I LOVE YOUR DAD

WU YIFAN X KIM JONGIN

.

.

Ini bukan tentang sugar dady apalagi pedofil

.

.

CHAPTER 11: TIE

.

.

Jongin menunggu hampir setengah jam di restoran sepi pengunjung. Jongin bahkan sampai membuka laptopnya untuk mengusir kebosanan. Melanjutkan tugas yang tertunda. Hingga seseorang duduk dihadapan Jongin.

"Kau ini janjian jam 3 datang jam 4, ada apa sih?"

Jongin menutup laptopnya dan malah menemukan Yifan yang sama bingungnya. Seharusnya yang dating itu Sehun. Serius, Jongin mengutuk dan terus mengumpa di dalam otaknya sambil memanggil nama Sehun. Teman brengsek..

"Sehun mana?" Yifan bertanya dengan polos atau mungkin pura-pura polos.

Jongin buru-buru membereskan tasnya. Jongin hanya merasa ia harus pergi saat ini juga. Dia tidak mau mengulang kesalahan yang sama.

"Aku minta maaf," Yifan berkata tiba-tiba saat Jongin menutup resleting ranselnya. "Maaf sudah menghajarmu," Yifan berkata dengan nada datar yang membuat Jongin jengah. "Tapi itu juga karena kau.."

"Aku tidak akan ikut campur lagi," Jongin tidak mau mendengar kata ikut campur dari mulut siapa pun lagi. Sudah cukup, Jongin tidak mau terlibat dengan masalah asmara orang lain. "Maaf karena sudah ikut campur dan mengatakan hal yang tidak sopan." Jongin beranjak berdiri sambil membungkukan badannya. "Aku tidak akan mengulanginya lagi."

"Kau tidak makan dulu?" cegat Yifan yang dijawab dengan gelengan kepala. "Kau tidak lapar, bukankah kau sudah menungguku selama satu jam."

"Aku belum merasa lapar," dusta Jongin yang sebenarnya sudah lapar setengah mati. "Aku harus pergi, sampai jumpa lagi." Jongin membungkukkan badannya sambil melangkah mundur. Dan berjalan secepat mungkin, meski Jongin yakin Yifan tidak akan mengejarnya.

Jongin tidak pernah suka dengan cara Sehun. Meski pada akhirnya Yifan dan Jongin lagi-lagi dijebak. Mulai dari nonton film, nonton pertunjukan musikan, makan berdua hingga mereka bertemu di rumah sang Tuan Wu. Kekakuan diantara mereka berdua benar-benar hilang sekarang. Meski Jongin tidak suka dengan cara Sehun, tapi tolong ucapkan terimakasih juga pada Sehun.

.ILYD.

"Perasaanku saja atau kau jadi lebih sering datang ke rumah tapi tidak pernah menginap?" Yifan duduk disamping Jongin yang tengah membaca majalah tempat dulu ia pernah bekerja sambilan.

Jongin menatap Yifan dengan tatapan, apa kau mengundangku untuk menginap? "Oh! Sekarang aku menginap." Jawab Jongin dengan tenang.

Namun sedetik kemudian Jongin menghela nafas pelan saat membaca artikel tentang betapa canggihnya perusahaan Luhan. Dan kalian tahu? Sesuai dengan firasat Jongin. Ia tidak diterima oleh perusahaan Luhan. Jongin bahkan tidak mau membaca alasan kenapa ia ditolak.

"Dan aku merasa Sehun sedang berusaha mendekatkan kita berdua." Yifan menatap Jongin dengan lebih dalam. Tatapan itu sukses membuat Jongin sedikit terganggu.

"Kau benar." Jongin masih menjawab dengan kalem. Sehun jelas-jelas mengatakan ia ingin menjodohkannya dengan ayahnya sendiri. Tapi Jongin tidak yakin, Sehun mengatakan hal itu dengan terang-terangan pada Yifan.

"Dan kau setuju?" Yifan meninggikan nadanya karena terkejut.

Jongin mengerutkan dahinya. "Tentu saja tidak," keluh Jongin sambil menggelengkan kepalanya. "Sudah berapa kali kita dijebak oleh anakmu?" alih-alih pertanyaan, perkataan Jongin lebih cocok sebagai tuduhan.

Yifan mendelik dan meletakkan lengan kirinya di sandaran sofa. Dia kini menopang dagunya dengan tangga kiri. Melakukan hal yang membuat Jongin lagi-lagi merasa terganggu. Tatapan Yifan itu antara menyelidik dan ingin menerkam.

"Dua kali kita makan malam di tempat yang berbeda," guman Yifan masih dengan tatapan menyelidik. "Pertama kau yang menungguku kedua aku yang menunggumu."

"Hmm.. Dan ketiga kalinya aku tidak datang." Ucap Jongin dengan kalem.

"Sama." Sahut Yifan yang membuat Jongin menoleh dan tersenyum miring. Sebenarnya Jongin tahu dan dimarahi habis-habisan oleh Sehun. Tapi ia pun memarahi Sehun sama kesalnya. "Tapi dia selalu punya ide baru." Entah apa yang lucu, tapi baik Jongin maupun Yifan malah tersenyum tipis.

"Dan ini makan malam kita yang kesekian kalinya," Jongin melanjutkan ucapan Yifan. "Karena Sehun yang memasak aku rasa tidak ada ruginya sama sekali." Jongin tersenyum kala Yifan mengerutkan dahi. Lagi pula makan malam di rumah Yifan itu berarti bersama Sehun, sekarang ditambah Yuan.

"Aku punya ide." Yifan menatap punggung Sehun dengan tajam. "Aku tidak benar-benar yakin jika Sehun akan mengizinkanku berkencang dengan temannya sendiri." Yifan mendapati Jongin yang tampak tertarik.

Yifan tidak menerangkan idenya sama sekali. Tapi bergerak mendekati Jongin dengan begitu lembut hingga Jongin tidak sadar Yifan sudah merengkuh pinggang Jongin. Awalnya Jongin bingung tapi melihat Yifan yang menggerakan kedua alisnya membuat Jongin mengerti. Tanpa aba-aba Jongin meletakkan kedua kakinya, tepatnya perpotongan paha Jongin di atas paha Yifan.

"Maksudku sih tidak sedekat ini." Yifan menjauhkan wajahnya.

Tapi Jongin dengan santainya menaruh lengan tangannya di bahu Yifan. Sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa menghadap Yifan. Namun dengan sekali tepukan di lutut, Jongin langsung menghentikan gerakannya. Yifan hanya sedikit risih, kawan.

"Hanya ini idemu?" Jongin bertanya dengan heran. "Apa aku juga harus menyandarkan kepalaku di dadamu?"

"Wah, agresif sekali." Gumam Yifan yang membuat Jongin menatap dengan ekspresi datar. Ide Yifan benar-benar tidak matang sama sekali.

Akhirnya Jongin malah mengambil majalah yang sempat ia taruh di meja dan kembali membaca. Membiarkan Yifan menatapnya dengan tatapan tidak habis pikir. Jongin bahkan mengganti posisinya tangannya yang awalnya merangkul bahu Yifan berubah menjadi menyangga kepalanya sendiri dan membuat kedua kepala mereka saling beradu.

"Oh! Aku pernah bertemu orang ini," Yifan menunjuk seorang pria yang berpose sambil meraup biji kopi. "Dulu dia hanya seorang distributor kopi." Ada nada kejengkelan yang membuat Jongin penasaran.

"Kenapa?" Jongin bertanya sambil mendongakkan kepalanya. Dan terkejut dengan jarak antar keduanya yang benar-benar dekat. "Sepertinya ada sesuatu yang membuatmu kesal?" Jongin kembali bertanya dengan penuh perhatian.

"Saat kami bertemu kembali," Yifan memulai ceritanya sambil menepuk pelan lutut Jongin. "Dia menjadi pengusaha kopi yang handal dan sombong." Yifan berkata sambil melirik Jongin yang seketika tertawa.

"Orang sombong disombongi," kekeh Jongi dengan tatapan jenaka yang anehnya tidak membuat Yifan tersinggung. "Lalu?"

"Aku balas." Yifan menaikan bahunya dengan santai. "Sampai membuat mulut sombongnya terkunci rapat."

"Hmm.. Wu Yifan sekali." Gumam Jongin yang membuat Yifan mendelik tajam namun malah terlihat konyol di mata Jongin. "Oh! Aku pernah bertemu orang ini." Jongin kini menunjuk seorang pengusaha muda yang berinovasi dengan keripik ubi yang manis namun dengan varian rasa pedas.

"Oh, pengusaha muda yang tampan," komentar Yifan yang disetujui oleh Jongin dengan anggukan semangat. "Kau menyukainya?"

"Tidak ada yang tidak menyukai pengusaha muda penuh ambisi yang ramah." Jongin mengakat kedua bahunya.

"Fake." Decih Yifan yang membuat Jongin gantian mendelik. "Namanya pemula, kalau langsung sombong ya cari mati."

"Waaah~ saat masih merintis perusahaanmu, kau pernah menjadi orang yang ramah?" tanya Jongin dengan suara terkejut yang dibuat-buat hingga membuat Yifan gemas. Gemas karena Jongin berani terang-terangan menyindirnya. "Orang tampan dan kaya biasanya dimaafkan dan diwajarkan jika sombong."

"Oh! Aku tampan?" kini gantian Yifan yang bertanya dengan nada terkejut menjengkelkan.

Jongin tidak menjawab hanya mendelik pelan. Namun tiba-tiba Jongin menatap wajah Yifan dengan tatapan menyelidik, masih terlihat luka memar di bawah matanya.

"Apa aku harus ganti rugi?" tanya Jongin sambil menunjuk sudut matanya sendiri. "Ketampananmu berkurang."

"Hm? Lukamu lebih parah," Yifan masih melihat bekas luka kering di sudut bibir Jongin dan lebam menghitam di tulang pipi Jongin.

"Tidak separah yang diberikan Chanyeol." Celetuk Jongin sukses membuat Yifan terkejut. "Kenapa?" Jongin sempat melihat mata Yifan yang tampak melebar dengan cara yang berlebihan.

"Maafkan aku." Gumam Yifan. Kali ini pernyataan maaf Yifan terasa lebih tulus.

"Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah ikut campur." Jongin membuka matanya dengan lebar dan mengerjap pelan. Terkejut mendengar kata maaf dari Yifan.

"Apa masih sakit?" tanya Yifan sambil menyentuh luka kering di sudut bibir Jongin. Rasanya Yifan ingin mengelupas luka Jongin yang menghitam dan terlihat sedikit terbuka.

"Ya Tuhan!" jerit Sehun dengan suara beratnya. "Apa yang sedang kalian lakukan?"

Yifan dan Jongin tentu langsung menoleh namun sedetik kemudian saling berpandangan dengan jarak sebegitu dekatnya. Belum lagi tangan Yifan yang masih menyentuh sudut bibir Jongin. Rasanya memang ambigu. Tapi bukankah itu yang Yifan harapkan? Melihat reaksi anaknya sendiri.

"Kenapa?" tanya Jongin yang membuat Yifan tersadar dari lamunan. "Bukankah ini yang kau harapkan?"

"Iya tapi tidak secepat ini." Keluh Sehun yang sukses membuat Jongin tertawa dan membenarkan posisi duduknya.

Tiba waktunya untuk mengatur Yuan pulang, karena tidak mungkin Sehun membiarkan Yuan menginap dengan tiga orang lelaki. Sehun menemukan pemandangan lain saat Jongin sudah menggunakan kaos dan celana pendek, setelan khas Jongin untuk tidur.

"Kau menginap?" tanya Yifan yang sudah berganti dengan piaya nyaman. "Kau bisa tidur dengan pakaian macam itu?" Yifan menatap heran Jongin yang juga menatap Yifan dengan heran.

"Asal bukan celana ketat atau jeans." Jawab Jongin sekenanya.

Yifan hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan dan mencari sesuatu di laci meja. Sehun rasa kaset film yang baru Yifan pesan.

"Kau tidak perlu mengantarku." Bisik Yuan yang mengerti kekhawatiran Sehun.

"Tidak, ini sudah terlalu malam jika kau pulang sendiri," Sehun mengambil kunci mobilnya dan berseru pada ayah dan Jongin yang sibuk dengan urusan masing-masing. "Aku akan mengantar Yuan pulang!"

Jongin dan Yifan tentu langsung mendongakkan kepala. Keduanya kompak melambaikan tangan sambil berkata hati-hati di jalan. Meski sayup-sayup Sehun mendengar ayahnya berkata.

"Kata Luhan ini film bagus, mau nonton film?"

"Waw~ kalian sudah baikan?"

Tebakan Sehun tidak seperti ini sih. Awalnya Sehun pikir ayahnya akan melakukan hal yang tidak-tidak. Nyatanya ayah dan Jongin hanya berbagi selimut. Bersandar dengan bantal besar yang disampirkan di bawah sofa. Mereka menonton tanpa merasa terusik sama sekali meski sesekali Jongin terlihat menguap. Saat tangan ayahnya mengusak kepala Jongin. Sehun langsung mendatangi kedua orang yang sedang ia usahakan untuk bersama.

"Kau sudah mengatar Yuan?" ayahnya bertanya sambil menatap Sehun yang menjawab dengan anggukan. Sedangkan Jongin hanya menepuk tepat disampingnya tanpa melepaskan tatapannya dari layar televisi.

Sehun masuk ke dalam selimut yang sama dan baru sadar jika ayahnya lagi-lagi merengkauh pinggang Jongin. Si Jongin hanya diam saja dan lambat laun menaruh kepalanya di bahu Yifan. Dan tertidur saat adegan puncak film.

"Aku tidak tahu jika kalian bisa secepat ini menjadi dekat," gumam Sehun yang membuat Yifan menoleh seperkian detik. "Apa kalian... tidak jadi." Dan hening, hingga film habis mereka tidak ada yang bersuara sama sekali.

Jongin terbangun karena suara air mengalir. Jongin tidak suka mendengarnya karena seperti menghabiskan air dengan percuma. Tapi disela suara air mengalir terdengar suara mangkuk yang berbenturan satu sama lain. Ah, mungkin ada yang tengah mencuci piring, pertanda ini sudah pagi.

Selayaknya adegan drama pada umumnya. Jongin mengerjapkan mata dan menemukan dada seseorang di hadapannya. Mungkin dada Sehun. Tapi ia tak pernah sedekat ini dengan Sehun, kalau pun tidur bersebelahan, pasti saling memunggung. Setahu Jongin dada Sehun tak selebar ini. Belum lagi Sehun juga bukan tipe orang yang hobi pakai piama. Oke fix ini bukan Sehun. Jongin memundurkan tubuhnya namun tertahan oleh sesuatu. Oh, sejak tadi tubuhnya direngkuh dengan sebegitu eratnya. Saat Jongin mencoba menyingkirkan tangan kekar itu dengan perlahan. Yang ada tangan itu malah dengan kuat mendorong punggung Jongin dan membuat pipi Jongin membentur dada bidang orang yang ada di hadapannya. Belum lagi kaki Jongin juga dipiting oleh kaki lain. Hanya ada dua cara yang bisa Jongin lalukan. Mendorong dada orang yang merengkuhnya dan mendongak.

"Ya ampun~ ge," keluh Jongin dengan nada khawatir.

Yifan menyipitkan matanya dengan wajah masih mengantuk. Jongin dengan perlahan merubah posisinya menjadi duduk dan membuat tangan Yifan merosot dan berakhir di pengkuan Jongin. Sempat-sempatnya Yifan mengusap wajahnya dengan sisi paha kanan Jongin seperti anak kecil.

"Berisik." Keluh Yifan yang masih berusaha melanjutkan tidurnya.

Jongin hanya bisa membiarkan Yifan yang kini meletakkan salah satu kakinya diatas kedua kaki Jongin dibalik selimut. Kali ini Jongin memilih untuk menoleh ke arah kiri. Dan menemukan Sehun yang sudah bangun dengan mata pandanya.

"Aku rasa kau tidak bisa tidur." kekeh Jongin yang membuat Sehun cemberut.

"Sepertinya kalian sudah sangat terbiasa melakukan hal ini." Gumam Sehun yang membuat Jongin melirik ke arah Yifan. Rupanya si Tuan Rumah juga sudah sepenuhnya sadar dari kantuk.

"Tapi kau tidak akan bisa terbiasa." Celetukan Jongin terdengar begitu menyebalkan ditelinga Sehun.

"Jadi bagaimana?" kini Yifan yang berucap.

Yifan dengan seenaknya meletakkan dahunya di atas paha Jongin. Yang membuat Jongin langsung menaruh telapak tangan di antara dagu Yifan dan pahanya sendiri. Geli saudara-saudara~

"Masih mencoba menjodohkan kami berdua?" Yifan menatap Sehun yang tampak terdiam begitu lama.

Kemudian Sehun melirik Jongin dan Yifan bergantian. Dengan mantap Sehun menganggukkan kepalanya.

"Aku rasa kalian cocok."

Prang!

Sehun dan Yifan langsung bergerak. Meninggalkan Jongin yang masih terkejut oleh dua hal yang berbeda. Dan Jongin menemukan Bibi Lu yang tampak jauh lebih terkejut. Kemungkinan besar karena tidak sengaja mencuri dengar. Jongin juga berani berataruh Bibi Lu terkejut melihat Tuan rumahnya tidur sambil memeluk teman anaknya sendiri.

"Kami bisa jelaskan." Ucap Yifan dan Sehun berbarengan.

"Maaf Bibi memecahkan satu mangkuk," Bibi Lu malah membungkukkan tubuhnya dengan dalam. "Bibi hanya kaget dengan kekasih baru Tuan." Jongin yakin si Bibi Lu ini keceplosan yang membuat Yifan dan Sehun salah tingkah. Jonginnya sendiri malah terkekeh pelan.

"Aku bukan kekasih Yifan Ge, ah, maksudku Paman Wu," Jongin meralat perkataannya dengan santai yang membuat Yifan dan Sehun menatapnya dengan kesal.

"Belum." Sehun malah memperparah keadaan.

"Kalian malah membuat Bibi Lu semakin bingung!" Yifan berkata dengan kesal.

Jongin suka melihat wajah ikonik Bibi Lu yang penuh ekspresi. Setiap Sehun dan Yifan mencoba menjelaskan semakin terkejut Bibi Lu dibuatnya. Karena merasa bersalah, Jongin membantu Bibi Lu menyelesaikan tugas cuci piringnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Jongin pada Yifan yang baru duduk di meja makan untuk sarapan. Jongin mengulurkan tangan kanannya untuk memijat pelan bahu kiri Yifan.

"Jongin tidak suka kopi." Cegat Sehun saat Bibi Lu berniat menuangkan cairan hitam pekat ke dalam cangkir yang sudah disiapkan. Sedangkan Bibi Lu lebih terpukau melihat Jongin yang bisa dengan biasa saja menyentuh bahu orang yang lebih tua darinya. Yifan pula orangnya.

"Ya, kenapa?" Yifan memandang Jongin dengan heran.

"Semalam kau tidur di atas karpet, takutnya berefek pada badanmu," Jongin jelas melihat Yifan yang sesekali memijat bahunya sendiri. Meski karpetnya tebal tapi kan, manusia satu ini berbeda. "Bahumu sakit kan?"

"Ya habisnya kau tidur sebelum film selesai," keluh Yifan yang membuat Jongin mengerutkan dahi. Lagi pula bukan hal baru Sehun dan Jongin menonton film sampai ketiduran di rumah Yifan. Sejak mereka SMA selalu seperti itu. "Kau tidur di dadaku." Yifan menepuk dadanya dengan nada bangga yang sulit dimengerti oleh Jongin.

"Ge, kau bisa membangunkanku." Jongin tidak terima jika disalahkan.

"Gak tega." Sahut Yifan yang membuat Jongin mengerenyitkan dahinya dengan cara berlebihan hingga hidungnya mengembang mengempis.

.ILYD.

"Sebenarnya aku ingin menjadi pelukis," perkataan Yifan membuat Jongin menatap ketua komunitasnya dengan terkejut. "Tapi aku tidak punya bakat."

Sebenarnya Jongin tidak mengira ia akan dibawa ketempat macam ini. Galeri seni untung penggalangan dana. Jongin pikir Yifan hanya memiliki ide seperti berbelanja dan menghabiskan uang di rekeningnya. Belum lagi ia dijemput Yifan di depan kampus. Dihadapan Sehun dan Yuan. Jongin rasa Yifan sengaja melakukan ini untuk menggoda anaknya sendiri.

"Apa Gege pernah melukis?" tanya Jongin dengan penasaran. Jika selama ini Sehun bisa semelankolis itu kemungkinan besar karena pengaruh ayahnya. Jadi sebenarnya Jongin juga ingin tahu sisi melankolis Yifan.

"Pernah," jawab Yifan. "Dan masih aku simpan."

Jongin hanya mengangguk pelan. Ia tidak terlalu memahami lukisan. Ia juga tidak mencoba untuk memaksakan diri untuk mengerti. Jadi Jongin hanya mengikuti langkah Yifan yang sesekali berhenti dan diam. Jongin tanpa sadar jadi mengamati setiap gerakan Yifan.

"Ada saat-saat dimana aku menyukai hal ini," gumam Yifan yang terkesan lembut, membuat Jongin terkejut. "Perasaan saat orang sepertiku bertemu dengan karya yang menggugah hati," Yifan membuat Jongin menatap lukisan yang tengah ditatap. Lukisan seorang wanita malam, pelacur. "Cinta." Ya, pelacur yang kesepian.

Jongin tidak mengerti maksud Yifan. Apa yang Yifan kagumi dari lukisan ini? Pelacurnya atau rasa empatinya. Jadi ia lebih memilih untuk tersenyum pelan tidak mau berkomentar, hanya diam dan mendengarkan. Kemudian Yifan kembali berjalan melewati beberapa lukisan hingga berhenti disebuah lukisan utama. Lukisan abad pertengahan yang begitu sangat dijaga keberadaannya. Jongin hanya menemukan gambaran seorang wanita lesu yang tengah bersandar di kaki ranjang.

"Bagus ya?" tanya Yifan yang membuat Jongin mengerutkan dahi. Jongin hanya penasaran kenapa wanita itu begitu murung. "Jika kau jatuh cinta pada lukisan yang salah maka kau akan menyesal," Yifan kembali berkata hingga membuat Jongin memiringkan kepalanya. "Ini Phedre, lukisan yang menceritakan sebuah tragedi dimana seorang ratu yang tidak bisa mengendalikan rasa cintanya," Yifan diam-diam menyukai raut wajah Jongin yang penasaran. "Dia mencintai anak tirinya sendiri."

"Wow!" seru Jongin yang tidak bisa mengontrol suaranya. Jongin tersenyum sekaligus tertawa dengan nada tidak habis pikir. Ia menatap lukisan yang Yifan ceritakan dengan takjub. Perkataan Yifan sebenarnya sedikit menghantam dada Jongin, karena seolah berkata jangan sampai mencintai orang yang salah. "Kau tahu ge, kalau kau lebih sering menunjukkan sisi ini dibanding sisi angkuhmu, mungkin aku akan seperti Kyungsoo."

"Maksudnya?" Yifan sedikit bingung dengan pemilihan kata Jongin.

"Aku akan jatuh cinta dan tergila-gila padamu."

Tidak hanya karena perkataan Jongin tapi cara tersenyumnya pun cukup untuk membuat Yifan tersengat dan membeku saking terkejutnya. Seketika mata Yifan menggelap namun memunculkan senyuman tipis yang membuat Jongin tersenyum kaku melihat reaksi Yifan.

Jongin berinisiatif untuk berjalan mendahului Yifan hingga ke ruangan muram yang jarang dikunjungi orang. Kumpulan lukisan yang membuat semua orang meringis kesakitan hanya dengan indera penglihatan. Jongin berhenti disebuah lukisan seorang wanita yang menari diatas tumpukan pisau. Tanpa sadar Jongin merasa kakiknya terasa linu. Hingga tangan kanannya memijat lutut kanannya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Yifan dengan khawatir. Jongin hanya mengangguk pelan.

"Padahal aku sangat suka menari." Jongin berbisik pelan. Sekarang menari untuknya seperti berjalan di atas tumpukan pecahan kaca. Terlalu menyakitkan untuk kakinya.

Yifan menaikan alisnya, ia baru tahu itu. Tapi ia menemukan wajah kesakitan Jongin yang membuatnya penasaran.

"Aku ingin jadi penari, aku memiliki bakat itu," ucapan Jongin anehnya tidak terdengar sombong sama sekali. "Kau tahu, aku sampai memeluk ayahku dengan erat, saat dia mengizinkanku mengikuti kelas tari di akhir pekan," Jongin tertawa saat Yifan tampak terkejut. "Aku bahkan sempat menjadi guru tari untuk anak-anak." Jongin kembali bercerita dan membuat Yifan ikut tersenyum. "Dan kesenanganku sekarang lenyap." Jongin menghela nafas dengan berat.

Ya, kesenangannya berakhir karena ia jatuh cinta pada orang yang salah. Jongin mungkin terbawa suasana. Dan melihat lukisan dihadapannya membuat Jongin merasa begitu penat dan lelah. Rasanya kepalanya begitu sangat berat, hampir meledak dan membuat pelupuk matanya dipenuhi oleh air mata.

Tapi Yifan jauh lebih dari itu. Tidak hanya terbawa tapi juga hanyut dan hampir tenggelam. Wajar jika Jongin mematung saat Yifan menangkup wajahnya. Wajar jika Jongin tergagap saat Yifan melumat bibirnya tanpa permisi. Dan entah ini disebut wajar atau tidak saat air matanya mengalir berbarengan dengan bibir yang membalas lumatan Yifan. Oh, rasanya sudah begitu sangat lama Jongin tidak pernah merasakan ciuman macam ini. Lengket, manis dan basah. Ciuman Yifan, seperti sebuah kata yang layak diucapkan saat ia sudah bersusah payah dengan segala masalah yang menimpanya. "akhirnya".

Yifan memunduran wajahnya dan terkejut dengan wajah Jongin yang basah. Air mata Jongin masih mengalir. Dan Yifan justru menikmati ekspresi rasa sakit Jongin.

"Apa ini masuk ke dalam kategori penyerangan?" bisik Yifan pelan.

"Ya." jawab Jongin dengan nada sesak.

"Sakit?" tanya Yifan dengan bibir kiri terangkat.

"Iya," Jongin menatap Yifan dengan kesal. "Sudah meledak." Keluh Jongin dengan nada getir yang entah kenapa bisa Yifan pahami. Jongin tidak tahan dengan suasana macam ini. Seolah Yifan akan menyerangnya saat ia tengah terpuruk.

"Maaf." Gumam Yifan sambil tertawa lirih, kedua tangannya langsung merengkuh tubuh Jongin. Pria yang direngkuh meremas kemeja yang digunakan Yifan dengan keras. "Kau terlihat menggairahkan saat menangis." Bisik Yifan yang membuat Jongin mengeluh karena kesal dengan ucapan Yifan dan air mata yang tidak mau berhenti.

Mereka sudah berada di dalam mobil. Jongin harus menunduk sepanjang jalan agar tidak ada yang melihatnya menangis. Jongin juga hanya bisa pasrah tangannya di genggam oleh Yifan yang pasti mengundang banyak mata. Beruntung, kamera dan handphone tidak diizinkan untuk digunakan.

"Berhenti menatapku seperti itu." Keluh Jongin yang sibuk menutup hidungnya yang memerah.

Yifan berdeham pelan. "Kau tahu.."

Belum selesai Yifan berkata, Jongin menuduh dengan geram.

"Mesum!" tuduhan itu karena kata-kata yang dibisikkan Yifan di dalam galeri. Tapi Yifan hanya tertawa keras, tidak merasa bersalah sama sekali.

.ILYD.

Untuk Jongin ini sudah sangat keterlaluan, sangat keterlaluan. Masa Jongin sampai ikut liburan keluarganya Sehun. Jongin juga sampai harus berkenalan dengan ibu dan kekasih baru ibu Sehun yang ternyata seorang model. Yifan juga biasa saja saat ia berada di posisi seperti menggantikan Xiumin.

Jangan lupa kejadian saat di galeri. Jongin sudah mati-matian untuk tidak bertemu dengan Yifan. Anak si pelaku malah dengan entengnya menjebak dan membuatnya semakin terjebak.

"Oh! Aku tidak tahu jika pacarnya separah itu." Komentar sang ibu yang ditanggapi dengan semangat oleh Sehun.

"Untung ada Jongin!" seru Sehun sambil menepuk punggung Jongin.

Kebetulan mereka sedang bertiga. Duduk di atas tikar anyam menutupi sebagian kecil padang rumput hijau di pinggir sungai. Kebetulan tiga orang lainnya kalah taruhan dan harus bekerjasama untuk memanggang daging. Setelah bersepeda ria acaranya di lanjutkan dengan BBQ. Jongin sedikit terhibur melihat Yifan yang kikuk untuk berinteraksi dengan Yuan dan kekasih mantan istrinya.

"Jujur padaku, sejak kapan Sehun tahu kalau kau itu gay?" tanya sang ibu kandung, saat Sehun tengah berpamitan untuk mengambil air minum.

"SMA." Jawab Jongin dengan nada heran karena merasa tengah diselidiki. Melihat keraguan dari wanita yang melahirkan Sehun membuat Jongin memajukan wajahnya dan berkata. "Aku sudah mengencani tiga pria, dua pria terakhir pernah bertemu dan berkenalan dengan Sehun." Harus Jongin akui tidak ada satu pun mantannya yang akrab dengan Sehun.

"Oh! Syukurlah~" meski sempat terkejut namun wanita cantik bernama Oh Nara ini tidak memyembunyikan maksudnya. "Tapi kau tidak sedang mengincar Yifan kan?"

"Aku? dengan suamimu?" Jongin tahu ia terlalu berlebihan, baik pilihan kata maupun nada. "Dia bahkan ayah dari sahabatku sendiri." Keluh Jongin yang anehnya membuat Nara tertawa.

"Aku cukup terkejut kau memanggil Yifan dengan kata Gege bukan Paman seperti Yuan." Jujur saja Nara kan sedikit kasihan pada Jongin jika benar-benar mengejar Yifan yang sebenarnya tipe orang sulit untuk digapai.

"Peraturan umum di grup yang dia buat." Penjelasan singkat Jongin membuat Nara mengangguk pelan. "Aku juga tidak tahu jika ayah Sehun gay kalau aku tidak bergabung dengan kelompoknya."

"MoGB?"

"Iya."

"Sejujurnya aku tidak punya hak untuk ikut campur," Nara menatap Yifan dan kekasihnya sendiri secara bergantian. Namun pada akhirnya tatapannya jatuh kepada Yuan. "Kau mengerti maksudku kan?" Jongin hanya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. "Tapi kalau Yifan yang mengejarmu, beda lagi ceritanya."

"Nah, oleh karena itu aku berusaha keras menjodohkan Jongin dengan ayah." Sehun menyela sambil menyerahkan es jeruk pada sang ibu dan Jongin. "Aku rasa mereka berdua cocok, asal ibu tahu Jongin cukup handal dalam mengendalikan Ayah." Sehun tentu berbicara dengan berlebihan. "Jongin dan ayah kadang saling memanggil dengan sebutan Daddy dan Baby." Sehun masih berceloteh dan membuat Jongin meringis. Sebutan itu sudah lama tidak ia gunakan lagi.

Jangan tanyakan ekspresi ibu kandung Sehun. Nara menatap Jongin dengan ekspresi terkejut yang sulit diartikan. Jongin hanya bisa menyedot es jeruk dihadapannya dengan suara yang cukup berisik. Sehun benar-benar tidak bisa menutup mulutnya untuk terus mempromosikan Jongin dihadapan sang ibu.

"Apa kau sebegitunya ingin membuatku mengantikan posisi ibumu?" Jongin akhirnya bertanya dengan nada frustasi. Bertepatan saat sang ibu meninggalkan Sehun dan Jongin karena dipanggil oleh kekasih cantiknya. "Aku tahu kau masih tidak bisa biasa saja pada ibumu, tapi bukankah ini sedikit berlebihan?"

"Aku tidak memintamu menggantikan posisi ibuku." Sehun buru-buru meralat pikiran Jongin.

"Kalau aku benar-benar bersama ayahmu, bukankah posisi kita berdua akan menjadi sedikit rumit?" belum lagi Jongin masih ingat panggilan baru Yuan padanya. Bakal calon mertua.

"Aku ingin kau menjadi kekasih ayahku bukan menjadi ibuku," Sehun kini menatap Jongin dengan serius. "Mau bagaimana pun juga, kau tidak bisa menggantikan posisinya," Sehun kini melirik sendu ayah dan ibunya yang tengah tertawa sebegitu lepasnya. "Mungkin ini terkesan memaksa tapi aku ingin kau yang berada disisi ayahku."

Jongin kehilangan kata-katanya. Jongin bahkan masih diam saja saat Sehun pergi menghampiri Yuan. Apa Sehun tidak tahu jika keinginannya berefek cukup keras pada Jongin. Seperti ada beban tersendiri untuk Jongin.

"Apa kau begitu sangat haus?" pertanyaan itu membuat Jongin tersentak dan menatap gelasnya. Ah, gelasnya hanya menyisakan tumpukan es batu. Dan masih saja ia sedot. "Apa kau merasa tidak nyaman?"

"Sedikit." gumam Jongin pelan.

Yifan duduk dengan tenang di samping Jongin yang akhirnya hanya memandang aliran sungai. Seperti ada sesuatu yang dipikirkan Jongin. Hingga Jongin menghela nafas dan menatap Yifan dengan tajam. Mulut Jongin terbuka namun tertutup kembali. Dan itu membuat Yifan penasaran.

"Ada apa?" Yifan menatap dengan nada menuntut.

"Aku heran, kenapa videomu dan video dr Xiumin tidak tersebar," gumam Jongin pelan, Jongin hanya tiba-tiba teringat dengan kejadian sebelum Yifan menghajarnya. Seingat Jongin banyak sekali handphone yang mengarah pada wajah Yifan dan Xiumin. "Aku pikir komunitasmu akan heboh, tapi ternyata tidak terjadi apa pun."

"Kau pikir sejenius apa Luhan?" tanya Yifan yang membuat Jongin terdiam.

"Oh, oke." Ucap Jongin tanpa membantah sama sekali.

Pernah dengar tentang seseorang yang tidak bisa di lacak bahkan namanya pun tidak akan keluar di situs google? Nah, Luhan mungkin setara atau lebih dari itu. Menghapus video dari antah berantah saja bisa dicegah.

Jongin mendapati Sehun melewatinya sambil membawa tumpukan piring. Jongin dengan cepat merogoh saku celananya yang berisi beberapa lembar plester luka. Yifan cukup terkejut melihat Jongin yang beranjak dari duduk dengan cepat.

"Sehun!" panggil Jongin yang membuat Sehun menoleh. "Aku minta maaf karena dulu dengan kurang ajar sudah ikut campur," ucapan Jongin membuat dahi Sehun berkerut. "Tapi sesuatu yang dipaksakan juga tidak bisa dibenarkan," Jongin menyerahkan plaster luka itu di atas tumpukan piring. "Mungkin kau berpendapat jika ayahmu bersamaku akan membuat ayahmu bahagia, tapi bagaimana dengan pendapat ayahmu?"

"Kenapa tidak kita coba saja?" kini sang ayah maju dan menatap Jongin dengan serius. "Mungkin pendapat Sehun benar, dan sekarang bagaimana denganmu?" Yifan malah mengajukan pertanyaan yang sama pada Jongin.

Jongin hanya diam dan memandang Yifan dengan keheranan. Yifan malah menanggapi keraguan Jongin dengan sebuah senyuman. Jongin menimbang, ini serius atau hanya lelucon yang berat?

"Aku serius," gumam Yifan pelan. "Bukankah Chanyeol juga pernah bilang, ia akan menyerahkanmu dengan ikhlas jika aku orangnya." perkataan Yifan membuat Jongin terbelalak kaget.

"Boleh aku menyela," gumam Sehun yang sudah tidak kuat dengan tangan yang harus mengangkat enam tumpuk piring besar sekaligus. "Plaster ini untuk siapa?"

"Yuan." Jawab Jongin tanpa mengalihkan pandangannya dari Yifan. "Kakinya terluka." Jongin menunjuk Yuan yang sesekali terlihat berjalan pincang.

Sehun buru-buru pergi meninggalkan Jongin dan Yifan yang hanya saling tatap. Jongin ingin menanyakan beberapa hal. Tapi Jongin pada akhirnya hanya menghela nafas dan berniat bergabung dengan yang lain.

"Tahu dari mana dia terluka?" pertanyaan Yifan membuat Jongin mengagalkan niatnya untuk membalikkan badan.

"Pernah mendengar istilah beauty is pain?" Jongin melirik Sehun yang sedang mengobati luka lecet di kaki Yuan. Yifan menggeleng pelan. "Rata-rata wanita berani menahan sakit demi terlihat cantik, melihat sepintas saja aku tahu Yuan menggunakan sepatu baru."

"Kalau kau lebih paham tentang wanita kenapa lebih suka berkencan dengan pria?" pertanyaan tak terduga Yifan membuat Jongin tersenyum.

"Inginnya seperti itu, tapi tidak bisa." Kali ini Jongin benar-benar membalikkan badannya.

"Kalau begitu mau dicoba?" Yifan menjegal tangan Jongin.

"Demi siapa? Sehun?" Jongin menatap tangan Yifan yang mengenggam tangannya. "Kau boleh egois untuk saat-saat seperti ini." Jongin tersenyum tenang kala Yifan menggenggam tangannya lebih erat.

"Demi kita bertiga," gumam Yifan pelan. "Demi Sehun yang lelah melihat ayahnya berganti pasangan, demi aku yang lelah dipermainkan dan demi kau yang tengah berusaha melupakan Chanyeol." Jawaban Yifan tentu membuat Jongin menaikan sebelah alisnya. "Bagaimana?"

"Jawaban yang bagus." Keluh Jongin pelan.

Jongin tidak punya alasan yang bagus untuk menolak. Tapi juga tidak memberikan jawaban yang jelas pada Yifan. Dulu tatapan Yifan seperti melihat bocah yang tidak mengerti apa pun. Sekarang Yifan merubah cara tatapannya pada Jongin. Hal itu yang membuat Jongin sedikit resah dan takut.

Acara BBQ berakhir. Jongin kini mengitari ruang tamu villa keluarga Yifan. Yang lain memilih untuk beristirahat tapi Jongin lebih memilih untuk keluar dari kamarnya yang sepi."Banyak sekali pialanya." Gumam Jongin saat menemukan lemari besar berisi tropi milik Sehun.

Jongin ingat Sehun selalu bilang ia akan menyimpan semua tropinya dan medalinya di villa. Di tempat dimana ia dan kedua orang tuanya bisa melihat. Jongin tersenyum kecil saat menemukan tropi yang cukup unik. Pemenang kedua sebagai model fotogenic. Sehun memang tampan sih..

"Aku berani bertaruh, medalimu lebih banyak," Yifan menghampiri Jongin sambil menberikannya perasan jeruk panas. Perasaan Jongin saja atau sejak tadi ia memang disuguhi minuman berbahan dasar jeruk. "Peraih IPK tertinggi, penerima beasiswa dan kau menguasai tiga bahasa sekaligus."

"Aku terlalu sibuk berpindah sekolah untuk melakukan semua ini," gumam Jongin pelan sambil menatap semua pengargaan Sehun. "Ini piagam pertamaku," Jongin menunjuk piagam yang Sehun juga dapatkan, saat SMA mereka pernah membuat tulisan berkelompok bersama. "Dan aku menguasai tiga bahasa bukan karena ingin tapi terpaksa."

"Terpaksa?" Yifan menyahut dan membuat Jongin mengangguk. "Coba jelaskan padaku."

Jongin tidak langsung menjawab malah memainkan telunjuknya di pinggiran cangkir berisi jeruk panas yang masih mengepul. Jongin berdecak pelan dan menatap Yifan dengan getir.

"Aku lahir di Jepang," Jongin memulai ceritanya dengan wajah muram. "Saat ayah dan ibuki cerai, kakek nenekku meminta ibuku pulang ke Korea Selatan," Jongin masih memainkan telunjuknya di pinggir cangkir. "Selama lima tahun aku tinggal di Korea Selatan dan akhirnya ibuku kembali menikah," Jongin tersenyum pelan saat Yifan meraih telunjuk dan cangkir yang Jongin pegang. "Saat itu terjadi bentrokan dan terjadi krisis moneter, ayah tiriku mengirimkan aku dan kakakku untuk sekolah di China setelah aku lulus SMP," Jongin mendapati Yifan yang meniup pelan telunjuknya yang hampir melepuh. Tanpa melepas tatapannya dari Jongin yang terus bercerita. "Kau tahu ge, aku menangis frustasi sepanjang malam untuk mengerti dan memahami bahasa mandarin."

"Jangan melakukan hal itu lagi," keluh Yifan pelan sambil melepas tangannya dari tangan Jongin. "Jangan menyakiti tubuhmu sendiri dan membiarkan seseorang menyakiti tubuhmu."

Jongin tidak menanggapi perkataan Yifan sama sekali. Baik dengan ucapan atau isyarat seperti anggukan kepala. Entah kenapa rasanya begitu melelahkan. Namun sebuah ingatan menyenangakan menghampiri Jongin. Hingga membuat Jongin tersenyum senang.

"Untung saja aku bertemu dengan anakmu."

.ILYD.

"Aku pikir kau mau datang ke sini karena mengejarku." Yifan berkata sambil memasak pancake. Satu-satunya hal yang bisa dia buat untuk sarapan. Meski beberapa ada gosong.

"Kalau pun iya, apa aku senekat itu?" Jongin bertanya dengan nada jenaka. "Aku masih tahu malu, Ge." Jongin berkata sambil menuangkan susu kental manis yang katanya bukan susu. "Lagi pula aku selalu kalah taruhan dengan Sehun." Keluh Jongin pelan yang membuat Yidan sedikit kecewa.

"Kau serius memberikan susu?" tanya Yifan yang merasa keheranan melihat Jongin yang menuangkan susu kental manis pada kumpulan pancake gosong karya Yifan.

"Mau bermain?" tanya Jongin sambil mengigit garpunya. Setelah ia memotong kecil-kecil tiga pancake gosong.

Bukan sebuah permainan yang menyenangkan sebenarnya. Yifan juga hanya tidak enak menolak permintaan remeh Jongin. Meski ia harus akui, pancake gosong ditambah susu tidak membuat rasanya terselamatkan.

"Ayo makan!" sahut Jongin sambil menusuk pancake gosong dan menyuapkan pada Yifan. "Kertas gunting batu!" seru Jongin.

"Makan!" Yifan berkata disela tawanya. Ekspresi Jongin yang getir membuat Yifan tertawa semakin keras. "Kau duluan yang meminta permainan ini."

"Kita tidak boleh membuang makanan ge," ucap Jongin dengan tangan membentuk gunting sedangkan Yifan kertas. "Selamat!" Kekeh Jongin sambil menyuapkan potongan terakhir.

"Aku kenyang sebelum sarapan dengan benar," keluh Yifan yang tidak diacuhkan oleh Jongin. "Nanti siang ada yang menjemputmu di bandara?" tanya Yifan tiba-tiba.

"Sepertinya tidak."

"Baguslah, nanti aku yang antar" tawar Yifan yang tidak ditanggapi sama sekali oleh Jongin. "Kau sudah cek emailmu?"

"Ya, aku bergabung dengan komunitasmu lagi," jujur saja, Jongin sedikit lelah untuk terus-terusan keluar masuk komunitas Yifan. "Baba sampai sama hebohnya seperti Kyungsoo dan Baekhyun."

"Kau sudah cek pemberitahuan di webnya?" tanya Yifan dengan penasaran.

"Aku belum buka." Jawab Jongin yang membuat Yifan gemas. "Memangnya ada apa?" Jongin membuka website dan menemukan pemberitahuan yang mengejutkan. "Serius?" tanya Jongin dengan tidak percaya. Waktu dengan Xiumin, Jongin rasa Yifan tidak sampai sebegininya. "Bisa dibully satu komunitas aku ge~" keluh Jongin sambil bersandar pada bidang datar yang ia temukan.

"Karena kau belum juga memberikan aku jawaban," Yifan mendekati Jongin yang bersandar di pintu lemari es. Tangan Yifan mengangkat garpu berisi potongan pancake. "Setidaknya kau makan versi yang benar."

"Oh! Enak ternyata." Jongin benar-benar terkejut. Dan tidak bermaksud membuat Yifan tersinggung. "Begini rasanya setelah makan yang versi gagal." Kekeh Jongin yang membuat Yifan menyentil dahi Jongin. "Sakit~" keluh Jongin pelan.

"Jadi apa jawabannya?" tanya Yifan sambil menatap handphone Jongin.

"Boleh aku acuhkan saja?" tanya Jongin dengan kikuk. "Aku tidak suka memancing keributan masal."

Masalahnya adalah Yifan membuat sebuah permintaan aneh di website. Kalian tahu fitur relationship di facebook. Nah itu, Yifan mengajukan hal itu sebagai kekasih Jongin. Bisa ramai satu komunitas kalau begitu caranya. Saking bingungnya Jongin terus-terusan menatap handphone saat sarapan. Pancakenya bahkan sampai dipotong kecil-kecil oleh Yifan.

"Ini serius ge?" tanya Jongin untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini Yifan menjawab dengan satu suapan potongan pancake besar untuk Jongin.

"Serius, kan tidak ada salahnya mencoba." Perkataan Yifan membuat Jongin mendelik sambil sibuk mengunyah.

"Kalian sebenarnya sedang apa?" tanya Nara yang mau tidak mau merasa risih melihat mantan suaminya seperhatian itu pada orang lain.

"Aku sedang mengajaknya berkencan dan dia bingung." Jawab Yifan dengan santai yang membuat Jongin memukul lengan Yifan dengan kecang.

"Serius?!" Sehun berseru keras.

Dan perdebatan di mulai karena perkataan Yifan dan cara Jongin memukul lengan Yifan.

"Wow~ itu bukan interaksi antara teman anak dan ayah." Yuan berpendapat karena melihat Jongin memukul lengan Yifan. "Ternyata kalian sangat dekat satu sama lain."

"Apakah itu tidak berlebihan, maksudku kau mengencani teman anakmu sendiri." sang mantan istri tampak keberatan.

"Cinta saja tidak memandang gender apa lagi umur." Bantah Sehun dengan cepat.

"Tapi bukankah mengajak berkencan lewat fitur website sedikit kekanakan?" pacar sang mantan istri ikut berpendapat.

Jongin dan Yifan hanya saling berpandangan tanpa membuka suara. Tapi mendengar pendapat mereka semua membuat Jongin mengambil keputusan. Ia menekan salah satu pilihan dan menunjukkannya pada Yifan.

"Serius?" tanya Yifan yang tidak bisa menyembunyikan senyumannya. "Wow, anak muda kau nekat sekali."

Jongin hanya mendelik dan melanjutkan sarapannya.

"Kan.. Kan.. Ditelfon," keluh Jongin sambil menunjukkan handphonenya pada Yifan. Kalau tidak salah Baekhyun sedang menginap ditempat Kyungsoo. "Video call lagi."

"Biar aku yang jawab." Yifan mengambil handphone Jongin dan menekan tanda hijau.

Jongin tidak bisa untuk tidak tertawa terbahak-bahak kala pertama kali yang ia dengar adalah suara teriakan terkejut Baekhyun dan Kyungsoo.

.ILYD.

Pesta perayaan Jongin dan Yifan sedikit berlebihan atau bahkan sangat berlebihan. Segala sesuatu mengenai Yifan selalu tampak berlebihan dimata Jongin. Yifan menyewa villa untuk hubungan yang tidak jelas. Maksudnya baik Jongin dan Yifan dua-duanya hanya lelah. Bukan bermaksud mencari pelarian, hanya berniat untuk mencoba, bisa jadi pemikiran Sehun tepat.

Jongin sengaja berjalan di pinggir kolam dan duduk disalah satu bangku. Ada Baekhyun dan Kyungsoo yang masih marah. Dan Baba yang selalu jadi pihak yang berusaha netral. Bukannya Jongin tidak mau cerita atau takut Kyungsoo marah. Hanya saja Jongin juga bingung untuk mulai bercerita.

"Dan akhirnya kau benar-benar menjadi kekasih Kris ge." Kyungsoo memulai ocehannya. Jongin baru saja duduk tapi sudah ditatap sebegitu tajamnya oleh Baekhyun dan Kyungsoo. "Manusia satu ini pake santet apa sih?" Kyungsoo kembali mengeluarkan bisanya yang membuat Jongin tersengat tidak nyaman. "Keluar dapet Chanyeol, masuk dapet Kris Ge."

"Putus dari Chanyeol membuatku dirawat di rumah sakit, sebelum jadian dengan Kris aku harus menerima wajahku bonyok," jawab Jongin yang membuat Kyungsoo terdiam. Baekhyun dan Kyungsoo jelas tahu cerita ia dihajar Yifan karena ia ikut campur. Tapi toh tidak ada satu pun yang protes saat Jongin bilang ia terbawa emosi karena teringat Sehun. "Aku mau kok menggantikanmu dan jadian dengan Luhan." perkataan itu cukup membuat Kyungsoo terdiam.

"Aku tahu kemarin aku sudah salah membuat Chanyeol mendekatimu, tapi masa kau tidak percaya padaku lagi." Baekhyun memulai dengan drama persahabatannya.

"Sehun yang menjodohkan kami berdua." Jongin akhirnya memulai dengan kalimat yang membuat Baekhyun dan Kyungsoo terdiam. Jongin memakai kacamata hitam pemberian tepatnya pinjaman Yifan dengan cara yang membuat Kyungsoo dan Baekhyun gemas.

"Kau kalah telak!" celetuk Baekhyun pada Kyungsoo.

Kyungsoo jelas kesal. Baekhyun dan Kyungsoo terus berdebat hingga saling mengejek. Saking serunya kedua makhluk itu tidak sadar Baba lebih memilih untuk berenang dan Jongin memasang earphonenya sambil berjemur. Padahal kulitnya sudah paling gelap diantara yang lain. Tapi tenang, Jongin sudah pakai sunblock ke seluruh tubuh.

"Kau tidak berenang?" Yifan datang dengan cara yang membuat semua orang rela menghentikan aktifitasnya hanya untuk melihat Yifan. "Jongin!" panggil Yifan sambil menarik earphone Jongin. "Kau tidak berenang?" ulang Yifan.

"Aku sedang berfotosintesis." Jawab Jongin dengan nada merasa terganggu yang membuat Yifan terkekeh pelan. "Kau saja yang berenang."

"Kenapa kau selalu menolak untuk berenang?" tanya Yifan dengan gemas. Jongin ini lama-lama seperti kucing yang anti dengan air.

Tapi Jongin malah mengacuhkan Yifan, hingga Yifan dengan cara yang sedikit nakal. Membuka kaosnya di hadapan Jongin. Kelakuannya membuat satu komunitas terdiam termasuk Kyungsoo dan Baekhyun. Jongin menghela nafas. Tukang pamer.

Jongin menurunkan kacamata hitamnya dengan cara provokatif. "Wow~ badan Gege kalau dilihat-lihat bagus juga." Ucapan Jongin yang cukup keras membuat semua orang menatap tubuh Yifan dan Jongin secara bergantian. Meski, memang itu benar adanya.

Tapi untuk Yifan efeknya lain. Yifan refleks menutup tubuhnya dengan kedua tangan tersilang di dadanya. Dan reaksi Yifan membuat Jongin tertawa keras.

"Mesum!" sentak Yifan sambil melempar kaosnya ke arah wajah Jongin dan buru-buru melompak ke kolam renang.

Jongin masih tertawa sambil menyingkirkan kaos dari wajahnya. Jongin kan jadi gemas melihat tingkah malu-malu Yifan. Namun saat sosok Xiumin masuk ke dalam area pandangannya. Hal lain tentu mengusik Jongin. Seolah, sda perasaan dimana benda yang sebenarnya bukan milikmu akan direbut oleh orang yang tidak disukai olehmu. Dan perasaan itu yang membuat Jongin resah.

Jongin mengambil handuk yang disampir Yifan. Jongin berjalan di pinggir kolam untuk mendatangi titik akhir Yifan berhenti berenang. Yifan yang sempat berhenti ditengah kolam juga melihat pergerakan Jongin. Hingga akhirnya mereka saling mendekat di sudut paling sepi. Tidak banyak orang yang duduk dan berenang di area ini.

Jongin menyelupkan kedua kakinya ke dalam air. Handuk sudah tersampir di pangkuannya. Yifan juga sudah hampir sampai. Keduanya merupakan orang yang sama-sama peka. Hingga Jongin merasa tidak perlu berbicara hanya dengan menatap mata Yifan saja, Yifan akan mengerti.

"Kenapa?" Yifan bertanya tanpa berniat untuk keluar dari kolam.

"Bukankah ini sedikit berlebihan?" Jongin bertanya tanpa memandang Yifan. Malah menatap Xiumin yang juga menatapnya. "Aku tahu ini bukan hal yang berlebihan untukmu, apalagi sekedar untuk membuat dr Xiumin cemburu."

Jongin tahu ia belum merasakan hal apa pun pada Yifan. Tapi tetap saja rasanya menyebalkan menjadi alat macam ini.

"Hei!" seru Yifan dengan terkejut. "Sepertinya kau salah paham," Yifan keluar dari kolam renang. Dan tersenyum saat dengan sigap Jongin memberikannya handuk. "Aku tidak melakukan hal ini untuk dia, tapi untuk diriku sendiri."

Jongin menghela nafas dan menatap ketiga temannya yang sedang bencengkrama. Bagaimana jika posisi Jongin ditukar oleh Kyungsoo.

"Maaf jika aku selalu menempatkan diri di posisi Kyungsoo," Jongin menatap Yifan dengan mata terhalang kacamata hitam. "Kalau aku benar-benar menyukaimu bukankah kau justru membuatku salah paham? Aku yakin kau tidak melihatku sebagai kekasih."

"Apa kau melihatku seperti sepasang kekasih?" Yifan bertanya saat Jongin membuka kaca mata hitamnya.

"Sedikit," jujur saja Jongin ragu macam ini karena takut sakit hati. Takut Yifan akan mencampakannya dan membuatnya tampak bodoh karena mengharapkan Yifan. "Seperti saat aku menemukan anjing jalanan dan semua orang memintaku untuk menjaganya."

"Oh, aku seperti anjing jalanan?" tanya Yifan dengan nada terkejut. Jongin tertawa dengan kesal dan mengeluh pelan, bukan itu maksud Jongin. "Baiklah aku mengerti." Yifan mengusak kepala Jongin dengan pelan. "Kita sepakat untuk mencoba kan?" tanya Yifan.

"Mencoba saja kau membuat satu komunitas geger," celetuk Jongin yang membuat Yifan tersentak. "Bagaimana jadinya kalau kau bertemu dengan orang yang membuatmu jatuh cinta," Jongin memainkan handuk yang Yifan sampirkan di bahunya. "Pamer bukan hal yang aku sukai apalagi kita hanya sedang mencoba."

Yifan tersenyum pelan melihat Jongin yang resah. Tangan Jongin kini bergantian memainkan kaca mata hitam pinjamannya. Tapi lebih dari itu, saat mantan kekasihnya lebih suka mengikuti cara dan ritmenya. Jongin lebih suka bertanya dan membuatnya berhenti sejenak. Jongin tidak sedang mengikuti ritmenya atau memaksa Yifan mengikuti ritme Jongin. Tapi Jongin seolah sedang mencari ritme yang tepat untuk bisa keduanya lakukan.

Tangan Yifan yang awalnya mengusap kepala Jongin turun menjadi menyentuh pipi Jongin. Si pria berkulit tan itu hanya menatap Yifan tanpa takut atau ragu sama sekali. Meski pun tahu apa yang akan Yifan lakukan. Jongin tahu apa yang akan Yifan lakukan. Jadi sebelum bibir Yifan mendarat, Jongin memalingkan wajahnya. Menolak Yifan..

"Kau menolakku di depan semua orang?" tanya Yifan yang membuat Jongin menoleh dan menatap Yifan dengan terkejut. "Kau tidak menolakku saat di gallery," Yifan jelas sekali menuntutnya. "Kau ingin membuatku malu?" Yifan masih memberikan serangan yang membuat Jongin tidak enak.

Jongin melirik bibi Yifan dan mengecup pelan bibir orang yang terus mengoceh.

"Puas?" tanya Jongin. Yifan hanya tersenyum pelan sebelum membalas kecupan Jongin. "Tukang pamer." Keluh Jongin sambil beranjak berdiri untuk meninggalkan Yifan.

.ILYD.

"Aku masih tidak yakin Sehun benar-benar membuat ayah dan sahabatnya sendiri menjadi sepasang kekasih." Baba akhirnya menemukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan Jongin. Karena ia tidak bisa membicarakan hal ini jika Kyungsoo dan Baekhyun malah sibuk menyudutkan Jongin. Untung saja Kyungsoo dan Baekhyun menawarkan diri untuk membantu anggota komunitas yang lain untuk menyiapkan makan malam. "Bahkan jika ayahku gay aku tidak berpikir sedikit pun akan menjodohkanmu."

"Sebenarnya aku juga bingung," Jongin memeluk lututnya sendiri saat angin malam berhembus.

"Dan aku yakin, tadi itu bukan ciuman pertamamu dengan Kris Ge kan?" Baba ingat bagaimana Jongin menolak namun pada akhirnya mengecup bibir Yifan.

Jongin bukannya menjawab malah mengeluh pelan, "Ini mungkin rasanya mengencani om-om." Jongin menggosok lengannya yang entah kenapa seperti tersengat aliran listrik kecil.

"Bukan Sugar Daddy?" Baba hanya memastikan. Tapi melihat cara Jongin yang tertawa ringan sebagai tanggapan membuat Baba sedikit lega.

"Apa aku terlihat seburuk itu?" Jongin bertanya dengan nada murung.

"Untuk beberapa orang." Baba masih ingat saat Jongin dan Yifan bermain Sugar Dady dan Sugar Baby di Thailand.

"Menurutmu?" Jongin menatap Baba dengan tatapan meminta sebuah jawaban jujur.

"Aku tahu kau bukan orang yang seperti itu, Kyungsoo dan Baekhyun juga pasti setuju denganku."

Jongin mengangguk dan menarik nafasnya dengan dalam. "Itu sudah cukup untukku," Jongin tersenyum saat Baba menatapnya dengan heran. "Aku tidak peduli dengan pendapat orang lain, tapi aku peduli dengan pendapat kalian, aku tidak mau kalian salah paham."

"Khas seorang Kim Jongin." Gumam Baba pelan sambil meminum minumannya. Dalam lingkup pertemanan Jongin, Baba merupakan orang yang paling toleransi dengan minuman beralkohol. "Kau tidak minum?" tanya Baba yang melihat Jongin hanya menegak segelas soda.

"Aku satu kamar dengan Kris-ge." Jawab Jongin dengan meringis yang membuat Baba tertawa terbahak-bahak. Reaksi Baba membuat Jongin merajuk.

"Kau takut padaku?" pertanyaan itu tidak hanya membuat Jongin terkejut. Baba saja sampai tersedak. Hingga Jongin refleks mengusap punggung Baba. "Bukankah lebih berbahaya jika hanya aku saja yang mabuk?" Yifan bertanya dengan cara yang membuat seorang Baba pun terperangah. "Aku bercanda." kekeh Yifan sambil menyampirkan jaket Jongin di atas pundak Jongin.

Oh, Yifan pasti mengambil di sandaran kursi yang sengaja Jongin gantung dengan asal.

Baba diam-diam melirik Jongin yang memakai jaketnya tanpa berkomentar apa pun. Jongin bahkan tidak mengikuti Yifan yang berkumpul dengan anggotanya. Karena Baba terus mengamati Jongin, orang yang diamati langsung menatap Baba dengan tidak suka.

"Apa?" tanya Jongin dengan judes.

"Kau tidak menghampiri kekasihmu?" tanya Baba heran.

"Memangnya harus ya?" tanya Jongin heran. "Aku kan bukan ekornya."

Baba merupakan salah satu anggota terlama di komunitas. Ia termasuk anggota yang bergabung saat komunitas ini dibentuk. Setiap kekasih Yifan selalu membuntuti kemana pun Yifan pergi. Berusaha akrab dengan teman-teman Yifan terutama Luhan dan Suho. Tapi Jongin sepertinya tidak perlu bersusah payah seperti itu. Suho merupakan kekasih kakaknya, sedangkan Luhan justru mencoba mendekati Kyungsoo melalui Jongin. Biasanya ada satu pihak yang mengalah atau sama-sama mengalah agar bisa beriringan. Tapi Yifan dan Jongin tidak melakukan hal macam itu. Mereka masih berada dijalurnya masing-masing meski beriringan. Hubungan yang sedikit aneh sebenarnya, mereka terikat namun begitu longgar.

"Sudah selesai menganalisis?" tanya Jongin sambil menatap Baba dengan tangan menopang dagu. "Apa kesimpulannya?"

"Apa kalian benar-benar saling jatuh cinta?" Baba bertanya dengan tatapan menuduh.

Jongin refleks menatap Yifan yang langsung sadar tengah ditatap oleh kekasihnya sendiri. Jongin selalu terpukau dengan kepekaan Yifan. Jongin melirik Baba sebelum akhirnya kembali menatap Yifan yang tengah memamerkan senyuman tampannya. Hingga membuat Jongin ikut tersenyum.

"Kalau hubungan ini berubah menjadi serius maka belum," jawaban Jongin tentu membuat Baba bingung. "Tapi jika hubungan ini gagal, maka jawabannya tidak."

"Apa ini demi Sehun?" Baba tentu ingat alasana Yifan dan Jongin pernah saling bertengkar.

"Bukan, tapi demi diriku sendiri."

.ILYD.

Sialnya, Jongin melupakan satu hal. Ia pikir ini sudah berakhir dan ternyata belum sama sekali. Tapi Jongin hanya merasa bahwa rasa galau yang terlalu lama dipendam bukan sesuatu yang baik. Jongin tidak yakin apa ia benar-benar sudah tidak memiliki rasa pada Chanyeol. Atau ia benar-benar sudah membuka hatinya pada Yifan. Tapi harus ia akui bahwa berpisah dengan Chanyeol merupakan kepastian. Dan bersama dengan Yifan merupakan sebuah langkah awal yang memiliki kejelasan.

Yifan pernah menatapnya dengan tatapan ini. Meski ia tidak bisa menerjemahkannya dengan sempurna. Tapi artinya lain untuk Chanyeol, tatapan menggelap itu lebih dari sekedar marah, kecewa juga murka. Jongin tidak siap dan tidak mau siap untuk kembali ke rumah sakit yang sama. Selain karena rasanya sakit, itu berarti ia juga harus bertemu dengan Xiumin.

"Aku memang pernah berkata bahwa aku akan mundur jika kau bersama Yifan," Chanyeol berkata dengan kaku karena rahangnya yang mengeras. Jongin justru terlihat tampak gugup karena ketakutan. "Tapi karena aku pikir kau dan Yifan merupakan hubungan yang tidak akan mungkin terjadi."

Tapi ternyata Chanyeol salah. Lalu, apa itu salah Jongin?

"Apa yang kau lakukan pada kekasihku?!" teriakan murka itu jelas membuat Jongin bernafas lega meski kemudian ia meringis pelan.

Ada dua pilihan yang bisa Jongin lakukan saat menemukan Yifan datang dengan tubuh berbanjirkan keringat. Menciumnya dengan dalam atau memakinya dengan keras karena dengan sebegitu bodohnya datang ke tempat macam ini.

.ILYD.

.

.

.

TIE/END

TBC