Gaara-kun..

Bagaimana kabarmu? Ku harap kau sehat dan masih mampu memimpin Desa Suna dengan baik.

Begitu aku mendengar kau datang ke Konoha karena masalah yang di bawa oleh Klan Kawaguchi, tanpa pikir panjang aku segera menulis sebuah surat untukmu dan berusaha mencari waktu untuk memberikannya padamu. Dan bila kau membaca surat ini, tandanya Temari-san sudah memberikannya padamu.

Aku tidak ingin banyak berbasa-basi karena ku yakin kau tidak punya banyak waktu untuk membaca selembar kertas lusuh dariku ini. Maka, aku akan langsung bicara ke intinya.

Sudah sekian bulan semenjak tawaranmu pada malam festival; di atas jembatan itu. Maaf karena membuatmu menunggu ketidakpastian dariku. Saat itu aku masih bingung karena kau menyampaikannya begitu tiba-tiba dan aku masih belum mampu memikirkan hal lain di luar tugas yang diberikan oleh hokage. Ku yakin kau mengerti apa maksudku.

Mungkin kau sudah menebak apa isi surat ini. Tapi ku mohon, bacalah sampai akhir agar semuanya jelas dan tidak ada kesalahpahaman diantara kita.

Gaara-kun..

Aku sudah memikirkannya matang-matang.

Maaf… aku tidak bisa menerima perasaan yang kau berikan padaku.

Sejujurnya berat bagiku menyampaikan hal ini karena ku yakin sedikit atau banyak kau akan merasa tersakiti. Tapi kebenaran memang menyakitkan bagi semua orang dan ku harap kau bisa menerima keputusanku ini. Ketahuilah, aku sudah melewatkan banyak malam hanya untuk memberimu jawaban.

Kau baik, cerdas, tampan, dan seorang pemimpin yang diidamkan banyak gadis. Seorang Haruno Sakura yang biasa ini tidaklah pantas menjadi seorang pendamping Kazekage muda sepertimu. Kau berhak mendapatkan gadis yang sepadan, lebih baik dariku.

Dan perihal sesuatu yang pernah terjadi diantara kita malam itu… Aku tidak memintamu melupakannya. Anggaplah itu sebagai awal mula dari persahabatan kita, begitu juga dengan perasaanmu. Aku tahu melupakan seseorang bukan sesuatu yang mudah.

Mungkin hanya itu yang bisa ku tulis dalam surat ini. Dan walaupun ini sulit, aku akan berusaha untuk bersikap seperti biasanya. Ku harap kau bisa paham dan mendukung usaha yang sedang kulakukan.

Salamku,

Haruno Sakura.

.

Jade itu menatap tiap deretan kata yang tertulis dalam selembar kertas. Sebuah perasaan yang tak asing perlahan menghujam hatinya sedikit demi sedikit. Entah bagaimana, Gaara tahu bahwa akan seperti inilah jawaban yang Sakura berikan padanya dan ia tidak merasa keberatan dengan keputusannya.

Gaara menghela napas. Rasanya sulit sekali bernapas ketika hatinya tersakiti.

Haruno Sakura.

Kisah cintanya pada Uchiha Sasuke bukan lagi rahasia. Pada saat perang dunia kemarin pun, cerita tersebut sudah meluas hingga desa sebelah. Gaara tak perlu merasa heran bila sekarang Sasuke sudah mulai berpaling dari dunianya yang gelap dan membiarkan Sakura kembali menata cahaya disekelilingnya.

Sebab.. lelaki itu memang perlu. Sakura terlalu berharga bagi Uchiha Sasuke untuk disia-siakan.

Tidak ada yang lebih pantas dari Haruno Sakura untuk membimbing Uchiha Sasuke menjadi lebih baik. Gaara yang bahkan hanyalah seorang penduduk di luar Konoha mengetahui hal tersebut.

Sasuke mungkin adalah mantan buronan paling dicari. Tapi Sakura tidak pernah terganggu dengan status tersebut dan terus memperjuangkan hatinya pada lelaki itu meskipun tidak mudah. Ia tidak pernah mendengar atau melihat Sakura menyerah menghadapi semuanya. Naruto dan Kakashi pun mengatakan hal serupa tentang kunoichi cantik itu.

Dan gadis itu memang benar. Kebenaran itu menyakiti hatinya yang pernah mendapat sedikit harapan dari gadis musim semi itu. Walaupun ia sadar bahwa dirinya memang sudah kalah telak dari Uchiha Sasuke bahkan sebelum ia memulai.

Mungkin seharusnya sejak dulu ia mundur dengan teratur.

Gaara beranjak dari tempatnya secara tiba-tiba. Tanpa berganti pakaian, ia melangkah melewati kakak perempuannya yang sedang membaca dokumen dan membuat wanita yang sebentar lagi akan dipinang oleh keluarga Nara itu mengernyit heran.

"Temari-nee. Aku akan berkeliling Konoha sebentar."

New Legends The Sequel

Last Chapter

.

"Kau sudah merasa lebih baik, forehead?"

Sakura saat ini sedang berada di ruangannya. Merampungkan catatan medis dari beberapa pasien yang sudah ia operasi hari ini dan hasil visit minggu lalu yang ia delegasikan pada dokter yang bertugas selama dirinya absen. Bersama Ino yang juga sedang berada dalam shift yang sama, keduanya banyak berbincang tentang hal-hal yang terjadi di Konoha akhir-akhir ini.

"Ya. Beberapa hari di rumah membuatku kelebihan tenaga hingga rasanya segel ini terlihat membesar," Sakura menyahut cuek sambil menunjuk byakugou yang menghiasi pusat dahinya.

Ino hanya mendengus sambil bertopang dagu. "Aku akan menjadi orang pertama yang tertawa jika benda ungu itu memenuhi dahimu yang lebar," ucapnya, "Kau pasti terlihat sangat bodoh."

"Dan kau langsung jadi orang pertama yang ku hajar,"

"Kata menghajar sangat cocok kau ucapkan,"

"Pfft.."

Keduanya lantas tertawa bahagia sambil menulis.

"Jadi jadi…" kerlingan gemas Ino terlihat sangat mengganggu. "Bagaimana dengan Sasuke-kun? Apakah ada perkembangan hubungan antara kalian?"

Gadis Yamanaka ini bukannya kepo, kepo, sebenarnya, tetapi innernya ia menyangkal fakta tersebut— ia hanya ingin mendengar kabar hubungan Sasuke dan Sakura. Setelah banyak yang terjadi diantara dua insan tersebut, bila tidak ada perkembangan atau bahkan memburuk, Ino akan merasa sedih sekali sebagai sahabatnya. Sakura sudah terlalu banyak berkorban hanya demi lelaki itu. Setidaknya Sasuke harus tahu Sakura tak pernah berhenti untuk berjalan disampingnya. Itupun Ino yakin Sakura akan merasa sangat bersyukur.

"Kau menemaniku di sini hanya untuk mengorek gossip dariku?"

Ino tampak menghentikan gerakan jarinya dan menatap Sakura dengan pandangan menuntut. "Apa salahnya? Kau itu kan sahabatku. Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku dan kau memang tidak berhak menyembunyikan apapun~"

"Heh?" Sakura memprotes. "Aku punya privasi, Pig. Kau yang tidak berhak menitahku untuk bercerita,"

"Sudahlah~" Kini Ino kembali tersenyum licik. Aura ratu gossip sudah menari-nari disekelilingnya dan Sakura merasa terganggu dengan itu. "Ceritakan saja hubunganmu dengan Sasuke-kun. Aku janji tidak akan bercerita pada siapapun."

Sakura menghela napasnya. Ino itu tidak bisa dihentikan jika sudah membuat keputusan, sama sepertinya. Dan jarang sekali Sakura bisa menang dari Yamanaka ini. Lagipula ia percaya Ino tidak akan mengingkari kata-katanya.

"Apa yang kau inginkan?"

"Bukankah sudah ku bilang? Aku ingin tahu perkembangan hubungan diantara kau dan Sasuke-kun,"

"Well…" emerald miliknya menatap Ino sembari ia bertopang dagu. Sakura merasakan adanya dorongan kuat untuk tersenyum tapi entah kenapa ia tidak ingin Ino melihat binar bahagia tersebut. "Semuanya berjalan baik, ku rasa."

"Ku rasa?" Ino mengernyit.

"Hm.." ia menangguk pelan yang dimata Ino tampak merujuk seperti bimbang. "Sasuke-kun... sudah mengatakan semuanya padaku —walaupun secara tersirat."

Di seberangnya Ino tampak begitu serius mendengar ucapannya. Ia juga terlihat sangat antusias. Sakura ragu apakah Ino bisa menutup mulut ketika dirinya sudah terlanjur bercerita panjang lebar sebab ia tidak mau berita ini menyebar.

Memalukan sekali, pikirnya.

"Ayolah," Sakura melihat aquamarine Ino berputar bosan. Gadis itu menegakkan punggung sambil melipat tangan. "Tidak ada cerita yang lebih spesifik?"

"Kau mau aku cerita seperti apa, Pig? Sasuke-kun itu pelit bicara, kau tahu. Aku masih kesulitan memahami tingkah polanya." Bibirnya mencebik samar, "Dia mengatakannya secara tersirat pun aku sudah merasa sangat senang."

Ada rona merah yang perlahan-lahan menunjukkan diri dikedua belah pipi Haruno Sakura. Ia tampak malu-malu berterus terang pada Ino yang sedang menantikan ceritanya lebih lengkap. Sakura kembali berkata dengan suara yang lebih pelan, "Dia hanya bilang.. 'Kau milikku.'"

"Hah —maksudku, astaga, Forehead!" Ino menatap Sakura dengan pandangan horror dan heran. Lawan bicaranya melotot terkejut hingga melepaskan topangan dagunya. "Kau bilang itu tersirat?! Dia sudah mengatakannya dengan amat sangat jelas dan kau bilang itu tersirat?!" perempuan pirang itu tampak mencak-mencak sendiri. "Apa kau terlalu pintar atau bodoh aku tidak bisa membedakannya lagi."

"Bukan itu maksudku, Pig! Sasuke-kun mengatakan hal itu setelah aku mendesaknya. Dia senang sekali berputar-putar hingga aku kebingungan mencari tahu apa maksudnya."

Ino menghela napas dan memegangi dahinya. Tidakkah gadis berdahi lebar itu tahu bahwa ia sangat bodoh?

"Seharusnya kau paham," sang gadis pirang mulai kembali melipat tangannya, menatap Sakura heran. "Sasuke-kun bukan tipe laki-laki seperti Naruto yang mengatakan semuanya tanpa berpikir panjang. Dia ingin kau mengerti dirinya tanpa harus ia bicara banyak. Ku pikir kau gadis yang paling mengerti seorang Uchiha Sasuke."

"Iya, aku tahu," Sakura sudah paham hal tersebut. Tapi sesekali ia mengharapkan sesuatu yang lebih jelas bukanlah sesuatu yang buruk, bukan? Sasuke tidak bisa selamanya membiarkan dirinya terus menebak-nebak. "Tapi tetap saja.."

"Tetap saja apanya? Kau sudah berhasil memenangkan hati Sasuke-kun, Forehead. Tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan," Jari telunjuk Ino yang lentik kemudian menunjuk Sakura. "Yakin saja pada dirimu dan jawaban darinya."

Kemudian, melihat sikap Ino yang seperti ini, Sakura menyunggingkan senyum miring. "Kau tampak bijak."

"Meh.." Ino memutar bola matanya dengan mimic mencibir. "Sejak dulu aku memang sudah bijak, kau tahu. Shikamaru yang jenius itu bahkan sering meminta saran dariku."

Gadis Haruno itu tertawa renyah.

Di sisi lain Ino ikut merasakan bahagia bersama Sakura. Apa yang diperjuangkan gadis itu selama ini telah ia dapatkan. Tak ada yang lebih bahagia melihat sahabatnya mendapatkan sesuatu yang sepantasnya.

"Well, aku senang mendengar berita ini, sungguh," Ino meremas tangan Sakura dengan seulas senyum hangat.

Sakura membalasnya. "Terima kasih, Pig."

Setelah mengangguk kecil, Ino teringat sesuatu. "Oh, bagaimana dengan Gaara-kun? Kau sudah memberi jawaban?"

"Ya. Aku sudah mengirimnya surat setelah tahu bahwa dia sedang berada di Konoha dan menitipkannya pada Temari-san," jawabnya, "Ku harap dia —"

Tiba-tiba saja Sakura menghentikan kalimatnya. Ia menegakkan diri saat merasakan sebuah cakra yang ia kenali secara terang-terangan dikeluarkan oleh sang empunya. Mungkin Ino tidak sadar karena sepertinya cakra ini hanya ditujukan padanya.

"Dia apa, Forehead?"

Sakura lekas berdiri dan berjalan ke arah jendela di belakangnya.

Tampak Gaara di sana sedang berdiri dengan angin yang berhembus menggoyangkan helai-helai merahnya yang berantakan.

"Maaf, Pig, aku harus pergi. Ada urusan mendadak."

Lalu ia pun segera berlari tanpa melepas jas dokternya dan menghiraukan panggilan Ino.

.

.

.

Sakura terengah-engah saat sampai di halaman belakang rumah sakit yang hijau dipenuhi rumput-rumput. Tak jauh dihadapannya berdiri seorang Rei Gaara yang menatapnya dengan seulas senyum tipis.

"Gaara-kun?"

"Ku lihat kau baik, Sakura."

Sang gadis mengangguk. Angin berhembus juga mulai mengibarkan jas dokter dan rambut pinknya yang panjang; menutupi sebagian pandangannya.

"Ya, begitulah," ia tersenyum. "Dan ku lihat kau juga sehat."

Entah seperti apa situasi sekarang ini. Sakura merasa canggung ketika hanya berdua dengan Gaara di sini setelah kiriman surat yang sengaja ia berikan pada orang nomor satu di Desa Suna itu. Namun ia berusaha sebaik mungkin untuk tetap terlihat tenang seperti yang ia katakan dalam surat.

"Aku sudah membaca suratmu,"

Ya, Sakura tahu. Dan ia yakin tujuan Gaara menghampirinya ke sini adalah untuk membahas isi secarik kertas tersebut. Sakura diam dan membiarkan Gaara melanjutkan kata-katanya.

"Apakah keputusanmu sudah bulat, Sakura?"

Dua netra senada itu saling bertemu, saling menyelami. Mencari-cari sebuah kebenaran yang sang kazekage inginkan darinya merupakan perkara sulit sebab ia pun merasa resah bila harus menjelaskan sekali lagi tentang keputusannya menolak perasaan yang Gaara berikan padanya. Sakura takut bila hal ini dibahas lebih jauh hanya akan membuat Gaara lebih tersakiti juga memicu api pertengkaran antara Sasuke dan Gaara.

Dirinya lah yang akan merasa paling berdosa jika hal itu sampai terjadi.

Sakura hanya ingin yang terbaik bagi mereka.

Gaara sendiri memang sudah membulatkan tekad untuk menerima apapun yang Sakura berikan. Ya atau tidak, bukan sebuah jawaban yang akan memuaskannya sebab ia tahu Uchiha Sasuke sudah sejak lama memenangkan hati gadis musim semi ini. Bertemu dengan Sakura di sini hanya untuk memastikan bila dirinya mampu melepas gadis itu dan melupakan apapun tentangnya.

Di hadapannya, Sakura terlihat mengangguk mantap. Air mukanya tegas namun lembut dengan seulas senyum manis yang melengkung dibibirnya. Bibir yang pernah ia rasakan saat malam festival di Konoha.

"Aku sudah mengatakan semuanya dalam surat itu, Gaara-kun," katanya baik-baik, "Apakah ada bagian yang sulit kau pahami?"

"Tidak ada. Aku hanya ingin mendengar semuanya darimu."

"Kalau begitu aku tidak perlu menjelaskannya lebih rinci lagi. Aku tidak akan mengatakannya dua kali,"

Ia tidak ingin mengatakannya, tentu saja, karena rasanya sangat… canggung.

"Tidak ada pertimbangan lagi? Ku pikir kita sudah cukup dekat," Ujar Gaara. "Aku ingin mendengar kepastian darimu."

Apakah Gaara berniat membuatnya bimbang? Atau hanya ingin mengetes kebulatan tekadnya?

"Kepastian itu sudah kau dapatkan sejak kau membaca surat itu." Sakura kemudian mundur satu langkah dan hendak berbalik. Senyumnya tampak kecut. "Kalau kau ke sini hanya untuk membahas sesuatu yang sudah ku jelaskan di dalam surat itu, maaf, aku tidak bisa. Dan kalau kau tidak keberatan, aku masih punya beberapa pasien untuk diperiksa."

"Tunggu."

Gerakan Sakura terhenti. Ia menatap Gaara yang terlihat menghela napasnya. "Kita memang dekat sebagai sahabat, Gaara-kun. Ikatan kita hanya sebagai sahabat. Kalaupun lebih, mungkin panggilan kakak akan terdengar menyenangkan."

Ia mendengarkan Sakura dengan seksama. Gaara bersyukur, ia tidak salah memilih gadis untuk dicintai —meskipun ia sudah kalah. Sakura begitu setia, dia begitu berharga, dan sangat layak untuk diperjuangkan. Waktu yang ia habiskan untuk memikirkan gadis itu sama sekali tidak percuma, dan Gaara paham mulai saat ini tidak ada lagi kesempatan untuk mendapatkan Sakura. Gadis itu sudah terlalu jauh untuk diraih.

"Aku akan kembali ke Suna besok pagi," kata Gaara singkat. "Tujuanku menemuimu hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Jangan pikirkan perdebatan kita tadi."

Emerald bertemu dengan jade. "Benarkah?"

Kazekage mengangguk, lantas wajah yang selalu tampak datar itu memberikan sebuah senyum samar. "Jangan khawatir, Sakura. Sejak aku menerima suratmu dari Temari-nee aku sudah tahu jawabanmu."

"O-oh.." diam-diam, Sakura merasa sangat lega. "Jam berapa kau akan berangkat?"

"Mungkin sekitar jam sembilan pagi bila tidak ada hambatan."

Gadis musim semi itu tampak mengangguk kecil. Mungkin ia terlihat begitu memaksa Gaara untuk melupakannya, tetapi itu adalah yang terbaik. Gaara tidak bisa terus terpaku padanya sementara diluar sana masih banyak gadis-gadis yang lebih baik darinya. Sakura berharap detik ini adalah awal di mana hubungan keduanya bisa berubah ke arah yang tidak merugikan siapapun.

Dan semoga saja kepergian Gaara dari Konoha bukan disebabkan oleh dirinya.

"Apakah masalah itu sudah selesai?"

Gaara mengiyakan. "Mizukage juga sudah kembali ke desanya pagi tadi."

"Kalau begitu, hati-hati di jalan, Gaara-kun," dalam waktu yang cukup lama, Sakura tampak terdiam membiarkan keheningan menguasai atmosfir diantara mereka berdua. Ia berniat melanjutkan. "Maaf aku tidak bisa membalas kebaikanmu padaku."

"Tidak masalah," lalu matanya melirik ke belakang Sakura, di mana sosok lelaki berkuncir setengah dan berpakaian Anbu lengkap dengan topengnya tengah berdiri.

Sakura yang menyadari gerakan mata Gaara mengikuti ke mana arah pandang itu tertuju. Bias keterkejutan terlihat pada paras cantik gadis bergelar dokter tersebut.

"Sasuke-kun?"

"Pergilah," titahnya. "Sepertinya dia sengaja menjemputmu."

"Ya," Sang dara kembali memberi atensi pada Gaara diiringi dengan anggukan kecil. "Sampai jumpa lagi, Gaara-kun."

Keduanya saling melempar senyum sebelum Sakura memutuskan untuk berbalik dan menghampiri Sasuke. Mungkin ini bukanlah sebuah kisah yang diharapkan oleh Gaara. Namun ia menjadikan hubungan ini sebuah pelajaran baginya di masa depan untuk memperjuangkan gadis yang dicintainya.

Jade miliknya menatap punggung Sakura yang menjauh. Gadis yang selama ini ia inginkan telah menyambut tangan lain yang telah lama ingin digapainya. Sekali lagi, Gaara menyadari kekalahan dirinya dalam memenangkan gadis itu.

Butiran pasir membentuk sebuah pusaran, menutupi Rei Gaara yang menatap sepasang kekasih saling menautkan tangan dalam lingkaran harmonis penuh cinta...

... yang kemudian tubuhnya hilang terbawa angin.

Semilir angin berhembus disekitar mereka, rumput yang tertata rapi bergoyang harmoni mengikuti isyarat sang angin.

Sebuah benang persahabatan perlahan mulai terajut membentuk simpul yang indah.

Dan sebuah benang merah mengikat takdir diantara sepasang kekasih.

Dua jalinan yang berbeda menyakiti sebelah pihak.

Namun satu jenis tatapan telah memperjelas semuanya..

.. bila kisah ini berakhir sesuai harapan.

.

End

.

Hai *senyum polos*

Apa kabar semua? Maaf ya update last chapter ini lama banget. Kalau saya ga salah hitung mungkin sekitar…. Satu tahun lebih?

Jujur aja buat ending difiksi ini ga gampang buat saya, apalagi udah hampir lupa sebagian ceritanya dan saya yakin ini endingnya terkesan maksa banget. Maafin dan maklumin ya karena /mungkin/ ga bisa ngasih hasil yang maksimal buat kalian. Ini pun saya buatnya ngebut karena kedepannya kemungkinan saya ga bisa post/update fiksi-fiksi yang ada. Biasalah, mahasiswa tingkat akhir pasti ngalamin masa dimana rasanya mau nikah aja :'))) /alasan.

Makasih banget buat pembaca setia fiksi yang dipost dari tahun 2013 ini. Saya bahagia banget karena banyak banget respon positif dari kalian yang membuat saya tetap semangat lanjutin cerita ini. Saya sempat nyerah karena udah lupa gimana jalan ceritanya, tapi saya udah janji ga bakal nelantarin fiksi ini apalagi Cuma tinggal satu chapter aja. Thanks guys. You're all cheering me up~!

Sekali lagi, terima kasih buat semuanya. Kita ketemu di fiksi-fiksi saya yang lain dan oh ya, maaf banget ya karna ga bisa balas review kalian satu-satu, saya ga bermaksud cuek kok. Beneran :'). Saya cuma kehabisan kata2 karna komentar kalian bagus2 :))))). Semua review kalian adalah PENYEMANGAT buat saya

God bless you all. Good days

Sign,

Schuylera.

.

Psst, ada bonus omake.

Ready to read?

*wink*

.

Omake

.

Distrik Uchiha terlihat sepi seperti biasanya. Tidak ada satu orangpun yang melewati daerah ini semenjak pembantaian Klan Uchiha. Kecual sepasang kekasih yang sedang bersantai di sebuah danau.

Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura.

Keduanya berdiri bersisian di pinggir danau menikmati siang hari yang cerah.

"Apa yang Gaara lakukan?"

Sasuke, tanpa basa basi, bertanya pada gadisnya.

"Dia hanya pamit. Besok rombongannya akan kembali ke Suna karena masalah di sini sudah diselesaikan," jawabnya lalu menoleh. "Kenapa?"

"Ku kira dia mengatakan sesuatu padamu."

Sakura tersenyum tipis. Sedikit atau banyak ia dapat merasakan Sasuke tengah cemburu pada pemimpin desa angin itu. Nada bicara bungsu Uchiha ini terdengar berbeda setiap kali mereka membicarakan tentang Gaara. Terlebih Sasuke mengetahui bahwa pria itu juga mencintainya.

"Tidak banyak. Hanya membahas surat yang ku berikan untuknya."

Tiba-tiba saja lirikan Sasuke berubah; Nampak sedikit memicing. "Surat?"

"Hm," ia mengangguk. "Aku memberikannya sebuah surat berisi jawabanku untuknya, dan dia hanya ingin mendengar semuanya dariku. Bukan dari kertas itu."

"Oh,"

Bila saja Sasuke itu lebih ekspresif, Sakura pasti sudah tertawa renyah. Namun mengingat lelaki ini sangatlah irit bicara, Sakura tidak ingin membuat suasana tenang dan nyaman ini menjadi berantakan hanya karena ledakan tawanya.

"Ada apa, Sasuke-kun?"

Sasuke memejamkan matanya dan kemudian menghela napas. Tubuhnya bergerak menghadap Sakura lalu menyentil dahinya.

"Tidak ada," Sakura bisa melihat air muka Sasuke melunak —sebelumnya berkali lipat lebih dingin dan keras. "Aku hanya tidak suka kalian berdekatan."

"Duh," Sakura mengusap tempat di mana Sasuke menyentil. "Kami tidak membahas apapun selain yang tadi aku jelaskan, Sasuke-kun."

"Aku tahu."

Detik selanjutnya, Sasuke mendekatkan diri pada Sakura. Menarik pinggang gadis itu untuk merapat padanya, sementara ia mulai merendahkan kepalanya dan kedua tangannya melingkari tubuh Sakura.

Ia pun berbisik, mengulang kalimat yang sama. "Aku hanya tidak suka kalian berdekatan."

Wajah putih Sakura merona. Ia menatap Sasuke yang hanya berjarak sekian senti dari wajahnya.

"Bukankah kau milikku?"

Sakura mengangguk, dengan susah payah menjawab, "Ya."

Dengan berakhirnya jawaban Sakura, Sasuke dengan lembut menyatukan bibirnya pada gadisnya. Melumatnya dengan sabar, meminta izin untuk akses memasuki ruang hangat dibalik bibir tersebut. Membelit benda lunak miliknya dan Sakura untuk berduel di dalam sana. Pelan, lembut, dan berirama higga Sakura terus terbuai dalam dirinya.

Sasuke mungkin egois, tak suka gadisnya berdekatan dengan pria lain. Tapi Sakura adalah miliknya.

Dan semua yang menjadi miliknya adalah mutlak.

.

End