Kim sudah tidak ada lagi di sini."

Dilihatnya Donghae merengut tak suka. "Kalau kau tak mau melakukannya, berhenti saja. Akan tetapi, tidak denganku. Aku sudah bersumpah di depan Permaisuri Kim bahwa aku akan segera menemukan pelaku terornya."

"A-aku tidak bermaksud begitu. Kau ini sensitif sekali."

"Aku tidak mau ada keraguan dalam pencarian ini."

"Arraseo, arraseo. Kalau kau menemukan orang yang paling sesuai dengan dugaanmu, segera katakan padaku. Kita berjumpa lagi besok."

Yesung berjalan gontai mendekati sebuah gazebo. Ia duduk diam di sana. Sendirian, dan akan berlaku untuk seterusnya. Baru beberapa jam setelah ia tahu semuanya, dan kini ia sudah merasa kesepian. Udara dingin terasa menusuk kulitnya yang rapuh.

"Dingin." Katanya sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ah, sekarang ia bisa membayangkan bagaimana perasaan Ryeowook waktu itu, berada di dalam penjara yang dingin. Bahkan untuk waktu yang lama.

Masih membekas jelas bagaimana rupa Ryeowook ketika menghadiri persidangan terakhir kala itu. Kotor, pucat, dan Ryeowook terlihat menahan sakit. Kalau memang benar Ryeowook mengandung anaknya, lalu apakah anaknya itu baik-baik saja? Mampukah dia bertahan terhadap udara dingin yang mengelilinginya?

Krak!

Suara itu terdengar cukup keras, mampu membuat Yesung bangun dari duduknya. Terdiam menjaga suaranya, Yesung berusaha mendekat. Ia mendengar suara derap langkah yang lirih jauh di sana. Semakin dekat dan Yesung berdiri sepuluh meter dari gerbang utama. Ia sebenarnya tahu, kalau dirinya sedang tidak bersenjata apapun. Bagaimana kalau—

Brak!

Yesung mengambil posisi berjaga-jaga. Gerbang besar didobrak paksa, masuklah beberapa orang mengepungnya dengan pedang di masing-masing tangan mereka. Yesung kebingungan meski ia tetap saja berdiri di sana. Salah satu orang berpakaian khas menteri mendatanginya. Menyembunyikan kedua tangan di balik punggung. Yesung tidak mengerti siapa itu, mendadak buram ketika melihat wajahnya.

"Sudah berakhir, Yang Mulia."

Yesung mendengar pergerakan di balik tubuhnya. Berusaha berbalik tetapi sebelum itu terjadi. Sebuah logam mengkilap menembus punggungnya. Sampai ia bisa melihat ujung runcingnya yang berlumuran darah muncul dari perutnya. Tertusuk dari belakang. Rasa sakitnya begitu terasa. Dan saat tubuhnya lunglai berakibat pada pedang tajam yang terlepas dari tubuhnya, Yesung terjatuh. Dalam posisinya yang terlentang, ia masih memikirkan Ryeowook. Kalau ini saat terakhirnya, ia berharap Ryeowook ada di hadapannya.

"Ryeo…" Yesung memejamkan matanya.

"Hyung…" Bahkan saat kematian hendak menjemputnya, ia masih bisa mendengarnya. Yesung memaksa membuka mata. Bibirnya bergetar mendapati sosok manis di depannya. Sosok yang sudah ia rindukan sejak lama.

"Ry...eo…wook…" Yesung mengangkat tangannya, mengusapkan tangan penuh darah ke pipi tirus sosok itu. Ryeowook, terlihat panik dan sarat akan kekhawatiran. Akan tetapi, namja manis itu tak berbuat apa-apa. Seperti hanya menunggu saat-saat hembusan napas terakhirnya.

"Ur…i…aeg…i…" tangan Yesung turun tanpa tenaga. Ia terus berharap kalau diberi waktu sedikit lagi, hanya ingin mendengar penjelasan dari Ryeowook. Saat ia sudah merasakannya, Yesung benar-benar tak mengerti. Perut Ryeowook tak seperti waktu itu, seperti tak ada tanda-tanda keberadaan aegi nya. Saat telapak tangan halus itu melingkupi tangannya, Yesung menatap Ryeowook penuh tanda tanya.

Air mata Ryeowook berjatuhan. Ia memejamkan matanya yang terasa pedih. Dadanya sudah terlalu sesak dengan himpitan kesedihan yang ada.

"Aegi sudah tidak ada. Aegi sudah pergi."

Yesung terpaku. Ia tidak bisa mempercayainya. Semua ini tak adil baginya. Ketika ia sudah tahu kebenarannya, justru anaknya sudah tidak ada lagi. Belum sempat Yesung mengusapnya penuh cinta. Belum sempat Yesung bicara padanya. Belum sempat Yesung menanyakan alasan Ryeowook tapi semuanya terjadi begitu cepat.

"Mian aku tak bisa menjaganya. Sekarang aku juga harus pergi—hahk!"

Yesung melihatnya dengan jelas. Bagaimana darah memuncrat dari mulut Ryeowook. Ketika sebuah pedang dicabut dari tubuhnya. Ketika tubuh Ryeowook terhuyung dan orang lain menangkapnya. Ketika Ryeowook dibawa pergi menjauh darinya.

"Rye…o…wook!"

Yesung sudah berusaha menjangkaunya. Akan tetapi hanya sia-sia. Orang berpakaian konglomerat itu membawa Ryeowook menjauhinya. Berhenti beberapa saat, menolehkan kepala padanya. Yesung seharusnya bisa mengenali pria itu. Jelas-jelas pakaiannya milik pangeran kerajaan.

Siapa?

Ataukah itu wujud lain darinya?

Apakah ia yang membunuh Ryeowook?

Lalu kenapa ia tergeletak begini?

"Yesung…" Ia mendengar suara yang lainnya. Entahlah, Yesung tak kuat lagi. Ia sudah tak bia menahannya lebih lama. Satu persatu organnya mulai tak berfungsi.

"Yesung…" Sayup-sayup Yesung masih bisa mengenalinya. Seperti suara eomoni nya. Sepasang matanya memaksa membuka. Memperlihatkan lagi manik kelam yang sayu. Ah, ternyata benar. Ada Ratu Heechul di sampingnya. Eomoni nya itu pasti sedih melihatnya mati begini. Tapi, seperti salah lihat, Heechul malahan tersenyum senang. Berusaha meraih pipi ummanya, Yesung jadi tersentak sendiri. Pasalnya tadi tangannya berlumuran darah dan sekarang sudah bersih tanpa noda. Ia lihat sekelilingnya juga bukan di luar gedung, melainkan di dalam kamarnya.

"Eomoni?" Yesung bangun sampai duduk. Ketika menunduk, sesuatu jatuh dari dahinya. Sebuah kain kompres yang tak terlalu basah lagi.

"Apa yang terjadi?" Yesung meneliti tubuhnya. Ia tidak terluka. "Bukankah aku tertusuk? Apakah aku sudah sembuh? Berapa hari aku tertidur?" lanjutnya bertubi-tubi.

Heechul terlihat bingung. Ia mengernyit tak mengerti. "Kau pasti mimpi buruk." Jawabnya sembari mengusap bahu Yesung. "Pelayan menemukanmu di gazebo bagian utara kemarin malam. Kau kedinginan di sana. Apa yang kau lakukan?"

"Apa yang aku lakukan?" katanya pada dirinya sendiri. Membuahkan decakan dari yeoja di sampingnya itu.

"Kau masih demam. Istirahatlah." tangan putih Heechul mendorongnya untuk berbaring. Menaikkan selimutnya serta mengganti kompres Yesung.

Tinggalah Yesung sendiri lagi. Helaan napas mengiringi matanya yang terpejam. Tunggu, kalau itu hanya mimpi buruk kenapa dadanya jadi berasa sesak. Apa mimpi itu adalah kejadian yang nyata. Maksudnya, apakah Ryeowook sudah tidak ada?

Yesung menepuk pipinya. Tidak, ia tidak boleh berpikiran buruk begitu. Ryeowook hanya sedang berada jauh darinya. Ryeowook pasti ada di suatu tempat dan Yesung akan menemukannya. Yesung sudah berjanji akan menemukan Ryeowook. Ne, begitu.

Menoleh ke sisi kanan, ia menemukan seseorang di sampingnya. Ryeowook, ada di sampingnya. Ia pasti sudah mulai gila. Meskipun begitu, hanya dengan melihat Ryeowook seperti ini, Yesung sudah merasakan matanya memanas. Ia hendak menangis.

Beberapa pikiran buruk mengiringi tangisannya. Kalau mimpi itu benar, berarti yang di sampingnya ini adalah roh Ryeowook? Ataukah hanya halusinasinya saja?

"Kau membuat dadaku sesak." Yesung memejamkan matanya, merasakan pipinya dibelai lembut. "Aku akan segera menemukanmu."

.

.

.

.

.

"Ngh."

Sepasang mata namja tampan itu mengerjap. Pagi yang baru, mengawali hari yang baru. Banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Terbangun hingga duduk, Yesung melihat sisi sampingnya. Seperti biasanya. Halusinasinya akan melihat Ryeowook tertidur di sisi kosong itu. Sudah beberapa hari hal ini terjadi. Dan Yesung berusaha mengambil sisi positifnya.

"Selamat pagi."

Melakukan kebiasaan paginya. Hanya saja hari ini sedikit berbeda. Heechul itu memintanya untuk makan bersama. Sedikit aneh karena ini sudah beberapa lama ia tidak melakukannya. Kalau eomoni nya sudah meminta hal seperti itu, akan ada hal yang dibicarakan.

Sampai di sana, rupa-rupanya sang eomoni sudah sampai terlebih dahulu. Senyuman khas yeoja itu dilemparkan padanya. Yesung hanya balas tersenyum simpul lalu melangkah mendekat dan duduk berhadapan dengan Heechul.

"Bagaimana kabarmu?"

"Baik. Bagaimana dengan eomoni?" Balas Yesung

"Eum, baik."

Yesung mengangguk sambil mengangkat sumpitnya. Lalu ia beralih melihat sekitar. Udara pagi ini sangat baik. Cukup untuk merilekskan kepalanya yang sering pening.

"Yesung…"

"Bicaranya nanti saja, eomoni. Kita makan dulu."

"Ah? N-ne." Heechul mengambil sumpitnya dan mulai makan dalam diam. Ia sebenarnya paham apa yang membuat Yesung terasa lebih pendiam dan dingin. Namja itu berubah. Setiap bicara padanya selalu dengan nada datar dan membuat Heechul merasa canggung. Yesung bertambah dewasa, ia menganggapnya begitu. Padahal ia tahu kalau Yesung sebenarnya kesepian.

Tak

Begitu selesai, Heechul mengusap mulutnya dengan kain. Ia lihat Yesung menatap ke arah lain. Raja muda itu melamun lagi.

"Yang Mulia," panggil Heechul akhirnya. Membuahkan perhatian Yesung padanya. "Eomoni—"

"Yang Mulia! Yang Mulia!"

Semuanya terkejut. Melihat seorang pengawal istana berlari dengan napas tersenggal-senggal. Namja itu membungkukkan badan lalu segera melapor, "Selir Jang, di lapang eksekusi."

Yesung dan Heechul berdiri dari duduknya. Buru-buru melangkah diiringi dengan beberapa pelayan yang mengikuti. Yesung mengutuk dalam hati. Apalagi yang dilakukan selir satu itu, setelah membuat Ryeowook pergi dari istana siapa yang akan ia sakiti lagi?

"Selir Jang! Apa yang kau lakukan?!"

"Selir Jang, tolong anda turun."

"Jangan, Selir Jang!"

Yesung mempercepat langkahnya. Ia membelah kerumunan pelayan dan prajurit serta beberapa menteri yang ada di situ. Begitu terbuka jalannya tanpa ada apapun yang menghalangi, Yesung menahan napas. Ia terpaku melihat Selir Jang.

"Selir Jang…" panggil Yesung pelan. Ia begitu tak percaya. Langkahnya maju, mendekati sang Selir yang langsung menghentikannya.

"Berhenti, Yang Mulia." Kata Sulli sambil memegang erat kain di tangannya. "J-jeosonghamnida jika aku memerintahmu seperti ini tapi aku hanya ingin sekali saja. Kumohon."

Yesung lantas terdiam. Kalau ia bertindak gegabah, akan ada nyawa yang melayang. Bagaimana tidak, Selir Jang berdiri di panggung eksekusi. Dengan tali tambang yang mengalungi lehernya. Satu tangannya juga sudah memegang kain yang dihubungkan dengan tuas. Kalau Sulli menariknya, papan kayu di bawahnya akan terbuka dan yang tersisa selanjutnya adalah tubuhnya yang menggelantung.

"Selir Jang, ada apa denganmu? " tanya Yesung mendekat perlahan.

"Yang Mulia, kumohon."

Kret

Yesung menghentikan langkahnya. Sial, Selir Jang sungguh berani. Menarik sedikit kain digenggamannya. Jadi apa yang harus Yesung lakukan? Tentu ia tidak mau hanya berdiri diam sampai tubuh Sulli menggantung di sana. Ia sedang berusaha menjadi Raja yang baik

"Sulli-ya, turunlah. Abeoji mohon. Kajja turun."

Kedua mata Sulli berubah sayu. Ia menatap abeoji nya penuh kepedihan. "Aniya, abeoji. Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku tidak ingin menjalaninya lagi."

Jadi maksudnya, Selir Jang berniat bunuh diri begitu? Yesung mengeratkan tautan giginya. "Apa maumu? Katakan!"

Sulli menghela napas. Ia menunduk beberapa saat. Saat kepalanya terangkat, wajahnya sudah beruraian air mata. "Yang Mulia…"

Pikiran Yesung mengatakan jika Sulli berniat mengakhiri hidupnya karena dirinya. Karena dirinya tidak memperlakukan Sulli dengan adil. Tidak seperti perlakuannya pada Ryeowook. Ah, kenapa Ryeowook muncul lagi di pikirannya.

"Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Akan kukatakan semua." Kata Sulli seraya melihat abeoji nya yang mendadak terlihat panik.

"S-sulli-ya, apa maksudmu?"

"Yang Mulia Raja, sebenarnya akulah yang membantu Permaisuri Kim pergi dari sini. Aku yang mengeluarkannya dari penjara."

"A-apa?" Yesung tergagap. Semua yang berada di sana sangat terkejut dengan tuturan itu. Dilanjutkan dengan bisik-bisik lirih mengenai pendapat meereka.

"Hiks…mianhae, aku tidak bisa melihatnya di dalam penjara itu. Hiks, akulah penyebabnya. Akulah yang melakukan semua hal kotor itu. Aku… aku yang meletakkan kelabang itu di kamarnya, aku yang mengambil kalungnya, hiks… aku…"

"Jang Sulli!" Bentak Perdana Menteri Jang.

"Aku yang menyebabkan Permaisuri Kim…" Sulli menghentikan perkataannya. Matanya makin berkaca-kaca dan air matanya mengalir makin deras. Ia mengingat lagi, ketika Ryeowook begitu khawatir sewaktu bertemu dengannya. Ryeowook terlalu baik.

"Hiks…" Sulli mengusap air matanya. "Mianhae, seharusnya aku tidak melakukan semua itu. Permaisuri Kim sangat baik padaku tapi aku membalasnya dengan rasa sakit."

Sulli menghirup napas dalam-dalam. Dilihatnya Yang Mulia Raja mengepalkan tangannya. Setelah semua yang ia lakukan ini, pastilah Raja muda itu marah besar. Tapi, Sulli tak peduli lagi.

"Aku pikir, jika Permaisuri Kim keluar Kerajaan, hidupnya akan lebih baik. Permaisuri Kim sudah berjanji padaku jika dia dan anaknya akan hidup bahagia… hiks…"

Lalu semuanya terkejut kembali. Memang tak banyak yang tahu kalau Permaisuri Kim sedang mengandung anak dari Yang Mulia Kim Yesung. Hanya beberapa saja yang mengetahuinya. Dan ketika mereka tahu, pastilah mereka akan berusaha keras menemukan putera mahkota kerajaan itu.

"Yang Mulia, jeosonghamnida jika aku mengatakan ini lagi tapi hiks…" Sulli memejamkan matanya. "Aku.. benar-benar mencintai Permaisuri Kim."

Yesung pun memejamkan matanya. Tidak mau mendengar penuturan itu dari yeoja di depan sana. Ia sama sekali tidak suka. Kalau boleh mengulang waktu, ia akan menjauhkan yeoja itu dari Ryeowook.

"Hiks… tolong, siapapun. Jika bertemu dengan Permaisuri Kim, sampaikan salam terakhirku padanya. Katakan padanya aku bahagia telah melakukan ini."

Srag!

Yesung memejamkan matanya. Ia tak kuasa melihat orang yang bunuh diri tepat dihadapannya. Bagaikan tertusuk pedang dari dalam tubuh. Tak ada darah yang menetes. Yang ada hanya tubuh menggelantung yang tidak diam. Kakinya, tak menapaki apapun. Selir Jung, memilih untuk mati. Setelah mengakui semuanya.

"Segera urus pemakamannya." Kata Yesung lalu berbalik pergi.

Jadi, Ryeowook tidak salah. Jadi, ia yang terlalu percaya dengan semua bukti itu. Tanpa menyelidiki secara langsung, ia menyalahkan Ryeowook atas semua kesalahan yang tak diperbuatnya. Lalu apa yang akan ia lakukan sekarang? Tidak mungkin untuk bunuh diri. Lalu ia kan melanjutkan hidupnya bagaimana?

"Aku tidak melakukan itu. Hyung!"

"Yang Mulia, percaya padaku."

"Yesung hyung, kau seharusnya tak membawaku kesini."

"Aku menyesal bertemu denganmu."

Yesung menghentikan langkahnya. Menekan dada kiri yang terasa sesak. Samping tubuhnya menyandar ke dinding. Matanya terasa memanas lagi. Kala mengingat itu semua. Dan jangan sangka Yesung tidak mendengarnya. Yesung masih bisa mendengarnya ketika Ryeowook bicara di penjara. Ketika Ryeowook berpikiran dirinya sudah pergi. Yesung masih bisa mendengar kalimat kekecewaan itu.

"Yang Mulia,"

Yesung kembali menegakkan tubuh. Kepalanya terangkat dan mendapati seorang pelayan membungkukkan badan padanya. Pelayan Ryeowook, Eunhyuk. Untuk apa namja itu datang padanya. Begitu isi kepalanya. Kemudian pertanyannya terjawab dengan kertas yang disodorkan Eunhyuk padanya.

Yesung menerimanya. Tangannya bahkan masih bergetar. Cepat-cepat ia tutupi. "Apa ini?"

Eunhyuk hanya diam menunduk. Lalu Yesung putuskan untuk membuka selembar kertas yang terlipat itu. Kertas yang cukup lusuh dibandingkan dengan berbagai kertas formal yang mendatanginya. Satu lipatan terbuka, hanya dua deret kalimat singkat yang tertulis berantakan..

Aku—sakit…

Di sebelah sini—sakit

Deg!

Yesung merasa nyeri lagi. Setelah membaca keseluruhan isinya, dada Yesung sakit lagi. Ini adalah rasanya sakit hati. Terasa sangat menyakitkan. Apakah ini adalah pesan Eunhyuk untuknya? Tapi kenapa ia merasa sedih?

"Pesan dari Permaisuri Kim sewaktu masih di penjara."

Yesung mengernyit kecil, lalu menundukkan kepala. Tak butuh waktu lama, bibirnya mulai bergetar. Ia hendak menangis lagi. Namun, ia masih bertahan sebagai raja. Ia melewati Eunhyuk tanpa berkata apapun. Terus melangkah sambil memandangi kertas lusuh itu. Lalu Yesung duduk diam di sebuah tempat kesukaannya dulu ketika bersama Ryeowook. Duduk di sebuah banngunan terbuka. Tidak ada dinding. Hanya ada pilar beratap dan lantai kayu.

"Kau sudah bisa menulis." Diusapnya susunan hangeul di kertas yang hanya selebar genggamannya. "Kirimkan aku seutas surat. Katakan di mana kau berada, dengan begitu aku akan langsung menjemputmu."

"A-apakah di sebelah sini yang sakit?" Kata Yesung sambil mengarahkan tangannya ke dada kiri. "Aku juga merasakannya. Sakit sekali sampai sulit untuk bernapas."

"Ryeowookie, di manapun kau berada hiduplah dengan baik. Jadi dirimu…sampai aku menjemputmu."

Yesung tersenyum kecut. Satu-satunya tulisan tangan Ryeowook, ada digenggamannya. Ia bahkan tidak tahu darimana Ryeowook belajar menulis. Darimanapun itu, ia akan simpan baik-baik. Ia janji tak akan merusaknya. Tidak seperti dirinya yang merusak kepercayaan Ryeowook.

Hari selanjutnya, selanjutnya lagi, sampai seterusnya, sampai beberapa bulan berlalu. Semuanya masih sama, tidak ada tanda-tanda kemunculan Ryeowook. Membuat sang raja masih saja sama sikapnya. Masih datar tanpa ekspresi, dan menjalankan hidupnya tanpa gairah yang berarti. Lalu hari ini, terasa lebih berbeda, terasa lebih mencekam karena ia dikejutkan saat sedang berlatih panah.

"Yang Mulia,"

"Panglima Choi." Balas Yesung datar-datar saja. Akan tetapi mimiknya berubah sedikit ketika melihat dua orang dibawa paksa oleh prajurit lain. Yesung, tidak terlalu tertarik. Jika ia melakukan semua ini pun itu hanya profesionalitasnya saja.

"Yang Mulia, dia ini adalah orang yang selama ini meneror Permaisuri Kim."

Dua orang itu dipaksa berlutut. Satu namja kekar yang tak terlihat takut. Dan satu orang yeoja yang sudah bergetar hebat karena merasa nyawanya terancam.

"Peneror Permaisuri Kim?" Yesung menurunkan busurnya lalu menyerahkannya pada seorang pelayan yang memegang nampan lebar berisi perlengkapan memanah.

"Dia orangnya?"

"Ye, sesuai dengan ciri yang disebutkan Permaisuri Kim padaku. Aku juga sempat melihatnya." Jawab Donghae yang mendadak muncul "Katakan dengan jujur! Katakan kepada Yang Mulia Yesung!"

Pria kekar yang penampilannya sudah lusuh itu terus saja menundukkan kepala. Tak mengatakan apapun. Kemudian, kepalanya yang tertunduk itu otomatis terangkat ketika sebuah pedang mengkilap diarahkan ke lehernya. Siwon, yang melakukannya. Ia rela mengeluarkan pedang dari sarungnya demi terkuaknya misteri lama.

"Y-ye." Yesung menajamkan matanya. Jika menyangkut keselamatan Kim Ryeowook, Yesung tak pernah bisa mentolerirnya. "T-tapi aku melakukannya karena aku disuruh, Yang Mulia. Bukan atas keinginanku. Aku hanya melakukannya karena itu pekerjaanku. D-dia memberiku uang dan aku—"

Perkataannya tak bisa diteruskan lagi. Lidahnya mendadak kelu. Pikirannya sudah tak sejalan lagi dengan apa yang ingin ia ucapkan. Ketika itu, Yang Mulia Yesung mengambil kembali busurnya. Beserta anak panah yang tajamnya mampu meremukkan tulang.

"Y-yang Mulia, tidak! Jangan, bukan aku yang salah!"

Stab!

Satu anak panah. Ujungnya menancap di dada kiri namja itu. Sedikit lagi ke atas maka orang itu akan langsung mati di tempat. Kalau Yesung bisa lebih fokus, ia pasti bisa mengenainya, pusat kehidupan sang pelaku. Akan tetapi, sepasang manik Yesung sudah memercikkan api kemarahan. Meskipun wajahnya datar saja, ia memendam emosi di dalam hati.

"Yang… Muli-a… d-di..a…" telunjuk namja yang sudah berlumuran darah itu menunjuk ke arah seseorang. Tepat di samping kiri Yesung. Menolehkan kepala dan mendapati Perdana Menteri Jang sedang menyodorkan satu anak panah padanya.

"Satu panah tidaklah cukup, Yang Mulia." Katanya sembari mencoba menyembunyikan senyum liciknya. Dan Yesung tanpa pikir panjang lagi, segera mengambilnya. Menarik tali busurnya dan langsung melepaskannya. Berbuah pada jatuhnya namja itu ke atas tanah.

"Pengkhianat Kerajaan tak pantas mengirup udara lagi." Kata Yesung dan menyerahkan busurnya lagi. Sang yeoja yang sudah sangat ketakutan di sana meneguk ludah susah payah.

"Apa yeoja itu juga terlibat?"

Siwon menggeleng, "Lebih tepatnya, dialah yang menaruh sekotak kelabang di kamar Permaisuri Kim."

Alis Yesung bertaut marah. "Kalau begitu tempatkan dia dipenjara." Yesung berbalik, ia berniat untuk pergi dari sana. Namun, sebelum itu ia teringat lagi apa yang harus ia lakukan. "Cari puluhan kelabang beracun. Masukkan ke dalam selnya." Kata Yesung sambil melirik yeoja itu.

"T-tidak, Yang Mulia! Tolong! Tolong ampuni aku! Yang Mulia!"

Agaknya Yesung merasa de javu, mirip seperti saat Ryeowook berteriak padanya dan hanya ia anggap angin lalu. Ryeowook, tidak pernah berbohong padanya. Seandainya saja ia bisa bertemu Ryeowook lagi, tidak hanya khayalnya saja Yesung akan langsung minta maaf padanya. Entah Ryeowook akan memafkannya ataukah tidak.

Yesung membuang napasnya. Ia harus menguatkan hatinya. Hidupnya masihlah jauh, ada tanggung jawab besar yang harus ia lakukan. Ia sedang menuju ruang bacanya. Tepat berpapasan dengan sesosok yeoja yang paling tidak ingin ditemuinya.

"Yang Mulia," panggil yeoja itu seraya membungkuk hormat. Yesung hanya mengangguk saja.

"Eksekusi tanpa pengadilan. Yang Mulia memang bijaksana." Maksud yeoja itu menyindirnya atau bagaimana? Berani sekali.

Yesung mendekat, mengumbar wajah datarnya. "Pengkhianat Kerajaan tak pantas menghirup udara lagi." Katanya tepat di didepan wajah Soojung. Kemudian melewatinya tanpa niatan untuk mengajaknya bicara lagi.

Yesung berdecih, "Satu yeoja sudah mengaku dan sekarang masih ada satu lagi."

.

.

.

.

.

Bak awan gelap yang menutupi terangnya matahari. Itu adalah gambaran bagaimana perasaan Yesung sekarang ini. berkas-berkas cahaya yang ia harapkan akan menembus hitamnya awan, tak kunjung memunculkan diri. Justru, datanglah tiupan angin kencang yang membuat awan-awan hitam makin berkumpul menutupi matahari.

Tidak ada yang lebih menerangkan dari matahari. Dan kini ia pun tak bisa melihat sinarnya sepanjang hari, tidak juga malam hari. Karena Ryeowook permaisurinya pergi entah kemana.

Hari ini, hari yang paling buruk. Yesung merasa kembali ke masa lalu. Dihadapkan pada dorongan para menteri yang tak sejalan dengan pemikirannya. Sama seperti saat ia dipaksa memiliki selir. Kali ini ia dipaksa mengangkat Selir Jung sebagai pengganti Permaisuri Kim. Tentu saja ia tak setuju, ia tolak mentah-mentah.

"Apa kau belum mengerti juga? Semuanya sudah tahu kalau Permaisuri Kim sedang mengandung Putera Mahkota Kerajaan. Penerusnya sudah ada di dunia ini. untuk apa mengangkat permaisuri lain, jika Permaisuri Kim bisa meneruskan keturunan kerajaan." Kata Yesung dengan nada datar.

"Ini sudah berbulan-bulan, Permaisuri tak bisa ditemukan. Itu saja jika Permaisuri Kim masih hidup—"

"Hentikan! Kau berani berkata seperti itu? Maksudmu Permaisuri Kim sudah mati begitu? Atau itu keinginanmu agar Permaisuri Kim mati?"

"Jeosonghamnida, Yang Mulia." Jawab menteri itu sembari menundukkan kepala.

Yesung berdecak lalu memegangi kepalanya. "Sampai kapanpun, aku tidak akan mengubah keputusan ini. gelar Permaisuri hanya untuk Kim Ryeowook seorang."

Yesung peduli pada Kerajaan. Akan tetapi ia peduli juga pada hatinya. Hatinya mantap, kalau yang dikatakan para menteri itu salah. Ryeowook masih hidup, Yesung bisa merasakannya. Dan mengenai mimpi itu, ia tak memikirkannya lagi.

"Akan tetapi, peraturan Kerajaan menyebutkan jika Permaisuri Kerajaan sudah tiada, berarti selir pertama pantas dinobatkan menjadi permaisuri berikutnya."

Brak!

"Kau belum mengerti perkataanku? Putera Mahkota sudah ada di dunia ini. Kita hanya kehilangan jejaknya saja. Jika aku mengangkat Selir Jung sebagai permaisuri dan kemudian dia punya anak. Itu bukanlah pangeran mahkota yang sesungguhnya. Tidak sampai Permaisuri Kim ditemukan."

Lalu datang seseorang dari pintu utama, berjalan cepat menghadap Yang Mulia Raja.

"Yang Mulia, kami temukan sesuatu di tepi sungai Nan* yang berkaitan dengan Permaisuri Kim."

Yesung langsung berdiri dari duduknya. Ia berjalan cepat meninggalkan ruang rapat dan mengikuti seorang prajurit yang dibebani tugas patrol sekitar desa. Menunggangi kudanya dengan cepat, tak ada tujuan lain selain sungai itu. Tak ada kepentingan lain yang lebih penting dari ini.

"Di sebelah sini, Yang Mulia." Suara seseorang terdengar.

Yesung membawa kudanya mendekat. Ketika sang kuda tak bisa mencapai lagi, Yesung bergegas turun dan menapaki tanah berbatu yang perlahani merendam kakinya dengan air. Ia masuk ke tepian sungai yang dangkal. Yesung menemukannya. Menemukan apa yang prajurit itu tunjuk-tunjuk sedari tadi. Sebuah pakaian yang tersangkut pada batu sungai. Namja tampan itu mengambilnya seraya meneliti dengan cermat. Itu, pakaian khas Permaisuri Kerajaan. Apa artinya—

"Tidak, ini pasti bukan. Bukan miliknya."

"Kami dengar dari warga sekitar, ada kapal yang karam tiga bulan yang lalu. Awak kapal dan penumpangnya belum ditemukan hingga saat ini."

Yesung mencoba berpikir jernih. Sekuat tenaga menekan dorongan sesak di dadanya. Kecipak air terdengar lagi ketika ia mendekati sebuah titik yang dilihatnya terdapat sesuatu lagi. Yesung mengambilnya, kain bermotif bunga berwarna merah. Yesung mengenalnya, sapu tangan pemberian raja terdahulu yang diberikan khusus untuk Ryeowook.

"Jika Ryeowook sangat menghargai pemberian eomma nya, maka dia juga akan berusaha membawa sapu tangan ini…"

Tes

Tetesan air mengenai air sungai dibawahnya, membuat gelombang yang sangat kecil. Terus seperti itu. Karena sang Raja yang menangis meratapi takdir. Takdir yang begitu kejam menimpanya. Jika ini adalah karmanya, ia akan memilih untuk mengulang kembali waktu. Dengan begitu hal seperti ini tidak akan terjadi.

Meskipun Yesung berusaha sekuat tenagapun, tak bisa mengembalikan namja manis itu padanya. Tak akan pernah bisa mengembalikannya ke kerajaan. Tidak akan bisa membentuk keluarga kecil impiannya. Hanya tinggal harapannya yang semakin rapuh. Terlalu menyakitkan untuk memikirkannya.

Kenyataan bahwa Ryeowooknya sudah pergi. Pergi sangat jauh dan tak bisa kembali lagi.

*Tamat*

.

.

.

.

.

.

Bwaaaa!

*Bersambung*

.

.

.

.

*sungai Nan : tidak ada hubungannya dengan dunia nyata. Ini hanya fiksi dan lokasi yang aku pilih juga fiksi.

Bagaimana dengan chapter ini? Keinginan kalian buat bikin Yeppa nangis udah terlaksana tuh. Sedih kan, kasian Yeppa ditinggal Ryeowook. Chapter ini juga mengakhiri tugas Sulli dalam bermain perannya. Gomawo, Sulli-ya. Uang pesangonnya udah dikirim via jme, key. #Plak

Mianhae baru bisa apdet setelah sekian lama. Maklum, aku terbebani tugas bikin karya tulis ilmiah. Sama-sama ngetik. Dan aku lebih ngutamain KTI nya. Mian.

Untuk yang menunggu Magical Bloody Rose sedang dalam proses tapi nggak bisa apdet dalam waktu dekat. Mohon dimaklumi */^\*

Rupa-rupanya kebanyakan review kalian agak nyenggol plot yanga ada di kepalaku hehe… jadinya ya gitu, tapi nggak gitu juga sih. Intinya, semoga Yesung dan Ryeowook bahagia ya. Eh? :v

Silahkan komentari chapter ini sesuka hati kalian. Kritik saran diterima dengan senang hati. Mau curhat? Boleh. Aku bakalan baca semua isi komentar kalian~ Sampai jumpa di chapter depan^

Penuh Cinta,

Denies Kim