You and I

EXO Fanfiction

Pairing: ChanKai

Cast: Chanyeol, Kai (Jongin), Chen, and others

Rating: T-M

Warning: YAOI, M-preg

Halo semua ini chapter dua belas terimakasih sudah mau membaca cerita saya yang semakin aneh, maaf update lama karena WB ini masih berjuang untuk sembuh. Maaf atas segala kesalahan, selamat membaca dan sampai jumpa di chapter selanjutnya….

Previous

Jongin langsung menarik kursi kayu, duduk, menyalakan komputer milik Chen, jari-jarinya bergerak-gerak gelisah, sesekali juga ia menggigiti bibir bawahnya. Setelah komputer aktif dan langsung tersambung pada internet Jongin langsung membuka emailnya, mengambil Burung Bangau di dalam saku celananya, mengetikan alamat situs yang tak terbaca tadi dan mengirimkannya pada alamat email Marcus. Setelah yakin emailnya terkirim, Jongin langsung keluar kemudian menghapus data penjelajahan.

"Jongin aku semakin curiga dengan sikapmu."

"Tidak ada apa-apa Hyung, aku hanya mencoba menghubungi teman-teman lamaku di Amerika, siapa tahu mereka memiliki berita tentang lowongan pekerjaan yang menjajikan di sana."

Chen melempar tatapan penuh kecurigaan. "Kau pikir aku percaya dengan semua yang kau ucapkan, dan aku yakin Chanyeol tak akan mengijinkanmu pergi jauh."

Jongin menggigit pelan bibir bawahnya, menimbang-nimbang apakah Chen harus diberitahu. "Maaf Hyung, tapi aku tidak bisa memberitahukan hal ini pada Hyung." Tidak, siapapun tidak boleh mengetahui rencananya.

"Jongin."

"Ya?"

"Hentikan kebiasaanmu bermain api, jangan terlalu memikirkan orang lain sesekali kau boleh bersikap egois." Jongin hanya tersenyum mendengar kalimat yang dipenuhi dengan kecemasan dari sang kakak.

"Sebaiknya kita keluar, Kimbapnya mungkin sudah siap dan aku tidak mau ditanya macam-macam oleh Taemin dan Chanyeol." Chen mengangguk pelan, Jongin membuka kunci pintu, membuka pintu dan melangkah keluar.

Chen melihat riwayat panggilan pada ponselnya, sial, Jongin sudah menghapusnya. "Kau benar-benar anak yang cerdas Kim Jongin." Chen menggumam pelan.

BAB DUA BELAS

Taemin terlihat sangat antusias ia berdiri menggunakan kursi di dekat konter dapur, melihat ibu Jongin menggulung Kimbap. "Kau sudah selesai melepas rindu dengan kakakmu?" Chanyeol langsung bertanya melihat kedatangan Jongin.

"Ya." Jongin membalas singkat, kemudian berdiri di samping Taemin yang perhatiannya sudah tersita pada acara menggulung Kimbap. Chanyeol hanya mendengus diabaikan oleh Jongin.

"Kau sudah tidak sabar?" Jongin bertanya sambil melirik Taemin, melihat ekspresi wajah anak itu, Jongin tersenyum kala melihat Taemin menelan ludah. "Apa masih lama Ibu?"

"Sebentar lagi, apa kau sudah tidak sabar?"

"Taemin yang tidak sabar."

"Ah benarkah?!" Nyonya Kim menoleh pada Taemin kemudian menggoda anak itu. Taemin tertawa cekikikan kemudian dia mengangguk cepat. "Sebentar lagi siap, sabar ya, Sayang." Taemin mengangguk antusias. Jongin mengacak rambut Taemin perlahan kemudian ia memutuskan untuk duduk dan membiarkan ibunya memanjakan Taemin.

"Apa kau lelah?" Chanyeol langsung bertanya kala melihat Jongin duduk di sampingnya.

"Tidak, aku hanya membiarkan Ibu dan Taemin lebih dekat." Balas Jongin.

"Ayah, aku butuh bantuanmu!" Pekik Chen dari arah toko.

"Dia selalu membuat heboh," gerutu Tuan Kim yang disambut oleh senyuman dari Jongin dan Chanyeol. "Aku pergi dulu membantu Chen di toko. Jongin dan Chanyeol mengangguk hampir bersamaan memberi izin pada tuan Kim, ayah Jongin untuk pergi meninggalkan meja makan.

"Ibumu suka dengan anak kecil."

"Apa maksudmu? Bukankah seluruh ibu di dunia pasti menyukai anak kecil.

"Tidak juga."

"Ada yang seperti itu?"

"Ibu yang membuang anak mereka, tentu saja tidak mencintai anak mereka."

Jongin terdiam memerhatikan ekspresi wajah Chanyeol. "Aku yakin mereka mencintai anak-anak mereka, hanya saja keadaannya tidak memungkinkan."

"Ya, mungkin." Chanyeol membalas pelan. "Kita tidak bisa menginap di sini, tidak apa-apa kan?"

"Tidak masalah, kita tunggu sampai Kimbap buatan ibuku selesai dulu." Chanyeol mengangguk menyanggupi permintaan Jongin. "Apa?" Jongin benar-benar heran saat Chanyeol menarik-narik kursi yang didudukinya.

"Mendekatlah padaku."

"Mendekat?"

"Ya." Balas Chanyeol, mengabaikan keheranannya Jongin memilih untuk menuruti perintah Chanyeol, ia berdiri dari kursinya dan Chanyeol langsung menarik kursi itu mendekat, berhimpitan dengan kursi yang ia duduki, tak menyisakan ruang sama sekali. Jongin kembali duduk, sisi kiri dan sisi kanan tubuh keduanya bersentuhan, Chanyeol langsung melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Jongin. Baiklah, sikap Chanyeol memang selalu aneh Jongin memutuskan untuk tidak memikirkannya.

"Kimbapnya selesai!" Pekikan Taemin membuyarkan pemikiran Jongin tentang Chanyeol, ia langsung memerhatikan Taemin yang nampak sangat puas memamerkan gulungan Kimbap cantik di atas piring. Chanyeol melepaskan pelukannya pada pinggang Jongin kemudian berdiri. Taemin mengamati wajah sang ayah dengan was-was.

"Taemin kita haru pulang sekarang, Ayah ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan."

"Aku boleh menginap di sini dengan Ibu Jongin kan Ayah?"

"Tidak Taemin, besok Taemin ada kelas." Bibir Taemin langsung mengerucut mendengar kalimat ayahnya.

"Besok setelah kelas selesai kita jalan-jalan, bagaimana?" Jongin memberi penawaran pada Taemin, meski ia mendengar desisan pelan Chanyeol yang tak menyetujui usulannya Jongin tak peduli.

"Baiklah." Taemin menurut meski kekecewaan masih jelas terdengar.

"Anak pintar." Puji Chanyeol sambil mengacak rambut Taemin.

"Kemari biar Nenek masukkan ke kotak makan Kimbapnya." Taemin mengangguk pelan ia serahkan piring berisi Kimbap itu kepada nyonya Kim, yang telah menyebut diri beliau sendiri dengan sebutan Nenek

Taemin berlari menghampiri Jongin yang sudah memegangi jaketnya. "Kemari, pakai jaketmu."

"Hmmm." Taemin hanya menggumam, Jongin tersenyum simpul memakaikan jaket Taemin, mengancingkannya kemudian mencubit kedua pipi putih Taemin.

"Lain kali kita menginap di sini bagaimana?" Bisik Jongin, Taemin tersenyum tipis kemudian mengangguk antusias.

Taemin mencondongkan tubuhnya pada Jongin yang kini berjongkok di hadapannya, berbisik pada telinga kiri Jongin. "Janji?"

"Janji." Senyuman Taemin semakin lebar mendengar jawaban dari Jongin.

"Kimbapnya selesai Nenek masukan ke dalam kotak makan." Taemin menoleh cepat ia menerima kotak makan berwarna oranye dari ibu Jongin dengan antusias.

"Terimakasih banyak—Nenek." Taemin sedikit ragu memanggil nenek namun pada akhirnya anak laki-laki delapan tahun itu memanggil nyonya Kim dengan panggilan Nenek. Ibu Jongin tertawa bahagia.

"Aku ingin memiliki cucu laki-laki." Ucapan Nyonya Kim membuat Jongin hampir tersedak ludahnya sendiri sedangkan Chanyeol hanya tersenyum tanpa dosa.

Jongin berdiri dan mendekati sang ibu, memeluk beliau dengan erat. "Ibu aku pergi dulu."

"Berjanjilah untuk sering-sering berkunjung."

"Tentu."

"Pembohong."

"Kali ini tidak, aku akan sering berkunjung." Jongin tersenyum mencoba merayu ibunya, ibunya memang sering merajuk dan itu sangat merepotkan.

"Janji?" Jongin mengerutkan dahinya. "Baiklah kau tidak mau berjanji untuk ibumu sendiri."

"Aku janji."

Nyonya Kim tersenyum bahagia mendengar ucapan putranya. "Jaga dirimu baik-baik Jongin, ingat kau membawa nyawa lain."

"Ibu sudah tahu?" Jongin berbisik.

"Ayolah Jongin, ibumu ini sudah memiliki dua anak, ah tiga."

"Aku menyayangi Ibu." Ucap Jongin cepat kemudian mencium kedua pipi ibunya, dia tidak mau melihat ibunya yang selalu bersedih mengingat adik perempuannya yang meninggal sesaat setelah dilahirkan.

"Ayo Ibu antarkan kalian sampai di depan pintu, ayahmu dan Chen pasti masih sibuk sekarang karena mereka tidak segera kembali."

Taemin mengangkat kedua tangannya, meminta Chanyeol untuk menggendongnya. Chanyeol menuruti permintaan sang putra mengangkat tubuh Taemin dengan mudah. Taemin melingkarkan kedua tangannya di leher Chanyeol dan menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Chanyeol. Chanyeol menyerahkan kotak makan Taemin kepada Jongin.

"Kalian tidak menginap?"

"Maaf Ayah." Jongin menjawab dengan nada penuh penyesalan.

"Baiklah, sering-seringlah berkunjung dan jaga dirimu baik-baik."

"Ya." Jawab Jongin singkat ia langsung memeluk ayahnya erat, kemudian Jongin memeluk kakak laki-lakinya.

"Jaga dirimu Jongin," bisik Chen ketika dirinya berpelukan dengan sang adik.

Chanyeol memeluk tuan dan nyonya Kim kemudian dia menepuk bahu kanan Chen dan tersenyum lebar. "Sampai jumpa lagi semuanya." Ucap Chanyeol sambil melambaikan tangannya kepada tiga orang yang mengantar kepulangan mereka. Setelah berpamitan dengan tuan Kim dan Chen. Chanyeol, Jongin dan Taemin bergegas memasuki mobil kali ini Taemin tidak marah ketika Jongin duduk di depan karena Taemin sudah sibuk memakan Kimbap.

"Kenapa Ayah ingin dekat-dekat dengan ibu Jongin?"

"Kenapa? Memang tidak boleh?" Chanyeol tidak memberi jawaban justru sebaliknya ia malah menggoda putranya.

Taemin hanya mengerucutkan bibirnya dan kembali memakan Kimbap tak peduli dengan ayahnya yang menggoda tadi, karena Kimbap lebih penting dibanding ayahnya. Lima belas menit kemudian mereka sampai di depan kediaman Chanyeol. "Dia…,"gerutu Chanyeol saat melirik ke belakang dan mendapati Taemin tertidur dengan sisa rumput laut yang masih menempel di bibirnya. "Turunlah, biar aku yang membawa Taemin masuk." Jongin mengangguk pelan dan turun menuruti perkataan Chanyeol.

Jongin hanya meminum susu yang sudah disediakan di atas konter dapur, pikirannya benar-benar penuh sekarang ia harus mencari cara untuk bisa melihat emailnya mungkin saja Marcus sudah mengirimkan sesuatu kepadanya. Karena pikiran penuh itu, Jongin bahkan menghabiskan susunya. "Oh aku lupa!" Pekik Jongin, cepat-cepat ia letakkan gelas kosong itu ke atas konter dan bergegas ke kamar tak ingin bertemu dengan Chanyeol sekarang dan menjawab pertanyaan-pertanyaan merepotkan dari Chanyeol.

Sesampainya di kamar, Jongin melepas mantel hijau tua yang membalut tubuhnya, menjaganya tetap hangat. Ia berdiri di depan jendela kaca berukuran besar mengamati taman indah milik Chanyeol. "Apa yang harus aku lakukan setelah ini?" Jongin berbisik pada dirinya sendiri. Marcus adalah orang yang mudah penasaran jika ada sesuatu yang harus dipecahkan ia akan melakukannya dengan serius, orang itu bahkan pernah membobol komputer kampus dan dia tidak tidur selama dua hari saat melakukan misi itu. Jongin yakin membobol situs berita bukan hal sulit untuk Marcus, dia yakin Marcus sudah mengetahui hasilnya.

"Jongin."

"Ah Chanyeol!" Jongin langsung berbalik dan menatap wajah Chanyeol dengan ekspresi kaget.

"Maaf, aku mengagetkanmu." Jongin tak menjawab meski Chanyeol melempar tatapan penuh kecurigaan padanya, perlahan Chanyeol melangkah mendekati Jongin. "Ada sesuatu yang mengganggumu?"

"Tidak—tidak ada apa-apa."

"Jangan bohong Jongin."

"Aku tidak sedang berbohong Chanyeol, jangan mengambil kesimpulan sendiri." Jongin melangkah pergi dari hadapan Chanyeol. "Ah!" Jongin tersentak saat Chanyeol memeluknya dari belakang dengan tiba-tiba. "Jangan menyembunyikan sesuatu dariku Jongin."

"Apa kau melakukan hal ini pada Kai juga?" Jongin tak langsung mendapatkan jawaban, Chanyeol justru meletakkan dagunya pada bahu kanan Jongin. "Chanyeol."

"Aku tidak ingin menjawabnya."

"Kenapa?"

"Aku tidak ingin menjawabnya."

Jongin menundukkan kepalanya melihat bagaimana kedua lengan Chanyeol memeluknya dengan erat. Chanyeol memejamkan kedua matanya, menghirup aroma tubuh Jongin dalam-dalam, entah mengapa dia ingin menangis sekarang, perasaannya tak menentu, ada sesuatu yang akan terjadi, firasatnya tak pernah salah selama ini. "Jangan pergi Jongin," lirih Chanyeol berbisik.

"Aku tidak akan pergi."

"Kai juga mengatakan hal yang sama, tapi dia pergi." Jongin menelan ludahnya kasar, ia mulai bimbang apa harus menyimpan semua kebenaran tentang hubungan Kai dengan Sehun atau menyimpannya untuk diri sendiri.

Jongin menggenggam telapak tangan Chanyeol yang memeluk tubuhnya. "Aku tak akan pergi Chanyeol."

"Terimakasih Jongin."

"Hmm, kau menangis Chanyeol?" Chanyeol tak menjawab, Jongin memilih bungkam saat ia merasa lebih banyak air mata yang membasahi bahunya.

"Kau lapar?" Setelah hening beberapa saat akhirnya Chanyeol angkat bicara, Jongin menggeleng pelan menjawab pertanyaan Chanyeol. "Tapi kau harus tetap makan."

"Aku tahu."

"Makanlah kemudian tidur, aku harus mengerjakan beberapa hal dulu. Kau menghabiskan susumu sendirian? Apa tugasku sudah selesai?"

"Belum, aku hanya tidak sadar tadi sudah meminum semuanya."

"Baiklah, jaga dirimu baik-baik."

"Hmm," gumam Jongin. Chanyeol melepaskan pelukannya kemudian melangkah pergi tanpa menoleh kepada Jongin. Jongin mengerutkan kening, heran dengan sikap Chanyeol.

.

.

.

Setelah makan dengan porsi kecil, Jongin memilih mandi air hangat dan tidur. Otaknya sudah lelah menyusun strategi sebelum terlelap ia berhasil menemukan cara yang tepat untuk membuka koneksi internet dan mengecek emailnya dengan aman.

Jongin menggeliat pelan, ia berniat merenggangkan otot-ototnya yang kaku selama terlelap, namun hal itu terhenti saat dirinya merasakan sesuatu yang melingkari pinggangnya. "Chanyeol," Jongin berbisik sambil memandangi tangan Chanyeol yang melingkari pinggangnya.

"Selamat pagi." Chanyeol menyambut dengan suara serak khas bangun tidurnya. Jongin tersenyum kemudian mengubah posisi berbaringnya, miring menghadap Chanyeol.

"Selamat pagi." Balas Jongin.

"Kau tidur nyenyak?" Chanyeol bertanya sambil menyingkirkan poni Jongin. Jongin mengangguk pelan. "Baguslah," jawab Chanyeol.

"Pukul berapa pekerjaanmu selesai?"

"Dua pagi, aku tidak membangunkanmu saat naik ke tempat tidur kan?"

"Tidak, kau tidak membangunkanku aku bahkan tidak sadar kau naik ke tempat tidur." Chanyeol tertawa pelan mendengar jawaban Jongin.

"Chanyeol setelah kelas Taemin selesai , apa aku boleh mengajaknya keluar?"

"Kemana?"

"Perpustakaan kota, tidak jauh dari rumah ini kurasa Taemin butuh suasana belajar yang berbeda."

"Haaah," Chanyeol hanya mendesah.

"Kau sudah berjanji untuk mengijinkan kami keluar tanpa pengawal jika keadaanku sedang sehat. Aku sudah sehat Chanyeol, aku janji akan menghubungimu jika ada sesuatu yang tidak beres."

"Baiklah, baiklah, Jongin kau memang keras kepala." Jongin tersenyum lebar menanggapi ucapan Chanyeol yang terdengar jelas kekesalannya.

"Aku akan bersiap-siap sambil menunggu kelas Taemin selesai, dan kau jangan menambah jam belajar Taemin atau aku akan marah." Jongin mengancam sambil menunjuk wajah Chanyeol dengan telunjuk kanannya.

"Hei, belum pernah ada yang berani mengancamku." Chanyeol membalas Jongin dengan nada memperingatkan.

"Dengarkan ucapanku tadi jangan melanggarnya."

"Baiklah…," Chanyeol menggerutu sambil menggenggam tangan Jongin dan menurunkannya. "Bersiap-siaplah dan katakan pada Lay hyung untuk membangunkanku tiga jam lagi."

"Oke." Balas Jongin kemudian tertawa pelan, Chanyeol juga ikut tertawa kemudian ia mengecup kening Jongin sebelum berbalik memunggungi Jongin dan kembali memejamkan kedua matanya menjemput mimpi.

Jongin turun dari tempat tidur, ia membuka lemari pakaian Kai yang kini telah menjadi miliknya dan mengambil baju ganti. Chanyeol sudah membelikannya pakaian jadi dia tak perlu lagi memakai pakaian Kai, Jongin memutuskan untuk mandi di kamar Taemin sambil menunggu anak itu selesai dengan kelas yang pasti menyiksanya. Menurut Jongin sebenarnya.

Seperti biasa Lay sudah duduk di meja makan dengan koran pagi dan secangkir kopi. Lay langsung tersenyum melihat Jongin yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian di tangannya. "Selamat pagi Jongin."

"Selamat pagi Lay hyung."

"Kenapa membawa pakaian?"

"Aku ingin mandi di kamar Taemin dan menghabiskan waktu dengannya, oh ya Chanyeol berpesan untuk membangunkannya tiga jam lagi."

"Kau ingin pergi ke suatu tempat?"

"Rencanaku seperti itu tapi terserah Taemin, jika dia lelah aku tidak akan jadi pergi."

"Kau ingin pergi kemana?"

"Perpustakaan kota dan toko mainan, itu dua tempat yang ingin dikunjungi Taemin."

"Butuh teman?"

"Tidak, Chanyeol mengijinkan kami untuk pergi berdua. Aku mandi dulu Hyung." Jongin tersenyum kemudian melangkah cepat menuju kamar Taemin. "Lay hyung berhentilah banyak bertanya atau aku akan semakin mencurigaimu." Bisik Jongin pada dirinya sendiri.

.

.

.

"Taemin!" Jongin baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Taemin sudah duduk di atas tempat tidurnya, nampak siap dengan jaket cokelat membalut tubuhnya serta sepatu putih polos. "Wow, kau sudah tahu rencanaku?"

"Ya, ayo pergi sekarang."

"Taemin sudah makan?"

"Sudah, Taemin makan dengan cepat tadi, ayo pergi ke perpustakaan kota dan membeli mainan."

"Siapa yang memberitahumu."

"Paman Lay."

"Ah tentu saja," Jongin menggumam pelan. "Baiklah kita segera berangkat, tapi aku sarapan dulu ya." Taemin mengangguk antusias ia melompat turun dari tempat tidur kemudian memeluk Jongin erat.

"Taemin tunggu di meja makan!" Taemin memekik bahagia, Jongin tersenyum ia menoleh ke arah meja belajar Taemin, di sana ada kotak cokelat dari kardus, penasaran Jongin melihat apa isi kotak itu. Burung Bangau kertas, Jongin tersenyum tipis ternyata anak itu benar-benar serius ingin membuat seribu burung. "Empat puluh burung, masih jauh Taemin semoga berhasil."

Jongin bergegas keluar dari kamar Taemin kemudian berjalan menuju meja makan. Di sana hanya ada Taemin. "Dimana Lay hyung?"

"Ada urusan."

"Ah, urusan dengan ayahmu?"

"Tidak, paman Lay punya ruangan kantor sendiri di rumah ini jika tidak sedang bekerja dengan Ayah, paman Lay sering menghabiskan waktu di sana kecuali waktu minum kopi, minum teh, atau waktu makan paman Lay sering bergabung dengan kami di meja makan tapi paman Lay juga sering makan di ruangannya sendiri." Taemin menjelaskan panjang lebar, Jongin memerhatikan setiap kata yang Taemin ucapkan dengan seksama.

"Ah baiklah." Putus Jongin tak ingin membuat Taemin menunggu lama dia juga harus bergegas sebelum ada orang yang menghalanginya. Di konter dapur ada kentang panggang dengan potongan daging panggang yang dicampur menjadi satu. "Taemin mau?" Jongin menawarkan menu makanannya kepada Taemin, namun Taemin menolak makanan yang Jongin tawarkan dan jangan lupakan bagaimana ekspresi wajah jijiknya.

"Taemin akan pergi mengganggu Ayah."

"Tidak Taemin…," Jongin berniat mencegah Taemin namun anak itu sudah lebih cepat berlari meninggalkan ruang makan. "Pasti menjadi masalah," gerutu Jongin ia raih garpu dan mulai memakan sarapannya perlahan.

"Kau tidak ingin membaginya denganku?" Jongin menoleh ke belakang dan mendapati Chanyeol dengan pakaian rapi, wajah segar, dengan Taemin dalam gendongannya.

"Aku pikir kau akan bangun tiga jam lagi."

"Taemin menggangguku." Balas Chanyeol sambil berjalan mendekati meja makan, meraih gelas susu Jongin setelah sebelumnya menurunkan Taemin ke atas kursi kayu meja makan. "Bagianku setengah."

"Ya." Jongin menjawab singkat. Ia perhatikan bagaimana Chanyeol meminum susu di dalam gelas. Chanyeol menyerahkan gelas susu yang tersisa setengah kepada Jongin.

"Minumlah, aku akan mengantar kalian ke perpustakaan kota, tidak ada bantahan Jongin atau kau tidak kuijinkan untuk keluar." Jongin hanya mendesis malas mendengar perintah arogan dari Chanyeol.

.

.

.

Chanyeol benar-benar bersikeras mengantar Jongin dan Taemin ke perpustakaan kota, Jongin sempat menolak namun ia sadar melawan Chanyeol tidak akan pernah berakhir dengan baik, daripada berdebat panjang lebar Jongin memilih untuk mengalah. "Jongin, jika terjadi sesuatu atau kau merasa tiba-tiba tidak enak badan langsung hubungi aku, mengerti?"

"Aku mengerti, sekarang biarkan aku dan Taemin turun semakin cepat kami turun dari mobil semakin cepat kami masuk ke perpustakaan dan semakin cepat pula kami pulang."

"Baiklah…," jawab Chanyeol tak tulus. Jongin tak peduli ia mengecup singkat pipi kanan Chanyeol kemudian turun dari mobil. Temin yang sudah tidak sabar langsung membuka pintu mobil, melompat turun, dan berlari-lari kecil menghampiri Jongin.

"Kau siap?" Jongin pandangi wajah imut Taemin, Taemin mengangguk antusias membuat Jongin tersenyum. Keduanya melangkah memasuki pintu perpustakaan dengan bergandengan tangan.

Dari dalam mobil Chanyeol melihat pemandangan itu dengan bahagia, ia hanya berharap tidak akan terjadi apa-apa pada keluarganya kini. Setelah memastikan keduanya memasuki gedung perpustakaan Chanyeol bergegas meninggalkan halaman depan perpustakaan, pekerjaannya tadi malam masih belum tersisa sedikit dan hari ini ia bertekad akan membereskan semuanya.

"Taemin ke bagian buku anak-anak ya?"

"Di sana ada mainannya?"

"Itu untuk anak di bawah tujuh tahun." Bibir Taemin mengerucut, lagi-lagi merajuk. "Setelah semua selesai kita bisa pergi ke tempat lain, Taemin ingin apa?"

"Mainan."

"Haah," desah Jongin. "Baiklah." Jawab Jongin meski setelah ini ia yakin akan terlibat perdebatan kecil dengan Chanyeol. "Ayo." Ajak Jongin pada Taemin, ia akan mengantar Taemin ke bagian buku anak-anak yang kebetulan berada di lantai satu.

Bagian buku anak-anak cukup sepi hanya ada tujuh anak di sana. "Taemin mau melepas jaket?"

"Tidak, aku pergi dulu ya setelah Ibu selesai dengan semuanya susul Taemin ke sini ya?"

"Tentu, sayang. Jika Taemin sudah selesai dan Ibu belum selesai, aku ada di bagian pencarian, yang banyak komputernya." Balas Jongin menerangkan kemudian mengusak pelan rambut Taemin. "Jangan lupa lepas sepatumu."

"Ya." Taemin membalas mantap, ia langsung melepas sepatunya dan bergabung dengan anak-anak lain. Jongin berdiri di tempat selama beberapa saat memastikan Taemin baik-baik saja karena Taemin hampir tidak pernah bertemu dengan anak lain. Setelah yakin Taemin merasa nyaman dan dia baik-baik saja, Jongin bergegas pergi.

Kira-kira ada dua puluh komputer yang disediakan pihak peprustakaan, hanya ada tiga orang di sana yang terlihat menggunakan komputer. Pengunjung lain lebih suka memanfaatkan fasilitas wifi menggunakan ponsel atau laptop mereka. Jongin memilih pojok ruangan agar dirinya luput dari perhatian.

Jongin merasakan kedua telapak tangannya dengan cepat lembab oleh keringat, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat berkali-kali ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri. Jongin langsung masuk ke alamat emailnya, ada email masuk dari Marcus dengan nama samaran Ugly BOY. Ada alamat situs yang terboklir. "Baiklah mari kita lihat apa yang disembunyikan," Jongin berbisik pada dirinya sendiri.

Penyelidikan kasus kecelakaan maut yang menewaskan istri Park Chanyeol dihentikan, dengan hasil bahwa peristiwa ini murni kecelakaan sedangkan Lee Booyoung polisi yang memimpin penyelidikan kasus ini dipindah tugaskan dari kantor pusat ke kantor daerah dengan alasan pribadi, tidak ada hubungan atas kasus yang sempat di tanganinya.

"Hanya ini." Jongin menatap tak percaya, ia langsung keluar dan mencari nama Lee Booyoung. "Baiklah, ini cukup mudah, aku menemukanmu Lee Booyoung." Jongin mematikan komputer yang ia pakai setelah sebelumnya keluar dari mesin pencari serta menghapus jejak pencarian.

Jongin bergegas menemui Taemin. Anak itu sedang sibuk membaca dengan meja pendek di hadapannya, Jongin tersenyum setelah melepas kedua sepatunya ia duduk di samping Taemin. "Ibu."

"Sudah selesai?"

"Kita akan pergi ke suatu tempat?"

"Kita beli mainan, tapi selesaikan bukumu dulu." Taemin menggeleng cepat ia menutup bukunya kemudian memeluk Jongin erat.

"Kita pergi sekarang." Taemin benar-benar bersemangat.

"Baiklah, ayo, kita hubungi ayahmu dulu, tidak apa-apa kan?"

"Ya, hubungi saja Ayah."

"Hmmm, bagaimana jika Taemin pergi dengan Ayah saja?"

"Ibu mau kemana?"

"Mengunjungi teman lama."

"Ibu…," Taemin mulai merengek.

"Kau tunggu ayahmu di sini."

"Tidak. Taemin tidak mau." Jongin menatap wajah Taemin lekat-lekat, berpikir, mungkin membawa Taemin adalah ide bagus sebagai alibi. "Baiklah, ayo Taemin ikut Ibu."

"Ya." Taemin menjawab singkat diiringi senyuman.

"Kita membeli mainan setelah ibu selesai mengunjungi teman lama."

"Terserah Ibu saja." Jongin menggandeng tangan kanan Taemin keduanya berjalan bersama meninggalkan perpustakaan kota, Jongin menghentikan taksi dan keduanya masuk ke dalam setelah Jongin memberitahu alamat yang ingin dikunjunginya. Taemin menyandarkan kepalanya pada dada Jongin. "Teman lama Ibu tinggal dimana?"

"Tidak jauh dari sini."

"Dia bekerja?"

"Ya, Polisi."

"Wuah!" Taemin memekik senang. "Polisi?! Taemin ingin menjadi Polisi!"

"Kenapa?"

"Keren, apa Ayah mengijinkan Taemin untuk menjadi Polisi tidak ya?"

"Menurut Taemin?" Taemin menggeleng cepat dengan tatapan polosnya.

"Taemin jadi pengusaha yang keren saja, bagaimana?"

"Ide bagus, Taemin mau menjadi pengusaha yang keren seperti Ayah." Jongin tersenyum mendengar kalimat Taemin.

10 menit kemudian taksi yang membawa mereka sampai di pinggiran Seoul, tempat pemukiman padat penduduk. "Terimakasih." Ucap Jongin sambil membungkukkan badan pada si pengemudi taksi.

Lee Booyoung tinggal di atap di flat sempit berlantai dua. Jongin sendiri tidak tahu apa orang yang dicarinya ada di rumah, setidaknya dia harus memastikan bahwa Lee Booyoung benar-benar tinggal di tempat ini dan dia bisa pergi ke tempat ini lain waktu. "Taemin kita tanya Bibi itu." Ucap Jongin sambil menunjuk wanita paruh baya yang sedang menunggu toko kelontong.

"Bibi permisi."

"Ada yang bisa Bibi bantu, Nak?"

"Saya ingin bertanya apa Lee Booyoung masih tinggal di sini?"

"Oh si pemabuk itu, kau mencari untuk apa?"

"Untuk berterimakasih karena beliau membantu kakak saya beberapa waktu yang lalu dan saya belum sempat berterimakasih."

"Ah lega sekali kupikir kau orang yang menjalin hubungan dengannya dan dia tidak bertanggungjawab." Jongin mengerutkan dahi, kemudian ia mengikuti arah pandangan si Bibi pemilik toko. Taemin tentu saja, wajahnya dan Taemin sangat mirip.

Jongin tertawa pelan. "Bukan Bibi."

"Ya, dia masih tinggal di sana, biar Bibi antarkan kau ke sana Bibi tidak ingin kalian berdua kenapa-kenapa, hanya memastikan dia tidak sedang mabuk." Ucap Bibi itu cepat beliau langsung berbalik dan menutup toko kecil milik beliau dengan cepat. "Namaku Soojung."

"Terimakasih Bibi Soojung."

"Tak masalah."

Jongin merasakan cengkraman tangan Taemin yang menguat. "Tidak apa-apa Taemin." Bisik Jongin, Taemin mengangguk pelan, mencoba percaya dan dia memang akan selalu percaya dengan apa yang Jongin ucapkan.

Beruntung tangga yang dinaiki tak cukup tinggi, bibi Soojung langsung menekan bel, Jongin dan Taemin berdiri di belakang bibi Soojung. Pintu terbuka, Jongin sudah menutup kedua telinga Taemin berjaga-jaga jika kedua orang itu terlibat pertengkaran dan saling berteriak.

"Ada apa Bi?" Jongin benar-benar terkejut dengan kalimat sopan yang diucapkan laki-laki berwarjah menyeramkan itu.

"Booyoung mereka ingin bertemu denganmu."

Pandangan Jongin dan Booyoung bertemu, Jongin bisa melihat kekagetan pada wajah Booyoung. "Baiklah, Bi terimakasih banyak."

"Aku akan menunggu di sini berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak beres."

"Terserah Bibi saja. Masuklah kalian berdua, aku akan membiarkan pintu tetap terbuka."

Jongin mengangguk ia menarik pelan tangan Taemin namun Taemin menolak. "Jangan takut, kemarilah." Secara mengejutkan Booyoung berjalan mendekati Taemin dan menawarkan diri untuk menggendong Taemin. "Dia anak Kai?" Jongin mengangguk pelan. Taemin menolak di justru berlari ke arah bibi Sooyong. "Penampilanku memang menyeramkan," gerutu Booyoung. "Baiklah kita masuk ke rumahku sebentar, hanya sebentar saja."

Jongin melangkahkan kedua kakinya mengikuti Booyoung, tempat tinggal Booyoung sempit namun Jongin sudah terbiasa dengan semua itu sebelum Chanyeol mengubah tempat tinggalnya, rumahnya tak jauh beda dari Booyoung. "Dan kau siapa?"

"Jongin."

"Apa yang kau inginkan?"

"Mencari kebenaran."

"Darimana kau tahu namaku, tempat tinggalku, dan hubunganku dengan kasus kecelakaan Kai?"

"Membobol situs yang diblokir."

"Kau cerdas."

"Aku anggap itu sebagai pujian, terimakasih banyak."

"Seharusnya kau cukup cerdas untuk tidak terlibat, Jongin." Booyoung tersenyum miring. "Kau tidak bisa melakukannya," Booyoung tersenyum miring ia berjalan menuju meja kerja sempit, menarik laci paling bawah, mengorek-ngorek tumpukan dokumen kemudian melemparkan sesuatu pada Jongin.

Jongin menangkap benda itu dengan sigap. "FlashDisk?"

"Semua yang kau inginkan ada di sana. Pergilah, jangan libatkan aku, jangan sebut namaku, dan lupakan jika kita pernah bertemu."

"Keluarga Park melakukan sesuatu padamu?"

"Tidak—belum, dan aku tidak ingin hal itu terjadi."

"Kenapa kau membantuku?"

"Karena kebenaran harus diungkap, aku tidak mampu mengungkapnya jadi kuputuskan untuk menyerahkannya pada orang lain."

"Kau yakin aku bisa melakukannya?"

"Kau sudah sampai sejauh ini Jongin."

"Terimakasih banyak, Tuan Lee Booyoung."

Setelah keluar dari rumah Booyoung, Jongin memberikan sejumlah uang pada Soojung sebagai ucapan terimakasih kemudian bergegas pulang bersama dengan Taemin. "Kita pergi membeli mainan." Taemin mengangguk pelan, wajahnya yang tadi murung berubah ceria. "Taemin, jangan katakan ini pada ayahmu, mengerti?"

"Kenapa?" Taemin terlalu cerdas untuk dibohongi.

"Ini tentang Kai, ibumu, dan ayahmu tak akan suka mendengar tentang ini." Jongin memilih jujur pada Taemin. "Sudah lupakan saja, yang terpenting kita membeli mainan sekarang." Taemin mengangguk patuh.

"Apa ada tempat lain yang Ibu kunjungi?"

"Maksud Taemin apa?"

"Ibu terlihat jelas sedang memikirkan sesuatu."

"Ibu butuh komputer."

"Apa Ibu ingin membantu Ibu Kai?"

"Ya." Jongin membalas singkat.

"Baiklah, kita pergi ke perpustakaan lagi dan memakai komputer di sana baru kita pergi ke toko mainan."

"Taemin membantuku?" Jongin menatap lekat-lekat wajah Taemin, anak delapan tahun itu mengangguk mantap.

"Taemin akan membantu dua ibu Taemin, Taemin akan menuruti semua perintah ibu Jongin."

"Baiklah, jangan mengatakan tentang kegiatan kita hari ini pada siapapun jika mereka bertanya jawab saja kita pergi ke perpustakaan dan toko mainan, tidak ada yang boleh tahu kecuali kita berdua, ayahmu, paman Lay, paman Han, semua yang ada di rumah tidak boleh ada yang tahu."

"Taemin mengerti, Ibu."

Setelah taksi berhenti di depan gedung perpustakaan kota, Jongin bergegas keluar bersama dengan Taemin, dia memutuskan untuk mengajak Taemin bersama namun tentu saja dia tak akan mengijinkan Taemin untuk melihat informasi apa yang dia dapatkan dari Booyoung. Setelah duduk di depan komputer Jongin menyuruh Taemin untuk duduk di pangkuannya dengan posisi memunggungi layar komputer.

Jongin menyalakan komputer, memasukan flashdisk dan melihat semua informasi yang mengejutkan, Jongin mencoba membaca semua informasi itu secepat mungkin ia pindahkan data dari flashdisk ke dalam ponselnya. "Selesai, kita pergi membeli maianan sekarang." Taemin menurut dia turun dari pangkuan Jongin, Taemin menoleh berniat untuk mencuri informasi namun komputer sudah dimatikan.

"Ibu…," rengek Taemin.

"Taemin akan tahu jika waktunya sudah tepat, jika Taeamin lebih besar." Ucap Jongin diiringi sebuah senyuman lebar.

TBC

Terimakasih untuk para pembaca sekalian, terimakasih untuk nandaXLSK9094, Kamong Jjong, LoveHyungFamily, steffifebri, milkylove00001700000, hunexohan, ParkJitta, winter park chanchan, elidamia98, jjong86, , sayakanoicinoe, yuvimimm97, sejin kimkai, KaiNieris, laxyvords, GaemCloud347, Nadia, miyuk, Guest, miss leeanna, nosa, Guest, YooKey1314, yuyu, cute, ren chan, sr, mimi, ling-ling pandabear, Jun-yo. Terimakasih atas review kalian.