Pengumuman untuk semua readers and folowers of this story :

Saya menyampaikan berita kurang baik : Setelah saya menghilang selama tiga bulan karenak PPL (Praktik Pengalaman Lapangan), saya dengan sedih memberitahu semua pembaca bahwa saya akan menghilang lagi selama 2 bulan karena saya harus mengikuti kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Harap maklum dan bersabar menunggu chapter selanjutnya. Saya akan update chapter terbaru segera setelah saya selesai KKN. Terima Kasih.

Spiral

Chapter 12

"Deidara, kuliah jurusan apa?" Suara maskulin dari pria berambut silver bernama Kimimaro sukses membuat Deidara kehilangan ingatan sejenak tentang Itachi.

"Umm... seni." Jawabnya sedikit malu. Entah mengapa dibanding Kimimaro yang dulu jelas kuliah di Jurusan Kedokteran dan sekarang menjadi dokter, Deidara merasa sedikit minder.

"Seni ya? Bagus dong. Bisa melukis, memahat dan sebagainya kan? Aku malah tidak bisa seni sedikitpun. Padahal aku pengen banget bisa melukis." Kata Kimimaro sambil tersenyum. Merasa dipuji, Deidara tersenyum simpul.

"Dei-chan ini hebat loh, sudah masuk ke putaran dua lomba melukis di Konoha University. Tinggal nunggu satu putaran lagi terus menang deh, jadi juara pertama. Iya kan Dei-chan?" Konan berkata riang sambill menyenggol lengan Deidara.

"Hebat sekali. Kapan putaran finalnya?" Tanya Kimimaro tertarik.

"Masih belum tahu. Mungkin baru besok akan ada pengumuman tentang temanya. Aku harap temanya nggak terlalu sulit." Deidara berkata dengan penuh ahrap.

"Temanya pasti sulit, kan ini putaran final. Namun, itu bukan berarti kita harus putus asa kan?" Kimimaro mengelus kepala Deidara. Deidara spontan mengelak. Wajahnya semerah tomat. Kimimaro memasang exspresi bersalah.

"Maaf kalau itu membuatmu tidak nyaman."

"T-Tidak apa-apa." Deidara berkata gelagapan. Disentuhnya kepala pirang yang baru saja disentuh oleh Kimimaro. Hanya beberapa orang yang berani mengelus kepala Deidara. Paman Minato, Bibi Kushina dan Itachi adalah orangnya. Entah mengapa Deidara merasa sedikit tidak nyaman dengan Kimimaro yang tiba-tiba mengusap kepalanya.

"A-Aku harus pulang." Kata Deidara tiba-tiba sambil beranjak berdiri.

"Eh, kenapa?" Konan bertanya sambil meraih tangan Deidara, mencegah perempuan berambut pirang itu untuk pergi.

"Paman Minato pasti khawatir. Aku sudah keluar rumah dari pagi tadi dan sekarang sudah sore." Deidara beralasan.

"Kan ada Nagato. Pasti Minato-san tidak keberatan."

"Tidak. Aku mau pulang." Kata Deidara dengan nada final. Matanya mencari Zetsu, Nagato dan Pein yang menghilang di tengah rerimbunan pohon jambu beberapa waktu lalu.

"Kak Nagato, Zetsu, aku pulang!" teriak Deidara sambil pergi tanpa mendengar protes dari Zetsu dan Nagato. Deidara melangkah keluar dari rumah besar itu dan perlahan tapi pasti, berjalan menuju rumah Minato.

Deidara berhenti di depan gerbang rumah Minato. Mata birunya mengarah ke rumah besar tepat di depan rumah Minato. Gerbang kayu yang terbuka membuat Deidara bisa melihat taman hijau milik Keluarga Uchiha. Mata birunya melihat sesosok wanita berambut hitam yang ia kenal sedang menyemprot bunga-bunga di pot. Senyum simpul muncul di wajah Deidara. Uchiha Mikoto merupakan orang yang paling Deidara rindukan dari semua keluarga Uchiha. Mungkin karena Deidara sudah menganggapnya seperti ibu sendiri tanpa Deidara sadari.

Senyum di wajahnya memudar ketika seorang perempuan berambut coklat muncul di samping Uchiha Mikoto membawa nampan berisi cangkir dan kue. Inuzuka Hana berada di rumah Itachi dan sedang menghabiskan waktu dengan keluarganya. Senyum ramah di wajah Mikoto membuat hati Deidara sakit. Apa ini pertanda bahwa Itachi dan Hana memang benar-benar serius? Apa ini tanda bahwa Itachi tidak membutuhkan dirinya lagi?

-Kamar Itachi-

Itachi memandang jendela kamar lantai dua milik Keluarga Namikaze. Pemilik kamar itu adalah orang yang tidak dia ajak berkomunikasi selama berhari-hari sejak Hana kembali ke dalam kehidupannya. Rasa bersalah merambat di hatinya. Pantas saja Deidara selalu cuek padanya, dia saja tidak mengubris perempuan berambut pirang itu selama berhari-hari. Kalau dirinya menelpon, dijawab tidak ya? Tadi saja Deidara seakan tidak mau tahu keberadaannya.

Sore hari seperti ini mengingatkan Itachi pada dua kenangan tak terlupakan. Mata hitam Itachi beralih dari jendela kamar Deidara ke daun jendela. Sejenak pikirannya juga melayang ke danau indah yang berada tidak jauh dari rumah Zetsu. Ya, kenangan manis tentang dirinya yang berciuman dan hampir berciuman di sore hari dengan suasana romantis bersama Deidara. Sesuatu bergetar di hati Itachi. Apakah hal itu dilakukannya hanya atas dasar terbawa suasana? Atau karena hal lain?

Suara tawa memecah pikiran Itachi. Mata hitam kelamnya beralih kepada pemandangan Bundanya dan Hana yang tengah tertawa riang seperti seorang ibu dan puterinya. Itachi tahu bahwa Bundanya menyukai Hana sejak dulu. Bahkan Bundanya sangat mendorong Itachi untuk mendekati Hana. Namun, sekarang keramahan dan kecintaan Bundanya terhadap Hana tidak lebih seperti menyayangi teman anaknya. Masih teringat Itachi ketika Bundanya menanyakan di mana Deidara? Kenapa tidak diajak main ke sini? Kenapa Hana terus yang diajak datang? Padahal Hana baru dua kali ini diajak ke rumahnya sejak mereka bertemu lagi lima hari yang lalu.

Itachi mengacak-acak rambutnya sendiri. Pikirannya kini tidak karuan. Pikirannya bercabang dua. Haruskah dia memilih antara Deidara dan Hana? Dia sudah memutuskan untuk mengejar Hana karena perempuan berambut coklat itu adalah cinta pertamanya, sedangkan Deidara hanyalah pacar bohongan yang entah mengapa dapat mengisi relung hatinya. Namun masih saja dia tidak yakin dengan hubungannya dan Deidara. Apalagi dengan Ayahnya yang kini sedang memberinya perlakuan dingin.

"Aku ini plin-plan sekali..." gumam laki-laki yang katanya memiliki kejeniusan tingkat tinggi itu.

-Keesokan harinya-

Deidara berjalan sendirian memegang sebuah tas besar yang berisi peralatan melukisnya. Perempuan berambut blond itu sedang mencari tempat strategis untuk melukis untuk final perlombaan melukisnya. Entah apa yang dia ingin lukis. Tidak ada ide yang muncul di otaknya.

"Melukis apa ya?" Deidara bergumam sendiri. Mata birunya mengobservasi sekelilingnya. Dia kini berada di sebuah taman kecil dengan kolam ikan di tengah-tengah taman. Beberapa pohon sakura dan bunga-bunga lain memberikan keindahan yang lumayan bagus sebagai background untuk melukis. Deidara membuka lipatan kertas kecil yang berisi cacatan tentang tema yang harus dia lukis : The Greatest Pain.

Deidara menarik napas kesal. Tema macam apa itu? Tema final yang membingungkan. Deidara duduk di bangku taman dan mencoba memikirkan tentang lukisannya. Deidara mengacak rambutnya ketika tidak ada ide yang muncul di otaknya.

"Deidara." Suara familiar yang memanggil namanya membuat Deidara membeku. Perlahan, Deidara memalingkan wajahnya dan mata birunya menemukan sosok jangkung berambut dan bermata hitam khas seorang Uchiha. Uchiha Itachi berdiri beberapa langkah di sampingnya. Deidara memalingkan wajahnya.

"Dei, kenapa kamu tidak mau bicara padaku?" Deidara dapat merasakan Itachi kini tepat berada di sampingnya.

"Tidak mau saja." Deidara menjawab dan beranjak dari bangkunya. Itachi meraih tangan Deidara ketika Deidara mencoba mengambil tas besar miliknya.

"Kamu marah karena aku tidak pernah menghubungimu ya?" Itachi bertanya lembut. Deidara menyentakkan tangan Itachi, membuat tangannya terlepas dari genggaman tangan pewaris Uchiha yang dua kali lebih besar darinya.

"..."

"Kamu cemburu ya sama Hana?" Pertanyaan dari Itachi itu jelas membuat wajah Deidara memerah. Matanya membesar tak percaya.

"N-Ngapain juga aku cemburu coba?"

"Tuh kan jawabnya cepat. Mukamu merah lagi. Pasti cemburu."

"Nggak kok."

"Ayolah, jujur saja."

"..."

"Dei!"

"..."

"Dei!"

"Memang kalau aku cemburu kenapa? Kamu peduli? Aku kan sudah nggak penting lagi buatmu. Kamu kan ada Hana, si cinta pertama yang tidak pernah terlupakan."

"Dei-"

"A-Aku... aku memang sudah bukan apa-apamu lagi kan? Jadi kamu memang tidak akan memikirkanku lagi setelah semua perjanjian kita berakhir." Deidara berkata lirih. Tubuhnya terasa berat. Perlahan, tubuhnya kembali jatuh di atas bangku taman yang kini menjadi saksi bisu mereka. Deidara menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan merasa matanya mulai berair. Deidara merasa elusan lembut di kepalanya. Perempuan berambut pirang itu menengadahkan wajahnya, menatap Itachi yang kini berlutut di hadapannya.

"A-Aku... Aku... menyukaimu, Itachi. Apa kamu menyukaiku juga?" Deidara berkata dengan berani. Dia tidak bisa lagi memendam perasaan ini. Sehebat-hebatnya dia berusaha menutupi dan mengelak dari perasaan yang mulai berkembang di dalam hatinya, dia sudah tidak sanggup lagi. Dia meminta kejelasan dari laki-laki di hadapannya.

"Tentu saja." Deidara tersenyum kecut mendengar jawaban Itachi itu.

"Bukan, aku ubah pertanyaannya. Aku mencintaimu, Itachi. Apa kamu mencintaiku juga?" Pertanyaan lebih dalam dan berani mengalir dari bibir Deidara. Mata birunya menatap tajam mata hitam yang kini memandangnya dengan syok. Deidara dapat melihat keraguan dan kebimbangan di sana.

Itachi tidak bisa berkata apa-apa ketika mendengar pertanyaan Deidara. Apakah dia mencintai Deidara? Apa dia dapat hidup dengan Deidara? Bagaimana dengan Hana? Setelah sekian lama, apakah dia bisa melepas Hana untuk kedua kalinya? Kalau dia memilih Deidara, apa dia akan lebih bahagia?

"Itachi?"

"..." Deidara menghela napas ketika Itachi tidak menjawab. Baginya diam adalah tidak. Bulir-bulir air mata sudah mulai membajiri kedua matanya. Perempuan berambut pirang itu berdiri dan menggapai tas melukisnya.

"Kurasa keheninganmu itu sudah cukup sebagai jawaban." Kata Deidara sebelum beranjak pergi. Itachi segera bangkit, mencoba menghentikan langkah Deidara.

"Dei-"

"Sudahlah, lupakan saja. Kamu berbahagia saja dengan Hana."

"Dei-"

"Sudahlah." Deidara membalikkan badannya. Itachi dapat melihat bagaimana lesunya Deidara, seakan dia telah pasrah menerima kalau Itachi tidak mencintainya. Mata Deidara yang biasanya berkilat nakal dan penuh semangat, kini tampak lelah dan penuh air mata.

"Kamu bahagia saja dengan Hana. A-Aku tidak akan mengganggu kalian." Kata Deidara sebelum membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Itachi sendiri.

-Dua hari kemudian, Kediaman Uzumaki-

"Ini benar rumahnya bukan ya?" Seorang pria berambut silver menatap rumah besar di hadapannya dengan bingung. Kepalanya celingak-celinguk mencoba mencari sesuatu.

"Kimimaro-san?" Suara perempuan yang ingin dia temui terdengar dari belakangnya. Kimimaro berbalik dan mendapati Deidara di belakangnya membawa tas besar entah apa isinya.

"A-Ah, Deidara-san. I-Ini bunga sebagai permintaan maafku. Itu waktu aku mengusap kepalamu, maaf kalau aku terlalu lancang." Kata Kimimaro sedikit terbata. Deidara menatap bunga indah itu dengan perasaan campur aduk.

"Terima kasih. Aku juga harusnya minta maaf." Deidara menerima bunga itu dengan sedikit rasa canggung.

"Kamu habis dari mana?" Tanya Kimimaro sambil mengalihkan matanya ke tas besar di tangan Deidara.

"Oh, aku habis dari rumah seseorang, mengantar tas untuk seseorang dari bibiku. Sekarang aku mau pergi untuk melukis."

"Melukis? Aku boleh ikut?"

"Tentu." Deidara mengangguk. Kimimaro terlihat bahagia dan dengan segera berlari kecil menuju mobilnya dan membuka pintu untuk Deidara.

"Madame?" Kimimaro bergaya layaknya seorang pelayan. Deidara hanya menggelengkan kepalanya.

"Kamu dari Amrik atau Inggris sih?" Tanya Deidara sambil melangkah menuju mobil silver milik Kimimaro. Kimimaro tersenyum.

"Sama saja."

"Tidak sama tahu. Beda benua dan beda tradisi."

"Sama bahasanya." Jawab Kimimaro sambil menyalakan mobilnya.

"Tetap saja beda. Bahasa Inggris Amerika itu berbeda dengan Bahasa Inggris Inggris. Kamu ini bagaimana sih? Masa tidak tahu." Deidara mencoba untuk sok pintar. Kimimaro melirik ke arah Deidara dan tersenyum seraya membiarkan perempuan berambut panjang itu mengoceh sepanjang perjalanan tentang perbedaan Bahasa Inggris Inggris dan Bahasa Inggris Amerika.

"Kenapa memilih di sini?" Kimimaro bertanya ketika mereka sampai di danau Konoha.

"Mau saja." Jawab Deidara asal sambil mengeluarkan perlengkapan melukisnya. Kimimaro hanya menganggukkan kepalanya seraya menonton Deidara mulai sibuk dengan kanvas dan kawan-kawan.

Kimimaro memperhatikan gadis berambut pirang itu dengan seksama. Berbeda dengan waktu pertama kali Kimimaro melihatnya. Deidara tampak sedih. Deidara memang sudah terlihat sedih ketika pertama kali mereka bertemu. Kimimaro bisa melihat hal itu. Namun kini, Deidara tampak lebih sedih. Sekuat apapun Deidara ingin menutupi kesedihannya, Kimimaro dapat melihat kalau keadaaan Deidara memburuk. Terdapat lingkaran hitam di bawah mata Deidara. Warna yang tidak cocok untuk menghiasi wajah cantik dengan mata besar biru yang indah itu. Mata biru yang kini terdapat semburat merah seperti orang yang terlalu banyak menangis. Wajah Deidara juga terlalu pucat.

Kimimaro mengalihkan pandangannya ke kanvas Deidara. Deidara tampaknya terlalu asik dengan lukisannya tanpa peduli Kimimaro mendekatkan tubuh kekarnya ke arah Deidara. Kimimaro menatap lukisan seorang pria tampan yang berdiri di hadapan gadis cantik yang duduk di tengah-tengan padang bunga. Pria tampan itu menatap gadis di depannya dengan wajah tanpa ekspresi sedangkan gadis berambut hitam itu menatap laki-laki itu dengan senyuman di wajahnya yang cantik. Tangan gadis itu memegang dadanya yang berdarah. Warna merah yang bercampur dengan hitam, membuat kesan bahwa luka itu disebabkan oleh racun kuat dari benda yang menembus dada wanita berambut hitam dan bermata merah. Sebagian tubuh gadis itu sudah tidak berbentuk, seperti hilang tertiup angin. Kesan angin di lukisan itu membuat bunga-bunga di padang itu berterbangan mengelilingi kedua manusia, atau mungkin bukan.

"Bagus." Komentar Kimimaro ketika Deidara menyelesaikan lukisannya.

"Thanks." Kata Deidara lirih.

"Apa judulnya?"

"The Death of The Wind."

"Wind?"

"Ya, lukisan ini aku buat dari cerita karya ibuku yang beliau ceritakan waktu aku kecil. Seorang siluman angin yang jatuh cinta pada seorang siluman anjing. Kagura, nama perempuan itu. Dia meminta bantuan sang siluman anjing, atau Sesshomaru, untuk membunuh ayahnya." Deidara mulai bercerita, tangannya masih sibuk menggoreskan cat minyak ke kanvas yang Kimimaro pikir tidak perlu karena lukisan itu sudah bagus.

"Membunuh ayahnya?"

"Ya, ayahnya memperlakukannya seperti budak. Jantungnya di pisahkan dari tubuh Kagura, kalau Kagura tidak menjalankan perintahnya maka dia akan di bunuh. Kagura adalah siluman angin. Tipe siluman yang tidak dapat dikurung dan selalu memimpikan kebebasan. Jadi dia mencari seseorang untuk membunuh ayahnya, sehingga dia bisa bebas. Dia meminta bantuan Sesshomaru. Sayang, Sesshomaru tidak menggubrisnya. Sesshomaru bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain kalau itu tidak menguntungkannya. Dia orang berhati dingin. Herannya, dia seperti memiliki suatu soft spot untuk Kagura. Kagura selalu mengejeknya dengan kata-kata kasar sejak dia menolak permintaan Kagura, namun Sesshomaru tidak pernah menyerang Kagura. Dia hanya menatapnya tanpa ekpresi dan membiarkan Kagura pergi. Dia juga bahkan menolong Kagura dan tidak menyalahkannya atas apapun yang diperbuatnya. Hal itu karena sebenarnya dia menyukai Kagura tanpa dia sadari karena dia memang tidak tahu apa artinya cinta.

Sampai akhirnya ayah Kagura tahu akan rencana Kagura dan mimpinya. Maka ayahnya dengan licik mengembalikan jantungnya dan memberikan racun dalam jumlah besar ke tubuh Kagura. Kagura mati di hadapan orang yang dicintainya. Dia tersenyum karena dapat bertemu dengan Sesshomaru untuk terakhir kali. Setelah dia mati, Sesshomaru menjadi sadar akan perasaannya dan hal itulah yang membuatnya mampu menggunakan pedangnya sebagai senjata dan bahkan memanggil pedang lain yang sangat kuat. Dia juga berjanji akan membalas dendam."

"Cerita yang indah, namun tragis. Kenapa kamu memilih cerita itu untuk lukisanmu?"

"Karena temanya adalah The Greatest Pain. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan orang yang kamu cintai selama-lamanya. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada tidak pernah mendengar orang yang kamu cintai berkata bahwa dia mencintaimu juga, padahal dia telah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia mencintainya."

"Apa kamu kehilangan orang yang kamu cintai?" Kimimaro melihat Deidara membeku ketika mendengar pertanyaannya.

"Apa kamu tidak pernah mendengar kata "aku mencintaimu" dari orang yang kamu cintai padahal dia telah memberikan tanda bahwa dia mencintaimu?" tanya Kimimaro lagi. Kimimaro melihat mata Deidara mulai berair dan beberapa detik kemudian, setetes air mata membasahi pipi pucat Deidara.

"Tidak." Kata Deidara sambil melanjutkan pekerjaannya. Kimimaro tahu bahwa itu bohong, namun di tidak mendesak lebih lanjut. Jarinya mengusap air mata yang membasahi pipi Deidara sebelum mengusap lembut kepala Deidara. Kimimaro cukup terkejut ketika Deidara tidak beraksi apa-apa dan hanya menyelesaikan lukisannya.

-Kediaman Uzumaki-

"Terima kasih telah menemaniku melukis, Kimimaro-san." Deidara tersenyum kepada laki-laki di hadapannya.

"Tidak apa. Lukisanmu bagus, semoga menang ya!"

"Terima kasih."

"Lain kali lukis saja aku. Aku tidak kalah tampan dari siluman anjing yang kamu lukis itu." Kimimaro menaikkan alisnya. Deidara tertawa kecil mendengarnya namun mengangguk.

"Sampai be-" perkataan Deidara terhenti ketika mata birunya menangkap sesuatu. Kimimaro menaikkan alisnya dan menoleh, mencoba mencari tahu apa yang dilihat oleh Deidara.

Dari kejauhan, dilihatnya seorang laki-laki, Uchiha Itachi sedang bersama seorang gadis berambut coklat. Mata Kimimaro memicing ketika mengetahui siapa gadis itu. Dilihatnya Itachi mencium kening mantan pacarnya dengan lembut. Kimimaro menatap ke arah Deidara yang memandang mereka dengan tatapan terluka di matanya. Kini dia tahu penyebab kesedihan Deidara.

Kimimaro meraih tangan Deidara dan mengaitkan jemarinya. Deidara menoleh ke arahnya dengan pandangan terkejut. Kimimaro tersenyum kecil dan menatap Deidara lembut seakan mengatakan, "Semua akan baik-baik saja. Aku akan di sini untukmu."

Kimimaro merasakan kehangatan menjalar di dadanya ketika Deidara tersenyum kepadanya. Kimimaro berharap, dia dapat membuat Deidara tersenyum dengan senang suatu saat nanti dan senyuman itu hanya untuknya.

TBC