Cast:
V as Kim Taehyung
J-Hope as Jung Hoseok
Jungkook as Jeon Jungkook
Other BTS members
Summary:
Kim Taehyung hanyalah seorang pemuda biasa yang tidak terlalu istimewa. Itulah kesan yang didapat Hoseok saat pertama kali berkenalan, setidaknya sampai Hoseok menyadari bahwa Taehyung memiliki sesuatu yang selalu membuntutinya.
Disclaimer:
Member BTS bukan punya author, tapi cerita fiksi ini murni ide author. Terinspirasi dari kisah nyata. Jika ada kesamaan cerita, itu adalah unsur ketidaksengajaan.
Unknown Memories
Kim Taehyung dan Park Jimin, kuharap kita bisa bersama selamanya! ^^
-JK
.
Chapter 12
Flashback
"Taetae-ya, ayo bangun! Kau tidak ingin kami tinggal ke taman bermain bukan?"
Taehyung membuka matanya perlahan. Hal pertama yang terlihat olehnya adalah beberapa helai rambut hitam yang masih sedikit basah, dan mata Jimin yang menyipit karena tersenyum terlalu lebar. Ia belum terbangun sepenuhnya, namun tangannya ditarik secara paksa oleh Jimin. "Ayolah, semua sudah siap kecuali kau!"
Dengan enggan pun Taehyung berjalan meninggalkan kasurnya dan memasuki kamar mandi dengan handuk yang menggantung di bahunya.
Lima belas menit kemudian, Taehyung berlari keluar dari kamarnya. "Jungkook-ah! Jeon Jungkook!"
Jungkook yang tengah bermain game di ponsel Jimin menolehkan kepalanya dan tersenyum pada Taehyung. "Taetae hyu—"
"Kembalikan kaus kaki hitamku!" seru Taehyung sambil melemparkan sebuah kaus kaki hitam ke wajah adiknya.
Jungkook mengambil kaus kaki yang dilempar oleh Taehyung dan melemparnya kembali. Mata bulatnya menatap Taehyung polos. "Aku tidak meminjam kaus kakimu, hyung."
"Tapi kaus kakiku tidak ada dan yang ini berlubang di bagian jari-jarinya, jadi ini pasti milikmu!"
Wajah Jungkook langsung merengut saat Taehyung mengatakan itu. Ia menundukkan kepalanya—hal yang ia sering lakukan untuk mencegah tangisannya. "Tapi aku tidak pernah meminjam kaus kaki orang lain."
Jimin yang melihat Jungkook hampir menangis karena tuduhan Taehyung, langsung merasa bahwa dirinya harus menengahi perdebatan itu sebelum airmata adik sepupunya benar-benar turun. Ia pun mendekati Jungkook dan memeluknya lembut.
"Jungkook-ah, bagaimana kalau kita biarkan Taetae hyung melihat kaus kaki yang kau pakai sekarang? Agar tidak ada kesalahpahaman lagi, ya?" tanya Jimin sambil mengusak rambut Jungkook, yang dijawab dengan anggukan oleh adik kecilnya itu.
Taehyung menatap Jungkook yang melepas tali sepatunya dengan tatapan tajam. Matanya semakin fokus ketika Jungkook menanggalkan sepatunya dan menyisakan kaus kaki hitam yang dikenakannya. Dengan cepat ia mendekati bocah itu dan mengangkat kedua kakinya. Ia lalu menatap Jungkook kesal setelah ia menemukan tulisan 'Tae' berwarna putih pada kaus kaki yang dikenakannya di sebelah kiri. Dengan kasar ia melepas kaus kaki itu dari kaki Jungkook.
"Kubilang juga apa!" kata Taehyung sambil mengenakan kaus kaki sensasional itu di kakinya sendiri.
Dan Jungkook hanya bisa menggumamkan kata maaf sambil tersenyum tanpa dosa.
Flashback End
.
Taehyung menatap langit-langit kamar yang baru pertama kali dilihatnya. Tubuhnya yang masih terbaring di ranjang seolah enggan untuk bergerak. Tangan kanannya masih menggenggam selembar foto yang ditemukannya kemarin. Ia letakkan foto itu di atas dadanya, dan tangan kanannya ia arahkan untuk meraih langit-langit. Otaknya kembali bekerja, mengingat kejadian yang dialaminya kemarin—rumah Jungkook, orangtua Jungkook, makam Jungkook, semua tentang Jungkook.
Perasaannya masih campur aduk. Ia masih belum menyerah untuk mengingat tentang Jungkook dan Jimin. Kepalanya sakit, tapi ia tidak peduli. Hatinya lebih sakit karena perasaan bersalahnya pada dua orang itu. Ia bahkan tidak tahu apakah Chimchim—atau nama sebenarnya, Jimin—masih hidup atau tidak. Ia terlalu takut untuk bertanya. Ia hanya bisa berharap akan bertemu dengannya suatu hari nanti, dan meminta maaf padanya.
Belum sempat Taehyung mengangkat kepalanya dari bantal, tiba-tiba nyonya Jeon masuk dengan ketukan pelan sebelumnya. Senyumnya merekah ketika wanita itu melihat Taehyung yang sudah terjaga. Ia pun mengajak Taehyung untuk keluar karena sarapan sudah selesai ia siapkan.
Tubuh Taehyung seolah dikendalikan oleh nyonya Jeon, karena ketika sadar, ia sudah duduk manis di meja makan dengan tuan Jeon yang tersenyum di hadapannya. Tidak lama kemudian, teman-temannya beserta nyonya Jeon menyusul dan menempati seluruh kursi yang ada.
"Jadi, kapan kalian berencana untuk kembali ke Seoul?" tanya tuan Jeon di sela-sela makannya.
Di antara empat pemuda yang dimaksud, hanya Namjoon yang merasa ia harus menjawab pertanyaan itu. Tiga temannya pun memandangnya seolah memberi kode padanya agar ia menjawab pertanyaan tuan Jeon. "Mungkin siang ini, kami tidak ada rencana untuk berlama-lama di Busan."
Tuan dan nyonya Jeon mengangguk mengerti. Lalu mereka berenam pun melanjutkan sarapan dalam diam. Sesekali, Seokjin memuji kemampuan memasak nyonya Jeon dalam membuat sarapan pagi itu, yang kemudian dijawab dengan senyuman dan kata terimakasih dari wanita itu.
Tak lama setelah mereka menyelesaikan sarapannya, nyonya Jeon menyuruh mereka untuk membersihkan diri. Tidak ada yang boleh beralasan dengan tidak adanya pakaian ganti, karena wanita itu sudah menyediakan pakaian-pakaian milik Jungkook yang masih ia simpan. Dan setelah itu, nyonya Jeon meminta Taehyung untuk mengikutinya kembali ke kamar mendiang anaknnya.
Taehyung menatap nyonya Jeon yang membuka lemari pakaian di dalam kamar Jungkook. Isi lemari itu tertata rapi, dan mayoritas terisi dengan warna hitam, putih, dan merah. Tangan nyonya Jeon dengan lincah mengeluarkan sesuatu berwarna merah dari laci kecil di dalam lemari tersebut, yang kemudian membuat Taehyung merasa heran.
"Ambillah, Taehyung," kata nyonya Jeon sambil menyerahkan sebuah beanie polos berwarna merah. "Aku yakin ini cocok untukmu."
Dengan ragu, Taehyung mengambil beanie itu dan menatap nyonya Jeon dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, wanita itu hanya menjawabnya dengan senyum tulus sebelum ia menggiring Taehyung untuk masuk ke dalam kamar mandi. "Aku akan menyiapkan teh hangat untukmu dan yang lainnya."
Taehyung mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana, ia masih terus berpikir. Kenapa rumah ini terasa begitu familiar?
.
Rumah keluarga Jeon memiliki tiga kamar mandi, yaitu kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidur tuan dan nyonya Jeon, kamar mandi untuk tamu yang terletak dekat dengan ruang tamu, dan kamar mandi yang terletak di sebelah kamar Jungkook. Tuan dan nyonya Jeon mempersilakan para tamunya untuk memilih dimana mereka ingin membersihkan dirinya, dan mayoritas memilih kamar mandi yang memang ditujukan untuk tamu.
Berbeda dengan Kim Taehyung. Pemuda itu secara khusus diantarkan oleh nyonya Jeon menuju kamar mandi di dekat kamar Jungkook. Sebenarnya tanpa diantar pun, pemuda itu sudah berniat untuk menggunakan kamar mandi tersebut. Ia tak merasakan ragu sedikitpun ketika ia harus memilih sabun manakah yang harus ia gunakan, atau dimana letak handuknya. Semua terlalu familiar baginya.
Setelah sepuluh menit menghabiskan waktu di dalam kamar mandi—membersihkan diri, menyelesaikan urusan pribadi, dan memikirkan ingatannya—Taehyung keluar dengan selembar handuk yang menutupi area pribadinya. Ia berjalan masuk ke dalam kamar Jungkook dengan santai. Ia membuka lemari Jungkook dan mengambil pakaiannya dengan lincah. Tak lupa ia menggunakan sisir dan parfum yang terletak di atas meja belajar Jungkook.
Dan akhirnya, Taehyung merasa penampilannya sudah lengkap. Sebuah t-shirt putih polos dan ripped jeans milik Jungkook. Tidak lupa beanie merah di kepalanya yang juga milik Jungkook. Dahinya mengernyit saat ia melihat pantulan dirinya di cermin. Ia terlihat seperti orang lain. Sejujurnya, ia tidak pernah berpenampilan seperti ini—ini hal baru untuknya. Dan ia pun teringat beberapa menit yang lalu setelah dirinya menerima beanie merah yang dikenakannya ini dari nyonya Jeon. Taehyung yang menggunakan sabun beraroma mint dan pasta gigi rasa buah tanpa ragu, Taehyung yang menyemprotkan parfum beraroma rempah ke seluruh badannya, Taehyung yang tak perlu berpikir panjang untuk memilih pakaian yang dikenakannya. Rasanya seperti déjà vu—walaupun ia tahu ini pertama kalinya ia mengenakan t-shirt polos yang dipadukan dengan ripped jeans dan sebuah beanie.
Taehyung merasakan kepalanya berdenyut hebat, samar-samar memberinya gambaran tentang seseorang yang berpenampilan persis sepertinya saat ini. Ia terduduk di lantai sambil memegangi kepalanya. Berbagai suara terputar secara acak dalam otaknya, dan suara-suara itu memanggil namanya. Ia memejamkan matanya dan menutup telinganya—berharap suara itu akan hilang. Ia pun akhirnya berteriak dengan keras. "HENTIKAN!"
Dua detik kemudian, semua temannya beserta tuan dan nyonya Jeon berlari menghampirinya. Hoseok adalah yang pertama membuka pintu kamar tempat Taehyung berada, dan langsung memeluk adiknya yang tengah terduduk di lantai. Dengan lembut ia mengelus punggung Taehyung yang sedikit gemetar. "Tae-ya, tenanglah. Semua akan baik-baik saja, aku akan melindungimu."
Seokjin dan Namjoon ikut berjongkok untuk melihat keadaan Taehyung. Sedangkan tuan dan nyonya Jeon masih terpaku di depan pintu melihat Taehyung yang kini berada di pelukan Hoseok sambil terduduk. Tanpa sadar, nyonya Jeon menggumam pelan, "Jungkook-ah..."
.
"Hyung, bolehkah aku mengunjungi Jungkook lagi?"
Pertanyaan Taehyung seketika membuat Seokjin kembali menginjak pedal remnya. Mereka baru saja meninggalkan rumah keluarga Jeon sepuluh menit lalu, setelah nyonya Jeon sempat memeluk Taehyung sambil menangis dan menggumamkan nama anaknya berkali-kali.
Sebelum pergi, Hoseok diam-diam sempat menanyakan segalanya pada tuan Jeon, sehingga ia mengetahui segalanya—betapa sepasang suami istri itu merindukan kehadiran buah hati mereka, dan betapa Taehyung begitu terlihat mirip dengan Jungkook, dan dengan Hoseok yang memeluknya, mereka terlihat seperti Jimin yang tengah memeluk Jungkook yang menangis. Satu hal yang membuat Hoseok merasa sedih adalah ketika tuan Jeon dengan jujur menyatakan bahwa ia dan istrinya sempat membenci Taehyung karena kecelakaan yang disebabkannya—walaupun kebencian itu perlahan memudar seiring berjalannya waktu. Mereka sadar, bahwa kematian Jungkook bukanlah kesalahan Taehyung, melainkan perintah takdir, sehingga mereka pun memutuskan untuk memperlakukan Taehyung selayaknya anak sendiri sejak saat itu. Dan airmata yang jatuh dari kedua mata tuan Jeon berhasil membuat Hoseok merasa bersalah—untunglah saat itu Jungkook sedang menemani ibunya sehingga ia tidak tahu bahwa ayahnya menangis.
Bicara tentang Jungkook, Hoseok menolehkan kepalanya ke arah kanan untuk melihat makhluk gaib yang imut itu. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung yang tengah melihat ke arah jendela sambil tersenyum kecil—senyum yang terukir di bibirnya sejak Seokjin menyetujui permintaannya dan langsung mengemudikan mobilnya ke arah pemakaman.
Dua puluh menit kemudian, mobil Seokjin sudah terparkir di area parkir pemakaman yang kemarin mereka kunjungi. Sebelum tiga hyungnya membuka pintu mobil, Taehyung sudah terlebih dulu mencegah mereka.
"Aku akan pergi sendiri. Kalian tunggu saja disini, aku tidak akan lama," kata Taehyung sambil membuka pintu mobil.
"Tunggu," Hoseok mencegat Taehyung dengan menahan pergelangan tangannya. "Aku ikut denganmu."
Taehyung menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, hyung."
"Aku tidak akan mengganggumu, Taehyung-ah. Aku hanya ingin memastikan kau tidak terjatuh lagi seperti tadi."
Mau tidak mau, Taehyung tersenyum mendengar perkataan Hoseok. Ia pun melepas tangan Hoseok dari pergelangan tangannya dan membuka pintu mobil. "Terima kasih, Hoseok hyung."
Hoseok pun mengikuti Taehyung—dan juga Jungkook—dan berjalan memasuki area pemakaman.
Di dalam mobil, Namjoon dan Seokjin memandang punggung Hoseok dan Taehyung yang mulai menjauh dalam diam. Keduanya bersyukur akan adanya Hoseok yang selalu menjaga adik kecil mereka. Dan keheningan di antara mereka pecah ketika Namjoon berkata dengan senyuman di bibirnya. "Jung Hoseok, dasar kau overprotective."
.
Hoseok menatap sosok Taehyung yang tengah mengelus batu nisan dengan nama Jeon Jungkook. Ia dapat mendengar kata-kata yang diucapkan Taehyung, dan ia tersenyum ketika adiknya itu tertawa kecil sambil mengobrol dengan batu nisan itu. Senyumnya semakin lebar ketika ia menyadari Jungkook yang sedari tadi berada di hadapan Taehyung juga ikut tertawa. Seolah melihat Taehyung dan Jungkook sedang berbicara satu sama lain. Hoseok bersyukur, Taehyung hanya mengatakan hal-hal positif. Pemuda bermarga Kim itu menceritakan apa yang ditemukannya di rumah Jungkook, walaupun ia masih belum mampu mengingat apapun. Ia menunjukkan keceriaannya pada nisan itu.
"Jungkook-ah, apa penampilanku sudah mirip denganmu?" tanya Taehyung sambil tersenyum pada batu nisan di hadapannya.
Tanpa menunggu jawaban, ia lalu menoleh pada Hoseok dan menggandeng lengan hyungnya itu dengan ceria. "Ayo, hyung. Seokjin hyung dan Namjoon hyung sudah lama menunggu kita."
Dan Hoseok kembali bersyukur karena ia dapat melihat kembali Taehyung yang ceria.
Namun, ternyata takdir memang tidak mengizinkan Hoseok untuk menikmati keceriaan Taehyung saat ini. Karena begitu mereka melangkah menjauhi makam Jungkook, mata Taehyung menangkap sesosok gadis berambut panjang yang sangat dikenalnya, dan ia langsung memanggilnya. "Yoongi noona!"
Taehyung menarik tangan Hoseok dan berlari kecil mendekati Yoongi. Hoseok dan Yoongi sama-sama terkejut dengan keberadaan masing-masing. Hanya Taehyung yang—entah kenapa—tidak terlihat terkejut sedikitpun, senyuman masih bertengger di wajahnya saat Hoseok bertanya pada sepupunya.
"Sedang apa noona disini? Bukankah kau—"
Ucapan Hoseok terpotong ketika ia menyadari adanya Jimin di belakang Yoongi. Dan arwah berambut merah itu tengah menatap Jungkook dan Taehyung bergantian. Oh tidak, tolong jangan katakan...
"Aku baru saja mengunjungi makam Jimin," kata Yoongi.
Dan mata Taehyung kembali diselimuti oleh kegelapan.
...damn.
.
.
.
TBC
VHOPENYA MANA INI MANAAAA VKOOKNYA JUGA MANA?! *dobrak pintu dorm bts*
Oke maaf ya readers, anon lagi stress gara-gara chap ini T-T kena WB mulu, pengen masukin vhope atau vkook yang banyak tapi malah begini :'D btw maaf kalo cerita ini ga jelas (emang kapan sih jelasnya non? X'3)
Seperti biasa, big thanks buat kalian semua. Semoga ngga bosen bacanya ya :')
P.S. baca juga ff vkook anon yang judulnya Lost Stars ya, hohoho maaf numpang promosi :v
P.S.S. maaf kalo ada yang reviewnya dibales dua kali, anonnya pelupa udah dibales apa belum :"""
Sampe ketemu di chap 13!
