"Aku senang kalian baik-baik saja."
Sekalipun wajahnya pucat pasi, senyum lebar menghiasi wajah Sawamura Katana. Ia duduk di salah satu bangku kafe, dan bahkan dari kejauhan Natsume dapat menangkap kilau pada mata gadis itu—kilau yang membuatnya lebih hidup ketimbang beberapa waktu sebelumnya.
"Syukurlah Sawamura-san juga tidak apa-apa," sahutnya lembut. "Kudengar youkai itu sempat mendatangimu—"
Sawamura mengibaskan tangan dengan cepat. "Bukankah lebih baik untuk duduk dulu dan memesan makanan?" ujarnya. "Kalian pasti lapar sekali setelah insiden barusan."
Madara cepat menukas, "Aku lapar. Aku mau makan yang banyak."
Iris gelap Sawamura membola, barangkali bertanya-tanya kenapa gerangan ada kucing yang bisa berbicara, tetapi Akashi sudah keburu menyahut, "Kalau begitu pesan saja apapun yang sensei inginkan."
"Aku mau sake!"
Natsume mendesah. "Tidak ada sake di sini, sensei," keluhnya. "Kita di kafe, bukan kedai minum."
"Kalau begitu kau harus membawaku ke kedai minum nanti malam. Aku tidak mau tahu." Wajah bulat bergoyang-goyang selagi Madara mengomel. "Aku marah besar. Harga diriku dihancurkan oleh youkai yang tidak tahu diri—"
"Ya, ya," putus Natori. "Kalau kau tidak mau harga dirimu jatuh lebih dalam lagi, jadilah kucing penurut dan cepat duduk."
"Siapa yang kucing penurut?"
Akashi muncul sebagai malaikat. "Sensei, aku punya lebih banyak lagi manisan untukmu. Semakin cepat kita selesai di sini, semakin cepat juga sensei dapat jatah manisan itu."
Kalimat itu berpengaruh efektif pada sang dedemit. "…oke."
Mereka berempat—termasuk Madara—duduk melingkari meja bun-dar. Akashi bersisian dengan Natsume, dan selama beberapa saat bahu mereka sempat saling bergesekan.
Terperanjat, Natsume cepat-cepat bergeser. "M-maaf."
Akashi tidak dapat menahan tawanya. Betapa lelaki di sebelahnya ini sangat menyenangkan untuk digoda—"Aku sakit hati, Natsume. Apa aku membuatmu jijik?"
"T-tidak begitu, kan—"
"Atau ada kotoran di bajuku, sampai bersentuhan saja kau tidak mau?" sang emperor tersenyum tipis, kemudian refleks meraih tangan Natsume dan meremasnya lembut. "Kau harus mulai terbiasa berada di dekatku, oke?"
Wajah Natsume sudah menyerupai tomat dan mengepul-ngepul di sepanjang permukaannya, dan lelaki itu hanya bisa mengangguk gugup.
Ia cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. "Natori-san bilang kalau Sawamura-san membantu prosedur pengusiran youkai tadi," katanya. "Bagaimana cara kalian melakukannya?"
"Sebenarnya aku tidak benar-benar membantu," pipi Sawamura merona merah. "Aku hanya cerita pada otou-sama soal apa saja yang kami omongkan—aku dan youkai itu—beberapa waktu lalu. Otou-sama-lah yang menemukan titik lemah sekaligus cara untuk memusnah-kan si youkai."
"Titik lemah?" Akashi mengangkat alis. "Makhluk sekuat dia punya titik lemah?"
"Oh, siapa saja punya titik lemah," sahut Natori. "Lihat saja Madara, yang katanya youkai terkuat—"
Ditukas kasar. "Aku memang youkai terkuat."
"—tapi disogok makanan saja sudah patuh." Mengabaikan pelototan kucing jejadian itu, Natori menyelesaikan kalimatnya. "Sama seperti youkai yang kalian hadapi itu. Dia barangkali luar biasa kuat—tapi figur yang kuat biasanya cepat melupakan kelemahan mereka sendiri."
"Dan kelemahan apakah itu?" tanya Natsume.
"Dia lupa bahwa dia adalah youkai. Waktu dan dunianya bukanlah di sini, melainkan di dimensi lain. Di dunia manusia, dia tak ubahnya hewan liar yang harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia harus bernapas, makan, dan berkomunikasi dengan cara yang bisa diterima oleh yang lain."
Akashi tercekat. "Mau sekuat apapun…" suaranya memelan. "Dia itu tidak lebih dari sekadar youkai."
"Tepat," kata Natori. "Aku adalah eksorsis—mungkin Natsume sudah cerita—dan pekerjaanku adalah memusnahkan para dedemit yang mengganggu. Sekalipun mereka kuat dan tidak mudah dilenyapkan, pada dasarnya semua youkai lemah pada ritual eksorsisme."
"Untuk mempermudah ritual itu, menurut ayah, adalah dengan memancing keluar titik lemahnya," tambah Sawamura. "Kurasa… Akashi-san sudah melakukan prosedur itu dengan sangat baik."
Akashi mengangkat alis. Jelas-jelas keheranan. "Aku?" tanyanya. "Bagaimana mungkin aku yang—"
"Tidak usah banyak tanya dan dengar saja ceritanya."
Dadanya seolah dihantam keras. Ada lonjakan aneh di dalam sana—antara terkejut luar biasa dengan bahagia yang amat sangat—ketika Akashi mengenali suara itu.
Aneh juga, mengingat ia begitu membenci munculnya suara itu beberapa waktu sebelumnya. Akashi menarik napas panjang-panjang, kemudian cepat-cepat membelokkan akhir kalimatnya. "—lanjutkan, Sawamura."
Sekalipun alisnya sempat bertaut tadi, Sawamura kembali menjelas-kan, "Menurut otou-sama, youkai yang menghantuiku—juga yang mendatangiku setelahnya—bertambah kuat dengan memakan rasa takut. Dia memilih untuk datang padaku, dan bukan pada kalian berdua, karena dia tahu betul bagaimana kalian berdua tidak akan mudah ditakut-takuti."
Tensi pada sekeliling meja itu menebal. Tidak ada yang berniat menyahut.
"Natori-san juga bilang, kalau mimpi adalah medium terbaik bagi para youkai untuk memancing rasa takut seseorang sampai batas irasional," tambahnya, yang disetujui oleh anggukan Natori. "Sebelum ini, aku diberitahu bahwa hanya lewat mimpilah dia bisa mengunjungi-ku tanpa benar-benar mencederaiku."
"Dan siapa yang memberitahumu?" tanya Akashi.
Sawamura menggilas bibir bawahnya sebelum menjawab, "Youkai itu sendiri."
"Dengan begitu, Sawamura semakin percaya bahwa youkai yang ia hadapi begitu kuat—dan rasa takutnya bertambah," ujar Natori. "Pada-hal untuk membuat sosok semengerikan yang barusan kalian lihat itu membutuhkan waktu serta energi yang sangat besar. Oleh karena itulah dia memakan rasa takut banyak orang sebelum pada akhirnya meneror kalian berdua—yang dianggap musuh utamanya."
Natsume meneguk ludah. "Dia memang sempat bilang kalau kami—Seijuurou-san dan aku—adalah orang-orang yang melanggar hukum manusia, sehingga harus diambil kembali kekuatannya."
"Karena dengan begitu kalian akan merasa inferior," jawab Madara cepat. "Sial. Aku ingin bilang begitu sejak awal, tapi dia hanya bisa membuatku mengeong."
Natori mengangguk lagi. "Youkai itu tahu kalau kau, cepat atau lam-bat, akan segera mengungkap kelemahannya. Dia menganggapmu mengancam, sehingga memutuskan untuk menyegelmu."
"Padahal untuk bisa begitu saja membutuhkan energi yang besar sekali," gerutu Madara. "Hmph. Pantas saja dia langsung K.O ketika kauserang, Natori."
"Sudah kubilang, serangan itu tidak akan benar-benar mengalahkan youkai itu kalau Akashi tidak membantu." Kacamata ditekan dengan dua jari. "Melawan pelahap ketakutan dengan menghidupkan rasa takut-nya sendiri sangat efektif. Aku kagum otakmu bisa berpikir jernih di saat sekrusial itu."
Akashi hanya tersenyum.
"Tapi ada yang janggal," Madara kembali menyela. Tampaknya tidak lagi peduli dengan cacing yang berkeliaran di dalam perut. "Sampai saat ini aku tidak mendeteksi keberadaan youkai lain. Masa' di kota sebesar ini cuma ada satu makhluk sialan itu?"
"Mungkin ini ada hubungannya dengan ritual pengusiran yang otou-sama lakukan," jawab Sawamura sembari merapikan rambutnya. "Otou-sama meminta bantuan para pendeta untuk mengusir roh jahat beberapa saat setelah Serangan Bawah Sadar muncul."
Alis si kucing terangkat. "Harae?"
"Mm." Gadis itu mengangguk. "Mungkin hal itu memengaruhi para youkai kelas rendah—sehingga mereka memilih untuk kabur dari Kyoto selama ritual itu berlangsung. Sayang, youkai yang sebenarnya kami incar justru tidak terpengaruh."
"Ah. Pantas." Kepala bundar mengangguk-angguk. "Untung saja aku youkai kelas atas. Ritual seperti itu juga tidak akan mempan digunakan padaku—"
"Tapi dia menghambat kekuatanmu, kan?" sela Natori.
"Siapa bilang—"
Akashi ikut menimpali, "Sensei waktu itu memang kelelahan habis membuat barier penghalang youkai. Apa itu salah satu efek samping dari pelaksanaan harae itu?"
Sawamura menatap Madara lekat-lekat, kemudian mengangguk. "Bisa jadi."
"Kurang ajar. Aku ngantuk karena kebanyakan makan dango, tahu."
Natsume selama itu begitu sibuk dalam pikirannya sendiri—dan tidak terlibat dalam konversasi barusan—sebelum ia berujar, "Ada satu hal lagi yang menarik, sebenarnya."
Semua mata kini tertuju ke arahnya.
Iris Natsume bergulir gelisah—sebab jarang-jarang ia menjadi pusat perhatian seperti ini—tetapi ia tetap mengeluarkan ganjalan pada benak-nya sejak tadi. "Akashi-san—maksudku, eh, sisi lain yang ada di dalam diri Seijuurou-san—sempat bilang kalau youkai itu bisa menembus pikiran manusia, tapi tidak akan pernah bisa memahami perspektif manusia itu sendiri."
Akashi tidak menyahut apa-apa, akan tetapi tatapan yang tertuju ke arahnya itu membuat wajah Natsume kembali memanas.
"Aku sudah bilang di awal, kan?" sahut Natori. "Dia lupa bahwa dirinya tidak lebih dari sesosok youkai. Mau membaca pikiran seperti apapun, kalau tidak pernah mengalami sendiri sama saja tidak berguna."
"Dia mungkin tidak memahami kenapa kalian bersedia melindungi satu sama lain," tambah Sawamura. "Hal itu berada di luar nalarnya, karena youkai sejatinya tidak pernah beroperasi dalam kelompok—itu kata otou-sama—dan mereka sangat individual. Sangat idealistis. Jalan pikir manusia tentu saja membingungkan mereka."
"Yah, aku juga begitu, kan?" Madara mendengus. "Kau labil, kau suka memanipulasi perasaan, dan kau merepotkan luar biasa. Kalau saja aku adalah youkai asing, mungkin aku sudah gatal ingin memusnahkan-mu saat itu juga."
Natsume cemberut. "Aku tidak mau mendengarnya dari youkai yang kerjanya hanya makan."
"Hei, begini-begini aku berguna sebagai informan, tahu! Coba, kau bisa apa tanpa aku?"
Akashi melepas tawa. Sawamura mengulum senyum. Alis Natori bertaut, tetapi kilat-kilat geli melapisi bola mata pria itu. Perasaan hangat perlahan-lahan menjalari tubuh masing-masing.
Bercengkerama dengan orang-orang setelah pertarungan usai rasanya memang menyenangkan.
Natsume mendapati jemari Akashi masih melingkari tangannya. Ia ingin meledak saking gugupnya—atau saking senangnya?—karena diperlakukan seperti ini, namun Natsume memilih untuk tidak menepis tangan lelaki itu.
"Aku senang semuanya sudah baik-baik saja," bisik Akashi. Desisan-nya begitu dekat dengan telinga Natsume, juga dengan lehernya, dan Natsume menahan diri untuk tidak menggeliat karenanya.
Ia memberanikan diri untuk menatap Akashi—dan lagi-lagi tengge-lam ke dalam hamparan warna merah-teduh pada iris itu. Mata yang seolah mampu berbicara begitu banyak, juga mampu merangkul hatinya begitu erat—hanya untuk mengatakan bahwa…
"Natsume Takashi, kau tidak akan pernah merasa kesepian lagi."
Dan detik berikutnya—ia mendapati bibirnya dilumat oleh bibir Akashi, membenamkan dunianya dari suara-suara mereka yang terkejut, juga memusatkan perasaannya pada satu hal.
Natsume menyukai Akashi.
Natsume sangat, sangat, menyukai Akashi—dan perasaan ini begitu kompleks untuk bisa dijabarkan dalam kata-kata. Ini berbeda dengan perasaan yang dimiliki oleh seorang gadis pada lelaki pujaan. Berbeda pula dengan ikatan sahabat, atau hubungan platonis yang terjalin antara Madara dengan dirinya.
Perasaan ini… berbeda.
Dan ketika wajah mereka pada akhirnya terpisah dari satu sama lain, Natsume mendapati Akashi tersenyum padanya. Dengan sepasang mata heterokromatis. Mata yang ketika dilihat pada kali pertama membuatnya ketakutan—
—tapi kini menciptakan aura protektif yang begitu kuat, sehingga Natsume tidak mampu menolak dirinya tersedot ke dalam aura itu.
Ketika Akashi tersenyum, Natsume seolah tertular.
Ketika Akashi kembali menggenggam tangannya, Natsume mulai berani membalas.
Karena jika lelaki itu ada, Natsume tidak lagi merasa sendiri.
Sebab orang itu, Akashi Seijuurou, ditakdirkan untuk menemaninya dalam anugerah serupa. Kemampuan yang berbeda, namun tujuannya sama.
Dua pasang mata itu, yang kini saling bertukar emosi, mampu menelisik apa yang tidak bisa dilihat oleh manusia awam.
Lalu berita baiknya?
Bahkan youkai terkuat pun tidak mampu mengambil kekuatan itu daripada mereka.
.
.
Menjelang akhir. Wait for the epilogue!
.
.
